Nita

Baca Juga :
    Judul Cerpen Nita

    Bangku di sudut salah satu cafe yang menyajikan banyak macam varian kopi ini adalah satu-satunya yang kosong. Letaknya paling ujung, tepat di dekat toilet dan westavel. Walaupun bukan bangku yang terbaik tapi mau bagaimana lagi. Aku rasa ini lebih baik dari pada menunggu bangku nyaman tepat menghadap TV LED di sudut sebelah kosong. Sepasang kekasih duduk nyaman tanpa dosa disana. Sementara di sova sebelahnya. Satu keluarga lengkap duduk disana. Lelaki yang paling tua, yang tampak jelas bahwa dia adalah kepala keluarganya, sibuk dengan gadgetnya sementara tangannya yang lain sibuk memasukkan kudapan ringan yang baru saja ia pesan. Seorang wanita yang duduk di sampingnya, tak diragukan lagi bahwa ia adalah istri dari lelaki tersebut tampak sibuk mengajak suaminya berbicara, namun tak tampak air muka atau gerakan dari suaminya mencoba menanggapi. Wanita malang itu nampak sangat jengkel.

    Tak lama kemudian, terjadi keributan kecil. Seorang lelaki yang dari air wajahnya nampak sedari tadi menunggu seseorang yang kutebak adalah kekasihnya. Ia sedikit membentak telepon genggam yang dipegangnya. Persis seperti sedang dengan kekasihnya sendiri. Nada memaki keluar dari mulutnya yang terkutuk itu. Ia terdengar ngotot menuduh kekasihnya selingkuh. Telepon yang kemudian ia akhiri dengan mengucapkan putus kepada seseorang lain di seberang yang meneleponnya. Aku yang duduk tepat di sampingnya tak dapat menahan senyum mendengarnya mengumpat telepon genggam yang ia pegang. Sejurus kemudian, aku pun menjadi sasaran kemarahannya. Hal yang sontak membuat seisi cafe berbalik ke arahnya. Pria yang malang, dia memilih segera meninggalkan cafe setelah itu.

    Aku kembali menenggak minuman kopi yang telah aku pesan. Mengalihkan pikiran dari keributan kecil tadi. Bangku ini bukan tempat yang tepat untuk menyendiri, tempat yang pas untukku menulis puisi-puisi kacau. Bagimana tidak, setiap 3 menit, orang-orang berlalu lalang di sampingku, kemudian tanpa rasa bersalah mencipratkan air bekas cuci tangannya ke kulitku.

    Sofa yang lain penuh. Bangku di sudut sebelah yang diduduki sepasang kekasih itu sebenarnya tempat kesukaanku. Aku suka duduk di dekat jendela. Menghisap sebatang kretek sambil mengelola blogku yang berantakan. Sesekali aku mengunjungi akun twitter atau memposting puisi-puisiku yang kacau. Aku bukan pecandu rok*k. Tapi aku membutuhkannya. Hanya sesekali aku menghisap batang-batang beracun ini. Katanya sebagai sumber inspirasi. Menikmati asapnya memasuki setiap inci paru-paruku, lalu mengeluarkannya melalui mulut atau lubang hidung. Bunuh diri yang sangat berseni.

    Kalau ingin lebih relaks, aku akan memelih pulang ke kontrakanku. Menikmati secangkir kopi hitam di balkon. Mengamati orang-orang berlalu lalang sambil menerka-nerka, hal-hal apa saja yang telah mereka lakukan seharian. Aku tidak berniat berlama-lama disini. Setelah mengecek kondisi blogku, menghabiskan 2 potong roti bakar dan segelas kopi dingin pesananku, aku akan segera pulang. Menikmati hibernasi di kosanku tampaknya lebih membahagiankan dari pada duduk membunuh waktu di tempat sialan ini.

