Judul Cerpen Kau Matahariku
“Hay, yang hari ini memakai baju hijau!!.” Ucapku dalam hati.
Memandangi sosok laki laki yang duduk dengan dua orang wanita di sampingnya, belajar bersama tanpa peduli bahwa ada seseorang yang memperhatikan. Di sebuah ruangan yang dingin ini hatiku membeku, tanpa aku peduli berapa banyak orang yang berada di sampingku. Ingatanku melambung jauh tinggi dan menangkap beberapa kenangan indah saat bersamanya.
Kebun kecil ini menjadi saksi bisu tentang kedekatan kita.
“Ken, kenapa sih kau?” Ucapnya seraya duduk di sebelahku dan menatapi wajahku yang sembab karena menangis.
“Entahlah, mungkin aku sedikit lelah!.” Tegasku sembari memalingkan muka.
“Jangan bohong deh, udah kelihatan tuh muka muka yang lagi banyak masalah, cerita aja sama gue, siapa tau gue bisa bantu lo!”
Semenjak kebersamaan saat itu, aku merasakan kehangatan pada sosok laki laki ini, ada rasa nyaman yang aku dapat tatkala dia ada di dekatku.
Sore yang begitu cerah dan padang rumput yang begitu luas kupandangi langit yang menjingga, lamunanku kembali pada sosok itu. Aku tak pernah berhenti kagum padanya. Tiba-tiba sepasang tangan menghalangi penglihatanku dan sontak saja aku berteriak, namun seketika aku membisu saat sesosok tubuh tinggi berdiri tegak di hadapanku. Dengan tanpa rasa bersalah sosok itu malahan tertawa dengan riangnya, seolah-olah itu adalah suatu pertunjukan sirkus.
“Apaan sih ini, enggak lucu tau!.” Ujarku sembari mencubit lengannya.
“Adduuh.. sakit tau, kecil-kecil gini, cubitannya lumayan juga yah?.”
Aku hanya diam dan malas berkomentar tentang hal itu, memang tubuhku agak lebih kecil dari tubunya yang bisa dibilang proporsional.
Setelah sekian menit membisu, aku pun memberanikan diri untuk memulai percakapan.
“Lo ngapain kesini, bukannya hari ini Lo ada janji sama Chandra?.” tanyaku sembari duduk di sebelahnya.
“Enggak jadi!!.” balasnya.
Sesingkat itu dia jawab? parah ni anak. Ucapku dalam hati.
“Lo kenapa? bukannya Lo lagi PDKT sama dia? kok enggak jadi?.” ujarku dengan kepo.
Namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, hingga kami kembali membisu dan akhirnya kami beranjak pergi tanpa ada sepatah katapun yang terucap.
“Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you…”
“Happy Birthday Shizuka Kencania, Ciee yang sweet seventeen.. semoga makin max yah.” ucap Lidya dengan gayanya yang kecentilan.
“Terimakasih yah, semoga kita berdua semakin max.” Balasku sambil tertawa dan memeluknya
Dia adalah seorang sahabat yang sudah kuanggap sebagai saudara sendiri. Kami bersahabat semenjak kami duduk di bangku sekolah dasar, hingga kini diusiaku yang ke-17 dan duduk di bangku SMA. Dia tahu segalanya tentangku, begitu pula sebaliknya. Kami memegang teguh suatu slogan “TAT TWAM ASI” “Kamu adalah Aku, Aku adalah Kamu”.
Ketika kami sedang asyik berdua, tiba-tiba sosok yang kukagumi itu datang dengan membawa kotak kecil dan sepucuk surat. Dia meminta kepada Lidya agar memberi kami waktu untuk berdua. Dan Lidya pun pergi meninggalkan kami.
Suasana hening sejenak, tak ada yang berani memulai pembicaraan. Sampai akhirnya dia berkata,
“Ken, aku minta maaf…”
“Maaf untuk apa, aku tak mengerti maksudmu.” balasku
“Aku telah bohong pada perasaanku dan selama ini aku hanya berpura-pura bilang padamu bahwa aku sedang dekat dengan Chandra. Sebenarnya aku suka sama orang lain, dan orang itu aku rasa juga suka kepadaku.” ucapnya penuh dengan keseriusan.
Jujur aku tidak kuat mendengar kata-kata itu, hatiku remuk perasaanku hancur dan rasanya aku ingin cepat-cepat beranjak dari tempat ini.
