Jendela Kesayangan

Baca Juga :
    Judul Cerpen Jendela Kesayangan

    Cuaca malam ini begitu tak mendukung. Bukan lagi gerimis, derasnya hujan disertai suara dari cahaya-cahaya yang menghiasi langit malam begitu menggelegar, membuat tubuh semakin gemetar. Sayup-sayup terdengar suara hentakan kaki mementalkan air-air cantik itu ke atas dan kembali ke bawah. Berulang kali, dan berulang kali hingga kaki itu berhenti bekerja tepat di depan sebuah jendela samping rumah yang tak begitu besar dengan berbalut cat putih. Ia menghela nafas sejenak, melihat suasana malam yang masih diselimuti hujan dengan suara petir yang juga masih menggelegar. Tampaknya, hari sudah begitu larut malam. Tapi entahlah, mengapa si gadis itu masih keluyuran.

    Kedua tangannya mulai membuka jendela itu yang ternyata tak terkunci. Ia menyelinap masuk, seperti maling saja. Ditutupnya kembali rapat-rapat jendela itu. Membuka lemari, mengambil handuk putih untuk mengeringkan tubuhnya yang basah diguyur air hujan. Belum selesai, suara langkah kaki itu mengagetkannya. Tampaknya, suara tersebut menuju kamar si gadis itu yang diketahui memiliki nama Farin Rismarini. Sontak ia terkejut, langsung melemparkan kembali handuk putih itu ke dalam lemari, lalu menutupnya. Tak peduli tubuhnya yang masih basah, ia langsung loncat ke atas kasur empuk berbalut seprai putih bersih dengan warna selimut yang senada. Menarik selimut tebal dengan cepat, memejamkan mata dalam sekejap.

    Greeekkk.. Pintu kamar mulai terbuka. Rupanya, ibu Farin. Senyum khas terpancarkan dari wajah ibu Farin melihat anaknya yang padahal hanya pura-pura tertidur.

    “Syukurlah, Farin tidak keluyuran malam ini.” ujar ibu Farin yang kemudian menutup pintu itu lalu pergi. Mendengar pintu kembali tertutup, Farin membuka matanya, menghela nafas lega.

    Malam yang berbeda. Lagi dan lagi Farin mengendap-endap dari depan rumah sampai ke jendela kesayangannya. Entahlah, sejak kapan jendela itu menjadi jendela favoritnya untuk masuk ke dalam rumah. Yang jelas, ini bukanlah kali kedua ia melakukan hal yang sama. Mata mengawasi sekitar. Tampaknya sepi. Maklumlah, waktu telah menunjukkan pukul 01.00 malam. Ia menyelinap masuk ke dalam rumah melalui jendela kesayangannya. Suasana begitu gelap. Rasanya, Farin tak mematikan lampu sebelum ia pergi. Ada yang aneh, fikirnya.

    Byaarrr!!! Farin terkejut. Tiba-tiba lampu menyala. Suasana berubah menjadi tegang seketika. Tak sedikitpun senyum tampak dari wajah ibu Farin yang saat ini tengah berdiri di samping sakelar kamar Farin yang berwarna putih. Perlahan, ibu Farin melangkah menuju anaknya. Farin hanya bisa terdiam, terbujur kaku dengan memasang wajah ketakutan. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ibu Farin menjewer telinga kiri Farin. Farin tampak begitu kesakitan.

    “Aduh ibu, sakit..!!”.
    “Ini akibatnya kalau kamu enggak mau nurut apa kata ibu. Ibu kan sudah bilang, jangan keluyuran malam-malam! Kamu anak perempuan. Mulai besok, ibu enggak akan kasih kamu uang sedikitpun.”.
    “Apa bu??!!!” Farin terkejut mendengar pernyataan ibunya.

    Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
    Facebook: Puspita Elfa

    Artikel Terkait

    Jendela Kesayangan
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email