Judul Cerpen Bunga Lili Putih
Mary menangis tersedu-sedu di atas kasurnya. Sejak tiga puluh menit yang lalu, air matanya tidak berhenti membasahi pipi anak berusia sembilan tahun yang polos ini. Rambut panjangnya yang acak-acakan berwarna coklat tua menutupi sebagian wajah besarnya. Jaket tebalnya yang berwarna hijau tua menjadi lap air matanya.
Kematian sang ibunda membuat hatinya hancur berkeping-keping. Dia tidak tahan tinggal di dalam mansion keluarganya bersama dengan ibu barunya yang merupakan seorang pel*cur, seorang pelayan perempuan yang sama-sama pel*cur, dan ayahnya yang mes*m. Dia masih teringat dengan jelas bagaimana ibunya menderita karena kanker darah, ayahnya sama sekali tidak mau membiayai rumah sakit demi istrinya sendiri. Ketika kanker ibu Mary semakin parah, ayahnya memukulinya habis-habisan. Tidak hanya tubuh dalamnya yang perlahan hancur, tubuh luarnya pun juga. Bahkan sang ibu mengalami patah tulang kaki kanan dan tulang rusuk.
Tiap hari, Mary dipaksa untuk melihat ayahnya berselingkuh dengan dua wanita brengsek yang ada di rumahnya. Dua tidak cukup, bahkan pernah membawa tiga wanita lain dari pel*curan yang berbeda hampir tiap hari. Mary ingin muntah, menangis, marah, dan ingin bunuh diri karena hidup di dalam keluarga yang rusak.
Setelah Mary puas menangis, dia melihat ke arah boneka pinguin pemberian pamannya. Mary menganggap pamannya sebagai ayah barunya. Tiap bulan, pamannya pasti datang berkunjung untuk menemui keponakannya yang tahun ini menginjak usia sembilan tahun. Tidak hanya sekedar berkunjung, tetapi memberikannya hadiah. Sang paman menjadi duda, karena dia meninggal lima hari sebelum kematian ibu Mary.
Mary perlahan turun dari atas kasurnya yang tinggi dan berjalan ke arah pintu kamarnya. Ketika Mary memutar gagang pintunya, pintu tidak terbuka. Mary menghela napas, lagi-lagi dikunci di dalam kamarnya yang kecil. Entah sampai kapan Mary harus menghadapi masalahnya. Sewaktu ibunya masih hidup, Mary sudah dikeluarkan dari sekolah karena sebuah kesalahpahaman fatal. Dia tidak mendapatkan pendidikan lagi.
Mary kembali berbaring di atas kasurnya dan memejamkan matanya. Dia mencoba untuk melupakan semuanya tentang kehidupannya saat kini. Rasanya tidak mungkin, tetapi dia ingin mencobanya hingga dia mampu. Tepat saat Mary tertidur pulas, terdengar suara samar yang merdu di telinganya. Mary membuka kedua matanya, dan mencoba mencari siapa yang memanggilnya.
“Mary… Mary… Bangunlah…”
Manik mata hijau Mary mengarah ke sosok berambut ungu yang ada di dalam kamarnya. Rambutnya sangat panjang dan terlihat rapi. Pakaiannya seperti anak-anak tomboi umumnya, tetapi lebih tertutup. Sosok perempuan itu berjalan ke arah Mary pelan-pelan.
“Mary, gadis kecil yang malang, kau menderita…” kata sosok itu.
“Kau … si-siapa?” tanya Mary.
“Namaku Reve, dan kali ini aku akan mengurusimu memperbaiki kehidupanmu yang rusak.” Reve tersenyum ke arah Mary. Awalnya, Mary sama sekali tidak mempercayai ucapannya. Tetapi karena penasaran saja, akhirnya Mary sedikit tertarik.
“Ba-bagaima-mana-na mu-mungkin?” tanya Mary lagi, dia bangun dan duduk di atas kasurnya.
“Aku tidak mungkin membiarkan seorang anak kecil tinggal bersama lelaki kurang ajar dengan wanita-wanita sampah yang bersama dengannya.” jelas Reve, melayang-layang di dalam kamar Mary. “Kamu sendiri tidak tahan tinggal bersama Johnny, ayahmu, bukan? Kau ingin ke luar seperti burung yang ingin ke luar dari sangkarnya.”
“A-pa …ya-yang kau bi-bisa… buat pada-da-ku?”
“Aku tidak memiliki jaminan kalau apa yang kau dapat membuatmu tersenyum bahagia atau menjerit ketakutan dan menggertakkan gigimu, bahkan sampai membuatmu benar-benar ingin bunuh diri, tetapi yah, semoga tidak sampai terjadi begitu…” jawab Reve.
Tiba-tiba angin bertiup dengan kencang dari arah Reve. Mary mencoba untuk melindungi tubuhnya dengan dua lengannya yang kecil. Beberapa detik kemudian, angin berhenti bertiup. Kali ini Mary tidak memakai pakaiannya lagi. Sekeliling Mary juga berubah, terutama warna interior kamarnya. Serba merah muda, dengan tone warna yang berbeda-beda.
“Me-mera-rah muda! Ma-Mary suka!” seru Mary senang.
