Judul Cerpen Siapa Imamnya?
Ramadhan tahun ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Malam ini aku menunaikan shalat Tarawih di Masjid Daarul Ulum. Jamaah shalat Isya dan Tarawih sudah memenuhi Masjid, bahkan beberapa dari jamaah perempuan membuat shaf hingga di pelataran depan Masjid. Aku dan Mira bergitu bersemangat karena menurut kabar yang kami dengar dari ustadzah, Ustadz Umar selaku pengasuh pondok pesantren akan mengimami shalat Isya dan shalat Tarawih malam ini.
Ceramah serta nasihat-nasihatnya yang selalu kami rindukan yang membuat kami begitu antusias untuk shalat di Masjid Daarul Ulum. Sedikit canggung karena masjid ini terletak di dalam area pesantren putra. Memasuki area pesantren putra adalah hal yang aneh bagi kami. Sehingga kami akan selalu menundukkan kepala selama masih berada di dalamnya. Jangankan bercanda, untuk mengobrol saja kami malu. “Haram hukumnya bagi santriwati memasuki area pesantren putra!!” itulah yang dikatakan ustadzah kepada kami. Mungkin hal itu juga yang dikatakan para ustadz kepada santrinya.
Adzan sudah berkumandang. Suara merdu serta bacaannya yang fashih menjadikan suasana adzan begitu khidmat. Setiap jamaah khusuk mendengarkan dan menjawab setiap bacaan adzan yang dikumandangkan. Tidak ada suara mengobrol selain sesekali terdengar suara celotehan anak-anak kecil yang sedang bermain. Ada pula suara anak yang sedang merengek meminta pulang kepada ibunya. Tetapi itu tidak mengurangi kekhusukan kami dalam mendengarkan adzan. Memang ada beberapa warga setempat yang ikut shalat berjamaah di masjid ini. Aku memilih berada di shaf bagian tengah. Samping kananku ada Mira dan Naila. Dan di samping ada ustadzah dan juga teman-teman.
Jeda waktu di antara adzan dan iqomah sangat istimewa. Setelah melaksanakan shalat rawatib aku tidak melewatkan sedetik pun selain untuk berdoa kepada Allah sampai sang muadzin mengumandangkan iqomah. Ada getaran rasa yang tak bisa kuterjemahkan. Seperti rindu akan seseorang. Yang entah siapa dan di mana.
Seperti bulan dan bintang mengerti malam. Bait-bait doa yang kutitipkan pada semilir anginnya mengalir begitu saja. Sederetan mimpi dan cita-cita terekam jelas. Lalu, ada sebuah nama di sana. Sangat pelan bahkan hampir tak terdengar saat kusebut namanya. Bermunajat dengan segenap harapan. Jika ada yang tahu, hanya aku dan Allahlah. Jika ada yang mengerti, juga hanya aku dan Allah lah yang mengerti.
Ustadz Umar berdiri di tempat imam. Beliau baru saja mengimami shalat Isya. Membuka dengan salam serta sapaan hangat kepada para jamaah. Sang Ustadz memulai ceramahnya. Beliau mengingatkan bahwa bulan Ramadhan ini harus betul-betul dimanfaatkan untuk fastabiqulkhoiraat. Sederet pesan untuk santri-santrinya selalu beliau sampaikan dalam kesempatan seperti ini. Kisah-kisah inspiratif sahabat rasul dan kisah inspiratif dari pengelamannya sendiri selalu membuat kami ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku begitu memperhatikan setiap kata dan ayat yang ia ucapkan. Seperti sebuah handphone, hatiku terasa tercharger setelah mendengar ceramah dan nasihat dari Ustadz Umar. Nasihatnya membangkitkan semangat jiwa dan raga. Beliau adalah seorang teladan, guru kami dan guru kita semua.
