Showing posts with label Cerpen Nasihat. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Nasihat. Show all posts
Dari Culun ke Ganteng

Dari Culun ke Ganteng

Judul Cerpen Dari Culun ke Ganteng

Hendry namanya. Anak kedua dari 2 bersaudara. Kakaknya Herlina atau disapa Herli. Hendry kelas 4-1 SDIT Cahaya Islami. Ia Hendry anak yang selalu juara 1 setiap kelas dan semester. Hendry memang multitalenta. Ia anaknya culun/cupu. Bagaimana tak, memakai kawat gigi, kacamata super teebaaal sekali. Tetapi tak membuat dia dijauhi teman maupun guru. Tapi, ya ada tapi, ada anak yang suka mengejek Hendry bahwa ia cupu. Ia Mr. Handsome, Josh, teman sekelas Hendry. Bagaimana tak mendapat gelar Mr. Handsome? ia disukai semua cewek di sekolah itu, tapi Josh orangnya sombong. Hendry mempunyai 5 sahabat, yaitu ada Summer (baca: samer) yang centil tapi dikenal dengan anak orang kaya yang dermawan, Gadisy yang sedikit tomboy namun jago dalam segala bidang yang berbahasa Inggris, Navita yang suka memecahkan misteri (memang cita-citanya detektif) namun selalu juara 2, Ivon (baca: Ayfon) yang sering menjahili temannya namun pintar dalam hal teka-teki, dan Toby yang pintar membuat alat namun agak pendiam. Mereka mau bersahabat dengan Hendry dikarenakan 2 faktor, pertama orangtua mereka bersahabat, kedua mereka menyukai Hendry karena ia orangnya sangat multitalent kecuali cupu.

Pada suatu hari, kebetulan ini hari sabtu. Pagi hari, pukul 5:30 WIB…
Usai sarapan, Hendry pamit pada Mami dan Papinya untuk berangkat ke sekolah. Sama juga dengan Herli yang masih kelas 1 SMPIT. Mereka diantar oleh sopir pribadi keluarga Irwansyah, pak Yo. Memang keluarga Hendry bermarga Irwansyah. Pertama, ia ke sekolahan Hendry. Tak lama, sampai di SDIT Hendry. Hendry pamit ke pak Yo dan Herli. Ia turun dari mobil. Ternyata Summer, Navita, Ivon, Gadisy dan Toby di gerbang. “Hai! maaf lama,” sapa Hendry. “Enggak lama, kok Ndry!” sahut Summer dengan gaya centilnya. Mereka masuk kelas. Tiba-tiba, Josh bersama 2 dayang ceweknya, Terissa dan Syntia menghampiri rombongan Hendry. “Hoy! Mr. cupu! gue tantang loe ikut kontes fashion show Cewek dan Cowok! Kita taruhan saja, kalau loe menang, gue beri gelar gue ke Loe! kalau gue menang, loe and friend loe harus tunduk ke gue dan dayang gue!” jelas Josh. “Terima nggak loe Mr. cupu!?” tantang balik Terissa dan Syntia. “Ok!! deal,” ujar mantap Hendry. “Tapi di mana? jam berapa?” tanya Navita sinis ke Josh. “Di mall Happy Shopping, jam sembilan pagi!” jawab Josh lalu berjalan menghindari Hendry.

“Yakin kamu, Ndry ikutan begitu?!” ucap Ivon penuh tanya. “Iya Ndry! yakin kamu?” timpal Gadisy. “Aku nggak yakin,” ujar Hendry. “Tak apa! ini kita semua yang urus! nanti kita nginap ke rumahmu, ya… Kan, orangtua kita keluar kota 3 hari!” celetuk Summer. Memang orangtua mereka kerja di tempat sama.

Setelah mengambil keperluan di rumah, mereka menuju rumah Hendry. Rumahnya kosong karena Herli menginap di rumah temannya untuk pajamas party. Mereka pun ke Mall Happy Shopping untuk membeli baju dan lain lain. Ia mempersiapkan dengan matang. Summer yang jago dalam hal Fashion merencanakan semuanya. Hari makin larut. Mereka putuskan untuk tidur.

Kring… Kring… Kring… Jam weker Hendry berbunyi saat Azan subuh. Mereka bangun, merapikan kasur, wudhu, dan sholat. Mereka mandi secara giliran. “Wah, kamu malah ganteng dari Josh!” puji Ivon. “Iya, kamu malah sangat ganteng!!” puji tulus Navita. “Tapi, kacamatanya, gimana?” keluh Hendry. “Kami pakaikan cont lens coklat!” jawab Summer. Lalu memakaikannya di mata Hendry. “Ya Allah!! kamu lebih dari cakep!” puji Navita lagi. “Ini berkat Summer. Thanks Mer!” Ucap Hendry. “Your, Welcome,” jawab Summer. Summer juga berdandan dan mengenakan gaun lengan panjang dan jilbab cantik sekali plus olesan make up natural di wajahnya. Katanya, Summer mau ikutan. Teman lainnya hanya menyemangati mereka.

Sudah pukul setengah sembilan. Mereka diantar oleh pak Yo. Sampailah mereka. Mereka menuju ruangnya. Summer dam Hendry memdaftar dulu. “Nama saya Muhammad Hendry Putra Irwansyah. Kelas 4-1 SDIT cahaya Islami. Umur sepuluh tahun,” kata Hendry pada mbak Neny, selaku mendaftar calon-calon fashion show. “Saya Putry Summer Gracecie Hista, kelas 4-1 SDIT cahaya Islami. Umur sepuluh tahun,” kata Summer. Mereka duduk di kursi peserta Fashion show. Yang pertama perempuan dulu. Summer menampilkan gayanya yang khas, yaitu centilnya. Ia terbiasa ikut lomba tersebut dan memakai High heels. Lalu yang cowok. Hendry menampilkan gayanya yang cool. Memang ia diajari Summer.

Tak terasa, tiga puluh menit lagi pengumuman pemenang. Rombongan Hendry makan di Kenthuki Chikens Delicius yang tak jauh dari tempat lomba Fashion show. “Gaya kalian tadi sungguh bagus,” celetuk Ivon seraya menyuapkan nasi dengan ayam goreng kemulutnya. “Bener kata Ivon, Ndry, Mer!” timpal Gadisy. “Memang!” seru Navita. “Memang kenapa, Nav?” tanya Summer dan Hendry kompak. “Memang Summer miss Fashion show!” jawab Navita. “Bener itu Navit!” timpal Gadisy seraya meminum susu dinginnya.

Usai makan, mereka bayar dan menuju ruang lomba. “Ok! terima kasih telah masih menunggu disini!Ok pengumuman juara lomba dari 1-3 yang cewek dulu, ya… Juara 3 diraih oleh Erlinda Zalzabilla atau Erli kelas 3-3 Sd Permai III… Juara 2 diraih oleh, Indah Savitria Agustina atau Indah kelas 5A Sd Berlian bangsa… Dan, juara satu diraih oleh… PUTRY SUMMER GRACECIE HISTA ATAU SUMMER KELAS 4-1 SDIT CAHAYA ISLAMI!!!” seru Mcnya. Summer senang sekali. Ia maju dan diberi hadiah berupa uang 5 juta, alat tulis gambar Frozen, penghargaan, piala, dan mahkota yang diletakkan di kepala Summer yang tertutupi jilbab.

