Di Balik Mendung

Baca Juga :
    Judul Cerpen Di Balik Mendung

    Dulu aku hanya memandangi taburan bintang di langit malam, mereka berkilauan dengan indah menggoda tanganku yang tidak luas hati untuk menggapainya mimpi seorang astronot mungkin tidak lebih tinggi dari impianku karena yang kupikirkan pertamakali saat merangkainya adalah bagaimana caraku untuk melapauinya aku ingin terbang melewati batas kemampuanku aku ingin mengelilingi dunia dan menemukan hasratku untuk berada di puncaknya.

    Tapi selalu saja ada kerikil kecil yang mengusik tekadku saat aku benar benar sudah membulatkannya. Orangtuaku, bapak dan ibuku belum mengerti atau bahkan acuh dengan apa yang kucari dalam hidup bagi mereka ketenaran dan kejayaan cukup di akhirat saja tapi salahkah aku jika aku ingin meraih keduanya di dunia dan juga di kehidupan yang selanjutnya tapi bapak dan ibu masih begitu kolot untuk mendengar sedikit saja keluhan dariku.

    “untuk apa sekolah jauh jauh nak? Kau itu perempuan dunia luar begitu liar dan kejam bagaimana bapak dan ibuk bisa menjagamu? Bagaimana kalau kami merindukanmu? Belum lagi biaya kuliahmu yang selangit itu, beasiswamu memang bagus tapi bagaimana bisa kau hanya mengandalkan itu untuk menyambung hidup, sementara untuk makan saja kita sudah susah tolong menikahlah dengan hasan dia lelaki yang sangat baik agamanya bagus, sopan dan berpendidikan bapak yakin dia akan membimbingmu ke surga kelak”
    “tapi andini masih belum ingin menikah pak, andini masih muda dan juga belum lulus andini masih haus dengan ilmu tolong bapak izinkan andini untuk bersekolah sekali lagi, andini ingin merubah nasib kita pak andini ingin membahagiakan ibu dan bapak” aku menangis dalam diam ibu mengerti deritaku dia mendekatiku lalu membelai kerudungku dengan kelembutannya beliau berkata
    “menikah di usia muda justru lebih baik din, kau akan banyak belajar dan akan dewasa dengan cepat memangnya apa yang akan kau dapatkan dengan mengumpulkan banyak ijazah? Gurumu tidak akan mengajarkanmu bagaimana cara memasak dan bagaimana menjadi wanita pengurus rumah yang baik, bahkan jika kau tetap bersekolah kau pasti akan berakhir di dapur juga” aku tidak bisa menahan air mataku yang melesat begitu saja kalimat lembut dari ibu menghancurkan semangatku hingga menjadi serpihan kecil, aku begitu sakit hati karena sekeras apapun aku bersuara wanita yang begitu kucintai ini tetap akan membungkamku dengan suara lembut nan perihnya
    “kami sudah tua nak, menikahlah dengan hasan maka kau sudah sangat membahagiakan bapak” dengan mata tuanya bapak memohon di depanku, membuatku merasa malu dengan jasa dan kasih sayangnya yang menyiramiku tanpa pamrih dan ibu juga meletakan beban itu di punggungku dia membiarkanku berjalan dengan beban yang tak terlihat, di tengah kegalauan hatiku hanya Allah tempatku untuk bercurah kuserahkan dan kupasrahkan segenap kebimbanganku hanya kepada-Nya hingga tepat di hari itu aku ikhlas mengambil sebuah keputusan besar menyangkut kehidupanku.

    Minggu ke tiga di bulan oktober, kulepaskan untaian mimpi yang kurangkai dari kecil sejuta harapan tentang masa depan itu sudah kurelakan sejak aku resmi menjadi istri seorang Hasan Syafiril Ilmi lelaki yang sebelumnya hanya kutahu dari namanya saja kini beliau sudah bersanding di sampingku dan berstatus sebagai suamiku tapi entah kenapa hatiku masih saja diselimuti rasa kelam dan ketakutan, entah kenapa aku tidak bisa merasakan kebahagiaan layaknya pengantin baru bahkan meski aku melihat senyum damai tak terelakan di wajah orangtua dan mertuaku.

    “seperti ini bun?” suara lembut yang menenangkan milik suamiku terasa membawaku dari kenangan lima tahun yang lalu aku tersenyum melihatnya sangat semangat memasang foto malaikat kecil kami yang sudah genap berusia dua tahun
    “sedikit miring yah” aku bersura dan beliau kembali menggerakan figura besar itu
    “sudah pas?” ulanngnya
    “sempurna” jawabku dan beliau tersenyum lalu turun menghampiriku, berdiri di sampingku dan melihat foto keluarga kecil kami dengan suka cita dan penuh syukur sama sepertinya aku merasakan hal yang sama, inilah yang terjadi pada hidupku setelah pernikahan itu, dilema besar yang sempat menimpaku membawaku pada kebahagian ganda yang sudah kudapatkan di dunia dan yang akan kupertahankan menuju jannah-Nya, aku sempat berpikir hidupku akan terasa hambar ketika memasuki altar pelaminan aku merasa jiwaku akan terkungkung selamanya di sisi sesorang yang tidak kukehendaki tapi Allah menangkap satu persatu do’aku dan menjawabnya di waktu yang tepat, sejuta terimakasihku mungkin tidak cukup untuk dihaturkan pada-Nya dan juga kedua orangtuaku, mereka selalu mengharapkan yang terbaik dan itulah kebenarannya, jika aku tidak ikhlas di persunting lelaki baik bernama hasan entah lelaki seperti apa yang akan kudapat kelak aku bersyukur, kebahagiaan keluarga kecilku adalah ridho dari orangtuaku.

    Lalu apa kabar dengan impianku? Aku masih ingat betul bahwa hari itu mendung telah datang mimpi dan harapanku terkulai habis di balik air mata yang kusembunyikan dalam diam, tapi siapa sangka suamiku justru adalah suami impian yang sebelumnya hanya terlintas semu di balik angan-angan beliau berprinsip sama denganku, beliau mampu memahamiku dan melihatku dari sudut yang sulit terbaca orang lain bahkan keluargaku, sehari setelah pernikahan kami beliau memutuskan untuk membawaku pindah ke berlin sehubungan dengan tugasnya mengajar di sebuah universitas dan selain untuk merampungkan gelar S3 nya disana, tanpa disangka beliau memberikan undangan beasiswa dari universitas berlin ke hadapanku

    “Andini sudah menjadi istri saya, saya sudah mengkhitbah andini hingga sepenuhnya menjadi milik saya karena itu sebagai suamimu saya ingin andini tetap menimba ilmu dan meraih gelar phd di kampus yang sama dengan saya”
    Rencana tuhan memang misterius tapi di baliknya ada banyak hal luar biasa yang tidak bisa diduga aku mendapatkan jodoh terbaik sekaligus mimpi yang terwujud aku bahkan mendapatkan do’a orangtuaku tanpa sedikitpun menyakiti hati mereka kadang jalan terjal hitam dan kelam adalah arah menuju tempat indah yang belum tersentuh, kesabaran dan do’a adalah amunisinya, kadangkala kita harus memilah dari dua sudut jalan yang memang sulit tapi jika kita tetap ada di jalan tuhan dan kita percaya pada-Nya mendungpun akan berubah menjadi pelangi.

    SELESAI

    Cerpen Karangan: Suci Idayati Ningsih
    Blog: blue-saphire.mwb.im

    Artikel Terkait

    Di Balik Mendung
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email