Judul Cerpen Masih Disini Menantimu
Cinta, kesan kuat bermakna dua anak manusia yang sama-sama punya perasaan kuat untuk saling memiliki. Unik memang. Banyak hal dapat dimiliki dengan cara mengeluarkan uang tetapi tidak untuk beberapa hal dan salah satunya adalah cinta. Bahkan kadangkala hati bisa dengan mudah diperdaya oleh akal pikiran tapi cinta sejati tentu akan selalu berpihak kepada jiwa-jiwa yang senantiasa mencarinya dan sebagian besar siap menunggu.
Aku tersenyum pahit melihat hasil ulangan harianku tidak begitu memuaskan. Padahal aku berharap meraih nilai matematika lebih memuaskan di semester genap ini. “Matematika memang sulit!” gerutuku sendu. Kusimpan lembaran kertas itu dalam buku pelajaran matematika serapi mungkin, nyaris utuh tanpa koyakan tapi na’as, kertas ulanganku disambar kasar oleh Amel, teman yang duduk di sampingku menghapus gelar kerapihan dari kertas tersebut.
“7.85 lumayan lah buat pecinta sejarah kaya lo” ucap Amel
“Hahaa… Kamu bisa aja, Mel” aku tersenyum kecil mendengarnya.
“Benar juga sih! Aku kan nggak sejago si musuh bebuyutanku itu.” ucapku pelan. Spontan.
“Apa! Musuh Bebuyutan, siapa?”
“Emangnya kamu punya musuh bebuyutan, Al?” tanya Amel antusias.
“Ng.. Nggak kok. Kamu salah dengar kali, masa iya seorang Alissa Welmy punya musuh. Apa kata nenek kamu coba! Hahaa..” sanggahku cepat berusaha menutup rasa gugup dan seberkas rindu yang perlahan merambat hati.
Amel melihatku sebentar kemudian beranjak ke bangku barisan depan untuk melanjutkan aktifitas bergosip ria bersama Fifit dan Ayra. Aku mengusap wajahku yang berkeringat dengan selembar tissu, oh Tuhan bahkan aku masih memikirkan dirinya sampai sekarang. Semakin dicoba, semakin sulit melepas sepotong kisah cukup manis bersama dengan dia di bangku sekolah dasar. Iya, dia adalah musuh bebuyutanku yang cukup mengerti semua keinginan si matematika, pelajaran kategori killer bagi diriku. Terlepas dari semua itu, aku punya harapan besar yaitu bisa meraih hasil maksimal pada saat penerimaan laporan pendidikan nanti.
Liburan berakhir sudah, kami satu kelas VII kini resmi menjadi VIII A, dan hal yang paling menyenangkan adalah kami digelari senior oleh calon siswa siswi SMPN I Telutih. Aku tersenyum riang melangkah ke sekolah, selain karena aku meraih hasil maksimal ketika pembagian rapor, aku juga tidak sengaja mendengar bahwa si musuh bebuyutanku itu bersekolah di SMP ini dari percakapan antara Amel dan Ryen. Meskipun aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya tapi, entah mengapa dalam hal ini hatiku tidak sejalan dengan logikaku yang menyimpulkan bahwa dia tidak mungkin satu sekolah denganku. Bersama teman-teman sepermainan, kami sekelas menyiapkan berbagai hal konyol untuk siswa siswi baru itu. Tapi sayang tidak terlaksana ketika hari H-nya karena perploncoan ditiadakan oleh Bapak Kepala Sekolah. Setelah pengukuhan calon siswa siswi SMP N I Telutih menjadi siswa siswi sah itulah cerita kami dimulai.
Hari ini bakti sosial di sekolah, artinya kami bisa bermain seharian setelah bersih-bersih ruangan guru, kelas, kantor kepsek, perpustakaan, toilet, taman, dan lain-lain. Yup! Namanya juga baksos, otomatis kebersihan mesti diterapkan.
“Alis, ke kelas 7 yuk!” ajak Rysmy yang tiba-tiba muncul di sampingku.
“Masih capek. Kamu aja deh.” tukasku, masih menatap lapangan luas nan hijau dari emper kelas.
“Ih, ayo.. Mereka itu lagi latihan nyanyi gitu pake pianika. Keren loh, yuk!” ujar Rysmy seraya menarikku supaya berdiri.