Shalat Tarawih delapan rakaat telah usai. Sangat khusyuk dan khidmat. Doa pun telah dibacakan. Aku begitu merinding mendengar ayat demi ayat yang dibacakan Ustadz Umar. “Ayah, doakan kami. Kelak suasana seperti ini akan terulang kembali di tempat yang berbeda. Masjidil Haram” bisikku kepada Ustadz Umar. Meski kutahu itu tidak akan terdengar sampai ke telinga beliau. Biarlah, sebaris ucapan itu menjadi doa. “Terimakasih Ya Allah. Engkau telah menempatkanku diantara orang-orang sholeh dan sholehah. Aamiin”. Setetesan bening di sudut mata segera kuusap.
Setelah berdoa beliau menyampaikan bahwa akan dilaksanakan shalat Hifdzil Qur’an yang akan diimami oleh salah satu ustadz yang juga murid beliau. Seperti dejavu, getaran rasa itu kembali menyesakkan dadaku.
Allahu Akbar.. Masya Allah.. air bening di kelopak mata tak dapat kubendung lagi. Mengalir lembut membentuk anak sungai di pipi tirusku. Dadaku terasa semakin sesak. Entah apa yang memenuhinya. Ayat demi ayat yang dibacakannya begitu fashih ditambah dengan suara yang mengalun merdu. Aku yang hafal sebagiannya tenggelam dalam kekhusukan malam itu di Masjid Daarul Ulum bersama jamaah lainnya. Allah telah menjadikannya ahli Qur’an.
“Ya Allah, tadi siapa imamnya?” lirihku.
“Itu Ustadz Furqon”
“Eh” aku gugup sekaligus kaget. Mendengar jawaban ustadzah. Kukira bisikannku itu tak akan terdengar oleh siapapun.
“Iya. Dia adalah salah satu pengajar tahfidz di pesantren putra. Nama lengkapnya Ustadz Furqon Al Imroni” ustadzah berkata dengan jelas seolah tahu isi pikiranku.
“Ooh” aku kembali diam.
“Suaranya bagus” aku kembali bersuara sambil tersenyum.
“Iya. Hampir semua santri dan asatidz sudah tahu” ustadzah berkata dengan ekspresi datar.
“Aku juga pernah dengar sebelumnya, beliau membacakan shalawat di acara pembukaan pengenalan santri baru” sahutku sambil mengingat-ingat berusaha mengembalikan memori itu.
“Ketika itu Ustadz Furqon masih berstatus santri, hehe.” Ustadzah berkata sambil tertawa kecil. Aku hanya mengangguk.
Dalam suasana gelap seperti ini aku berhasil menyembunyikan rona merah di pipiku. Kalau terlihat bisa jadi ustadzah akan terus menggodaku. Kami dalam perjalanan pulang menuju asrama putri dengan berjalan kaki. Selama perjalanan, ada saja tingkah salah satu teman kami yang membuat kami semua tertawa. Saat tersadar kalau kami sedang berada di jalan, biasanya kami langsung menutup mulut dengan kedua telapak tangan sambil cekikikan karena sisa tawa.
Enam belas santriwati angkatan akhir memang sengaja dikirim ke sini untuk dikarantina. Dan asrama tempat kami dikarantina ini memang dekat dengan asrama putra. Sesampainya di asrama aku langsung mengambil wudhu dan berniat untuk mengulang hafalan Qur’anku. Beberapa teman memilih untuk langsung pergi ke alam mimpi. Hanya ada beberapa yang mempunyai hobi makan langsung berkumpul untuk menyantap cemilan-cemilan yang ada di hadapannya. Waktu memang masih pukul 21:00 waktu setempat. Jadi ustadzah masih memberikan kesempatan untuk kami beraktivitas. Jika waktu tidur sudah tiba ustadzah akan segera memaksa kami untuk istirahat dan tidur.