Mary melihat ke arah vas bunga berwarna putih yang ada di atas rak buku kecilnya. Vas itu berisi setangkai bunga lili. Bunga itu masih terlihat sangat segar, seperti dia dirawat dengan sangat maksimal dan baik oleh pemiliknya. Mary tidak ingat kalau dia merawat bunga di dalam kamarnya. Dia sendiri bahkan tidak mampu karena terus-menerus dikurung oleh ayah kandungnya.
“Kalau Mary tidak tahu, bunga itu adalah bunga lili yang berwarna putih.” kata Reve, muncul di belakang Mary dan mulai melayang-layang di udara.
“Li-Lili… mamaku… namanya Lili ju-juga!” komentar Mary dengan senyuman yang sangat lebar dan senang.
“Bunga Lili ini harus kau jaga baik-baik, Mary…” kata Reve memperingatkan, “Tidak boleh ada yang cacat dari bunga ini selama kau berada di dunia mimpimu. Kuntum bunga ini tidak boleh layu dan jatuh menyentuh tanah. Diserahkan kepada orang lain yang kau tidak kenali juga tidak boleh. Apapun yang terjadi, kau tidak boleh merusak bunga ini, termasuk orang lain.”
“Ma-Mary me-me-mengerti..” Mary menganggukkan kepalanya pelan.
Reve mengeluarkan sebuah batang coklat dari dalam vestnya, lalu memberikannya kepada Mary. Ketika Mary memakannya dengan lahap, dia dapat menemukan sebuah kunci berwarna perak di dalamnya. Untungnya dia tidak menelannya juga. Saat Mary mengamati kunci itu, dia merasa tidak asing dengan kunci yang dia pegang.
Mary ingin bertanya kepada Reve, tetapi sosok wanita itu telah lenyap tanpa sepengetahuannya. Terpaksa Mary harus menyimpan pertanyaannya. Pakaiannya kini adalah sebuah gaun merah muda yang cantik berbahan sutra, ada tiga lapis. Gaunnya memiliki sebuah kantung yang cukup untuk menyimpan kunci dan bunga lili di dalam vas.
Mary mengambil bunga lili itu dan berjalan menuju pintu berwarna merah muda tua yang tidak jauh darinya. Dia memasukkan kunci ke dalam lubangnya dengan tepat dan memutarnya. Ketika kunci telah dibuka, Mary membuka pintu itu selebar mungkin.
Mary terbelalak melihat pemandangan yang begitu indah. Taman bunga lili putih, air mancur yang besar dan megah, pohon-pohon eboni yang besar, dan lain-lain yang baginya sangat hebat. Mary tertawa riang, dia sangat senang untuk pertama kalinya. Tanpa ibunya, tentu saja. Dia melihat ke kanan dan ke kiri, mencari-cari Reve dan mengajaknya bermain di taman. Tentu saja, meskipun semuanya yang dia lihat dan rasakan kini adalah sebuah mimpi karya Reve.
Ketika Mary jalan-jalan di pinggir bak bunga lili berwarna oranye, dia menemukan sosok wanita lain. Dia bukan Reve maupun ibunya. Dari model rambut, warna kulit, gaya berpakaiannya, sudah berbeda dari keduanya. Wanita lain yang dilihat oleh Mary melemparkan pandangannya dari bak bunga lili oranye ke arah gadis kecil di hadapannya. Dengan angkuhnya, wanita berkulit coklat dan berambut pirang ikal itu berdiri dan berjalan layaknya seorang model di atas panggung catwalk kelas atas, berhadapan dengan Mary.
“Kukira gadis hina sepertimu sudah mati dan membusuk di kamar kecilnya yang tidak layak.” kata wanita itu tajam.
Mary mengerutkan dahinya. Dia ingat suara itu. Suara pel*cur pertama ayahnya yang menyebalkan. Mengapa dia ada di dalam mimpinya yang sangat indah?
“Untuk apa kau hidup pula, Mary? Kenapa tidak mati bersama ibumu yang sudah menyatu dengan tanah kotor itu?” tanyanya bertubi-tubi.
“DIAM KAU, CHELSEA!!” bentak Mary, “BERHENTI MEMBUAT HIDUPKU HANCUR!!”
“Anak kecil yang lancang!!” teriak Chelsea, hendak menampar Mary. Tetapi tangannya ditahan oleh orang lain.
Mary ingin sekali dua orang di hadapannya mati saja. Dia tidak mau berterima kasih kepada orang yang baru saja menyelamatkannya dari tamparan menjijikkan Chelsea. Dialah selingkuhan ayahnya yang kedua, sama-sama menyebalkan seperti Chelsea, bernama Anastasia. Gaya penampilan dan rambut ombre hijaunya saja membuat Mary ingin menyingkirkan Anastasia dan Chelsea secepatnya.
Mary segera berlari menjauhi Chelsea dan Anastasia, bersembunyi di balik pohon eboni yang cukup jauh dari mereka. Gadis kecil innocent ini menangis, duduk di atas tanah. Dia tidak menyangka harus bertemu dua orang yang dia hindari selama ini. Menyadari Mary sedang menangis, Reve memutuskan untuk menemuinya.
“Mary? Mengapa kau menangis?” tanya Reve khawatir.
“Mary ti-tidak ma-ma-mau be-berte-temu de-dengan Chelsea da-dan Anastasia!” jawab Mary sesenggukan.
“Ehhhhh, padahal mereka bagian dari ‘keluarga’mu…” komentar Reve.
