Judul Cerpen Jangan Gampangan
Aku tak mengerti apa yang aku rasakan. Tapi aku dibuat bingung dengan temanku yang pada intinya agak terlalu mudah bagi ukuran seorang wanita. Selama ini kita sebagai kaum hawa mencoba menyetarakan gender dan strata. Masih tabu memang jika kita mencoba mengunggulkan diri dari kaum adam, tapi setidaknya jangan merendahkan diri di depan mereka. Aku tak mengerti bagaimana ini bisa terjadi tapi aku mencoba mencerna setiap cerita yang ia utarakan padaku waktu itu.
“Maje, aku boleh curhat?”
“Oh.. kamu? boleh aja, curhat apa?”
“Gini maje, aku ini bingung mau gimana.. aku ini suka sama A tapi aku juga suka sama B, aku harus pilih yang mana?”
“Aku tak berpengalaman tentang itu, tapi menurutku mana yang paling baik, nah pilih yang itu”
“Semua baik sama aku maje, aku juga suka sama keduanya”
“Loh.. kok bisa? pilih satu saja”
“Aku gak bisa, jadi aku harus gimana?”
“Aku gak tahu juga, kamu lebih suka yang mana emang?”
“Aku suka sama si A (sensor)…”
“Oh.. itu toh yang anaknya jurusan *********?”
“Iya maje, maje kenal?”
“Temen baikku itu”
“Oh..”
Setelah pembicaraan kami selesai, aku pulang dan membaringkan tubuh di atas ranjang. tak terasa hari menjelang sore dan aku bangun menjalankan tugasku di rumah. Keesokan harinya aku berangkat sekolah dan tak sengaja aku menemui gadis yang kemarin curhat padaku.
“Maje, nanti pulang sekolah jangan pulang dulu ya!”
“Kenapa?”
“Aku mau curhat lagi”
“Oh… ok”
Tak terasa bel pulang sekolah berbunyi dan dia menungguku di depan kelas.
“Maje aku mau curhat, kayaknya aku pilih si B saja”
“Oh… ok terserah kamu”
“Menurutmu anaknya gimana?”
“Aku juga gak tau”
“Tapi menurutku anaknya blablabla…”
“Oh.. ok”
Jujur aku lelah mendengarnya curhat, ingin rasanya segera pulang dan berhenti mendengar dia yang menurutku agak kurang penting.
Hari hari aku jalani dengan pulang terlambat dan stress berlebih karena curahan hatinya yang tak kunjung usai.
Tak lama berselang dia cerita tentang hal baru yang membuatku sedikit muak dan dongkol mendengarnya.
Pada suatu siang yang panas dan melelahkan dia datang padaku dan bercerita
“Maje… aku mau curhat, jangan pulang dulu!”
“Aduh.. kamu mau curhat apa lagi hah?”
“Gini maje, aku ya tadi malem di PING sama cowok!”
“Oh.. gitu ya?”
“Iya maje, dia anak jurusan **********”
“Oh.. gitu ya? terus?”
“Aku ya suka sama dia maje, anaknya kayake baik dan perhatian blablablablabla…”
“Oh.. ok, aku capek sekarang aku mau pulang ya?”
“Oh.. ok maje, makasih ya.. besok aku curhat lagi”
“Oh.. ok”
Setelah sampai di rumah aku membaringkan diri sejenak dan memikirkan semua yang dia katakan padaku.
Jujur aku sempat menganalisa semua yang ia katakan dan aku dengan sengaja dan berani mengambil kesimpulan dan menilai tentang dirinya.
