Showing posts with label Cerpen Cinta Islami. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Cinta Islami. Show all posts
Aku dan Skenario Nya

Aku dan Skenario Nya

Judul Cerpen Aku dan Skenario Nya

Ratusan bintang masih terlihat kelap-kelipnya pada malam itu, angin malam pun bertiup semakin kencang membuat wajahku tersapu olehnya, langit seolah mengisyaratkan bahwa hari semakin malam. Merenung serta mencoba untuk menyudahi segala kerinduan, kekaguman dan kecintaanku padanya. Semuanya berawal dari dia. Dan secara tidak langsung dia pula yang memaksaku tuk menghakhiri perasaanku selama ini. Kegelisahan yang saat itu mendominasi perasaanku, sedih, tak tenang, bahkan malu pun menyatu pada diri ini. Ingin rasanya aku marah, tapi bingung pada siapa, karena ini memang seluruhnya kesalahanku. Aku yang terlalu berharap dan.. ah sudahlah! Ini juga memang pilihanku sendiri.

Air mataku semakin deras, saat aku mengingat-ingat kejadian di siang hari itu, pun kejadian sebelum-sebelumnya. “De, gimana dong? Kata mas Ridwan, hari ini dia mau dateng ke sini, ke abi!” ucapku saat Zana berada di kamarku. “Ya udah. Terus ada apa gitu mbak?” jawab Zana polos. Zana adalah adikku, nama lengkapnya Zanaira Annisa, namanya tak beda jauh dengan namaku, Zenaira Asysyifa. “Ya, mau apalagi kalau bukan… ihh mbak jadi flashback. Waktu mbak mutusin dia, dulu, dia gak terima. Uhh, malah dia sampe janji nantinya bakal datengin abi. Dulu, sebelum dia ikut berubah kaya gini, mbak gak suka banget sama kelakuannya sih. Ya sekarang dia udah berubah drastis mbak jadi kagum banget sama dia, tapi sekarang, dia dateng di waktu yang gak tepat de..! Mbak buat target nikah itu satu tahun lagi loh, jadi tahun ini mumpung masih single, mau dipuas-puasin dulu..” ucapku panjang lebar, layaknya orang yang sedang curhat saja.

Suasana ruang tamu yang berada di dalam rumahku, agak menegangkan, tapi tetap santai di sore itu. Abiku, mas Ridwan serta Nizar, ada di dalamnya. Sedangkan umi, menyiapkan makanan di dapur. Aku dan adeku pun tak lupa untuk mambantunya. Setelah selesai membatu umi, aku sedikit menguping pembicaraan mereka dikarenakan aku ingin memastikannya. Dari balik tembok ruang keluarga, aku mendengarkan dengan serius dan was-was, takut akan ketahuan oleh umiku. Tidak sopan memang, juga sangat konyolnya aku melakukan itu. Tapi aku tak peduli.

“Jadi maksud kedatangan mas ke sini apa?” Tanya abiku pada tamu yang sudah tak asing lagi bagiku. “Gini om, saya mau melamar putri om..” jawab pria yang berkacamata dan bertubuh tinggi itu dengan tenangnya. Abiku sedikit tertawa, lebih tepatnya berdehem atau batuk dengan sengaja, sedangkan mas Ridwan masih tak terdengar suaranya dari balik tembok tempatku berdiri. “Emm, putri yang mana nih? Kebetulan om punya dua putri, putri yang pertama umurnya mungkin beda dikit sama mas ya, dulunya sekelas kan?! Nah, kalau putri yang kedua, bedanya dua tahun di bawah putri yang pertama.”
Duh, bener juga ya, aku kan punya adik perempuan.. kenapa aku lupa gini? Batinku. Ada kemungkinan juga dia bukan ngelamar aku. Ahh tiba-tiba saja tubuhku menjadi tegang, lemas. Pikiranku sudah mulai tidak karuan, jantungku berdegup begitu kencang, ada insting yang tak enak. Baru saja aku akan melangkahkan kakiku untuk beranjak menuju kamarku, tapi terlanjur suara lembutnya Nizar terdengar olehku ia mulai menjawab apa yang tadi abiku tanyakan padanya, “Yang bungsu om, Zana.” Jawabnya dengan kemantapan. Deg!

Langit sore cerah namun mulai memudar itu, seolah ambruk bagai atap rusak yang menimpa tubuhku. Ohh Allah, apa aku gak salah denger? Ahh mungkin Nizar salah. Syifaa! tenang Syif! Ingin rasanya aku menjerit di tempat itu pula, tapi apa daya, rasa malu menahanku untuk tidak melakukannya dan setelah itu pun aku melanjutkan langkahku menuju kamar dan sejak itu aku tak tau lagi apa yang mereka bicarakan.

Aku memang tak suka melihat orang yang menangis hanya karena hal cinta, kuanggap itu sangat berlebihan. Tapi saat itu, malah aku sendiri yang meneteskan air mata karenanya, dan ini untuk pertama kalinya buatku, karena dari dulu pun aku memang dicap cuek untuk soal asmara oleh teman-temanku. Nizar, dia mantan pacarku tapi dia juga adalah korban atas kecuekanku. “Aku memang bodoh!” Ejekku pada diriku sendiri. Segera aku hapus air mata yang terlanjur mengalir di pipiku, dengan kedua tanganku. Kututup dengan pelan jendela yang ada di kamarku, rasanya untuk apa aku membuat pusing serta menangisi suatu hal yang sudah terjadi? Menangisinya adalah hal yang sangat sia-sia dan juga membuat banyak waktuku yang terbuang olehnya.

Di satu sisi, memang hatiku retak, tapi di sisi lain juga aku merasa sangat malu, pasalnya sebelum Nizar datang ke rumah pun aku sudah ge-er duluan. Aku sangat percaya diri dengan pikiranku, ya pede bahwa Nizar datang ke abiku untuk melamarku, bukan adikku. Aku terlalu berharap dengan ucapannya pada masa lalu saat ia mungkin masih mencintaiku.

Saat itu adalah waktuku untuk meyakinkan pada diriku sendiri atas pilihanku, aku tak bisa menyalahkan semua yang sudah terjadi ataupun yang sudah ditetapkan oleh Allah. Di balik semua itu aku tau, Allah pasti memiliki skenario hidup yang terbaik untukku, dan mungkin itu adalah salah satu hal yang memang baik untukku.

Sudah hampir satu tahun, dari kejadian yang dulu kuanggap miris itu. Waktu terus berjalan dan aku tetap hidup, walau dengan awal yang tak begitu ridho pada adikku karena dia menikah mendahuluiku dan awalnya pun diriku dipenuhi oleh rasa menyesal dengan sebuah target yang sudah ku buat. Tapi, ya inilah warna-warni hidupku, tak mungkin semuanya berjalan dengan mulus, sama halnya saat aku mulai giat untuk menyampaikan risalah-Nya, bisikan setan mencoba menghalangi agar aku berhenti dari harokah dakwah. Aku sadar bukan orang yang mudah menyerah, apalagi hanya dengan hal yang sepele-sepele. Ya kenyataanya kini aku bahagia, dan bersyukur dengan pilihanku satu tahun yang lalu itu, menikmati waktu dan mempersiapkan diri sebelum mengarungi kehidupan baru alias berkeluarga.

Aku pun senang untuk menanti kehadiran keponakanku, karena sebentar lagi keponakanku itu akan lahir ke dunia, tinggal menunggu beberapa jam lagi sepertinya. Tenang, aku sudah ikhlas, dan sudah melupakannya, ya melupakan harapanku padanya. Aku nikmati kehidupan dengan ringannya, jarang aku menganggap berbagai masalah sebagai beban, karena jika kita menjalani hidup dengan kelapangdadaan, pasti hidup pun akan terasa begitu indah walaupun dengan berbagai masalah sebagai hiasannya. Apalagi jika segala hal yang kita lakukan hanya bertujuan untuk mendapatkan ridho Allah semata. Kita hanya perlu bersyukur dan menerima atas apa yang sudah Allah tetapkan, karena Allah memiliki rencana yang lebih baik dari pada keinginan dan rencana kita.

Saking tidak sabarnya menanti kehadiran sang keponakan, aku bela-belain seharian gak pulang ke rumah, hanya untuk ketika nanti ia lahiran aku bisa menyaksikannya langsung dengan mata kepala sendiri. 22 jam berlalu, aku masih cemas, bahagia gimana ya, sulit untuk diungkapkan. Memang bukan aku yang lahiran, tapi aku heboh sendiri. Akhirnya adikku pun sudah berada di ruang bersalin, karena katanya ia sudah memasuki pembukaan ke delapan. Aku yang sudah menemaninya dari awal ia masuk rumah sakit, masa aja gak ikut masuk ke tempat bersalinnya, pastinya sampai bayi itu lahir pun aku harus ada untuk mendampinginya, ya selain umiku dan Nizar.

Gagal semua harapanku hari itu, untuk melihat perjuangan seorang ibu mengeluarkan anak dari dalam perutnya. Kacau hatiku saat dimana hanya Nizar saja yang boleh mendapingi adikku di dalam ruangan sana. Ya sudahlah, aku terima saja, jika itu memang peraturan di rumah sakit ini. It’s oke. Setelah sekitar 30 menit kemudian, aku yang mondar-mandir di depan ruangan bersalin, seketika saja berhenti melangkahkan kakiku lagi, ketika pintu ruangan itu terbuka dan keluarlah sosok yang sudah tak asing lagi bagiku pun umiku, ya dia Nizar dengan baju hijau yang dikenakannya, pun dengan kacamata yang ada di genggamannya. Tangis haru yang terlihat dari wajah bersihnya, mungkin karena begitu bahagianya dirinya, hingga meneteskan air mata saat ia keluar dari ruangan tersebut. Aku dan umi tersenyum bahagia, sambil melangkahkan kaki menuju pria berbaju hijau itu. Aku yang sejak itu sudah tidak sabar untuk melihat bayi miliknya, dan sebelum memasuki rungan tersebut, langsung saja aku bertanya pada pria yang sudah ada di depanku juga umiku, ya agar rasa penasaranku sedikitnya berkurang. “Gimana Zar? Bayinya nisa atau rijal?” tanyaku dengan mimik wajah kegirangan. Ia pun sedikit tersenyum dan menjawab dengan singkatnya “Rijal, mbak.”

Sebelumnya sudah kubayangkan kebahagiaan tak terkira yang akan dirasakan oleh kami sekeluarga di hari lahirnya si mungil calon pembela Islam itu. Khususnya bagi Zana juga Nizar yang saat itu statusnya sudah menjadi orangtua. Tapi apa yang kubayangkan sebelumnya itu salah. Jika saat itu semua berbahagia, rasanya wajar saja. Namun kenyataannya yang terdengar hanyalah isak tangis dari orang-orang yang berada di dalam ruangan, ya keluargaku maupun dari sebagian keluarga Nizar juga ada di sana.

Ternyata mimik wajah sang ayah dari bayi itu, saat keluar dari ruangan tersebut, bukan tangisan akan haru bahagianya, tapi mungkin ia menahan pedihnya, dan sakitnya kehilangan sesosok istri yang sangat ia cinta dan sayangi. Kebahagiaan atas hadirnya bayi mungil itu, berbalut kesedihan atas kepergian sang ibu dari anak yang baru lahir itu, ya, adikku telah tiada. Rasa ketidak percayaan dan ketidakterimaannya diriku saat mengetahui adikku telah berpulang kepada zat yang telah menciptakannya. Air mata yang keluar dari beberapa pasang mata dan suara tangisan yang membuat ruang itu begitu menyedihkan. Umi dan abi yang berusaha menghentikan tangisnya dan menerima ketetapan Allah. Tangan kiri mas Ridwan pun menggandeng istrinya dan tangan kanannya mengelus-ngelus punggungku, agar aku sanantiasa bersabar dan segera menghentikan tangisanku yang hingga tersedu-sedu itu karena kepergian Zana untuk selama-lamanya.