Aku merasa tidak konsentrasi ketika mengulang hafalanku. Sudah kupaksakan, tetapi tetap saja. Seperti ada sesuatu yang sedang berlari-lari di pikiranku. Akhirnya aku memilih untuk merapikan tempat tidur dan mengambil posisi berbaring. Di sampingku Mira sedang asyik mengobrol dengan Naila. Entah apa yang sedang dibicarakannya, mereka terlihat senang sekali. Suasana sudah berbeda dengan sebelumnya. Hanya ada gelap dan suara detak jarum jam dan sesekali suara cekikikan Mira dan Naila. Masih sulit bagiku untuk memejamkan mata. Tak dapat kugambarkan apa yang ada dalam pikiranku, tetapi rasa rindu ini jelas. Suara merdu itu, yang selalu membuat dadaku sesak. Aku menginginkannya untuk imamku dan imam anak-anakku kelak. Suara detak jarum jam seolah membantuku menghitung jarak atara aku dan sang Imam. Inikah yang dinamakan cinta? Aku tidak mengerti. Bahkan untuk mengakuinya saja aku tak berani. Kepada siapa aku harus bercerita, aku tak tau. “Ya Allah, jika memang dia yang terbaik untukku maka dekatkanlah. Tetapi jika tidak, maka berilah kami jalan terbaik. Aamin”.
Ribuan siang membekas segenap harapan. Ribuan malam pun berlalu begitu saja meninggalkan rindu yang mendalam. Aku masih menjadikannya selaksa kata dalam setiap bait doa-doaku. Agar takdir senantiasa mendekatkan jarak kita. Namun, setitik cahaya pun tak nampak. Allah telah memberikan jalan terbaik. Rasa itu memudar bersama musim yang tidak akan pernah kembali dengan udara yang sama. Tak ada lagi rindu. Tak ada lagi dada yang sesak. Akan ku cari lantunan merdu untuk pengiring takbirku di multazam cintaNya. Dengan hati yang damai kemudian kuarungi samudera kehidupan bersama derap langkah yang pasti. Sang Imam tak pernah lagi muncul dalam rekaman kisah-kisahku. Namun, kupercayakan semua padaNya.
Akan kulanjutkan mimpi-mimpi menjadi sebuah cerita indah bagi bidadari-bidadariku. Satu hal yang kuyakini, bahwa Sang Pemilik Hati telah membangun jalan terindah menuju kebahagiaan yang akan kembali menyesakkan dada.
Tahun keempat aku mengabdi di tempat para ahli qur’an ini. Jiwa dan ragaku telah menyatu dengan ruh bangunan bertingkat ini. Pahit manis udaranya telah kuhirup dalam-dalam dan ku simpan di dalam dada. Tak akan kuhembuskan, karena itu akan membuatnya hilang. Di sini kutemukan kedamaian yang selalu menenteramkan hati.
“Ana bermaksud baik sama Antum”
Aku masih tertunduk dan menyimak, kalimat apa yang akan diucapkan Ustadz Umar selanjutnya.
“Ana juga melihat Ustadzah sudah matang, dan Insha Allah siap”.
Dalam kediaman aku semakin bingung.
“Maksud Ustadz?”
Akhirnya aku pun bersuara
“Begini Ustadzah, Ana bermaksud mengenalkan seseorang sama Antum. Beliau itu, salah satu mantan santri terbaik di sini yang sekarang alhamdulillah sudah mampu mengajar para santri. Ana berdoa semoga ini selanjutnya bisa menjadi ibadah. Sekaligus Ana melihat ada kecocokan antara Antum dan beliau. Untuk akhlak dan kepribadiannya, Ana betul-betul yakin. Beliau adalah orang yang shaleh dan baik, Insha Allah. Karena Ana sudah mengenalnya sejak ia masih menjadi santri hingga sekarang telah menjadi Ustadz panutan bagi asatidz yang lain”.
Keheningan menyelimuti ruangan. Namun, tidak di ruang hatiku. Gemuruh di dadaku seolah mengajakku berlari.