    “Maaf, boleh aku duduk?”
    Seseorang wanita berkulit putih, dihiasi kerudung biru yang ia kenakan berdiri tepat di depanku. Kombinasi yang tepat untuk membuatnya tampak mengikuti awan dan langit biru yang cerah hari itu. Aku masih belum yakin, dia malaikat atau manusia sepertiku. Pandangannya ke arahku sambil tersenyum kemudia menyerahkan benda yang tak asing. Dengan bahasa tubuhnya, ia memintaku untuk menyambungkan Charger Laptopnya ke stop kontak di belakangku. Benda yang sangat penting, diagung-agungkan dan selalu dicari oleh orang-orang kota. Tanpa bicara, aku segara mengabulkan permintaannya dan meraih charger tersebut.
    “Silahkan duduk”
    Tawarku pelan. Berusaha cuek dan menyembunykan rasa tertarikku. Sial, dia kembali tersenyum padaku lalu kemudian tenggelam di laptopnya yang terkutuk itu. Aku sempat melirik saat ia seolah bercermin pada layar laptopnya seraya membetulkan posisi jilbabnya. Waktu seolah melambat membiarkanku memperhatikan potongan adegan itu. Aku tak yakin apakah dia menyadrinya, tapi ia tampak cuek saja.

    “Mau mencicipi?” tawarku seraya menyudorkan piring berisi dua potong roti bakar
    “Terima Kasih”
    “Ambil saja”
    “Terima kasih, tapi aku juga telah memesan”
    Aku merasa bodoh karena responnya. Aku harus menutupi kekikukan dengan kembali menenggak kopi pesananku. Hal yang sialnya semakin membuatku tampak bodoh.

    “Aku ke toilet dulu. Nitip ya”
    “Tentu saja. Barangmu tidak kan hilang kok. Aku akan menjaganya untukmu”.
    Sial, dia kembali tersenyum. Memamerkan deretan giginya yang putih. Bak deretan huruf puisi indah yang belum pernah bisa dituliskan satu penyair pun. Gigi yang memenjarakanku seketika. Aku tidak mampu keluar dari penjara itu, atau tepatnya tidak ingin. Aku terkurung oleh keadaan yang aku sendiri menyukainya.

    Sesaat kemudian ia kembali. Kali ini tanpa meminta izin dar ku ia langsung duduk dan kembali sibuk dengan laptopnya.
    “Sendirian?”
    Aku kembali memulainya dengan pertanyaan bodoh. Pertanyaan klasik. Pertanyaan yang sepertinya sudah ada sebelum nabi Adam diciptakan.
    “Begitulah”. Menoleh sebentar lalu kembali sibuk dengan laptonya.
    Aku memutar otak untuk pertanyaan selanjutnya. Hal yang jauh lebih sulit dari menghitung menghitung luas dari persegi panjang atau bangun datar lainnya. Dan jelas lebih sulit dari pada menghafalkan jumlah elekteron pada oksigen.
    “Maaf ya, aku agak cuek. Aku harus mengirim laporan Via e-mail kepada dosenku”.
    “Tidak apa-apa. Selesaikan tugasmu. Aku yang harusnya meminta maaf karena terlalu cerewet dari tadi”
    “Terima kasih. Sebenarnya aku sangat sepakat dengan apa yang kamu ucapkan barusan. Heheh”
    Sial, untuk kesekian kalinya aku harus mengumpat pada diriku sendiri. Aku pura-pura mengecek smartphone.

    “Rampung”. Air muka wanita di depanku yang sampai saat ini belum kutau namanya kini tampak puas. Sial, dia tersenyum lagi. Cantik. Dia menenggak greentea pesanannya. Sejenak dia tampak lupa dengan laptopnya dan berpaling kepadaku.
    “Hehe, maaf. Tugas lagi deadline”.
    “Nasib mahasiswa. Baru pulang kampus?”
    Begitulah
    “Kuliah dimana?”
    Ia kemudian menyebutkan nama kampusnya yang ternyata bersebelahan langsung dengan kampusku.
    “Kita tetangga kampus berarti”
    “Ooh”
    Oh? Sialan, ungkapan paham yang paling aku benci. Ia tentu saja paham dengan maksudku, tapi ungkapan ini seakan ingin membuatku bunuh diri menggunakan garpu yang tadi aku gunakan untuk menikmati roti bakar.

    “Nama kamu siapa?”
    “Namaku Nita, namamu?
    “Insan. Insan Kamil tepatnya”
    “Seperti nama salah satu walikota. Hahah”
    Tertawanya seolah membuka pintu gerbang yang telah ia tutup rapat. Setelah itu, pembahasan kami jadi semakin ringan dan menyenangkan. Langit cerah serasa mengubah tempat terkutuk ini menjadi begitu indah. Hari itu, setelah kami bertukar nomor telepon, aku menawarkan kepada Nita untuk mengantarnya pulang. Hal yang kemudian ditolaknya. Wajar saja, bahkan kalau aku wanita, aku juga akan menolak diantar lelaki yang sejatinya baru aku kenal beberapa jam yang lalu.