Sebelumnya aku hanya harus melepaskan seseorang yang memang bukan untukku itu sakit rasanya dan sekarang pun kenapa aku harus kehilangan sesosok adik yang selalu mewarnai hari-hariku, baik suka maupun duka. Ahh jika saja aku bisa memutar waktu dan mengganti rencana Allah, mungkin aku takkan membiarkan dia pergi meninggalkan dunia ini. Bagaimana saja? Dia seharusnya saat itu merasakan kebahagiaan setelah Sembilan bulan lamanya ia menggandung sang buah hati yang kehadirannya itu pasti sangat dinantikan olehnya. Tapi apa daya, aku hanyalah seorang makhluk dengan segala keterbatasan. Sangat tak mungkin jika kemampuanku sama dengan zat yang telah menciptakanku.

Aku sebagai seorang muslim tak sepantasnya jika berlarut-larut untuk menangisi sebuah ketetapan yang telah Allah tentukan. Hal itu adalah sebuah pelajaran besar untuk kehidupanku. Ya begitulah, setiap yang hidup nantinya akan mati dan kembali pada sang pencipta, Allah SWT. Namun kita tak akan pernah tau kapan malaikat akan mencabut nyawa kita, entah itu saat kita udah siap ataupun belum, entah itu saat pahala kita sudah banyak ataupun belum. Malaikat tak pernah peduli dengan hal itu, ia akan selalu patuh dengan apa yang Allah perintahkan.

Kini terhitung sudah lima tahun, dari hari kelahiran Muhammad Fatih Az-zainuddin dan kepergian ibu kandungnya, ya adikku yang kurindukan. Mungkin inilah jawaban dari segala permintaanku lewat do’a yang selalu kupanjatkan seusai sholat fardu maupun tahajjud, dan inilah skenario Allah untuk kehidupanku dengan keluarga yang semoga saja selalu ada dalam lindungan-Nya.

“Bundaa..” teriak anak yang kebetulan pada hari ini umurnya sudah menginjak lima tahun. Aku segera menghapirinya yang berada di ruang TV dengan adik perempuannya, Tsaniya. “Ada apa mas Fatih? Itu Kenapa adenya nangis?” ucapku, sambil menghampiri Fatih dan mengelus lembut kepala anak perempuan yang baru berumur tiga tahun itu. “Itu de Sani nya ngerebut coklat punya mas..” adunya padaku dengan nada emosi ala anak-anak. “Gapapa, berbagi dong.. Tuh mas kan masih punya satu bungkus lagi..” ucapku meredakan fatih yang mulai merebut kembali coklatnya yang masih ada di genggaman adiknya.

Pintu masuk rumah tiba-tiba saja terbuka. Muncullah sosok pria berkacamata, berkulit sawo matang, pun dengan jenggot tipis di dagunya. Siapa lagi kalau bukan Nizar? ayah dari Muhammad Fatih Az-zainuddin dan Rahmania Aliya Tsaniyah, yang kini Allah pun menakdirkannya sebagai imam dalam keluargaku. “Tuh ayah udah pulang.” ucapku mengalihkan kesibukan mereka yang sedang berebut coklat. “Ayaahh..” teriak Fatih dan segera saja ia berlari menuju ayahnya yang masih berdiri di depan pintu masuk rumah, Tsaniya pun mengikuti kakaknya, tak lupa ia pun berteriak apa yang tadi kakaknya teriakkan, “Ayahh..” ucap anak perempuan itu dengan cadelnya. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang selalu menjadi penghibur hati. Begitupun dengan Nizar yang kini sedang dipeluk oleh kedua anaknya, sambil menatapku dan tersenyum, ia pun sepertinya tau kebahagiaan yang aku rasa. Bersama membangun keluarga harmonis yang didasari keimanan pada sang pencipta segala yang ada di langit maupun di bumi, ya Allah SWT.

Cerpen Karangan: Hasna Dieni R
Blog: Hasnadieni.blogspot.co.id
Fb: Hasna Dieni R
Ig: @hasnarozanah
Tasbih Cinta Ahnaf

Tasbih Cinta Ahnaf

Judul Cerpen Tasbih Cinta Ahnaf

Allah..
Aku telah melalaikan ridho yang menjadi ridho-Mu. Telah mengabaikannya untuk aku meniti setiap ruang kehidupan di jalan-Mu. Aku telah membuka hati ini begitu luas untuk sebuah perasaan duniawi yang tertuju untuknya.

Allah..
Kenapa kau memberikan rasa ini untuk manusia seperti aku? Saat hati ini menjelma menjadi jembatan yang terputus, sementara aku ada di atasnya, bagaimana aku harus memilih di antara dua jalan yang kelak akan bisa menyelamatkanku dan pula menjerumuskanku?

Allahu rabbi..
Sesungguhnya Kau telah menentukan pertemuan kami. Entah akan ada keajaiban apa di sepanjang alur skenario yang telah kau gerai dalam tema hidupku.

Allahu rabbi..
Izinkan aku menghargai cinta yang ada, karena-Mu. Sama seperti aku memuliakan untaian do’a dan keridhoan yang ada dalam genggaman-Mu. Izinkan aku menghalalkan cinta yang Kau simpan dalam jiwa kami. Walau entah dengan siapa Kau izinkan aku untuk mensucikan kasih dan sayang yang selama ini Kau rahasiakan.
Antara Aku dan jodohku..

Sudah hampir menginjak 3 bulan setelah Fariz, lelaki yang Ahnaf cintai sejak kelas 1 SMA itu datang ke rumahnya. Meminta restu kepada Ayah Ahnaf untuk meminang putrinya di langkah yang lebih serius. Jujur, setelah lima tahun lamanya menjalin hubungan dengan lelaki bersih itu, mungkin itulah saat yang paling ditunggu Ahnaf. Kedatangan Fariz dengan niatnya yang suci sebelum mengkhitbah gadis itu. Meyakinkan Ayah Ahnaf dengan bukti kesetiaan dan tanggungjawabnya dalam menjaga Ahnaf, serta tanggungjawabnya sebagai pria yang sudah memiliki pekerjaan tetap. Yang dengan keberaniannya menyatakan kesiapannya untuk menjadi kepala rumah tangga, menjadi imam bagi anak gadis pertamanya. Langkah seperti itulah yang selalu Ahnaf tunggu. Meski memang harus ia akui, tidak mudah meyakinkan Ayahnya untuk sekali menerima dan membiarkan Fariz datang dengan setumpuk tujuannya bersama Ahnaf. Terutama dalam meraih ridho orangtua gadis berusia dua puluh tiga tahun itu. Berulang kali sang ayah menentang hubungan yang Ahnaf sendiri tahu bahwa hubungan itu sama sekali tidak diperkenankan dalam agamanya. Hubungan dengan istilah pacaran itu sama sekali tidak direstui oleh Tuhan-nya yang memberikan rasa. Menciptakan rasa itu sebagai wujud bahwa cinta adalah hal yang fitrah untuk mereka yang segera dihalalkan. Namun Ahnaf tetap optimis, ia tetap berharap bahwa segala penolakan yang secara terang-terangan ditunjukan ayahnya hanyalah bukti kecemasan pada dirinya. Karena jika hanya begitu, Ahnaf setidaknya merasa bersyukur. Meski ia telah mengungkapkan begitu serius perasaan yang telah diamanahkan Allah kepadanya, Ahnaf bersyukur ia mampu menjaga dirinya sendiri.

Fariz adalah lelaki yang meski usianya hanya terpaut 2 tahun lebih tua dari Ahnaf, namun sikap dan cara berpikirnya sangat dewasa. Tak jarang ia selalu mengingatkan, menuntun dan bercerita dengan kalimat-kalimat khasnya yang lebih terkesan seperti pidato. Tak jarang ia juga selalu membicarakan tentang agama. Membuat Ahnaf malu karena sejujurnya Fariz lebih banyak tahu tentang hal-hal seperti itu dibanding dirinya. Dan yang lebih membuat bangga Ahnaf terhadap lelaki itu adalah, Fariz mampu menjaga kehormatannya. Ia tidak pernah berani menyentuh bagian termudah dari dirinya bahkan selama lima tahun mereka berpacaran. Keberhasilan Fariz dalam menjaga Ahnaf secara lahiriyah dan dalam mengukir prestasi menjadi harapan Ahnaf untuk Ayahnya meletakan kepercayaan kepada lelaki itu, meski hanya sedikit demi sedikit.

Namun saat ini justru rasa percaya diri itu seperti melenyap ditelan waktu. Fariz menghilang setelah kedatangannya beberapa bulan yang lalu. Ia tidak tahu apa saja yang telah dikatakan sang ayah kepada Fariz. Namun ketika Ahnaf bertanya kepada ayahnya sendiri, ayahnya itu hanya berkata bahwa Fariz harus memikirkan kembali keseriusannya dalam memilih Ahnaf untuk menjadi istrinya kelak. Berkali-kali Ahnaf bertanya perihal perbincangan mereka saat itu, dan berkali-kali pula Ayah Ahnaf memberikan jawaban yang sama. Kalau sudah begitu, ia tidak bisa menyangkal lagi. Ahnaf yakin bahwa ayahnya berkata jujur. Namun yang ia tidak habis pikir adalah, mengapa Fariz menghilang begitu saja ketika ayahnya hanya menyuruhnya untuk berpikir kembali? Apa sesuatu telah terjadi? Tidak. Terlalu ekstrim untuk berpikir ke arah seperti itu. Namun ia benar-benar tidak habis pikir. Segala jejak yang seharusnya bisa ia ikuti, sama sekali tidak menampakan diri. Nomor handphonenya sudah jelas tidak aktif. Media sosial yang biasa menjadi tempat ia menyebarkan dakwah dalam kalimat-kalimat sederhana sama sekali tidak memberi petunjuk. Tidak ada postingan yang tampak sekalipun. Berulang kali Ahnaf menghubungi beberapa teman dekat dari Fariz, namun mereka juga mengatakan tidak tahu. Entah benar atau tidak keadaannya, Ahnaf hanya bisa mempercayai apa yang ia dengar. Meski di dalam hatinya terbesit keraguan bahwa teman-teman Fariz memang mencoba menutupi keberadaan lelaki itu.

Minggu pertama setelah berbulan-bulan dalam kegalauan, Ahnaf mencoba untuk berhenti mengkhawatirkan keadaan Fariz dan sebab kemana ia menghilang setelah hari itu, serta alasan apa secara tiba-tiba lelaki itu meninggalkannya. Barangkali dengan seperti itu, Fariz akan datang memberi kejutan bersama kedua orangtuanya untuk segara melamar Ahnaf. Itulah harapan terbesarnya saat itu. Harapan yang mungkin memang lebih terkesan seperti khayalan. Dan saat ini hanya Pipit lah satu-satunya teman yang bisa ia andalkan, untuk menjadi tempat curahan hatinya. Saat ia benar-benar membutuhkan seseorang yang bisa membantunya dengan memberikan rangkaian solusi. Karena selain itu, ia tidak bisa lagi mengharapkan solusi dari paman, adik-adik atau sang nenek, keluarga kecilnya di rumah.

