Lampu Sorot

Baca Juga :
    Judul Cerpen Lampu Sorot

    Sejak kapan ini dimulai adalah pertanyaan yang menjadi rahasia antara kau dan senja. senja yang selalu ingin bicara padamu saat dia tak melihatmu. yang selalu menunggu kehadiranmu datang lagi.

    Naya, kau menyebutku senja. padahal kau tahu itu adalah kata di belakang namamu, kau seolah memberikan namamu itu padaku. namun, aku pun suka ketika kau menyebutku seperti itu. karena, itu membuat aku teringat bagaimana kita bertemu dan kau mengajakku melihat senja waktu itu naya. namun, kau marah saat aku menyebutnya “lampu sorot”. aku tertawa terbahak-bahak, ya.., kita saling tertawa melihat senja seolah sedang melihat pertunjukan drama komedi saja.

    Apa kabarmu sekarang naya?
    Masihkah kau suka mendengarkan lagu-lagu yang dulu aku berikan padamu? apa kau tahu naya, bahwa di dalamnya ada banyak rahasia yang waktu itu belum sempat aku ceritakan padamu, aku berharap kau dapat merangkainya untuk mengerti.
    Aku merekam semua moment itu naya. dan kini sedang kuputar kembali. saat kau bicara sesuatu kau tampak puitis sekali waktu itu naya, terutama saat aku bertanya tentang senja. waktu itu, kau bilang “senja itu istimewa, karena semuanya jadi berwarna, awan jadi berwarna bersamanya, perahu-perahu nelayan mulai berlayar semua tampak sangat indah, aku jatuh cinta pada lukisan itu”. saat itu juga aku terkagum-kagum padamu naya.

    Saat kau bicara tubuhku bergetar mendengar sajak-sajakmu yang indah naya. kau mengajarkan aku bagaimana caranya mensyukuri nikmat dalam hidup ini, bagaimana bisa kau bicara sehebat itu naya. fikirku dalam hati.

    Pusaran angin di atas pasir itu seolah menjadi saksi bisu pertemuan kau dan aku naya. ribuan detik kita habiskan bersama melihat pertunjukan lampu sorot itu.

    Sudah seminggu kau tak datang lagi kesana naya, itu membuatku benar-benar merindukanmu. kau menghilang tanpa kabar apapun seolah ditelan bumi. kau membuatku hampir gila naya. kemana harus kucari dirimu?

    Kau membuat aku sembuh dari penyakitku naya, penyakit yang membuat aku takut akan kehilangan segalanya, kanker tulang pada kakiku ini membuat gerakku sangat terbatas sebelum pertemuan kita naya. namun beberapa hari yang kita habiskan bersama membuat aku bertahan dari depresiku naya. itu semua berkat kau.

    Kepergianmu adalah tanda Tanya besar bagiku naya. apakah aku melakukan kesalahan yang tak kusadari sudah menyakitimu naya? hingga kau pergi tanpa berpamitan padaku. maaf tak memberi taumu soal penyakitku naya, aku tak bermaksud menyembunyikannya.

    Tak berhenti aku mencarimu naya. kucari semua tentangmu berharap dapat menemukanmu, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak padamu naya untuk semuanya. hingga suatu saat aku dapatkan alamatmu dari temanmu dulu. namun sayang saat aku datang ternyata kau sudah lama pindah dari tempat itu naya. tak sedikitpun aku menyerah untuk menemukanmu. bahkan jika aku harus kembali lumpuh.

    Namun tak sedikitpun jejakmu ku temukan. apa yang harus aku lakukan lagi naya?. andai saja tuhan bisa mengabulkan permintaanku kali ini naya, aku ingin berdoa biar kuserahkan saja satu kakiku ini jika aku bisa melihatmu dan tak kehilanganmu lagi naya. kesembuhan ini tak berarti tanpamu naya. baru kusadari kaulah alasanku bertahan naya bukan karena aku ingin kembali bisa berlari, itu semua karena kau naya.

    Dalam kesendirianku naya aku teringat semua sajak-sajakmu yang sangat indah itu. maka kuputuskan untuk menghadirkanmu kembali dalam tulisan-tulisanku naya. masih teringat jelas semua percakapan kita dalam memoriku naya. kau mengajarkan aku untuk mencintai sastra dan seni lewat tutur katamu naya. tak kusangka dalam diamku waktu itu aku menciptakan sebuah puisi untukmu naya. kuharap kau mendengar dan membacanya naya.

    “senja. akulah senja yang berusaha mengalahkan waktu untukmu, dan jika senja itu kamu. kamulah senja yang selalu aku tunggu sebagai awan yang berkelana dalam luasnya langit agar kau dapat memberiku warnamu”.
    naya ketika kau ingin melihat senja jangan berpikir ia tak merasakan hal yang sama. aku percaya sang waktu selalu menepati janji mempertemukanmu dengannya. saat kita saling menunggu.