“Bukan! BU-BUKAN! Huhuuu…” teriak Mary marah, tetapi air mata masih berlinang membasahi pipinya. Mary kembali menangis, tidak tahan dengan semuanya.
Reve langsung menjentikkan jarinya, memunculkan sebuah ingatan di dalam memori Mary. Awalnya, Mary mencoba untuk menebak-nebak. Dia langsung mengetahui jawabannya ketika dia teringat oleh dongeng yang dia baca saat ibunya masih hidup. Dongeng yang tidak sengaja dia temukan di ruang kerja ayahnya. Mengingatnya saja, dia sedikit jijik. Di dalam usianya seperti waktu itu pun, dia mengerti semua dunia orang dewasa.
“Ke-Kena-pa …ce-cerita pu-pu-putri ti-tidur…?” tanya Mary.
“Entahlah, aku bertanya juga padaku. Cerita itu mengerikan dan menarik.” jawab Reve, lalu dia kembali menghilang dari hadapan Mary perlahan.
Mary terkejut dan menjerit menyadari Chelsea dan Anastasia berada di samping kanan dan kirinya. Chelsea merebut bunga lili putih yang ada di kantung gaun Mary, sedangkan Anastasia menginjak tubuh mungil Mary dengan kakinya supaya dia tidak bergerak. Anastasia juga tidak segan-segan memakai high heels untuk menginjak Mary.
“Heee, bunga lili yang menjijikkan…” komentar Chelsea, lalu dia memetik salah satu kuntum bunga lili putih milik Mary.
“JANGAN!!!” teriak Mary histeris.
“Kenapa sih, banyak orang suka warna putih? Aku benci warna putih lho…” tambah Anastasia, dengan kasarnya ikut memetik kuntum bunga lili putih Mary.
“Ayahnya juga membenci warna putih, bukan, Anastasia? Karena Liliana, istrinya yang sama-sama menjijikkan seperti anaknya..” Chelsea memetik sekali lagi kuntum bunga lili putih Mary, dan membiarkannya terbang dibawa angin.
Tubuh Mary menjadi melemah, bukan karena injakan Anastasia. Setiap kali kuntum bunga lili putih Mary dicabut, Mary merasa tubuhnya kesakitan dan menderita. Dia juga merasa jijik, pikirannya menjadi kacau balau. Air mata kembali membasahi pipi Mary. Suaranya menjadi serak, seperti baru berteriak. Dia ingin memanggil Reve, mencari bantuannya. Tetapi nihil.
Puas dengan bunga lili putih milik Mary, Chelsea menjatuhkan bunga itu ke tanah dan menginjak-injaknya hingga bunga putih itu kotor. Anastasia berhenti menginjak Mary pada saat itu juga. Mary cepat-cepat mengambil bunga lili putihnya, sedangkan Chelsea dan Anastasia pergi meninggalkannya.
Beberapa detik setelah keduanya pergi, sosok wanita lain yang mirip Reve muncul di hadapan Mary. Pakaiannya kini tidak serba ungu dan terlihat ceria meskipun terlihat tomboy, tetapi pakaiannya didominasi warna hitam dan merah. Gaun yang dia kenakan juga lebih panjang dari gaun Mary, dan hanya dua lapis. Meskipun anggun, dia terlihat dingin dan menakutkan dalam waktu bersamaan.
Manik mata merah sosok kembaran Reve menatap tajam Mary yang melihat ke arahnya. Dia tahu Mary kehabisan kata-kata, bahkan tidak mungkin berkata-kata karena tenggorokannya benar-benar kering. Tidak membuang banyak waktu lagi, dia memperkenalkan dirinya.
“Akulah saudari kembar Reve… Aku disebut sebagai ‘Reala’ …” katanya, “…Aku dibenci karena membawakan realita pahit. Tetapi lebih baik tahu daripada tenggelam di dalam dunia fantasi yang menakutkan meskipun terlihat menyenangkan. Seperti dunia ini, kau malah bertemu dua pel*cur itu daripada bertemu ibundamu…”
Reala menjentikkan jarinya. Seluruhnya yang ada di sekitar Mary berubah menjadi suram. Semua bak bunga lili di taman menjadi layu, tanpa terkecuali tumbuhan-tumbuhan lain di sekitarnya. Langit menjadi warna hitam. Apapun yang indah, berubah menjadi menyeramkan. Angin sejuk digantikan angin yang sangat dingin, menusuk kulit Mary. Kini burung-burung gagak berterbangan di udara.
“Mary bodoh… Mary bodoh… kau malah membiarkan bunga lili pemberian Reve, saudariku, hancur…” Mary dapat mendengarkan Reala bernyanyi dengan suara merdu di telinganya.
“Bunga lili putih yang indah… diinjak-injak sampah… sangat memalukan… oh, rendah sekali…” lanjutnya, “…tidak hanya di realita, bahkan di dunia mimpi juga… ”
“Apakah kau tidak mau kehidupan baru, Mary sayang? Jangan bilang kau tak tahu arti bunga lili putih…”
“…Kesucian, kesucian, itulah salah satu artinya… kau mengerti sekarang? Jawablah… kau bisa berkata-kata…” Reala mengakhiri lagunya, lalu mengeluarkan payung hitamnya yang berenda.