Awalnya memang keluarga Ahnaf tidak begitu menyukai Fariz. Entah karena alasan apa mereka tidak setuju dengan pilihan Ahnaf. Namun semenjak kedatangan Fariz waktu itu, mereka mulai sedikit demi sedikit menerima kepribadian lelaki itu. Sopan dan santunnya yang dipandang baik oleh keluarga Ahnaf tentu membuat Ahnaf bahagia bukan main. Penerimaan itu seolah menjadi penghargaan atas apa yang selama ini Ahnaf lakukan untuk memperjuangkan Fariz, pria yang diyakini sebagai masa depannya. Tapi apalah daya, ketika sekuntum bunga mulai merekah, angin yang menerpa bagai menerjangkan setangkai bunga yang sedang kuncup itu. Mematahkan duri dan setiap kelopaknya. Tindakan Fariz yang seperti teroris meruntuhkan kembali dinding kepercayaan keluarga Ahnaf menjadi tumpukan bebatuan pada jurang yang semakin dalam dari sebelumnya. Karena itulah jika sesekali Ahnaf bercerita tentang keresahannya, mereka hanya mengungkapkan kepasrahan dengan apa adanya.

Sudahlah Naf, jangan terlalu dipikirkan.
Mungkin dia ingin sukses dulu. Baru nanti setelah mapan, dia akan datang ke sini.

Ya, mungkin dia hanya butuh waktu. Tapi bukan itulah yang membuat hatinya bimbang. Ada dua hal yang menggamang dalam pikirannya. Dua hal yang menjadi alasan Fariz memutuskan kontak dengannya. Kedua hal itu antara ekspektasi dan realita. Pertama, Fariz memilih pergi karena ia akan mengejar karirnya sementara sebelum ia kembali berniat mempersunting Ahnaf. Kedua, Fariz merasa pengorbanannya adalah hal yang sia-sia ketika Ayah Ahnaf memberikan penolakan secara tidak langsung, dan kemudian ia memilih untuk melepaskan Ahnaf dengan menghilang. Bisa jadi apa yang dilakukan Fariz adalah salah satu di antara dua kemungkinan yang merayap dalam benak Ahnaf. Atau jika tidak keduanya, Ahnaf tidak bisa membayangkan kemungkinan lain. Memikirkan dua hal itu saja sudah cukup membuat pikirannya terbebani. Jika Fariz memang benar-benar telah memutus hubungan di antara mereka, Ahnaf yakin ia merasa batinnya telah dipukul begitu keras. Penantian selama lima tahun yang mereka jalani seolah berjalan sia-sia. Bahkan pepatah yang mengatakan hasil dari kesabaran selalu berbuah manis yang selalu diyakininya kini menjadi entahlah. Semua hal yang telah dilakukannya menjadi bayangan-bayangan mengerikan bila Ahnaf berpikir sampai pada hal itu. Wallahu’alam.

Menjelang isya ketika Ahnaf sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ia menghentikan bacaannya sebelum suara wanita yang dikenalinya itu mengucap salam. Ahnaf segera bergegas untuk membukakan pintu, masih dalam balutan mukenanya. Wanita yang datang itu adalah Pipit. Ahnaf sangat mengenali bagaimana suara sahabatnya itu. Dengan segera ia mempersilahkan Pipit masuk. Hari itu memang sedang tidak ada siapapun di rumah, kecuali dirinya. Namun entah ada ilham apa Pipit menyambangi rumahnya pada jam seperti ini, mengingat hari itu mereka belum juga bersapa lewat sms atau chat.

“Tumben Pit, kamu ke sini. Kenapa nggak telepon dulu?”
“Maaf Naf, aku ndak sempat pegang handphone tadi. Lagipula lebih baik mendadak seperti ini kan..” Kata Pipit sambil mengulas senyum.
“Kenapa lebih baik mendadak? Nggak biasanya lho buat surprise begini.”

Pipit hanya tersenyum simpul. Ia lalu terdiam. Matanya memandangi wajah Ahnaf dengan sendu. Namun seperti kosong. Tatapan itu seperti tidak ada makna selain hanya keraguan yang tersirat. Setelah memastikan keadaan Pipit yang sebenarnya, Ahnaf baru yakin bahwa ada yang tidak beres pada sahabatnya itu. Ia lalu meraih tangan Ahnaf, menyadarkannya perlahan.

“Pit, ada masalah apa?” Suaranya nyaris tak terdengar.
Pipit segera mengalihkan pandangan. Sebutir kristal bening tampak mengalir dari sudut matanya. Ahnaf semakin khawatir menyaksikan keanehan sahabatnya itu.
“Pit..”

Tak menghiraukan Ahnaf sama sekali, Pipit segera mengambil sebuah amplop dari tas tangannya. Kemudian mengembuskan nafasnya sejenak sebelum menjawab keheranan yang terpancar dari wajah Ahnaf.

“Naf, aku baru dapat kabar dan kiriman foto ini sore tadi dari kawan lamaku. Ternyata dia juga teman Fariz. Maaf sebelumnya, bukan aku ingin menyembunyikan hal ini. Tapi aku pun baru tahu yang sebenarnya hari ini..” Pipit menjelaskan dengan nada tertekan, sementara Ahnaf masih belum mengerti maksud sahabatnya itu. Dan entah kenapa jantungnya serasa berdetak lebih cepat. Ahnaf merasa seperti ada hawa panas yang menyergapnya tiba-tiba.

“Kamu akan tahu setelah membuka amplop ini Naf..” Disodorkannya amplop itu kepada Ahnaf. Air muka Pipit nampak lebih tenang dari sebelumnya.
“Baiklah, kalau begitu. Aku permisi dulu Naf, sudah malam.. Semoga ini memang yang terbaik untuk kamu.” Pipit beranjak dari kursinya untuk segera meninggalkan kediaman Ahnaf. Membiarkan Ahnaf bergumul dengan pikirannya sendiri.

Setelah mengantar Pipit sampai di teras rumah seraya membalas ucapan salamnya, ia segera memasuki rumah. Di atas sajadah yang masih terhampar di lantai kamarnya, cukup lama Ahnaf memandangi amplop yang diberikan Pipit. Pikirannya kembali mengatur gambar-gambar wajah Fariz dan segala hal yang mengusik memorinya selama ini. Lalu jari-jemarinya yang lentik perlahan membuka kepala amplop yang tidak begitu tertempel itu.

Hanya dalam hitungan detik, sebuah foto pernikahan yang bahagia terlukis di sana. Allah. Tidak. Apa yang baru saja dilihatnya? Laki-laki dengan pakaian adat khas Jawa Barat berdiri tersenyum di samping seorang wanita cantik yang juga mengenakan pakaian adat khas pengantin. Cantik. Begitu cantik dengan geraian jilbab putihnya yang tertata indah. Ya Allah. Seketika dada Ahnaf terasa sakit. Tenggorokannya serasa tercekat. Ada sesuatu yang berteriak dalam hatinya. Tangisannya seolah tertahan di dalam dada. Ia memang tidak bisa menjerit saat itu juga, namun hatinya begitu menjerit. Di atas sajadah yang terhampar itu, Ahnaf meluapkan buncahan-buncahan perasaan yang menghimpit dalam benaknya. Air mata deras mengalir. Ya Tuhan, inikah jawaban atas pertanyaan yang tak juga hamba temukan jawabnya selama ini? Inikah kejutan yang Kau sediakan untukku?

Ahnaf melongok kembali isi amplop tersebut. Tak ada apapun. Tak ada surat atau lipatan kertas di sana. Fariz mungkin telah bahagia dengan wanita pilihannya. Dan mungkin juga lelaki itu telah berhasil melupakan kehadiran Ahnaf sepanjang 1825 hari ia mengenalnya, sehingga tak tersisa satupun surat untuk sekadar memberi penjelasan pada gadis itu. Memberi setidaknya sedikit ketenangan untuk Ahnaf benar-benar bernafas. Ia hampir menggigit ujung mukenanya ketika menahan tangis. Beruntung tidak ada satupun salah satu dari keluarganya yang tinggal di rumah, sehingga ia bisa membiarkan rahasia itu menjadi rahasia yang hanya tercipta antara ia dan Tuhan-nya. Foto yang seolah menggambarkan kebahagiaan di atas penderitaan orang lain itu tak henti-hentinya terlepas dari pandangan Ahnaf. Terkejut? Tentu. Tak menyangka? Tentu saja. Rupanya lelaki yang telah menghilang dan ia tunggu-tunggu itu melunturkan janji yang mereka bangun, dan membangun kembali ikatan janji suci dengan seorang wanita lain. Sakit memang mengetahui kenyataan yang tidak sejalan dengan harapannya. Namun yang lebih sakit adalah kenyataan untuk mengetahui bahwa wanita yang telah dipersunting lelaki itu adalah seseorang yang pernah dikenalnya dulu. Safina. Wanita yang Ahnaf tahu pernah menyukai Fariz ketika masa SMA dulu. Subhanallah. Ahnaf tidak mampu berkata-kata. Kedua matanya terus berkaca-kaca menumpahkan tetes demi tetes air ketulusan.

Dalam tangisan itu, ia menyadari banyak hal yang selalu ditepisnya selama ini. Cinta memang luar biasa. Dengan keberadaannya, seseorang bisa menjadi sosok di luar dugaan. Dengan keberadaannya pula, seseorang bisa menjadi sosok yang rapuh. Fariz mungkin pernah memberinya kebahagiaan, namun juga telah memberinya pelajaran dengan serangkaian teka-teki yang ia ciptakan. Teka-teki yang telah menjadikannya luruh bagai daun yang disapu angin. Lelaki itu telah membiarkannya memikul penderitaan selama berpuluh-puluh hari, bahkan lebih. Tanpa kabar, tanpa penjelasan, tanpa ingin memberinya keputusan.

Rupanya Allah telah mengujinya. Membiarkan Ahnaf melepas seseorang yang bukan jodohnya. Dalam ketegasan itu, Ahnaf merasa sangat malu di hadapan Yang Kuasa. Selama ini ia terlalu membangga-banggakan orang yang belum pasti disuratkan untuk menjadi pasangan hidupnya. Ia telah begitu terlena memperjuangkan cinta yang belum pasti dihalalkan untuknya.

Dan satu hal yang ia sadari saat itu.. Cinta memang menipu dan meniupkan perasaan yang tiada pernah mati.

Cerpen Karangan: Aina Awliya
Facebook: facebook.com/aina.auliya
Ta’aruf

Ta’aruf

Judul Cerpen Ta’aruf

Terdengar alunan orang yang sedang membaca ayat suci al-qur’an, suaranya amat sangat merdu dia adalah ustad yang selama ini aku (Ega) kagumi, dia bernama ustad Ridho.

Tapi, aku sangatlah bingung karena aku menemukan surat yang berisi rekaman suara yang berisi tentang “aku selalu menempatkan namamu dalam setiap do’aku dan suatu saat nanti aku akan datang kepadamu 2 hari setelah kau mendengarkan rekaman suaraku ini” dan rekaman itu diakhiri dengan lantunan ayat al-qur’an surat ar-rum ayat 21.

Aku selalu datang ke perpustakaan setelah mendapat surat yang berisi rekaman suara itu dan akhirnya aku tidak menemukan siapa orang yang mengirimkanku surat suara itu, padahal ini sudah 2 hari setelah aku mendengarkan rekaman suara itu.

Aku langsung pergi ke masjid untuk berdoa “ya allah aku bingung selama ini aku mencintai ustad ridho tapi ada ada seseorang yang ingin berta’aruf denganku berilah aku petunjuk” ucapku

Setelah aku berdo’a tiba-tiba ustad ridho memasuki masjid dan mendatangiku
“Assalamu’alaiku Ega apakah kau sudah mendengarkan surat rekaman yang aku kirimkan untukmu?” ucap ustad Ridho bertanya padaku
Aku pun tersentak kaget karena ternyata yang mengirimkan surat rekaman itu adalah ustad ridho yang selama ini aku Cintai dan kagumi
“sudah ustad, ega sudah mendengarkannya” ucapku tertunduk menahan tangis bahagiaku
“lalu apakah kau akan menerima ajakanku untuk berta’aruf?” kembali ustad ridho bertanya padaku
“ya aku menerimanya ustad” ucapku tersenyum
“Terimakasih” ucap ustad ridho sambil memberikan al-qur’an yang sangat indah padaku.