“Sekarang yang cowok. Juara 3 diraih oleh Naufaldy Agus atau Faldy kelas 6-7 SDIT Permata Islami… Juara 2 diarih oleh, Ahmad Abdullah atau Ahmad kelas 6 Sd Pita Nusa… Dan, juara 1 diraih oleh, Joshuanto Bagustian atau Josh kelas 4-1 SDIT Cahaya Islami!!!” seru Mc. Sebelum Josh maju dengan sombong di depan Hendry, “Maaf, saya keliru! Juara 1 diraih oleh Muhammad Hendry Putra Irwansyah atau Hendry kelas 4-1 Cahaya Islamia!!” ralat Mc. “Maju, Ndry!!! Maju Ndry!!” seru temannya. Hendry maju dan diberi hadiah sama dengan Summer cuma alat tulisnya gambar Spider man.

Sejak saat mengikuti lomba tersebut, Hendry mendapat gelar Mr. Handsome and Smart dan Summer Miss. Fashion Show. Siapa yang menjadi Mr. cupu sekarang, tentunya JOSH!!! Hahaha… Kesian, Josh. Nah, pelajarannya, jangan pernah mengejek dia dari penampilannya walau cupu. Bisa saja ia setelah didandan terlihat lebih cantik atau ganteng. Dan, kalian juga harus berteman dengan orang cupu. Siapa tahu dia pintar, tinggal nyontek aja.. Haha… Nah, bagi yang cupu, jangan pernah marah yang ngejek kalian cupu. Kan, setiap manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan. Sebaik-baiknya orang pasti mempunyai kejelekan. Dan sejelek-jeleknya orang pasti mempunyai kebaikan. So, contohlah teman Hendry, ya…

Cerpen Karangan: Alyaniza Nur Adelawina
Facebook: Alya Aniza
Cerita yang Menyeramkan

Cerita yang Menyeramkan

Judul Cerpen Cerita yang Menyeramkan

Setiap orang punya hak untuk percaya bukan? Aku harap kau juga percaya dengan kisah yang akan aku sampaikan ini. Tentu sebelum kisah ini kuceritakan kau harus tahu darimana kisah ini berasal. Aku dapat kan kisah ini dari ayahku dan ayahku dapat dari ayahnya dan begitu seterusnya. Namun aku tak berniat membuat kau takut akan kisahku ini. Aku dulu juga takut pada kisah ini, saat itu aku masih anak-anak, apa aku salah jika aku takut?.

Dulu ayahku pernah bercerita, dunia tempat tinggal kita ini akan hancur. Sudahlah kau boleh menganggap cerita ini hanya bualan semata, tapi berbeda denganku yang saat itu masih anak-anak. Kau pasti bisa memahami diriku bukan. Bolehkah aku mengisahkan hal ini pada kau? Aku anggap kau setuju, setidaknya kau dapat sebuah amanat dari bualan orang tua yang turun temurun dikisahkan.

Langit yang biasa kau pandang, indah bukan? Sungguh sangat indah ciptaan Tuhan yang satu ini. Berhiaskan bintang-bintang yang bersinar, sungguh elok ciptaan Tuhan. Banyak lagu yang diciptakan hanya untuk menyanjung Langit bukan? Tapi hal yang tak pernah terpikirkan olehku dan juga oleh manusia lainnya mengapa kita menyanjung ciptaan Tuhan dan bukan Tuhan Yang Maha Pencipta?

Kau tahu, jika kau saja yang melihat Langit yang mulai tua saja tersanjung, bagaimana rasanya kau menjadi si Bumi tua bangka yang hanya dapat melihatnya tanpa pernah bisa memilikinya? Kau tak perlu tertawa dengan apa yang barusan aku katakan, bayangkan saja dirimu sebagai bumi, kau diciptakan untuk berdampingan dengan Langit, namun kau tak bisa memilikinya, apa kau sekuat si Bumi tua bangka?

Mungkin kau kira ini hanya dongeng yang tak masuk akal. Tapi bagi anak berumur tujuh tahun, ini bisa jadi sebuah imajinasi yang bahkan bisa membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tentu saja, bagi anak yang memiliki imajinasi dimana ia berpikir bahwa si Bumi tua bangka sedang jatuh cinta pada Langit yang elok.

Terkadang hidup aneh bukan? Kau bisa melihat banyak orang melupakan hak, kewajiban dan tanggung jawabnya. Ketika hasrat yang sudah ada di dalam otakmu, kau akan melakukan segala cara untuk memenuhi hasrat tersebut bukan? Begitu juga dengan si Bumi tua bangka tersebut, ia terpesona akan Langit yang elok, dan ia ingin memilikinya. Apa si Tua bangka itu salah? Aku harap kau bisa memahaminya.

Mungkin di dalam otakmu, kau menganggap bumi itu benda mati bukan? Baiklah aku juga menyadari cerita ini hanya bualan ketika usiaku beranjak dewasa, bodohnya aku bukan? Bisa menganggap bahwa si Bumi tua bangka bisa jatuh hati pada Langit yang elok. Jangan salahkan aku, tapi salahkan pengarang dongeng bodoh ini. Aku hanya ingin menceritakannya supaya kau dapat mendapat amanat dari dongeng ini, apa aku salah?.

Si Bumi tua bangka dan Langit yang elok memang ditakdirkan selalu berdampingan tak pernah bisa bersatu, tapi apakah salah jika makhluk melewati batasannya? Aku harap kau bukan agamawan yang mengaitkan teori agama dengan dongeng ini. Ingat ini hanya dongeng pengantar tidur yang membawa mimpi buruk.

Tua bangka itu, atau tepatnya si Bumi bodoh itu. Ia tak pernah sadar akan posisinya. Ia tak pernah berterima kasih pada Tuhan yang menciptakannya, ia malah memilih melebihi batas, bukankah sesuatu yang melebihi batas itu tak baik? Ya itulah yang terjadi, ketika si Bumi tua bangka mendekati langit yang terjadi hanya kekacauan di dalam dirinya.
Karena itu Tuhan Yang Maha Kuasa menakdirkan bahwa Bumi hanya bisa berdampingan dengan Langit, tak pernah bisa berdampingan. Sungguh tragis bukan nasib si Bumi tua bangka kita?

Kau boleh berharap Langit yang elok ibarat perempuan yang angkuh yang hanya memamerkan keindahan pada si Bumi yang ibarat pemuda dari kalangan bawah, dan menolak mentah-mentah keinginan si Bumi. Namun kau salah, Langit yang elok ibarat sosok putri kerajaan yang anggun dan baik hati, dimana sang raja adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Sungguh sebuah pengibaratan yang sangat pas sekali bukan?

Kau tahu ketika si Bumi melewati batasannya dan Tuhan tahu, tentu Dia tahu karena Dia Yang Maha Tahu. Maka ketika Tuhan sudah berkehendak maka itulah yang akan terjadi. Bukankah aku sudah bilang bahwa Bumi dan Langit itu berdampingan namun tidak akan pernah saling memiliki?