    Nita. Nama yang sangat sederhana. Sesedarhana hal-hal yang mengantarkanku untuk mengenalnya. Nita, ungkapan yang dalam bahasa daerahku berarti melihat. Aku seperti dapat melihat masa depan setelah mengenalnya. Mimpi masa kecil yang seolah menjadi nyata. Jika ada sesuatu yang mampu mengubah hal-hal bodoh menjadi indah maka dia adalah Nita.
    Ia mempunyai senyum yang memenjarakanku dalam kurungan yang aku tidak ingin lepas darinya. Aku ingin melihat giginya sekali lagi. Ia selalu tersenyum sebelum menggucapkan sesuatu seolah ia tau betul bahwa senyumnya dapat membuatku terus jatuh cinta. Dan sialnya. Aku betul-betul suka saat ia melakukannya.

    Aku jatuh cinta padanya saat kedua mataku pertama kali mengecup senyumnya. Setelah hal itu, aku menepis segala kemungkinan bahwa Nita mungkin telah mempunyai kekasih yang haus darah bagi siapa pun yang manggangunya. Bahwa dia mungkin tidak menyukaiku. Bahwa dia mempunyai jari kelingking yang sering terselip di lubang hidungnya saat dalam keramaian. Bahwa ia akan menjadi sangat cerewet saat haid. Segala hal yang dapat menyurutkan keinginanku untuk mencintainya aku singkirkan.

    Aku membayangkan dia seorang gadis penyendiri yang sudah lama memendam mimpi mempunyai kekasih yang mampu menuliskan puisi-puisi untuknya. Lelaki yang sewaktu-waktu dapat menjadi bijaksana untuk menasehatinya. Aku membayangkan bahwa dia memimpikan lelaki yang persis sepertiku sambil meyakinkan diri bahwa ia ingin menjadi kekasihku.

    Apa hal yang paling kau ingat tentang kekasihmu? Nada suaranya? Tawanya? Caranya bercerita? Omelannya? Caranya berjalan? Gaya berbusananya? Lagu-lagu kesukaannya? Tingkahnya saat merajuk? Percayalah. Semua hal itulah yang aku ingat ketika membayangkan Nita. Aku ingat semua kebiasaaannya dan bahkan berani bertaruh bahwa aku lebih ingat dibandingkan dengan dirinya sendiri.

    Pernahkah kau merasa bahwa kau adalah seorang penulis novel terkenal, meski nyatanya kau hanya membuat tulisan-tuisan yang berantakan. Pernahkah kau berfikir bahwa kau adalah pujangga hebat padahal kau hanya terus mengutip puisi terjemahan yang tidak diketahui orang-orang awam. Pernahkah kau merasa seolah menjadi Romeo yang baru saja dipertemukan dengan Juliet. Atau merasa sangat puitis padahal nyatanya kau hanya mengulangi kalimat-kalimat awam yang biasa diucapkan remaja-remaja labil saat menggoda kekasihnya. Seperti itulah adanya diriku sekarang.

    Wanita yang baru kutemui beberapa hari yang lalu telah menawanku dengan senyumnya. Ia membuatku tersiksa dengan siksa yang senantiasa aku nikmati. Setiap senti rongga dadaku seolah dipenuhi sesak oleh kerinduanku terhadapnya. Aku seperti unta di tengah gurun sahara yang maha panas, haus merindukan semangkuk air.

    Aku kembali menggak kopi hitam yang mulai dingin kemudian meraih smartphone yang sedari tadi tak berdering. Aku iseng mengecek nomer kontak yang kemudian menghentikanku pada nama Nita. Tanganku seolah bergerak sendiri untuk mengirimkan pesan singkat kepadanya, hanya sekedar untuk mengucapkan selamat malam, mengajaknya nonton saat weekend nanti, dan beberapa pertanyaan bodoh lainnya. Namun kuurungkan setelah melihat jam menunjukkan pukul 2 malam.
    Lima belas menit setelahnya, aku pun tertidur ditemani iringan musik-musik klasik yang telah aku atur dengan volume pelan.

