Judul Cerpen Jangan Dekati Aku
Mia, gadis berusia 19 tahun ini terkenal jutek, galak, dan tidak mudah didekati. Beberapa teman kuliah menyebut dirinya cewek judes anti cowok. Lantaran sikapnya yang dingin terhadap teman cowok. Sementara kepada teman perempuan, sikapnya justru berbanding terbalik. Ia selalu bersikap baik dengan mereka.
Mia juga tidak segan-segan menolak perintah dosen, bila ditugaskan satu kelompok dengan teman pria. Dia cuma mau menyelesaikan tugas kelompok, bersama teman wanita. Sikapnya yang aneh tersebut, kerap menimbulkan perdebatan antara dirinya dan teman-temannya. Banyak yang tidak setuju akan keputusannya. Tapi hal itu bukanlah masalah besar baginya.
Kalaupun ada yang menentang keinginannya, gadis keras kepala ini lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Ketimbang harus berdekatan dengan makhluk yang bernama cowok. Tidak dihiraukan, kepandaian yang dimilikinya memang patut diacungi jempol. Mia terbukti bisa melaksanakan semua tugas kuliahnya dengan baik dan tepat waktu.
Melihat kepandaiannya, alhasil teman-temannya pun ingin bekerja satu tim dengannya setiap kali mendapat tugas berkelompok. Meskipun dalam satu tim terdiri dari wanita semua. Sikapnya yang selalu kukuh dengan pendiriannya ini pun sudah dipahami oleh teman-teman satu jurusan. Sejak semester awal hingga sekarang semester tiga.
Mereka hafal betul bagaimana sikap Mia terhadap teman cowok. Angkuh, dingin, dan cuek. Namun kecantikan yang dimilikinya, membuat para lelaki terpikat. Banyak cowok yang mencoba mendekatinya. Tidak cuma dari teman satu jurusan, bahkan dari jurusan lain pun juga ada. Tapi usaha mereka selalu saja gagal. Gadis berambut panjang ini selalu menghindar. Ketika ada laki-laki yang mendekatinya. Kalau ada yang nekat, ia akan tegas mengatakan, “Jangan dekati aku!”
Karena itulah, tidak ada satu cowok pun yang berani mendekatinya. Begitu pula teman satu kelasnya.
Kabar tentang Mia si cewek cantik, tapi judes dan anti cowok ini pun terdengar hingga ke telinga Leon. Mahasiswa urakan, pemalas, suka berantem, dan kerap mendapat masalah. Mendengar cerita Jaka, teman satu kelasnya di jurusan Teknik Sipil, mengenai Mia si cewek angkuh dan tidak mudah didekati itu. Membuat Leon jadi penasaran, seperti apa gadis yang dimaksud.
Siang itu, usai kuliah, Leon ditemani Jaka berjalan menuju lorong jurusan Sastra Inggris. Tempat dimana Mia menempuh studinya. Setelah melewati satu per satu ruang kuliah, akhirnya mereka menemukan gadis yang tengah dicarinya. Yakni Mia si gadis cantik, namun terkenal angkuh dan sulit didekati.
“Nah itu dia orangnya!” tunjuk Jaka kepada salah satu mahasiswi yang sedang mengobrol dengan temannya di depan ruang kuliah.
“Mana?” Leon membelalakkan matanya, mengikuti arah yang ditunjukkan Jaka.
“Itu yang pakai penjepit pita, di rambutnya!”
Mata Leon tertuju kepada seorang gadis berambut panjang terurai, lengkap dengan hiasan jepit pita merah di rambutnya. Tidak dipungkiri olehnya, ia terpesona saat melihat gadis itu mengembangkan senyum di bibirnya. Pria bertubuh tinggi semampai ini, tak henti-hentinya memusatkan perhatian kepada sesosok gadis yang dipandangnya dari kejauhan.
“Woiii..! Ngeliatnya biasa aja donk!” gertak Jaka.
“Kalau ceweknya secantik itu sih, udah pasti pada suka,” sahut Leon.
“Iya, cantik. Tapi begitu didekati. Udah kayak macan!”
“Macan? Yang benar saja, cewek secantik itu kayak macan?! Ngaco kamu!”
“Kamu belom tau aja. Dia memang terlihat cantik dari kejauhan, tapi begitu dekat, awas nanti kamu dicakar!”
“Benarkah? Hemmm… jadi makin penasaran,” celoteh Leon sembari memegang janggutnya.
“Coba aja sendiri.”
“Oke! Siapa takut!” tegas Leon percaya diri.
Pagi ini, Mia kembali disibukkan dengan segudang tugas kuliah dari dosen. Salah satunya tugas membuat paper. Dengan langkah gontai, gadis ini berjalan melewati koridor. Di tangannya penuh tumpukan buku yang diambilnya dari perpustakaan.
Namun tiba-tiba, “Brukkk!!!” sesuatu yang keras menghantam dirinya dari balik punggung. Hingga membuat tubuhnya tersungkur ke lantai. Bukunya pun ikut berserakan di atas lantai. “Dug… dug… dug…” terlihat bola basket menggelinding di sebelahnya. “Hah… bola? Jangan-jangan gara-gara bola ini aku terjatuh,” pikirnya, sambil meraih bola tersebut. Dan membiarkan bukunya yang masih berantakan. “Tapi siapa yang melempar bola sampai kesini?” ujarnya penasaran, celingukan ke arah sekitar.
“Tap… tap… tap…” terlihat seorang pria dari kejauhan, berlari menghampirinya.
“Apa kamu baik-baik saja? Aku minta maaf, tidak sengaja,” ucap laki-laki bertubuh tinggi yang berdiri di hadapannya.
“Oww… jadi bola ini milik kamu!” gertak Mia.
“Iya.”
“Kamu nggak lihat apa? Ada orang segede gini?! Lagian ini kan koridor, bukan lapangan. Bagaimana bisa kamu melempar sampai kesini!” kesal Mia melotot.
“Kan tadi aku udah bilang maaf,” sahut pria itu.
“Kamu pikir dengan bilang maaf, semua akan beres?! Enak banget!”
“Terus mau kamu apa?”
“Pergilah dari hadapanku!” tandas Mia melempar bola ke arah cowok itu. Lantas segera mengambil buku-bukunya yang tergeletak berantakan di atas lantai.
“Sini aku bantu!” seru cowok itu, meraih sebagian bukunya.
“Tidak perlu! Aku bisa merapikannya sendiri!”
“Kan bukumu jatuh gara-gara aku. Jadi biarkan aku membantumu untuk merapikannya.”