Karena itulah terciptalah sebuah satir yang membatasi pandangan Bumi dan Langit, atau yang biasa kalian kenal dengan awan itu. Cukup tragis bukan? Pada saat usiaku tujuh tahun aku takut karena kuanggap kehidupan akan berakhir karena Bumi dan Langit bersatu saat itu, namun aku salah karena sesuatu yang melewati batasan tidak akan pernah terjadi jika yang kau lawan adalah takdir Tuhan.

Karena itulah aku mengisahkan ini pada kalian agar suatu saat kalian paham, atau bahkan setelah membaca kisah ini kalian mengerti bahwa sesuatu sudah ada kodratnya, dan sesuatu yang melewati batasan itu tidak baik. Cukup menyeramkan bukan?

Cerpen Karangan: Nadhif Wardiansyah
Maafkan Aku Ibu

Maafkan Aku Ibu

Judul Cerpen Maafkan Aku Ibu

“Bu, lihat Sifa dapat juara 1 lagi di kelas!” kata Sifa sambil menyodorkan rapor di tangannya. Sifa memang seorang anak SD yang pandai, sudah 3 tahun dia selalu mendapat peringkat 1, meskipun dia dilahirkan dari keluarga tidak mampu tapi dia selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik, apalagi sejak ayahnya meninggal dunia, dia hanya tinggal bersama ibunya.
“Alhamdulillah, Ibu bangga punya anak seperti kamu, kamu anak yang baik dan juga pintar, semoga kelak kamu bisa merubah hidup kita ya nak?” kata Ibu Ani sambil memeluk Sifa yang tanpa disadari air matanya menetes.
“Ibu kenapa menangis, maaf ya bu kalau Sifa buat Ibu sedih, Bu, Sifa janji kalau Sifa sudah besar Sifa akan jadi anak yang berbakti sama Ibu” kata Sifa mengusap air mata Ibu Ani.
“Sifa, kalau Ayah kamu masih hidup mungkin dia akan sangat senang melihat kamu seperti sekarang ini, tapi..!”
“Ibu, Ayah sudah tenang di alam sana, jangan membuat Ayah sedih lagi?” jawab Sifa memotong pembicaraan Ibu.
“Iya nak, sekarang kamu mau hadiah apa dari Ibu nak?” Tanya Bu Ani.
“Sifa nggak mau apa apa Bu, Sifa hanya mau Ibu bahagia.”
“Terimakasih nak?”

7 tahun kemudian
“Bu! Minta uang buat beli kado dan juga buat beli baju baru aku.”
“Nak, Ibu nggak punya uang, kemarin kan kamu sudah beli sepatu dan tas baru?” kata Ibu Ani.
“Itu kan sepatu sama tas, sekarang baju Bu! Baju aku udah jelek semua, aku malu sama teman teman, sekarang ini aku udah SMA apalagi aku sekolah di sekolahan elit, itu juga karena aku dapat beasiswa, jadi aku berhak donk bu, mendapatkan apa yang aku mau.” kata Sifa.
“Ini nak, Ibu Cuma punya uang 20.000, tapi ini buat kita makan nanti” kata Ibu Ani memelas.
“20.000 Bu, buat beli baju bekas aja nggak cukup, kapan sih Ibu punya uang, setiap kali Sifa minta uang selalu saja Ibu bilang nggak punya, kapan Ibu bisa nurutin kemauan Sifa, kapan Bu!” Bentak Sifa. Ibu Ani hanya bisa diam sambil meneteskan air mata. Sifa lalu melihat cincin yang dipakai Ibu Ani.
“Aku mau cincin Ibu!” kata Ani ingin merebut cincin yang dipakai Ibu Ani.
“Jangan nak, ini peninggalan dari Ayah kamu, ini satu satunya benda yang Ibu punya nak.”
“Alah, Sifa nggak mau tau, pokoknya Sifa harus bisa dapetin semua yang Sifa mau!”
“Jangan nak, jangan!”. Setelah saling berebut, akhirnya Sifa bisa merebut cincin Ibu Ani, Ibu ani sempat terjatuh ketika mempertahankan cincin peninggalan suaminya itu. Tapi Sifa malah meninggalkan Ibu Ani yang sedang terbujur di lantai.

“Hai guys, lihat baju baru aku, ini bokap gue yang beli dari prancis lo, gimana bagus nggak?” pamer Sifa saat sampai di rumah Dina.
“Wah, beneran bagus banget, kapan kapan aku boleh donk dibeliin dari Prancis?” pinta Dina yang saat itu sudah berdandan layaknya berbie.
“Tentu donk, semua pasti gue beliin” jawab Sifa.
“Oke, btw rumah kamu tuh dimana sih, kita kok nggak pernah tau rumah kamu?” kata Risa
“Iya, kita nggak pernah tuh kamu ajakin ke rumah?”
“ehmm, soalnya nyokap gue orangnya galak, gue nggak berani ajak kalian semua, takutnya ntar kamu semua diusir lagi!” jawab Sifa agak gugup.
“Oh, ya udah ayo guys sekarang kita berpesta!” seru Dina.

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00
“Sifa, kamu kemana nak jam segini belum pulang?” batin Ibu Ani cemas.
“Tok tok” Terdengar suara pintu diketuk.
“Ani, kamu kemana aja nak, jam segini baru pulang?” kata Ibu Ani memeluk Sifa.
“Pesta di rumah teman!”
“Pesta sampai larut malam begini?”
“Iya, sudah lah aku ngantuk mau tidur.” jawab Sifa menuju kamar. Ibu Ani hanya menghela nafas kemudian hendak mengikuti Sifa menuju tempat tidur.

Keesokan harinya
“Nak bangun, Ibu sudah buatkan nasi goreng kesukaan kamu” kata Ibu Ani membangunkan Sifa.
“Apa sih buk, Sifa masih ngantuk!” bentak Sifa.
“Sudah siang nak, ayo bangun!”
“Iya iya Sifa bangun!”
“Ini nasi gorengnya, sudah Ibu bawakan” kata Ibu Ani yang sudah membawakan nasi goreng di depan kamar Sifa.
“ya!” jawab Sifa langsung makan nasi goreng itu.”
“Nak, cincin Ibu kemarin kamu bawa kemana?” Tanya Ibu Ani.
“Sudah Sifa jual!” kata Sifa acuh
“Lalu uangnya dimana?”
“Sudah habis, Sifa beliin baju.”
“Apa, nak itu buat bayar hutang kita, sekarang kita mau bayar pakai apa?”
“Terserah Ibuk donk, itu bukan urusan Sifa” kata Sifa kemudian pergi meninggalkan Ibu Ani yang sedang menangis.

“Sifa, besuk bukannya ulang tahun kamu ya?” kata Reni saat Disekolah.
“Oh iya, aku sampai lupa.”
“berarti ulang tahun kamu nggak dirayain donk.”
“ya dirayain lah, malah kata bokap dirayain di hotel berbintang!”
“Oh, kamu nggak ngundang kita?”
“ehmm, sory ya guys bukannya gue nggak mau ngundang kalian, tapi kata bokap yang diundang Cuma kerabat gue aja, maaf ya?”
“yaelah, kok gitu, ngak papa deh tapi nanti bawain jajan ya, hehe”
“iya deh!”