“Baiklah, baiklah. Kita go!”
“Nah, gitu dong!”
Rysmy masih setia menggandeng erat lenganku. Kami berdua menatap Harrys, junior yang terlihat kewalahan mencoba memainkan alat musik tiup yang satu itu. Aku terkekeh kecil demi melihat wajah kusutnya.
“Eh, Alis. Kamu katanya jago main ini ya.. Cobain dong.” ucap Harrys merdu.
“Ng.. Aku..”
“Iya, dia bisa kok.” belum sempat kutolak permintaan si Harrys, Rysmy telah lebih dulu menyela rancangan pembelaan dariku.
Si Harrys, mantan teman sekelasku semasa SD tersenyum manis. Kami dulu sekelas, bersama-sama musuh bebuyutanku tapi tidak lagi, aku senior sekarang setelah mengikuti serangkaian tes program akselerasi. Aku lebih dulu lulus sekolah dasar.
“Ayoo…” ucap Rysmy, ia menuntunku duduk di kursi yang tadi Harrys duduki.
Kutatap alat musik itu tanpa ekspresi. Miris. Tiba-tiba aku melihat dia, sosok yang tidak pernah aku undang selalu hadir dalam keaeharianku. Debaran keras jantungku nyaris terdengar ketika aku melihatnya, walau sekilas tapi ada rasa nyaman disana. Sungguh! Aku melihat dia, ternyata hatiku benar. Si musuh bebuyutanku, kami satu sekolah. Detik berikutnya alat musik itu kutatap dengan senyuman tulus, kemudian menghasilkan nada-nada sederhana karena kumainkan. Sejujurnya, di benakku hanya ada satu hal yang menghadirkan kepercayaan diriku karena belum pernah bermain alat musik diluar mata pelajaran kesenian yaitu dia. Tanganku bergerak lincah di atas keyboard demi memadukan bunyi dari setiap hembusan nafasku. Hasilnya, tepuk tangan meriah dari para junior untukku.
Bel tanda usai jam sekolah berbunyi. Akhirnya aku bisa bernafas lega, keluar dari kelas ini. Berada dalam satu ruangan dengannya membuatku bisa grogi kapan saja. Setidaknya aku sudah berusaha memainkan alat musik itu sebaik mungkin. Setelah beberapa pemberitahuan disampaikan oleh Bapak Kepala Sekolah, semua siswa siswi langsung berhamburan menuju pintu gerbang. Aku melangkah santai, sekedar menghindari riuhnya sesak di pintu gerbang yang kerap terjadi. Sendiri, seperti biasa. Namun, tidak kali ini ada si Harrys ikut-ikutan berjalan di sampingku dan oh my god! Harrys bersama dia. Aku nyaris bersorak kegirangan kalau saja Harrys tidak mengajakku ngobrol.
“Tadi kamu mainnya keren banget” ujar Harrys.
“Ah, aku juga baru belajar kok, Rys” ucapku halus.
“Tapi kenapa bisa bagus gitu?”
“Belajar keras aja sih, Hehee..” jawabku sambil tertawa kecil.
“Kamu emang gitu, belajar mulu kerjaannya.”
Kami pun tertawa riang. Sedangkan sosok lelaki yang sering menghantui pikiranku itu masih saja dingin seperti biasanya. Yup! Seperti biasanya.
Lima bulan sudah aku bersamanya. Maksudku bukan berdua setiap hari, melainkan sama-sama satu sekolah. Kabar buruknya, tidak ada peningkatan sama sekali di antara kami berdua lantaran kabut kecanggungan. Dia masih sedingin biasanya dan aku masih selalu merindukan sosok ramahnya. Tuhan, mengapa engkau menganugerahkan program akselerasi kepadaku. Andai saja hal itu tidak terjadi mungkin aku masih bisa berceloteh ria sekedar jahil bersama dia seperti waktu di sekolah dasar dulu.
Aku sedang menggambar bunga-bunga indah, setelah mata pelajaran kesenian. Seolah mendapat ilham di siang yang cukup terik ini. Tanganku tak berhenti bergerak di atas kertas.
“Al, ayo ngumpul bareng adik-adik komplek. Waktunya istirahat nih.” ajakan Rysmy lumayan menyita konsentrasiku.