“Kalau aku bilang tidak perlu, maka tidak usah!” ketus Mia meraih bukunya dari tangan cowok itu.
“Kamu kenapa sih, aku cuma menawarkan bantuan. Tidak perlu semarah itu!” balasnya kesal.
“Terserah aku!” serunya beranjak berdiri. “Ingat! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!” bentaknya melotot, kemudian melangkah pergi.
“Benar-benar gadis yang mengagumkan!” celetuk pria bertubuh tegap tersebut, sembari memandang punggung Mia. Hingga gadis itu menghilang dari pandangannya.
“Tap… tap… tap…” terdengar langkah seseorang mendekatinya. “Hey, gimana?” celetuknya kemudian.
“Hahaha… benar juga katamu. Galak sekali dia,” sahutnya.
“Kan aku udah bilang, dia itu mirip macan. Siap menerkam kapan saja.”
“Justru itu yang buat aku makin penasaran sama dia!”
“Aneh kamu tuh! Kenapa nggak dekatin cewek yang halus, dan lemah lembut aja. Dari pada dia.”
“Mereka nggak menantang! Kalau yang ini bikin aku tertantang!”
Lagi-lagi sesuatu tak terduga terjadi. Mia harus kembali berurusan dengan cowok yang kemarin melempar bola ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Leon, cowok urakan, pemalas, dan suka berantem. “Kamu!” seru Mia kaget mendapati cowok itu berdiri tepat di hadapannya, saat ia membalikkan badan. Di tangannya penuh tumpukan lembar foto copyan yang baru saja diambilnya.
“Kenapa? Ekspresimu kaget begitu?” sahut Leon.
“Ngapain kamu disini? Mengikutiku ya?!” tanya Mia sedikit kesal.
“PD banget kamu! Siapa juga yang ngikutin kamu? Ini kan tempat umum, jadi siapa saja boleh kesini.”
“Tapi kenapa harus muncul di hadapanku?!”
“Hey, lihat papan itu!” tunjuk Leon ke arah papan yang menggantung di dinding kios. Tepat berada di belakang Mia. Tertera sebuah tulisan melayani foto copy, rental dan jilid. “Nah, sudah lihat kan?! Aku kesini karena mau foto copy. Jadi jangan kePDan!” tukas Leon menunjukkan buku di tangannya.
“Huh… dasar!” kesal Mia melangkah pergi.
“Hey…! lain kali kalau ketemu lagi, panggil saja aku Leon!” teriak cowok itu kemudian, hingga terdengar ke telinganya.
“Siapa juga yang mau ketemu kamu! Lagian apa pentingnya manggil namamu!” gerutu Mia terus berjalan melewati lorong kampus. Kekesalan masih memenuhi isi kepalanya. Gadis berambut panjang ini terus saja mengomel. Ia berharap tidak bertemu lagi dengannya.
Namun siapa sangka, ternyata takdir berkata lain. Lelaki itu justru sering muncul di hadapannya. Kemanapun Mia menapakkan kakinya, pasti berpapasan dengan cowok itu. Tidak hanya di lobby kampus, koridor, lapangan, atau kantin. Waktu akan pergi ke toilet pun, ia harus bertemu dengannya lagi. Meskipun berulang kali mencoba menghindar, tapi lelaki urakan ini seakan punya alasan lain yang memang tanpa sengaja berjumpa dirinya.
“Kamu lagi?!” gertak Mia melotot menghentikan langkahnya. Lantaran Leon berdiri tepat di depan mukanya.
“Tenang… jangan marah-marah, nanti cepat tua lo!”
“Biarin! Bukan urusanmu!”
“Kamu itu sebetulnya cantik, asalkan bisa senyum sebentar saja,” goda Leon menyunggingkan bibirnya.
“Sudahlah! Nggak ada gunanya ngobrol sama kamu!” ketus Mia melangkah pergi. “Apa-apaan dia? Ngomong kayak begitu, terserah aku lah!” gerutunya.
“Drap… drap… drap…” Leon ternyata berlari menyusulnya. “Stop!” serunya kemudian berhenti tepat di depan Mia. Alhasil langkah gadis berambut panjang ini pun terhenti.
“Apa?!” balas Mia kesal.
“Ayo ikut aku!” ucap Leon langsung menarik tangannya. Memaksa dirinya mengikuti langkah cowok itu. Mia berusaha meronta, namun Leon makin kencang menggenggam tangannya.
“Lepaskan aku!”
“Tidak! Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu.”
“Apa jaminanmu? Semua orang tau, kalau kamu hanya cowok urakan, malas, dan suka berantem!”
“Aku jaminannya!” tandas Leon memalingkan muka, menatap tajam mata Mia. Sorot mata Leon nampak serius. Mengingatkannya pada seseorang yang sangat dibencinya.
Mereka melanjutkan langkahnya lagi. Kejadian yang berlangsung selama beberapa detik itu, membuat Mia semakin takut. Kalau hal yang sama akan terulang kembali. “Sekarang lihatlah!” suruh Leon melepaskan pegangannya.
Mia nampak heran, apa yang harus dilihatnya. Di hadapan mereka tidak ada sesuatu yang spesial. Kecuali lalu lalang para mahasiswa yang melewati area taman, serta beberapa mahasiswi yang asyik mengobrol. “Apa yang harus dilihat?!” tukasnya.
“Itu lihatlah mereka!” tunjuk Leon kearah segerombolan mahasiswa cewek dan cowok yang tengah seru mengobrol dan tertawa. Mia melirikkan matanya mengikuti kemana telunjuk lelaki itu mengarah. “Kamu lihat, mereka tersenyum, dan tertawa bersama? Terutama lihat cewek-cewek itu saat mereka tersenyum. Cantik bukan?” ujar Leon.
Mia hanya terdiam, sembari menggerdikkan bahunya. “Kamu sama dengan mereka. Kalau saja mau tersenyum sedikit saja, kau pasti juga akan terlihat cantik,” imbuhnya.
“Mau senyum atau nggak, itu terserah aku! Kamu nggak ada hak!”
“Lalu kalau kau seperti ini terus, apa itu baik untukmu? Kau juga perlu teman laki-laki, tidak hanya teman wanita saja.”
“Diamlah! Tau apa kau mengenai hidupku!” bentak Mia berlari meninggalkan Leon. Dengan mata yang mulai berair, ia mempercepat larinya. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di balik pohon. Tempat dimana ia kerap menghabiskan waktunya untuk menyendiri. Perlahan gadis ini mengusap air mata yang mengalir ke pipinya.
