First Experience

Baca Juga :
    Judul Cerpen First Experience

    Kita mungkin sering mendengar istilah ini “BELAJAR DARI PENGALAMAN” meskipun seringkali didengar tapi ini sangat sulit untuk dilakukan lebih lagi dikalangan anak remaja its so hard right. yang menjadi pertanyaannya bagaimana seorang anak remaja itu mau belajar dari pengalam kalau dia sendiri nggak punya pengalaman, iya kan? Disaat usia yang masih dini ini sangat penting untuk kita mencari pengalaman sebanyak mungkin karena penyesalan itu selalu berada di belakang, kenapa tidak? ketika kita sudah menjejak usia dewasa kemudian kita mendapat peluang kerja hal pertama yang ditanyakan “Apa pengalaman anda?”
    bagaimana kita menanggapinya, bisa saja kita kehilangan peluang tersebut. Pengalaman tidak hanya membuka pintu bagi kita untuk memulai satu karir tetapi pengalaman juga mengajar kita agar kita bisa menjadi lebih dan lebih baik lagi di masa depan (semuanya pasti cerdas kan, nggak mungkinlah kita mengulangi kesalahan yang pernah kita lakukan dulu. Keledai aja nggak pernah jatuh di lubang yang sama lho.) So this time we open the path to success by learning from our experiences, not easy indeed. But why do not we try? because we will not know success if we do not try.

    Semuanya dimulai ketika bapak guru yang mengajar kelas perhotelan itu menunjukkan kepada kami satu video dimana ada banyak sekali hotel yang keren-keren dengan fasilitasnya yang super mewah bayangin aja nginap 1 malam biayanya bisa sampai jutaan lho Waduh!! waktu itu pak guru menceritakan pengalaman-pengalamannya selama dia berprofesi sebagai hotel management dia bisa merasakan semua fasilitas hotel gratis lho ditambah lagi bonus-bonus setiap ada perayaan besar dia bisa pergi keliling dunia hanya dengan pekerjaannya tidak perlu mengeluarkan biaya mahal-mahal semuanya ditanggung perusahaan woww keren ya. Ketika aku mulai tercenggang dengan kisahnya di saat dia sudah suksess ternyata ada perjuangan yang perlu dia tempuh selama ini untuk bisa sampai di titik kesuksesannya semua yang dia capai hari ini adalah hasil dari kerja kerasnya, susah payah, tanggung jawab dan beban yang dia pikul semua yang dirasakan terus dia perjuangkan sampai dia berada di puncak karirnya sehingga saat ini orang-orang bisa melihat hasilnya, Ketika dia mulai menceritakan bagaimana dia mejalani proses untuk sampai ke titik ini mengajarkan aku satu hal “siapa kamu hari ini menentukan siapa kamu nanti di masa depan”

    Waktu liburan kenaikan kelas pak fras (guru perhotelan) nawarin kepada anak-anak asrama yang tidak pulang ke kampung halaman liburan ini bisa praktek di hotel purnama, selain mendapakan pengalaman bisa juga menambah uang jajan buat masuk sekolah nanti, karena menurutku liburan kenaikan kelas ini terlalu panjang awalnya aku mau pulang ke sabah tapi bila dipikir-pikir lagi biaya pergi dan balik itu terlalu mahal terus alasan aku pulang cuma kangen doang. Bayangin aja biaya pesawat, kenderaan, oleh-oleh, terus makan sepanjang perjalanan gimana kalau biaya pulang ini ditabung aja lumayan kan.

    Pada awal bulan liburan aku mengikuti kegiatan asrama ada retreat buat anak-anak remaja dengan tema THE POWERFUL WEAPON STOP CORRUPTION, di sini mengajarkan kepada anak remaja bahayanya korupsi dan dampaknya bagi kehidupan kita, juga mengajak anak remaja agar jangan terseret dalam tipu muslihat dunia yang bisa menghancurkan masa depan seperti pemakaian nark*ba, pergaulan terlalu bebas, akibat dari bullying dan memberikan pesan-pesan agar selalu berhati-hati dalam mencari teman dan memerhatikan cara kita bergaul dengan orang lain. Retreat selama 3 hari 2 malam ini juga memberikan motivasi kepada anak-anak yang perantau yang tinggal jauh dari dari orangtua tentang bagaimana kita harus membangun relasi dengan orangtua ketika berjauhan juga mengajarkan cara efektif supaya lebih semangat lagi belajar untuk masa depan yang lebih baik, retreat ini sangat memotivasi aku untuk berpikir lebih bijak lagi dalam menentukan pilihan-pilihan di hidup ini.