    Kamis sedang terlalu lambat. Hari itu matahari memanggang segala yang terhampar, termasuk diriku yang baru saja meninggalkan kampus. Sial, sepeda motor yang kukendarai tak mampu menembus macet yang terjadi sepanjang jalan Peristis Kemerdekaan. Aku mengutuk para mahasiswa yang mengadakan demostrasi siang itu seolah aku bukan mahasiswa.

    Sejurus kemudian, aku telah menemukan diriku berhenti di salah satu cafe di pinggir jalan. Cefe yang telah beberapa kali aku kunjungi sehingga aku tau kalau disanana menyajikan kopi hangat dan beberapa kue-kue yang nikmat. Aku menyerah pada macet dan matahari yang nyatanya bersepakat untuk memperlambat hariku.
    Aku menyeruput kopi hitam yang baru saja ku pesan sambil tanganku yang satu lagi memainkan smartphone. Aku mencari nama Nita di daftar kontak, kemudian mengetik sebuah pesan
    Aku: Masih kuliah ya? Sudah makan?
    Nita: Iya, masih kuliah
    Aku: Ooh. Kirain sudah pulang, semangat..
    Nita: Iya
    Aku: Selesai kuliah langsung makan ya.
    Nita: Iya
    Aku mulai ragu untuk kembali mengiriminya pesan singkat. Takut dia yang sedang sibuk kuliah akan merasa terganggangu dengan itu. Bertuntung hidup selalu punya tapi, jemariku kemudian bergerak sesuai perintah
    Aku: Sabtu nanti ada acara?
    Ada jeda cukup lama, waktu yang membuatku sangat menyesali perbuatanku barusan.
    Nita: Gak, paling cuman istirahat di kosan
    Aku: Jalan yuk? Makan mungkin? Atau nonton?
    Nita: Nonton boleh, jam berapa?
    Aku: Oke, nanti aku hubungi lagi ya soal jamnya, sekarang kamu kuliah dulu.
    Nita: Oke
    Sial, aku tidak dapat membendung perasaan senangku. Aku tersenyum puas dan kembali pura-pura sibuk dengan smartphoneku saat tiba-tiba pria yang duduk didepanku sedang menangkapku tersenyum.

    Sabtu pagi kali ini terasa terlalu indah. Walaupun sebenarnya hari ini seperti hari sabtu pada umumnya, ditambah dengan matahari yang terlalu terik. Lagu I Could Fall In Love – Selena yang mungkin telah ribuan kali aku dengarkan terdengar begitu merdu. Lagu yang kemudian kusepakati untuk jadi sountrak hari ini. Kopi hitam yang setiap pagi kunikmatipun terasa jauh labih nikmat.

    Aku menyaksikan lalu-lalang warga komplek dari balkon kontrakanku yang seolah membawa kabar rindu dari Nita yang menunggu untuk kujemput sore ini. Rasa tak sabar ingin segera bertemu Nita penuh sesak di perutku, sesaat kemudian menjalar ke dada dan kepalaku. Aku sibuk memilih, baju apa yang harus kukenakan. Kemeja kotak-kotak dengan lengan digulung seperempat dipadukan dengan jeans dan dan sepatu kets. Atau t-shirt yang dipadukan dengan sweeter biru kesukaanku. Sibuk menerkah-nerkah, hal-hal apa saja yang kan kulakukan saat bertemu Nita.

    Tak terasa, kencan yang telah kurencanakan dengan matang berjalan lancar dan berkesan. Setelah kencan yang berlangsung dari sore hingga malam itu, aku mulai sering berhubungan dengannya via sms, BBm atau aplikasi lainnya. Bahkan dia sudah tidak canggung lagi untuk memintaku mengantarkannya ke suatu tempat. Kami mulai sering pulang kampus bersama. Tak selalu langsung pulang, kadang kami mampir ke kedai kopi atau sesekali aku menemaninya mengerjakan tugas. Kami selalu membuat janji di akhir pekan.

