Judul Cerpen Hey, Apa Kabar Kamu
Hari ini waktu begitu panjang. Aku masih saja tetap terjaga dengan jari menciptakan bunyi-bunyian ketikan di atas papan laptop. Teringat lagi kisah yang masih tersisip lama di otakku. Sebuah kisah sahabat lama yang sudah usang. Masih teringat jelas hentakan sepatu di jalan arah sekolah bersama mereka teman SMP yang entah bagaimana kabarnya saat ini. Seperti inilah ceritanya yang masih terekam di otakku ketika SMP.
DIA, tak akan kusebutkan namanya berjalan bersamaku di pagi hari untuk setiap harinya. Tak ada yang spesial di hari-hari kami bersama. Hanya saja saat itulah hari spesialnya. Tangan kananku menggenggam sebuah coklat kecil berbentuk hadiah. Tangan kiriku menggenggam sebuah ucapan tanda selamat ulang tahun buat dia. Akan tetapi aku tak punya keberanian untuk memberikannya. Aku tidak tahu kenapa, yang pasti memberikan hadiah ini mungkin baginya adalah hal yang biasa. Tapi bagiku itu butuh nyali yang bulat untuk memberikannya. Karena dia sahabat yang penting bagiku semasa itu.
Jalan dari rumah menuju sekolah kami bisa ditempuh sejauh 1 km dengan jalan kaki. Tak ada sepatah kata pun yang keluar di antara kami. Hanyalah suara roda sepeda yang berputar yang dinaikinya serta hentakan sepatuku menyamai laju sepedanya. Ketika aku ingin mengisi kekosongan sunyi itu, dari belakang munculah seorang gadis sebaya denganku secara tiba-tiba. Dialah sahabatku yang terkenal baik hati dan dikagumi banyak orang di sekolah.
Takut ketahuan oleh gadis itu mengenai hadiah tersebut, aku pun cepat-cepat menyembunyikan dengan pura-pura membuka tasku. Tapi terlambat, gadis itu melihatnya dan langsung merampas coklat itu dariku.
“Ini buat aku aja ya?” sahut gadis itu dengan gembira. Aku hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Akan tetapi gak tahu bagaimana raut wajahku sesungguhnya, yang pasti seperti orang yang pasrah. Namun tiba-tiba saja si Dia merebut coklatku dari gadis kecil itu. “Wah kayaknya coklatnya enak. buat aku aja ya ya ya” begitulah dia berkata.
Mereka berdua berebutan coklat tersebut tanpa tahu apa yang aku rasakan. Aku tipe orang introvet ini pun jarang untuk membalas ataupun jujur dengan perasaanku. Akan tetapi melihat mereka berdua tampak akrab, entah kenapa ada cemburu di dadaku. Bukan karena cemburu yang seperti dikatakan orang saat ini. Tapi cemburu layaknya melihat orang tua kita lebih sayang ke anak lainnya. Untungnya sekolahku sudah dekat. Aku pun berlari meninggalkan mereka dengan alasan ada tugas piket kelas. Dengan lugunya mereka percaya dengan itu.
Lama sekali aku merenung di kelas sambil menyesali atas sikapku tadi. Aku pun berubah pikiran berniat untuk memberikan kertas selamat ulang tahun kepada Dia. Kucari kertas ucapan tersebut di dalam tas, akan tetapi gak ada. Tiba-tiba sebuah tangan muncul di hadapanku dengan memegang sebuah kertas.
“Ini yang kamu cari?” si Dia muncul di hadapanku bagaikan pesulap yang menghilang dan datang lagi. Sambil tersenyum dia langsung mendekapku. Tiba-tiba perasaan aneh apa ini? Aku merasakan kehangatan sebuah pelukan dan ternyata berakhir dengan ciuman di kepalaku. Si Dia mencium aku di kepala. Aku kaget dengan pengalaman pertama itu. Dan si Dia hanya tersenyum melakukan itu.
