Mimpi Semata (Part 1)

Baca Juga :
    Judul Cerpen Mimpi Semata (Part 1)

    Mimpi?
    Terkadang mimpi hanyalah sebuah angan semata. Mimpi adalah buah tidur yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Itulah yang kualami di dalam kehidupanku. Sebuah mimpi untuk memilikinya yang tidak akan pernah bisa kugapai. Mungkin takdirku hanyalah sekedar mengaguminya bukan untuk memiliki.

    Arfan Darel itulah namanya. Lelaki berwajah tampan. Yang selama ini kudambakan. Dialah yang kuimpikan untuk dapat memilikinya. Tetapi semua itu hanyalah sebuah mimpi, semenjak ku mendengar kabar kalau dia sudah mempunyai wanita lain. Hal itu membuatku ragu untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya.

    Perih? Itulah yang kurasakan saat ini. Biarlah perasaan ini kupendam sendiri. Biarlah ku menggapainya hanya dalam sebuah mimpi. Mimpi yang akan membawaku ke dalam dunianya meskipun bukan kenyataan.

    Hari senin tepatnya pada tanggal 18/07/2015 adalah hari pertamaku menginjak kelas X1. Seperti biasa aku selalu menunggunya di depan gerbang sekolah hanya sekedar untuk memandangnya. Bukan untuk bertegur sapa.

    Tiba tiba ada seseorang yang memanggilku dari kejauhan. Seseorang tersebut adalah sahabatku semenjak smp dulu. Dia bernama MEYLA PUTRI WALANDOUW. Dia adalah sahabat yang paling. mengerti perasaanku sekarang. Dan Aku menolehnya. Lalu kulangkahkan kakiku menuju sahabatku yang begitu dekat denganku.

    “Vay…” Sapanya.
    “Hmmm…” Jawabku
    “Masih aja lo nungguin dia”.
    “Hmmm Ya begitulah mey, Gue gak akan pernah bosen buat nunggu dia bersama sama gue. Dan gue yakin suatu hari nanti dia bakal tau perasaan gue yang sebenarnya”. Jawabku dengan penuh keyakinan
    “Mau sampe kapan lo bakal kaya gini terus? Nungguin orang yang jelas jelas udah punya wanita lain”. Tanyanya yang begitu heran denganku.
    “Sampai gue bisa memilikinya”. Aku pun tersenyum kepada sahabatku.
    “Laki laki di dunia ini banyak vay. Bukan dia doang. Tapi kenapa lo nungguin dia?”
    “Karena gue cinta sama dia. Gue gak bakal pernah buka hati gue selain buat dia.”
    “Gue paham kok vay, kalo lo cinta mati banget kan sama dia. Gue cuma mau yang terbaik buat lo. Kalo itu pilihan lo ya udah deh gue nyerah ngingetin lo.”
    “Makasih ya lo udah care banget sama gue. Tapi gue cuma mau dukungan dari lo mudah mudahan aja gue bisa dapetin dia. Oh ya gue ke kelas duluan yaa, byeee.”
    “Byeeee”. Jawabnya. “Dan Gue bakal selalu doain lo kok vay.” Batinnya

    Kumulai langkahkan kakiku meninggalkan sahabatku. Aku berjalan melewati koridor sekolah. Tiba tiba bel sekolah berbunyi. Aku berbegas menuju kelasku yang berada di sebelah ruang BP. Dan tanpa sengaja aku menubruk seseorang. Dan seseorang tersebut adalah ARFAN. Orang yang selama ini kutunggu.

    “So..sorry gu..guee gak sengaja.” Kataku
    “Iyaa gak papa kok. Lain kali kalo jalan hati hati jangan terburu buru gitu”. Jawabnya dengan penuh senyuman yang begitu merekah. Senyuman yang selama ini kudambakan
    “Maa..aaf”. Hanya itulah kata kata yang kusampaikan. Aku tak pernah menyangka bisa berbicara dengan orang yang selama ini kuimpikan. “Ya ampun gue selama ini emang gak pernah salah buat nunggu lo. Sikap lo yang lembut itu yang bikin gue bertambah yakin kalo lo itu cowok idaman gue”. Batinku

    Karena saking groginya, aku bergegas meninggalkan laki laki idamanku tersebut dan menuju ke kelas yang tanpa kusadari sejak dari tadi bel sekolah sudah berbunyi.

    Bel berbunyi menandakan pelajaran sekolah hari ini telah usai. Seperti biasa aku menunggunya di depan gerbang sekolah hanya untuk melihatnya. Sekedar memandangnya pun sudah menjadi hal yang terindah dalam kehidupanku.