END

Cerpen Karangan: Siti Nurhasanah
Blog / Facebook: sitinurh[-at-]yahoo.com
Ketika Cinta Menghampiri

Ketika Cinta Menghampiri

Judul Cerpen Ketika Cinta Menghampiri

Ketika cinta menghampiri, dunia terasa lebih indah. Dan hati, merasa terisi. Namun, jika cinta hanya membawa luka, sebaiknya jangan pernah datang dan jangan pernah ingin tersentuh cinta.

Cinta yang dimaksud cinta terhadap pasangan atau lawan jenis. Mereka yang masih belum memantaskan diri, belum berhak untuk tersentuh cinta yang sejati. Karena cinta sejati akan benar-benar menghampiri manusia yang siap untuk merasakan luka dari sakitnya dicintai atau mencintai.

Namaku Ruby Khadijah, dan nama panggilanku adalah Rykha. Aku terlahir di sebuah keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai agama. Kakekku, memiliki sebuah pesantren di Bandung, Pesantren An Nur. Dan yang mengurus pesantren adalah kedua orangtuaku. Dan secara otomatis, aku juga kakakku tinggal di pesantren bersama kedua orangtua kami.

“Assalamu’alaikum, umii… Rykha pulang,” kataku sembari meletakkan ransel di meja bawah jendela. Terdengar seseorang yang menjawab salamku, “wa’alaikumsalam, langsung ke kamar ya, siap-siap, sebentar lagi ada tamu yang datang.” Aku hanya mengangguk, dan menuruti perintah umi.

Di dalam kamar, aku bergumam dalam hati, “tamu? Siapa? apakah penting? Oh! Aku tahu, pasti kakek datang dari Qatar dan membawa oleh-oleh. Atau kakek datang bersama ikhwan ganteng dari sana? Hehe… ehh… astaghfirullah! Nyebut Kha, nyebut!”

Kakek memang yang membangun pesantren ini tapi dia lebih memilih untuk tinggal di Qatar bersama istri barunya, dan menjadi dosen agama di salah satu kampus terbesar di sana.

Aku sudah bersiap-siap dengan memakai salah satu gamis terbaikku. Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu kamarku, “Kha…! Kamu udah siap?” aku mengenal suara itu, itu suara kakakku, Ryma. Aku segera membuka pintu, “iya aku udah siap. Tada…!” kataku sembari memperlihatkan gamis terbaikku. Ryma tersenyum, lalu tertawa terbahak-bahak, “kamu ini… ada-ada saja. Kakak juga udah siap, nih liat…! Gamis kakak juga bagus kan?” aku tersentak melihat gamis yang dipakai Ryma, “lho, kak. Kok sama sih?” Ryma menjawab dengan santai, “ya iyalah, kan umi sendiri yang bilang kakak harus pake baju ini. Sepertinya tebakan umi benar, kamu pasti pake baju ini juga. Hehe…” Ryma tertawa kecil. Aku cemberut, tapi ‘tak apalah. Toh, emang baju kita ini kebanyakan sama. Umi yang memilihnya.

Terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah. Aku penasaran dan mengintip sedikit lewat jendela, siapa yang datang. Tapi Ryma langsung membawaku ke ruang tamu untuk menemui tamu ini, “ya! Mereka sudah datang. Ayo Kha, kita temui mereka.” Aku hanya menurut.
Di ruang tamu, abi dan umi sudah terlihat sumringah. Mereka menyambut tamu ini dengan hangat. Ketika tamu ini memasuki ruang tamu, seketika jantungku berdegup dengan kencang. Matanya, senyumnya, membuat dadaku sesak. Ryma terlihat berseri-seri. Aku ingin bertanya, siapa dia, namun tertahan oleh jantungku yang berdegup dengan kencang.

Tamu itu ternyata seorang pemuda tampan. Tapi dia tidak sendiri. Beberapa orang mengiringi dia masuk. Dan orang-orang itu adalah keluarganya. Seketika aku terkejut, apa maksudnya? Apa pemuda itu akan mengkhitbah ka Ryma? Tapi… kak Ryma kan sudah dikhitbah leh kak Ali, anak Kiyai Pesantren terbesar dari Jawa. Lalu…

“Astaghfirullah! Kak mereka mau mengkhitbah … ku?” Ryma tiba-tiba terdiam, “iya, Kha…” Ryma menghela nafas panjang, dan meneruskan kata-katanya, “berapa umurmu sekarang? 17 tahun kan? Kamu itu sudah besar, dan sudah waktunya untuk ada seseorang yang menjagamu. Bukan kakak, bukan umi, bukan abi… bukan kakek. Tapi, seorang imam, yang dapat membimbingmu menuju surganya Allah.”
Mendengar ucapan Ryma, air mataku keluar dengan deras. Aku menangis tersedu-sedu. Aku memeluk Ryma, “aku tidak mau! Aku tidak mau! Aku cuma mau bersama kalian, keluargaku…!” Ryma pun terlihat sedih, dia memelukku dengan erat, “kakak ngerti, tapi daripada pacaran lebih baik langsung dinikahkan. Meski kamu bilang gak akan pacaran, tetap saja kan. Perasaan dan apalagi nafsu, tidak akan bisa ditahan. Ini jalan terbaik untuk kamu.”

Aku dan Ryma pun duduk di samping umi. aku hanya tersenyum. Aku sama sekali tidak fokus dengan apa yang mereka bicarakan. Pandanganku kosong. Tiba-tiba, pemuda itu memberi salam padaku, “assalamu’alaikum.” Dengan senyum manis tersungging di bibirnya. Aku menjawab salam pemuda itu. Ryma berbisik padaku, “fokus, Kha, fokus.” Aku pun tersadar dan mulai mengobrol juga.
“Kami hanya mengikuti jawaban Rykha saja. Jika dia berkata iya, maka alhamdulillah. Dan kita, tinggal menentukan tanggalnya saja. Bagaimana, Rykha? Apa jawabanmu, nak?” tanya abi dengan penuh harap, dan aku menjawab…
Aku tidak tahu jawabanku apa. Karena ini semua sangat mendadak. Baru tadi siang aku pulang sekolah, dan sorenya.. aku kira tamu yang datang itu kakek, tapi ternyata.
Aku menjawab, “jika memang Allah telah menjodohkan kita, InsyaaAllah, Rykha ikhlas.” Mendengar jawabanku, semua orang diruangan terdiam. Umi tersenyum, “alhamdulillah. Kalau begitu, apa tanggapan nak Ahmad?” semua menatap pemuda itu. Ya! Pemuda itu namanya Ahmad, lebih lengkapnya, Ahmad Azzam Zaenal. Putra dari Kiyai Muhammad Fathur Bukhari, pimpinan pondok pesantren Abu Bakar Ash-Shiddiq. Salah satu pesantren terkenal di Bandung.
Dengan santai Ahmad menjawab, “semua saya serahkan pada Ukhti saja,” dia menatapku. Dan aku merunduk. Kiyai Fathur menyahut, “alhamdulillah… kita serahkan pada nak Rykha. Maunya kapan dan bagaimana.” Umi dan abi setuju begitu saja, Ryma menatapku. Dengan penuh keberanian aku menjawab, “saya mau menikah dengan kak Ahmad. Dan InsyaaAllah, tanggal pernikahan yang saya inginkan adalah tanggal dan juga bulan kelahiran saya. Tapi tidak untuk tahun ini, tidak juga untuk tahun depan. Saya ingin fokus dulu dalam sekolah saya. Saya baru akan naik kelas 3, dan sebentar lagi kuliah. Dan saya inginnya, kami menikah setelah saya menyelesaikan pendidikan saya.”

Semua orang terlihat terkejut, mendengar perkataanku. Tapi Ahmad terlihat lain, “iya, ana setuju pendapat ukhti. Ana pun ingin menyelesaikan pendidikan ana dulu. Bagaimana? Abi? Umi?” kiyai Fathur menjawab, “ana juga setuju dengan tanggapan kalian. Tapi, apa tidak sebaiknya, kalian menikah dulu saja? Tidak apa kan jika kalian kuliah dan kalian sudah menikah.”
Wajahku murung, dalam hati aku bergumam, “aku belum siap, aku belum siap. Kenapa sih, maksa gini. Astaghfirullah…!” Ahmad menatapku dan sepertinya mengatakan sesuatu. Terlihat dari gerak bibirnya dia mengatakan, “tenang saja. Allah bersama kita.” Aku tersenyum? mengangguk pelan.
Ahmad terlihat tidak setuju dengan apa yang dikatakan ayahnya, “abi… tidak apa kok, ana akan sabar. Lagipula, jika memang kita tidak berjodoh, ana ikhlas.”

Obrolan tentang perjodohan ini berjalan sangat lama. Sampai waktu maghrib tiba, mereka baru akan pulang. Aku mengurung diri di kamar. Aku kaca di cermin besar lemariku, “kamu itu ganteng akhi, baik, dan juga soleh. Tapi meski begitu, perasaanku hanya untuk Umar seorang. Uh… astaghfirullah.” Mendengar ucapanku pada diriku sendiri, Ryma membalas, “Umar, hanya seorang teman, Rykha. Dia gak baik buat kamu. Perasaan yang kamu rasakan untuk dia, itu cuma nafsu belaka. Jika kamu memaksakan untuk mencintai dia pun, hanya ada luka yang akan kamu terima. Kha, kakak tahu, Umar itu siapa. Dia anak yang nakal, shalat aja kadang iya kadang tidak. Bagaimana jadinya masa depanmu kalau kamu memaksakan untuk menikah dengan dia?!”
Aku hanya terdiam mendengar ocehan Ryma.

Keesokan harinya, di sekolah, aku melihat pemandangan yang sangat indah. Umar menghampiriku, “assalamualaikum, ukhti…” aku tersenyum, “waalaikumsalam, akhi…” setiap pagi Umar selalu menyambutku di depan kelas, ya, karena kami satu kelas. Perasaanku sangat bahagia, setelah semuanya yang kualami kemarin di rumah. Tapi… tiba-tiba perasaanku sakit. Hatiku terluka. Umar, pemuda yang sangat aku cintai, dia berpegangan tangan dengan Faya. Gadis terkenal di sekolah karena kecantikannya. Mereka terlihat bahagia. Seketika air mataku ingin keluar. Aku menahan rasa sakit ini. Dan tiba-tiba, pikiranku tertuju pada Ahmad. Aku menggeleng, dalam hati aku bergumam, “kenapa?! Apa karena kami bukan jodoh? Tapi… kenapa cinta ini malah menghampiri Umar dan bukan Ahmad? Atau pemuda baik lainnya? Kenapa rasanya sakit sekali melihat mereka bahagia?”

Bersambung

Cerpen Karangan: A Nurjanah
Blog / Facebook: Anis Nurjanah (Neng Anis)
Hijrah Cinta

Hijrah Cinta

Judul Cerpen Hijrah Cinta

Lila tersadar dari lamunannya ketika Gia mencoba menepuk pundak kanannya. “Giaaaaa…” teriak Lila kesal.
“sorry deh sorry.. lagian dari tadi ngelamun aja, ngelamunin apa sih?” tanya Gia penasaran.
“mau tau?”. tawar Lila dengan wajah tersenyum.
“ya mau lah,” jawab Lila girang.
“kepo!!” jawab lila sembari meninggalkan Gia yang menunggu jawaban dari Lila.
Gia mendengus kesal. Dia tahu bahwa Lila mempunyai masalah yang membuatnya melamun berkepanjangan.

