Willy And The Forgetful Girl

Baca Juga :
    Judul Cerpen Willy And The Forgetful Girl

    Willy tengah duduk di pinggir lapangan bersama sahabatnya, Juno. Yang kini tengah sibuk meneguk sebotol air mineral di tangannya.
    “Jadi… sekarang tinggal beberapa hari lagi menuju O2SN,” gumam Juno seusai menghabiskan tetes terakhir air minumnya. “Are you ready for the game, Will?”
    Willy mengangguk. “Totally ready,” jawabnya sambil menatap ke layar ponsel. Sudah hampir sebulan sebuah foto dirinya bersama seorang gadis dia jadikan sebagai Wallpaper. Willy tersenyum tiap kali mengingat pertemuannya dengan gadis berwajah manis itu.
    “Ngomong-ngomong, dia itu cewek yang ketemu sama kamu waktu liburan di Bandung, ya? Kamu pernah bilang kalau dia itu sekolah di SMP 08, kan?”
    “Iya, dia itu cucu tetangganya Tante Ariel.”
    “Kamu inget apa kata Pak Danny, kan? Dia bilang lawan pertama kita di O2SN itu SMP 08.”
    Willy tersenyum lebar dan melirik kearah Juno. “Iya, inget. Itu sebabnya aku ngerasa siap banget menghadapi pertandingan pertama kita nanti, karena aku gak sabar mau cari dia di SMP 08.”
    Juno mengerutkan alisnya. “Will, kamu kan udah lama tau kalau dia sekolah di SMP 08. Kenapa baru sekarang kamu cari dia?”
    “Waktu itu kan masih ada Lea, Jun. Aku harus menghargai perasaan dia lah, masa iya aku deketin cewek lain?”
    Juno tersedak air liurnya sendiri saat mendengar jawaban Willy. Dia tak menyangka Willy masih dapat memikirkan perasaan gadis yang sudah sering bermain nakal di belakangnya. Lea bukan gadis yang pantas dihargai, pikir Juno. “Buat apa menghargai orang yang gak pernah menghargai kamu?” tanya Juno sinis.
    “You know I was blind at that time.” Willy tersenyum tipis.
    “Yes, I know.” Juno menepuk pundak Willy. “Ya udah, aku pulang duluan, ya. Sampai ketemu di latihan berikutnya. Bye.” pamit Juno yang kemudian meninggalkan Willy sendirian di lapangan basket.

    Sepeninggal Juno, Willy kembali menatap layar ponselnya. Sambil menimbang-nimbang perkataan sahabatnya, yang selalu mengatakan kalau Willy hanya membuang waktunya ketika menjalin hubungan dengan Lea.
    Jadi kali ini, Willy berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi membuang waktunya. Dia akan mencari gadis itu, gadis yang seharusnya sudah lama dia cari. Gadis yang pernah dia temui sebelum dirinya menjadi kekasih Lea, yang pernah mengisi kekosongan harinya saat liburan semester lalu.
    “I must find you,” gumam Willy.

    Pertandingan basket O2SN tingkat SMP yang diikuti International Middle School of Jakarta melawan SMP 08 Jakarta berlangsung cukup menegangkan. Pertandingan ini merupakan pertandingan pertama bagi kedua sekolah tersebut, namun sekolah swasta bertaraf Internasional yang digawangi Willy dan kawan-kawan ternyata lebih unggul. Dengan hasil nilai 72-67, Willy dan kawan-kawan berhak melangkah ke babak selanjutnya.

    Seusai pertandingan Juno melihat Willy sudah mulai menjauhi kerumunan. Dia bahkan tidak menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama anggota timnya sendiri. Juno pun memutuskan untuk menghampirinya, yang terlihat kebingungan dan kehilangan arah.
    “Segitu niatnya kamu cari dia?” Juno menepuk pundak Willy, membuat remaja lelaki berdarah Indo-Australia itu menoleh.
    “Niat lah, Jun. Aku gak mau ngelewatin kesempatan yang udah lama aku sia-siakan ini.”
    Juno tertawa geli. “Kamu tuh lucu tau, Will.”
    “Lucu kenapa?”
    “Kamu kan bilang kalau kamu ngabisin waktu liburan semester lalu bareng dia, tapi kamu sama sekali gak punya kontak dia. Kamu pun gak pernah berusaha menjalin hubungan dengan dia setelah itu, dan kamu malah mau cari dia setelah berbulan-bulan lamanya.” jawab Juno panjang lebar.
    “Ya mau gimana lagi, Jun. Aku kan udah bilang, I was blind at that time.”
    “Hmm.. iya. Kamu buta gara-gara cewek yang udah lama kamu suka, yang berkali-kali nolak kamu; Yang tiba-tiba mau jadi pacar kamu setelah kamu berusaha lupain dia.”
    Willy menatap Juno dengan tatapan kesal. Bukan karena apa yang telah Juno katakan padanya, melainkan karena semua yang dikatakan Juno itu benar. Willy kesal pada dirinya sendiri. Entah kenapa dia bisa terjebak di dalam sebuah drama yang didalangi Lea. Drama yang mungkin terlalu berlebihan bagi remaja yang masih duduk di bangku SMP seperti dirinya.
    “Your life is full of drama, Will..”
    “Ssst, Jun!” Willy memotong perkataan Juno, dan memintanya untuk menoleh ke belakang.