    Semakin sering bersama, semakin kami memahami pribadi masing-masing. Sekarang aku tau kalu nita menyukai film-film bergenre komedi seperti Ghost buster sedangkan aku menyukai film-film mitologi yunani seperti Clash Of The Titans. Aku menyukai lagu-lagu klasik sedangkan ia menyukai lagu-lagu dari band rock seperti Roling Stones. Sesekali dia mengatakan bahwa selera muusikku terlalu cengeng. Aku mencintai Novel sedangkan dia mendewakan gatget dan internet. Dia juga ternyata mempunyai suara yang merdu, hal yang kusadari pada suatu malam saat ia mengirimiku voice note dan ia bernyanyi. Ternyata ada begitu banyak perbedaan di antara kami. Hal yang selanjutnya tidak kami permasalahkan, melainkan kami nikmati. Banyak persamaan akan menibulkan kebosanan, paham itulah yang kami anut walaupun ada banyak antitesa yang melemahkan pendapat ini.

    Sudah lebih dari tiga bulan kami bersama. Kami juga mulai paham, hal-hal apa saja yang harus dilakukan saat ada masalah-masalah di antara kami. Aku tau kalau aku harus menjadi pendengar yang baik saat Nita tiba-tiba merajuk. Aku akan tetap mengantar dan menjemputnya namun jangan mengeluarkan sepatah kata pun kecuali dia yang memintanya. Jika ia menatapmu, pasang senyum termanismu dan jangan pernah memulai obrolan. Saat ia telah mulai bersuara, jangan sekali-sekali menimpali atau memotongnya. Cukup diam dan dengarkan pidato panjangnya yang berisikan ayat-ayat nasihat yang sebagian besar tak dapat kupatuhi tentunya. Jika ia sudah puas, raihlah tangan kanannya dengan lembut dan katakan “Aku minta maaf dan janji tidak akan mengulanginya. Hal yang kemudian di akhiri dengan dekapan hangat.
    Jika aku sedang sibuk dengan tugas dan tulisanku. Nita tau bahwa dia akan membuatkanku kopi dan menunggu di sampingku, menceritakan tentang dirinya, membiarkan lagu-lagu cengengku memenuhi seisi ruangan, dan menasehatiku dengan suara yang pelan dan menenangkan.

    Sudah selama ini kami berhubungan dan selama itu juga Nita selalu menolak untuk terikat dalam suatu hubungan yang namanya pacaran. Nita pernah berujar, “Kau tau, keindahan bintang terletak pada jaraknya. Kalau kita pacaran, maka tunggulah hubungan ini akan hancur”. Kalimat yang kemudian sangat aku kagumi dan hargai. Kami percaya bahwa tidak perlu keterikatan untuk tetap bersama. Aku bebas dengan jalanku, dan ia bebebas memilih arah yang akan ia tuju. Hal itu akan membuat cinta tetap tumbuh tanpa ada perasaan saling menyakiti. Cinta lebih kepada bagaimana kami saling memahami dan menyayangi.

    Kami berdua sepakat untuk menjalani hubungan dengan rasional. Keterikatan hanya akan membatasi dan mengekang kami menuju masa depan. Kami tidak muluk-muluk memimpikan kisah cinta seperti pada novel-novel romantis. Kami menjalin cinta yang lebih dewasa tepatnya. Hal ini tidak berati kami tidak berkomitmen pada suatu hubungan.

    Suatu sabtu sore yang kembali terlalu indah, aku menjemput Nita di kostannya. Kali ini aku mengajaknya ke salah satu mall di Makassar yang jaraknya lebih jauh dari mall tempat kami biasa menonton film bersama. Kali ini kami akan menonton koala kumal. Salah satu film lokal bergenre komedi romantis. Tampak nita sangat menikmati film tersebut. Aku lebih menikmati pesan dan alur ceritanya diselingi tawa sesekali saat melihat adegan-adegan konyol dalam film tersebut.

    Sebelum mengantarnya pulang. Aku mengajak nita untuk menikmati kopi hangat di salah satu kafe tempat dimana kali pertama kami bertemu. Aku mengendarai motor dengan pelan. Seolah ingin membekukan waktu dan menikmati setiap detik bersama Nita. Sepanjang jalan, sambil tertawa, Nita masi terus bercerita tentang adegan-adegan konyol dalam film yang baru saja kami saksikan.

    Entah sial apa yang menimpaku malam itu. Saat jarak kami menuju cafe itu sudah dekat, hujan turus dengan derasnya tanpa kami sadari. Aku mempercepat laju motorku. Hal yang sangat aku sesali kemudian, karena Nita tampak kedinginan dengan bajunya setengah basah. Jaket dari bahan parasut kulepas dan kupasangkan pada Nita berharap akan sedikit menghangatkannya.