Kampus dan area masjid mulai sepi. Mereka meninggalkan kampus beberapa menit yang lalu. Maklum mereka dekat bagaikan saudara kandung, kemana-mana selalu berdua, sarapan berdua, tidur berdua. Pokoknya segala hal mereka lakukan berdua. termasuk kuliah pun satu kelas, satu universitas, satu kostan lagi.

Hari itu menjadi hari yang melelahkan untuk mereka berdua. disandarkannya badan mungil di atas dipan kesayangan berwarna ijo tosca. Melirik ke samping, terdapat pas photo ukuran 5 R bergambarkan seorang lelaki mengenakan kemeja putih. Berkacamata hitam. Dia Rahman. Seorang laki-laki yang menemani lila sampai saat ini. Dalam arti bukan sepasang suami istri melainkan sepasang kekasih yang romantis. 3 tahun lamanya kedekatan Lila dan Rahman menjadi sepasang kekasih. tak hanya mereka bahkan orangtua mereka pun telah merestui hubungan mereka.
Tapi, akhir-akhir ini komunikasi antara Lila dan Rahman sedikit renggang. Entah mengapa sms tak pernah dibalas, telepon jarang sekali diangkat. Itulah hal yang sedang Lila khawatirkan saat ini.

“gimana kabar Rahman lil?” tanya Gia mendekati Lila.
“masih tak ada kabar gi, aku udah lelah sama sikap Rahman yang seolah-olah membiarkanku seperti ini. Tak dianggap.” Lila mendengus menunjukan kekesalan.
“sabar ya lil, mungkin Rahman sibuk kali. Makannya dia jarang kontek kamu.” Jawab Lila bernada tenang.
“tapi kan sesibuk apapun dia pasti ada kabar.” Jawab lila.
“tunggu aja deh sampai ada kabar.. takutnya kamu suudzon loh.” Tangkis Gia bernada menyindir.
“iya iya…” jawab Lila kesal lagi.

Malam yang dingin ditemani semilir angin menembus kulit menusuk tulang. suara orkestra di pelataran taman hampir menembus dinding kostan Lila dan Gia. Malam ini terasa beku. Tak ada kabar sedikitpun dari Rahman. Bagi Lila ini adalah sebuah penantian yang panjang dan tak berujung, yang membuat Lila gundah dan gelisah, galau dan merana. Dini hari Lila melaksanakan ibadah yang menjadi rutinitasnya setiap hari. Apalagi kalau bukan solat tahajjud. Hal yang selalu membuatnya damai dan tenang.

Lila selalu meminta kepada-Nya tentang semua hal. Termasuk Rahman kekasihnya. Tak bosan-bosan Lila meminta yang terbaik untuk dirinya dan Rahman. meminta dilancarkan agar hubungannya tetap aman sampai waktu itu tiba. Tapi sekarang hubungan Lila malah tidak aman dan sering dilanda kekhawatiran. Selalu ada curiga yang berujung kepada suudzon tingkat tinggi. Tapi Alloh mengirimkan Gia, sahabat terbaik Lila sejak duduk di bangku SMP. Dia yang selalu mengingatkannya bahwa suudzon adalah hal yang tidak baik, dan hukumnya dosa.

7 hari berlalu begitu cepat. Tugas kuliah tingkat 4 semakin menumpuk, presentasi, makalah, penelitian dan tugas lainnya. Terkadang bisa membuat kepala pusing, tapi tak kalah pusingnya dengan Rahman, Rahman dan Rahman.

Di tujuh hari ini Lila sempat mendapatkan sms nyasar. Sms dengan rangkaian kalimat yang romantis, kalimat yang bisa meluluhkan hati banyak perempuan, kata-kata yang layaknya digunakan oleh kalangan dewasa. Lila hanya bisa tersenyum melihatnya, Lila teringat Rahman yang selalu mengirimnya sms romantis, tak kalah romantisnya dengan sms nyasar itu. Tapi itu dulu, ketika Lila selalu bersama Rahman. sekarang jarang malah tidak lagi. Lila hanya mendengus kesal jika pikirannya teringat kepada laki-laki itu. “laki-laki tidak punya tanggung jawab.” Ucap Lila.

Hari ini ada mata kuliah bahasa inggris. Lila dan Gia yang mempunyai hoby yang sama selalu menyambut mata kuliah ini dengan penuh keceriaan. Karena bahasa inggris ini sudah menjadi makanan sehari-hari, saking piawaynya dalam bahasa inggris.

Sore itu pukul 16.00. Lila dan Gia pulang bersama-sama mengendarai motor milik Gia. Di perjalanan pulang tepatnya di pinggiran kota Bekasi ada sesuatu yang sangat mengganggu pandangan mata. Gia melihat seorang lelaki memakai kemeja biru dan seorang perempuan yang duduk di belakang motor milik si laki-laki. Gia berhenti tiba-tiba membuat badan Lila terdorong ke depan.
“hati-hati gi…!!!” ucap Lila dengan perasaan tekaget-kaget. “Rahman dan Airin? Kenapa mereka bisa barengan gitu sih?” tanya Gia di dalam hati dipenuhi dengan tanda tanya.
Gia merasa aneh dan curiga dengan Rahman. “apa Rahman…?”. pikir Gia panjang.
“Gia… ayo jalan lagi, kenapa berhenti? Ada apa?” tanya Lila penasaran.
“ehhh iya iya lil maaf, nggak ada apa-apa ko. Aku teringat bukuku ketinggalan di kampus”. Jawab Gia asal-asalan.
“makannya lain kali teliti dong..!!” ucap Lila.
“iya iya…” Gia melanjutkan perjalanannya dengan perasaan campur aduk antara aneh dan curiga.

Minggu selanjutnya masih seperti minggu yang lalu. Tak ada kabar dari Rahman. Lila sudah hampir lupa. Gia dan Lila masih bersama-sama. Tak ada yang berubah.

Serambi mesjid kampus Al-Azhar mulai ramai dengan para mahasiswa yang tengah melaksanakan solat ashar. Begitu juga dengan Lila dan Gia. Dua sejoli. Begitulah teman-teman memanggilnya karena kedekatannya dan tak pernah berpisah. Dilihatnya handphone Lila berwarna hitam berkilau, terdengar suara nada BBM seperti ada pemberitahuan masuk. Tiba-tiba Lila tercengang, mulut terbuka, matanya berkaca-kaca melihat kabar kekasihnya bersanding, berfoto bersama dengan temannya sendiri. Airin. Gia yang asyik membereskan mukena kini berpaling melihat sahabatnya menangis kesakitan. Lila berbalik arah memeluk sahabat karibnya, mencoba mencari sandaran untuk tetap kuat, dipeluknya Gia semakin erat. Gia yang hanya diam karena Gia lebih dulu mengetahui kebusukan Rahman di belakang Lila waktu di pinggiran kota Bekasi 2 minggu yang lalu. Sungguh ironi nasib Lila.

Lila dan Gia bergegas meninggalkan masjid yang mulai sepi. Pukul 17.00 mereka sampai di kostan lebih lambat dari biasanya. Lila hanya bisa menangis menyembunyikan guliran air mata di balik selimut tebal miliknya.
“sudah lil, pasrahkan saja kepada Alloh. Mungkin ini cara Alloh untuk menjauhkanmu dari Rahman. Alloh memberikan petunjuk bahwa Rahman bukan laki-laki yang baik. In syaa Alloh di luar sana masih banyak laki-laki yang Alloh siapkan untukmu.” Ucap Gia menyemangati.
“iya gi, aku faham. Pantas saja akhir-akhir ini Rahman lebih banyak menghindar dariku, ternyata dia punya yang baru.” Ucap Lila terisak.
“tenang lil, jangan merasa rendah seperti itu. In sya Alloh kamu lebih mulia di mata Alloh. Alloh pasti akan memberikan yang lebih kepadamu. Mulai sekarang lupakan Rahman, fokuskan niat awal kamu untuk tidak mengenal lagi yang namanya pacaran. Hijrah lil hijrah!!.” Ucap Gia menyemangati.
“iya gi, kejadian ini membuatku sadar. Kejadian ini memberikanku tamparan keras dan teguran bahwa pacaran itu hanya kesenangan sesaat. Tidak ada manfaatnya.” Ucap Lila sendu.
“alhamdulillaah.. aku seneng melihat Lila yang seperti ini, selalu ceria dan nggak putus asa. Sekarang hapus air matamu dengan berwudhu. Solat maghrib akan tiba lima menit lagi, kita berjama’ah yaa..!!.” tawar Gia.
“ia giii… seperti biasa.” Ucap Lila bernada tenang.

Malam itu hangat. Sehangat persahabatan Lila dan Gia. Lila yang selalu mendapatkan masukan dan saran dari Gia. Begitu juga dengan Gia. Hari selanjutnya mereka lewati dengan santai tapi serius. Di gerbang utama Universitas Al-Azhar mereka bertemu dengan Dinda. Teman sekelas Lila yang cerewet dan berisik datang menghampiri. Tiga orang perempuan itu berjalan bersama menuju kelas. Di sekitar kampus yang luas nan sejuk, Lila berpapasan dengan airin. Kekasih barunya Rahman.
“ohh ini yaa lil perempuan gatel yang membuat hubungan kamu jadi retak?.” Tanya Dinda dengan nada menyindir. “kamu nggak punya hati ya, bisa-bisanya ngerebut pacar orang. Dasar perempuan gatel..” sambung Dinda panjang lebar.
“udahlah din, aku udah ikhlas kok. Aku sedang menunggu laki-laki yang sedang alloh persiapkan, pastinya lebih baik.” Ucap Lila sembari tersenyum.
“duuhh.. untungnya kamu penyabar lil!!” ucap Dinda menghela nafas. Airin hanya terdiam kaku mendengar percakapan antara Dinda, Lila dan Gia. Malu dan merasa bersalah. Mereka pun berlalu meninggalkan airin tanpa reaksi apapun. Percuma saja marah-marah di depan airin hanya untuk mempermasalahkan Rahman. Laki-laki tak bertanggung jawab itu. Hanya membuang tenaga saja.

Beberapa menit berlalu begitu cepat. Waktu istirahat selalu dimanfaatkan Lila dan Gia untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, diskusi, curhat dan hal-hal yang bermanfaat lainnya. Begitu juga dengan mahasiswa lainnya, memanfaatkan waktu istirahat dengan makan siang di kantin, bercanda, membaca buku dan aktifitas lainnya. Kampus ini luas dan nyaman, apalagi area masjid yang selalu ramai oleh warga kampus yang menunaikan solat.