    Seorang gadis berambut pendek tengah berdiri di hadapan Juno. Dia tersenyum pada Juno dan Willy sambil memegangi dua botol minuman isotonik di tangannya.
    “Permisi, Kak. Maaf aku ganggu percakapannya. Aku dari ekskul Tata Boga SMP 08, kita lagi buka stan jualan nih kak di sebelah sana.” Gadis itu menunjuk ke sebuah stan yang terletak tak jauh dari lapangan basket. “Buat Kakak-kakak yang haus dan lapar boleh mampir ke stan kami, Kak. Kita jual banyak makanan yang bersih dan halal, kita juga jual minuman isotonik dari sponsor sekolah kita dengan harga murah khusus untuk hari ini. Kakak mau beli?” tanyanya kemudian.
    Juno menggaruk kepalanya. Dia merasa bingung sekaligus kagum dengan kemampuan berbahasa dari gadis itu dalam memasarkan produk jualannya. Sedangkan Willy sibuk memperhatikan gadis lain yang setia berdiri tak jauh dari mereka. Gadis itu terlihat sedang menunggu temannya menawarkan minuman pada Willy dan juga Juno.

    “Will, kamu mau beli, gak?” tanya Juno, tapi Willy tak merespon, atau bahkan mendengar ucapan Juno. “Will, kamu mau kemana?” Juno heran ketika melihat Willy tiba-tiba berjalan menjauhinya, dan mendekati seorang gadis yang dia perhatikan sejak tadi.
    “Kamu Olive, kan? Apa kabar? Akhirnya aku bisa ketemu kamu juga,” ucap Willy saat menghampiri gadis itu.
    “Kamu tau nama aku dari mana? Kamu siapa?” tanya Olive.
    “Ini Willy, Live. Willy keponakannya Tante Ariel. Willy si Mr. Pede, kamu sering panggil aku begitu.”
    Olive mengerutkan alisnya. “Ehm.. maaf tapi aku gak inget punya temen yang namanya Willy, dan aku juga gak tau kalau Tante Ariel itu siapa. Maaf, mungkin kamu salah orang.”
    “Becanda kamu gak lucu, Live. Selera humor kamu itu tipis banget, seperti biasanya.” Willy terkekeh.
    “Aduh, aku beneran gak inget pernah ketemu sama kamu. Jadi tolong jangan sok asik dulu, karena belum tentu kita beneran pernah ketemu. Permisi.” Olive pergi meninggalkan Willy, diikuti oleh temannya yang tadi menawarkan minuman isotonik pada Juno.
    Willy seperti baru saja mendapatkan tamparan hebat di kepalanya. Dia tak mengerti kenapa Olive bersikap seolah tak pernah bertemu dengannya dan terlihat takut pada Willy.
    “Sabar, bro.” Juno menepuk pundak Willy.

    Jumat sore, Willy datang ke SMP 08 untuk kembali menemui Olive. Dia mendapat kabar dari beberapa temannya yang juga bersekolah SMP 08 kalau ekskul Tata Boga biasa mengadakan perkumpulan rutin setiap hari jumat, dan sebentar lagi mereka akan selesai.

    Willy setia menunggu di depan gerbang sekolah ketika tiba-tiba dirinya melihat Olive bersama beberapa teman-temannya. “Olive!” panggil Willy seraya menghampiri gadis itu.
    “Kamu lagi. Ngapain kamu ke sini?”
    “Aku mau tau kenapa kamu pura-pura lupa sama aku. Kamu kenapa?”
    Olive mendengus. “Aku tuh gak pura-pura lupa. Tapi aku emang gak tau kamu itu siapa.”
    “Kok bisa? Kita kan pernah ketemu, aku-”
    “Heh!” Si gadis penjual minuman isotonik tiba-tiba muncul dan memotong perkataan Willy. “Kamu pulang aja, Live. Biar aku yang urus orang ini,” ucapnya. Olive mengangguk dan segera pergi meninggalkan tempat itu.