    Seorang perempuan datang padaku kala aku termenung di depan teras rumahku waktu itu, aku fikir itu kamu naya. dia datang menghampiriku dan bertanya padaku, “apakah kau mengenal naya?” ujarnya. pertanyaannya itu sontak membuatku terkejut lantas bertanya balik padanya dengan kalimat yang sama.
    Dia berkata aku adalah sahabat naya, “ada yang ingin kubicarakan padamu”. “tentu saja” ujarku. ia melanjutkan ceritanya. “sebenarnya ini rahasia antara aku dan naya, aku tidak tega jika kamu tidak tau soal dia. aku tau kau mencari naya kesana-kemari berharap dapat menemukannya”. “bagaimana kau tau?”. “karena aku ada dia bersamamu begitupun naya”. “apa maksudmu?” ujarku.
    “Naya sakit. tepatnya kanker otak. hidupnya tinggal menunggu waktu. ia sengaja menyembunyikannya padamu. ia hanya bilang tentangmu padaku bahwa kau orang terakhir yang selalu ingin ia lihat. ia hilang tapi sebenarnya tidak benar-benar hilang. kau hanya tidak menyadarinya saja. ia memintaku untuk menemaninya agar dapat melihatmu. kami selalu memperhatikan setiap gerak gerikmu dari jauh saat kau mencari naya dan merindukannya. terakhir aku melihatnya di rumah sakit dalam keadaan koma. kemudian ia menghilang arya, aku merasa khawatir waktunya telah tiba arya dan aku kehilangan dia”. “jadi selama ini dia ada di dekatku” ujarku padanya. mata ini mulai berkaca-kaca mendengar semua yang ia ucapkan.

    Sekarang aku tau apa yang kau maksud waktu itu naya. saat aku bertanya mengapa kau selalu datang kemari?, kau menjawab “karena aku ingin menghabiskan waktuku melihatnya”. ternyata semua tentang ini, mengapa kau tak bicara padaku naya tentang penyakitmu. saat aku datang ke tempat itu sendirian tanpa dirimu. aku berharap kau ada di sana. dan aku tak menyadari bahwa kau ada disana naya. aku terlalu larut dalam kesedihanku yang tak bisa menemukanmu.

    “Naya berpesan padaku bahwa ia ingin bicara padamu maka ia berikan sepucuk surat yang ia letakkan di jendela kamarmu”. kudapati surat itu sudah berdebu di jendela kamarku. kubaca sajak-sajakmu itu yang mampu membuat tubuhku bergetar hebat naya. “saat surat ini sampai di tanganmu arya mungkin aku sudah jauh. Namun tak kubiarkan sedetikpun kenangan kita ikut sakit arya. kusimpan kau dan senja dalam darahku arya. agar waktu tak bisa merebutnya dariku. kau tau arya kenapa senja? bukan rembulan. karena awan lebih berwarna bersamanya, laut pun tak ingin pasang. percayalah seperti senja aku akan kembali arya”. air mata ini sudah tak terbendung lagi saat membaca suratmu hingga usai naya. aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya.

    Kuputuskan untuk menjalani hidupku tanpamu seperti biasa naya. aku ingin kau tetap hidup dalam kesembuhan dan doa-doaku meski kau tak ada di sampingku. Langit masih sama tampak biru, pasir masih sama tetap putih, senja pun tak berubah masih sama, begitu pula dirimu naya, masih tetap sama dalam hatiku.

    Sudah tiga tahun sejak kita tidak bertemu naya. aku sudah pulang ke rumah kembali. dan tampaknya kini aku sedikit gemukan dengan rambut gondrong dan kaca mata mungkin kau akan tertawa jika melihatku. sudah lama sekali aku tidak datang ke tempat itu naya. semuanya masih terlihat sama. aku percaya kau masih ada di atas bumi ini. aku yakin kau masih melihat senja.

    Suatu sore aku lewat tempat itu. dari kejauhan tampaknya aku melihat seorang wanita berjilbab menggunakan cadar. ia berdiri tepat di mana aku sering melihat senja. ia berpaling melihat aku yang sedang melihatnya. tatapannya begitu tajam melihatku dan ia lekas pergi.

    Keesokan harinya aku kembali datang karena langit tampak cerah untuk melihat senja. dari kejauhan aku kembali melihat perempuan itu ada disana. aku datang menghampirinya dan mengucapkan salam “assalamualaikum”. ia melihatku dan menjawab salamku “waalaikumsalam”. “maaf jika aku mengganggu, sungguh aku tidak bermaksud mengusikmu, aku hanya datang untuk melihat senja walaupun sebentar”. ujarku. ia menjawab “tak apa, aku juga sama, dan akan segera pergi”. tatapan matanya seolah tak asing bagiku. ia beranjak pergi sambil mengucapkan salam.

    Sampai esok hari aku mendapatkan kabar dari temanku yang bekerja di bandara bahwa ia melihat namamu naya di dalam daftar keberangkatan tujuan. ia meyakinkan aku bahwa hanya namamu naya senja yang membuat aku percaya..

    Sekarang aku tau kepada siapa aku harus berterima kasih naya. ya pada sang penciptalah akan kusampaikan, karena senja itu miliknya.

    The end.

    “Aku ingin tetap mengembara di lautan
    Menemukan senja yang terus berputar
    Sampai aku rapuh akan tetap berkelana
    Daratan itu adalah dermaga pelabuhanku
    Senjamu buatku terpanah
    Terombang ambing aku tak peduli
    Aku tak akan menyesal mengenalmu
    Seperti senja kau akan kembali
    Kan kutunggu di garis pandangku”

    Cerpen Karangan: Orbi Dian Tino
    Facebook: Orby Dt

    Artikel Terkait

    Lampu Sorot
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email