    Dari jarak kejauhan terlihatlah seorang laki laki bertubuh tinggi dengan seorang perempuan berambut panjang. Dan ternyata mereka adalah ARFAN dan YASMIN. Mereka berdua pun menghampiriku. Aku tak kuasa melihat pemandangan yang membuat hatiku terasa sakit. Jarak mereka semakin dekat denganku. Sebelum mereka menghampiriku, aku pun beranjak pergi dari tempat tersebut. Air mataku sudah tak kuasa kubendung lagi. Setetes demi setetes pun akhirnya jatuh membahasi pipiku. Aku pun bergegas untuk pulang.

    Di sepanjang jalan air mataku sudah bercucuran dengan derasnya. Rasanya aku ingin sekali cepat sampai ke rumah. Karena aku sudah tak kuasa lagi. Dan setibanya di rumah, aku pun berlari menuju ke kamarku. Belum sempat masuk ke kamar kakakku pun memanggilku. Kakak bertanya tentang keadaanku, karena mungkin dia melihatku sedang menangis.

    “Dee… Kamu kenapa? Kenapa kamu nangis?” Tanya kakakku yang sejak dari tadi melihat air mataku yang bercucuran
    “Enggak papa kok kaa.. Ini cuma kelilipan biasa doang kok.” Jawabku
    “Kamu bohong! Apa ini semua gara gara dia… Apa yang dia lakuin ke kamu…” Tanyanya dengan cemas
    “Bener kok aku enggak bohong.. Dikata cuma kelilipan doang”. Jawabku yang berusaha menutupi semuanya.
    “Hmm.. Kalo kamu ada masalah cerita aja sama kakak. Jangan pernah ada niatan sedikit pun buat pendam semua apa yang kamu rasain. Kakak siap kok menjadi teman curhat kamu. Kakak gak mau ada yang nyakitin kamu, apalagi seorang laki laki. Karena kakak gak mau kamu sedih terus kaya gini.” Jawabnya yang berusaha menasihatiku.

    Yaa. Tak jarang pun aku menangis. Setiap kali aku melihatnya dengan wanita lain. Hatiku pun terasa sakit bagaikan tertusuk seribu duri. Tapi aku berusaha tegar menghadapi semuanya. Berusaha menutupi rasa sakit di hatiku. Apalagi di depan kakakku.

    Hari pun sudah mulai gelap pertanda kalau malam mulai datang. Sepintas terlewati di pikiranku tentang kejadian di sekolah tadi. Aku bingung ingin menceritakan hal ini kepada siapa. Karena tidak mungkin aku menceritakannya kepada sahabatku apalagi kepada kakakku. Aku pun berjalan menuju meja belajarku. Aku mengambil kotak diaryku yang berisi curahan curahan hatiku. Aku pun mulai menceritakannya kepada buku kesayanganku yang setiap saat bersedia mendengarkan curahan hatiku.

    DEAR DIARY
    Di, kenapa dia begitu tega denganku? Aku yang selama ini menunggunya malah dibiarkan begitu saja. Sedangkan dia? Dia? Hikss
    Aku mencintainya lebih dari dia mencintai arfan
    Aku tulus menyayanginya
    Aku rela menghabiskan waktuku hanya untuk menunggunya.
    Tetapi dia tak pernah sedikitpun tau tentang perasaanku

    Di, aku berharap suatu hari nanti ada keajaiban yang mungkin bisa membuatnya jatuh cinta kepadaku walaupun aku tau itu hanyalah angan anganku

    VAYLENA

    Air mataku pun jatuh kembali. Kututup kotak diary tersebut. Kuletakkan kembali kotak tersebut ke tempat semula. Aku ingin sekali melihat senyumnya untukku, bukan untuk orang lain.
    Tak terasa hari sudah larut malam. Mataku sudah terlalu berat untuk melihat. Aku pun tertidur dengan pulasnya.

    Pagi yang cerah, sinar matahari mulai masuk melalui ventilasi ventilasi udara di kamarku. Pagi ini begitu cerah sekali namun tak secerah hatiku di pagi ini. Aku ingin sekali tidak masuk sekolah. Karena aku tidak kuat melihat orang yang kusayangi bersama orang lain. Tapi aku juga tidak mau tertinggal pelajaran sekolah. Aku pun berpikir sejenak dan kuputuskan untuk berangkat ke sekolah.

    Aku bersegera untuk mandi. Karena aku ingin datang lebih awal. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 06.45. Tinggal 15 menit lagi bel sekolah berbunyi. Namun aku masih belum juga berangkat ke sekolah.

