Rinduku

Baca Juga :
    Judul Cerpen Rinduku

    Kerinduan ini membuat detik, menit, jam dan hari menjadi bisu rasanya. Aku bangun tapi tak tahu ini pagi, siang, sore atau malam. Seperti ditelan oleh kebisuan yang luar biasa. Bukan saja bisu. Hambar.

    Aku melangkah tetapi tak melihat tapak kakiku. Aku terlelap, tetapi bangun pun ada yang tertinggal dalam lelap malamku. Kau. Iya, kau menyelinap di mimpiku setelah sehari kau meninggalkanku. Kau ada dalam mimpi malamku tapi tak ada dalam bangun pagiku. Mataku tak mampu sepenuhnya tertutup jika terlintas kau dalam kepalaku.
    Ah, inikah rindu?

    Pagi kala subuh, kau sudah berangkat meninggalkan kota ini. Selama perjalanan, masih terasa hangat genggammu lewat komunikasi jarak jauh. Sepertinya, kedip-kedip LED merah sangat kunantikan, terutama di saat-saat seperti ini. Pesan darimu begitu berharga untuk dinantikan. Padahal, hanya sekedar obrolan biasa sehari-harinya.

    Mengobrol dalam kebisuan. Tertawa dalam kebisuan. Menangis pun dalam kebisuan. Seperti itulah kehidupan kami berdua setelah terpisahkan selama satu bulan lebih lamanya. Alasan puasa dan lebaranlah yang mendasarinya.

    Baginya, berpacaran di saat puasa tidak baik. Beberapa diantara orang yang mendengar alasan itu masa bodoh. Dianggap terlalu agamawi mungkin? Memang, karena di zaman seperti ini, tidak perlu batasan waktu untuk bertemu mengumbar rindu, atau bahkan nafsu. Kalau waktunya pagi dan siang ya mungkin mengumbar rindu, tapi kalau waktunya malam mungkin ya mengumbar nafsu.
    Aku mengangguk. Aku bisa memahami alasannya berdasarkan agama. Tak mampu mengelak, sebab kami berbeda. Menghargai begitu penting dalam menghadapi perbedaan. Walaupun berat rasanya untuk menerima keadaan itu tetapi keegoisan tak boleh menguasai diriku.

    Ke Ngawi, tepatnya di Desa Dadapan lah yang keluarganya hendak kunjungi. Sempat merengek karena rindu bukan main dengannya yang makin jauh dari jangkauanku. Jangkauan mata dan hati. Apalagi, disana untuk menjalin rindu satu sama lain akan sangat sulit karena sinyal yang minim. Jika memang menjalin rindu menjadi sulit bagiku dan baginya, ia akan mencium fotoku di HPnya ketika ia hendak tidur. Begitu janjinya sebelum pergi berangkat kesana. Dan kecupan itu terasa oleh hembus angin malam ketika aku duduk dit eras seorang diri, menantikan kabar darinya hingga secangkir teh itu dingin dihinggapi semut.

    Sejak pagi aku bangun, nampaknya selimut setebal biasanya tak mampu membungkus tubuhku dalam kedinginan. Aku menggigil dan menghadap mentari. Sirat cahayanya yang menembus tralis jendela menjadikan tubuhku suam-suam kuku. Aku terperangah. Mengapa hanya aku yang kedinginan begini?

    Siang hari itu, tak banyak diriku bergerak dalam aktivitas. Aku telah berulangkali mengirim pesan bahwa aku merindukannya. Tetapi, semua kerinduan yang kukatakan, hanya mengambang-ngambang dalam genangan airmata penantianku. Jika kugambarkan semua ini padanya, tentu itu sangat membosankan. Bukankah semua kata rinduku yang katakan, kukirimkan, kurenungkan, kupikirkan dan kutuliskan tidak akan mengubah keputusan mereka untuk pulang ke Kota Solo hari sabtu?
    Aku meringkuk, dan airmataku berlinang.
    Semua kata rindu yang kulukiskan dalam tarian jari-jemariku di tombol demi tombol alfabet kuhapus. Rasanya, semakin kulukiskan, kupikirkan, kurenungkan, dan kukatakan semakin membuatku merasa gelisah dalam menghadapi waktu penantian ini.

    Penantianku tak menyerah sampai disitu. Hingga airmata, dan lelahnya kaki menanti terbalaskan sudah ketika kudapat kabar darinya. Aku tak lagi terkecoh, ini benar-benar pesan darinya. Meski sedikit tersendat-sendat, entah karena sinyal atau kepentingannya bersama keluarga, namun aku menyeringai bahagia walau hanya sementara, lalu menghilang tak tahu dimana dan kemana. Setidaknya, ia tak membiarkan sepenuhnya harinya menghilang tanpaku.

    Begitupun Tuhan, tak kan membiarkan rinduku sepenuhnya mengambang dalam genang airmata. Entah dapat sinyal dimana dan bagaimana caranya, ada saja. Seperti tadi, dia pergi ke Madiun mengunjungi keluarganya, sinyal pun menjalin kami kembali dalam obrolan hangat yang melelehkan beku hatiku selama ia pergi jauh. Namun, kini ia menghilang di antara petang dan suara adzan yang menggema. Aku meringkuk dan menunggu di antara senja yang perlahan larut oleh gelap malam.

    Cerpen Karangan: Jessica Desideria Tanya
    Facebook: Jessica Desideria Tanya

    Artikel Terkait

    Rinduku
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email