Judul Cerpen Alea
Cahaya mentari telah menyinari pagi ini, kabut dingin pun perlahan menghilang, hanya tertinggal tetesan embun di pucuk dedaunan itu. Alea bangkit dari tidurnya, ia merasa mungkin ini sudah pagi. Ia berjalan ke arah jendela dan menarik nafas dalam-dalam, menikmati sejuknya pagi ini.
“kau sudah bangun Alea?” sapa ayahnya, namun Alea tetap tak bergeming. Gadis berumur sepuluh tahun itu masih fokus dengan hawa sejuk pagi ini. Alea dan ayahnya tinggal di pedesaan yang tentunya alam disana masih asri dan sangat terjaga, desa ini juga dekat dengan hutan tak ayal tempat ini selalu menjadi tempat singgahan orang kota yang penat dengan kehidupannya.
Alea merasakan sesuatu menyentuh pundaknya, ia tersenyum, pasti itu ayahnya. Ayah Alea menyentuh bibir Alea bermaksud untuk mengajak Alea sarapan sebelum ayahnya pergi bekerja. Alea mengangguk dan tangannya dikaitkan ke lengan sang ayah, pagi itu mereka sarapan nasi dan kentang rebus.
Setelah sarapan ayah Alea berpamitan kepada Alea, ayahnya menyentuhkan sebuah parang di tangan Alea, Alea mengangguk mengerti, begitulah cara sang ayah memberitahu Alea bahwa dia akan pergi bekerja. Ya Alea adalah seorang gadis buta dan tuli. Saat ia kecil, ia mengalami demam yang sangat tinggi, keadaan ekonomi yang sulit serta jarak tempuh yang jauh dari rumah Alea ke rumah sakit membuat Alea tidak mendapat penanganan medis. Dan ternyata demam itu membawa perubahan yang sangat besar dalam hidup Alea, hidupnya selalu sepi, sunyi dan gelap. Tetapi Alea adalah gadis yang ceria, dia jarang sekali bersedih, hanya menghirup udara segar saja dan pelukan dari sang ayah itu sudah cukup membuat dia bahagia.
Hari ini Alea hanya duduk termenung di balik jendela, wajah ayunya terlihat jelas, rambut panjangnya yang kecoklatan, kulit putih bersih, matanya yang berwarna biru tak menampik bahwa ia sangat sempurna, lukisan wajah bak bidadari. Di depan rumah ada banyak petani yang lalu lalang di depan Alea, mereka selalu menegur Alea namun teguran mereka tak pernah mendapatkan jawaban. yang mereka lihat Alea selalu tersenyum entah itu untuk siapa namun senyuman itu menambah kesan manis dalam diri Alea. Setiap hari Alea hanya duduk di balik jendela itu, dia hanya akan beranjak jika ayah mengajaknya makan atau menghabiskan waktu bersama.
Ayah Alea adalah seorang pengrajin kayu, setiap hari ia masuk hutan untuk mencari ranting-ranting kayu yang bisa ia manfaatkan. Parang yang ia bawa hanya untuk menghalau hewan buas yang terkadang ia temui di hutan. Ayah Alea tak pernah menebang pohon karena ia tahu satu pohon akan sangat berarti untuk ribuan makhluk hidup di sekitarnya. Setelah mendapatkan ranting-ranting itu ia langsung membawanya ke rumah dan dengan kelihaian tangannya ia dapat membuat berbagai macam kerajinan kayu seperti gelang, kalung, dan pajangan-pajangan rumah. Ia juga pernah membuat kalung dan gelang untuk Alea, di kalung dan gelang itu ia ukirkan nama Alea. Ibu Alea? Ibu Alea telah pergi meninggalkan Alea dan ayahnya, ia pergi ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik lagi, ia juga pernah berkata kepada suaminya (ayah Alea) bahwa ia sudah tak kuat menjalani hidup susah apalagi ditambah dengan keadaan Alea yang seperti itu. Tinggallah Alea dengan sang ayah di rumah kayu yang dibangun sendiri oleh ayah Alea. Alea selalu membayangkan betapa indahnya dunia jika ia bisa melihat, dan betapa ramainya dunia jika ia bisa mendengar.
Alea merasakan sentuhan lagi di bibirnya, ah pasti ini waktunya makan. Setelah makan ayah mengajak Alea bersantai di depan rumah, menggelar sealas tikar dan menyalakan sebuah lampu petromax, Alea memeluk ayahnya erat seakan tak ingin terlepas. Di pikiran Alea hanya ayahlah yang menyayanginya, meski ia tak pernah tau rupa dan suaranya. Di bawah bintang-bintang yang gemerlapan ayah selalu mendoakan Alea agar dia selalu bahagia meski ia tak tau sampai kapan raga dan nyawanya dapat menemani Alea. Setiap manusia pasti akan mati kan?.
