My Best Friend Steal My Love (Part 4)

Baca Juga :
    Judul Cerpen My Best Friend Steal My Love (Part 4)

    Eva POV
    Aku yang tidak sengaja melewati taman, melihat Chan dan Dimas duduk bersama pun menjadi tertarik dengan pembicaraan mereka. Hingga…

    “Baka!(Bodoh!) kenapa ini tidak berhasil! Ah… Kekuatan cinta mereka mempersatukan mereka lagi!” dengusku.

    Aku mulai memikirkan cara yang lain.

    Tuhan bantu aku!

    1 bulan kemudian…

    Chan dan Dimas POV.
    Aaaaah… Kami sudah lelah dengan semua ini! Berita dan foto Hoax yang dikirim seseorang via BBM sangat mengganggu kami. Mulai dari Chan yang dituduh bersama dengan Cowok yang ternyata adalah kakaknya sendiri sampai Dimas yang dituduh bersama cewek lain yang ternyata adalah Kenly -adik perempuan Dimas-. Entah siapa yang mengirimnya. Karena pengirimnya menggunakan nama titik (.) di BBMnya.

    Pernah sebentar di antara kami terjadi pertengkarang karena itu. Tapi untunglah.. Kekuatan sayang kami menyatukan kami kembali.

    Eva POV.
    “Arrrrghh!!! Bagaimana ini? Sudah berpuluh-puluh kali aku memanas-manasi mereka.. Tapi apa jadinya? NIHIL!!! Lalu kalau seperti ini, apa yang akan kamu lakukan Eva! ha!” batinku. Aku sangat frustasi! Aku tidak bisa memisahkan mereka! Mereka bak perangko dan lem!!

    Aku merencanakan sesuatu lagi.
    “Kali ini pasti akan berhasil! Tunggu saja Chan! Ini akan berhasil!.” batinku.

    Aku tahu jadwal kegiatan Chan hari ini.. Untunglah aku sempat bertanya kemarin. Pikiran iblisku mulai tertawa jahat.

    Hari ini aku mengajak Dimas ke taman dimana Chan dan teman-temannya belajar musik.

    “Yuk!” kata Dimas.
    “Yuk!” kataku.
    “Hahhahahaha…” iblis di otakku tertawa lepas.

    Dimas POV.
    Entah apa yang akan Eva tunjukkan padaku. Aku hanya mengikutinya saja.
    Dia berkata kalau “aku akan menunjukkan sebuah kebenaran!” Sepertinya perasaanku tidak enak sekarang.

    Eva POV.
    Kami berdua telah sampai di taman. Aku langsung menuju tempat dimana Chan berada. Dia berada di bawah pohon beringin bersama Eka! Hanya Eka!
    “Haha… Ini dia.. Saatnya aku menunjukkan yang sebenarnya! ” batinku.

    Aku menarik lengan Dimas dan menujukkan pemandangan saat Chan tertawa saat Eka memainkan gitar kemudian Eka mencubit pipi Chan dengan gemas.

    Dimas POV.
    Apa ini? Chan dan temannya?. Aku mulai terbakar emosi. Aku sangat marah kali ini! Wajahku mungkin sekarang semerah kepiting rebus.
    “Ini NYATA! Bukan Foto atau Berita Hoax!.” batinku.

    Aku segera ke luar dari semak-semak dan meneriaki mereka berdua. “Hei!” teriakku.
    Chan menghentikan tawanya. “Dimas?” katanya.
    “Apa ini ha! Apa apaan ini! Kau.. Bersama dengan anak ini?! Kau harusnya sadar! Ada aku di hatimu!” kataku membentak Chan.
    Dia menangis. Sementara Eka menatapku dengan marah. Hubunganku yang hampir saja kandas sekarang akan hancur!!

    Chan POV.
    Aku sedang mengajari Eka memetik gitar sementara temanku yang lainnya (Ezy dan Puput) sedang membeli cemilan untuk kami semua. Serta Jasmine yang sedang melihat-lihat buku panduan bermain gitar di sebuah bazar dekat sini. Dan karena Eka adalah pemula dia banyak salah.. Hahaha.. Aku tertawa melihatnya. Saat itu tiba-tiba Eka mencubit pipiku. Gemas katanya. Eka sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Wajar saja aku membiarkannya mencubit pipiku.

    Tiba-tiba..
    “Hei!” teriak seseorang.
    Aku yang mengenal suara itu pun menoleh. “Dimas?” kataku.
    Yang kudapat adalah omelan dan kemarahan dari Dimas. Ya Tuhan! Apakah Dimas memarahiku hanya karena Eka mencubit pipiku?. Aku pun mulai menangis karena Dimas terus saja mengomel padaku. Dimas pun menatap tajam Eka yang menatapnya dengan marah.

    “Apa kamu anak kecil? Beraninya kamu?!” kata Dimas sambil meremas kerah baju Eka.
    “Jangan pernah memarahinya lagi!” kata Eka berani.
    Mereka pun mulai berkelahi kecil-kecilan seperti saling pukul.

