Dia Yang Terluka

Baca Juga :
    Judul Cerpen Dia Yang Terluka

    “Apa? Kamu gebetan sama azkar? Gilaa kamu ituu pacarnyaa gilang sya” mia kaget sekali dengan ceritaku. Padahal aku biasa biasa saja “oh ayolah mi, aku juga butuh temen jalan disini. Lagian aku pastiin deh gilang nggak bakal tau soal ini. Azkar juga tau kok aku pacarnya gilang” mia masih saja tak percaya “kalian itu emang gila ya.. Kalian backstreet? Kamu nyakitin perasaan gilang tau” kata mia. “Yaa aku cuma kaya temenan aja sama azkar, aku tetep cintanya sama gilang kok” tambahku.
    “Tuh kan.. Kamu berarti cuma mainin perasaan azkar dong? Juga nyakitin gilang. Ah terserah deh” mia jadi kesal sendiri. “Ayolah kaya gak tau aku aja.. Laagian azkar kan playboy. Dia gak sama aku aja..” aku tersenyum pada mia, dan pergi berlalu.

    “Sayang semangat ya sekolahnya,” pesan dari gilang. Yaa kami berdua memang LDR aku sekarang kelas tiga SMA dan gilang melanjutkan studinya di yogyakarta. Hubungan kami sudah setahun lebih, dan aku rasa aku mulai bosan. Bagaimana tidak? Aku selalu kesepian. Apalagi dia selalu sibuk. Pesan singkat seperti tadi saja tak setiap hari aku dapatkan. Jujur aku bosan, tapi aku mencintainya.

    “Ciee pacarnya aku ngelamun aja nih” azkar mengejutkanku “apa sih, mana pacar kamu? Bukannya kamu jomblo ya ha ha ha” aku tertawa. “Dasar,” azkar mencibir “iya sayangku, traktir bakso ya” aku tersenyum manis sambil mencubit pipinya “aw, dasar bersikap manis kalo ada maunya” kata azkar. “Oh ya udah, aku pergi aja ya.” aku bersiap bangkit meninggalkan meja kantin “eh eh aduh neng cantik jangan marah dong, nanti tambah cantik” rayu azkar, dan aku luluh. “iyaa aku traktir bakso, biar tambah gendut ya” azkar mengelus puncak kepalaku. Seperti adik yang penurut aku pun duduk.

    Beberapa menit kemudian dua mangkok bakso dan dua gelas es teh datang ke meja kami.
    Kami segera menyantapnya sambil ngobrol ngobrol..

    “Rasya.. Ngomong ngomong, gimana hubungan kamu sama gilang?” tanya azkar -uhuk- aku hampir saja tersedak. “Emmm.. Ya gitu deh” jawabku hati hati. Aku gak mau juga kalau melukai hatinya azkar. “Oh gitu ya..” balas azkar. “Emm kamu juga gimana? Sama adik kelas?” aku jadi ingin menanyakan itu juga “biasa aja, aku belum ada apa apa sama dia. Aku sih berharapnya ada apa apa sama kamu” kata azkar, ya aku menganggapnya bercanda. Tapi? Lihat azkar sedang menatap mataku dalam dan tersenyum manis. Siapa sih yang nggak meleleh. Aku cuma bisa senyum senyum sambil ngaduk kuah bakso.



    “Miaaaa, gilang kok nggak ada kabar sih dari kemarin” kataku “loh, siapa tau dia sibuk” jawab mia.

    Gilang selalu saja sibuk, aku merindukannya. Aku kangen waktu dulu saat masih bisa sama sama dia. Makan bareng, nonton bareng. aku kangen banget sama gilang. Andai aja gilang itu kaya azkar, walaupun dia sibuk tetep aja ngasih kabar ke aku. Yaa walaupun dia gak cuma ngasih kabar ke aku. Tapi, aku cuma pengen setidaknya gilang itu jangan ngilang kaya gini.

    “aku cuma bisa mendoakan kebahagiaan kamu, walaupun itu bukan sama aku.”

    Aku baru saja membuka akun fb azkar dan aku menemukan status itu. Aku merasa status itu ditujukan padaku, entah kenapa. Lalu statusnya yang lalu

    “Yang suka marah marah, dikasih bakso langsung diem. Cantik deh kalo marah, sayang udah ada yang punya. Hahaha”

    Aku merasa ngilu sendiri membaca status statusnya. Apa iya azkar benar-benar mencintai aku? Bukannya dia udah sama adik kelas.

