My Best Friend Steal My Love (Part 2)

Baca Juga :
    Judul Cerpen My Best Friend Steal My Love (Part 2)

    “Kamu masih inget Chan kan?” tanyaku.
    “Ya… kenapa emang?” tanyanya.
    “Apa kamu masih sayang dia?” tanyaku.
    “Sedikit” katanya.
    “Aku perlu bantuanmu! kataku.
    “Bantuan? Apa?” tanyaku.
    “Sekarang, aku ingin menghancurkan hubungan asmara Chan dengan boyfriendnya” kataku.
    “Apa?! Apa kau sudah tidak sehat Key? Maksudku Eva? Kau ingin menghancurkan hubungan asmara sahabatmu sendiri?” tanyanya.
    “Ya…” kataku santai.
    “Hey Key! Sadar Key! Sadar! Ada apa denganmu Key! Apa Iblis Jahat telah memasuki pikiranmu” katanya.
    “Yase… Yase… Yase… Kau kira aku bercanda? Hahahha… Oh ayolah… Aku nggak pernah seserius ini” kataku.
    “Maaf Key! Aku nggak bisa. Apa alasanmu ingin menghancurkannya?” tanyanya.
    “Karena aku mulai sayang dengan boyfriendnya Yaitu Dimas Andreas” kataku sambil menyunggingkan senyum licikku.
    “Kau jahat Key! Kau psikopat!! Kau egois!” kata Yase disebrang sana.
    “Aku psikopat? Hahahha… Kau bercanda, aku sehat 100 persen” kataku.
    “Nggak Key! aku nggak mau! Aku berharap kamu segera sadar akan hal ini Key! Aku nggak akan biarin ini terjadi! Aku akan membongkar kelicikanmu saat aku kembali dari Jepang! Aku menyesal mengenalmu Keyla!!” kata Yase.
    “Terserah.. Aku hanya minta bantuan kamu aja.. Kalo gak mau ya udah! Gak usah bentak kali! Haha.. Aku juga bisa sendiri tanpa kamu!” kataku.
    Tut tut tut…
    telepon dari Yase terputus.

    “Hahaha dasar Kumbang! Kau kira kau bisa mengancam Evani Keyla?” kataku sambil tertawa.

    Tiba-tiba aku teringat kata Chan bahwa dia akan kerja kelompok bersama teman-temannya dan Rahsyad seorang cowok yang pernah disukai Chan dulu di taman kota, saat aku mengajaknya traveling 2 hari lalu.

    “Itu dia!” kataku.
    “Oke Eva… Kau akan dapatkan yang kau mau! Kau akan kesana diam-diam memotret Chan dan Rahsyad.” kataku di depan cermin.

    Lalu aku merasa rencanaku sudah matang.. Aku beranjak tidur.

    Paginya…

    Chan POV.
    Susah ya nunggu orang itu!
    Aku sangat lelah menanti teman-temanku di bawah pohon beringin di Taman Kota. Aku terus melirik jam tangan yang melingkar manis di tanganku.
    “Mana nih temen-temen!! Lama banget! Katanya kumpul jam 9 ! Ini jam 09.15 belum pada dateng! Mau mereka apa sih?!” kataku marah.
    Aku terus bergeming tentang teman-temanku yang belum juga datang *sampe kek orang gila*.

    “Pagi Chan!!” kata seorang cowok.
    Aku menatapnya tajam.
    “Whoff! Ada yang marah kelihatannya” katanya santai.
    “Kamu ini ya! Dateng telat! Ketua lagi! Mana yang laen?! telepon gih!” kataku tanpa henti.
    Rahsyad mulai ketakutan rupanya melihatku marah.
    “Em.. Maaf, habisnya macet!” katanya.
    Aku memutar bola mataku.
    “Ya udah sini!” kataku.
    Kemudian Rahsyad duduk di bangku sebelahku dan kami mulai bercakap-cakap tentang tugas kelompok kami.

