My Best Friend Steal My Love (Part 3)

Baca Juga :
    Judul Cerpen My Best Friend Steal My Love (Part 3)

    Chan POV.
    Hwa!!!! Tuhan apa ini?.
    Aku menghempaskan tubuhku di kasur empukku. Aku memandang sekelilingku setelah bosan menjelaskan semuanya pada Dimas di BBM. Apa daya… Yang kudapat hanyalah D saja.

    Aku memandang ke luar balkon sambil berjalan ke arahnya. Aku melihat bintang-bintang di angkasa dengan mata sayuku. Seakan ingin mengutarakan apa yang aku rasakan sekarang, mulutku tiba-tiba terbuka berbicara sendiri.

    “Tuhan, salahku apa? Aku selalu melakukan hal yang terbaik buat Dimas… Apa lagi sekarang? Dimas menuduhku telah membohonginya dengan cara berdua bersama Rahsyad? Itu bohong! Aku tidak membohonginya Tuhan… Tolong singkirkan pikiran itu pada Dimas… Aku benar-benar tidak bohong Tuhan… Saat itu aku hanya mengerjakan tugas kelompok bersamanya. Kuatkan aku Tuhan” batinku.

    Setelah puas melihat bintang dan mengutarakan isi hatiku pada Tuhan, aku pun kembali ke kasurku dan lalu aku tertidur.

    “Tik Tok Tik Tok” Suara detikan jam di sebelahku.
    Aku masih saja mengulat di kasurku. Berhubung sekolahku libur karena ada suatu acara.
    “Chan.. Turun! Makan dulu” teriak mama dari luar pintu.
    “Iya ma… Ini barusan mau mandi” kataku.
    Terdengar mama menuruni tangga. Aku turun dari kasurku dan menatap ke cermin.
    “Oh tidak.. Mataku sayu! Pasti karena kemarin” batinku.

    Mengingat itu, aku menjadi tenggelam dalam kesedihan kemarin. Hatiku rasanya seperti tersayat oleh ribuan Cutter kecil. *Lay Thor!!* Aku memutuskan langsung pergi mandi untuk mendinginkan pikiranku.

    15 menit kemudian…
    Aku menuruni tangga dan menuju ke meja makan. Untunglah saat itu, tidak ada yang memperhatikan mata sayuku. Aku melahap Sushi dan onigiri di piringku dengan malas. Tepatnya, aku tidak nafsu makan.

    Setelah itu papa dan mama berangkat kerja sedangkan aku? Well, aku jaga rumah. Aku lalu memasuki kamarku dengan berbekal snack di tanganku. Aku mulai membuka bungkus kripik kentang yang aku bawa tadi sambil mengotak-atik ponselku.

    “PING!!” tulis Yoga.
    “Yoga?” batinku.

    Oke.. Yoga adalah teman lesku. Dia anak paling famous dan manis di tempat lesku. Ya… Banyak orang yang menyukainya. Fansnya pun banyak. Tetapi entah kenapa akhir-akhir ini dia jadi perhatian padaku. Dia adalah seorang penyanyi dan suka menggitar.

    “Ya?” tulisku sambil memasukkan kripik kentang ke mulutku.
    “Kamu baik-baik saja?” tulisnya.
    “Iya.. Emangnya ada apa?” tulisku.
    “Aku melihatmu menangis saat di depan pintu kemarin, ya.. Aku bermaksud menanyaimu kemarin, tapi aku urungkan niatku, karena aku lihat kamu sangat terluka” tulisnya.
    Please jangan lagi Yoga.. Jangan ingatkan aku tentang kejadian kemarin..

    “PING!!” tulisnya.

    D

    “Chan… Kamu baik-baik aja kan? Buka Line, kamu bisa ceritain semua lewat Video Call” tulisnya.

    Aku membuka Line.

    Yoga Calling..

    Aku memencet tombol setuju (hijau) di layar ponselku. Aku melihat Yoga dengan wajah cemas.

    “Hai Chan” Sapanya.
    “Hai” kataku.
    “Kok cemberut gitu?” tanyanya.
    “Aku gak papa kok” kataku.
    “Kamu nangis?” tanyanya.
    “Enggak” kataku sambil memaksakan senyumku.
    “Jangan bohong Chan.. Aku tau kok kamu sedih. Cerita dong..” katanya.
    Aku mulai membuka mulutku. “Please Yoga.. Jangan Khawatir ya.. Aku nggak papa.. Memang aku kemarin terluka. Aku…” kataku bercerita.

    “Astaga Chan… Jahat banget dia! Seumpama aku ada di posisimu, aku udah putusin dia.. Kamu yang kuat ya Chan menanggung ini semua.. Sabar Chan. Semua ada balasannya. Udah ya Chan.. Aku disuruh guru ke kelas 7 nih” katanya.
    “Iya” kataku singkat.
    Yoga memutus sambungan VCnya dan aku kembali ke kesibukanku, yaitu memakan kripik kentang renyahku.

    Aku mulai bosan melihat ponselku, akhirnya aku meletakkan ponselku dan mengutak atik buku pelajaranku. Saat tengah mengerjakan soal-soal tiba-tiba ponselku berbunyi. Kali ini aku benar-benar kaget saat melihat SMS yang mengancamku.

    Ada apa ini?

    Dimas POV.
    Aku berjalan mondar mandir menanti kehadiran Rahsyad seperti orang gila. Ya! Aku ingin tahu yang sebenarnya darinya. Aku memang tidak bermaksud untuk membuat Chan sedih karena aku tidak berkomunikasi dengannya seharian full. Tapi aku memang ingin mencari tahu tentang kejadian sebenarnya.. Siapa yang benar? Chan? Eva?. Entahlah!.

