True Love (Part 1)

Baca Juga :
    Judul Cerpen True Love (Part 1)

    Cuaca pagi yang cerah menghiasi taman sekolah SMK itu, terlihat seorang gadis yang tengah membaca buku di Taman sekolah. Gadis itu bernama Rere, tidak jauh dari tempat Rere membaca buku terlihat seorang pemuda yang mengamati Rere sejak tadi, pemuda itu bernama Dimas.

    Rere dan Dimas adalah teman sekelas Rama yang merupakan kekasih Rere. Sejak awal masuk SMK Dimas menyukai Rere, gadis berparas cantik dan baik hati itu. Dimas dan Rere pernah menjalin hubungan dekat. Belum lama kedekatan mereka datanglah Rama yang kemudian menyatakan perasaannya pada Rere, Rere yang semula menyukai Dimas kini beralih pada Rama, karena Rere ragu akan keseriusan Dimas, Dimas yang ia suka tak pernah menyatakan keseriusannya, sehingga Rere mau menerima Rama sebagai kekasihnya.

    Semenjak Rere menjadi kekasih Rama, Dimas mulai menjauhi Rere. Rere merasa bersalah. Rere ingin melihat Dimas bahagia dan menemukan wanita yang lebih baik darinya, sehingga Rere berusaha membuat Dimas membencinya, segala upaya telah Rere lakukan untuk membuat Dimas membencinya. Hingga Dimas tak pernah memulai pembicaraan dengannya, bahkan memanggil namanya pun kini tak pernah. Walaupun Rere adalah kekasih Rama, namun ia selalu merasakan sakit ketika melihat Dimas akrab dengan perempuan lain.

    Tak terasa waktu berjalan dengan cepatnya. Sudah setahun hubungan Rere dan Rama, Rere mulai memahami watak Rama yang keras. Rama kerap memarahi Rere hanya Karena masalah sepele. Menangis, itulah yang Rere lakukan setiap kali Rama memarahinya, namun Rere tidak pernah menangis di depan Rama, Rere tak ingin melihat Rama mengetahui kesedihannya. Kemudian datanglah Sara, teman Rere. Seperti biasa, Sara datang untuk memberi nasehat pada Rere.

    “Re, kenapa sih lo masih bertahan sama Rama, udah jelas rama Cuma nyakitin lo doang!” Ucap Sara.
    “Gua gak bisa mutusin Rama, Ra. Lo juga tau gua udah berhubungan lama sama dia, gak mudah Ra putus gitu aja!” balas Rere.
    “Re, buka mata lo!! Banyak yang suka sama lo!! Banyak yang lebih tulus dari dia!! Sadar Re yang lo lakuin selama ini sia-sia, Nangis di belakang dia, lo nangis di depan dia pun kayaknya dia juga gak peduli. Kalo emang dia sayang, gak semudah itu dia marah-marah sama lo!! Pasti ya dia nasehatin lo dulu, gak sembarang marah-marah Re!!”
    “Emang wataknya kaya gitu Ra, Gua yakin dia pasti bisa berubah!!”
    “Dari dulu lo bilangnya gitu terus, buktinya apa? Liat kenyataan Re. dia gak berubah kan Re? dia masih sama. Nyakitin elo trus, kasar sama lo!!”
    Rere terdiam, ia memikirkan kata-kata sahabatnya itu. Memang benar apa yang sahabatnya katakan. Namun di hati Rere masih bimbang, bagaimanapun juga rama adalah kekasihnya.

    “Re, lo tau Dimas?” Tanya Sara memecah keheningan.
    “Iya, kenapa Dimas?”
    “Dia tulus sama lo!! Coba bayangin gimana perasaannya waktu elo milih Rama!!”
    “Tapi Dimas nggak serius sama gua Ra,”
    “Lo tau darimana?”
    “Dia nggak pernah minta gua jadi pacarnya, padahal dia pernah bilang suka sama gua.”
    “Helloo, keseriusan itu butuh waktu Re, lo gak curiga? Rama yang baru deket sama lo bentar langsung nyatain cinta, lo gak curiga? Tapi Dimas yang selalu Care sama lo, selalu ada buat lo malah lo tinggal gitu aja.”
    “Dimas Sekarang udah benci sama gua Ra,”
    “Benci? Menurut gua nggak deh Re, malah sebaliknya. Dia jauhin lo karena lo pacarnya Rama. Lo mah gitu sih sukanya bikin kesimpulan sendiri.”
    “Emang bener kok, kalo dia nggak benci, trus kenapa dia nggak anggep gua temen, kaya dia anggep temen-temen yang lain?”
    “Ya ampun Re, Dimas suka sama lo!! mana bisa dia anggep lo temen biasa”
    “kayaknya enggak deh kalo dia masih suka sama gua Ra, Lo tau Sendiri dia deket sama temen se-Organisasinya yang namanya Leni. Lo tau itu kan?”
    “iya sih, denger-denger emang Dimas deket sama Leni, tapi Leni kan udah punya pacar.”
    “Terserahlah, yang jelas dia udah nggak suka sama gua. Gua nggak pinter volley kaya Leni. Leni juga Seksi nggak kaya gua”
    “Menurut gua sih masih cantik elo Re, lo lupa ya? Waktu SMP kan elo jadi Primadona, hampir cowok sesekolahan suka sama lo”
    “Ah, apaan sih elo Ra, itu kan dulu. Sekarang udah nggak, di SMK kita ini kan banyak yang lebih dari gua.”
    “cantik sih nggak terlalu penting Re, justru yang menonjol dari lo itu bukan Cuma wajah lo, tapi juga sikap and perilaku lo, gua suka, lo jarang marah lo juga baik sama semua orang termasuk orang yang benci sama lo, lo tetep baik sama mereka.”
    “Biasa aja Ra, gua tetep manusia yang punya sejuta kekurangan.”
    “ia deh, iya nona ngeyel yang pesek”
    “Nah, itu termasuk kekurangan gua, hahaha”
    Mereka pun tertawa bersama, memang begitulah jika Rere dan Sara bertemu. Persahabatan mereka melebihi hubungan adik dan kakak. Bagai satu jiwa dalam dua raga.

