Mimpi Yang Terkubur

Baca Juga :
    Judul Cerpen Mimpi Yang Terkubur

    Senja itu membuatku terpesona, diiringi alunan lagu yang selalu menjadi favorit telinga, langit pun mulai gelap, kukayuh sepedaku menuju sang surya yang mulai redup, begitu juga harapan yang tak kunjung terwujud.

    Namaku jihan, aku adalah seorang anak yang terlahir dari sebuah keluarga kecil yang bertempat tinggal jauh dari kota, aku adalah anak sulung dari 5 bersaudara, dan akulah anak dari seorang ayah nelayan yang tak mampu membayar biaya sekolah bahkan untuk makan sehari susah.

    Ayah dan ibuku selalu menerapkan moral agama yang cukup kokoh kepada anak-anaknya, sejak kecil aku dan adik-adikku diajari untuk selalu bersyukur dengan nikmat yang Tuhan berikan seberapapun nilainya, tapi sayangnya orangtuaku tak pernah mengizinkan aku melanjutkan sekolah karena alasan biaya.

    “Bu, Pak. Jihan apa boleh melanjutkan SMA?”
    “Jangan, Nak. kami tak ada biaya untuk membayar kebutuhanmu sekolah nanti, kamu tau kan untuk makan sehari-hari kita masih banting tulang”

    Sungguh hatiku terisak setiap mendengar kalimat itu, dan senjalah sebagai teman curahan hati seorang anak kecil yang ingin meraih mimpi, entah mimpi itu ikut mati dan tenggelam pada diri ini aku tak tahu.

    Tiap hari anganku bersekolah semakin besar, kuputuskan meminta izin ke orangtuaku untuk bekerja di kota aku ingin mengumpulkan biaya untuk sekolah. Dengan berat hati orangtuaku mengizinkanku untuk bekerja di kota.

    “Bu, Pak. Jihan mau kerja di kota, Jihan ingin mengumpulkan biaya untuk meraih mimpi Jihan”
    “Nak, sebenarnya kami tak setuju kamu kerja di kota, tapi jika itu terbaik buat kamu kami ikhlas jaga baik-baik dirimu disana ya, Nak”

    Keesokan harinya aku berangkat ke kota, dan disinilah cerita itu dimulai. Ternyata mencari pekerjaan di kota tidaklah mudah yang aku kira dengan hanya berbekal ijazah SMP aku selalu ditolak dimanapun, hingga sebuah keajaiban itu datang padaku. Tak sengaja aku ke warnet dan membuka halaman website yang mengadakan lomba menulis cerpen, aku mencoba menulis karangan yang ada di pikiranku, Yah! Aku menang lomba, sejak itulah aku mulai gemar menulis di kosan aku share di sebuah blog pribadi, dan keajaiban itu muncul lagi blog aku dibaca oleh seorang penulis ternama yang telah menerbitkan banyak buku. Dia menawarkan aku untuk membuat novel dengan senang hati aku menerima tawaran itu.

    Di kota pekerjaanku hanya menulis karangan, aku tak tahu harus bekerja apa sedang yang dibutuhin hanyalah ijazah SMA, yah! Di kosan aku hanya menulis cerpen karanganku, selama kurang lebih 5 bulan akhirnya aku dapat menyelesaikan novel yang aku beri judul “Mimpiku Yang Terkubur”, setelah diterima novelku kian banyak peminat dan namaku mulai terkenal.

    Setelah cukup ada biaya, aku pulang balik ke rumah, sungguh aku tak kuasa melihat air mata ayah ibuku yang bangga dengan anaknya yang tak sekolah tapi punya bakat yang membanggakan, aku mengajari adik-adikku untuk selalu usaha dan mengejar cita-cita, dan yah aku tak melanjutkan sekolah, uang yang aku peroleh aku kasih ke adik-adikku.

    Hingga suatu hari aku merasakan sakit di dadaku, entah dadaku terasa sesak. keluargaku dibuat kebingungan, aku dibawa ke rumah sakit dan Yah nyawaku tak tertolong. “Jihan seorang penulis muda meninggal saat namanya mulai harum beserta mimpi dia yang terkubur”, dan senja itulah yang mengiringi pemakamanku. Selamat jalan, semoga kalian tak merasakan sakitnya mimpi yang tak pernah kesampaian.

    Cerpen Karangan: Nabila Zumbang
    Facebook: Nabila Zumbang

    Artikel Terkait

    Mimpi Yang Terkubur
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email