Disela-sela asyiknya beraktifitas, seseorang datang menghampiri mereka berdua, siapa lagi kalau bukan Rahman.
“hay Lila..!!” sapa Rahman begitu lembut.
“waa’alaikumsalam” jawab Lila tandas.
“eh iya aku lupa, maaf deh!!” tawar james seolah manja.
“mau ngapain lagi kamu ke sini, setelah sekian lama nggak ada kabar sama sekali. Asal kamu tau ya aku bukan perempuan bodoh seperti pacar baru kamu itu.” Jawab Lila mulai geram. Gia ikut berdiri mencoba menahan amarah sahabatnya itu.
“apa maksud kamu lil?”. Tanya Rahman terbelalak.
“jangan pura-pura dehh, aku udah tau semuanya mulai dari upload poto sama si airin, boncengan di jalan, sms romantis itu, dan serangkaian akal bulus kamu, aku tak sebodoh pacar baru kamu itu, jangan harap aku akan menerima kamu kembali. Aku sudah cape.” Tandas Lila panjang lebar dengan mata berkaca-kaca. Lila meluapkan seluruh kesakitannya kepada Rahman. Rahman hanya terdiam tanpa kata, tak mampu membalas ocehan Lila. Lila meninggalkan Rahman begitu saja tanpa menghiraukan Gia, sahabatnya. Gia yang hanya mendengarkan kini angkat bicara.
“udah ya Rahman jangan coba-coba mendekati Lila lagi, sudah cukup kamu menyakiti dia saperti ini. Lelaki macam apa kamu Rahman?”. Bisik Gia ke arah telinga Rahman, seolah menyindir tetapi memang kenyataan.
Gia berlalu meninggalkan Rahman. Lila yang hanya duduk terdiam di kursi, mencoba mencari ketenangan. Di peluknya erat Gia yang duduk di samping Lila.

“terimakasih ya gi kamu udah bantu aku.” Ucap Lila tersenyum.
“iya lil.. sudah seharusnya aku seperti itu kepada sahabatku sendiri.” Balas Gia tersenyum. Hari itu menjadi hari yang sangat menyedihkan, tapi ini juga cara yang terbaik dari Alloh untuk Lila. Berpisah dari orang yang belum tentu baik menurut Alloh. Tapi Lila bersyukur atas kejadian ini, Lila bisa menyadari bahwa pacaran itu memang tidak perlu dan hanya kesenangan sesaat..

TAMAT

Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
Facebook: Nurul
Di Bawah Langit Agustus (Part 3)

Di Bawah Langit Agustus (Part 3)

Judul Cerpen Di Bawah Langit Agustus (Part 3)

Dua puluh enam Agustus 2016
Jum’at sore itu seusai pulang kerja, aku dan Leni bergegas mencari alamatnya dengan informasi seadanya. Aku pulang ke rumah dahulu menaruh motor dan kami mengendarai motor Leni, karena aku takut dia mengenaliku karena dia tahu motorku. Aku memakai jaket dan masker agar dia tak mengenaliku. Tiba di gapura RW 02, kami mencari RT 06. Ah ketemu! Namun sayangnya RT 6/2 itu bukan seperti letak perumahan yang aku kira. Akhirnya kami mencari perumahan itu, Sampai! Aku masih ragu kalau itu benar atau bukan, namun Leni bilang “yang tadi kita cari RT 6 kan? Itu juga RT 6”. Ah iya gapura perumahannya bertuliskan RT 6 RW 5. Kami terus berjalan untuk memastikan apa benar di depan jalan rumah susun atau bukan dan ternyata benar. Di depan perumahan itu kami bingung. FYI, kami sudah mendiskusikan ini sebelumnya. Kami kan menyimpulkan dia tinggal di Perumahan jadi sebenarnya lebih mudah untuk menanyakannya pada satpam. Ya, akhirnya kami menanyakan pada satpam namun kami mencari bukan atas nama dia melainkan adiknya, ya dengan pasti aku juga punya informasi tentang adiknya. Yang bertanya Leni karena aku takut. -Di pos satpam-
“pak mau tanya, rumahnya Pipit yang mana ya?”, Leni.
“emang RT berapa?” Satpam
“maka itu pak kita gak tahu berapanya” Leni
“Pipit yang kuliah di fotografi?” satpam satunya lagi
“Nah iya pak” kataku
“Ikutin jalan aja nanti ada gerbang lurus mentok belok kanan, tanya aja rumahnya pak Cecep”
“Rumahnya yang mananya pak?” kataku
“nanti tanya aja rumahnya pak Cecep”
“Oh ya udah makasih ya pak”

Kami mengikuti petunjuk jalan dari pak satpam tersebut. Mentok belok kanan, setelah itu kami bingung harus ke mana, rumahnya yang mana, nanya sama siapa. Ketika aku melewati rumah bercat tembok biru, firasatku itu rumahnya dia karena di luar ada bangku seperti yang di dalam foto adiknya. Namun kami akhirnya belok kanan entah itu ke mana. Kami berhenti. Ada anak kecil dan aku bertanya padanya
“dek tahu rumahnya pak Cecep?” kataku
“Pak Cecep yang mana? Yang jualan apa yang warnet”
Ah sial, aku tak tahu menau soal yang ini.
“yang punya anak cewek yang mana?
“Yang itu (nunjuk ke arah kanannya)”
“nah itu rumahnya yang mana?”
“oh iya iya, (dia hendak ingin memberi tahu kami jalannya)”
“eh sini sini dek, kasih tahu aja yang mana rumahnya”
“Yang rumah tingkat warna biru lagi direnovasi”
“Oh ya udah makasih ya dek”

Ah ternyata benar rumah yang aku duga. Rasanya saat itu warga setempat mencurigai kami terlihat dari tatapan mereka. Aku bilang sama Leni lihat nomor rumahnya. Aku bawa motor pelan-pelan, aku melihat seberang rumahnya itu nomor 10 dan pas aku lihat rumah dia malah tidak ada plat rumah, mungkin karena lagi di renovasi. Aku sama Leni menduga kalau rumahnya itu No 11. Dan pas sampai di pertigaan yang aku bilang mentok belok kanan, kami bertemu lagi sama ibu-ibu yang sedang ngobrol di warung, kami memang tidak bertanya padanya, Ibu itu bilang gini.
“Mau kemana sih neng daritadi, nanya orang mh” dengan nada yang ngeselin.
“Udah kok, bu” Kata Leni.
Dan aku lupa kalau itu perumahan, aku tak tahu bloknya
Sialnya aku ketemu anak kecil itu lagi, dia bilang “Lah itu kan yang tadi”
Ah malu sekali. Kata Leni blok D, namun kataku blok E karena aku lihat blok D sebelum gerbang. Okay kami memutuskan untuk pulang, karena dipikir yang penting udah tau rumahnya. Aku ambil arah yang berbeda dari kami pergi, namun di perjalanan aku bilang gini sama Leni “nama perumahannya apa? Gue lupa cuma inget indahnya doang”, Leni menjawab “Lah gue gak perhatiin, ya udah balik lagi aja”. Akhirnya aku putar balik. Ya! Setelah aku mengingatnya kami langsung pulang, sepanjang jalan aku bingung bagaimana aku mengirimnya, aku gak tahu alamat pastinya, belum tentu juga RT nya benar, toh Pak Satpam itu nanya RT berapa, berarti kemungkinan ada beberapa RT, tidak tahu Blok dan Nomornya juga, Gak mungkin kalau kirim pakai JNE dengan alamat gak lengkap gitu. Kalau mau pakai Go-send berarti nanti ketahuan kalau dari aku kan kalau pakai JNE aku bisa manipulasi nama pengirimnya. Aku bilang sama Leni aku akan cari tahu lagi alamat lengkapnya dengan waktu yang mepet.
“Kalau mau cari tahu lagi harus jalan kaki, celingak celinguk juga enak kan bisa sepik main hp” Kata Leni
“Berarti nanti motornya ditinggal dong” Kataku
“Ah gue tahu, mau gak mau kita harus kaya cabe-cabean bonceng tiga”
“Tapi kapan, yaudah deh”

Ah kenapa aku bisa seceroboh itu. Jujur, aku malas sekali untuk mencari tahunya kembali, rasanya aku ingin cepat-cepat hal ini berlalu. Saran Leni memang satu-satunya saran yang tepat, pakai jasa Go-send dan kasih tahu jalannya dan tak lupa mengganti nama pengirimnya. Leni pun menyarankan aku memakai nama Aan. Ada sedikit perdebatan soal ini.
“Tapi kan kalo pakai Go-send ketahuan yang ngirim gue” kataku
“Ya kan tinggal ganti aja” Balas Leni
“emang bisa?”
“Bisa kayanya”
“Terus gue ganti jadi siapa?”
“Aan aja”
“Ih kok Aan, masa nama cowok”
“Aan cewek ish, tetangga gue namanya Aan”
“temen gue Aan tapi cowok”
“ya udah kan Aan, Agus and Nilam hahaha”
“Sue lu”
“Lagian juga nama cewek yang sama Mirda namanya Aan (ini lupa, aandriani mungkin) hahaha”
“Hahaha najong banget lu, inget banget sama itu cewek hahahaha, terus nanti nama barangnya apa? Gak mungkin gue bilang kado”
“Ya udah charger laptop atau gak sparepart aja”
“Ngaco lu”
“Ya udah bilang aja baju”

Singkatnya seperti itu percakapan aku dengan Leni. Hari senin aku membawa kadonya dan kertas kado, yaaa untuk dibungkus oleh Leni karena aku gak bisa bungkus kado. Kalo diingat kadonya bukan seperti kado tapi seperti paketan bom. Lapisan pertama dibungkus dengan kertas kado batik, lapisan kedua kertas kado terbalik dan ketiga dengan kalender. Ya inginnya aku saat itu, agar tidak ketahuan kalau itu kado jadi pakai kalender namun akan terlihat bahwa itu kado ketika lapisan terakhir. Nah ini yang membuat seperti paket bom, kadonya dilapisi dengan solasi coklat di keseluruhan, aku dibuat geleng.
“Kan kata lu biar gak ketahuan, ya udah disolasiin aja lagian biar gak bikin repot abang gojeknya kalo hujan” Kata Leni.

Tiga puluh Agustus 2016
24 tahun sudah dia bernafas di dunia ini. Anak ketiga dari 4 bersaudara. Laki-laki yang hampir setiap hari pulang-pergi Depok-Jakarta. Laki-laki yang kini masih menjadi doaku dengan doa yang sudah berbeda. Kamu mau tahu apa doaku? Ya, aku mengubah doaku “Jika memang dia jodohku dekatkanlah jadikan aku sebagai penyempurna agama untuknya, jika memang tidak jauhkanlah beri aku kelapangan hati untuk mengikhlaskan” menjadi “Aku ikhlas jika dia memang bukan jodohku, berikanlah dia kebahagiaan dengan siapapun dia bersama”. Naif bukan? Tapi itulah kenaifan yang selalu aku lakukan. Dan semoga aku dan dia menjadi tetangga syurga. Hari itu, akhirnya aku melakukan niatku. Sebelum jam 7 pagi aku sudah rapih, aku melakukan order Go-send. Ah kesialan apa ini. 5 Menit aku menunggu namun tak ada juga yang menerima orderku. Aku ulangi namun tak ada hasil juga. Aku takut telat kerja dan aku takut jika memang harus aku yang memberinya langsung. Namun akhirnya di orderku yang ketiga ada yang menerima orderku juga. Aku pun berangkat, pas banget ketika aku sampai gang, drivernya juga sampai. Aku jelasin arah ke rumahnya. Aku bilang “nanti bapak dari depan perumahannya ikutin jalan aja, ada gerbang, lurus mentok belok kanan. Bapak tanya aja rumahnya Bapak Cecep, rumahnya di sebelah kanan gak jauh dari belokan warna biru yang lagi direnovasi, kalo gak bapak tanya aja satpam bilang Agus Mulyadi yang kerja di Telkom, anaknya Bapak Cecep”. Sahut driver itu “tadi bapak siapa?”, kataku “Bapak Cecep”. Aku pergi dengan perasaan yang was-was. Sesampai di kantor, aku cek orderku dan completed, huh lega. Hari itu aku lalui seperti biasanya, sesekali aku liat whatsapp nya untuk memastikan dia sedang sibuk atau tidak, baru dilihat ternyata, jam 9 malam saat itu. Sudah jam 9 malam namun tak kunjung ada pesan darinya, seharusnya dia sudah di rumah. Ah, bukan maksudku ingin dapat pesan dari dia, malah aku berharap dia tak pernah mengucapkan apapun. Aku yakin dia tahu itu aku meski aku tak menyebutkan namaku. Aku menyelipkan sebuah surat di kadonya, seperti ini:

