Hikmah Dibalik Permusuhan

Baca Juga :
    Judul Cerpen Hikmah Dibalik Permusuhan

    Kriingg… Kriinggg…
    Alarmku berbunyi. Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Bergegas kubuka jendela kamarku. Hawa dingin menyeruak menusuk kulitku. Masih terlihat embun pagi membasahi dedaunan dan semak-semak. Sang mentari nampak malu-malu melihatkan senyumnya. Kuhirup udara segar yang hanya dapat kurasakan di pagi hari saja. Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Kusegarkan tubuhku dengan guyuran air dingin. Usai mandi, kuambil air wudhu. Kulaksanakan kewajibanku sebagai umat muslim. Shalat Subuh.

    Usai Shalat Subuh, aku berganti pakaian. Bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Kupakai seragam putih biruku. Kusisir rambutku yang masih berantakan. Kuambil tasku yang sudah kuisi dengan buku-buku pelajaran hari ini.

    “Tasya, ayo turun. Kita sarapan pagi sama-sama”. Teriakan mama mengagetkanku.
    “Ya, ma”. Jawabku.

    Aku turun dan sarapan bersama keluarga ku tercinta. Aku sangat menyayangi mama dan papaku. Begitu juga mereka, mereka sangat menyayangiku. Kami hidup harmonis. Aku bangga mempunyai kedua orangtua seperti mama dan papaku.

    Setelah sarapan, aku berpamitan kepada mama dan papa. Kucium telapak tangan kedua orangtuaku. Kemudian, aku bergegas menuju garasi. Aku mengambil sepeda kesayanganku dan berangkat menuju sekolah.

    Sesampainya di sekolah, aku berjalan gontai menuju kelas. Tiba-tiba…
    Brukk…
    “Aduh, maaf-maaf aku tidak sengaja”. Kataku meminta maaf.
    “Makanya kalau jalan itu lihat-lihat”. Jawab anak itu.
    “Bukannya kamu ya Mir yang jalan tidak lihat-lihat?. Jelas-jelas aku tadi sudah jalan benar, sedangkan kamu?. Kamu tadi lari-lari kan bersama teman gengmu itu?”. Jawabku tak mau kalah.
    “Heh!. Kamu gak usah nyalahin aku ya!. Aku itu enggak pernah salah. Ya kamu yang salah!”. Bentak Mira.
    Pertengkaran kami pun tak bisa dihindari. Aku dan Mira adalah musuh bebuyutan dari kami kelas 1 SMP hingga saat ini kelas 3 SMP. Tiba-tiba Farah datang dan melerai kami. Farah adalah sahabatku. Sahabat terbaikku.

    Setelah pertengkaran kami usai, aku dan Farah masuk ke kelas. Sebenarnya, aku malas masuk ke kelas. Karena aku satu kelas dengan musuh bebuyutanku. MIRA. Terkadang aku bingung mengapa Mira sampai memusuhiku?. Aku tak pernah berbuat jahat padanya. Entahlah.

    Hingga pada suatu hari, ibu guru membagi kelompok untuk tugas kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 2 orang. Aku satu kelompok dengan Mira. Aku berbeda kelompok dengan Farah. Tuhan mengapa engkau satukan aku dengan Mira, bukan dengan Farah?.

    Esoknya, aku mengatakan pada Mira kalau kami akan mengerjakan tugas di rumah Mira. Mira menyetujuinya.

    Ting tong…
    Mira membuka pintu rumahnya.
    “Masuk”. Mira mempersilahkan aku masuk dengan nada sejutek itu. Membuat moodku berumah.
    “Ayo, cepat kita selesaikan tugas ini”. Kataku tak kalah ketus dengan Mira.
    Mira hanya diam saja.

    Sudah satu jam kami mengerjakan tugas ini. Akhirnya, Mira memberikan aku minum.
    “Tak tahu apa aku sudah kehausan dari tadi”. Gumamku dalam hati.
    Tiba-tiba terbesit di pikiranku mengenai pertanyaanku tentang permusuhan kami.
    “Maaf, aku tadi kasih minumnya telat”. Kata Mira jutek.
    “Tak apa. Eh, Mir aku boleh tanya sesuatu enggak sama kamu?”. Tanyaku ragu-ragu.
    “Mau tanya apa?”. Tanya Mira.
    “Boleh dulu nggak?”.
    “Iya deh boleh”. Jawab Mira.
    “Eh, Mir kenapa sih kamu musuhin aku?>. Aku tak pernah berbuat jahat kan sama kamu?”. Tanyaku.
    Mira menghela nafas.
    “Maaf”. Hanya itu kata yang terucap di bibir Mira.
    Bukan itu jawaban yang aku mau Mira. Aku tahu kamu bohong. Karena matamu mengatakan hal lain.
    “Aku tahu kamu bohong. Matamu mengatakan hal lain. Ayolah Mira katakan mengapa kau memusuhiku?. Tak apa katakan Mira”. Jawabku setengah memaksa.
    “Maafkan aku Tasya. Sebenarnya, kamu tak pernah berbuat jahat kepadaku. Tapi, akulah yang iri padamu. Aku iri pada kasih sayang yang diberikan orangtuamu padamu. Kamu tahu kan kalau orangtuaku sudah bercerai, dan aku tak bisa mendapatakan kasih sayang dari orangtuaku. Selama ini, aku hanya mendapatkan kasih sayang dari bibiku. Sekali lagi, maafkan aku Tasya”. Mira akhirnya mengaku.

    Ya, memang kehidupan Mira tak seberuntung kehidupanku.
    Aku masih punya kedua orangtua yang tak pernah henti memberikan kasih sayang padaku. Sedangkan Mira?. Mira adalah anak yang broken home. Kedua orangtuanya bercerai. Dan Mira tak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Oh Tuhan!. Jadi, itulah alasan Mira memusuhiku?. Mira terlihat menangis setelah menjawab pertanyaanku.
    “Menangislah Mira. Andai itu yang membuatmu lega”. Kataku menenangkan Mira.
    “Maaf kan aku Tasya”.
    “Tak apa Mira. Aku seudah memaafkanmu”. Jawab ku.
    “Terima kasih Tasya. Aku janji setelah ini aku tak akan memusuhimu”. Janji Mira.
    Aku tersenyum.
    “Mira, maukah kamu menjadi sahabatku bersama Farah?”. Tanyaku.
    “Aku mau. Tapi, bagaimana dengan teman-teman gengku?. Aku tak bisa meninggalkan mereka. Mereka yang selalu ada untukku saat aku sedih maupun senang. Aku tak sanggup bila harus meninggalkan mereka”. Keluh Mira.
    “kenapa kamu memikirkan mereka?. Tentu saja, mereka juga bisa menjadi sahabat kita. Bagaimana?”.
    “Benarkah Tasya?. Ya, aku dan teman-teman ku mau menjadi sahabatmu”. jawab Mira senang.

    Esoknya, aku memberitahukan kabar gembira ini pada Farah. Farah yang mendengarnya sangat senang. Begitu juga dengan Mira dan teman-teman gengnya. Sejak saat itulah aku, Farah, Mira, dan teman-teman geng Mira menjadi sahabat baik. Oh Tuhan terima kasih atas sahabat-sahabat baik yang kau berikan padaku.
    Terima kasih Tuhan…

    THE END

    Cerpen Karangan: Septianissav

    Artikel Terkait

    Hikmah Dibalik Permusuhan
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email