Suatu hari seperti biasa sang ayah menyentuh pundak Alea mengajaknya sarapan, selesai sarapan ayah menyentuhkan parang ke tangan Alea dan mencium pipi sang anak berpamitan untuk mencari kayu, Alea merasa geli tak seperti biasanya ayah seperti ini. Ketika sang ayah sedang mencari kayu di hutan tiba-tiba ada seekor harimau yang kelaparan dan ingin memangsa ayah Alea, dengan sigap sang ayah mengeluarkan parangnya dan mencoba melawan harimau lapar itu, pertarungan sengit terjadi antara keduanya, namun ketika ayah Alea lengah harimau itu menyergap tubuhnya, membuatnya jatuh tersungkur, harimau itu menggigit lengannya menyebabkan rasa sakit yang tak tertahankan, ia sadar mungkin waktunya di dunia ini akan habis, di sisa nafasnya ia terus bergumam “Alea, Alea, Alea”.
Alea tetap menunggu ayahnya, dia merasa sudah lama menunggu ayahnya namun tak ada sentuhan hangat itu. Hari pun berganti, Alea tetap duduk menghadap jendela menanti ayahnya, wajahnya kusut, matanya juga terlihat lelah, tiga hari berikutnya sampai satu minggu lamanya ia tetap berada di posisinya, dia berpikir apa waktu menjadi lambat sekarang? Wajahnya terlihat sangat lelah, rambutnya kusut, para petani yang biasanya melihat Alea tampil cantik kini mulai takut menyapa Alea. Dia lapar, haus, tapi Alea tak tau harus berbuat apa dia hanya bisa merasakan kesunyian dan kegelapan. Air matanya menetes, kemana ayahnya pergi, ia menjerit “ayah kau dimana? Cepatlah kembali ayah, aku lapar, aku haus” tapi Alea pun tau bahwa tak kan ada orang yang mendengar jeritan itu. Alea semakin lemas, dia tersungkur ke bawah kursi dan menghembuskan nafas terakhirnya dengan memanggil “ayah..”. Sejak saat itu para petani tak ada lagi yang melihat Alea, gadis cantik bak bidadari itu, yang mereka lihat hanyalah kursi kosong yang biasa Alea tempati melewati hari yang gelap dan sepi.
Cerpen Karangan: Prahasdita Maharani
Facebook: Prahasdita
Cahaya mentari telah menyinari pagi ini, kabut dingin pun perlahan menghilang, hanya tertinggal tetesan embun di pucuk dedaunan itu. Alea bangkit dari tidurnya, ia merasa mungkin ini sudah pagi. Ia berjalan ke arah jendela dan menarik nafas dalam-dalam, menikmati sejuknya pagi ini.
“kau sudah bangun Alea?” sapa ayahnya, namun Alea tetap tak bergeming. Gadis berumur sepuluh tahun itu masih fokus dengan hawa sejuk pagi ini. Alea dan ayahnya tinggal di pedesaan yang tentunya alam disana masih asri dan sangat terjaga, desa ini juga dekat dengan hutan tak ayal tempat ini selalu menjadi tempat singgahan orang kota yang penat dengan kehidupannya.
Alea merasakan sesuatu menyentuh pundaknya, ia tersenyum, pasti itu ayahnya. Ayah Alea menyentuh bibir Alea bermaksud untuk mengajak Alea sarapan sebelum ayahnya pergi bekerja. Alea mengangguk dan tangannya dikaitkan ke lengan sang ayah, pagi itu mereka sarapan nasi dan kentang rebus.
Setelah sarapan ayah Alea berpamitan kepada Alea, ayahnya menyentuhkan sebuah parang di tangan Alea, Alea mengangguk mengerti, begitulah cara sang ayah memberitahu Alea bahwa dia akan pergi bekerja. Ya Alea adalah seorang gadis buta dan tuli. Saat ia kecil, ia mengalami demam yang sangat tinggi, keadaan ekonomi yang sulit serta jarak tempuh yang jauh dari rumah Alea ke rumah sakit membuat Alea tidak mendapat penanganan medis. Dan ternyata demam itu membawa perubahan yang sangat besar dalam hidup Alea, hidupnya selalu sepi, sunyi dan gelap. Tetapi Alea adalah gadis yang ceria, dia jarang sekali bersedih, hanya menghirup udara segar saja dan pelukan dari sang ayah itu sudah cukup membuat dia bahagia.