Menurutku dia orang yang kurang pendirian
Dia orang yang kurang setia
Dia orang yang memiliki prinsip jika A gak bisa masih ada B dan jika B gak bisa masih ada C begitu seterusnya. So guys.. kita ini masih belia memang boleh dan wajar jika ingin mengenal cinta tapi tolong tak seperti itu caranya. Monggo direnungkan
Cerpen Karangan: Jenny Ria Hartiwi
Facebook: Jenny Ria Hartiwi
Aku tak mengerti apa yang aku rasakan. Tapi aku dibuat bingung dengan temanku yang pada intinya agak terlalu mudah bagi ukuran seorang wanita. Selama ini kita sebagai kaum hawa mencoba menyetarakan gender dan strata. Masih tabu memang jika kita mencoba mengunggulkan diri dari kaum adam, tapi setidaknya jangan merendahkan diri di depan mereka. Aku tak mengerti bagaimana ini bisa terjadi tapi aku mencoba mencerna setiap cerita yang ia utarakan padaku waktu itu.
“Maje, aku boleh curhat?”
“Oh.. kamu? boleh aja, curhat apa?”
“Gini maje, aku ini bingung mau gimana.. aku ini suka sama A tapi aku juga suka sama B, aku harus pilih yang mana?”
“Aku tak berpengalaman tentang itu, tapi menurutku mana yang paling baik, nah pilih yang itu”
“Semua baik sama aku maje, aku juga suka sama keduanya”
“Loh.. kok bisa? pilih satu saja”
“Aku gak bisa, jadi aku harus gimana?”
“Aku gak tahu juga, kamu lebih suka yang mana emang?”
“Aku suka sama si A (sensor)…”
“Oh.. itu toh yang anaknya jurusan *********?”
“Iya maje, maje kenal?”
“Temen baikku itu”
“Oh..”
Setelah pembicaraan kami selesai, aku pulang dan membaringkan tubuh di atas ranjang. tak terasa hari menjelang sore dan aku bangun menjalankan tugasku di rumah. Keesokan harinya aku berangkat sekolah dan tak sengaja aku menemui gadis yang kemarin curhat padaku.
“Maje, nanti pulang sekolah jangan pulang dulu ya!”
“Kenapa?”
“Aku mau curhat lagi”
“Oh… ok”
Tak terasa bel pulang sekolah berbunyi dan dia menungguku di depan kelas.
“Maje aku mau curhat, kayaknya aku pilih si B saja”
“Oh… ok terserah kamu”
“Menurutmu anaknya gimana?”
“Aku juga gak tau”
“Tapi menurutku anaknya blablabla…”
“Oh.. ok”
Jujur aku lelah mendengarnya curhat, ingin rasanya segera pulang dan berhenti mendengar dia yang menurutku agak kurang penting.
Hari hari aku jalani dengan pulang terlambat dan stress berlebih karena curahan hatinya yang tak kunjung usai.
Tak lama berselang dia cerita tentang hal baru yang membuatku sedikit muak dan dongkol mendengarnya.
Pada suatu siang yang panas dan melelahkan dia datang padaku dan bercerita
“Maje… aku mau curhat, jangan pulang dulu!”
“Aduh.. kamu mau curhat apa lagi hah?”
“Gini maje, aku ya tadi malem di PING sama cowok!”
“Oh.. gitu ya?”
“Iya maje, dia anak jurusan **********”
“Oh.. gitu ya? terus?”
“Aku ya suka sama dia maje, anaknya kayake baik dan perhatian blablablablabla…”
“Oh.. ok, aku capek sekarang aku mau pulang ya?”
“Oh.. ok maje, makasih ya.. besok aku curhat lagi”
“Oh.. ok”
Setelah sampai di rumah aku membaringkan diri sejenak dan memikirkan semua yang dia katakan padaku.
Jujur aku sempat menganalisa semua yang ia katakan dan aku dengan sengaja dan berani mengambil kesimpulan dan menilai tentang dirinya.
Menurutku dia orang yang kurang pendirian
Dia orang yang kurang setia
Dia orang yang memiliki prinsip jika A gak bisa masih ada B dan jika B gak bisa masih ada C begitu seterusnya. So guys.. kita ini masih belia memang boleh dan wajar jika ingin mengenal cinta tapi tolong tak seperti itu caranya. Monggo direnungkan
Cerpen Karangan: Jenny Ria Hartiwi
Facebook: Jenny Ria Hartiwi
Jangan Gampangan
4/
5
Oleh
Unknown