“Bu, aku minta duit buat jajanin teman teman”
“Ibu nggak ada duit nak”
“Bu, tadi di sekolah Sifa diledekin teman teman, besuk Sifa itu ulang tahun dan semua teman Sifa nanya kenapa nggak dirayain, Sifa malu Bu, malu!”
“tapi Ibu beneran nak, nggak ada uang sepeserpun!”
“selalu itu itu aja yang ada di pikiran ibuk, usaha donk buk, cari uang.”
“Ibu sudah mencari uang nak.”
“cari uang, jualan kue Ibu bilang cari uang, itu masih belum cukup buk, Sifa nyesel jadi orang miskin kayak ibuk.” bentak Sifa.
“Ya Allah, ampunilah segala kelakuan Sifa terhadap hambamu ini, tabahkanlah hamba menjalani cobaan ini, dan berikan Hidayah kepada SIifa anak hamba ya Allah.” do’a Ibu Ani dalam hati.
“Nak, Ibu mau ke pasar kamu jaga rumah ya?” kata Ibu Ani kemudian, tapi Sifa tidak merespon perkataan bu Ani, Ibu Ani kemudian langsung pergi.

Tinnnnn, Brukkkk
“Apa benar ini Rumahnya Ibu Ani?” Tanya seorang polisi yang mendatangi rumah Sifa.
“Iya benar, memang ada apa ya pak?” Tanya Sifa.
“Ibu anda mengalami keclakaan saat hendak pulang dari pasar.” kata Polisi yang membuat jantung Sifa berdetak kencang.
“Apa pak, lalu Ibu sekarang dimana?” Tanya Sifa cemas.
“Ada di rumah sakit Bayangkara.” Setelah mebndengar itu, sifa langsung berlari menuju rumah sakit. Setelah sampai di rmah sakit Sifa langsung melihat Ibunya yang sedang ditangani oleh dokter.
“Dok, gimana keadaan ibu saya?” tanya Sifa.
“Ibu anda mengalami gagar otak, mungkin…” Kata Dokter tidak meneruskan pembicaraan
Sifa langsung masuk ke ruang UGD dimana Ibunya sedang terbaring dengan muka pucat dan banyak darah di sekujur tubuhnya. Sifa kemudian terduduk di lantai, dia merasa tulang tulangnya sudah tidak berfungsi lagi, dia lemas kemudian pingsan.

“Ibu!” teriak Sifa yang sudah terbangun dari pingsannya.
“Kamu sudah sadar nak?” kata seseorang yang masuk dari sebuah pintu.
Sifa baru menyadari kalau ternyata ini bukan rumahnya, tapi ini adalah rumah sakit, dan yang baru saja masuk itu adalah dokter yang merawat Ibunnya.
“Dokter, Sifa kenapa disini?” Tanya Sifa heran.
“kamu pingsan tadi” jawab Dokter itu.
“Ibu dimana dok, ibu dimana?” Tanya sifa teringat ibunya.
“Ayo, ikut Dokter?” Lalu Sifa mengikuti Dokter itu menuju kamar rawat pasien. Entah kenapa perasaan Sifa saat itu sangat mencemaskan Ibunya. Sifa melihat seseorang sudah ditutup kain penutup jenazah sedang berbaring di tempat dimana Ibunya berbaring sebelum kemudian dia pingsan.
“Dok, itu siapa? Bukannya ini kamar Ibuk saya?” Tanya Sifa mengharap penjelasan.
“Coba kamu buka kain penutup ini?” Kata suster yang tiba tiba ekspresi mukannya menjadi sedih. Sifa kemudian membuka pelan pelan kain itu, dan betapa terkejutnya ternyata itu adalah Ibunya.
“Ibu, jangan tinggalin Sifa bu, Ibu!” teriak Sifa.
“Tenang Sifa, kamu harus sabar!” kata Suster menenangkan.
“Ini hanya mimpi kan sus, ini mimpi buruk, iya kan!” kata Sifa nggak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Sifa saat kamu pingsan Ibu kamu sempat kritis, lalu dia bangun sesaat untuk menitipkan ini ke kamu!” kata suster menyodorkan bingkisan seperti kado.
“Ini apa sus?”
“Itu pemberian Ibu kamu sebelum menghebuskan nafas terakhirnya, dia juga berpesan agar kamu bisa menjaga diri baik baik!” kata suster dengan nada sedih.
“Ibu! maafin Sifa bu!”.

Setelah jenazah Ibu Sifa dimakamkan, Sifa langsung tertunduk di makam Ibunya, dia tidak mau pulang, dia terus saja menyesali perbuataanya dan dia juga menyesal belum sempat minta maaf kepada Ibunnya. Setelah dibujuk oleh suster yang ternyata teman Ibunnya sendiri, dia akhirnya mau pulang. Saat tiba di rumah, ada seorang mengantar nasi kuning duduk di kursi depan.
“Ada apa ya pak?” Tanya bu Evi.
“Ini saya antarkan nasi kuning buat mbak Sifa dari Ibunya. Kata Ibunya anak kesayangannya lagi ulang tahun.”
“Ibu!” Batin Sifa dan langsung mengambil nasi kuning itu, lalu dia membuka kado pemberian Ibunnya tadi, betapa terkejutnya Sifa melihat kado yang ada di tangannya itu berisi sepatu yang selalu diidam-idamkan Sifa saat masuk SMP dan belum mampu membelinya sampai sekarang, dibawahnya juga ada beberapa foto kusam dan sebuah surat. Sifa membuka Surat itu pelan pelan.

Buat anakku tersayang
Selamat ulang tahun anakku.
Nak, semoga kamu suka dengan hadiah ibu, dan semoga kamu juga suka dengan nasi kuning pesanan ibu, ibu menyiapkan semua ini untuk kamu, Ibu mencari tambahan uang seperti yang kamu minta dulu, Ibu bekerja sampingan sebagai pembantu dan juga buruh cuci, untuk bisa membelikanmu hadiah ini.
Nak, satu pertanyaan kamu dulu yang belum sempat Ibu jawab “Siapa orang yang mendonorkan ginjalnya untuk kamu waktu kamu sakit saat kecil dulu.” itu Ibu, maaf jika Ibu menyembunyikan ini, Ibu tidak mau kamu cemas. Ibu jadi teringat janji kamu dulu sewaktu masih SD, tapi Ibu sudah cukup bahagia dengan adanya kamu di samping Ibu, maaf ya nak Ibu belum sempat jadi Ibu yang baik buat kamu, tapi Ibu mohon sama kamu, tolong tetap bersyukur dengan apa yang kita miliki. Itu saja pesan Ibu nak jangan sekali kali meninggalkan sholat 5 waktu, dan terus do’a kan ibu ya nak. Ibu sayang Sifa.

“Ibu! Maafkan aku, aku belum sempat menjadi anak yang berbakti sama Ibu, aku selalu menyusahkan Ibu, aku menyesal Bu” kata Sifa lirih dan terus meneteskan air mata.

Pesan moral: Ibu adalah seorang yang sudah merawat kita, melahirkan kita, dan rela berkorban demi kita, maka jangan sekali kali kamu mengecewakan Ibu kamu, bahagiakan dia sebelum terlambat, jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari.