Hari ini Alea hanya duduk termenung di balik jendela, wajah ayunya terlihat jelas, rambut panjangnya yang kecoklatan, kulit putih bersih, matanya yang berwarna biru tak menampik bahwa ia sangat sempurna, lukisan wajah bak bidadari. Di depan rumah ada banyak petani yang lalu lalang di depan Alea, mereka selalu menegur Alea namun teguran mereka tak pernah mendapatkan jawaban. yang mereka lihat Alea selalu tersenyum entah itu untuk siapa namun senyuman itu menambah kesan manis dalam diri Alea. Setiap hari Alea hanya duduk di balik jendela itu, dia hanya akan beranjak jika ayah mengajaknya makan atau menghabiskan waktu bersama.
Ayah Alea adalah seorang pengrajin kayu, setiap hari ia masuk hutan untuk mencari ranting-ranting kayu yang bisa ia manfaatkan. Parang yang ia bawa hanya untuk menghalau hewan buas yang terkadang ia temui di hutan. Ayah Alea tak pernah menebang pohon karena ia tahu satu pohon akan sangat berarti untuk ribuan makhluk hidup di sekitarnya. Setelah mendapatkan ranting-ranting itu ia langsung membawanya ke rumah dan dengan kelihaian tangannya ia dapat membuat berbagai macam kerajinan kayu seperti gelang, kalung, dan pajangan-pajangan rumah. Ia juga pernah membuat kalung dan gelang untuk Alea, di kalung dan gelang itu ia ukirkan nama Alea. Ibu Alea? Ibu Alea telah pergi meninggalkan Alea dan ayahnya, ia pergi ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik lagi, ia juga pernah berkata kepada suaminya (ayah Alea) bahwa ia sudah tak kuat menjalani hidup susah apalagi ditambah dengan keadaan Alea yang seperti itu. Tinggallah Alea dengan sang ayah di rumah kayu yang dibangun sendiri oleh ayah Alea. Alea selalu membayangkan betapa indahnya dunia jika ia bisa melihat, dan betapa ramainya dunia jika ia bisa mendengar.
Alea merasakan sentuhan lagi di bibirnya, ah pasti ini waktunya makan. Setelah makan ayah mengajak Alea bersantai di depan rumah, menggelar sealas tikar dan menyalakan sebuah lampu petromax, Alea memeluk ayahnya erat seakan tak ingin terlepas. Di pikiran Alea hanya ayahlah yang menyayanginya, meski ia tak pernah tau rupa dan suaranya. Di bawah bintang-bintang yang gemerlapan ayah selalu mendoakan Alea agar dia selalu bahagia meski ia tak tau sampai kapan raga dan nyawanya dapat menemani Alea. Setiap manusia pasti akan mati kan?.
Suatu hari seperti biasa sang ayah menyentuh pundak Alea mengajaknya sarapan, selesai sarapan ayah menyentuhkan parang ke tangan Alea dan mencium pipi sang anak berpamitan untuk mencari kayu, Alea merasa geli tak seperti biasanya ayah seperti ini. Ketika sang ayah sedang mencari kayu di hutan tiba-tiba ada seekor harimau yang kelaparan dan ingin memangsa ayah Alea, dengan sigap sang ayah mengeluarkan parangnya dan mencoba melawan harimau lapar itu, pertarungan sengit terjadi antara keduanya, namun ketika ayah Alea lengah harimau itu menyergap tubuhnya, membuatnya jatuh tersungkur, harimau itu menggigit lengannya menyebabkan rasa sakit yang tak tertahankan, ia sadar mungkin waktunya di dunia ini akan habis, di sisa nafasnya ia terus bergumam “Alea, Alea, Alea”.
Alea tetap menunggu ayahnya, dia merasa sudah lama menunggu ayahnya namun tak ada sentuhan hangat itu. Hari pun berganti, Alea tetap duduk menghadap jendela menanti ayahnya, wajahnya kusut, matanya juga terlihat lelah, tiga hari berikutnya sampai satu minggu lamanya ia tetap berada di posisinya, dia berpikir apa waktu menjadi lambat sekarang? Wajahnya terlihat sangat lelah, rambutnya kusut, para petani yang biasanya melihat Alea tampil cantik kini mulai takut menyapa Alea. Dia lapar, haus, tapi Alea tak tau harus berbuat apa dia hanya bisa merasakan kesunyian dan kegelapan. Air matanya menetes, kemana ayahnya pergi, ia menjerit “ayah kau dimana? Cepatlah kembali ayah, aku lapar, aku haus” tapi Alea pun tau bahwa tak kan ada orang yang mendengar jeritan itu. Alea semakin lemas, dia tersungkur ke bawah kursi dan menghembuskan nafas terakhirnya dengan memanggil “ayah..”. Sejak saat itu para petani tak ada lagi yang melihat Alea, gadis cantik bak bidadari itu, yang mereka lihat hanyalah kursi kosong yang biasa Alea tempati melewati hari yang gelap dan sepi.
Cerpen Karangan: Prahasdita Maharani
Facebook: Prahasdita
Alea
4/
5
Oleh
Unknown
