Cahaya

Baca Juga :
    Judul Cerpen Cahaya

    Daguku tak mengkerut. Begitu pula dengan dahiku. Aku terdiam di sebuah ruangan putih tanpa cahaya. Namun seakan dindingnya memancarkan cahaya bagiku -untuk memberi kesan aku tak sendiri. Dadaku terguncang. Aku mulai menarik napas dalam, sedang kakiku tegang. Rambai-rambai dalam hening bersuara radio tetangga sebelah memeditasikanku melewati hal yang kuingin lihat, rasakan saat itu juga. Aku senang membayangkannya. Kemudian, kubuat diriku nyaman dan kakiku semakin rileks. Aku terbangun setelah mata ini membawaku berangan-angan.

    Cahaya yang tak kulihat menutupi noda bajuku. Dan lagi, aku terbungkuk menyesalkan ruangan ini yang kotor. Belum kubersihkan karena ragu. Lucu, bukan? Ada. Segelintir pikiran dalam diriku. Namun ingin sekali kulupakan dan kugantikan dengan cahaya yang menyenyumkan bibirku. Hal bahagia yang kuperhitungkan sebagai keinginanku. Hingga tak lagi kasat mata.

    Aku memohon barang satu dua. Dalam renunganku, teringat orang-orang yang memengaruhi pikiranku. Kadang mereka baik di dalamnya. Di sisi pikiranku yang satu, aku hampir tak menemukan mereka menerimaku. Nakal sekali pikiran burukku! Muncul-muncul di saat aku inginkan hal-hal bahagia.

    Kusandarkan bahuku dengan tembok. Tak bertanya apa-apa pada diri sendiri. Namun aku mengeluh kesal beberapa kali akan imagi yang membuntukan naluriku. Lalu, cahaya ini muncul saat aku butuh. Aku senangnya tak seberapa, namun ini cahaya. Datang dan menerangiku dan tembok dinding ruangan ini. Dia tidak menyapaku awalnya, tapi memberiku kelimpahan. Lalu pergi saat aku mengubah permintaanku. Dan meskipun aku bilang, “…tak seberapa senang,” cahaya ini menyusun kepingan-kepingan. Membentuk utuh kotak bahagia dalam diriku yang kuyakini. Darma demi darma yang pernah kubuat, semua seakan muncul dalam benakku. Kupaksa menjadi alasan semua keberuntungan dan hasil yang baik ini muncul.

    Aku bahagia. Tidak merasa yang lain selain itu. Kutulis surat terima kasih tanpa sebab pada diriku beberapa tahun yang lalu. Karena telah menjaga dan membesarkanku untuk hari ini. Ya! Lucu.

    Cerpen Karangan: Claudia Willy
    Facebook: Uxumad Meh

    Artikel Terkait

    Cahaya
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email