Cerpen Karangan: Novita Layla
Facebook: Novitha Layla
Terjebak Cinta Yang Salah

Terjebak Cinta Yang Salah

Judul Cerpen Terjebak Cinta Yang Salah

Cinta itu kadang seperti coffee yang hangat jika dinikmati, tapi kadang pahit jika terlalu lama dirasakan. Cinta itu tak pernah salah dan tak pernah membuatmu sakit hati, mngkin belum tepat untuk mendapatkannya.
“Alifa!!!? Cepat bangun sudah siang gini belum bangun, cepat sana bersihkan taman depan jangan molor saja.. Allifa!” teriak sang Ibu. Allifa yang tidur pulas langsung terbangun saat mendengar seruan sang Ibu, lalu bergegas menuju taman depan tanpa menjawab seruan Ibunya. Baru dapat setengah bagian ponselnya pun dikeluarkan dari balik sakunya. ya… biasalah kebiasaan buruk muncul kembali kemana mana selalu bbman. Walaupun hp sepi tetap saja asyik mainnya. Dibukanya bbm lalu ia membuka sebuah Broadcast dari seseorang tak dikenal, ya biasalah alifa selalu sok care sama semua orang tanpa berpikir panjang ia pun mengomentari Broadcastan itu.
“free chat!!”
“kenapa free chat? Free Delete aja ya?” balas allifa
“eeee… jangan tho.” dan akhirnya si tukang Broadcast itu pun memperkenalkan diri dan mengajak berkenalan lah yang pasti. Alifa pun menanggapinya dengan santai itung-itung buat temen bbm kasian galau mulu gara-gara kelaman ngejomblo.

Waktu itu liburan sekolah yang panjang. Alifa selalu bangun telat dan mengerjakan tugas harian nyapu, dan nyuci setelah itu langsur masuk kamar berjam jam di depan hp biasalah bbman sama tukang Broadcast anggap saja namanya Gama, saat ini dibilang deket sama alifa memang deket banget sampai stalking terus di bbm. Sungguh terlalu ya semakin lama dekat semakin lama lengket.

Liburan pun telah usai alifa harus balik ke tempat ia bersekolah, inilah hari yang ditunggu tunggu alifa untuk dapat bertemu Gama si tukang Broadcast. Baru saja sampai kost, sudah pergi ke luar bertemu dengan Gama. Pertemuan pertama mereka tepatnya di tempat ngopi GJ. alifa hanya senyum-senyum saat Gama mengajaknya ngobrol. Jam pun menunjukkan pukul 20.30 WIB. gama pun bergegas pergi mengantar alifa pulang karena takut kalau Alifa dimarahi ibu kostnya.

Sampai di kostnya Alifa pun tertidur pulas, di tengah malam saat tidur ia bermimpi naik sepeda kayuh dengan seorang pangeran berseragam sekolah. Wah kenyataan yang terbawa mimpi. Hari hari pun telah berlalu, malam ini Alifa dan Gama akan ke luar bersama temannya yang akan dicomblangkan. Yah tak salah lagi mereka berempat ketemuan bareng di kedai coffee.

Selang beberapa menit Gama mengajak alifa pergi ke suatu tempat, ia akan membicirakan sesuatu yang penting. Ternyata di malam itu tepat tanggal 10 Januari 2016 Gama menyatakan cintanya kepada Alifa. Sampai di kost hati alifa berbunga-bunga bak terbang ke langit. Hari selanjutnya mereka pergi berempat lagi bersama ke suatu tempat. Temannya Gama dan Alifa akhirnya pun jadian tepat pada tanggal 11 Januari 2016. Tapi ditengah perbincangan Alifa dan Gama ada pertengkaran di antara mereka. Pertengkaran itu dimulai karena seorang cewek yang menghubungi Gama lewat BBM dengan kata-kata sayang membuat Alifa curiga. Tapi Gama beralasan kalau itu sang mantan yang masih menghubungi dan mengharapkannya. dan membuat Alifa tenang seperti sedia kala.

Hari demi hari pun berlalu mereka pacaran hampir satu bulan lebih. Malam itu Alifa mimpi buruk bahwa ia ketemu pacarnya bersama cewek lain tengah mesra-mesraan di hadapannya, kemudian Alifa menghampiri mereka.
“siapa dia?” Tanya cewek itu pada Gama
“Oh itu temenku yang.” Jawab Gama
Mendengar kata-kata itu Allifa pun pergi meninggalkan mereka dan akhirnya terbangun dari tidurnya.
“Alhamdulillah hanya mimpi.” Batin Alifa

Sampai di sekolah ia pun bercerita kepada temannya yang bernama Dyah agar mendapat solusi apakah arti mimpinya semalam.
“Dyah aku mau tanya sama kamu. Tadi malam aku mimpi buruk kalau Gama keluar sama cewek lain dan mengatakan kepada cewek itu kalau aku hanya temannya.” Tanya Alifa.
“Udah jangan berfikir negative biasanya itu tandanya kamu bakal langgeng sama dia.” Jawab Dyah
Mendengar perkataan Dyah hati Alifa pun terasa tenang. Tapi dia masih bertanya-tanya dan tak puas akan jawaban Dyah.

Sampai di kos Alifa pun mulai chat sama Gama dan cerita tentang semuanya tapi responnya hanya biasa saja. Di tengah percakapan mereka Gama meminta ciuman sama Alifa dengan gaya bercanda. Mendengar hal itu membuat Alifa ilfil dengan kelakuan sang pacar. Mulai hari itu sikap Gama berubah drastis. Saat Alifa bertanya kenapa sifatnya berubah jawabannya selalu pada hal ciuman.
“kamu itu kenapa sih jadi berubah gak seperti biasanya.” Tanya Alifa
“semua itu karena kamu nggak mau nurutin apa kataku.” Jawab Gama denga nada emosi
“oh Cuma gara-gara hal itu kamu jadi berubah. Sebenarnya tujuan kamu pacaran itu apa tho?” Tanya Alifa
“Ya buat temen hidup.” Jawab Gama
“kalau cuman buat temen hidup ngapain juga aku harus nodai cintaku dengan hal yang dilarang agama. Pacaran itu sewajarnya aja. Kalau kamu nggak setuju dengan apa yang aku katakan lebih baik kita akhiri saja hubungan ini.” Jelas Alifa dengn penuh emosional.
“udah deh, malas aku debat sama kamu. Udah lupain aja masalah ini. Jangan ngomong gitu to yang, nanti malam ayo jalan.” Bujuk Gama
“Ya.” jawab Alifa singkat

Pada malam harinya Alifa menemui Gama untuk menemani jalan-jalan, mereka berdua menuju WA Coffee. Ditengah perbincangan mereka kebetulan Gama meletakkan hpnya di meja, ini kesempatan Alifa untuk tau yang sebenarnya. Ia pun mengambil hpnya Gama dan mencari beberapa nama cewek. Dia menemukan seorang cewek bernama kelya dengan chat di BBM menggunakan kata sayang yang tak sepantasnya mereka ucapkan. Alifa pun mengambil pin kelya, tidak hanya itu ia menemukan pesan dari Arum yang sangat membuatnya curiga.
“Gama bilang arum mantannya tapi kenapa masih manggil sayang? Hmm… mencurigakan aku invite sekalian aja deh.” Gumam Alifa
Tanpa sepengetahuan Gama, Alifa pun mengambil pin Arum. Dan mengajak Gama pulang. Tapi di tengah perjalanan, mereka berdebat dan akhirnya mereka berdua pulang ke rumah masing-masing.