“Silahkan dipikirkan baik-baik. Berdoalah kepada Allah agar diberi petunjuk. Ana pun ikut mendoakan. Sekali lagi Ana berharap semoga ini bisa berlanjut dan menjadi ibadah serta amal baik. Kalau mau ta’aruf atau mau tau lebih benyak tentang beliau, Antum bisa tanya sama Ustadzah Raisa. Namanya, Ustadz Furqon Al Imroni. Nah, Ustadzah Raisa adalah kakak kandungnya beliau”.
Kini aku benar-benar berlari. Sesuatu memenuhi rongga dadaku, tak ada ruang untukku bernafas. Aku merasakan seolah putaran bumi tempatku berpijak semakin melambat. Aku berusaha dengan sekuat mungkin untuk menahan agar bendungan di kelopak mataku tidak tumpah. Rasa syukur kuucapkan beribu-ribu kali. Kini Allah telah menunjukkan kepadaku jalan yang sangat indah.
Tak ada janji terindah selain janji Tuhan kepada hamba Nya. Malam ini adalah saksi bahwa janji Allah itu ada, “Berdoalah kepada Ku, niscaya akan Aku kabulkan..”.
Ustadz Umar pergi meninggalkan kami di ruang tamu. Aku tak kuasa lagi menahan kebahagiaan. Kupeluk Ustadzah Raisa yang sedari tadi duduk menemaniku dengan sangat erat. Bendungan kecil itu tumpah ruah hingga membasahi kerudung yang dikenakan Ustadzah Raisa. Perempuan baik hati itu terheran-heran. Ia ingin bertanya dan meminta penjelasan atas tangisanku itu. Namun, aku belum ingin melepaskan pelukanku. Semua rasa menjadi satu dalam dadaku malam itu.
“Ya Allah, terima kasih”. Gumamku.
Cerpen Karangan: Intan Nurlailasari
Facebook: intan noe
Ramadhan tahun ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Malam ini aku menunaikan shalat Tarawih di Masjid Daarul Ulum. Jamaah shalat Isya dan Tarawih sudah memenuhi Masjid, bahkan beberapa dari jamaah perempuan membuat shaf hingga di pelataran depan Masjid. Aku dan Mira bergitu bersemangat karena menurut kabar yang kami dengar dari ustadzah, Ustadz Umar selaku pengasuh pondok pesantren akan mengimami shalat Isya dan shalat Tarawih malam ini.
Ceramah serta nasihat-nasihatnya yang selalu kami rindukan yang membuat kami begitu antusias untuk shalat di Masjid Daarul Ulum. Sedikit canggung karena masjid ini terletak di dalam area pesantren putra. Memasuki area pesantren putra adalah hal yang aneh bagi kami. Sehingga kami akan selalu menundukkan kepala selama masih berada di dalamnya. Jangankan bercanda, untuk mengobrol saja kami malu. “Haram hukumnya bagi santriwati memasuki area pesantren putra!!” itulah yang dikatakan ustadzah kepada kami. Mungkin hal itu juga yang dikatakan para ustadz kepada santrinya.
Adzan sudah berkumandang. Suara merdu serta bacaannya yang fashih menjadikan suasana adzan begitu khidmat. Setiap jamaah khusuk mendengarkan dan menjawab setiap bacaan adzan yang dikumandangkan. Tidak ada suara mengobrol selain sesekali terdengar suara celotehan anak-anak kecil yang sedang bermain. Ada pula suara anak yang sedang merengek meminta pulang kepada ibunya. Tetapi itu tidak mengurangi kekhusukan kami dalam mendengarkan adzan. Memang ada beberapa warga setempat yang ikut shalat berjamaah di masjid ini. Aku memilih berada di shaf bagian tengah. Samping kananku ada Mira dan Naila. Dan di samping ada ustadzah dan juga teman-teman.