“Apa dia bilang? Perlu teman laki-laki? Apa dia pikir, aku tidak bisa melewati hariku sendirian?! Seenaknya saja dia menceramahiku. Memangnya dia pikir mudah apa, berteman lagi dengan pria. Setelah rasa sakit itu menghancurkan semua kepercayaanku! Seenaknya saja kalau ngomong! Tau apa dia tentang hidupku?! Toh selama ini aku baik-baik saja, meskipun tanpa teman laki-laki!” gerutu Mia kesal sambil mencabuti rumput di sekitarnya.
Sore itu Mia bergegas pulang, lantaran takut kemalaman. “Jangan sampai aku bertemu dia lagi!” gumamnya nampak kesal. Tapi di tengah jalan, “Daar… dig… dug… daar…” tanpa sengaja ia melihat segerombolan orang terlibat adu jotos. Mia memperjelas penglihatannya, mendadak bingung sekaligus panik. Saat mengetahui, ada salah seorang pria yang dikenalnya terlibat perkelahian. Ia sedang dikeroyok oleh beberapa orang.
Mia semakin panik, waktu melihat darah mengucur dari pelipis dan bibir pria yang ia temui beberapa hari belakangan. Pemandangan tersebut, membuat dirinya panik dan tak bisa membiarkan perkelahian terus berlangsung. Namun dirinya juga tidak berdaya.
Ia mencoba memutar otaknya, mencari cara supaya dapat menghentikan perkelahian yang berlangsung sengit. Hingga satu ide muncul dalam otaknya. “Tolong!!! Tolong…! ada yang berkelahi disini…!” teriakan Mia terdengar hingga ke telinga mereka. Lantaran panik, gerombolan mahasiswa yang melakukan pengkeroyokan itu pun langsung melarikan diri.
Tinggal seorang pria yang jatuh terkapar disana. Lelaki itu tak lain adalah Leon. Pria yang sangat dibenci olehnya. Namun Mia tidak dapat tinggal diam, melihatnya terkapar dengan darah yang terus menetes ke wajahnya. Sontak ia pun berlari menghampiri Leon.
“Leon bangunlah! Bukalah matamu!” seru Mia khawatir sembari mengangkat tubuhnya.
Leon masih diam dengan mata terpejam. Mia semakin ketakutan melihatnya. “Ayolah Leon, buka matamu! Kita harus cari pengobatan untukmu! Tolong Leon bangun!” gadis itu terus berteriak menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Perlahan mata Leon terbuka, menatap gadis yang duduk di hadapannya tengah menyangga tubuhnya. “Mia…” ucapnya lirih.
“Iya ini aku, kau bisa mendengarku bukan?” laki-laki itu mengangguk. “Nah sekarang coba bangunlah, aku akan membantumu. Kita harus segera mencari pertolongan untukmu,” imbuh Mia, sembari mengalungkan tangan Leon ke pundaknya. Dengan rasa panik dan khawatir, Mia segera membawa Leon ke rumah sakit naik taksi.
Selang beberapa menit, pengobatan selesai dilakukan oleh dokter dan perawat. “Bagaimana keadaannya dok?” tanya Mia kemudian, begitu melihat dokter keluar dari ruang perawatan.
“Tenanglah, tidak ada luka serius. Benturan di kepalanya juga tidak berbahaya. Sekarang dia hanya butuh istirahat. Sampai lukanya sembuh.”
“Syukurlah kalau begitu. Apa saya sudah bisa masuk untuk melihatnya?”
“Tentu! Masuklah… saya permisi dulu.”
“Iya, makasih dok,” sahut Mia. Dengan sedikit keraguan, lantaran kekesalannya kepada lelaki itu. Mia memberanikan diri untuk masuk ke ruang perawatan. Nampak Leon tengah beristirahat. Ia terus memperhatikan wajah Leon, yang penuh dengan lebam, serta balutan perban di kepalanya.
Seketika ia ingat, bahwa hari sudah semakin petang dan harus bergegas pulang. Namun jika pulang saat ini, bagaimana Leon? Siapa yang menjaganya? Sedangkan kalau harus menghubungi keluarganya, ia juga tidak tau kontaknya. Beragam pertanyaan muncul dalam benaknya. “Aduh… bagaimana ini?” Mia semakin panik. “Leon… apa kau masih tertidur?” celetuknya, akan tetapi tidak ada jawaban.
“Aku harus pulang! Tapi sebelum itu, setidaknya aku harus memberikan kabar kepada orangtuanya,” ujarnya kebingungan. “Hemm… tapi gimana caranya? Kontaknya saja tidak punya. Aku harus gimana sekarang? Kalau aku pergi, siapa yang akan menjaganya?” imbuhnya lagi makin panik. Ia terus mondar-mandir memutar otaknya, detak jam terus berputar.
Dua jam telah berlalu, Leon masih juga belum bangun. “Sekarang sudah jam 7 malam. Pasti ibu khawatir, apa yang harus kukatakan padanya?” gumam Mia sambil meremas handphonenya. “Aku tidak bisa menunggu lagi! Aku harus pergi sekarang! Peduli amat sama dia!” tukas Mia beranjak dari duduknya.
“Sreekkk…” tiba-tiba Leon meraih tangan Mia. Sontak membuatnya kaget, lalu membalikkan pandangannya ke arah lelaki yang terbaring di atas tempat tidur. Mata mereka saling menatap satu sama lain. “Mia, jangan pergi!” ucap Leon lirih.
“Tapi aku harus pergi, ini sudah malam. Begini saja, berikan aku kontak orangtuamu. Biar aku menghubungi mereka,” balas Mia.
“Mereka tidak ada disini. Mereka sedang tugas ke luar kota. Lagian percuma saja menelepon mereka. Tidak ada yang peduli padaku,” ujarnya melepaskan tangan Mia.
“Apa maksudmu tidak peduli. Pasti setiap orangtua peduli sama anaknya.”
“Tidak Mia, mereka hanya peduli dengan pekerjaannya.”
“Sudahlah, sini berikan nomornya!”
“Tidak!”
“Kamu menyusahkan sekali sih?! Aku cuma minta kontak orangtuamu! Mengapa kamu malah bersikap seperti ini?”
“Pergilah! Kamu ingin pulang bukan?! Memang tidak akan ada yang peduli padaku. Begitu juga kamu, sana pulanglah!” bentak Leon memalingkan mukanya.