    Eva POV.
    Aku mempersiapkan segalanya mulai dari kamera ponselku dan diriku. Tak apa, orang bilang aku psikopat… Orang gila… PHO.. Dan banyak lagi. Semua itu tidak masalah bagiku.. Kan ada kata orang.. “Orang yang mau berusaha.. maka dia akan mendapatkan hasil yang bagus”.

    “Ah Eva.. Kau pintar sekali!” kataku di depan cermin.

    Aku mengeluarkan motorku dan mulai menjalankannya menuju ke Taman Kota. Sesampainya disana, aku langsung memarkirkan motorku dan beranjak ke dalam taman kota. Aku melirik kesana kesini, hingga akhirnya aku menemukan Chan bersama Rahsyad berdua! BERDUA! Haha! Ini kesempatan terbaik!.

    Aku mendekati mereka dan mulai mempersiapkan ponsel dan penyamaranku.

    Hingga akhirnya…
    Cekrek! Satu foto berhasil kudapatkan dan sangat bagus sekali! Tepatnya saat Chan sedang tertawa bersama Rahsyad. Setelah itu aku langsung pulang. Kurang kerjaan kan? Ya.. Tepat sekali!.

    “Ini akan menjadi topik hangat antara mereka berdua!” kataku licik.

    Chan POV.
    Perasaanku mengatakan ada yang memata-mataiku dari belakang. Tetapi semua itu aku tepis karena kan banyak orang disini dan aku nggak mau mencurigai seseorang. Aku menatap tajam lagi pada Rahsyad. Dia menatapku takut.
    “Se sekarang apa lagi?!” tanyanya.
    Aku hampir tertawa melihatnya seperti itu, habisnya dia selalu sok cool di sekolah.. Ealah ternyata takut juga pada tatapan tajamku… Ealah nyakk.

    “Mana yang lain?!” kataku.
    “Mana kutahu!” katanya.
    “Ya kamu sebagai ketua telepon kek!

    Tiba-tiba ketiga temanku yang kami tunggu datang.

    “Ecie… Berduaan!” kata Alice.
    “Ehem!” dehem Jessica dan boyfriendnya Adim.
    Aku menatap mereka bertiga dengan tatapan yang tajam seperti tadi.
    “Kalian dari mana aja heh?! Ini udah selesai seperempat dan masih banyak lagi! Hah! Jelasin!!” kataku tegas.
    Ett dah.. Ini yang jadi ketua kan Rahsyad. Tapi kenapa aku yang tegas? Alah.. Entahlah.. Yang penting sekarang aku sangat marah pada mereka.
    “Maaf Chan! Kami tadi nyosis dulu” kata Alice ragu.
    “Kalian ini ya! Makan mulu! Urusan perut nanti selesai kerja kelompok! Kerja dulu baru makan!” kataku marah.

    Rahsyad pun memegang bahuku.
    “Udahlah.. Biarin aja! Nanti kalo kamu gini terus, jadi nggak selesai” bisiknya.
    Aku mengangguk.
    “Baiklah.. Kali ini aku maafin.. Kalo lain kali gini.. Jangan harap nama kalian ada di tugas oke?!” kataku sedikit lembut.
    “Iya.. Maaf ya..!” kata mereka.
    Kami pun mengerjakannya hingga selesai setelah itu kami pulang.

    Malam harinya…
    “Hai Chan… Udah makan?” tulis Dimas di BBM.
    “Udah..” jawabku.
    “Sekarang lagi apa?” tulisnya.
    “Belajar.. Ini mau tidur” jawabku.
    “Oh ya udah kalau gitu.. Sleep well ya.. :) aku sayang kamu” tulisnya.
    “Iya.. Kamu juga ya.. Love you too :)” tulisku.
    Lalu aku memasukkan buku-buku ku dan mematikan ponselku lalu tidur.

