Judul Cerpen Tour Leader
Tepat pukul delapan malam empat bus mulai meluncur dari sebuah SMP yang menggunakan jasa travel wisata tempatku bekerja. Aku kebetulan yang ditunjuk menjadi Tour Leader bersama tiga orang tour guide temanku. Tujuan tour kali ini adalah Jogjakarta dan Candi Borobudur Magelang. Membawa rombongan wisata anak sekolah pikirku pasti menyenangkan, dalam arti kerjaku mungkin tidak terlalu susah dan tinggal jalan saja, apalagi semua urusan administrasi perjalanan, tiket, booking hotel, dan sebagainya sudah dilakukan dan dibayar perusahaanku.
“Sudah lama Mas jadi TL?”
“Baru dua tahun”
“Oh… ya sudah cukup lama.”
“Ya begitulah.”
“Trus sudah pergi-pergi kemana saja?”
“Travel saya ordernya Jawa, Bali, Lombok dan…”
“Terasi” kata sopir yang tiba-tiba ikut nimbrung ngobrol”
“Ha ha ha…” kami tertawa lepas.
“Ya kota-kota wisata di Jawa sudah semua.”
Bus terus melaju membelah pekat malam. Di malam minggu seperti ini jalur Surabaya-Jogjakarta padat, tapi Masih lancar. Bus-bus ekonomi balapan agar cepat sampai tujuan sementara bus pariwisata menggalah memberi jalan para pembalap itu. Bus pariwisata jalan santai, nggak gopoh kabeh.
“Istirahat di mana Mas?” tanya sopir
“Rumah makan Putera Jatim.”
“Ada rumah makan baru Mas. Mau coba?”
“RM apa?”
“Nurul Huda di Sragen. Parkirnya luas, ada Masjidnya.
“Oke kita coba.”
Aku segera memberitahukan kepada TG lainnya kalau istirahat di Sragen. Di rumah makan tugasku adalah menjamu para guru yang ikut mendampingi tour itu. Mereka harus puas dengan pelayanan kami sehingga tahun depan Masih memakai jasa travel tempatku bekerja.
“Mari bapak-bapak dan ibu guru makan malam. Yang tidak biasa makan malam boleh ngopi, ngeteh, atau yang lain monggo!”
“Ya Mas. Terima kasih.”
Sementara para siswa sudah lebih dulu mengantre dengan tertib mengambil makanan yang disajikan secara prasmanan, kemudian menunjukkan kepada kasir untuk dicatat. Satu orang temanku menunggui di kasir untuk memastikan semua anak rombongan kami sudah mengambil makanan.
Setelah mengurusi makan siswa dan gurunya, aku mencari para kru bus yang biasanya disediakan ruang makan khusus, termasuk buat TL.
“Gimana Mas?” tanya sopir.
“Murah meriah Pak.”
“Kalau udah cukup istirahatnya, monggo dilanjut.”
“Oke siap Mas bro.”
Aku segera mengecek tiga bus lainnya. Tiga bus sudah lengkap dan siap berangkat. Bus 4 belum lengkap karena satu murid belum kembali ke bus.
“Setelah makan tadi ke mana anaknya?”
“Katanya sih sholat di masjid belakang.”
“Ayo kita cari”
“Coba dihubungi HP-nya!”
Teman sekelasnya mencoba menghubungi. Guru menelepon HPnya. Tetapi jawabannya berubah-ubah.
“Dik posisi di mana?”
“Di perempatan Trowulan Pak.”
“Oke. Sampean diam di situ ya. Jangan kemana-mana. Saya akan jemput.”
Semua tertawa mendengar jawaban itu. Tempat yang dimaksud tidak ada di sekitar rumah makan. Tempat yang disebut siswa itu berada di kampung siswa yang hilang itu.
“Kok seperti orang mabuk ya jawabannya, ngalor-ngidul, nggak jelas.”
“Memang dia sedang fly Mas!” kata seorang temannya.
“Apa?” kataku terkejut.
“Mas katanya ia berada di perempatan yang ada jembatannya.”
“O ya? Ayo kita jemput pakai motor. Ini kakak yang parkir mau bantu.”
Lima belas menit kemudian dua orang yang mencari itu kembali ke parkiran bus dengan tangan hampa. Siswa yang menghilang atau hilang itu belum ditemukan. Pencarian diperluas radiusnya dengan lebih banyak orang yang mencari, guru dan teman-teman dekat si siswa yang hilang. Sibuk mencari tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Aku dan beberapa guru sepakat tidak melaporkan kejadian ini ke polisi karena khawatir malah menimbulkan kegaduhan.
Tepat pukul empat pagi seluruh panitia dan TL berunding mencari solusi. Sudah empat jam kami mencari Basuki, nama murid yang hilang itu tanpa hasil. Semua murung. Semua tidak bisa tersenyum. Semua memikirkan nasib anak itu dan tentu memikirkan bagaimana pertanggungjawaban kami kepada orangtuanya.
“Acara ini tidak boleh gagal karena satu orang.” kataku
“Ya. Benar.” Jawab mereka setuju.