“Ya, apa hubungannya denganku?.” Ujarku sembari memalingkan muka dan berdiri.
“Ken, apa kau tidak sadar? apa kau tidak tau siapa orangnya?.” ucapnya dengan tenang.
“Maksudmu?.” tanyaku lirih.
“Shizuka Kencania, aku sudah tau semuanya. Dan sekarang aku ingin kamu mengakuinya.” ujarnya menunjukkan senyum manisnya.
“Mengakui apa? aku tidak tau apa-apa…”
“Oke, rupanya kamu pura-pura tidak mengerti. Kalau begitu aku sendiri yang akan membuktikannya.” ucapnya sembari tersenyum dan mengacak-acak rambutku.
Lalu dia mengeluarkan sebuah kertas kecil yang entah kenapa seperti aku mengenalinya.
“Bacalah surat ini!!, aku yakin kau akan mengerti.” Katanya sembari memberiku sebuah surat tersebut.
Untuk Kau yang sedang Duduk Manis.
Sabtu, 4 Agustus 2015
Aku menatapmu tanpa henti, layaknya aku telah memandang Sang Arjuna. Tanpa lelah kubayangkan betapa indah jikalau aku bisa menemanimu duduk disana. Kau… ya kau yang sekarang tertawa, kau yang sekarang sedang bahagia.
Sakit.. sakit yang aku rasa ketika aku tau alasan kau tertawa, alasan kau bahagia. Aku tau itu semua karena… DIA. Kau berubah karena dia, kau menjauh dariku karena dia, dia yang telah menggantikan posisiku di sampingmu. Mengubah duniamu yang seakan membuatmu melupakanku.
Tapi.. Aku yakin, itu tidak akan lama, aku akan menunggumu di sini, di tempat ini…
1 tahun lagi.
Ketika aku mampu membuktikan kepadamu dia bukanlah sosok yang kau cari…
Apakah.. apakah kau sadar bagaimana perih hati ini? Tidak mungkin kau sadari hal itu…
Apakah.. apakah kau sadar bagaimana perasaanku? Tidak mungkin kau sadari hal itu…
Ken
“Ya tuhan, ini surat yang aku buat 1 tahun yang lalu ketika aku telah putus asa pada semuanya. Darimana dia mendapatkan surat ini? bukankah aku telah membuangnya?.” aku membatin
“Lintang…”
“Ken, ternyata perasaanku tak sepihak ya. Aku juga merasakan hal yang sama tapi aku tak berani untuk mengungkapkannya, betapa bodohnya diriku ini. Tidak sadar bahwa orang yang aku sayang juga menyayangiku, aku menemukan surat ini di rumah pohon yang biasa kau kunjungi. Kemarin aku memberanikan diri untuk naik dan aku melihat ada sesuatu yang terselip di antara dinding-dinding rumah pohon itu. Aku mengambilnya kemudian membacanya, hingga pada akhirnya aku tau itu adalah suratmu. maafkan aku atas kelancanganku.” ucapnya sembari memegang tanganku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, semuanya sudah jelas.
Tangis bahagia mewarnai hari ulang tahunku ini, sekaligus menjadi hari spesial aku bersama Lintang Adi Suryandana.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan Lintang, dan mengaburkan segala ingatanku tentang petikan kisah indah dimasa lalu itu.
“Heyyy… kenapa senyum-senyum sendiri , Udah selesai bikin tugasnya? Pulang yuk.. Sepertinya kita sudah ditunggu oleh orangtuamu.” Ajaknya sembari merapikan tas dan buku yang berserakan di sampingku.
“Yuk, aku juga udah bosen lama-lama disini.” Balasku sambil tersenyum memandanginya.
Aku senang bisa berada di sisi Lintang, dia adalah MATAHARI yang selalu ada disetiap hariku. Dia adalah sumber dari segala semangat yang ada dalam diriku. Ketika kau menyayangi seseorang jangan pernah ragu untuk membuktikannya, jangan pernah malu untuk mengakuinya dan hal yang terbaik yang bisa kau lakukan adalah merealisasikannya. Tunjukkan dan Buktikan.
Salam Hangat Matahari dari Shizuka Kencania
Selesai
Cerpen Karangan: Lidya Kencana
Facebook: lidya kencana
“Hay, yang hari ini memakai baju hijau!!.” Ucapku dalam hati.