    Tiba-tiba seorang anak laki-laki seusia Chan memasuki pintu utama. Dan aku yakin dialah Rahsyad. Aku segera menghampirinya. Dia hanya memandangku sambil bertanya.
    “Ada apa ya kak?” tanyanya sopan.
    “Jadi kamu Rahsyad?” tanyaku.
    “Iya kak.. Ada apa ya?” tanyanya lagi.
    “Tolong ceritakan kejadian kemarin saat kamu dan Chan pergi kerja kelompok” kataku meninggi.
    “Loh kakak kok tau?” tanyanya.
    “Udahlah! Jelasin tentang foto ini!” kataku meninggi.
    Aku membuka gallery dan memperlihatkan pada Rahsyad.
    “Loh? Kok bisa ada foto ini” tanyanya polos.
    “Jelasin!!” kataku menekan.
    “B..baik kak.. Jadi gini…” kata Rahsyad bercerita.

    “Lalu foto ini?” tanyaku.

    Rahsyad POV.
    Aku ketakutan ketika Laki-laki seusia anak SMA kelas 2 ini menanyaiku soal itu.. Aku bisa menebak kalau dia adalah pacarnya Chan..
    “Demi Tuhan kak.. Aku nggak ngapa ngapain sama Chan.. Itu hanya…”

    Flashback
    “Pernah punya kucing?” tanya Chan.
    “Nggak, kamu?” tanyaku.
    “Pernah! Apalagi waktu aku pulang kan nggak lihat si Muffi di bawah kaki aku abisnya warnanya putih sih jadi karena nggak lihat Muzi aku tendang deh.. Dia hanya mengeong sambil berusaha duduk.”
    “Terus kamu apain?” tanyaku.
    “Ya aku elus aja si Muffi.. E dia ngambek.. Lalu aku masih ikan dianya gak jadi ngambek haha” dia tertawa.
    Aku pun ikut tertawa karenanya.

    Tiba-tiba Chan bertanya.
    “Kamu merasa ada yang motret nggak?” tanyanya.
    “Nggak tuh… Apaan sih banyak orang lah jangan GR” kataku.
    Flashback End.

    “Gitu kak” kataku.
    Kak Dimas -yang aku tau namanya dari nama dadanya- memandangku penuh rasa bersalah. Aku memberanikan diri buat bicara.
    “Em.. Kak Dim.. Aku masuk dulu ya… Udah bel!” kataku.
    “Eh emm iya.. Thanks ya infonya” katanya senang.
    “Iya kak” kataku sambil berlalu pergi.

    Dimas POV
    “Akhirnya aku mendapatkan informasi akurat tentang kejadian kemarin” batinku. Aku mencoba menghubungi Chan.. Kalian tau lah untuk apa? Well tepat sekali! meminta maaf. Mungkin meminta maaf bukan hal yang bisa dibilang gentle untuk seorang laki-laki payah sepertiku, bagaimana tidak.. Aku mempercayai hal bodoh yang hampir saja mengakibatkan hubunganku dengan Chan kandas.

    Aku membuka BBM ku dan mengirim pesan pada Chan.

    Chan POV
    Aku terkaget oleh SMS ancaman itu.

    “Jauhi Dimas atau kau akan terluka!” Tulisan di SMS itu.

    Aku mulai ketakutan.

    Oh Tuhan.. Apalagi ini?.

    Tuling!!

    BBMku berbunyi.

    “Apa? Dimas?” batinku.

    Dimas: Temui aku di taman sekarang. Aku ingin bicara sama kamu.

    Aku segera berganti baju dan meluncur ke taman dengan sepedaku.

    Setibanya disana aku celingukan mencari sesosok *eh* maksudnya seorang cowok yang mengajakku kesini. Aku melihat ke arah bangku di samping pohon beringin dan disana aku menemukan seseorang yang sangat kukenal. Siapa lagi kalau bukan Dimas!. Aku melangkah ke arah bangku itu dan duduk di samping Dimas.

    “Ada apa kau mengajakku kesini?” tanyaku menunduk dengan mataku yang mulai panas.
    Dia menoleh.
    “Maaf Chan.. Aku udah membuatmu terluka kemarin.. Aku memang salah jadi tolong maafkan aku” katanya sambil menggenggam erat tanganku.
    Aku tersenyum.
    “Tentu saja Dim.. Aku tahu kalau kamu salah faham. Tolong ya.. Jangan kayak gini lagi.. Aku mau kita berjanji untuk tidak lemah dalam situasi seperti ini lagi” kataku sambil mengangkat jari kelingkingku.
    Dimas mengangkat jari kelingkingnya dan melingkar di kelingkingku.
    “Janji!” katanya.

    Aku lalu menyandarkan kepalaku di bahunya dan dia pun mengacak rambutku. Kemudian aku teringat sesuatu. Senyum yang mulanya terukir manis di wajahku kini lenyap.

    “Eh.. Chan.. Ada apa?” tanya Dimas.
    “Aku teringat sesuatu! ” kataku sambil mengeluarkan ponselku.
    “Ini” kataku sambil memberikan ponselku pada Dimas.
    “Astaga.. Siapa yang mengancam mu? Tidak! Dia tidak akan pernah menyakitimu. Tenang saja, aku ada disini” hiburnya.
    Aku pun mengangguk.

    Setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing dan berharap kejadian ini tidak terulang kembali.

    Cerpen Karangan: Fiischa Chan
    Facebook: Fiischa-Chan

    Artikel Terkait

    My Best Friend Steal My Love (Part 3)
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email