Bersama Walau Terpisah Jarak

Baca Juga :
    Judul Cerpen Bersama Walau Terpisah Jarak

    Rerumputan menari-nari menyambut indahnya pagi. Burung-burung bernyanyi menjanjikan sejuta harapan. Embun menggumpal-gumpal bagaikan salju putih suci. Air yang melafalkan bunyi yang membentuk makna kata. Hentakan kaki yang membentuk sebuah irama. Tangan melambai-lambai menyambut indahnya pagi hari.

    Aku cassie anak yang tidak pintar dan tidak bodoh. Aku berada di antara teman-teman yang super kocak. Aku bangga memiliki teman seperti mereka dan aku juga senang bersama dengan mereka. Walau kadang juga mereka sangat menyebalkan. Tapi bagiku itu hanya lelucon saja.

    “Bangun!!!” Teriakan Bryan memecahkan gendang telingaku.
    Saking capeknya perjalanan dari pematangsiantar ke seribudolok membuat kami segerombolan tertidur lelap hingga pukul 12.00 WIB. Tapi entahlah dengan bryan manusia yang satu ini memang kokoh dan tak kenal putus asa. Bayangkan saja kami yang masih tertidur pulas atau masih di alam mimpi dia sudah berada di dunia nyata. Apa dia tidak merasakan panjangnya perjalanan?

    “Aaaaaaaaa… jangan ganggu aku. Aku sedang bermimpi bersama pangeranku” ucap polos jessica
    Nah… ini dia teman yang lumayan lucu. Dia jessica, dari namanya saja sudah cantik bukan? Orangnya jago masak dan juga jago cari pacar. Bayangkan saja cowok yang dia pacari tidak dapat dihitung lagi.
    “Bryan!!!” teriak Rachel lagi.
    Teman yang satu ini juga nggak kalah cantiknya. Hanya saja orangnya agak tomboy jadi susah buat lelaki buat dekatin dia. Tapi jangan salah walau tomboy dia orangnya humoris banget.
    “Ini udah jam berapa?” tanyaku
    “Jam 12.00 WIB” ucap bryan.
    “Jam 12.00 apaan?”
    “Jam 12.00 siang” jawab bryan lagi.
    “Haaa?” teriakku sambil berdiri.

    Walau terlambat bangun kami tidak ada kata malas-malasan. Kami datang ke rumah kakakku 2 bulan lalu baru menikah. Tapi ketika kami sampai di rumahnya dia dan suaminya malahan buru-buru pamitan karena ada hal penting yang harus dia lakukan. Mereka memberikan kunci rumah dan berpesan kami masak makanan kami dan bahan-bahannya sudah tersedia di kulkas.

    Satu jam tidak terasa kami bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Sesuai rencana kami hari ini kami akan pergi keladang. Tujuan kami datang adalah untuk menyerbu pohon-pohon nenas yang ditanam di ladang. Kalau aku sudah biasa sih dengan situasi ini. Tapi terlihat kawan-kawanku sangat rakus semua. Maklumlah mereka orang kota.

    Setelah puas memakan nenas, kami berlomba memanjat sebuah pohon jambu yang berdiri tept di tengah ladang itu. Kalau masalah memanjat ternyata tidak ada yang mau kalah. Orang kota ternyata juga pandai memanjat pohon.

    Ketika asyiknya di atas pohon tiba-tiba HPku berdering. Kulihat siapa yang memanggilku. Oh ternya sang pangeran narsis. Karena malasnya berbicara dengan pangeran narsis aku memberikan HPku pada bryan.
    Hal yang paling tidak kuinginkan terjadi. Bagaiman mungkin sang pangeran narsis datang bersama teman lain ke tempat yang sama.

    “Teman-teman ayo turun semuanya. Mereka sudah berada di simpang kita tinggal menjemputnya” ucap bryan
    “Dengan sikap yang agak malas tapi bercampur senang aku turun dari pohon jambu. 15 menit perjalanan dari pohon jambu ke simpang itu, terlihat pangeran narsis yang mukanya pas-pasan itu dengan stylenya dan terlihat teman-teman yang lain juga.
    “Cassie, I miss you” gombal pangeran narsis
    “Isss” ucapku sinis
    “Ayo kita berangkat” ucap bryan

    Ketika semua teman-temanku sudah beranjak, aku masih diam berpikir kenapa mesti dia. Ahh… dia, dia dan dia lagi. Saking panjangnya pikiranku tiba-tiba tangan sang pengeran narsis menarikku agar segera berangkat menuju rumah.
    “Nggak usah pegang-pegang tangan gue. Bilang aja lo lagi cari kesempatan.” ucapku sinis
    “Jangan bicara dulu. Nafasmu bau nenas.” ucapnya membuatku tambah kesal

    Tak sampai 30 menit perjalanan kami dari ladang hingga sampai di rumah. Sesaat sampai di rumah semua teman-teman ada yang langsung mandi dan ada yang asyik ngobrol. Tapi aku, kuputuskan untuk menghirup udara dingin di teras rumah. Saat asyik memandangi suasana di luar rumah. Aku dikejutkan dengan suara yang agak menyeramkan. “Lagi apa neng?” ucap sosok itu menakutiku
    Entah perasaan apa yang kurasakan, tapi sejenak kuberpikir, “mana mungkin ada hantu disiang bolong gini” ucapku dalam hati. Ahhh si pangeran narsis dia yang menakutiku. “Iiiiiii… putra. Gila!” ucapku kesal. Sialan, lagi asyik memandang suasana di luar rumah malah diganggu si pengeran narsis.