Mia kemudian melangkahkan kakinya ke luar pintu. “Mia, jangan pergi! Tidak ada yang peduli padaku.” Mendadak suara Leon mengalun ke telinganya. Memaksanya untuk menghentikan langkah. “Kalau memang benar begitu? Jahat sekali aku, meninggalkan dia sendiri dalam keadaan seperti ini,” gumamnya. “Tapi biarlah, kan sudah ada perawat selama 24 jam di rumah sakit ini.”
Setelah beberapa menit berdiri dan berpikir di depan pintu. Akhirnya Mia memutuskan untuk tetap tinggal. Walaupun ia membenci Leon, tapi saat ini cowok itu tengah membutuhkan dirinya. Ya, setidaknya untuk semalam saja dia bisa menemaninya.
“Hallo…” sahut suara dari balik telepon.
“Ma, ini Mia.”
“Mia…! Kamu kemana saja? Ini sudah malam, kenapa belum pulang? Mama khawatir.”
“Iya Ma, maafin Mia. Saat ini aku ada di rumah sakit.”
“Rumah sakit?! Apa yang terjadi? Apa kau terluka? Di rumah sakit mana? Mama akan segera menyusul kesana!” suara panik wanita paruh baya itu terdengar ke telinga Mia.
“Tenanglah Ma, bukan Mia yang sakit, tapi temanku. Hari ini dia kecelakaan. Dan orangtuanya sedang di luar kota. Kemungkinan besok mereka akan tiba. Jadi Mia harus menjaganya, paling tidak untuk malam ini. Nggak apa-apa kan Ma? Kalau malam ini Mia menginap di rumah sakit?”
“Tapi gimana dengan kesehatanmu? Apa kamu sudah makan?”
“Tenanglah ma, Mia baik-baik saja. Jadi aku ijin untuk hari ini saja, kasian dia kalau harus sendirian. Tidak ada yang menjaganya,” pinta Mia lagi.
“Iya, baiklah. Mama ijinkan kamu menginap disana malam ini. Tapi ingat kesehatanmu juga!” suruh Mama.
“Iya pasti! Ya udah Ma, Mia tutup teleponnya. Mama jaga kesehatan juga. Bye… mama… love you…” ucap gadis itu lantas menutup panggilan. Dan segera masuk kembali ke dalam.
“Katanya mau pulang? Kenapa balik lagi?!” tukas Leon sedikit kesal.
“Ohh… tadi aku cuma ke luar sebentar, untuk menelepon ibuku. Dan bilang padanya, kalau malam ini aku akan menginap di rumah sakit.”
“Jadi kamu mau nemenin aku?” sentak Leon terperangah.
“Hemm… ya mau gimana lagi?! Lagian aku pikir, tidak ada salahnya tidur disini untuk semalam saja,” sahut Mia acuh.
Nampak wajah Leon terlihat sumringah, mendengar perkataan gadis yang berdiri di hadapannya. “Mia, mendekatlah kemari,” panggilnya kemudian.
“Ada apa?”
“Kemarilah…” gadis itu mendekat. Perlahan Leon meraih tangannya. Sontak Mia kaget melihat sikap Leon yang aneh. “Maafkan aku, kalau perkataanku tadi siang menyinggungmu. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum,” ucap Leon sembari menatap Mia.
“Iya tenang saja, ini bukan salahmu. Wajar saja kalau kau bicara seperti itu,” balas Mia. “O ya, kenapa tadi kamu bilang begitu soal orangtuamu?” celetuknya tiba-tiba.
“Sejak dulu, mereka berdua gila kerja. Tidak ada waktu untuk di rumah. Aku memang hidup berkecukupan. Tapi tidak dengan hatiku Mi, rasanya kosong. Tidak ada yang perhatian padaku. Karena itulah aku selalu malas-malasan, berantem, supaya orangtuaku lebih peduli kalau mereka melihatku sakit ataupun terkena masalah. Tapi nyatanya tidak. Mereka menyelesaikan semuanya dengan uang.”
“Ehmm… pasti menyulitkan buatmu…” ucap Mia sambil menepuk-nepuk bahu Leon.
“Tapi biarlah, aku sudah tidak peduli lagi dengan mereka!” ujarnya sinis. “Kalau kamu gimana?” ucapnya tiba-tiba membuat Mia terperanjak kaget.
“Aku?”
“Iya, kamu. Siapa lagi?!” Leon terkekeh. “Kau pasti juga punya alasan bukan, dengan sikapmu selama ini?”
“Kau memang benar Leon. Dulu aku pernah mencintai seseorang dengan tulus. Memberikan semua perhatian, waktu, bahkan pikiranku hanya untuk dia. Hubungan kami baik-baik saja selama 2 tahun. Tapi seketika menginjak kelulusan, aku memergokinya tengah berpelukan dengan gadis lain di belakang sekolah. Hatiku hancur, aku tak menyangka dia tega melakukan hal itu padaku. Mulai sejak itulah aku membenci cowok. Dan terus berusaha menjauhinya,” jelas Mia berkaca-kaca.
“Iya aku mengerti perasaanmu Mi,” Leon meraih tangan Mia. “Tapi kau tidak bisa menutup dirimu terus seperti ini. Kau butuh orang lain. Tidak mungkin jika kamu terus terpuruk dalam bayang-bayang masa lalu,” imbuhnya.
“Test… test… test…” perlahan air mata Mia pun menetes membasahi tangan Leon yang memegang tangannya. “Hiks… hiks… hiks…” suara tangispun terdengar.
“Kemarilah!” Leon sontak meraih kepala gadis itu dan menyandarkan ke dadanya.
“Leon, apa yang kau lakukan? Lepaskan!” Mia terus meronta, namun Leon tidak peduli. Ia tetap saja berusaha menyandarkan kepala Mia dalam dekapannya.
“Menangislah… jika itu bisa membuatmu merasa lebih tenang…”
“Leon lepaskan! Bukankah aku sudah bilang, jangan dekati aku!” sentak Mia meronta, namun Leon tidak membiarkan gadis itu lepas dari dekapannya.
“Meski kau meronta, aku tidak akan melepaskanmu!” tandasnya.
“Leon… kumohon…”
“Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi! Kau harus tau Mia, setiap kali kau mengatakan agar aku menjauhimu. Maka aku semakin ingin dekat denganmu. Jadi aku akan terus berada di dekatmu!”
“Hiks… hiks… hiks…” tangis Mia pun jatuh dalam pelukan Leon.