Jeda waktu di antara adzan dan iqomah sangat istimewa. Setelah melaksanakan shalat rawatib aku tidak melewatkan sedetik pun selain untuk berdoa kepada Allah sampai sang muadzin mengumandangkan iqomah. Ada getaran rasa yang tak bisa kuterjemahkan. Seperti rindu akan seseorang. Yang entah siapa dan di mana.
Seperti bulan dan bintang mengerti malam. Bait-bait doa yang kutitipkan pada semilir anginnya mengalir begitu saja. Sederetan mimpi dan cita-cita terekam jelas. Lalu, ada sebuah nama di sana. Sangat pelan bahkan hampir tak terdengar saat kusebut namanya. Bermunajat dengan segenap harapan. Jika ada yang tahu, hanya aku dan Allahlah. Jika ada yang mengerti, juga hanya aku dan Allah lah yang mengerti.
Ustadz Umar berdiri di tempat imam. Beliau baru saja mengimami shalat Isya. Membuka dengan salam serta sapaan hangat kepada para jamaah. Sang Ustadz memulai ceramahnya. Beliau mengingatkan bahwa bulan Ramadhan ini harus betul-betul dimanfaatkan untuk fastabiqulkhoiraat. Sederet pesan untuk santri-santrinya selalu beliau sampaikan dalam kesempatan seperti ini. Kisah-kisah inspiratif sahabat rasul dan kisah inspiratif dari pengelamannya sendiri selalu membuat kami ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku begitu memperhatikan setiap kata dan ayat yang ia ucapkan. Seperti sebuah handphone, hatiku terasa tercharger setelah mendengar ceramah dan nasihat dari Ustadz Umar. Nasihatnya membangkitkan semangat jiwa dan raga. Beliau adalah seorang teladan, guru kami dan guru kita semua.
Shalat Tarawih delapan rakaat telah usai. Sangat khusyuk dan khidmat. Doa pun telah dibacakan. Aku begitu merinding mendengar ayat demi ayat yang dibacakan Ustadz Umar. “Ayah, doakan kami. Kelak suasana seperti ini akan terulang kembali di tempat yang berbeda. Masjidil Haram” bisikku kepada Ustadz Umar. Meski kutahu itu tidak akan terdengar sampai ke telinga beliau. Biarlah, sebaris ucapan itu menjadi doa. “Terimakasih Ya Allah. Engkau telah menempatkanku diantara orang-orang sholeh dan sholehah. Aamiin”. Setetesan bening di sudut mata segera kuusap.
Setelah berdoa beliau menyampaikan bahwa akan dilaksanakan shalat Hifdzil Qur’an yang akan diimami oleh salah satu ustadz yang juga murid beliau. Seperti dejavu, getaran rasa itu kembali menyesakkan dadaku.
Allahu Akbar.. Masya Allah.. air bening di kelopak mata tak dapat kubendung lagi. Mengalir lembut membentuk anak sungai di pipi tirusku. Dadaku terasa semakin sesak. Entah apa yang memenuhinya. Ayat demi ayat yang dibacakannya begitu fashih ditambah dengan suara yang mengalun merdu. Aku yang hafal sebagiannya tenggelam dalam kekhusukan malam itu di Masjid Daarul Ulum bersama jamaah lainnya. Allah telah menjadikannya ahli Qur’an.
“Ya Allah, tadi siapa imamnya?” lirihku.
“Itu Ustadz Furqon”
“Eh” aku gugup sekaligus kaget. Mendengar jawaban ustadzah. Kukira bisikannku itu tak akan terdengar oleh siapapun.
“Iya. Dia adalah salah satu pengajar tahfidz di pesantren putra. Nama lengkapnya Ustadz Furqon Al Imroni” ustadzah berkata dengan jelas seolah tahu isi pikiranku.
“Ooh” aku kembali diam.
“Suaranya bagus” aku kembali bersuara sambil tersenyum.