    Empat hari tidak terasa liburan yang kami lalui bersama. Kini saatnya comeback to siantar. Banyak kenangan yang kami lalui, banyak pengalaman yang dapat kami ukir dalam kehidupan kami. Saat berlibur bersama kami mengerti apa itu kebersamaan, mengerti akan kerjasama. Melalui rintangan bersama dan menjalin persahabatan yang indah dikenang.

    Setelah liburan kehidupan kami serasa berbeda saat di sekolah. Semua jadi kompak bahkan semua iri melihat persahabatan yang kami jalin bersama. Terutama aku dan putra sang pangeran narsis yang sering membuatku kesal kini berubah menjadi sahabat yang paling mengerti tentang keadaan dan perasaanku.

    Dua tahun tidak terasa kami duduk di kelas XI SMK kini kami beranjak ke kelas XII SMK rasa senang dan bangga bisa bertahan di sekolah tercinta dan bangga bisa duduk di bangku kelas XII SMK. Kini liburan semester pun tiba semua pada sibuk untuk persiapan liburan.

    Setelah melalui liburan dua minggu akhirnya kami bertemu lagi dengan teman-teman seperjuangan. Tapi kali ini beda putra yang kusebut si pangeran narsis pindah dari sekolah. Suasana kelas semakin beda rasa semangat seakan hilang dari jiwa. Entahlah, rasanya aku tidak termotivasi lagi karena tidak ada lagi motivasi yang keluar dari si mulut pangeran narsis.

    “Putra parah. Dia sama sekali tidak memberitahu kita.” ucap Rachel
    “Entahlah, rasanya kelas sepi tanpa dia.” balas Jessica
    “Sepertinya aku akan bermain sediri tanpa putra lagi.” ucap bryan lagi
    “Aku kangen digangguin sama putra.” balasku

    Jujur kesedihan itu berlangsung lama banget hingga kami tamat SMK. Ada rasa bangga bisa lulus dari SMK. Tapi ada juga rasa sedih karena harus berpisah dari teman-teman seperjuangan terutama ketiga sahabatku yang super duper nyebelin tapi sangat kusayangi.

    Setelah tamat SMK rasanya berbeda, suasananya tidak lagi sama seperti masa SMK. Entah karena apa semua sahabatku tidak ada yang memberi kabar. Satu atau dua hari bisa aku maklumin mereka tapi kini semua sahabatku 2 minggu tidak memberi kabar lewat media sosial pun mereka jarang terlihat. Mungkin mereka sudah melupakan masa itu. Tapi ya sudahlah mungkin itu jalan yang harus kulalui.

    Saat malam tiba dada ini serasa sesak, ingin melupakan tetapi ku tak sanggup. Air mata ini menetes tanpa henti entah perasaan apa yang tiba-tiba datang pada diriku. Tiba-tiba teringat sosok wajah semua sahabat-sahabatku terutama wajah putra. Bagaimana ia sekarang? Apa mungkin dia melupakan masa itu begitu saja. Tapi ya sudahlah belum tentu mereka memikirkanku. Karena terlalu kepikiran tentang mereka. Aku tak sadar HPku bedering pertanda pesan masuk.

    “Ibu butuh bantuan. Kamu masih di siantar kan? Bisa datang ke sekolah kan? Kalau bisa tolong datang jam 09.00 pagi.” Isi pesan singkat yang kuterima dari kepala sekolah semasa SMK dulu.

    Karena aku memang masih di siantar esok paginya aku langsung bergegas pergi ke sekolah. Tepat pukul 09.00 aku sampai di sekolah. Kupandang suasana sekolah yang sudah berbeda. Sejenak ku berpikir “kenapa dia menyuruhku datang sementara suasana disini sepi dan kantornya pun tutup” Saat asyik memandangi suasana sekolah. Tiba-tiba Rachel ke luar dari kantin sekolah, Jessica keluar dari perpustakaan sekolah dan bryan baru tiba di gerbang sekolah.
    Rasa senang dan bingung melihat mereka. Aku langsung berlari menemui mereka dan mereka juga berlari ke arahku, aku langsung memeluk mereka. Saat sedang asyik memeluk mereka, tiba-tiba Rachel bertanya” Kalian kok bisa disini” Kami satu persatu langsung menceritakan tentang pesan singkat yang kami terima.
    Tiba-tiba suara yang tak asing lagi berteriak terhadap kami “Apakah kalian bahagia setelah ini?” Ternyata semua ini rencana putra, putra yang dulu kusebut pangeran narsis kini berdiri tepat di hadapanku. Kami semua langsung memeluknya dan merasa bahagia bisa bertemu lagi dengannya. Aku langsung bertanya “Kenapa dari dulu kamu tidak mengabari kami?” tanyaku padanya. Tapi dia terlihat diam lesu lalu bangkit lagi “Karena aku sudah merencanakan ini dari dulu” ucapnya.

    Persahabatan itu indah seindah pancaran sinar matahari. Sahabat mengerti akan hal yang kita lakukan. Menyayangi kita seperti menyayangi dirinya sendiri. Memperdalam keinginan kita untuk menjadi yang terbaik. Sahabat kuucapkan terimakasih karena kalian sudah membuatku mampu melukis kehidupan ini.

    Cerpen Karangan: Aprilianju Kristesia Purba
    Facebook: ApriLiianju Kristesiia Purba

    Artikel Terkait

    Bersama Walau Terpisah Jarak
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email