“Solusinya saya mohon 2 orang guru dan 1 orang kami tetap menunggu di sini sampai pagi. Barangkali anak ini tersesat, mungkin kalau sudah pagi ia tahu jalan ke sini. Atau paling tidak bisa bertanya jalan ke rumah makan ini”
“Ya. Biar salat subuh dulu lalu kita lanjutkan perjalanan.” Kata seorang guru.
“Oke. Mari anak-anak kita ajak ke masjid biar tidak terlalu lama.”
Tepat pukul setengah lima kami sepakat melanjutkan perjalanan. Bus mulai bergerak meninggalkan area parkir rumah makan. Seharusnya saat ini kami sudah di Masjid di sekitar Borobudur untuk salat subuh tapi kami Masih di Sragen. Kalau jalan lancar sekitar pukul sembilan diperkirakan baru sampai candi Borobudur.
Ponselku berdering. Kulihat nama kru TL-ku berkedip-kedip di layar ponselku.
“Bos berhenti dulu, anak yang hilang ditemukan”
“Minggir Pak, parkir. Anaknya ditemukan.”
“Alhamdulilah…” ucap sopir bus diikuti yang lain. Mendadak suasana jadi riuh. Wajah-wajah mereka tersenyum. Mereka menjadi tidak mengantuk.
“Karaoke Mas?” terdengar salah seorang siswa minta diputarkan musik.
“Lagu apa?” jawab Mas Irul, kernet bus.
“Mawar di tangan, melati di pelukan.”
Aku memastikan semua sudah lengkap dan perjalanan dilanjutkan dengan keriangan. Anak–anak bersemangat menirukan lagu dangdut yang diputar. Mereka benar-benar bergembira dan tak kenal lelah. Terus bernyanyi sampai Jogja.
Aku pun bersyukur. Anak itu ditemukan. Kata TL-ku anak itu tadi enak-enakan cangkruk di jembatan sambil merok*k. Beruntung teman-temannya mengetahuinya. Begitu bus menepi dan berhenti, salah seorang guru langsung menyergapnya dan memaksanya Masuk bus. Mungkin benar anak itu dibawah pengaruh obat terlarang. Mungkin benar anak itu ng*plo. Tindakannya yang meresahkan banyak orang tak ia sadari.
“Wah seru Mas nangkapnya, seperti nangkap buron.” Kata TG-ku.
“Hahaha…” kami semua tertawa.
Cerpen Karangan: Suwarsono
Facebook: Sam Swarson
Tepat pukul delapan malam empat bus mulai meluncur dari sebuah SMP yang menggunakan jasa travel wisata tempatku bekerja. Aku kebetulan yang ditunjuk menjadi Tour Leader bersama tiga orang tour guide temanku. Tujuan tour kali ini adalah Jogjakarta dan Candi Borobudur Magelang. Membawa rombongan wisata anak sekolah pikirku pasti menyenangkan, dalam arti kerjaku mungkin tidak terlalu susah dan tinggal jalan saja, apalagi semua urusan administrasi perjalanan, tiket, booking hotel, dan sebagainya sudah dilakukan dan dibayar perusahaanku.
“Sudah lama Mas jadi TL?”
“Baru dua tahun”
“Oh… ya sudah cukup lama.”
“Ya begitulah.”
“Trus sudah pergi-pergi kemana saja?”
“Travel saya ordernya Jawa, Bali, Lombok dan…”
“Terasi” kata sopir yang tiba-tiba ikut nimbrung ngobrol”
“Ha ha ha…” kami tertawa lepas.
“Ya kota-kota wisata di Jawa sudah semua.”
Bus terus melaju membelah pekat malam. Di malam minggu seperti ini jalur Surabaya-Jogjakarta padat, tapi Masih lancar. Bus-bus ekonomi balapan agar cepat sampai tujuan sementara bus pariwisata menggalah memberi jalan para pembalap itu. Bus pariwisata jalan santai, nggak gopoh kabeh.
“Istirahat di mana Mas?” tanya sopir
“Rumah makan Putera Jatim.”
“Ada rumah makan baru Mas. Mau coba?”
“RM apa?”
“Nurul Huda di Sragen. Parkirnya luas, ada Masjidnya.
“Oke kita coba.”
Aku segera memberitahukan kepada TG lainnya kalau istirahat di Sragen. Di rumah makan tugasku adalah menjamu para guru yang ikut mendampingi tour itu. Mereka harus puas dengan pelayanan kami sehingga tahun depan Masih memakai jasa travel tempatku bekerja.
“Mari bapak-bapak dan ibu guru makan malam. Yang tidak biasa makan malam boleh ngopi, ngeteh, atau yang lain monggo!”
“Ya Mas. Terima kasih.”
Sementara para siswa sudah lebih dulu mengantre dengan tertib mengambil makanan yang disajikan secara prasmanan, kemudian menunjukkan kepada kasir untuk dicatat. Satu orang temanku menunggui di kasir untuk memastikan semua anak rombongan kami sudah mengambil makanan.