Reala melihat ke arah Mary yang diam dan menggigil. Bukan karena dia kedinginan, tetapi membayangkan betapa mengerikan lagu yang dibawakan oleh Reala. Sebenarnya, Reala tahu, dia tidak menyukai cara ini, tetapi ini adalah hukuman untuk Mary. Reala tentu saja memiliki hati untuk mengampuni manusia yang ada di hadapannya.
Reala mengarahkan ujung payung hitamnya ke arah lain. Tiba-tiba, muncullah sosok bayangan yang menyeramkan, mendekati mereka. Mary makin ketakutan, Reala langsung mengambil tindakan untuk menjelaskan semuanya secepatnya sebelum bayangan itu mendapatkannya.
“Berlarilah, menjauh darinya! Segera temukan ibumu yang memiliki pakaian serba putih, kau akan selamat! Jangan berhenti berlari, jangan lihat ke belakang, pandanglah lurus!” seru Reala.
Mendengar perkataan Reala, Mary segera melakukan apa yang dikatakan olehnya. Dia meninggalkan Reala, berlari sejauh yang dia bisa. Dia tahu, dia bukanlah pelari hebat. Berlaripun kaki Mary bergetar karena tidak kuat. Bayangan hitam yang muncul karena Reala terus menerus mengejar Mary. Mary makin ketakutan dan mempercepat larinya.
Mary memejamkan matanya erat, kakinya tidak berhenti berlari. Dia mulai merasakan bayangan itu nyaris mendapatkannya. Mary memohon untuk siapapun untuk menolongnya, Reve ataupun Reala, mungkin orang lain. Ketika kaki Mary mulai lemas, dia dapat melihat sosok putih yang dimaksud oleh Reala. Mata Mary mulai berkunang-kunang, tubuhnya sudah mati rasa semua.
Terakhir kali yang dirasakan oleh Mary adalah cahaya hangat yang menyelimutinya. Dia dapat melihat ibunya berdiri di hadapannya, lalu di belakangnya terdapat Reve dan Reala, meskipun samar-samar. Lalu, semuanya menjadi kabur. Tidak hanya itu, Mary merasakan tubuhnya penuh dengan rasa sakit, bukan karena memar. Perlahan, rasa sakit itu menghilang.
Mary bangun dari tidurnya dan melihat sekitarnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Tidak ada yang bisa diingat Mary selain cahaya hangat tadi. Apapun tentang mimpi indah dan mengerikan yang dihadapi Mary, dia tidak ingat sedikitpun. Apalagi tentang Reve dan Reala, kedua nama itu terdengar asing di telinga Mary. Semuanya menjadi aneh.
Mary merogoh-rogoh kantung rok panjangnya. Dia mengeluarkan sebuah kunci berwarna perak. Dia tidak ingat kalau dia mencuri kunci itu, rasanya tidak mungkin. Sejak kapan ada kunci kamarnya di dalam roknya? Dia sendiri tidak tahu jawabannya. Dia mengira kunci yang dia dapatkan adalah kunci duplikat yang Mary tidak sadari. Ibunya yang menyembunyikannya, itu saja.
Tanpa berpikir panjang lagi, sang gadis cilik bangkit dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamarnya. Dengan cepat dia membuka kunci pintu kamarnya, dan ke luar secepatnya. Tidak ada siapa-siapa di luar kamar Mary. Mungkin ayahnya ada di kamar, sibuk dengan ‘pekerjaan’nya. Mary tahu ada telepon di ruang tamu. Dia mencoba untuk menghubungi kantor polisi sebelum orangtuanya tahu.
Setelah telepon tersambung, Mary langsung melaporkan semuanya apa yang terjadi padanya dengannya kepada pihak yang bertugas. Dia menceritakan tentang pelecehan s*ksual orangtuanya terhadap dia, melakukan kekerasan, dan lain-lain yang informasinya diterima dan akurat. Untungnya sang polisi mempercayai perkataan Mary dan segera bertindak. Mary mengirimkan alamat rumahnya, dan beberapa identitas lainnya yang dibutuhkan. Setelah selesai, Mary hanya tinggal menunggu dia akan selamat.
Reve dan Reala muncul di sekitar Mary, hanya saja dia sendiri tidak menyadari kehadiran mereka. Keduanya menyaksikan para polisi yang masuk ke rumah Mary dan menangkap ayahnya bersama para pel*cur, sedangkan paman Mary ada disana. Setelah diinterogasi, akhirnya Mary diizinkan tinggal bersama pamannya, dan artinya dia tinggal di luar negeri karena pekerjaan pamannya.
“Saudariku, Reve, kau memainkan permainan yang menyenangkan…” komentar Reala dingin.
“Ah tidak, Reala, aku hanya menjalankan tugasku …” sahut Reve, lalu dia tertawa kecil.
“Aku tidak suka jika aku mendapatkan peran kecil, Reve!” omel Reala, “Lagipula, beruntung aku pandai mengarang sebuah lagu! Sudah ratusan tahun aku tidak menyanyi untuk manusia!”
“Aku suka ketika kau tahu bagaimana mendominasi permainanku dengan permainanmu… Itu sangat menyenangkan…” kata Reve, tersenyum kecil ke arah saudarinya.
“Yah, bodoh sekali… aku harap Mary kecil bisa hidup bahagia setelah ini…”
“Jika tidak, maka terpaksa kita harus bertindak lagi, benar bukan, Reala?”
