Judul Cerpen Akhir
Lagi, sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku melihat dia duduk di meja sebelahku. Dan selalu tersaji teh di hadapannya. Sudah dua bulan belakangan ini aku bertemu dengannya, Hampir setiap hari aku duduk di kafe ini menikmati secangkir kopi atau hanya melihat pengujung hilir mudik datang.
Aku Millenia, laki-laki di meja sebelah namanya Reyhan, dia kakak kelas di sekolahku hanya berjarak setahun. Perawakannya yang bisa dibilang sempurna sehingga dijuluki “Most Wanted” tapi sikapnya sangat dingin. Terbukti setiap aku datang dia tidak pernah memanggil. Sekedar tersenyum pun tidak.
Tunggu, sepertinya hari ini berbeda. Dia pindah ke bangku depan yang aku duduki. Selama 5 menit aku masih menatapnya heran, selama itu pun belum ada percakapan antara kami berdua. “Lu suka kopi?” Tanyanya. Sontak aku sedikit terkejut. “I..ya”. “Kopi kan pahit” Tambahnya, “Nggak kok, pahitan juga teh” jawabku. Dan dimulai dari percakapan itu aku dan Reyhan berbicara dengan berbagai topik. Aku punya satu penilaian terhadapnya. Ternyata, dia bukan orang yang dingin.
Hari pun berganti bulan, bukan hanya di kafe aku bisa dekat dengan Reyhan tapi di sekolah juga. Mungkin siswi-siswi di sini iri, terlihat dari tatapan mereka saat aku di kantin berdua dengan Reyhan.
Hari ini seperti biasanya, aku ke kafe. Aku duduk di bangku biasanya, memesan satu cangkir kopi untukku dan satu cangkir teh untuk Reyhan. Aku sudah hafal betul apa yang Reyhan pesan saat di kafe ini. Dan biasanya juga, Reyhan datang tidak lama setelah aku datang. 20 Menit. Mungkin dia terjebak macet. 45 menit. Apa hari ini dia tidak datang ke kafe ini?. 1 jam. “Reyhan, kok lu tumben banget sih gak kesini?” Runtukku dalam hati.
Aku segera mengambil ponselku untuk menghubungi Reyhan. Tapi sial, baterainya habis 2 menit yang lalu karena aku sibuk menyalakannya untuk melihat jam. Sekarang pukul 17.45 WIB Teh yang kusiapkan untuk Reyhan juga sudah dingin. Kali ini aku baru merasakan pahitnya kopi yang kuminum.
Setelah mencharger handphone aku merebahkan badan ke atas kasur berukuran big size. Kuhirup nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan, mungkin dengan seperti ini pikiranku sedikit lebih tenang. Setelah itu, Handhphoneku bergetar berkali-kali tanda ada pesan masuk. Aku segera mengambilnya.
Reyhan: Milen, tunggu gue ya gue di jalan. Milen macet banget ini. Milen lu nunggu gue lama ya.
Aku segera membalas pesan dari Reyhan.
Millenia: Lu kemana sih? Gue tunggu gak dateng
Beberapa menit kemudian ada balasan
Reyhan: Sorry banget ya len, padahal tadi gue mau ngomong sesuatu. Sekarang aja ya. Gue sayang lu hehe. Gue ngantuk len, lu balesnya besok aja. Gue duluan.
Millenia: Ya udah gue jawab besok ya?. Good night Rey
Keesokannya, aku sudah tidak sabar untuk menjawab pernyataan dari Reyhan semalam. Aku segera mengambil Hp ku. Tapi, ada nama pesan masuk yang lain dan segera kubuka
Nilam: Millenia, gue Nilam sodaranya Reyhan. Gak tau gue harus ngomong gimana. Tapi ini kenyataannya. Reyhan meninggal semalem jam 22.10. hari ini jenazahnya dikubur, lu cepet kesini ya.
Tubuhku lemas, lututku tidak mampu menopang badanku. Aku segera ke rumah Reyhan. Di depan rumahnya banyak orang berpakaian serba hitam, dan bendera kuning dan ada nama Reyhan disana. Tangisku makin menjadi saat melihat keadaan di ruang tamu, badan Reyhan sudah terbujur kaku.
“Reyhan kecelakaan pas mau nyusul lu ke kafe. Semalem yang ngechat lu itu gue. Tapi disuruh Reyhan, soalnya dia udah gak sanggup ngetik. Yang ihklas ya” Kata Nilam sambil merangkulku.
‘Kalo seandainya gue tau lu bilang “lo sayang gue” buat yang terakhir, gue bakal bilang “gue juga sayang lo Reyhan” saat itu juga’. Kadang, sesayang apapun lo sama seseorang. Lo harus rela kehilangan, saat kematian itu datang. – Millenia
Cerpen Karangan: Adinda Rizky
Facebook: Adinda Rizky Widyanti
Lagi, sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku melihat dia duduk di meja sebelahku. Dan selalu tersaji teh di hadapannya. Sudah dua bulan belakangan ini aku bertemu dengannya, Hampir setiap hari aku duduk di kafe ini menikmati secangkir kopi atau hanya melihat pengujung hilir mudik datang.