    Eva POV.
    Aku mengamati foto yang aku dapat tadi. Rasanya bagus juga hasilnya. Aku sangat tidak sabar menanti besok. Menanti saat yang sangat membahagiakan bagiku yaitu melihat Chan dan Dimas berpisah.

    Keesokan harinya…
    Malam hari…
    Aku mempersiapkan segalanya.

    Aku segaja berangkat awal hari ini agar aku bertemu dengan Dimas tanpa sepengetahuan Chan.. Ah.. Rasanya hatiku berbunga-bunga memikirkan itu. Aku segera berangkat dengan motorku. Sesampainya disana, aku melihat Dimas sedang bersantai. Aku memarkirkan motorku dan duduk di sebelah Dimas.

    “Hai Dim!” kataku.
    “Hai! Tumben awal” katanya.
    “Ingin aja sih! Oh iya.. Aku punya berita bagus buat kamu!” kataku.
    “Apa?” jawabnya bingung.
    Aku mengeluarkan ponselku dan membuka foto Chan bersama Rahsyad kemarin.
    “Nih… Aku foto sendiri saat aku jalan-jalan di Taman kota!” kataku.
    Dimas mulai memerah wajahnya.
    “Chan” tanyanya.
    “Yaa.. Chan!” kataku.
    Aku bercerita panjang lebar soal kemarin lalu aku izin pergi ke kelas dan membuat Dimas tutup mulut akan siapa yang memberitahunya. Lalu Chan datang dan Dimas menarik tangannya. Aku menyaksikannya di lorong sebelah kantor. Hahaha… Rasakan itu Chan!

    Chan POV.
    “Da papa!” kataku.
    Aku lalu melangkah masuk ke tempat lesku. Tiba-tiba seseorang menarik tanganku.
    “Chan! Apa ini!” katanya.
    Aku melihat ke layar ponsel Dimas.
    “Dim.. Apa ini?” tanyaku.
    “Kamu itu ditanya balik nanya!” katanya.
    “Kok kamu bisa punya foto itu?” tanyaku.
    “Katakan Chan! Kamu sama dia tertawa bersama! Kamu udah nggak sayang sama aku! Kalo nggak bilang aja! Jangan kek gini!” katanya kasar.
    Tak terasa sebutir air mataku jatuh.
    “Dim… Kamu salah paham.. Itu..” kataku terputus.
    “Jangan membohongi aku! Aku udah tahu semuanya!” kata Dimas.
    “Tapi Dim.. Itu adalah acara kerja kelompok kami. Ini hasilnya” kataku sambil menunjukkan lembaran hasil kerja kelompok tadi yang kebetulan terbawa.
    “Alah! Jangan bohong!” katanya.
    “Ya udah kalo kamu nggak percaya, tanya saja pada Rahsyad! Dia anak sini juga kan?” tanyaku.
    Dia hanya diam dan pergi.

    Aku lalu berjalan lambat ke kelas dengan mataku yang masih sayu.
    “Ya Tuhan.. Cobaan apa lagi ini?” batinku.

    Eva POV.
    Good job! Aku melihat mereka bertengkar.
    “Ck ck ck.. Chan-Chan… Kacian… Hahhahaha” kataku lirih.
    Aku mulai menyukai hal ini, seakan aku menemukan hobi baruku, yaitu membuat mereka berdua marahan.
    “Bagus Eva… Bagus!” batinku sambil tersenyum licik.

    Dimas POV.
    Apa ini Tuhan? Apa mungkin Chan seperti ini?. Argh!! Aku sangat kesal. Tapi apa yang bisa kulakukan?. Berkali-kali Chan menjelaskan di BBM.. Tetapi aku sama sekali tidak percaya. Aku harus apa?
    “Aku akan pergi menemui Rahsyad”

    Cerpen Karangan: Fiischa Chan
    Facebook: Fiischa-Chan

    Artikel Terkait

    My Best Friend Steal My Love (Part 2)
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email