Tamat
Cerpen Karangan: Nikita Ilona Matakupan
Blog: www.nikitamatakupan.com
Mary menangis tersedu-sedu di atas kasurnya. Sejak tiga puluh menit yang lalu, air matanya tidak berhenti membasahi pipi anak berusia sembilan tahun yang polos ini. Rambut panjangnya yang acak-acakan berwarna coklat tua menutupi sebagian wajah besarnya. Jaket tebalnya yang berwarna hijau tua menjadi lap air matanya.
Kematian sang ibunda membuat hatinya hancur berkeping-keping. Dia tidak tahan tinggal di dalam mansion keluarganya bersama dengan ibu barunya yang merupakan seorang pel*cur, seorang pelayan perempuan yang sama-sama pel*cur, dan ayahnya yang mes*m. Dia masih teringat dengan jelas bagaimana ibunya menderita karena kanker darah, ayahnya sama sekali tidak mau membiayai rumah sakit demi istrinya sendiri. Ketika kanker ibu Mary semakin parah, ayahnya memukulinya habis-habisan. Tidak hanya tubuh dalamnya yang perlahan hancur, tubuh luarnya pun juga. Bahkan sang ibu mengalami patah tulang kaki kanan dan tulang rusuk.
Tiap hari, Mary dipaksa untuk melihat ayahnya berselingkuh dengan dua wanita brengsek yang ada di rumahnya. Dua tidak cukup, bahkan pernah membawa tiga wanita lain dari pel*curan yang berbeda hampir tiap hari. Mary ingin muntah, menangis, marah, dan ingin bunuh diri karena hidup di dalam keluarga yang rusak.
Setelah Mary puas menangis, dia melihat ke arah boneka pinguin pemberian pamannya. Mary menganggap pamannya sebagai ayah barunya. Tiap bulan, pamannya pasti datang berkunjung untuk menemui keponakannya yang tahun ini menginjak usia sembilan tahun. Tidak hanya sekedar berkunjung, tetapi memberikannya hadiah. Sang paman menjadi duda, karena dia meninggal lima hari sebelum kematian ibu Mary.
Mary perlahan turun dari atas kasurnya yang tinggi dan berjalan ke arah pintu kamarnya. Ketika Mary memutar gagang pintunya, pintu tidak terbuka. Mary menghela napas, lagi-lagi dikunci di dalam kamarnya yang kecil. Entah sampai kapan Mary harus menghadapi masalahnya. Sewaktu ibunya masih hidup, Mary sudah dikeluarkan dari sekolah karena sebuah kesalahpahaman fatal. Dia tidak mendapatkan pendidikan lagi.
Mary kembali berbaring di atas kasurnya dan memejamkan matanya. Dia mencoba untuk melupakan semuanya tentang kehidupannya saat kini. Rasanya tidak mungkin, tetapi dia ingin mencobanya hingga dia mampu. Tepat saat Mary tertidur pulas, terdengar suara samar yang merdu di telinganya. Mary membuka kedua matanya, dan mencoba mencari siapa yang memanggilnya.
“Mary… Mary… Bangunlah…”
Manik mata hijau Mary mengarah ke sosok berambut ungu yang ada di dalam kamarnya. Rambutnya sangat panjang dan terlihat rapi. Pakaiannya seperti anak-anak tomboi umumnya, tetapi lebih tertutup. Sosok perempuan itu berjalan ke arah Mary pelan-pelan.
“Mary, gadis kecil yang malang, kau menderita…” kata sosok itu.
“Kau … si-siapa?” tanya Mary.
“Namaku Reve, dan kali ini aku akan mengurusimu memperbaiki kehidupanmu yang rusak.” Reve tersenyum ke arah Mary. Awalnya, Mary sama sekali tidak mempercayai ucapannya. Tetapi karena penasaran saja, akhirnya Mary sedikit tertarik.
“Ba-bagaima-mana-na mu-mungkin?” tanya Mary lagi, dia bangun dan duduk di atas kasurnya.
“Aku tidak mungkin membiarkan seorang anak kecil tinggal bersama lelaki kurang ajar dengan wanita-wanita sampah yang bersama dengannya.” jelas Reve, melayang-layang di dalam kamar Mary. “Kamu sendiri tidak tahan tinggal bersama Johnny, ayahmu, bukan? Kau ingin ke luar seperti burung yang ingin ke luar dari sangkarnya.”
“A-pa …ya-yang kau bi-bisa… buat pada-da-ku?”
“Aku tidak memiliki jaminan kalau apa yang kau dapat membuatmu tersenyum bahagia atau menjerit ketakutan dan menggertakkan gigimu, bahkan sampai membuatmu benar-benar ingin bunuh diri, tetapi yah, semoga tidak sampai terjadi begitu…” jawab Reve.
Tiba-tiba angin bertiup dengan kencang dari arah Reve. Mary mencoba untuk melindungi tubuhnya dengan dua lengannya yang kecil. Beberapa detik kemudian, angin berhenti bertiup. Kali ini Mary tidak memakai pakaiannya lagi. Sekeliling Mary juga berubah, terutama warna interior kamarnya. Serba merah muda, dengan tone warna yang berbeda-beda.
“Me-mera-rah muda! Ma-Mary suka!” seru Mary senang.
Mary melihat ke arah vas bunga berwarna putih yang ada di atas rak buku kecilnya. Vas itu berisi setangkai bunga lili. Bunga itu masih terlihat sangat segar, seperti dia dirawat dengan sangat maksimal dan baik oleh pemiliknya. Mary tidak ingat kalau dia merawat bunga di dalam kamarnya. Dia sendiri bahkan tidak mampu karena terus-menerus dikurung oleh ayah kandungnya.