Aku Millenia, laki-laki di meja sebelah namanya Reyhan, dia kakak kelas di sekolahku hanya berjarak setahun. Perawakannya yang bisa dibilang sempurna sehingga dijuluki “Most Wanted” tapi sikapnya sangat dingin. Terbukti setiap aku datang dia tidak pernah memanggil. Sekedar tersenyum pun tidak.
Tunggu, sepertinya hari ini berbeda. Dia pindah ke bangku depan yang aku duduki. Selama 5 menit aku masih menatapnya heran, selama itu pun belum ada percakapan antara kami berdua. “Lu suka kopi?” Tanyanya. Sontak aku sedikit terkejut. “I..ya”. “Kopi kan pahit” Tambahnya, “Nggak kok, pahitan juga teh” jawabku. Dan dimulai dari percakapan itu aku dan Reyhan berbicara dengan berbagai topik. Aku punya satu penilaian terhadapnya. Ternyata, dia bukan orang yang dingin.
Hari pun berganti bulan, bukan hanya di kafe aku bisa dekat dengan Reyhan tapi di sekolah juga. Mungkin siswi-siswi di sini iri, terlihat dari tatapan mereka saat aku di kantin berdua dengan Reyhan.
Hari ini seperti biasanya, aku ke kafe. Aku duduk di bangku biasanya, memesan satu cangkir kopi untukku dan satu cangkir teh untuk Reyhan. Aku sudah hafal betul apa yang Reyhan pesan saat di kafe ini. Dan biasanya juga, Reyhan datang tidak lama setelah aku datang. 20 Menit. Mungkin dia terjebak macet. 45 menit. Apa hari ini dia tidak datang ke kafe ini?. 1 jam. “Reyhan, kok lu tumben banget sih gak kesini?” Runtukku dalam hati.
Aku segera mengambil ponselku untuk menghubungi Reyhan. Tapi sial, baterainya habis 2 menit yang lalu karena aku sibuk menyalakannya untuk melihat jam. Sekarang pukul 17.45 WIB Teh yang kusiapkan untuk Reyhan juga sudah dingin. Kali ini aku baru merasakan pahitnya kopi yang kuminum.
Setelah mencharger handphone aku merebahkan badan ke atas kasur berukuran big size. Kuhirup nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan, mungkin dengan seperti ini pikiranku sedikit lebih tenang. Setelah itu, Handhphoneku bergetar berkali-kali tanda ada pesan masuk. Aku segera mengambilnya.
Reyhan: Milen, tunggu gue ya gue di jalan. Milen macet banget ini. Milen lu nunggu gue lama ya.
Aku segera membalas pesan dari Reyhan.
Millenia: Lu kemana sih? Gue tunggu gak dateng
Beberapa menit kemudian ada balasan
Reyhan: Sorry banget ya len, padahal tadi gue mau ngomong sesuatu. Sekarang aja ya. Gue sayang lu hehe. Gue ngantuk len, lu balesnya besok aja. Gue duluan.
Millenia: Ya udah gue jawab besok ya?. Good night Rey
Keesokannya, aku sudah tidak sabar untuk menjawab pernyataan dari Reyhan semalam. Aku segera mengambil Hp ku. Tapi, ada nama pesan masuk yang lain dan segera kubuka
Nilam: Millenia, gue Nilam sodaranya Reyhan. Gak tau gue harus ngomong gimana. Tapi ini kenyataannya. Reyhan meninggal semalem jam 22.10. hari ini jenazahnya dikubur, lu cepet kesini ya.
Tubuhku lemas, lututku tidak mampu menopang badanku. Aku segera ke rumah Reyhan. Di depan rumahnya banyak orang berpakaian serba hitam, dan bendera kuning dan ada nama Reyhan disana. Tangisku makin menjadi saat melihat keadaan di ruang tamu, badan Reyhan sudah terbujur kaku.
“Reyhan kecelakaan pas mau nyusul lu ke kafe. Semalem yang ngechat lu itu gue. Tapi disuruh Reyhan, soalnya dia udah gak sanggup ngetik. Yang ihklas ya” Kata Nilam sambil merangkulku.
‘Kalo seandainya gue tau lu bilang “lo sayang gue” buat yang terakhir, gue bakal bilang “gue juga sayang lo Reyhan” saat itu juga’. Kadang, sesayang apapun lo sama seseorang. Lo harus rela kehilangan, saat kematian itu datang. – Millenia
Cerpen Karangan: Adinda Rizky
Facebook: Adinda Rizky Widyanti
Akhir
4/
5
Oleh
Unknown