Pagi harinya Alifa menceritakan kejadian semalam kepada Dyah. Dan Dyah pun menceritakan kalau sebenarnya Gama itu cowok playboy. Tanpa berfikir panjang sepulang sekolah dia memutuskan akan mengakhiri hubungannya. Tapi sebelum itu Alif mencoba mengubungi Arum dan kelya. Pertama Alifa menghubungi Arum dan menanyakan siapakah dia sebenarnya mantan apa pacarnya Gama.

“ping!!!” Alifa pun menunggu balesannya
“Iya siapa dan ada perlu apa?” Tanya Arum
“Aku alifa pacarnya Gama. Kamu mantannya Gama tho?” Tanya Alifa
“Mantan?! aku pacarnya bukan mantannya dan aku belum pernah putus dari Gama. Tapi kata Gama kamu temenya deh.” Jelas Arum
“kurang ajar jadi dia Cuma mepermainkan kita? Oh ya Rum maaf ya aku nggak tau kalau kamu pacarnya, terima kasih udah mau jujur.” Jelas Alifa
“Iya sama-sama tapi kalau emang Gama nyamannya sama kamu aku ikhlas kok.” Kata Arum “Hahaha…, nggak Rum aku paling benci sama cowok playboy kayak dia.” Jawab Alifa

Sebelumnya Alifa pun menghubungi Kelya dan menanyakan ada hubungan apa Kelya dengan Gama. Tanpa basa-basi ia pun menge-chat Kelya
“kamu siapanya Gama.” Tanya Alifa
“Aku temennya.” Jawab Kelya
“Temen apa teman kok panggilnya pakai sayang.” Tanya Alifa makin jengkel.
“temen lah tapi sama-sama sayank.” Jawab Kelya
Jawabannya kelya membuat hatinya Alifa makin panas. Emosinya Alifa pun membara-bara semacam api neraka. Tanpa berpikir panjang Alifa menghubungi Gama dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Alifa mengirimkan screenshotan Arum dan Kelya kepada Gama. Hal itu membuat Gama malu dan malah marah-marah sama Alifa. Sungguh aneh si Gama itu dia yang mempermainkan cewek malah dia yang marah-marah nggak jelas.

Selang beberapa minggu sikap Alifa kepada Gama sudah biasa saja walaupun mantan tapi ikatan teman tidak mereka putuskan. karena Alifa berfikir sesama muslim tidak baik saling membenci.

“jadi kalau mencari kekasih harus teliti dalam memilih jangan hanya kenal sebentar langsung jadian ya… akal bulus cowok itu bahaya. Tapi gak semua cowok kayak gitu kok. Dan kita sebagai seorang muslim harus saling memaafkan ya… walaupun kita pernah disakit, buatlah semua itu pelajaran bagi kalian.”

Cerpen Karangan: Muallifah
Facebook: Muallifah
Semangat Puasa

Semangat Puasa

Judul Cerpen Semangat Puasa

Terdengar suara lembut yang sangat akrab di telingaku.
“Ruqayyah, sahur nak…!” Panggil umi dari ruang makan.
“Iya, umi…” Aku berjalan gontai sambil masih terkantuk-kantuk menuju kamar mandi untuk cuci muka.
“brrrrr…” dinginnya air membasuh mukaku.

Biasanya kami makan sahur hanya berempat aku, umi, abi, dan kak Laila. Tapi suhur Ramadhan kali ini terasa istimewa karena ditemani kakek dan nenek yang sengaja berkunjung dari desa.

“imsak… imsak… imsak…” sayup-sayup terdengar lirih suara imsak tiga kali dari masjid kampung, aku dan keluargaku segera menghabiskan minum masing-masing. Kan, ini bulan ramadhan, gimana mau enggak puasa coba?
Usai sahur aku bergegas kembali lagi ke kamarku di lantai dua.
“Ruqayyah kenapa ya nek..? nggak seperti biasanya” ujar kakek bingung.
“Iya… kek, Ayya aneh hari ini. Tidak seperti biasanya” komentar nenek sambil segera menyusul ke kamarku.
“Assalammualaikum Ayya, buka pintunya, Ayya…” Salam nenek. “Waalaikumussalam… masuk saja, nek. nggak dikunci, kok…!” Jawabku dari dalam kamar. Aku hanya memikirkan sesuatu. Ya, apa jadinya puasa tapi upacara? Wuiiih… heran aku!

Sambil ikut duduk di pinggir kasurku nenek mulai berbicara. “Ayya, Yang paling cantik sedunia… Kok tadi kelihatan aneh, sih?” Tanya nenek.
Aku hanya diam seribu bahasa. Sesaat kemudian aku balik bertanya “Memang ada apa dengan Ayya…?” Tanyaku seperti orang linglung.
“Ya… Nenek Cuma mau tahu saja. Ayya kelihatan aneh, tadi, tidak biasanya begitu selesai makan sahur langsung kembali ke kamar lagi, jangan-jangan Ayya kembali tidur lagi…” Canda nenek sambil tersenyum penuh kasih sayang.
Yang ini harus jawab, nih! “Maaf, nek… Tadi aku hanya berfikir, apa bisa upacara tapi puasa? Yah… sampai sekarang saja aku masih bingung…” Ujarku sedikit tertawa.
“Oh… nenek kirain ada apa. Ayya tahu perjuangan pahlawan?” Tanya nenek sambil membelai lembut kapalaku.
“Ya, pasti Ruqayyah tahu dan faham lah nek… Memang, ada apa?” ujarku lebih lanjut.
“Ruqayyah, merdeka itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan dan pengorbanan para pahlawan sangatlah besar. Mereka pantang menyerah demi tetap tegaknya negara kesatun Republik Indonesia. Mereka siap untuk mengorbankan jiwa dan raga tanpa pamrih. Untuk itu kita harus menghormati perjuangan para pahlawan, salah satunya dengan upacara itu…” Nenek menjelaskan panjang lebar. “Puasa bukan berarti membuat kita boleh bermalas-malasan, justru Ayya harus tunjukkan bahwa puasa janganlah dijadikan sebagai alasan yang dapat menghambat segala aktifitas sekolah Ayya” lanjut nenek.
“Baik nek, Ruqayyah janji untuk ikut upacara” Aku menegaskan dan meyakinkan nenek.
“Wah… ternyata, nenek itu pandai berpidato ya… hehe” gumamku dalam hati, dan aku sekarang mantap untuk mengikuti upacara sebagai rasa hormat terhadap perjuangan para pahlawan. Panasnya saat upacara belum seberapa dibanding pengorbanan yang telah mereka darma baktikan untuk nusa dan bangsa. Dan aku pun bertekad tetap semangat untuk selalu mengisi kemerdekaan ini dengan belajar rajin agar dapat mendarmabaktikan seluruh kemampuanku demi kejayaan negara Indonesia tercinta.

Seperti nasihat nenek, puasa bukanlah hambatan untuk beraktifitas dan belajar. Insya Allah… semoga kita selalu diberi kesehatan dan kekuatan dalam bulan puasa kali ini.