“Iya. Hampir semua santri dan asatidz sudah tahu” ustadzah berkata dengan ekspresi datar.
“Aku juga pernah dengar sebelumnya, beliau membacakan shalawat di acara pembukaan pengenalan santri baru” sahutku sambil mengingat-ingat berusaha mengembalikan memori itu.
“Ketika itu Ustadz Furqon masih berstatus santri, hehe.” Ustadzah berkata sambil tertawa kecil. Aku hanya mengangguk.
Dalam suasana gelap seperti ini aku berhasil menyembunyikan rona merah di pipiku. Kalau terlihat bisa jadi ustadzah akan terus menggodaku. Kami dalam perjalanan pulang menuju asrama putri dengan berjalan kaki. Selama perjalanan, ada saja tingkah salah satu teman kami yang membuat kami semua tertawa. Saat tersadar kalau kami sedang berada di jalan, biasanya kami langsung menutup mulut dengan kedua telapak tangan sambil cekikikan karena sisa tawa.
Enam belas santriwati angkatan akhir memang sengaja dikirim ke sini untuk dikarantina. Dan asrama tempat kami dikarantina ini memang dekat dengan asrama putra. Sesampainya di asrama aku langsung mengambil wudhu dan berniat untuk mengulang hafalan Qur’anku. Beberapa teman memilih untuk langsung pergi ke alam mimpi. Hanya ada beberapa yang mempunyai hobi makan langsung berkumpul untuk menyantap cemilan-cemilan yang ada di hadapannya. Waktu memang masih pukul 21:00 waktu setempat. Jadi ustadzah masih memberikan kesempatan untuk kami beraktivitas. Jika waktu tidur sudah tiba ustadzah akan segera memaksa kami untuk istirahat dan tidur.
Aku merasa tidak konsentrasi ketika mengulang hafalanku. Sudah kupaksakan, tetapi tetap saja. Seperti ada sesuatu yang sedang berlari-lari di pikiranku. Akhirnya aku memilih untuk merapikan tempat tidur dan mengambil posisi berbaring. Di sampingku Mira sedang asyik mengobrol dengan Naila. Entah apa yang sedang dibicarakannya, mereka terlihat senang sekali. Suasana sudah berbeda dengan sebelumnya. Hanya ada gelap dan suara detak jarum jam dan sesekali suara cekikikan Mira dan Naila. Masih sulit bagiku untuk memejamkan mata. Tak dapat kugambarkan apa yang ada dalam pikiranku, tetapi rasa rindu ini jelas. Suara merdu itu, yang selalu membuat dadaku sesak. Aku menginginkannya untuk imamku dan imam anak-anakku kelak. Suara detak jarum jam seolah membantuku menghitung jarak atara aku dan sang Imam. Inikah yang dinamakan cinta? Aku tidak mengerti. Bahkan untuk mengakuinya saja aku tak berani. Kepada siapa aku harus bercerita, aku tak tau. “Ya Allah, jika memang dia yang terbaik untukku maka dekatkanlah. Tetapi jika tidak, maka berilah kami jalan terbaik. Aamin”.
Ribuan siang membekas segenap harapan. Ribuan malam pun berlalu begitu saja meninggalkan rindu yang mendalam. Aku masih menjadikannya selaksa kata dalam setiap bait doa-doaku. Agar takdir senantiasa mendekatkan jarak kita. Namun, setitik cahaya pun tak nampak. Allah telah memberikan jalan terbaik. Rasa itu memudar bersama musim yang tidak akan pernah kembali dengan udara yang sama. Tak ada lagi rindu. Tak ada lagi dada yang sesak. Akan ku cari lantunan merdu untuk pengiring takbirku di multazam cintaNya. Dengan hati yang damai kemudian kuarungi samudera kehidupan bersama derap langkah yang pasti. Sang Imam tak pernah lagi muncul dalam rekaman kisah-kisahku. Namun, kupercayakan semua padaNya.