Cerpen Karangan: Putri Andriyas
Blog / Facebook: putriandriyas.wordpress.com / Putri Andriya
Mia, gadis berusia 19 tahun ini terkenal jutek, galak, dan tidak mudah didekati. Beberapa teman kuliah menyebut dirinya cewek judes anti cowok. Lantaran sikapnya yang dingin terhadap teman cowok. Sementara kepada teman perempuan, sikapnya justru berbanding terbalik. Ia selalu bersikap baik dengan mereka.
Mia juga tidak segan-segan menolak perintah dosen, bila ditugaskan satu kelompok dengan teman pria. Dia cuma mau menyelesaikan tugas kelompok, bersama teman wanita. Sikapnya yang aneh tersebut, kerap menimbulkan perdebatan antara dirinya dan teman-temannya. Banyak yang tidak setuju akan keputusannya. Tapi hal itu bukanlah masalah besar baginya.
Kalaupun ada yang menentang keinginannya, gadis keras kepala ini lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Ketimbang harus berdekatan dengan makhluk yang bernama cowok. Tidak dihiraukan, kepandaian yang dimilikinya memang patut diacungi jempol. Mia terbukti bisa melaksanakan semua tugas kuliahnya dengan baik dan tepat waktu.
Melihat kepandaiannya, alhasil teman-temannya pun ingin bekerja satu tim dengannya setiap kali mendapat tugas berkelompok. Meskipun dalam satu tim terdiri dari wanita semua. Sikapnya yang selalu kukuh dengan pendiriannya ini pun sudah dipahami oleh teman-teman satu jurusan. Sejak semester awal hingga sekarang semester tiga.
Mereka hafal betul bagaimana sikap Mia terhadap teman cowok. Angkuh, dingin, dan cuek. Namun kecantikan yang dimilikinya, membuat para lelaki terpikat. Banyak cowok yang mencoba mendekatinya. Tidak cuma dari teman satu jurusan, bahkan dari jurusan lain pun juga ada. Tapi usaha mereka selalu saja gagal. Gadis berambut panjang ini selalu menghindar. Ketika ada laki-laki yang mendekatinya. Kalau ada yang nekat, ia akan tegas mengatakan, “Jangan dekati aku!”
Karena itulah, tidak ada satu cowok pun yang berani mendekatinya. Begitu pula teman satu kelasnya.
Kabar tentang Mia si cewek cantik, tapi judes dan anti cowok ini pun terdengar hingga ke telinga Leon. Mahasiswa urakan, pemalas, suka berantem, dan kerap mendapat masalah. Mendengar cerita Jaka, teman satu kelasnya di jurusan Teknik Sipil, mengenai Mia si cewek angkuh dan tidak mudah didekati itu. Membuat Leon jadi penasaran, seperti apa gadis yang dimaksud.
Siang itu, usai kuliah, Leon ditemani Jaka berjalan menuju lorong jurusan Sastra Inggris. Tempat dimana Mia menempuh studinya. Setelah melewati satu per satu ruang kuliah, akhirnya mereka menemukan gadis yang tengah dicarinya. Yakni Mia si gadis cantik, namun terkenal angkuh dan sulit didekati.
“Nah itu dia orangnya!” tunjuk Jaka kepada salah satu mahasiswi yang sedang mengobrol dengan temannya di depan ruang kuliah.
“Mana?” Leon membelalakkan matanya, mengikuti arah yang ditunjukkan Jaka.
“Itu yang pakai penjepit pita, di rambutnya!”
Mata Leon tertuju kepada seorang gadis berambut panjang terurai, lengkap dengan hiasan jepit pita merah di rambutnya. Tidak dipungkiri olehnya, ia terpesona saat melihat gadis itu mengembangkan senyum di bibirnya. Pria bertubuh tinggi semampai ini, tak henti-hentinya memusatkan perhatian kepada sesosok gadis yang dipandangnya dari kejauhan.
“Woiii..! Ngeliatnya biasa aja donk!” gertak Jaka.
“Kalau ceweknya secantik itu sih, udah pasti pada suka,” sahut Leon.
“Iya, cantik. Tapi begitu didekati. Udah kayak macan!”
“Macan? Yang benar saja, cewek secantik itu kayak macan?! Ngaco kamu!”
“Kamu belom tau aja. Dia memang terlihat cantik dari kejauhan, tapi begitu dekat, awas nanti kamu dicakar!”
“Benarkah? Hemmm… jadi makin penasaran,” celoteh Leon sembari memegang janggutnya.
“Coba aja sendiri.”
“Oke! Siapa takut!” tegas Leon percaya diri.
Pagi ini, Mia kembali disibukkan dengan segudang tugas kuliah dari dosen. Salah satunya tugas membuat paper. Dengan langkah gontai, gadis ini berjalan melewati koridor. Di tangannya penuh tumpukan buku yang diambilnya dari perpustakaan.
Namun tiba-tiba, “Brukkk!!!” sesuatu yang keras menghantam dirinya dari balik punggung. Hingga membuat tubuhnya tersungkur ke lantai. Bukunya pun ikut berserakan di atas lantai. “Dug… dug… dug…” terlihat bola basket menggelinding di sebelahnya. “Hah… bola? Jangan-jangan gara-gara bola ini aku terjatuh,” pikirnya, sambil meraih bola tersebut. Dan membiarkan bukunya yang masih berantakan. “Tapi siapa yang melempar bola sampai kesini?” ujarnya penasaran, celingukan ke arah sekitar.
“Tap… tap… tap…” terlihat seorang pria dari kejauhan, berlari menghampirinya.
“Apa kamu baik-baik saja? Aku minta maaf, tidak sengaja,” ucap laki-laki bertubuh tinggi yang berdiri di hadapannya.
“Oww… jadi bola ini milik kamu!” gertak Mia.
“Iya.”
“Kamu nggak lihat apa? Ada orang segede gini?! Lagian ini kan koridor, bukan lapangan. Bagaimana bisa kamu melempar sampai kesini!” kesal Mia melotot.
“Kan tadi aku udah bilang maaf,” sahut pria itu.
“Kamu pikir dengan bilang maaf, semua akan beres?! Enak banget!”
“Terus mau kamu apa?”
“Pergilah dari hadapanku!” tandas Mia melempar bola ke arah cowok itu. Lantas segera mengambil buku-bukunya yang tergeletak berantakan di atas lantai.
“Sini aku bantu!” seru cowok itu, meraih sebagian bukunya.
“Tidak perlu! Aku bisa merapikannya sendiri!”
“Kan bukumu jatuh gara-gara aku. Jadi biarkan aku membantumu untuk merapikannya.”