“Dear Sehun,
sebelumnya aku minta maaf bukan bermaksud untuk lancang, aku hanya ingin melaksanakan niatku. Aku ingin kado ini sampai di orang yang bersangkutan. Fyi, aku sudah menyiapkan hadiah ini dari jauh-jauh hari bahkan jauh sebelum kakak mengubah status whatsapp kakak dari at work menjadi nama seorang ukhti. Aku hanya ingin kasih kado, just itu no more.
Waktu takkan mengulang masanya
diantara detik demi detik yang terus berdentang
segerakanlah shalatmu, pertanggung jawabkan hidupmu
jadikan dirimu penghuni syurga-Nya dan syurga bagi masa depanmu

“Selamat ulang tahun”

Agustus 2016
Regrads,

Park Shin Hye”

Kurang lebih seperti itu, aku pun menulis itu minta pendapat terlebih dahulu. Dan dear sehun itu usul dari Leni, yaa karena dia itu tahu kalau aku suka dengan Sehun dan di email yang dia balas pun dia mengatasnamakan Sehun. Dan Park Shin Hye itu, yaa waktu itu dia pernah bilang kalau dia suka aktris tersebut, daripada aku harus menyebut nama Stella Cornelia ex JKT48. Dini hari ketika hari sudah berganti tanggal dia mengirim pesan whatsaap, padahal aku terbangun saat itu namun aku tak berani untuk melihatnya. Paginya aku baca, dan itu adalah satu-satunya chat yang masih aku simpan, isinya seperti ini:

“Hai ade makasih yaa, udah sampai dan udah diterima paket atas nama aan nya.
Maaf ya pas kemaren kamu ulang tahun kakak gak ngasih apa-apa hehe
sekali lagi makasih yaa kado dan do’a nya”

Ucapin ulang tahun aja enggak, gumamku. Namun aku tak membalasnya, ketika kupikir ulang tak seharusnya aku bersikap seperti itu. Namun semua yang aku lakukan itu adalah saran dari Leni, aku tak terlalu memikirkan bagaimana dia menganggapku nanti. Kalaupun sekarang aku menjawab “iya sama-sama” rasanya sudah tak penting lagi, sudah sebulan berlalu.

Dan ini, hal ini yang buat aku masih bertanya-tanya. Apakah kontakku diblock olehnya atau bagaimana. Sehari setelah dia ulang tahun, tiba-tiba saja kontak dia di whatsappku blank. Tak ada foto dan tak ada status. Setauku, dia memang pernah tak ada foto namun statusnya ada dan ketika aku menanyakan pun dia bilang memang sengaja tak pakai foto. Aku ingin chat dia namun ragu sampai akhirnya jam 11 malam aku lihat kontaknya lagi, dan telah berubah. Dia memperbaharui profilnya, terpajang foto seorang pria memegang kue digandeng seorang wanita yang tingginya sebahunya memegang balon berbentuk kue ulangtahun dengan latar belakang dinding dengan balon HBD 24 dengan beberapa balon berbentuk hati Aku mencoba mengerti, mungkin aku benar diblock olehnya dan saat itu dia sedang ada surprise. Dia takut aku mengacaukannya dengan pesan berantai atau semacamnya jadi dia memblock kontakku sementara. Namun selang beberapa hari kontak dia kembali blank, dan cukup bertahan lama, kurang lebih selama seminggu. Aku tak tahu apa alasannya namun mungkin itu untuk kebaikanku juga. Ada beberapa praduga saat itu, sebelum akhirnya aku yakin dia benar-benar block aku.
Pertama, dia logout akun dan login dengan nomor yang berbeda.
Kedua, dia memakai privasi hanya untuk kontak, sehingga yang tak ada di kontaknya tak dapat melihat, itu artinya nomorku tak disimpan.
Ketiga, dia menghapus akun.

Namun setelah aku mencoba menelaah, aku logout akun lama ku dan login dengan nomor yang lain, akun lamaku masih ada foto dan status yang sama seperti terakhir kali. Ketika Leni kirim pesan ke nomor lamaku pun masih bisa kuterima ketika aku login kembali. Nomorku yang lain ini pernah aku pakai di whatsapp laptop, setelah login kembali, statusku berubah seperti pertama kali membuat whatsapp. Sedangkan dia, ketika dia muncul kembali di kontak tanggal pembuatan status pun masih sama 2 Agustus 2016. Lalu aku coba Leni save nomor dia, dan ternyata kontaknya terlihat untuk publik, artinya nomorku pun tak dihapus. Ah tiba-tiba aku memikirkan iyong. Iyong itu kontaknya juga blank, aku tak pernah berpikir bahwa aku diblock olehnya, aku hanya berpikir dia logout. Namun ketika aku ingat, pesan terakhirku hanya ceklis satu, dan ketika kontaknya kembali terlihat, pesanku masih sama ceklis satu sedangkan Leni pernah mencoba ketika aku logout dia chat hanya ceklis satu dan ketika aku login terkirim padaku. Ah memikirkannya saja aku pusing. Sekarang aku yakin bahwa aku pernah diblock oleh dia.

Aku tak tahu untuk alasan apa dia melakukannya. Dan hal ini membuat aku seringkali bertanya-tanya pada diri sendiri. Aku enggan untuk bertanya padanya. Untuk kamu yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini, mungkin setelah kamu membaca ini kamu bisa memberi aku jawaban sebenarnya. Dan mungkin dengan tulisan ini kamu pun jadi mengetahui jawaban atas pertanyaan yang kamu gumamkan dalam hati. Karena aku yakin, separuh dari pikiranmu ingin mengetahui darimana aku mengetahui alamat rumahmu dan entah apapun itu, dengan tulisan ini aku memperjelas apa-apa yang mungkin kamu duga. Kadang aku merasa bodoh telah bertindak sejauh itu. Hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang lelaki namun aku melakukannya. Temanku sampai ada yang berkata “Bodoh banget itu laki-laki kalau tahu gimana ada cewek yang sampe segitunya”. Seharusnya aku bersikap sewajarnya saja atau lebih baik mencintai diam-diam. Aku tak apa kamu tak meresponku, tetaplah bersikap seperti ini karena aku pun sudah bisa menerima dan terbiasa dengan keadaan sekarang. Kamu masih tetap jadi teman sekaligus kakakku, namun bedanya aku mencoba menjadi seorang teman dan adik yang lebih mandiri. Aku tak ingin lagi merepotkanmu dengan pertanyaan-pertanyaanku, aku tak ingin lagi kamu menjadi tempat dimana aku berkeluh kesah. Aku menyadari, semua memang takkan sama seperti awal bahkan hal ini seharusnya terjadi sejak Desember lalu namun aku yang mencoba menahanmu, tetap menjadikanmu tempat yang tepat untuk aku menuju. Mungkin munafik jika aku bilang aku bahagia kamu sama dia, tapi aku memang bahagia, aku tak lagi khawatir tentang kebahagiaanmu bersama makhluk bernama perempuan. Perempuan itu memang pantas untuk kamu cintai sebagai perempuan. Dan aku akan selalu mendukungmu, dan mendoakanmu dengan siapapun sekarang atau nanti kamu bersama. Jika aku boleh meminta do’amu, doakanlah aku untuk beristiqomah setelah masa-masa yang sudah aku lewati demi makhluk benama laki-laki, do’akan aku untuk menjadi muslimah sejati dengan kesederhanaan jilbabnya

Regards, Nilam

Cerpen Karangan: Nilam
Di Bawah Langit Agustus (Part 2)

Di Bawah Langit Agustus (Part 2)

Judul Cerpen Di Bawah Langit Agustus (Part 2)

Home 100 Cerpen Terbaru Cerpen Pilihan Cerpen of The Month Top Authors Film Cerpenmu Kirim Cerpen Kontak Kami
Di Bawah Langit Agustus (Part 2)

Judul Cerpen Di Bawah Langit Agustus (Part 2)
Cerpen Karangan: Nilam
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Islami, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 27 February 2017

Aku dekat dengan lelaki lain namun aku tak bisa memberi hatiku untuknya, niatku untuk melupakan malah aku mengecewakan orang lain. 11 April 2016, tepat hari dimana aku kehilangan kakak pertama bapakku. Display pictures BBMku terpampang wajah seorang lelaki yang sebaya denganku bahkan 6 bulan lebih muda dariku, lelaki yang kupanggil “Ian”. Siang itu tiba-tiba dia mengirim pesan di BBM setelah aku membuat status “Rest in Peace, kita sekeluarga InsyaAllah ikhlas :’)”. “siapa?” kata dia, maksudnya siapa yang meninggal. Aku chatting sama dia sampai akhirnya aku tak membalas. Aku canggung saat itu, terpampang foto lelaki lain padahal aku saja masih belum move on darinya dan Ian itu memang bukan siapa-siapa aku, aku memasang fotonya pun hanya untuk seru-seruan dan aku memang sedang dekat dengan dia meski tak lama setelah itu kami bertengkar hebat. Dan pada akhirnya aku sadar mencoba jatuh cinta pada orang yang salah itu move on yang gagal.

April, Mei, Juni, Juli, dan pada akhirnya Agustus telah datang. 29 hari mengumpulkan keberanian. Ya, awalnya aku kira di 29 hari yang tersisa aku dapat mengumpulkan keberanian dengan matang namun di hari pertama bulan Agustus pertahananku telah dihancurkannya. 13 Juli 2016, aku memesan jam tangan di olshop. Jam tersebut bukan untukku melainkan untuk dia, untuk ulang tahunnya nanti 30 Agustus. Aku juga tak tahu kenapa aku masih saja memikirkannya, aku ingin memberinya hadiah sekalipun aku tak tahu bagaimana cara memberinya. Moment ini yang mungkin akan jadi unfogettable moment, moment dimana karirku sebagai secret admirer kian menaikkan levelnya.

Di bawah langit Agustus, ini adalah kisahku selama satu bulan untuk melakukan misi terakhirku. Bulan dimana hatiku diuji, patah berkali-kali, dan aku yang dibasahi oleh air mata.

Satu Agustus 2016.
Hari senin yang menjadi MON-ster DAY, hari itu aku mengambil cuti kerja. Aku memainkan hp-ku dan membuka akun line. Aku membuat status “29 hari mengumpulkan keberanian, mungkin menjadi keberanian terakhirku mencintaimu setelah itu aku akan memberanikan diri untuk meninggalkanmu”, lalu aku membuka whatsapp, aku sedang lihat-lihat kontak dan aku seperti mendapat sambaran petir entah darimana asalnya. Mataku tertuju pada salah satu nama di kontakku, kontak yang selalu aku tunggu-tunggu pesannya meski untuk sekedar say hi. Sungguh betapa terkejutnya diriku hingga aku meneteskan air mata. Dia yang satu tahun ini aku sayangi dengan tulus, yang selalu aku rindukan, yang selalu menjadi doa yang aku aminkan, yang aku curhatkan di sepertiga terakhir malamku, yang aku yakinkan di shalat dhuha-ku, yang menjadi rutinitas doa di shalat fardhuku bahkan yang aku pilih di istikharahku. Untuk pertama kalinya dia menulis nama seorang ukhti di status whatsappnya. Aku kaget ketika aku lihat “Nisa’s” terpajang di statusnya. Saat itu aku merasa orang yang tersakiti namun tak dapat menyalahkan siapapun termasuk dia atau perempuan itu, menjadi haknya untuk dekat dengan siapapun karena aku hanyalah seseorang yang mengaguminya dari kejauhan, bahkan jauh dari hatinya.