Akan kulanjutkan mimpi-mimpi menjadi sebuah cerita indah bagi bidadari-bidadariku. Satu hal yang kuyakini, bahwa Sang Pemilik Hati telah membangun jalan terindah menuju kebahagiaan yang akan kembali menyesakkan dada.
Tahun keempat aku mengabdi di tempat para ahli qur’an ini. Jiwa dan ragaku telah menyatu dengan ruh bangunan bertingkat ini. Pahit manis udaranya telah kuhirup dalam-dalam dan ku simpan di dalam dada. Tak akan kuhembuskan, karena itu akan membuatnya hilang. Di sini kutemukan kedamaian yang selalu menenteramkan hati.
“Ana bermaksud baik sama Antum”
Aku masih tertunduk dan menyimak, kalimat apa yang akan diucapkan Ustadz Umar selanjutnya.
“Ana juga melihat Ustadzah sudah matang, dan Insha Allah siap”.
Dalam kediaman aku semakin bingung.
“Maksud Ustadz?”
Akhirnya aku pun bersuara
“Begini Ustadzah, Ana bermaksud mengenalkan seseorang sama Antum. Beliau itu, salah satu mantan santri terbaik di sini yang sekarang alhamdulillah sudah mampu mengajar para santri. Ana berdoa semoga ini selanjutnya bisa menjadi ibadah. Sekaligus Ana melihat ada kecocokan antara Antum dan beliau. Untuk akhlak dan kepribadiannya, Ana betul-betul yakin. Beliau adalah orang yang shaleh dan baik, Insha Allah. Karena Ana sudah mengenalnya sejak ia masih menjadi santri hingga sekarang telah menjadi Ustadz panutan bagi asatidz yang lain”.
Keheningan menyelimuti ruangan. Namun, tidak di ruang hatiku. Gemuruh di dadaku seolah mengajakku berlari.
“Silahkan dipikirkan baik-baik. Berdoalah kepada Allah agar diberi petunjuk. Ana pun ikut mendoakan. Sekali lagi Ana berharap semoga ini bisa berlanjut dan menjadi ibadah serta amal baik. Kalau mau ta’aruf atau mau tau lebih benyak tentang beliau, Antum bisa tanya sama Ustadzah Raisa. Namanya, Ustadz Furqon Al Imroni. Nah, Ustadzah Raisa adalah kakak kandungnya beliau”.
Kini aku benar-benar berlari. Sesuatu memenuhi rongga dadaku, tak ada ruang untukku bernafas. Aku merasakan seolah putaran bumi tempatku berpijak semakin melambat. Aku berusaha dengan sekuat mungkin untuk menahan agar bendungan di kelopak mataku tidak tumpah. Rasa syukur kuucapkan beribu-ribu kali. Kini Allah telah menunjukkan kepadaku jalan yang sangat indah.
Tak ada janji terindah selain janji Tuhan kepada hamba Nya. Malam ini adalah saksi bahwa janji Allah itu ada, “Berdoalah kepada Ku, niscaya akan Aku kabulkan..”.
Ustadz Umar pergi meninggalkan kami di ruang tamu. Aku tak kuasa lagi menahan kebahagiaan. Kupeluk Ustadzah Raisa yang sedari tadi duduk menemaniku dengan sangat erat. Bendungan kecil itu tumpah ruah hingga membasahi kerudung yang dikenakan Ustadzah Raisa. Perempuan baik hati itu terheran-heran. Ia ingin bertanya dan meminta penjelasan atas tangisanku itu. Namun, aku belum ingin melepaskan pelukanku. Semua rasa menjadi satu dalam dadaku malam itu.
“Ya Allah, terima kasih”. Gumamku.
Cerpen Karangan: Intan Nurlailasari
Facebook: intan noe
Siapa Imamnya?
4/
5
Oleh
Unknown