Cerpen Karangan: Hafshah Mufidah
Facebook: Hafshah Fida
Pengganggu Di Sekolah Berasrama

Pengganggu Di Sekolah Berasrama

Judul Cerpen Pengganggu Di Sekolah Berasrama

Aelita, anak perempuan yang tergolong nakal. Ada aja cara menggangu orang lain. Mulai dari miscall terus-terusan sampai pura-pura jadi zombie. Pokoknya ide Aelita tidak pernah habis.

Aelita masuk sekolah berasrama. Dan disitu jugalah trik-trik nakalnya dilakukan. Hampir semua murid di situ pernah terkena triknya. Pernah seorang murid laki-laki diisengin sampai teriak-teriak.

Kenapa murid laki-laki itu teriak-teriak? Ceritanya begini. Aelita menukar air di botol minumnya dengan jus cabe. Nah, kebetulan anak itu sangat haus dan meminum jus cabe itu, makanya dia teriak-teriak.

Kadang, kenakalan Aelita tak sebatas pada satu orang. Pernah ia menyelinap ke luar kamar. IRA menempelkan poster-poster konyol dan menghina di toilet dengan super glue. Untunglah aksi ini ketahuan kepala sekolah. Aelita dihukum harus mencopot semua poster di toilet plus membersihkan toilet.

Ada satu murid, namanya William yang sangat sering ditrik oleh Aelita. William ingin membalas, tapi susah karena takut dimarahi guru. Aelita sudah setidaknya 10 kali. Girangnya William, ketika mendapat kesempatan untuk membalasnya.

Suatu malam, Aelita bukannya tidur justru lari-lari di koridor sekolah sambil membuat suara seram. Tapi William sangat kenal suara Aelita. Karena itu, William ingin melapor pada guru. Tapi William masih menunggu saat yang tepat.

Saat itu pun datang. Aelita ketiduran saat pelajaran esoknya. William segera melaporkannya, ditambah melapor juga tentang kenakalan Aelita tadi malam.

Senangnya William, karena hukuman yang diberikan pada Aelita cukup berat. Detensi 6 jam, mengakui perbuatannya kepada semua anak yang takut karenanya, lari di lapangan 20 kali, menyalin material sebanyak 5 kali, dan pengurangan nilai 10 %.

Tapi, Aelita belum juga jera. Ia menyiapkan jebakan untuk kepala sekolah. Pas kepala sekolah lewat, tali dilepas dan Pak kepala sekolah jatuh ke lubang jebakan. Kali ini, Pak kepala sekolah sendiri yang “menasihati” Aelita (lebih tepatnya, memarahi). Untuk mencegah Aelita berbuat nakal lagi, seorang guru akan mengawasi Aelita Dari pagi sampai malam. Walau kamar biasanya memang sudah dikunci, kunci khusus dipasang di kamar Aelita.

Pesan: Jangan berbuat nakal.

Cerpen Karangan: Daniel Lie
Facebook: Daniel Lie
Rona Kehidupan Malaikat Tak Bersayap

Rona Kehidupan Malaikat Tak Bersayap

Judul Cerpen Rona Kehidupan Malaikat Tak Bersayap

Dunia mereka kelabu sebelum datangnya seorang malaikat tak bersayap. Tapi roda kehidupan terus berputar. Kini dunia malaikat itu kelabu sebelum segerombolan semut membuka mata hati dan pikirannya.

Mentari tersenyum gembira, awan tak bosan menaungi gadis cantik berkulit cerah itu. Pepohonan saling menyapa dan hembusan angin berlomba-lomba menggoyangkan rambut lurusnya. Cuaca pagi itu membuat Lotusia Amor begitu bersemangat memulai harinya. “Mam, Lotus berangkat” pamitnya sebelum ia pergi ke rumah keduanya dengan B-Blue, sepeda kesayangannya. Ia terus melantunkan nada-nada yang indah selama perjalanannya. Ia selalu menikmati setiap detik hari-harinya. Tak ada keluhan di kamus kehidupannya.

“Sore ibu, Bagaimana kabar dagangannya?” Senyumnya merekah ketika ia sampai di kantin sepulang sekolah.
“Hari ini semua daganganmu habis terjual. Ini hasilnya” Kata ibu kantin sembari menyodorkan beberapa lembar uang kertas.
“Uangnya tolong dibungkuskan 10 nasi saja Bu”
“Kamu masih sering menemui anak-anak jalanan itu?”
Lotus hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
“Tak salah memang orangtuamu memberimu nama Lotusia Amor. Kau gadis yang sangat cantik dan penuh cinta”

“Selamat Sore” sapa gadis itu sesampainya di rumah kardus. Ya, rumah kardus, rumah yang dibangun dengan kardus. Rumah itu jauh dari kata layak tapi mereka dengan telatennya membersihkan dan merawat tempat itu. Sehingga tempat itu selalu terlihat bersih dan rapi.
Anak-anak yang sudah berkumpul disana langsung berhamburan ke arah Lotus. “Lihat! Kakak bawa sesuatu untuk kalian” gadis berambut lurus itu membagi-bagikan nasi bungkus yang telah ia beli. Senyum manis tersungging di bibirnya ketika anak-anak itu makan dengan lahap.

“Kak” panggil seorang anak laki-laki yang berkulit hitam dan berambut keriting. “Kenapa kakak diam saja? Kenapa kakak tidak makan? Ayo kita makan bersama”
“Kakak senang sekali bisa disini lagi dan bisa berbagi dengan kalian. Makanan itu kakak belikan untuk kamu, habiskan saja, kakak bisa makan nanti di rumah” jawab gadis itu dengan lembutnya. “Oh ya, bagaimana dengan buku yang kakak beri kemarin? Apa kamu suka?”
“Suka sekali Kak! Ceritanya bagus” jawabnya dengan mata berbinar-binar. “Kakak tau nggak? Sekarang Bintang sudah lancar membacanya”
“Oh ya? Pintar sekali adik kakak yang satu ini” Pujinya sambil mengelus rambut anak itu.

Sebelum pulang gadis berparas cantik itu menyempatkan diri untuk berfoto bersama. Hal yang sangat jarang sekali dilakukannya. Dia memang tidak suka berfoto tapi entah mengapa ia ingin sekali melakukan hal itu saat ini.

“Lotus, bangun nak!” Ibunya mencoba membangunkan gadis bernama Lotus itu. “Kita harus berangkat sebelum larut malam”
Masih dengan mata terpejam dan guling dipelukannya ia menjawab dengan malasnya, “Iya mam, sebentar lagi, Lotus masih mengantuk”
“Ayolah, ini sudah jam berapa? Kalau kita berangkat terlalu larut kita bisa terlambat datang ke pernikanan Lilib besok pagi”
Lotus mengucek-ucek matanya. Ia menyerah. “Iya iya Mam, aku sudah bangun ini, Aku akan turun 30 menit lagi. Mama tunggu saja aku di ruang keluarga, aku perlu bersiap-siap”

Entah mengapa Lotus merasa tidak nyaman dengan perasaannya. Sebelum berangkat kalimat “Jangan pergi, tetaplah disini” terus terdengar olehnya. Meski ia sudah mencoba memakai headset yang mengalunkan nada-nada indah, kalimat itu terus saja menghantuinya. Perasaan itu sungguh mengganggu dan membuatnya tidak nyaman saat dalam perjalanan. Ia sudah kehabisan akal. Akhirnya pemilik rambut lurus itu memilih memejamkan matanya dan mencoba memasuki alam bawah sadarnya meski berbagai rasa berkecamuk di hatinya dan membuat pikirannya menjadi liar.