    “Haloo?” aku menelpon azkar
    “Iyaa haloo, selamat malam rasya” balasnya
    “Iya malam azkar, lagi apa?”
    “Lagi duduk..”
    “Sama siapaa?”
    “Berharapnya sih sama kamu..”
    “Ya udah sini raa di samping aku kosong”
    “Iya tapi hatinya nggak kosong. Hahaha”
    “Ah azkar apaan sih, kaya hati kamu kosong aja”
    “Kalo kamu mau, aku bisa aja ngosongin hati aku. Khusus buat kamu. Yang penting jangan bikin hati aku lebur”
    “emmm…”
    “Pedes ya? Hem hem apaan sih.”
    “Hehehe enggak kok,”
    “Udah malam nggak ngantuk?”
    “Udahh.. Kamu nggak emangnya?”
    “Ya ngantuk sih. Tapi kamu tidur dulu aja, selamat malam ya rasya sayang. semoga mimpiin aku hehe”
    “Iya selamat malam juga azkar sayang, jangan tidur malem malem nanti sakit.”
    Aku menutup teleponku.
    Aku tatap ponselku, azkar. Jujur saja aku sayang dia. Tapi gak kaya aku sayang ke gilang, ibaratnya aku cuma anggap azkar pacar bohongan aja. Aku jadi takut nyakiti dia padahal aku nggak niat gitu.

    Aku sama gilang masih tetap sepasang kekasih, dan aku sampai sekarang juga masih dekat dengan azkar. Sepertinya aku tambah nyaman sama azkar begitu pula sebaliknya. Tapi tetap saja aku udah punya gilang. Dan aku nggak mungkin nerima azkar..

    “Aku sayang kamu sya, sayang banget..” ucap azkar sore itu. Kami menatap danau berdua. “Aku juga” balasku. Kami masih sama menatap ke depan menatap air jernih danau buatan itu. “Tapi kamu mencintai dia” ucap azkar lirih.. Aku hanya diam. “azkar,” aku genggam tangannya yang ada di sampingku.. Kami tak saling pandang. Tatapannya tetap pada danau “azkar.. Aku sayang kamu, aku nggak mau kehilangan kamu, aku nyaman deket sama kamu. Tapi, tapi untuk lebih dari sekedar teman? Aku.. aku ngga tau” kataku. Dia hanya mengangguk lalu tersenyum, detik berikutnya dia menatapku. “Aku mencintaimu, bahkan ketika kamu sudah dimiliki orang lain. Aku selalu menunggu.. Takdir yang akan membuat kita bersatu. Tapi nggak ada kan? Kamu nggak munggkin mencintaiku. Aku tau, orang yang selama ini kamu perjuangkan ya dia bukan aku. Sya.. Aku sayang kamu.” azkar mengelus pipiku pelan. Aku mulai terisak, “kamu nggak perlu menangis. Kamu harusnya tetap tersenyum, kamu manis sekali kalau senyum. Aku nggak papa kok.. Asal kita masih bisa seperti ini aku bahagia.” ucapnya. Tak tahan aku memeluk azkar.
    Aku rasakan kehangatannya.. Aku rasakan cintanyaa yang besar untukku. “Andai aja aku datang sebelum gilang” gumam azkar sambil mengelus rambutku “aku nggak mau kamu pergi, aku sayang kamu..” kataku.
    Azkar pun mengangguk. “Ya udah dong jangan nangis kaya bayi aja..” Azkar mengangkat wajahku, dan menghapus airmata disana.
    “Percayalah, tuhan itu baik. Dan punya rencana terbaik” dia tersenyumm.. Dan aku tau dia terluka.

    Setelah sore itu aku rasakan azkar perlahan mulai jauh. Dan aku dengar dengar dia jadian dengan adik kelasku, aku bahagia mendengarnya.
    Tapi kalo boleh jujur ada rasa aneh yang berdesir di hatiku, ah apa aku cemburu? Mana mungkin aku cemburuu. Tapi memang kenyataannya begitu, yang dulunya dia selalu menemaniku sekarang dia menenemani kekasihnya. Azkar jadi jarang sms, jadi jarang telepon. Aku.. Merindukanya.

    “Haloo..” sapaku di telepon
    “Halo, eh rasya tumben telepon” kata azkar
    “Wehh sombong banget kamu sekarang”
    “Apaan sih, biasa aja kok”
    “Dasar, giliran udah punya pacar aku dilupain..”
    “Yaa daripada aku nunggu orang yang udah punya pacar mending aku punya pacar” sakit rasanya mendengar itu.. aku diam.
    “Emmm.. Iya ya” balasku
    “Kamu tau nggak sya? Dia itu mirip sama kamu. Aku jadi nyaman sama dia”
    “Oh apa iya?”
    “Iya dia asik kaya kamu.. ” aku cuma jawab iya iya saja jujur aku sakit, siapaa sih cewek yang gak sakit hati kalau dimirip miripin? Nggak ada kan..

    Status facebooknya pun sudah tak lagi untukku. Aku baru menyadari kalau aku pernah memiliki cinta untuk azkar.. Tapi sekarang untuk apa?
    Sekarang aku hanya bisa mendoakan kebahagiaannya. Dia yang lebih terluka karena aku, dia yang sungguh menahan semua sakitnya selama ini. Terimakasih azkar sudah berikan bahagia untukku.. Maafkan aku untuk lukamu itu. I miss you azkara syakif putra.

    Cerpen Karangan: Alfi Anggraeni
    Facebook: Angga Anggraeni

    Artikel Terkait

    Dia Yang Terluka
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email