Tersisa Sebuah Pohon

Baca Juga :
    Judul Cerpen Tersisa Sebuah Pohon

    Orangtuaku memiliki banyak tanah, salah satunya di sebelah rumah. Disana banyak ditanam pohon mangga. kini sekarang sudah besar-besar dan berbuah lebat. saat mulai masak aku memberitahukannya kepada Ibu. “Bu, buah-buahanya sudah hampir masak, kapan kita petik?”
    “Iya kah, kalau begitu Ibu akan menyuruh Bapakmu memetiknya besok!” Kutanyakan lagi, “Terus buahnya mau diapakan Bu?” Sambil tersenyum, “Sebagian kita jual, sisanya lagi untuk kita sendiri.”

    Namun satu tahun kemudian tak ada satu pohon pun yang berbuah, bila pun ada buah itu pasti busuk. Oleh karena itu, orangtuaku berkeinginan menebang semua pohon dan lalu membangun rumah di atasnya. Semua orang setuju, kecuali aku. Aku yakin tahun nanti ia akan berbuah lebat. Aku berusaha menyakinkan mereka, “pohon-pohon ada kalanya berbuah dan tidak mungkin tahun ini kalanya tidak berbuah. Ada pun kita harus sabar menunggunya kembali berbuah!”

    Mereka tersentak diam mendengar penjelasanku, tak lama berselang Bapak memegang bahuku seraya berkata, “Bapak juga tak ingin, tapi kamu kan melihat bahwa tak ada satu pohon pun berbuah.”
    “Bagaimana kalau kita tinggal sebuah pohon agar kita tau apakah nanti ia akan berbuah atau tidak?” usul kakak.

    Aku terdesak daripada tidak sama sekali, lebih baik mengambil saran ini. Semua pohon habis ditebang kecuali satu pohon yang paling besar. Tidak lama setelah satu tahun ia berbuah lebat, bahkan dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Melihat hal itu orangtuaku dan kakakku menyesal menuruti nafsu mereka. Untung sajalah masih tersisa sebuah pohon.

    Cerpen Karangan: Muhamad Bakhtiar
    Facebook: Bakhtiar.ina64[-at-]gmail.com

    Artikel Terkait

    Tersisa Sebuah Pohon
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email