    “Hai, nama aku Putri. Aku sahabat Olive sejak kelas satu SMP.” Si gadis penjual minuman isotonik memperkenalkan dirinya pada Willy. “Kamu beneran kenal sama Olive?” tanyanya. Willy pun mengangguk.
    “Kamu bukan orang yang sekedar tau dia dari sosial media dan ngaku-ngaku pernah deket sama dia?” tanyanya lagi. Dan kali ini Willy menggelengkan kepalanya.
    “Coba jelasin gimana kamu bisa kenal dia!”
    Willy menghela nafas sejenak. “Liburan semester lalu aku pergi ke Bandung, ke rumah Tanteku, Tante Ariel namanya. Nah Tanteku itu punya tetangga yang kebetulan lagi kedatangan keluarganya dari Jakarta, yaitu keluarganya Olive. Karena Tante Ariel tinggal sendiri, Neneknya Olive udah anggap Tante Ariel seperti anaknya. Dari situ aku kenal Olive dan keluarganya, karena selama dua minggu di Bandung aku selalu bareng sama dia,” jelasnya panjang lebar.
    Putri mengangguk. “Berarti kamu gak bohong soal kamu kenal sama Olive, tapi Olive juga gak bohong soal dia yang emang gak inget pernah ketemu sama kamu. Karena Olive itu menderita Prosopagnosia Developmental, intinya dia akan gampang lupa sama orang yang pernah dia temui. Dia cuma bisa inget orang-orang yang sering dia temui, bukan orang seperti kamu yang udah lama gak ketemu sama dia.”
    Willy tercengang mendengar fakta tentang Olive dari mulut Putri tadi. “Jadi, apa ada kesempatan untuk Olive inget sama aku?” tanyanya kemudian, membuat Putri menggidikan bahunya.
    “Ya udah, kalau gitu aku mau kamu kasih ini ke Olive. Karena ini satu-satunya bukti kalau aku emang kenal dan pernah deket sama dia.” Willy memberikan sekumpulan foto dirinya bersama Olive yang sudah dia cetak pada Putri. “Makasih infonya ya, Put. Permisi.” ucapnya yang kemudian pergi meninggalkan Putri dan gedung SMP 08.



    “Willy keponakannya Tante Ariel, ya?” tanya Ibu Olive saat melihat anak gadisnya menatapi foto yang baru saja diberikan Putri padanya.
    “Aku beneran kenal dia, Ma? Kalau foto ini hasil editan gimana?”
    “Kamu kenal, kok. Tante Ariel itu kan tetangganya Nenek, dan Nenek ngenalin kamu sama Tante Ariel dan Willy waktu liburan semester lalu. Kamu lumayan akrab kok sama dia, dia juga sering main di rumah Nenek bareng kamu.”
    Olive menggaruk kepalanya. “Aduh, penyakit pelupa ini udah buat orang lain bingung. Aku harus minta maaf sama Willy pokoknya, harus,” gumamnya kesal.

    Esoknya Olive datang ke International Middle School of Jakarta untuk menghampiri Willy dan rekan timnya yang sedang latihan basket. Sebenarnya Olive ragu untuk datang sendirian, tapi karena Putri berhalangan mengantarnya mau tak mau Olive harus memberanikan diri.

    Dengan sedikit mengendap-endap, Olive mendekati Willy yang sedang beristirahat di pinggir lapangan. “Hai, Mr. Pede,” sapa Olive.
    Willy yang tak percaya akan kehadiran Olive pun langsung tak bergeming. “H-hai.” Pada akhirnya hanya itu yang dapat keluar dari mulut Willy.
    “Maaf ya, Will. Mungkin ini agak aneh buat kamu, tapi aku emang lupa. Itu juga bukan karena aku sengaja mau lupain kamu. Aku minta maaf.”
    Willy mengangguk. “Iya, aku ngerti. Aku maafin kamu. Asalkan kamu akan inget aku untuk seterusnya, and allow me to make you remember me everyday.”
    Olive tersenyum lebar. “Sure. I allow you and I promise I’ll remember you everyday, Willy.”
    Willy tersenyum bangga, akhirnya Olive memberi kesempatan Willy untuk membuatnya kembali mengingat semua yang pernah mereka lalui di liburan semester lalu. Willy berjanji pada dirinya sendiri, dia akan selalu membuat Olive ingat padanya, bahkan hingga akhir nanti. Olive harus selalu ingat pada Willy, selamanya.

    Cerpen Karangan: Risa Idzni Majid
    Facebook: Risa Shi

    Artikel Terkait

    Willy And The Forgetful Girl
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email