    “Duhh bagaimana ini? Sudah jam 06.45? Aku harus segera berangkat kesekolah! Kalau tidak aku pasti terlambat!”. Batinku

    Aku pun bersegera berangkat ke sekolah. Karena aku takut kalau terlambat masuk kekelas. Sesampainya di sekolah aku pun melirik jam di tanganku. Huftt… Untungnya baru jam 06.55 dan lima menit lagi akan masuk sekolah.
    Kulihat di sekelilingku. Tetapi aku pun belum menemukan seseorang yang kucari.

    Dan ternyata terlihatlah sebuah Motor Ninja berwarna merah. Dan di motor itu ada seseorang yang kusayangi. Tetapi kenapa? Kenapa harus ada perempuan yang kubenci karena dia sudah merebutnya dariku. Aku pun mendecak kesal.

    “Kenapa harus dia lagi dia lagi, kenapa bukan aku. Kenapa bukan aku yang berada di sampingmu.” Lamunku.

    Tanpa kusadari ternyata bel masuk pun sudah berbunyi.
    Aku pun berlari menuju kelasku dengan tergesa gesa. Sesampainya di depan kelas aku pun langsung masuk ke kelas berbarengan dengan guruku.

    “Vay ayo cepat masuk pelajaran sekolah akan segera dimulai.” Kata guruku tersebut.
    “Baik pak”. Jawabku

    Di dalam kelas
    “Oke anak anak pelajaran hari ini adalah biologi. Bapak akan beri kalian tugas tentang mikrobiologi. Dan bapak akan bikin per kelompok. Masing masing kelompok terdiri dari 4 orang. Kalian Paham?”. Kata pak guru yang berusaha menjelaskan dengan panjang lebar.
    “Paham pak”. Jawab para murid dengan serentak.

    “Bapak akan sebutkan satu persatu nama dari masing masing kelompok.
    Kelompok 1: Indah, Fiara, Indra, Dan Devryan
    Kelompok 2: Vaylena, Ezya, Azzam, Dan Ashica
    Kelompok 3: Falissa, Evelyn, Adam, Dan Azaleya.” Kata pak guru

    “Omg…. Gue sekelompok sama azzam? Gue gak mimpi kan? Tapi kenapa juga sih harus ada cewek tengil itu. Gue kan maunya sama azzam doang.” Lamunku. Aku pun berdecak kesal terlalu keras. Dan itu membuat guruku heran denganku.
    “Vay kamu kenapa?”. Guruku
    “Aa..nuu gak papa paak hehe”. Jawabku dengan penuh kegugupan.
    “Oke. Baiklah sekarang kalian boleh gabung dengan kelompok kalian.” Guruku
    “Baik paaak”. Jawab murid murid

    Aku pun langsung bergabung dengan mereka. Aku duduk di samping azzam. Tetapi akupun gugup berada di sampingnya. Tiba tiba ezya menghampiri azzam dengan wajah tengilnya itu. Dan itu membuatku menjadi ilfeel dengannya.

    “Sayang kayanya kita jodoh deh.” Kata ezya
    “Kok kamu bisa ngomong gitu sih.” Kata azzam
    “Habisnya sih apa apa kita selalu berdua, kemana mana berdua, sampe sampe kita berdua satu kelompok.” Kata ezya yang membuatku bertambah ilfeel
    “Hehe iya yaaa, aku jadi makin sayang deh sama kamu.” Kata azzam yang berusaha menggombal

    JEDERRRRR
    Perkataan azzam tadi langsung membuat hatiku terasa sakit bagaikan tersambar petir. Dia benar benar tidak memandang kalau aku sedang berada di sampingnya. Dia benar benar tega mengucapkan perkataan tadi. Dia tidak menghargai perasaanku. Air mataku pun langsung jatuh ke tanah. Dan azzam pun bingung denganku.

    “Vay? Kenapa? lo nangis yaa?”. Tanyanya
    “Haah? Eee.. Nggak papa zam. Ini loh gue nangis karena gue keingetan drama korea yang gue tonton.” Jawabku
    “Ohh… Gue kira kenapa.” Jawab azzam
    “Woyy kalian tega yaaa cuekin gue kaya gini hikss hikss.” Kata ashica yang berusaha memecahkan suasana.
    “Ohh iya gue lupa kalo disini ada lo caa sorry sorry.” Kata azzam
    “Sorry sorry, gue bilangin enya babeh gue baru tahu rasa lo.” Kata ashica kesal.
    “Weitss galak bener buu.” Kata azzam
    “Iyalah, makanya jangan coba coba cuekin icaaa.” Kata ashica
    “Iya dah iyaa buu cai wks.” Kata azzam

    Cerpen Karangan: Winda Kane
    Facebook: Vaylena Putri

    Artikel Terkait

    Mimpi Semata (Part 1)
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email