“Aku lagi sibuk.” jawabku.
“Yaelah! Ini anak susah banget sih diajak ke luar kelas. Gimana mau sosialisasi coba kalo kamunya di kelas terus.” tegas Ryen.
“Ayoo Al, mau yah!”
“Okelah!” ucapku seraya memasukkan perlengkapan menggambarku ke dalam tas. Sebenarnya tidak ada masalah juga kalau aku tidak ikut tapi, Ryen yang sudah seperti kakak aku sendiri pasti bakal memberi seribu satu macam penjelasan tentang bersikap baik hingga sakit kupingku mendengarnya. Dengan hati tak menentu aku berjalan mengikuti langkah Rysmy dan Ryen.
“Hai..”
“Haii.. Kak Rysmy, kak Ryen!”
Aku hanya tersenyum kecil melihat keakraban dua temanku ini dengan adik-adik kelas yang sekomplek dengan kami bertiga.
“Haii, Al” sapa Harrys.
“Hai.” balasku, ia tersenyum.
Percakapan hangat mulai terdengar. Kami semua duduk melantai di koridor utama kelas 7. Satu peningkatan luar biasa, bisa duduk bersama dia. Lelaki berkulit cokelat, tinggi, dengan rambut hitam legam dan mata teduh menyejukkan. Tuhan tapi, mengapa dia masih sedingin ini terhadapku. Perih rasanya melihat dua temanku begitu mudah akrab dengan dia. Berbeda denganku. Aku menatapnya sekilas, dia masih sama humorisnya. Sifat humor itulah yang membuat nyaman setiap orang ketika berkenalan dengannya.
“kamu tahu arti warna kan, Al?” tanya Ryen membangunkanku dari lamunan. Aku mengangguk kecil.
“Eh, kasih tahu dong!” celetuk Mondy, salah satu temannya Harrys.
“Baiklah, warna apa yang ingin kalian tahu artinya?” tanyaku seraya berdiri di hadap mereka semua.
Mataku menatap mereka satu persatu termasuk dia yang duduk paling ujung kanan. Kami bertatapan, entahlah mungkin satu atau dua detik aku segera menundukkan pandanganku. Apalagi ini, Tuhan. Aku sungguh tak mengerti mengapa setiap kali bertemu dia jantungku seakan ingin melompat pindah dari tempatnya. Kucoba menepis rasa grogi yang perlahan mulai merambati jiwa.
“Biru, artinya apa?” tanya Ryen.
“Belahan jiwa.” jawabku enteng.
“Kenapa belahan jiwa?”
“Mungkin karena biru selalu identik dengan hati seseorang yang sedang hancur karena cinta. Jadi warna biru dibikin artinya belahan jiwa biar kita nggak gampang nyakitin hati orang yang kita sayang.” jawabku. Mondy yang bertanya tampak manggut-manggut. Begitupula dengan Ryen, ia tersenyum lebar.
“Biru itu warna favoritku. Ternyata maknanya menyentuh sekali.” ucapnya. Aku tersenyum mendengarnya.
“Ada lagi?” tanyaku lagi.
“Kalau..” ia menggantung kalimatnya, membuat jantungku makin tidak beraturan.
“Ehm.. Kuning, artinya apa?” ucapnya tenang.
“Rindu.” jawabku setenang mungkin. Kulihat dia tersenyum agak lebar, entah apa penyebabnya, gingsulnya kelihatan. Aku sungguh merindukan senyumannya itu. Terimakasih untuk hari ini Tuhan. Biarlah rasa yang tak kumengerti ini abadi di dalam hati. Biarlah rasa kagumku ini tetap utuh untuk seorang Akzen Angelo si penyuka aljabar dkk. Biarlah dia tidak menyadari kekagumanku ini, setidaknya aku masih bisa melihat senyum khas itu, mata teduh, juga rasa nyaman yang dia tebarkan. Meskipun humorisnya jarang kunikmati, berdua dengannya nyaris tak kulalui. Satu hal yang pasti aku masih disini menantimu, sampai kapanpun hingga waktu menjelaskan isi dari hati ini kepada dirimu.