Sewajarnya orang yang sedang patah hati, aku menangis terisak sampai akhirnya aku sadar, ini adalah salah satu jawaban Tuhan atas do’aku “Jika memang tidak berjodoh jauhkanlah aku dengannya, berikan aku kelapangan hati untuk mengikhlaskan”. Dan selang beberapa menit aku hapus status yang aku posting di line, aku takut dia membacanya walau kurasa dia sering membaca timelineku yang tak lain tentang dia. Dan aku kembali meyakinkan diriku bahwa apa yang aku lihat nyata adanya atau mataku tak mulai rabun. Ternyata memang ini sudah jalannya, keberanianku lebih cepat dari yang aku kira, aku harus berani meninggalkannya di hari pertama setelah begitu lama aku menunda.

Hatiku patah berkali-kali, tahu kenapa? Dia mengganti statusnya 2 hari sebelum hari itu, dan kau tahu? 2 hari sebelumnya adalah hari dimana aku menemukan sajadah untuknya, sajadah yang harus kubeli hingga 2 kali. Niatku memberinya sajadah dan jam tangan. Mungkin di antara kalian sudah bisa menebak apa makna yang terkandung. Iya, aku ingin bagaimanapun kesibukannya, iya tak boleh lupa kepada yang menciptakannya. Perihal sajadah, aku berniat untuk mencari warna merah kombinasi hitam, warna yang sama seperti kemejanya dalam foto yang sempat menjadi home screen hp-ku.

Sabtu itu aku pergi di bawah langit yang cerah dan teriknya matahari, aku lelah. Mencari-cari sajadah yang aku cari tak kunjung datang, sajadah dengan bahan yang dapat dibawa kemana-kemana. Ah ketemu juga! Namun tak seperti yang aku inginkan, tak ada warna yang aku cari namun saking lelahnya diriku, aku membeli yang menurutku bagus saja yang penting bahannya sesuai. Aku mencoba mencari mukena. Niat awalku, aku ingin menghadiahkan adiknya mukena. Entah darimana keinginan itu. Namun aku urungkan, selain tidak dapat, aku juga bingung bagaimana memberinya, toh aku saja tak tahu bagaimana kado untuk kakaknya bisa sampai. Di saat aku mencoba mencari mukena, aku menemukan sajadah yang aku inginkan. Ah sial! Sajadah merah kombinasi hitam, dan apa yang terjadi? Iya, aku membelinya juga. Kadang aku suka terkekeh sendiri jika mengingatnya. Betapa niatnya diriku padahal dia bukan siapa-siapa. Refleksku yaitu aku membuat status di BBM “Mungkin ini caraMu cemburu padaku” ada juga kutulis kutipan dari novel Boy Chandra “Ketika aku tak lagi bisa mengumpulkan keberanian untuk mencintaimu, aku akan mengumpulkan keberanian untuk meninggalkanmu”. Aku tersadar, mungkin Allah sedang cemburu padaku karena aku lebih mencintainya daripada Dia, mungkin Allah sedang cemburu karena disetiap shalatku masih terbayang wajahnya. By the way, novel Boy Chandra yang berjudul Catatan Pendek Untuk Cerita yang Panjang itu novel pemberian Leni sebagai kado ulangtahun, dan tepat aku membuka novelnya di bagian judul “Mengumpulkan Keberanian”, aku kira maksudnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan namun ternyata sebagai pertanda bahwa aku memang harus berhenti menyayanginya.

Masih di tanggal satu Agustus, siang itu aku ke Indomaret untuk belanja bulanan dan aku tidak membawa handphone. Tibanya aku di rumah ada panggilan tidak terjawab dari kantor yang sudah kuduga pasti Leni. Sekitar pukul tiga sore, dia meneleponku lagi dan aku jawab. Dia menanyakan bagaimana keadaanku yang pasti dia tahu sedang tidak baik-baik saja. Dia mencoba menghiburku, dan yang buat aku geli ketika dia bilang “Mungkin aja Nisa itu singkatan Nilam sayang atau enggak Nilam Agus tapi s sama a nya kebalik”. Ya Tuhan…. bagaimana bisa dia berpikir seperti itu hahahahaha. Namun jika boleh jujur, aku saat itu memang rapuh namun sebagian diriku memaksaku tuk tegar, dan aku masih belum mempercayai bahwa dia sudah pacar, sampai hari itu dia masih jadi do’a ku. Hingga esoknya..

Dua Agustus 2016.
Tiba aku di kantor, Leni langsung bertanya bagaimana keadaanku. Ya, aku baik-baik saja, kali ini aku tak berbohong. Meskipun aku bingung bagaimana kado ini sampai di tangannya, apakah aku tak terkesan tak tahu diri bila masih ingin memberinya kado meski aku tahu kini dia punya perempuan yang disayanginya selain Mama dan Adiknya. Sebelumnya aku bertanya sama Leni “Ini kado mau digimanain, dia udah punya pacar, gua buang aja kali ya, gua gak mungkin simpen ini”, dan Leni menjawab “Ya gak gimana-gimana, kasih aja. Lo kan emang udah niat ngasih bukan dengan maksud setelah lo kasih ini dia bakal luluh hatinya kan”. Ah, aku bingung! Aku coba untuk melupakan masalah kado, yang terpenting saat itu adalah bagaimana aku menenangkan hatiku sendiri. Namun hatiku dibuat patah lagi olehnya, entah patah yang keberapa kali. Malam itu, sekitar jam 7 malam (seingatku) aku membuka whatsaap dan aku melihat-lihat kontak. Bukan, bukan aku yang memang kepo namun aku memang suka melihat-lihat apa yang ada di kontakku entah teman-temanku mengganti foto atau status. Terlihat ada yang berbeda di kontak dia “lagi”. Iya dia mengganti statusnya menjadi “AnnisaRossdiena”. Yang aku lakukan saat itu? Aku capture kontak dia dan aku kirim ke Leni dan Fifi, ya mereka dua sahabatku. Dan aku langsung buka twitter, aku cari akunnya hingga ketemu akun instagramnya dan aku lihat postingannya. Yang aku pikirkan saat itu? Aku lega, aku bersyukur. Aku bersyukur karena orang yang aku sayangi mendapatkan perempuan baik dan In sha Allah Sholehah. Aku sangat senang ketika aku mengetahui bahwa perempuan yang beruntung itu menggunakan hijab. Dan ketika aku lihat lagi foto lainnya, terlihat dia orang yang pintar dari captionnya. Alhamdulillah. Memang seperti itu perempuan yang seharusnya dia dapatkan. Aku banyak menemukan info-info tentang perempuan itu, ternyata mereka berdua satu almamater. Sama-sama bekerja di Jakarta meski beda tempat. Aku tak tahu ada apa dengan angka 2, aku melihat statusnya itu dibuat 2 jam lalu. Tanggal 2 di 2 jam lalu di umurku 20. Ah! Sungguh aku menyukai angka 2 namun kali ini aku dibuat gila dengan angka 2. Perihal yang aku cari akun itu benar perempuan itu atau tidak, aku sangat yakin itu dia. Ternyata memang benar dia. Setelah hari itu….

Enam Agustus 2016
Tepat malam minggu, sebelumnya ada perbincangan aku dengan Leni “Gue malam minggu mau main dong” kataku. “Kemana?” balasnya. “Ke rumah anggi nonton korea hahaha” kataku lagi. Dia menjawab “Iyalah orang mh kalo malem minggu berdua sama pacarnya” sindir dia. Aku mengerti maksudnya bukan ke aku tapi tentang “dia” dan “perempuan itu”. Yaa tapi benar kejadian. Malam itu aku ke rumah anggi, aku membawa handphone, dataku pun on namun aku jarang melihat handphone. Hanya sesekali membuka BBM dan merefresh recent updates dan scroll down sebentar. Sehabis pulang dari rumah Anggi, aku main handphone dan buka BBM, aku lihat ru. Entah hatiku patah atau apa, namun kuyakini aku tak sakit melihatnya. Aku melihat salah seorang dari kontakku mengganti foto dengan pacarnya yang memakai hijab pink, Ya orang itu “dia”, di ru paling atas setelah aku refresh. Aku spontan langsung like fotonya dan aku capture dan aku kirim ke Leni dan Fifi. Kata Leni “Ini persis kaya Mirda dulu, sakit gak lam?”, dan aku membalas “Enggak kok biasa aja, itu kan artinya gak ada hati yang lagi dia jaga selain cewek itu lagian udah gue bilang mungkin ini cara Allah jawab doa gue kalo emang gak jodoh jauhkan beri kelapangan hati untuk ikhlas”, dan mungkin emang iya, aku pun tak melihat wajahnya di istikharahku yang kulakukan 7 malam itu. Aku selalu sempatkan waktu di sepertiga malamku untuk solat, dan ketika idul fitri pun dia orang yang pertama kali aku ucapkan di waktu tahajudku. Saat idul fitri aku memposting di LINE, mungkin dia sadar kalau itu buat dia, malamnya dia kirim pesan ke aku mengucapkan selamat idul fitri, aku emang sengaja gak mau chat duluan. Dan seninnya dia mengganti foto whatsappnya dengan foto bersama perempuan itu dengan gaya yang berbeda.

Dua hari setelah itu, aku coba lihat lagi akun instagram cewek itu dan diprotect, entah sejak kapan, aku rasa karena aku like Display Picture dia dan dia suruh cewek itu protect akun, kemungkinan besar seperti itu. Hari-hariku selama Agustus berjalan tak ada yang istimewa, bulan yang awalnya aku tunggu-tunggu menjadi bulan yang sangat ingin aku cepatkan berlalu. Bahkan keinginanku untuk memberinya kado pun hilang gitu saja, tak ada hasrat namun Leni yang mengomporiku. Aku juga bingung bagaimana kasihnya. Bilang sama orangnya langsung pasti nolak, kirim ke rumahnya gak tau alamatnya, bahkan aku gak kenal sama sekali dengan temannya. Namun aku mencoba untuk mencari tahu lewat twitter adiknya karena twitter dia sekarang digembok, karena tahu aku suka stalking mungkin. Aku tak menemukan alamatnya namun aku menemukan petunjuk. Ada satu mention adiknya dengan seorang cowok yang kuingat dia adalah kakak kelasku ketika SMP “itu kan bocah RT 6 banyak hahaha”. Aku menyimpulkan alamatnya itu RT 6. Lalu aku stalking twitter teman adiknya itu, syukurlah ada postingannya yang upload foto SIM C, tertera RT 3/2. Aku menyimpulkan alamatnya RT 6/2. Setidaknya aku sudah lega mempunyai beberapa kemungkinan. Ketika aku pulang kerja, aku memastikan apa benar jalan yang pernah dia lewati itu benar RW 2 atau bukan, dan ternyata di gapura terpanjang tulisan RW 02, ah senangnya, semakin dekat dengan tujuan. Yang menjadi permasalahannya bagaimana mengetahui alamat pastinya. Sebenarnya aku ingat-ingat lupa, ketika aku jenguk dia di RS, aku sempat bertanya rumahnya di mana, Ah aku harus mengandalkan ingatanku setahun lalu. Dan aku takut salah dengar waktu itu. Yang aku ingat, dia tinggal di perumahan yang letaknya setelah kuburan dan sebelum rumah susun dan perumahannya bukan perumahan yang pernah aku tanyakan ke dia. Bahkan aku tak yakin apa benar yang aku dengar itu “perumahan”. Hingga saatnya aku benar-benar merasa secret admirer.

Cerpen Karangan: Nilam