“Kalau Mary tidak tahu, bunga itu adalah bunga lili yang berwarna putih.” kata Reve, muncul di belakang Mary dan mulai melayang-layang di udara.
“Li-Lili… mamaku… namanya Lili ju-juga!” komentar Mary dengan senyuman yang sangat lebar dan senang.
“Bunga Lili ini harus kau jaga baik-baik, Mary…” kata Reve memperingatkan, “Tidak boleh ada yang cacat dari bunga ini selama kau berada di dunia mimpimu. Kuntum bunga ini tidak boleh layu dan jatuh menyentuh tanah. Diserahkan kepada orang lain yang kau tidak kenali juga tidak boleh. Apapun yang terjadi, kau tidak boleh merusak bunga ini, termasuk orang lain.”
“Ma-Mary me-me-mengerti..” Mary menganggukkan kepalanya pelan.
Reve mengeluarkan sebuah batang coklat dari dalam vestnya, lalu memberikannya kepada Mary. Ketika Mary memakannya dengan lahap, dia dapat menemukan sebuah kunci berwarna perak di dalamnya. Untungnya dia tidak menelannya juga. Saat Mary mengamati kunci itu, dia merasa tidak asing dengan kunci yang dia pegang.
Mary ingin bertanya kepada Reve, tetapi sosok wanita itu telah lenyap tanpa sepengetahuannya. Terpaksa Mary harus menyimpan pertanyaannya. Pakaiannya kini adalah sebuah gaun merah muda yang cantik berbahan sutra, ada tiga lapis. Gaunnya memiliki sebuah kantung yang cukup untuk menyimpan kunci dan bunga lili di dalam vas.
Mary mengambil bunga lili itu dan berjalan menuju pintu berwarna merah muda tua yang tidak jauh darinya. Dia memasukkan kunci ke dalam lubangnya dengan tepat dan memutarnya. Ketika kunci telah dibuka, Mary membuka pintu itu selebar mungkin.
Mary terbelalak melihat pemandangan yang begitu indah. Taman bunga lili putih, air mancur yang besar dan megah, pohon-pohon eboni yang besar, dan lain-lain yang baginya sangat hebat. Mary tertawa riang, dia sangat senang untuk pertama kalinya. Tanpa ibunya, tentu saja. Dia melihat ke kanan dan ke kiri, mencari-cari Reve dan mengajaknya bermain di taman. Tentu saja, meskipun semuanya yang dia lihat dan rasakan kini adalah sebuah mimpi karya Reve.
Ketika Mary jalan-jalan di pinggir bak bunga lili berwarna oranye, dia menemukan sosok wanita lain. Dia bukan Reve maupun ibunya. Dari model rambut, warna kulit, gaya berpakaiannya, sudah berbeda dari keduanya. Wanita lain yang dilihat oleh Mary melemparkan pandangannya dari bak bunga lili oranye ke arah gadis kecil di hadapannya. Dengan angkuhnya, wanita berkulit coklat dan berambut pirang ikal itu berdiri dan berjalan layaknya seorang model di atas panggung catwalk kelas atas, berhadapan dengan Mary.
“Kukira gadis hina sepertimu sudah mati dan membusuk di kamar kecilnya yang tidak layak.” kata wanita itu tajam.
Mary mengerutkan dahinya. Dia ingat suara itu. Suara pel*cur pertama ayahnya yang menyebalkan. Mengapa dia ada di dalam mimpinya yang sangat indah?
“Untuk apa kau hidup pula, Mary? Kenapa tidak mati bersama ibumu yang sudah menyatu dengan tanah kotor itu?” tanyanya bertubi-tubi.
“DIAM KAU, CHELSEA!!” bentak Mary, “BERHENTI MEMBUAT HIDUPKU HANCUR!!”
“Anak kecil yang lancang!!” teriak Chelsea, hendak menampar Mary. Tetapi tangannya ditahan oleh orang lain.
Mary ingin sekali dua orang di hadapannya mati saja. Dia tidak mau berterima kasih kepada orang yang baru saja menyelamatkannya dari tamparan menjijikkan Chelsea. Dialah selingkuhan ayahnya yang kedua, sama-sama menyebalkan seperti Chelsea, bernama Anastasia. Gaya penampilan dan rambut ombre hijaunya saja membuat Mary ingin menyingkirkan Anastasia dan Chelsea secepatnya.
Mary segera berlari menjauhi Chelsea dan Anastasia, bersembunyi di balik pohon eboni yang cukup jauh dari mereka. Gadis kecil innocent ini menangis, duduk di atas tanah. Dia tidak menyangka harus bertemu dua orang yang dia hindari selama ini. Menyadari Mary sedang menangis, Reve memutuskan untuk menemuinya.
“Mary? Mengapa kau menangis?” tanya Reve khawatir.
“Mary ti-tidak ma-ma-mau be-berte-temu de-dengan Chelsea da-dan Anastasia!” jawab Mary sesenggukan.
“Ehhhhh, padahal mereka bagian dari ‘keluarga’mu…” komentar Reve.
“Bukan! BU-BUKAN! Huhuuu…” teriak Mary marah, tetapi air mata masih berlinang membasahi pipinya. Mary kembali menangis, tidak tahan dengan semuanya.
