Amare, Di Dalam Mimpi

Baca Juga :
    Judul Cerpen Amare, Di Dalam Mimpi

    Mimpi bukanlah kata yang asing bagi kita semua. Dalam kamus, mimpi adalah sesuatu yang kita lihat atau rasakan saat tidur. Jadi, tentu saja mimpi itu tidak nyata. Tapi bagaimana kalau mimpimu itu nyata?

    Pukul lima pagi aku terbangun. Aku bangun dan bersiap berangkat ke sekolah. Aku tinggal sendiri dan aku sudah menjadi mandiri. Aku tidak tinggal bersama orangtuaku. Bahkan kupikir mereka tidak tahu aku kelas berapa atau berapa nomor kamar apartemenku.

    Namaku Bella. Seperti orang-orang biasa di masa modern ini, orangtuaku adalah orang kaya. Namun, mereka sangat cuek. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka dan cenderung tidak mementingkan hal-hal lain. Kupikir mereka bahkan sudah jarang mengobrol satu sama lain.
    Namun aku bukanlah anak kekanakan yang tidak tahu mengapa mereka bekerja sekeras itu. Aku juga tahu pasti mereka ingin memberikan yang terbaik padaku. Mereka bekerja tanpa kenal lelah demi pendidikanku, dan masa depanku.

    Aku tidak dekat dengan orangtuaku. Kami hanya bertemu pada hari Minggu malam. Namun rasanya canggung, karena tidak tahu apa yang harus dikatakan. Mungkin orangtuaku merasakan hal yang sama. Terkadang ada banyak yang ingin kuceritakan, namun sulit melakukannya.

    Kami sangat jarang mengobrol dan menggunakan bahasa baku saat bercicara satu sama lain. Saat mereka pulang aku akan menyambut dan memberi salam. Aku berbicara pada mereka sebagaimana aku berbicara pada orang yang baru kukenal, begitupun dengan mereka.
    Namun ceritaku baru saja dimulai. Saat aku masuk SMA, aku mendapat beasiswa karena mendapat nilai tertinggi saat UN. Aku pindah ke luar kota untuk melanjutkan SMA. Bahkan orangtuaku tidak mengatakan apapun saat aku pergi. Kurasa mereka senang aku masuk ke SMA favorit.

    Suatu malam, aku terbangun dari tidurku. Malam itu aku merasa ingin bertemu orangtuaku. Lalu terlintas padaku, “Andaikan aku memimpikan mereka malam ini.” Lalu aku mengambil air dan melanjutkan tidurku.
    Namun malam itu, aku bermimpi bertemu dengan seorang gadis kecil berparas cantik. Sangat cantik dan terlihat sendu. Namanya Amare. Lalu aku bertanya, “Siapakah kamu, Amare? Mengapa kamu ada di dalam mimpiku?” Amare tersenyum dan tidak membalas.

    Aku mulai menyadari bahwa aku bisa mengendalikan diriku saat mimpi. Aku mendatangi Amare dan sekali lagi aku bertanya, “Bagaimana kau bisa ada di sini?” Kali ini Amare menjawab, “Karena aku adalah kamu. Aku adalah bagian darimu, Bella.” Aku heran dan kebingungan.
    “Tidakkah ada yang kau inginkan, Bella?” tanya Amare. Aku menggelengkan kepalaku. “Jujur saja, aku sudah merasa cukup puas dengan kehidupanku yang sekarang.” Kataku pada Amare. Amare tertawa mengejek, “Oh tentu saja tidak, tentu ada yang kau inginkan. Sesuatu yang besar, kuat, dan hangat.”
    Aku tidak mengerti. “Apa maksudmu? Kau bahkan tidak nyata. Kau hanya bagian dari mimpi.” Amare berkata, “Aku mungkin tidaklah nyata bagi orang di luar sana. Namun aku adalah nyata dan ada padamu. Akan kuberikan bukti.” Lalu Amare menuliskan ‘A M A R E’ pada lenganku.
    Tepat setelah itu alarmku berbunyi menandakan pukul lima pagi. Aku terbangun dan entah bagaimana aku mengingat segala yang terjadi dalam mimpiku seperti itu nyata. Aku bercermin dan melihat tulisan ‘A M A R E’ pada lenganku. Mungkin Amare benar-benar nyata. Kejadian ini sangat aneh untukku.

    Pada hari itu aku menelepon orangtuaku. Aku merasa setelah bertemu dengan Amare aku menjadi ingin lebih dekat dengan orangtuaku. Saat di telepon, mereka menanyakan kabarku dan aku menceritakan kehidupan di sekolah. Aku merasa lebih baik.

    Malam sudah datang dan aku berusaha tidur. Sekali lagi Amare datang. Kali ini ia sangat sedih. Ia tidak mau berhenti menangis bagaimanapun aku menghiburnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi. “Saat kau bersedih, apa yang kau lakukan?” Tanya Amare.
    “Entah, aku tidak pernah benar-benar sedih sepertimu, Amare. Tapi aku akan diam dan menutup diriku saat sedih.” Jawabku. Lalu Amare menjawab, “Bagaimana saat kau membutuhkan seseorang? Apa kau akan tetap diam?” Aku tertegun. “Ya, aku akan.”
    “Berhenti menutup dirimu, Bella. Karena aku ada padamu, aku mengerti kamu. Mungkin orang yang kamu butuhkan sebenarnya dekat denganmu. Mungkin kau harus bertemu orangtuamu.” Sekali lagi aku tidak mengerti perkataan Amare. Namun aku tahu apa yang dia katakan itu benar.

    Setelah aku terbangun aku mengemasi barangku. Hari itu adalah hari Sabtu dan aku menelepon orangtuaku mengatakan bahwa aku ingin bertemu mereka. Orangtuaku tidak sempat menemui aku. Namun aku tetap memaksa. Akhirnya mereka menyempatkan waktu.

    Begitu aku sampai, kupeluk orangtuaku. Aku harus membuka hatiku dan berhenti menutup diriku. Atau aku akan berakhir seperti Amare tadi malam yang tak mau berhenti menangis. Orangtuaku bingung mengapa aku tiba-tiba memeluk mereka.
    Kukatakan pada mereka, sesuatu yang sangat terpendam. “Papa, Mama, aku mencintai kalian. Terima kasih atas kerja keras kalian demi aku. Aku sangat mencintai kalian.”

    Orangtuaku memelukku. Ibuku menangis. Kuceritakan perasaanku selama ini, betapa sedih aku atas sikap apatis mereka, betapa mereka mementingkan pekerjaan. Mama meminta maaf dan berjanji akan meluangkan lebih banyak waktu. Begitupun dengan papa.

    Malam itu aku bertemu dengan Amare. Amare tertawa dengan bahagia. “Berbahagialah, Bella, tugasku sudah selesai.” Aku bertanya, “Sebenarnya kamu itu apa? Dan siapa?” Amare menjawab, “Aku adalah bagian darimu, Bella. Aku hanya ingin membuatmu lebih bahagia. Amare berarti cinta. Kamu harus mengetahui betapa orangtuamu sangat mencintaimu.”

    Malam itu adalah terakhir kalinya aku melihat Amare. Tulisan ‘A M A R E’ di lenganku pun sudah hilang. Sekarang aku sangat dekat dengan orangtuaku. Mereka sudah tidak bekerja di hari Sabtu dan Minggu, meski kadang ada pekerjaan mendadak. Aku sangat berterimakasih pada Amare. Aku sangat bahagia, semua ini berkat Amare, maksudku “cinta”.

    Cerpen Karangan: Jessy G

    Artikel Terkait

    Amare, Di Dalam Mimpi
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email