Cerpen Karangan: Alis W
Facebook: Lis/lisyana
Cinta, kesan kuat bermakna dua anak manusia yang sama-sama punya perasaan kuat untuk saling memiliki. Unik memang. Banyak hal dapat dimiliki dengan cara mengeluarkan uang tetapi tidak untuk beberapa hal dan salah satunya adalah cinta. Bahkan kadangkala hati bisa dengan mudah diperdaya oleh akal pikiran tapi cinta sejati tentu akan selalu berpihak kepada jiwa-jiwa yang senantiasa mencarinya dan sebagian besar siap menunggu.
Aku tersenyum pahit melihat hasil ulangan harianku tidak begitu memuaskan. Padahal aku berharap meraih nilai matematika lebih memuaskan di semester genap ini. “Matematika memang sulit!” gerutuku sendu. Kusimpan lembaran kertas itu dalam buku pelajaran matematika serapi mungkin, nyaris utuh tanpa koyakan tapi na’as, kertas ulanganku disambar kasar oleh Amel, teman yang duduk di sampingku menghapus gelar kerapihan dari kertas tersebut.
“7.85 lumayan lah buat pecinta sejarah kaya lo” ucap Amel
“Hahaa… Kamu bisa aja, Mel” aku tersenyum kecil mendengarnya.
“Benar juga sih! Aku kan nggak sejago si musuh bebuyutanku itu.” ucapku pelan. Spontan.
“Apa! Musuh Bebuyutan, siapa?”
“Emangnya kamu punya musuh bebuyutan, Al?” tanya Amel antusias.
“Ng.. Nggak kok. Kamu salah dengar kali, masa iya seorang Alissa Welmy punya musuh. Apa kata nenek kamu coba! Hahaa..” sanggahku cepat berusaha menutup rasa gugup dan seberkas rindu yang perlahan merambat hati.
Amel melihatku sebentar kemudian beranjak ke bangku barisan depan untuk melanjutkan aktifitas bergosip ria bersama Fifit dan Ayra. Aku mengusap wajahku yang berkeringat dengan selembar tissu, oh Tuhan bahkan aku masih memikirkan dirinya sampai sekarang. Semakin dicoba, semakin sulit melepas sepotong kisah cukup manis bersama dengan dia di bangku sekolah dasar. Iya, dia adalah musuh bebuyutanku yang cukup mengerti semua keinginan si matematika, pelajaran kategori killer bagi diriku. Terlepas dari semua itu, aku punya harapan besar yaitu bisa meraih hasil maksimal pada saat penerimaan laporan pendidikan nanti.
Liburan berakhir sudah, kami satu kelas VII kini resmi menjadi VIII A, dan hal yang paling menyenangkan adalah kami digelari senior oleh calon siswa siswi SMPN I Telutih. Aku tersenyum riang melangkah ke sekolah, selain karena aku meraih hasil maksimal ketika pembagian rapor, aku juga tidak sengaja mendengar bahwa si musuh bebuyutanku itu bersekolah di SMP ini dari percakapan antara Amel dan Ryen. Meskipun aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya tapi, entah mengapa dalam hal ini hatiku tidak sejalan dengan logikaku yang menyimpulkan bahwa dia tidak mungkin satu sekolah denganku. Bersama teman-teman sepermainan, kami sekelas menyiapkan berbagai hal konyol untuk siswa siswi baru itu. Tapi sayang tidak terlaksana ketika hari H-nya karena perploncoan ditiadakan oleh Bapak Kepala Sekolah. Setelah pengukuhan calon siswa siswi SMP N I Telutih menjadi siswa siswi sah itulah cerita kami dimulai.
Hari ini bakti sosial di sekolah, artinya kami bisa bermain seharian setelah bersih-bersih ruangan guru, kelas, kantor kepsek, perpustakaan, toilet, taman, dan lain-lain. Yup! Namanya juga baksos, otomatis kebersihan mesti diterapkan.
“Alis, ke kelas 7 yuk!” ajak Rysmy yang tiba-tiba muncul di sampingku.
“Masih capek. Kamu aja deh.” tukasku, masih menatap lapangan luas nan hijau dari emper kelas.
“Ih, ayo.. Mereka itu lagi latihan nyanyi gitu pake pianika. Keren loh, yuk!” ujar Rysmy seraya menarikku supaya berdiri.