“Kalau aku bilang tidak perlu, maka tidak usah!” ketus Mia meraih bukunya dari tangan cowok itu.
“Kamu kenapa sih, aku cuma menawarkan bantuan. Tidak perlu semarah itu!” balasnya kesal.
“Terserah aku!” serunya beranjak berdiri. “Ingat! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!” bentaknya melotot, kemudian melangkah pergi.
“Benar-benar gadis yang mengagumkan!” celetuk pria bertubuh tegap tersebut, sembari memandang punggung Mia. Hingga gadis itu menghilang dari pandangannya.
“Tap… tap… tap…” terdengar langkah seseorang mendekatinya. “Hey, gimana?” celetuknya kemudian.
“Hahaha… benar juga katamu. Galak sekali dia,” sahutnya.
“Kan aku udah bilang, dia itu mirip macan. Siap menerkam kapan saja.”
“Justru itu yang buat aku makin penasaran sama dia!”
“Aneh kamu tuh! Kenapa nggak dekatin cewek yang halus, dan lemah lembut aja. Dari pada dia.”
“Mereka nggak menantang! Kalau yang ini bikin aku tertantang!”
Lagi-lagi sesuatu tak terduga terjadi. Mia harus kembali berurusan dengan cowok yang kemarin melempar bola ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Leon, cowok urakan, pemalas, dan suka berantem. “Kamu!” seru Mia kaget mendapati cowok itu berdiri tepat di hadapannya, saat ia membalikkan badan. Di tangannya penuh tumpukan lembar foto copyan yang baru saja diambilnya.
“Kenapa? Ekspresimu kaget begitu?” sahut Leon.
“Ngapain kamu disini? Mengikutiku ya?!” tanya Mia sedikit kesal.
“PD banget kamu! Siapa juga yang ngikutin kamu? Ini kan tempat umum, jadi siapa saja boleh kesini.”
“Tapi kenapa harus muncul di hadapanku?!”
“Hey, lihat papan itu!” tunjuk Leon ke arah papan yang menggantung di dinding kios. Tepat berada di belakang Mia. Tertera sebuah tulisan melayani foto copy, rental dan jilid. “Nah, sudah lihat kan?! Aku kesini karena mau foto copy. Jadi jangan kePDan!” tukas Leon menunjukkan buku di tangannya.
“Huh… dasar!” kesal Mia melangkah pergi.
“Hey…! lain kali kalau ketemu lagi, panggil saja aku Leon!” teriak cowok itu kemudian, hingga terdengar ke telinganya.
“Siapa juga yang mau ketemu kamu! Lagian apa pentingnya manggil namamu!” gerutu Mia terus berjalan melewati lorong kampus. Kekesalan masih memenuhi isi kepalanya. Gadis berambut panjang ini terus saja mengomel. Ia berharap tidak bertemu lagi dengannya.
Namun siapa sangka, ternyata takdir berkata lain. Lelaki itu justru sering muncul di hadapannya. Kemanapun Mia menapakkan kakinya, pasti berpapasan dengan cowok itu. Tidak hanya di lobby kampus, koridor, lapangan, atau kantin. Waktu akan pergi ke toilet pun, ia harus bertemu dengannya lagi. Meskipun berulang kali mencoba menghindar, tapi lelaki urakan ini seakan punya alasan lain yang memang tanpa sengaja berjumpa dirinya.
“Kamu lagi?!” gertak Mia melotot menghentikan langkahnya. Lantaran Leon berdiri tepat di depan mukanya.
“Tenang… jangan marah-marah, nanti cepat tua lo!”
“Biarin! Bukan urusanmu!”
“Kamu itu sebetulnya cantik, asalkan bisa senyum sebentar saja,” goda Leon menyunggingkan bibirnya.
“Sudahlah! Nggak ada gunanya ngobrol sama kamu!” ketus Mia melangkah pergi. “Apa-apaan dia? Ngomong kayak begitu, terserah aku lah!” gerutunya.
“Drap… drap… drap…” Leon ternyata berlari menyusulnya. “Stop!” serunya kemudian berhenti tepat di depan Mia. Alhasil langkah gadis berambut panjang ini pun terhenti.
“Apa?!” balas Mia kesal.
“Ayo ikut aku!” ucap Leon langsung menarik tangannya. Memaksa dirinya mengikuti langkah cowok itu. Mia berusaha meronta, namun Leon makin kencang menggenggam tangannya.
“Lepaskan aku!”
“Tidak! Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu.”
“Apa jaminanmu? Semua orang tau, kalau kamu hanya cowok urakan, malas, dan suka berantem!”
“Aku jaminannya!” tandas Leon memalingkan muka, menatap tajam mata Mia. Sorot mata Leon nampak serius. Mengingatkannya pada seseorang yang sangat dibencinya.
Mereka melanjutkan langkahnya lagi. Kejadian yang berlangsung selama beberapa detik itu, membuat Mia semakin takut. Kalau hal yang sama akan terulang kembali. “Sekarang lihatlah!” suruh Leon melepaskan pegangannya.
Mia nampak heran, apa yang harus dilihatnya. Di hadapan mereka tidak ada sesuatu yang spesial. Kecuali lalu lalang para mahasiswa yang melewati area taman, serta beberapa mahasiswi yang asyik mengobrol. “Apa yang harus dilihat?!” tukasnya.
“Itu lihatlah mereka!” tunjuk Leon kearah segerombolan mahasiswa cewek dan cowok yang tengah seru mengobrol dan tertawa. Mia melirikkan matanya mengikuti kemana telunjuk lelaki itu mengarah. “Kamu lihat, mereka tersenyum, dan tertawa bersama? Terutama lihat cewek-cewek itu saat mereka tersenyum. Cantik bukan?” ujar Leon.
Mia hanya terdiam, sembari menggerdikkan bahunya. “Kamu sama dengan mereka. Kalau saja mau tersenyum sedikit saja, kau pasti juga akan terlihat cantik,” imbuhnya.
“Mau senyum atau nggak, itu terserah aku! Kamu nggak ada hak!”
“Lalu kalau kau seperti ini terus, apa itu baik untukmu? Kau juga perlu teman laki-laki, tidak hanya teman wanita saja.”
“Diamlah! Tau apa kau mengenai hidupku!” bentak Mia berlari meninggalkan Leon. Dengan mata yang mulai berair, ia mempercepat larinya. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di balik pohon. Tempat dimana ia kerap menghabiskan waktunya untuk menyendiri. Perlahan gadis ini mengusap air mata yang mengalir ke pipinya.