    Kami duduk di bangku tepat di samping jendela. Menyaksikan hujan turun dengan deras. Sepuluh menit kemudian, seorang pria tua dengan senyum hangat nya mengantarkan kopi hangat pesanan kami. Sepi, hanya aku dan Nita yang bergantian menenggak minuman kami untuk menghangat diri. Malam semakin larut diikuti suhu semakin dingin, lenganku bergerak mendekap tubuh Nita berharap dapat membagi kehangatan dengannya. Kepalanya ia sandarkan di bahuku. Hening sejenak seolah kami berdua sepakat untuk menikmati tarian hujan. Lalu dengan sekali berpaling, bibir Nita mengecup pipi kiriku cukup lama dengan lembut.

    Seminggu sudah aku tidak mendapat kabar dari Nita. Tiba-tiba saja dia menghindariku. Pesan singkat dan bbmku diabaikannya. Aku coba meneleponnya tapi ia tidak pernah mengangkatnya. Teman-temannya pun seperti bersepakat untuk tidak membagi kabar nita padaku. Beberapa kali aku datang ke kosannya namun sia-sia, aku tak pernah mendapatinya disana. Untuk sekian lamanya, aku kembali merasa sangat khawatir. Seingatku baru 2 kali aku merasakan khawatir seperti ini, pertama saat pengumaman kelulusan seleksi masuk universitas dan yang kedua saat Winta sakit.

    Winta adalah mantan kekasihku waktu SMA, gadis manis sekaligus teman sekelasku. Setidaknya aku menjalin hubungan dengannya kurang lebih dua tahun. Hubungan yang kemudian kandas ketika kami berdua memilih melanjutkan pendidikan di universitas berbeda. Winta pernah mengalami sakit parah seminggu sebelum ujian nasional diadakan. Seminggu lebih ia sakit dan selama itu pula aku terus menjaganya di rumah sakit. Kedua orangtuanya juga terus mengharapkan kehadiranku di samping Winta. Aku khawatir winta tidak mampu mengikuti ujian nasional dengan kondisinya yang lemah. Hal yang sangat aku syukuri bahwa pihak sekolah memperbolehkan Winta mengikuti ujian nasional di rumah sakit tempat ia dirawat. Aku sangat menyayanginya hingga saat Winta memutuskan menyudahi hubungan kami. Hal yang membuatku menghindari menjalin hubungan dengan wanita lain setelah itu.

    Ahh lupakan soal masa lalu, saatnya untuk membuat cerita-cerita baru dalam hidupku. Lagi pula aku telah bertemu Nita.
    Matahari telah tertidur pulas tapi tidak denganku. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Hati dan kepalaku masi saja dipenuhi perasaan khawatir tentang Nita. Smartphoneku tiba-tiba bergetar. Dengan antusias aku segera mengecek dan menemukan pesan dari Nita disana.

    Hei, apa kabarmu Insan? Aku harap baik-baik saja. Maaf aku tak dapat panjang lebar. Intinya aku ingin minta maaf padamu. Aku minta maaf karena telah pergi tanpa mengabarimu. Aku ingin meminta maaf karena telah membiarkanmu masuk ke hidupku. Aku tau kau khawatir tapi aku tak bermaksud untuk kembali denganmu lagi.

    Sekali lagi aku minta maaf. Senin lalu aku bertemu Dani. Kekasihku sejak SMA. Kami sebenarnya sedang menjalani hubungan jarak jauh. Beberapa bulan belakangan ini, Dani memang sulit dihubungi dengan alasan yang tidak jelas. Bahkan dia sempat menghilang dan aku pikir dia telah mengakhiri hubungan kami. Namun tiba-tiba saja Dani datang menemuiku. Ia menjelaskan semuanya alasannya dan aku dapat menerima itu. kau tau. Aku sangat mencintainya.
    Mungkin setelah membaca pesan ini, kau akan menggapku perempuan bodoh. Terima kasih untuk semuanya Insan. Aku pamit.
    Aku tersenyum memelas setelah membaca pesan singkatnya. Pergilah Nita. Biarlah lukamu mengendap dan membatu di hatiku.

    Cerpen Karangan: Insan Kamil
    Blog: mytreasure18.blogspot.co.id

    Artikel Terkait

    Nita
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email