    “Sudahlah!” kataku.
    Mereka tak bisa dipisah. Hingga…
    “Hei kalian berdua! Ini tempat umum! Jangan berkelahi! Sekarang saling minta maaf sana!” kata seorang cowok.
    Dimas dan Eka hanya saling tatap tajam.
    “Dim… Sudahlah.. Dia hanya…” kataku bercerita sementara Eka memegangi pipinya yang terkena pukulan Dimas.
    “Oh.. Begitu! Baiklah! Kau memihak Eka! Iya fine! Kau memihak Orang yang kau anggap adikmu daripada aku! Baiklah.. Kalau itu maumu sekarang kita BYE!!!” kata Dimas.
    “Bukan begit…” kataku tersendat.
    “Sudahlah! Jangan mengelak lagi! Kita BYE!!”
    Aku mematung dan melihat punggung Dimas dan Eka berlalu. Apa dia bilang?.
    “Bye!” kata itu selalu menggema di telingaku.

    Aku menangis.. Ya.. Aku menangis. Aku merasa sangat sakit. Aku menundukkan kepalaku sambil tetap menangis.
    “Jangan! Jangan tinggalkan aku.. Aku menyayangimu Dimas!” kataku tanpa suara.

    Tiba-tiba seorang cowok yang sedari tadi di belakangku yang meneriaki Dimas dan Eka agar berhenti berkelahi itu mulai berjongkok dan memegang bahuku.
    “Sudahlah Chan.. Dia nggak baik buat kamu!” katanya.
    Aku menoleh. “Yoga?!” kataku.
    Aku tetap menangis tetapi Yoga memelukku erat.
    “Jangan menangis ya.. Biarlah dia seperti itu dulu. Dimana kamu yang dulu? Dimana kamu yang kuat?” kata Yoga.
    “Yoga… Ini menyakitkan” kataku parau.
    Dia menyandarkan kepalaku di bahunya seraya menghiburku.

    Aku mulai merasa tenang berada di pelukan Yoga.

    Setelah itu aku mulai berkata “Kenapa kamu disini?” tanyaku.
    “Aku mengikuti Dimas yang kebetulan juga akan ke taman. Ya sebenarnya aku kesini buat refresh otak aja” katanya sambil mengubah posisinya menjadi duduk.

    Tiba-tiba teman-temanku datang dengan membawa camilan dan buku.

    “Kemana Eka? Dan kamu kenapa? Barusan nangis ya? Ada apa?” tanya mereka.
    “Aku gak papa kok cuma..” kataku terputus.
    “Udah Chan.. Jangan bahas dan ingat itu lagi” kata Eka yang berjalan menuju ke kami.
    “Eka? Kamu nggak papa kan? Maaf, karena aku kamu jadi kek gini” kataku menyesal.
    “Nggak papa kali Chan.. Udah ya… Dia gak baik buat kamu, mendingan kita kerjain tugas ini biar cepat selesai.” kata Eka semangat.
    “Iya!” teriak kami semua.
    “Yoga, aku mau kerjain tugas ini, kamu mau pulang kan? Pulanglah..” kataku.
    “Cie… Kelinci yang tadi cemberut sekarang senyum lagi… Aku nggak pengen pulang, aku disini aja.. Jagain kamu” katanya.
    Aku hanya menatap tak percaya padanya.

    “Hey… Jangan seperti itu menatapku.. Sekarang sana kelinci manis.. Bergabunglah bersama temanmu!” katanya.
    Aku pun tersenyum lalu pergi mengerjakan tugas itu.

    Eva POV.
    Akhirnya berhasil!! Hore-hore-hore! *ala Veera*. Sekarang aku bebas untuk bersama Dimas. Tanpa ada yang menggangguku lagi. Maafkan aku Komang Ayu Chandiesya Rachel.. Aku memang bukan sahabatmu! Aku adalah musuh dalam selimutmu hahahhahah… Aku tertawa jahat saat itu juga.

    “Kau sudah berhasil Eva! Tetapi Tugasmu belum selesai! Kau masih harus membuat Dimas suka sama kamu hahaha!” batinku.

    Dimas POV.
    Aku meninggalkan Eva sendirian! Aku berlari menuju sepedaku lalu aku pulang!

    Argggh!!!! Aku sangat marah! Aku juga sangat menyesal. Kenapa aku seperti itu? Kenapa Chan berubah!!! Aku tidak mengerti itu semua! Aku berharap tidak lagi bertemu denganmu Chan!

    Sejak saat itu, hubunganku dengan Dimas pun merenggang dan akhirnya usai. Aku merasa dia udah melupakan aku, begitupun sebaliknya. Untuk Eva? aku sudah tidak pernah berbicara lagi dengannya. Dan kabarnya, Akhirnya Yoga telah mengetahui bahwa Eva lah yang membuatku putus dengan Dimas. Sekarang, Aku hanya bisa berkata

    “semoga kalian berdua bahagia”

    END

    Cerpen Karangan: Fiischa Chan
    Facebook: Fiischa-Chan

    Artikel Terkait

    My Best Friend Steal My Love (Part 4)
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email