“Baiklah, baiklah. Kita go!”
“Nah, gitu dong!”
Rysmy masih setia menggandeng erat lenganku. Kami berdua menatap Harrys, junior yang terlihat kewalahan mencoba memainkan alat musik tiup yang satu itu. Aku terkekeh kecil demi melihat wajah kusutnya.
“Eh, Alis. Kamu katanya jago main ini ya.. Cobain dong.” ucap Harrys merdu.
“Ng.. Aku..”
“Iya, dia bisa kok.” belum sempat kutolak permintaan si Harrys, Rysmy telah lebih dulu menyela rancangan pembelaan dariku.
Si Harrys, mantan teman sekelasku semasa SD tersenyum manis. Kami dulu sekelas, bersama-sama musuh bebuyutanku tapi tidak lagi, aku senior sekarang setelah mengikuti serangkaian tes program akselerasi. Aku lebih dulu lulus sekolah dasar.
“Ayoo…” ucap Rysmy, ia menuntunku duduk di kursi yang tadi Harrys duduki.
Kutatap alat musik itu tanpa ekspresi. Miris. Tiba-tiba aku melihat dia, sosok yang tidak pernah aku undang selalu hadir dalam keaeharianku. Debaran keras jantungku nyaris terdengar ketika aku melihatnya, walau sekilas tapi ada rasa nyaman disana. Sungguh! Aku melihat dia, ternyata hatiku benar. Si musuh bebuyutanku, kami satu sekolah. Detik berikutnya alat musik itu kutatap dengan senyuman tulus, kemudian menghasilkan nada-nada sederhana karena kumainkan. Sejujurnya, di benakku hanya ada satu hal yang menghadirkan kepercayaan diriku karena belum pernah bermain alat musik diluar mata pelajaran kesenian yaitu dia. Tanganku bergerak lincah di atas keyboard demi memadukan bunyi dari setiap hembusan nafasku. Hasilnya, tepuk tangan meriah dari para junior untukku.
Bel tanda usai jam sekolah berbunyi. Akhirnya aku bisa bernafas lega, keluar dari kelas ini. Berada dalam satu ruangan dengannya membuatku bisa grogi kapan saja. Setidaknya aku sudah berusaha memainkan alat musik itu sebaik mungkin. Setelah beberapa pemberitahuan disampaikan oleh Bapak Kepala Sekolah, semua siswa siswi langsung berhamburan menuju pintu gerbang. Aku melangkah santai, sekedar menghindari riuhnya sesak di pintu gerbang yang kerap terjadi. Sendiri, seperti biasa. Namun, tidak kali ini ada si Harrys ikut-ikutan berjalan di sampingku dan oh my god! Harrys bersama dia. Aku nyaris bersorak kegirangan kalau saja Harrys tidak mengajakku ngobrol.
“Tadi kamu mainnya keren banget” ujar Harrys.
“Ah, aku juga baru belajar kok, Rys” ucapku halus.
“Tapi kenapa bisa bagus gitu?”
“Belajar keras aja sih, Hehee..” jawabku sambil tertawa kecil.
“Kamu emang gitu, belajar mulu kerjaannya.”
Kami pun tertawa riang. Sedangkan sosok lelaki yang sering menghantui pikiranku itu masih saja dingin seperti biasanya. Yup! Seperti biasanya.
Lima bulan sudah aku bersamanya. Maksudku bukan berdua setiap hari, melainkan sama-sama satu sekolah. Kabar buruknya, tidak ada peningkatan sama sekali di antara kami berdua lantaran kabut kecanggungan. Dia masih sedingin biasanya dan aku masih selalu merindukan sosok ramahnya. Tuhan, mengapa engkau menganugerahkan program akselerasi kepadaku. Andai saja hal itu tidak terjadi mungkin aku masih bisa berceloteh ria sekedar jahil bersama dia seperti waktu di sekolah dasar dulu.
Aku sedang menggambar bunga-bunga indah, setelah mata pelajaran kesenian. Seolah mendapat ilham di siang yang cukup terik ini. Tanganku tak berhenti bergerak di atas kertas.
“Al, ayo ngumpul bareng adik-adik komplek. Waktunya istirahat nih.” ajakan Rysmy lumayan menyita konsentrasiku.