“Apa dia bilang? Perlu teman laki-laki? Apa dia pikir, aku tidak bisa melewati hariku sendirian?! Seenaknya saja dia menceramahiku. Memangnya dia pikir mudah apa, berteman lagi dengan pria. Setelah rasa sakit itu menghancurkan semua kepercayaanku! Seenaknya saja kalau ngomong! Tau apa dia tentang hidupku?! Toh selama ini aku baik-baik saja, meskipun tanpa teman laki-laki!” gerutu Mia kesal sambil mencabuti rumput di sekitarnya.
Sore itu Mia bergegas pulang, lantaran takut kemalaman. “Jangan sampai aku bertemu dia lagi!” gumamnya nampak kesal. Tapi di tengah jalan, “Daar… dig… dug… daar…” tanpa sengaja ia melihat segerombolan orang terlibat adu jotos. Mia memperjelas penglihatannya, mendadak bingung sekaligus panik. Saat mengetahui, ada salah seorang pria yang dikenalnya terlibat perkelahian. Ia sedang dikeroyok oleh beberapa orang.
Mia semakin panik, waktu melihat darah mengucur dari pelipis dan bibir pria yang ia temui beberapa hari belakangan. Pemandangan tersebut, membuat dirinya panik dan tak bisa membiarkan perkelahian terus berlangsung. Namun dirinya juga tidak berdaya.
Ia mencoba memutar otaknya, mencari cara supaya dapat menghentikan perkelahian yang berlangsung sengit. Hingga satu ide muncul dalam otaknya. “Tolong!!! Tolong…! ada yang berkelahi disini…!” teriakan Mia terdengar hingga ke telinga mereka. Lantaran panik, gerombolan mahasiswa yang melakukan pengkeroyokan itu pun langsung melarikan diri.
Tinggal seorang pria yang jatuh terkapar disana. Lelaki itu tak lain adalah Leon. Pria yang sangat dibenci olehnya. Namun Mia tidak dapat tinggal diam, melihatnya terkapar dengan darah yang terus menetes ke wajahnya. Sontak ia pun berlari menghampiri Leon.
“Leon bangunlah! Bukalah matamu!” seru Mia khawatir sembari mengangkat tubuhnya.
Leon masih diam dengan mata terpejam. Mia semakin ketakutan melihatnya. “Ayolah Leon, buka matamu! Kita harus cari pengobatan untukmu! Tolong Leon bangun!” gadis itu terus berteriak menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Perlahan mata Leon terbuka, menatap gadis yang duduk di hadapannya tengah menyangga tubuhnya. “Mia…” ucapnya lirih.
“Iya ini aku, kau bisa mendengarku bukan?” laki-laki itu mengangguk. “Nah sekarang coba bangunlah, aku akan membantumu. Kita harus segera mencari pertolongan untukmu,” imbuh Mia, sembari mengalungkan tangan Leon ke pundaknya. Dengan rasa panik dan khawatir, Mia segera membawa Leon ke rumah sakit naik taksi.
Selang beberapa menit, pengobatan selesai dilakukan oleh dokter dan perawat. “Bagaimana keadaannya dok?” tanya Mia kemudian, begitu melihat dokter keluar dari ruang perawatan.
“Tenanglah, tidak ada luka serius. Benturan di kepalanya juga tidak berbahaya. Sekarang dia hanya butuh istirahat. Sampai lukanya sembuh.”
“Syukurlah kalau begitu. Apa saya sudah bisa masuk untuk melihatnya?”
“Tentu! Masuklah… saya permisi dulu.”
“Iya, makasih dok,” sahut Mia. Dengan sedikit keraguan, lantaran kekesalannya kepada lelaki itu. Mia memberanikan diri untuk masuk ke ruang perawatan. Nampak Leon tengah beristirahat. Ia terus memperhatikan wajah Leon, yang penuh dengan lebam, serta balutan perban di kepalanya.
Seketika ia ingat, bahwa hari sudah semakin petang dan harus bergegas pulang. Namun jika pulang saat ini, bagaimana Leon? Siapa yang menjaganya? Sedangkan kalau harus menghubungi keluarganya, ia juga tidak tau kontaknya. Beragam pertanyaan muncul dalam benaknya. “Aduh… bagaimana ini?” Mia semakin panik. “Leon… apa kau masih tertidur?” celetuknya, akan tetapi tidak ada jawaban.
“Aku harus pulang! Tapi sebelum itu, setidaknya aku harus memberikan kabar kepada orangtuanya,” ujarnya kebingungan. “Hemm… tapi gimana caranya? Kontaknya saja tidak punya. Aku harus gimana sekarang? Kalau aku pergi, siapa yang akan menjaganya?” imbuhnya lagi makin panik. Ia terus mondar-mandir memutar otaknya, detak jam terus berputar.
Dua jam telah berlalu, Leon masih juga belum bangun. “Sekarang sudah jam 7 malam. Pasti ibu khawatir, apa yang harus kukatakan padanya?” gumam Mia sambil meremas handphonenya. “Aku tidak bisa menunggu lagi! Aku harus pergi sekarang! Peduli amat sama dia!” tukas Mia beranjak dari duduknya.
“Sreekkk…” tiba-tiba Leon meraih tangan Mia. Sontak membuatnya kaget, lalu membalikkan pandangannya ke arah lelaki yang terbaring di atas tempat tidur. Mata mereka saling menatap satu sama lain. “Mia, jangan pergi!” ucap Leon lirih.
“Tapi aku harus pergi, ini sudah malam. Begini saja, berikan aku kontak orangtuamu. Biar aku menghubungi mereka,” balas Mia.
“Mereka tidak ada disini. Mereka sedang tugas ke luar kota. Lagian percuma saja menelepon mereka. Tidak ada yang peduli padaku,” ujarnya melepaskan tangan Mia.
“Apa maksudmu tidak peduli. Pasti setiap orangtua peduli sama anaknya.”
“Tidak Mia, mereka hanya peduli dengan pekerjaannya.”
“Sudahlah, sini berikan nomornya!”
“Tidak!”
“Kamu menyusahkan sekali sih?! Aku cuma minta kontak orangtuamu! Mengapa kamu malah bersikap seperti ini?”
“Pergilah! Kamu ingin pulang bukan?! Memang tidak akan ada yang peduli padaku. Begitu juga kamu, sana pulanglah!” bentak Leon memalingkan mukanya.