Kalimat itu terdengar semakin keras ketika mereka memasuki jalan tol. “Tuhan, pertanda apakah ini?” tanyanya dalam hati. Ia terus memejamkan matanya dan memakai headset. Ia mencoba menenangkan dirinya. Hanya sekelebat cahaya berlalu lalang di kegelapan yang dia rasakan. Sampai ketika ada cahaya terang yang menuju arah yang berlawanan dengan arah laju mobilnya. Cahaya itu berbeda dengan cahaya yang ia temui sebelumnya. Semakin lama cahaya itu semakin membesar dan terang sehingga membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia berpikir itu hanyalah halusinasinya saja. Gadis itu tetap memejamkan matanya dan mencoba membuang pikiran buruk itu. Tapi cahaya itu semakin lama semakin jelas dan disertai suara klakson yang memekakkan telinga. Ia semakin takut ketika ada sesuatu yang menghantam mobilnya hingga membuatnya merasakan goncangan yang begitu dahsyat. “Mah, Pah, Kak?” panggilnya lirih sebelum pandangannya kemudian kabur.

Jari-jari tangan Lotus mulai bergerak ketika jam dinding berdentang tepat pukul tiga sore. Ia mengedip-edipkan matanya mencoba beradaptasi dengan cahaya di ruangan itu kemudian ia melihat sekelilingnya. Di sebelahnya tertidur seorang anak kecil berambut keriting. Muncul rasa penasaran dibenak gadis itu. “Siapa anak itu dan mengapa dia ada disini?”. Lotus menyentuh lembut tangan anak itu dan menggenggamnya. “Tangan mungilnya kasar. Apakah ia bekerja terlalu keras?” pikir gadis itu. Ia terkejut ketika anak itu mendongakkan kepalanya dan melihat ke arahnya. Matanya yang sayup menatap gadis itu dengan lembut. Anak itu terdiam sejenak kemudian senyum manis terukir di wajah imutnya. “Kak Lotus. Kak Lotus sudah bangun?” senyum anak itu semakin melebar. “Tunggu sebentar Kak, tunggu” kata anak itu lalu keluar. Tak lama kemudian ia masuk dengan menggandeng seorang laki-laki beserta seorang perawat. Wajah laki-laki itu begitu sederhana dengan senyum yang merekah di bibirnya.
“Kenapa kalian ada disini?” tanya Lotus lirih.
“Aku melihat kakak di koran. Lalu aku bersama abang Doni mencari kakak disini dan ternyata itu benar” jawab anak itu dengan semangatnya.
“Lalu, dimana orangtuaku? dimana kak Aldi? kenapa mereka tidak disini?” Lotus menengok-nengok sekitarnya, berharap orang yang dimaksudkannya itu ada di ruangan putih dengan bau alkohol dan obat-obatan yang ia tempati sekarang.
Anak kecil bernama Bintang dan abangnya saling bertatap muka dalam sunyi. Mereka tidak tau bagaimana cara menyampaikan kabar keluarga gadis itu.
“Kenapa kalian diam? Katakan, dimana mereka?” Pinta Lotus.
“Me… mereka sudah.. sudah…” Kata Doni terbata-bata.
“Mereka sudah apa? katakan cepat!” Gadis itu membentak mereka meski suaranya lemah.
“Mereka sudah meninggal Kak” Bintang menundukkan kepalanya. Ia tak ingin melihat malaikatnya ini menangis.
Lotus hanya terdiam dengan tatapan kosong ke arah langit-langit ruangan itu. Perlahan-lahan cairan bening mengalir di pipi mulusnya. Ia tak tau lagi harus berbuat apa. Ia sudah tidak mempunyai keluarga lagi. “Tuhan, kenapa harus aku? kenapa harus Lotus, Tuhan?” isaknya dalam hati.

Baru kali ini Bintang dan Doni melihat malaikat tak bersayap mereka menangis. Setau mereka Lotus adalah gadis cantik, penuh kasih yang selalu ceria. Mereka tak menyangka gadis sebaik itu bisa mendapatkan cobaan seberat ini.
“Tolong pasien ini jangan dibiarkan terlalu larut dalam kesedihan, karena hal itu dapat memperburuk kesehatannya” Kata seorang perawat kepada Doni sebelum meninggalkan kamar pasien milik Lotusia Amor.

Minggu demi minggu telah berganti, dan Lotus masih saja menikmati kepedihan hatinya. Ia selalu saja menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong. Tubuhnya samakin kurus karena hanya ia masuki sedikit nutrisi. Hal itu terus ia lakukan hingga tiba hari istimewanya.

Tepat sebelum matahari kembali ke peraduannya beberapa anak jalanan masuk ke kamar gadis berwajah bidadari itu. Mereka terus mengalunkan lagu selamat ulang tahun yang dipopulerkan oleh Jamrud meski Lotus tak memalingkan wajah sedikitpun. Mereka terus melantunkan nada-nada yang indah di hari istimewa itu. Ya, karena hanya ini yang bisa mereka lakukan. Mereka tidak mempunyai cukup uang untuk membelikan sebuah barang untuk saudara kesayangannya itu.
Anak-anak itu mendekat pada Lotus dan memeluknya lembut sembari mengucapkan selamat ulang tahun. Mereka tenggelam dalam kehangatan kasih yang murni dari hati.

“Kak, kakak jangan bersedih lagi. Kakak masih punya kami. Kami sudah menganggap kakak sebagai saudara kami. Sebagai keluarga kami. Kakak tolong jangan seperti ini terus. Kami jadi sedih kalau kakak terus seperti ini. Kami semua sayang kakak” Kalimat itu langsung saja meluncur dengan mulusnya dari seorang anak kecil yang begitu lugu. Kalimat luapan isi hatinya yang paling dalam.
“Mungkin anak itu benar. Aku tidak boleh terus seperti ini” Lotus memotivasi dirinya sendiri. Ia melihat sekelilingnya, banyak sekali yang sayang padanya dan selalu memberikan senyuman terbaiknya. “Bodohnya aku. Kenapa selama ini aku tak sadar? aku masih mempunyai keluarga” senyum kecil terlukis di tengah deras air matanya.

Satu tahun sudah mereka hidup bersama. Lotus tak lagi merasa sepi karena masih banyak orang-orang yang menyayanginya. Mereka membangun sebuah usaha kecil di rumah Lotus dengan harapan mereka bisa memetik buah dari apa yang sudah ia tanam di kemudian hari.

Tidak ada gunanya berlarut-larut dalam kesedihan. Bangkitlah dan jemputlah bintang masa depanmu. Kita tidaklah sendirian di dunia ini. Masih banyak orang-orang yang menyayangi kita. Hanya saja terkadang kita terlalu sibuk mengurusi kepedihan hati.

Cerpen Karangan: Dema Biofani