    Setelah retreat selesai aku dan beberapa teman yang lain mulai praktek/casual di hotel purnama, awalnya cuma sabtu dan minggu saja agar kami kami bisa menyesuaikan diri, saat pertama kali sampai di hotel kami dibimbing oleh pak guru dia mengingatkan kembali secara singkat semua materi yang pernah diajarkan sekalian mengajarkan kami cara-cara melakukan pekerjaan dengan baik, sebelum mulai bekerja pak guru mengingatkan agar kami bisa bersabar saat menghadapi para tamu-tamu yang datang karena tidak semuanya baik terkadang ada juga tamu yang suka marah-marah.

    Ketika mendekati hari raya semakin hari semakin banyak tamu yang datang ke hotel karena pihak hotel membutuhkan banyak tenaga kerja pak guru menyarankan agar kami datangnya setiap hari, datang setiap hari bukanlah hal yang mudah karena kami anak asrama karena tidak ada angkutan untuk ke hotel karena itu setiap hari sekitar jam 9 pagi kami sudah harus berjalan kaki menuju terminal angkot lumayan jauh juga dari asrama, awalnya aku merasa agak aneh juga naik angkot karena belum pernah merasakan dan ini pertama kalinya aku naik angkot setelah sampai di terminal suasanaya rame banget masing-masing sopir mempromosikan angkotnya masing-masing karena ini baru pertama kali kami binggung mau naik yang mana angkotnya berwarna-warni ada hijau, biru, orange, dan lain lain akhirnya kami tanya sama pak jukir (singkatan dari juru parkir) pak ke hotel purnama naik angkot yang mana lalu bapak itu nunjukin pada kami angkot warna orange yang ada tulisan selecta awalnya senang banget iyakan sudah ketemu agkotnya berarti cepat sampai ke tujuan ketika masuk
    “wah, kosong nggak ada penumpang seneng deh, kita aja di sini bisa bebas bergerak.” Gomel tersenyum lebar sambil membaringkan tubuhnya yang kelelahan di atas tempat duduk

    aku heran setelah sekian lamanya duduk, angkotnya kok nggak berangkat-berangkat juga penasarankan aku keluar lihat tulisan di depan angkotnya itu tulisan selecta terus di samping angkot ada bapak sopirnya duduk santai-santai aja karena takut salah angkot aku pun bertanya
    “permisi pak, apa benar angkot ini menuju selecta?.”
    Bapak sopir itu bukannya menjawab eh, malah nanya ke aku lagi
    “mau ke mana kamu?.” Dengan muka cueknya
    “mau ke hotel purnama pak.” Sambil tersenyum terpaksa lihat sikapnya bapak sopir yang terlalu cuek menurutku sih,
    “owh iya nak, masuk aja benar kok ini menuju selecta”
    Setelah bapaknya bilang benar aku akunya bukan senang malah jadi lebih penasaran lagi
    “tapi pak, kok nggak berangkat dari tadi kami bisa telat lho pak.”
    Akhirnya bapak sopir berdiri masuk ke dalam terus duduk sambil menunjuk ke arah jam dinding yang tergantung di pohon
    “Kita berangkat sekitar 15 menit lagi.”
    Huh! Aneh ya, berangkat aja pakai waktu.

    Setelah tiba waktu untuk berangkat angkotnya mampir lagi ke pasar batu ohh maii gaattt!!! Sudah menunggu lama di terminal, menunggu lagi di pasar batu rasanya itu seperti mau pingsan dalam angkot di bawah teriknya matahari harus bersesak-sesakan dengan para penumpang dan yang lebih parah lagi harus berhadapan dengan pecandu rok*k ketika mereka mulai menghembuskan asap rok*k hati ini berteriak histeria dan terus-menerus berdoa agar cepat sampai ke tujuan.