Setelah mengurusi makan siswa dan gurunya, aku mencari para kru bus yang biasanya disediakan ruang makan khusus, termasuk buat TL.
“Gimana Mas?” tanya sopir.
“Murah meriah Pak.”
“Kalau udah cukup istirahatnya, monggo dilanjut.”
“Oke siap Mas bro.”
Aku segera mengecek tiga bus lainnya. Tiga bus sudah lengkap dan siap berangkat. Bus 4 belum lengkap karena satu murid belum kembali ke bus.
“Setelah makan tadi ke mana anaknya?”
“Katanya sih sholat di masjid belakang.”
“Ayo kita cari”
“Coba dihubungi HP-nya!”
Teman sekelasnya mencoba menghubungi. Guru menelepon HPnya. Tetapi jawabannya berubah-ubah.
“Dik posisi di mana?”
“Di perempatan Trowulan Pak.”
“Oke. Sampean diam di situ ya. Jangan kemana-mana. Saya akan jemput.”
Semua tertawa mendengar jawaban itu. Tempat yang dimaksud tidak ada di sekitar rumah makan. Tempat yang disebut siswa itu berada di kampung siswa yang hilang itu.
“Kok seperti orang mabuk ya jawabannya, ngalor-ngidul, nggak jelas.”
“Memang dia sedang fly Mas!” kata seorang temannya.
“Apa?” kataku terkejut.
“Mas katanya ia berada di perempatan yang ada jembatannya.”
“O ya? Ayo kita jemput pakai motor. Ini kakak yang parkir mau bantu.”
Lima belas menit kemudian dua orang yang mencari itu kembali ke parkiran bus dengan tangan hampa. Siswa yang menghilang atau hilang itu belum ditemukan. Pencarian diperluas radiusnya dengan lebih banyak orang yang mencari, guru dan teman-teman dekat si siswa yang hilang. Sibuk mencari tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Aku dan beberapa guru sepakat tidak melaporkan kejadian ini ke polisi karena khawatir malah menimbulkan kegaduhan.
Tepat pukul empat pagi seluruh panitia dan TL berunding mencari solusi. Sudah empat jam kami mencari Basuki, nama murid yang hilang itu tanpa hasil. Semua murung. Semua tidak bisa tersenyum. Semua memikirkan nasib anak itu dan tentu memikirkan bagaimana pertanggungjawaban kami kepada orangtuanya.
“Acara ini tidak boleh gagal karena satu orang.” kataku
“Ya. Benar.” Jawab mereka setuju.
“Solusinya saya mohon 2 orang guru dan 1 orang kami tetap menunggu di sini sampai pagi. Barangkali anak ini tersesat, mungkin kalau sudah pagi ia tahu jalan ke sini. Atau paling tidak bisa bertanya jalan ke rumah makan ini”
“Ya. Biar salat subuh dulu lalu kita lanjutkan perjalanan.” Kata seorang guru.
“Oke. Mari anak-anak kita ajak ke masjid biar tidak terlalu lama.”
Tepat pukul setengah lima kami sepakat melanjutkan perjalanan. Bus mulai bergerak meninggalkan area parkir rumah makan. Seharusnya saat ini kami sudah di Masjid di sekitar Borobudur untuk salat subuh tapi kami Masih di Sragen. Kalau jalan lancar sekitar pukul sembilan diperkirakan baru sampai candi Borobudur.
Ponselku berdering. Kulihat nama kru TL-ku berkedip-kedip di layar ponselku.
“Bos berhenti dulu, anak yang hilang ditemukan”
“Minggir Pak, parkir. Anaknya ditemukan.”
“Alhamdulilah…” ucap sopir bus diikuti yang lain. Mendadak suasana jadi riuh. Wajah-wajah mereka tersenyum. Mereka menjadi tidak mengantuk.
“Karaoke Mas?” terdengar salah seorang siswa minta diputarkan musik.
“Lagu apa?” jawab Mas Irul, kernet bus.
“Mawar di tangan, melati di pelukan.”
Aku memastikan semua sudah lengkap dan perjalanan dilanjutkan dengan keriangan. Anak–anak bersemangat menirukan lagu dangdut yang diputar. Mereka benar-benar bergembira dan tak kenal lelah. Terus bernyanyi sampai Jogja.
Aku pun bersyukur. Anak itu ditemukan. Kata TL-ku anak itu tadi enak-enakan cangkruk di jembatan sambil merok*k. Beruntung teman-temannya mengetahuinya. Begitu bus menepi dan berhenti, salah seorang guru langsung menyergapnya dan memaksanya Masuk bus. Mungkin benar anak itu dibawah pengaruh obat terlarang. Mungkin benar anak itu ng*plo. Tindakannya yang meresahkan banyak orang tak ia sadari.
“Wah seru Mas nangkapnya, seperti nangkap buron.” Kata TG-ku.
“Hahaha…” kami semua tertawa.
Cerpen Karangan: Suwarsono
Facebook: Sam Swarson
Tour Leader
4/
5
Oleh
Unknown