    “gimana Dimas?”
    “Ah, udahlah Ra, nggak ada harapan lagi, paling nanti dia jadian juga sama Leni”
    “Nggak ya Re, percaya deh, tapi lo nya juga sih. Dulu sadis banget ninggalin dia.”
    “Iya Ra, emang gua yang salah”
    “Ya udah Re, omongan Gua yang Awal-awal tadi lo pikir baik-baik deh,”
    “Yang mana?” Tanya Rere dengan sebelah alisnya naik keatas.
    “Rama,”
    “Ehm, iya Ra”
    “ya udah, gua cabut dulu ya Re, Nyokap keburu marah jam segini gua belum balik.”
    “Iya, Thanks ya Ra”
    “Oke-oke,”
    Rere mengantar Sara ke luar sampai depanpintu rumahnya. Memang Sara adalah sahabatnya yang paling tau perasaannya saat ini.
    Jam menunjukan pukul 23:00, namun Rere masih terjaga. Ia tak mampu menutup kedua matanya. Wajahnya yang Cantik itu terlihat Tenang, namun dalam hatinya bimbang. Bayangan Rama dan Dimas memenuhi kepalanya silih berganti. Hingga lama-lama ia terpejam.

    Kicauan burung dengan merdunya membangunkan Rere. Rere membuka matanya perlahan dan ia terkejut bukan main melihat jam dinding kamarnya menunjukkan pukul 07:00. Dia bergegas bangun dan siap-siap pergi ke sekolah. Bahkan ia sampai lupa sarapan, sandwich keju kesukaannya ia biarkan begitu saja tanpa ia sentuh sedikitpun, tali sepatunya ia tali sekenanya. Ia berlari menuju Halte, berharap bus jemputan terakhir belum melintas, namun jam tangannya yang berwarna hitam itu menunjukan pukul 08:00. Sudah pasti ia harus naik bus umum.

    Sampailah Rere di Sekolah, dengan nafas tersengal-sengal ia berlari menuju kelasnya, dan sepertinya dewi fortuna masih berpihak kepadanya, guru yang mengajar jam pertama di kelasnya berhalangan hadir hari itu. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal ia duduk di bangkunya. Teman sekelasnya menatapnya heran, beberapa temannya menghampirinya sekedar ingin mendengarkan alasan gadis itu datang terlambat. Selesai bercerita dengan teman-temannya Rere iseng melihat seisi kelas, terlihat Rama yang menatapnya dengan ekspresi datar seolah-olah tak peduli dengan apa yang terjadi pada Rere, Rere juga sempat melihat Dimas yang diam-diam mengamatinya sejak tadi. Seperti biasa Dimas selalu buang muka setiap Rere menatapnya.

    Bel istirahat berbunyi, Rere berencana menemui Rama. Rere pun menuju bangku Taman karena ia tau itu tempat dimana Rama biasa menghabiskan waktu ketika istirahat. Langkah gadis itu sempat tertahan, terasa berat ia melangkahkan kakinya, ia bimbang. Namun ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa semuanya akan baik-baik saja.

    “Rama, gua mau ngomong”
    “Ngomong aja” jawab Rama dengan cueknya, tanpa memperhatikan lawan bicaranya, dan asyik sendiri dengan HP-nya.
    “Ini penting Ram”
    “Ya udah ngomong aja”
    “Gua pengen kita putus Ram”
    “Oh, gitu? Lo udah punya pacar baru?”
    “Nggak gitu Ram, gua nggak suka sama sikap lo yang kasar,”
    “Lo nggak suka? Ya udah”
    “Tolong rubah sikap lo Ram, kalo emang lo sayang sama gua,”
    “Atas dasar apa gua harus nurutin kata-kata lo?”
    “kok lo gitu sih Ram?? Gua pacar lo”
    “Hahahaha.. Pacar?”
    “Ini nih yang bikin gua muak sama lo Ram.”
    “Wah, Rere yang cantik sekarang berani bilang gini ke gua”
    “Ya udah, kita putus”
    “Putus? Putus ya? Ehm.. gimana ya?”
    “Pokoknya kita putus” tegas Rere.
    “Oke, kalo itu yang lo mau!! KITA PUTUS!!!” Bentak Rama pada Rere.

    Rere masih berada di tempatnya tanpa beranjak sedikitpun. Ia diam, hanya air mata yang tak dapat berhenti membanjiri pipinya. Lama ia terdiam sendiri di taman sekolah. Bersamaan dengan itu Sara yang melihat sahabatnya berdiri sendiri di taman langsung menghampirinya. Seketika itu juga ia terkejut melihat keadaan Rere.

    “Ya ampun Re!!! lo kenapa??” Tanya Sara sembari menghapus air mata Rere. Namun Rere hanya diam.
    “lo kenapa Re??? bilang sama gua!!”
    Rere pun langsung memeluk sahabatnya itu, ia menangis sejadi-jadinya di pelukan sahabatnya.
    “Gua putus sama Rama, Ra”

    Cerpen Karangan: Anninda Dian Pangesti
    Facebook: Anninda Dhian Pangesti

    Artikel Terkait

    True Love (Part 1)
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email