    Setiap hari aku harus berhadapan dengan situasi yang sama setiap kali mau ke hotel. Namun, yang menarik adalah setiap kali naik angkot penumpangnya rata-rata para ibu-ibu, oma-oma, opa-opa dan beberapa anak remaja beberapa hari selama naik angkot ini aku mendapatkan beberapa pelajaran setalah membuat sedikit pengamatan (efek lama menunggu akhirnya bisa membuat pengamatan) ketika anak remaja mulai memenuhi angkot hal pertama yang mereka lakukan adalah duduk di bagian paling pojok kemudian mengeluarkan smartphone dan mulai hanyut di dunia maya, sepanjang perjalanan semua orang sibuk kutak-katik smartphone masing-masing tidak ada komunikasi secara nyata sampai dengan membayar biaya angkot juga perkataan terima kasih tidak bisa keluar di mulut anak remaja, berbeda halnya ketika para oma-oma dan opa-opa yang tubuhnya mulai membungkuk, wajahnya yang mulai berkeriput, rambutnya yang sudah mulai memutih, belum masuk ke angkot pun mereka sudah tersenyum leber meskipun wajah mereka sudah dibasahi keringat tampak sangat kelelahan tetapi mereka masih bisa bertanya kabar, bisa berbasa-basi dengan setiap orang yang dijumpai mereka sehingga terjadi komukasi yang bisa mempererat hubungan, meskipun waktunya sangat singkat dan baru pertama kali bertemu tetapi kita bisa merasakan suasana kekeluargaan disana lebih lagi saat mereka mulai menceritakan pengalaman-pengalaman mereka di waktu muda, tidak jarang juga mereka mengumbarkan sedikit guyonan sehingga bisa mengubah suasana yang beku menjadi seru saat bersama mereka menurutku ini pengalaman yang luar biasa karena ketika aku merasakan hal ini belum tentu anak remaja lainnya merasakan hal yang sama.

    Ketika aku mulai membandingkan waktu-waktuku bersama para oma-oma dan opa-opa di angkot dengan waktu-waktu aku bersama teman-teman seusiaku saat nongkrong bersama, jalan-jalan, bahkan saat belajar bersama pun waktu kita lebih banyak terbuang kepada smartphone saja sehingga waktu yang seharusnya dihabiskan untuk lebih mempereratkan hubungan persahabatan kini sudah tidak ada lagi, sehingga aku bisa membuat kesimpulan bahwa masa-masa remaja para oma dan opa-opa itu lebih bahagia dari pada masa remaja di zaman teknologi yang semakin canggih ini karena ketika mereka mulai bercerita tentang masa muda mereka jelas terpancar di wajah mereka kebahagiaan yang pernah mereka rasakan meskipun saat itu teknologi belum maju sehingga mereka harus berkerja keras untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka namun mereka sangat bahagia dengan masa-masa muda mereka bahkan sebagian dari para oma opa ini merasa bangga karena mereka tau meskipun teknologi berkembang sangat pesat semakin hari semakin maju tapi mereka puas menjalani hidup mereka, berbeda dengan anak remaja zaman ini meskipun semua kebutuhan pokok sudah terpenuhi sehingga untuk mendapatkan sesuatupun sangat mudah tapi tetap saja tidak ada rasa kepuasan dalam dirinya sehingga mendorong anak remaja melakukan hal-hal yang merusak masa depannya sendiri karena tidak pernah merasakan kesusahan seperti orang zaman dulu.

    Selama menikmati waktu-waktu liburan kenaikan kelas ini banyak hal yang aku dapatkan lebih lagi saat aku casual di hotel purnama, di sana aku bisa menemukan pelbagai jenis orang dari tempat yang berbeda-beda bahkan ada juga orang-orang yang berasal dari luar negeri sehingga setiap hari pasti ada cerita baru yang tertulis dalam daily diaryku ada cerita yang senang ada juga cerita yang sedih bahkan ada juga cerita yang buat aku kesal, selama casual dan banyak hal-hal baru yang aku dapatkan termasuk bagaimana cara menanggapI orang-orang yang kurang sabar, memang selama casual kami dapat perlakuan yang istimewa berbanding dengan teman-teman dari sekolah lain yang casual juga karena yang mau casual bukan kami tetapi permintaan dari guru kami tujuannya supaya kami bisa mempraktekkan semua materi yang sudah dia ajari, meskipun kami sering telat (masalah angkutan) bapaknya sudah maklum karena kami anak asrama selain itu sebelum mulai berkerja pak guru sudah sediain sarapan buat kami bahkan setelah pulang kami juga di sediain jatah buat makan malam di asrama tapi itu bukan berarti pekerjaan kami mudah setiap hari pasti ada aja kesalahan yang kami lakukan tapi pak guru sering katakan “nggak apa-apa jadikan pengalaman aja.”