Memandangi sosok laki laki yang duduk dengan dua orang wanita di sampingnya, belajar bersama tanpa peduli bahwa ada seseorang yang memperhatikan. Di sebuah ruangan yang dingin ini hatiku membeku, tanpa aku peduli berapa banyak orang yang berada di sampingku. Ingatanku melambung jauh tinggi dan menangkap beberapa kenangan indah saat bersamanya.
Kebun kecil ini menjadi saksi bisu tentang kedekatan kita.
“Ken, kenapa sih kau?” Ucapnya seraya duduk di sebelahku dan menatapi wajahku yang sembab karena menangis.
“Entahlah, mungkin aku sedikit lelah!.” Tegasku sembari memalingkan muka.
“Jangan bohong deh, udah kelihatan tuh muka muka yang lagi banyak masalah, cerita aja sama gue, siapa tau gue bisa bantu lo!”
Semenjak kebersamaan saat itu, aku merasakan kehangatan pada sosok laki laki ini, ada rasa nyaman yang aku dapat tatkala dia ada di dekatku.
Sore yang begitu cerah dan padang rumput yang begitu luas kupandangi langit yang menjingga, lamunanku kembali pada sosok itu. Aku tak pernah berhenti kagum padanya. Tiba-tiba sepasang tangan menghalangi penglihatanku dan sontak saja aku berteriak, namun seketika aku membisu saat sesosok tubuh tinggi berdiri tegak di hadapanku. Dengan tanpa rasa bersalah sosok itu malahan tertawa dengan riangnya, seolah-olah itu adalah suatu pertunjukan sirkus.
“Apaan sih ini, enggak lucu tau!.” Ujarku sembari mencubit lengannya.
“Adduuh.. sakit tau, kecil-kecil gini, cubitannya lumayan juga yah?.”
Aku hanya diam dan malas berkomentar tentang hal itu, memang tubuhku agak lebih kecil dari tubunya yang bisa dibilang proporsional.
Setelah sekian menit membisu, aku pun memberanikan diri untuk memulai percakapan.
“Lo ngapain kesini, bukannya hari ini Lo ada janji sama Chandra?.” tanyaku sembari duduk di sebelahnya.
“Enggak jadi!!.” balasnya.
Sesingkat itu dia jawab? parah ni anak. Ucapku dalam hati.
“Lo kenapa? bukannya Lo lagi PDKT sama dia? kok enggak jadi?.” ujarku dengan kepo.
Namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, hingga kami kembali membisu dan akhirnya kami beranjak pergi tanpa ada sepatah katapun yang terucap.
“Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you…”
“Happy Birthday Shizuka Kencania, Ciee yang sweet seventeen.. semoga makin max yah.” ucap Lidya dengan gayanya yang kecentilan.
“Terimakasih yah, semoga kita berdua semakin max.” Balasku sambil tertawa dan memeluknya
Dia adalah seorang sahabat yang sudah kuanggap sebagai saudara sendiri. Kami bersahabat semenjak kami duduk di bangku sekolah dasar, hingga kini diusiaku yang ke-17 dan duduk di bangku SMA. Dia tahu segalanya tentangku, begitu pula sebaliknya. Kami memegang teguh suatu slogan “TAT TWAM ASI” “Kamu adalah Aku, Aku adalah Kamu”.
Ketika kami sedang asyik berdua, tiba-tiba sosok yang kukagumi itu datang dengan membawa kotak kecil dan sepucuk surat. Dia meminta kepada Lidya agar memberi kami waktu untuk berdua. Dan Lidya pun pergi meninggalkan kami.
Suasana hening sejenak, tak ada yang berani memulai pembicaraan. Sampai akhirnya dia berkata,
“Ken, aku minta maaf…”
“Maaf untuk apa, aku tak mengerti maksudmu.” balasku
“Aku telah bohong pada perasaanku dan selama ini aku hanya berpura-pura bilang padamu bahwa aku sedang dekat dengan Chandra. Sebenarnya aku suka sama orang lain, dan orang itu aku rasa juga suka kepadaku.” ucapnya penuh dengan keseriusan.
Jujur aku tidak kuat mendengar kata-kata itu, hatiku remuk perasaanku hancur dan rasanya aku ingin cepat-cepat beranjak dari tempat ini.