Mia kemudian melangkahkan kakinya ke luar pintu. “Mia, jangan pergi! Tidak ada yang peduli padaku.” Mendadak suara Leon mengalun ke telinganya. Memaksanya untuk menghentikan langkah. “Kalau memang benar begitu? Jahat sekali aku, meninggalkan dia sendiri dalam keadaan seperti ini,” gumamnya. “Tapi biarlah, kan sudah ada perawat selama 24 jam di rumah sakit ini.”
Setelah beberapa menit berdiri dan berpikir di depan pintu. Akhirnya Mia memutuskan untuk tetap tinggal. Walaupun ia membenci Leon, tapi saat ini cowok itu tengah membutuhkan dirinya. Ya, setidaknya untuk semalam saja dia bisa menemaninya.
“Hallo…” sahut suara dari balik telepon.
“Ma, ini Mia.”
“Mia…! Kamu kemana saja? Ini sudah malam, kenapa belum pulang? Mama khawatir.”
“Iya Ma, maafin Mia. Saat ini aku ada di rumah sakit.”
“Rumah sakit?! Apa yang terjadi? Apa kau terluka? Di rumah sakit mana? Mama akan segera menyusul kesana!” suara panik wanita paruh baya itu terdengar ke telinga Mia.
“Tenanglah Ma, bukan Mia yang sakit, tapi temanku. Hari ini dia kecelakaan. Dan orangtuanya sedang di luar kota. Kemungkinan besok mereka akan tiba. Jadi Mia harus menjaganya, paling tidak untuk malam ini. Nggak apa-apa kan Ma? Kalau malam ini Mia menginap di rumah sakit?”
“Tapi gimana dengan kesehatanmu? Apa kamu sudah makan?”
“Tenanglah ma, Mia baik-baik saja. Jadi aku ijin untuk hari ini saja, kasian dia kalau harus sendirian. Tidak ada yang menjaganya,” pinta Mia lagi.
“Iya, baiklah. Mama ijinkan kamu menginap disana malam ini. Tapi ingat kesehatanmu juga!” suruh Mama.
“Iya pasti! Ya udah Ma, Mia tutup teleponnya. Mama jaga kesehatan juga. Bye… mama… love you…” ucap gadis itu lantas menutup panggilan. Dan segera masuk kembali ke dalam.
“Katanya mau pulang? Kenapa balik lagi?!” tukas Leon sedikit kesal.
“Ohh… tadi aku cuma ke luar sebentar, untuk menelepon ibuku. Dan bilang padanya, kalau malam ini aku akan menginap di rumah sakit.”
“Jadi kamu mau nemenin aku?” sentak Leon terperangah.
“Hemm… ya mau gimana lagi?! Lagian aku pikir, tidak ada salahnya tidur disini untuk semalam saja,” sahut Mia acuh.
Nampak wajah Leon terlihat sumringah, mendengar perkataan gadis yang berdiri di hadapannya. “Mia, mendekatlah kemari,” panggilnya kemudian.
“Ada apa?”
“Kemarilah…” gadis itu mendekat. Perlahan Leon meraih tangannya. Sontak Mia kaget melihat sikap Leon yang aneh. “Maafkan aku, kalau perkataanku tadi siang menyinggungmu. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum,” ucap Leon sembari menatap Mia.
“Iya tenang saja, ini bukan salahmu. Wajar saja kalau kau bicara seperti itu,” balas Mia. “O ya, kenapa tadi kamu bilang begitu soal orangtuamu?” celetuknya tiba-tiba.
“Sejak dulu, mereka berdua gila kerja. Tidak ada waktu untuk di rumah. Aku memang hidup berkecukupan. Tapi tidak dengan hatiku Mi, rasanya kosong. Tidak ada yang perhatian padaku. Karena itulah aku selalu malas-malasan, berantem, supaya orangtuaku lebih peduli kalau mereka melihatku sakit ataupun terkena masalah. Tapi nyatanya tidak. Mereka menyelesaikan semuanya dengan uang.”
“Ehmm… pasti menyulitkan buatmu…” ucap Mia sambil menepuk-nepuk bahu Leon.
“Tapi biarlah, aku sudah tidak peduli lagi dengan mereka!” ujarnya sinis. “Kalau kamu gimana?” ucapnya tiba-tiba membuat Mia terperanjak kaget.
“Aku?”
“Iya, kamu. Siapa lagi?!” Leon terkekeh. “Kau pasti juga punya alasan bukan, dengan sikapmu selama ini?”
“Kau memang benar Leon. Dulu aku pernah mencintai seseorang dengan tulus. Memberikan semua perhatian, waktu, bahkan pikiranku hanya untuk dia. Hubungan kami baik-baik saja selama 2 tahun. Tapi seketika menginjak kelulusan, aku memergokinya tengah berpelukan dengan gadis lain di belakang sekolah. Hatiku hancur, aku tak menyangka dia tega melakukan hal itu padaku. Mulai sejak itulah aku membenci cowok. Dan terus berusaha menjauhinya,” jelas Mia berkaca-kaca.
“Iya aku mengerti perasaanmu Mi,” Leon meraih tangan Mia. “Tapi kau tidak bisa menutup dirimu terus seperti ini. Kau butuh orang lain. Tidak mungkin jika kamu terus terpuruk dalam bayang-bayang masa lalu,” imbuhnya.
“Test… test… test…” perlahan air mata Mia pun menetes membasahi tangan Leon yang memegang tangannya. “Hiks… hiks… hiks…” suara tangispun terdengar.
“Kemarilah!” Leon sontak meraih kepala gadis itu dan menyandarkan ke dadanya.
“Leon, apa yang kau lakukan? Lepaskan!” Mia terus meronta, namun Leon tidak peduli. Ia tetap saja berusaha menyandarkan kepala Mia dalam dekapannya.
“Menangislah… jika itu bisa membuatmu merasa lebih tenang…”
“Leon lepaskan! Bukankah aku sudah bilang, jangan dekati aku!” sentak Mia meronta, namun Leon tidak membiarkan gadis itu lepas dari dekapannya.
“Meski kau meronta, aku tidak akan melepaskanmu!” tandasnya.
“Leon… kumohon…”
“Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi! Kau harus tau Mia, setiap kali kau mengatakan agar aku menjauhimu. Maka aku semakin ingin dekat denganmu. Jadi aku akan terus berada di dekatmu!”
“Hiks… hiks… hiks…” tangis Mia pun jatuh dalam pelukan Leon.
Cerpen Karangan: Putri Andriyas
Blog / Facebook: putriandriyas.wordpress.com / Putri Andriya
Jangan Dekati Aku
4/
5
Oleh
Unknown