    Setiap hari pasti ada saja yang salah, pernah sekali aku salah tulis pesanan orang, pernah juga salah menghantar pesanan tamu mungkin inilah yang sering disebut orang-orang BELAJAR DARI KESALAHAN satu kali ada seorang ibu membuat pesanan pisang goreng keju coklat harganya kurang lebih 15.000 rupiah, waktu itu dia nyuruh hantar ke kamarnya karena ibu itu buat pesanan sudah agar sore semuanya sudah lelah dan waktu itu bazar hotel sudah mau tutup namun, ibunya meminta agar kami bisa siapin pesanannya ya mau nggak mau mas reza (koki) siapin pesanannya suruh aku hantar ke kamar ibu tadi sewaktu mau hantar kak lila (kasir) panggil, bagi uang kembalian biar nggak usah repot-repot ulang-alik ke kamarnya sekalian aja katanya tapi entah bagaimana setelah sampai ke kamar ibu yang buat pesanan itu
    Tok… tok… tok.. “permisi bu, ini pesananya.”
    Ternyata yang buka anak dari ibu itu, anaknya cuma ambil gitu aja
    Karena anaknya bilang sudah bayar, aku juga anggapnya sudah bayar ahkirnya aku binggung sendiri dengan uang kembalian yang dibagi kak lila
    “kalau gitu ini uang kembaliannya.”
    Setelelah anaknya ambil aku kembali ke bazar kak lila panggil lagi
    “joy uang bayarannya mana?.”
    “lho, bukannya sudah bayar, tadikan kak lila bagi uang kembalian?.” Sempat kaget juga
    “hah! Ibunya belum bayar, tadi itu uang persiapan kalau ibunya bayar 100.000 ribu kamu bagi uang kembalian yang tadi biar kamu nggak ulang-alik ke kamar ibunya”
    “lha akunya nggak tau kak, soale anaknya ibu tadi bilang sudah bayar, ya udah aku bagi uang kembaliannya.”
    “ya wes gak papa lah, anggap aja pengalaman.” Sambil tersenyum terpaksa sih

    Di waktu liburan ini aku mendapatkan banyak sekali pengalaman-pengalaman yang membuat aku sadar betapa sulitnya mencari uang, betapa asingnya dunia pekerjaan bagiku, betapa dasyatnya dunia luar itu, betapa tidak berartinya aku ketika berda di tengah-tengah orang-orang yang berpengalaman, betapa berharganya waktu-waktu yang aku sia-siakan hanya untuk bermain, betapa pentingnya pendidikan untuk suatu pekerjaan, betapa besarnya tanggung jawab yang harus dipikul ketika kita berada di tangga pemulaan, betapa bahagianya mendapat uang hasil dari kerja keras dan usahaku sendiri, betapa nikmatnya penat lelah yang aku alami setelah seharian berkerja, betapa pentingnya menjaga sikap di depan orang-orang yang pertama kali kamu temui, betapa sulitnya menemukan orang-orang yang bisa memahami kamu di dunia pekerjaan, betapa sulitnya merendahkan hati melayani orang lain, betapa sulitnya kehidupan ini. Membuat aku sadar kalau selama ini aku berjuang belajar bukan hanya untuk belajar, lulus, bekerja, membantu orangtua, menjadi tua dan kembali ke rumah bapa, tetapi aku punya tanggung jawab yang besar untuk memulai segala sesuatu sejak dini untuk mencapai masa depan yang lebih baik, aku harus belajar agar aku bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah sehingga aku bisa membantu anak-anak lain yang senasib denganku agar mereka juga bisa mengecap bangku pendidikan yang lebih tinggi dan mereka juga bisa membantu orang lain.

    Pengalaman buruk hanyalah mimpi buruk yang harus kamu ubah menjadi indah ketika mau bangun dari tidur agar bisa menjadi pengalaman yang membuka pintu kesuksesan mu di masa depan

    Cerpen Karangan: Joy Rema Kamaruddin
    Facebook: Joy Rema Rosales Kamaruddin

    Artikel Terkait

    First Experience
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email