“Itu adalah hadiah balasannya. Sebenarnya aku meniru yang ada di film tentang hadiah balasan bagi seorang cewek yang mengasih hadiah ulang tahun. Dan terima kasih coklatnya sangat enak walaupun hanya kecil”. Sahut di Dia yang masih tersenyam-senyum. Sedangkan Aku masih membeku diam membelakanginya. Kuberanikan diri untuk menolehnya. Wajahnya tampak bahagia. Syukurlah. Begitulah hatiku merendah. Walaupun ada kekhawatiran yang melanda.
“Tapi kan kita masih kecil dilarang melakukan hal seperti itu” tegasku walaupun sebenarnya ada rasa senang.
“Kamu memikirkan apa? Justru kita masih kecil hal tersebut tidaklah aneh. Lagian Aku lakukan itu karena kamu udah kuanggap adek perempuanku. Jadi hal seperti itu boleh dilakukan kan?” sahutnya dengan kata yang yakin namun membuatku berubah perasaan.
Ternyata dia menganggapku adik saja. Tapi memang hubungan kami tidak ada apa-apa jadi apa yang kuharapkan? Aku hanya mengangguk membalas pertanyaan sambil tersenyum memaksa. Setelah kejadian itu, aku tidak berharap apa-apa lagi darinya. Disamping karena dia tak menyukaiku, di sisi lain aku belum layak merasakan hal seperti itu.
Mengingat tentangnya aku seperti seorang anak yang masih berumur 12 tahun. Aku masih belum lupa tentangnya walaupun umurku sudah tak 12 tahun lagi. Saat SMA, aku jauh darinya hingga tidak tahu lagi bagaimana kabarnya disana. Dia pergi mengikuti orangtuanya. Entah tak tahu dimana tempatnya. Walaupun bunyi-bunyi ketikan laptop sangat berisik sekali, namun tak ada pesan pun yang dihasilkan oleh bunyi tersebut tentang kamu. Sekalipun aku harus bertanya ‘Hey, apa kabar kamu?’
TAMAT
Cerpen Karangan: Indriana Igirisa
Facebook: Indriyana Igirisa
Hari ini waktu begitu panjang. Aku masih saja tetap terjaga dengan jari menciptakan bunyi-bunyian ketikan di atas papan laptop. Teringat lagi kisah yang masih tersisip lama di otakku. Sebuah kisah sahabat lama yang sudah usang. Masih teringat jelas hentakan sepatu di jalan arah sekolah bersama mereka teman SMP yang entah bagaimana kabarnya saat ini. Seperti inilah ceritanya yang masih terekam di otakku ketika SMP.
DIA, tak akan kusebutkan namanya berjalan bersamaku di pagi hari untuk setiap harinya. Tak ada yang spesial di hari-hari kami bersama. Hanya saja saat itulah hari spesialnya. Tangan kananku menggenggam sebuah coklat kecil berbentuk hadiah. Tangan kiriku menggenggam sebuah ucapan tanda selamat ulang tahun buat dia. Akan tetapi aku tak punya keberanian untuk memberikannya. Aku tidak tahu kenapa, yang pasti memberikan hadiah ini mungkin baginya adalah hal yang biasa. Tapi bagiku itu butuh nyali yang bulat untuk memberikannya. Karena dia sahabat yang penting bagiku semasa itu.
Jalan dari rumah menuju sekolah kami bisa ditempuh sejauh 1 km dengan jalan kaki. Tak ada sepatah kata pun yang keluar di antara kami. Hanyalah suara roda sepeda yang berputar yang dinaikinya serta hentakan sepatuku menyamai laju sepedanya. Ketika aku ingin mengisi kekosongan sunyi itu, dari belakang munculah seorang gadis sebaya denganku secara tiba-tiba. Dialah sahabatku yang terkenal baik hati dan dikagumi banyak orang di sekolah.
Takut ketahuan oleh gadis itu mengenai hadiah tersebut, aku pun cepat-cepat menyembunyikan dengan pura-pura membuka tasku. Tapi terlambat, gadis itu melihatnya dan langsung merampas coklat itu dariku.