Reve langsung menjentikkan jarinya, memunculkan sebuah ingatan di dalam memori Mary. Awalnya, Mary mencoba untuk menebak-nebak. Dia langsung mengetahui jawabannya ketika dia teringat oleh dongeng yang dia baca saat ibunya masih hidup. Dongeng yang tidak sengaja dia temukan di ruang kerja ayahnya. Mengingatnya saja, dia sedikit jijik. Di dalam usianya seperti waktu itu pun, dia mengerti semua dunia orang dewasa.
“Ke-Kena-pa …ce-cerita pu-pu-putri ti-tidur…?” tanya Mary.
“Entahlah, aku bertanya juga padaku. Cerita itu mengerikan dan menarik.” jawab Reve, lalu dia kembali menghilang dari hadapan Mary perlahan.
Mary terkejut dan menjerit menyadari Chelsea dan Anastasia berada di samping kanan dan kirinya. Chelsea merebut bunga lili putih yang ada di kantung gaun Mary, sedangkan Anastasia menginjak tubuh mungil Mary dengan kakinya supaya dia tidak bergerak. Anastasia juga tidak segan-segan memakai high heels untuk menginjak Mary.
“Heee, bunga lili yang menjijikkan…” komentar Chelsea, lalu dia memetik salah satu kuntum bunga lili putih milik Mary.
“JANGAN!!!” teriak Mary histeris.
“Kenapa sih, banyak orang suka warna putih? Aku benci warna putih lho…” tambah Anastasia, dengan kasarnya ikut memetik kuntum bunga lili putih Mary.
“Ayahnya juga membenci warna putih, bukan, Anastasia? Karena Liliana, istrinya yang sama-sama menjijikkan seperti anaknya..” Chelsea memetik sekali lagi kuntum bunga lili putih Mary, dan membiarkannya terbang dibawa angin.
Tubuh Mary menjadi melemah, bukan karena injakan Anastasia. Setiap kali kuntum bunga lili putih Mary dicabut, Mary merasa tubuhnya kesakitan dan menderita. Dia juga merasa jijik, pikirannya menjadi kacau balau. Air mata kembali membasahi pipi Mary. Suaranya menjadi serak, seperti baru berteriak. Dia ingin memanggil Reve, mencari bantuannya. Tetapi nihil.
Puas dengan bunga lili putih milik Mary, Chelsea menjatuhkan bunga itu ke tanah dan menginjak-injaknya hingga bunga putih itu kotor. Anastasia berhenti menginjak Mary pada saat itu juga. Mary cepat-cepat mengambil bunga lili putihnya, sedangkan Chelsea dan Anastasia pergi meninggalkannya.
Beberapa detik setelah keduanya pergi, sosok wanita lain yang mirip Reve muncul di hadapan Mary. Pakaiannya kini tidak serba ungu dan terlihat ceria meskipun terlihat tomboy, tetapi pakaiannya didominasi warna hitam dan merah. Gaun yang dia kenakan juga lebih panjang dari gaun Mary, dan hanya dua lapis. Meskipun anggun, dia terlihat dingin dan menakutkan dalam waktu bersamaan.
Manik mata merah sosok kembaran Reve menatap tajam Mary yang melihat ke arahnya. Dia tahu Mary kehabisan kata-kata, bahkan tidak mungkin berkata-kata karena tenggorokannya benar-benar kering. Tidak membuang banyak waktu lagi, dia memperkenalkan dirinya.
“Akulah saudari kembar Reve… Aku disebut sebagai ‘Reala’ …” katanya, “…Aku dibenci karena membawakan realita pahit. Tetapi lebih baik tahu daripada tenggelam di dalam dunia fantasi yang menakutkan meskipun terlihat menyenangkan. Seperti dunia ini, kau malah bertemu dua pel*cur itu daripada bertemu ibundamu…”
Reala menjentikkan jarinya. Seluruhnya yang ada di sekitar Mary berubah menjadi suram. Semua bak bunga lili di taman menjadi layu, tanpa terkecuali tumbuhan-tumbuhan lain di sekitarnya. Langit menjadi warna hitam. Apapun yang indah, berubah menjadi menyeramkan. Angin sejuk digantikan angin yang sangat dingin, menusuk kulit Mary. Kini burung-burung gagak berterbangan di udara.
“Mary bodoh… Mary bodoh… kau malah membiarkan bunga lili pemberian Reve, saudariku, hancur…” Mary dapat mendengarkan Reala bernyanyi dengan suara merdu di telinganya.
“Bunga lili putih yang indah… diinjak-injak sampah… sangat memalukan… oh, rendah sekali…” lanjutnya, “…tidak hanya di realita, bahkan di dunia mimpi juga… ”
“Apakah kau tidak mau kehidupan baru, Mary sayang? Jangan bilang kau tak tahu arti bunga lili putih…”
“…Kesucian, kesucian, itulah salah satu artinya… kau mengerti sekarang? Jawablah… kau bisa berkata-kata…” Reala mengakhiri lagunya, lalu mengeluarkan payung hitamnya yang berenda.
Reala melihat ke arah Mary yang diam dan menggigil. Bukan karena dia kedinginan, tetapi membayangkan betapa mengerikan lagu yang dibawakan oleh Reala. Sebenarnya, Reala tahu, dia tidak menyukai cara ini, tetapi ini adalah hukuman untuk Mary. Reala tentu saja memiliki hati untuk mengampuni manusia yang ada di hadapannya.