“Ya, apa hubungannya denganku?.” Ujarku sembari memalingkan muka dan berdiri.
“Ken, apa kau tidak sadar? apa kau tidak tau siapa orangnya?.” ucapnya dengan tenang.
“Maksudmu?.” tanyaku lirih.
“Shizuka Kencania, aku sudah tau semuanya. Dan sekarang aku ingin kamu mengakuinya.” ujarnya menunjukkan senyum manisnya.
“Mengakui apa? aku tidak tau apa-apa…”
“Oke, rupanya kamu pura-pura tidak mengerti. Kalau begitu aku sendiri yang akan membuktikannya.” ucapnya sembari tersenyum dan mengacak-acak rambutku.
Lalu dia mengeluarkan sebuah kertas kecil yang entah kenapa seperti aku mengenalinya.
“Bacalah surat ini!!, aku yakin kau akan mengerti.” Katanya sembari memberiku sebuah surat tersebut.
Untuk Kau yang sedang Duduk Manis.
Sabtu, 4 Agustus 2015
Aku menatapmu tanpa henti, layaknya aku telah memandang Sang Arjuna. Tanpa lelah kubayangkan betapa indah jikalau aku bisa menemanimu duduk disana. Kau… ya kau yang sekarang tertawa, kau yang sekarang sedang bahagia.
Sakit.. sakit yang aku rasa ketika aku tau alasan kau tertawa, alasan kau bahagia. Aku tau itu semua karena… DIA. Kau berubah karena dia, kau menjauh dariku karena dia, dia yang telah menggantikan posisiku di sampingmu. Mengubah duniamu yang seakan membuatmu melupakanku.
Tapi.. Aku yakin, itu tidak akan lama, aku akan menunggumu di sini, di tempat ini…
1 tahun lagi.
Ketika aku mampu membuktikan kepadamu dia bukanlah sosok yang kau cari…
Apakah.. apakah kau sadar bagaimana perih hati ini? Tidak mungkin kau sadari hal itu…
Apakah.. apakah kau sadar bagaimana perasaanku? Tidak mungkin kau sadari hal itu…
Ken
“Ya tuhan, ini surat yang aku buat 1 tahun yang lalu ketika aku telah putus asa pada semuanya. Darimana dia mendapatkan surat ini? bukankah aku telah membuangnya?.” aku membatin
“Lintang…”
“Ken, ternyata perasaanku tak sepihak ya. Aku juga merasakan hal yang sama tapi aku tak berani untuk mengungkapkannya, betapa bodohnya diriku ini. Tidak sadar bahwa orang yang aku sayang juga menyayangiku, aku menemukan surat ini di rumah pohon yang biasa kau kunjungi. Kemarin aku memberanikan diri untuk naik dan aku melihat ada sesuatu yang terselip di antara dinding-dinding rumah pohon itu. Aku mengambilnya kemudian membacanya, hingga pada akhirnya aku tau itu adalah suratmu. maafkan aku atas kelancanganku.” ucapnya sembari memegang tanganku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, semuanya sudah jelas.
Tangis bahagia mewarnai hari ulang tahunku ini, sekaligus menjadi hari spesial aku bersama Lintang Adi Suryandana.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan Lintang, dan mengaburkan segala ingatanku tentang petikan kisah indah dimasa lalu itu.
“Heyyy… kenapa senyum-senyum sendiri , Udah selesai bikin tugasnya? Pulang yuk.. Sepertinya kita sudah ditunggu oleh orangtuamu.” Ajaknya sembari merapikan tas dan buku yang berserakan di sampingku.
“Yuk, aku juga udah bosen lama-lama disini.” Balasku sambil tersenyum memandanginya.
Aku senang bisa berada di sisi Lintang, dia adalah MATAHARI yang selalu ada disetiap hariku. Dia adalah sumber dari segala semangat yang ada dalam diriku. Ketika kau menyayangi seseorang jangan pernah ragu untuk membuktikannya, jangan pernah malu untuk mengakuinya dan hal yang terbaik yang bisa kau lakukan adalah merealisasikannya. Tunjukkan dan Buktikan.
Salam Hangat Matahari dari Shizuka Kencania
Selesai
Cerpen Karangan: Lidya Kencana
Facebook: lidya kencana
Kau Matahariku
4/
5
Oleh
Unknown