“Aku lagi sibuk.” jawabku.
“Yaelah! Ini anak susah banget sih diajak ke luar kelas. Gimana mau sosialisasi coba kalo kamunya di kelas terus.” tegas Ryen.
“Ayoo Al, mau yah!”
“Okelah!” ucapku seraya memasukkan perlengkapan menggambarku ke dalam tas. Sebenarnya tidak ada masalah juga kalau aku tidak ikut tapi, Ryen yang sudah seperti kakak aku sendiri pasti bakal memberi seribu satu macam penjelasan tentang bersikap baik hingga sakit kupingku mendengarnya. Dengan hati tak menentu aku berjalan mengikuti langkah Rysmy dan Ryen.
“Hai..”
“Haii.. Kak Rysmy, kak Ryen!”
Aku hanya tersenyum kecil melihat keakraban dua temanku ini dengan adik-adik kelas yang sekomplek dengan kami bertiga.
“Haii, Al” sapa Harrys.
“Hai.” balasku, ia tersenyum.
Percakapan hangat mulai terdengar. Kami semua duduk melantai di koridor utama kelas 7. Satu peningkatan luar biasa, bisa duduk bersama dia. Lelaki berkulit cokelat, tinggi, dengan rambut hitam legam dan mata teduh menyejukkan. Tuhan tapi, mengapa dia masih sedingin ini terhadapku. Perih rasanya melihat dua temanku begitu mudah akrab dengan dia. Berbeda denganku. Aku menatapnya sekilas, dia masih sama humorisnya. Sifat humor itulah yang membuat nyaman setiap orang ketika berkenalan dengannya.
“kamu tahu arti warna kan, Al?” tanya Ryen membangunkanku dari lamunan. Aku mengangguk kecil.
“Eh, kasih tahu dong!” celetuk Mondy, salah satu temannya Harrys.
“Baiklah, warna apa yang ingin kalian tahu artinya?” tanyaku seraya berdiri di hadap mereka semua.
Mataku menatap mereka satu persatu termasuk dia yang duduk paling ujung kanan. Kami bertatapan, entahlah mungkin satu atau dua detik aku segera menundukkan pandanganku. Apalagi ini, Tuhan. Aku sungguh tak mengerti mengapa setiap kali bertemu dia jantungku seakan ingin melompat pindah dari tempatnya. Kucoba menepis rasa grogi yang perlahan mulai merambati jiwa.
“Biru, artinya apa?” tanya Ryen.
“Belahan jiwa.” jawabku enteng.
“Kenapa belahan jiwa?”
“Mungkin karena biru selalu identik dengan hati seseorang yang sedang hancur karena cinta. Jadi warna biru dibikin artinya belahan jiwa biar kita nggak gampang nyakitin hati orang yang kita sayang.” jawabku. Mondy yang bertanya tampak manggut-manggut. Begitupula dengan Ryen, ia tersenyum lebar.
“Biru itu warna favoritku. Ternyata maknanya menyentuh sekali.” ucapnya. Aku tersenyum mendengarnya.
“Ada lagi?” tanyaku lagi.
“Kalau..” ia menggantung kalimatnya, membuat jantungku makin tidak beraturan.
“Ehm.. Kuning, artinya apa?” ucapnya tenang.
“Rindu.” jawabku setenang mungkin. Kulihat dia tersenyum agak lebar, entah apa penyebabnya, gingsulnya kelihatan. Aku sungguh merindukan senyumannya itu. Terimakasih untuk hari ini Tuhan. Biarlah rasa yang tak kumengerti ini abadi di dalam hati. Biarlah rasa kagumku ini tetap utuh untuk seorang Akzen Angelo si penyuka aljabar dkk. Biarlah dia tidak menyadari kekagumanku ini, setidaknya aku masih bisa melihat senyum khas itu, mata teduh, juga rasa nyaman yang dia tebarkan. Meskipun humorisnya jarang kunikmati, berdua dengannya nyaris tak kulalui. Satu hal yang pasti aku masih disini menantimu, sampai kapanpun hingga waktu menjelaskan isi dari hati ini kepada dirimu.
Cerpen Karangan: Alis W
Facebook: Lis/lisyana
Masih Disini Menantimu
4/
5
Oleh
Unknown