Reala mengarahkan ujung payung hitamnya ke arah lain. Tiba-tiba, muncullah sosok bayangan yang menyeramkan, mendekati mereka. Mary makin ketakutan, Reala langsung mengambil tindakan untuk menjelaskan semuanya secepatnya sebelum bayangan itu mendapatkannya.
“Berlarilah, menjauh darinya! Segera temukan ibumu yang memiliki pakaian serba putih, kau akan selamat! Jangan berhenti berlari, jangan lihat ke belakang, pandanglah lurus!” seru Reala.
Mendengar perkataan Reala, Mary segera melakukan apa yang dikatakan olehnya. Dia meninggalkan Reala, berlari sejauh yang dia bisa. Dia tahu, dia bukanlah pelari hebat. Berlaripun kaki Mary bergetar karena tidak kuat. Bayangan hitam yang muncul karena Reala terus menerus mengejar Mary. Mary makin ketakutan dan mempercepat larinya.
Mary memejamkan matanya erat, kakinya tidak berhenti berlari. Dia mulai merasakan bayangan itu nyaris mendapatkannya. Mary memohon untuk siapapun untuk menolongnya, Reve ataupun Reala, mungkin orang lain. Ketika kaki Mary mulai lemas, dia dapat melihat sosok putih yang dimaksud oleh Reala. Mata Mary mulai berkunang-kunang, tubuhnya sudah mati rasa semua.
Terakhir kali yang dirasakan oleh Mary adalah cahaya hangat yang menyelimutinya. Dia dapat melihat ibunya berdiri di hadapannya, lalu di belakangnya terdapat Reve dan Reala, meskipun samar-samar. Lalu, semuanya menjadi kabur. Tidak hanya itu, Mary merasakan tubuhnya penuh dengan rasa sakit, bukan karena memar. Perlahan, rasa sakit itu menghilang.
Mary bangun dari tidurnya dan melihat sekitarnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Tidak ada yang bisa diingat Mary selain cahaya hangat tadi. Apapun tentang mimpi indah dan mengerikan yang dihadapi Mary, dia tidak ingat sedikitpun. Apalagi tentang Reve dan Reala, kedua nama itu terdengar asing di telinga Mary. Semuanya menjadi aneh.
Mary merogoh-rogoh kantung rok panjangnya. Dia mengeluarkan sebuah kunci berwarna perak. Dia tidak ingat kalau dia mencuri kunci itu, rasanya tidak mungkin. Sejak kapan ada kunci kamarnya di dalam roknya? Dia sendiri tidak tahu jawabannya. Dia mengira kunci yang dia dapatkan adalah kunci duplikat yang Mary tidak sadari. Ibunya yang menyembunyikannya, itu saja.
Tanpa berpikir panjang lagi, sang gadis cilik bangkit dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamarnya. Dengan cepat dia membuka kunci pintu kamarnya, dan ke luar secepatnya. Tidak ada siapa-siapa di luar kamar Mary. Mungkin ayahnya ada di kamar, sibuk dengan ‘pekerjaan’nya. Mary tahu ada telepon di ruang tamu. Dia mencoba untuk menghubungi kantor polisi sebelum orangtuanya tahu.
Setelah telepon tersambung, Mary langsung melaporkan semuanya apa yang terjadi padanya dengannya kepada pihak yang bertugas. Dia menceritakan tentang pelecehan s*ksual orangtuanya terhadap dia, melakukan kekerasan, dan lain-lain yang informasinya diterima dan akurat. Untungnya sang polisi mempercayai perkataan Mary dan segera bertindak. Mary mengirimkan alamat rumahnya, dan beberapa identitas lainnya yang dibutuhkan. Setelah selesai, Mary hanya tinggal menunggu dia akan selamat.
Reve dan Reala muncul di sekitar Mary, hanya saja dia sendiri tidak menyadari kehadiran mereka. Keduanya menyaksikan para polisi yang masuk ke rumah Mary dan menangkap ayahnya bersama para pel*cur, sedangkan paman Mary ada disana. Setelah diinterogasi, akhirnya Mary diizinkan tinggal bersama pamannya, dan artinya dia tinggal di luar negeri karena pekerjaan pamannya.
“Saudariku, Reve, kau memainkan permainan yang menyenangkan…” komentar Reala dingin.
“Ah tidak, Reala, aku hanya menjalankan tugasku …” sahut Reve, lalu dia tertawa kecil.
“Aku tidak suka jika aku mendapatkan peran kecil, Reve!” omel Reala, “Lagipula, beruntung aku pandai mengarang sebuah lagu! Sudah ratusan tahun aku tidak menyanyi untuk manusia!”
“Aku suka ketika kau tahu bagaimana mendominasi permainanku dengan permainanmu… Itu sangat menyenangkan…” kata Reve, tersenyum kecil ke arah saudarinya.
“Yah, bodoh sekali… aku harap Mary kecil bisa hidup bahagia setelah ini…”
“Jika tidak, maka terpaksa kita harus bertindak lagi, benar bukan, Reala?”
Tamat
Cerpen Karangan: Nikita Ilona Matakupan
Blog: www.nikitamatakupan.com
Bunga Lili Putih
4/
5
Oleh
Unknown