“Ini buat aku aja ya?” sahut gadis itu dengan gembira. Aku hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Akan tetapi gak tahu bagaimana raut wajahku sesungguhnya, yang pasti seperti orang yang pasrah. Namun tiba-tiba saja si Dia merebut coklatku dari gadis kecil itu. “Wah kayaknya coklatnya enak. buat aku aja ya ya ya” begitulah dia berkata.
Mereka berdua berebutan coklat tersebut tanpa tahu apa yang aku rasakan. Aku tipe orang introvet ini pun jarang untuk membalas ataupun jujur dengan perasaanku. Akan tetapi melihat mereka berdua tampak akrab, entah kenapa ada cemburu di dadaku. Bukan karena cemburu yang seperti dikatakan orang saat ini. Tapi cemburu layaknya melihat orang tua kita lebih sayang ke anak lainnya. Untungnya sekolahku sudah dekat. Aku pun berlari meninggalkan mereka dengan alasan ada tugas piket kelas. Dengan lugunya mereka percaya dengan itu.
Lama sekali aku merenung di kelas sambil menyesali atas sikapku tadi. Aku pun berubah pikiran berniat untuk memberikan kertas selamat ulang tahun kepada Dia. Kucari kertas ucapan tersebut di dalam tas, akan tetapi gak ada. Tiba-tiba sebuah tangan muncul di hadapanku dengan memegang sebuah kertas.
“Ini yang kamu cari?” si Dia muncul di hadapanku bagaikan pesulap yang menghilang dan datang lagi. Sambil tersenyum dia langsung mendekapku. Tiba-tiba perasaan aneh apa ini? Aku merasakan kehangatan sebuah pelukan dan ternyata berakhir dengan ciuman di kepalaku. Si Dia mencium aku di kepala. Aku kaget dengan pengalaman pertama itu. Dan si Dia hanya tersenyum melakukan itu.
“Itu adalah hadiah balasannya. Sebenarnya aku meniru yang ada di film tentang hadiah balasan bagi seorang cewek yang mengasih hadiah ulang tahun. Dan terima kasih coklatnya sangat enak walaupun hanya kecil”. Sahut di Dia yang masih tersenyam-senyum. Sedangkan Aku masih membeku diam membelakanginya. Kuberanikan diri untuk menolehnya. Wajahnya tampak bahagia. Syukurlah. Begitulah hatiku merendah. Walaupun ada kekhawatiran yang melanda.
“Tapi kan kita masih kecil dilarang melakukan hal seperti itu” tegasku walaupun sebenarnya ada rasa senang.
“Kamu memikirkan apa? Justru kita masih kecil hal tersebut tidaklah aneh. Lagian Aku lakukan itu karena kamu udah kuanggap adek perempuanku. Jadi hal seperti itu boleh dilakukan kan?” sahutnya dengan kata yang yakin namun membuatku berubah perasaan.
Ternyata dia menganggapku adik saja. Tapi memang hubungan kami tidak ada apa-apa jadi apa yang kuharapkan? Aku hanya mengangguk membalas pertanyaan sambil tersenyum memaksa. Setelah kejadian itu, aku tidak berharap apa-apa lagi darinya. Disamping karena dia tak menyukaiku, di sisi lain aku belum layak merasakan hal seperti itu.
Mengingat tentangnya aku seperti seorang anak yang masih berumur 12 tahun. Aku masih belum lupa tentangnya walaupun umurku sudah tak 12 tahun lagi. Saat SMA, aku jauh darinya hingga tidak tahu lagi bagaimana kabarnya disana. Dia pergi mengikuti orangtuanya. Entah tak tahu dimana tempatnya. Walaupun bunyi-bunyi ketikan laptop sangat berisik sekali, namun tak ada pesan pun yang dihasilkan oleh bunyi tersebut tentang kamu. Sekalipun aku harus bertanya ‘Hey, apa kabar kamu?’
TAMAT
Cerpen Karangan: Indriana Igirisa
Facebook: Indriyana Igirisa
Hey, Apa Kabar Kamu
4/
5
Oleh
Unknown

1 komentar:
wah, sangat mendalam banget ceritanya...
Reply