Showing posts with label Cerpen Pengorbanan. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Pengorbanan. Show all posts
Hadiah Istimewa Dari Ibu

Hadiah Istimewa Dari Ibu

Judul Cerpen Hadiah Istimewa Dari Ibu

23 Januari 2010
Hari ini hari ulang tahunku yang ke 8 tahun.. yeyy! aku gak sabar untuk membuka kado dari ibu dan bapak.. “papa, mama.. mana kadoku?” tanyaku, tapi mereka hanya menjawab “nanti ya sayang.. ibu sama bapak gak punya uang”

23 Januari 2014
Hari ini aku ulang tahun lagii! umurku sudah 12 tahun, aku harap ibu dan bapak memberiku hadiah lagi! aku segera bangun dari tempat tidurku dan meminta hadiah dengan ibuku “bu.. mana hadiahku? dari dulu ibu dan bapak gak pernah beri aku hadiah!” tanyaku, ibuku hanya menangis “nak.. maafkan ibu, mungkin ini hadiah yang paling gak mau diinginkan! Bapakmu meninggal Sarah!!” tukas ibu.. Serasa hati ini berkeping keping mendengar bapak meninggal! bapak yang bekerja sebagai buruh bangunan sudah tidak lagi mencari nafkah.. di mana nanti aku mendapatkan hadiah?

23 Januari 2017
Umurku sudah 15 tahun, kenapa ibu belum memberiku hadiah ulang tahun? Aku benci ibu!!!! semenjak bapak pergi, aku semakin benci dengan ibu! benci dengan kemiskinan! “ibu!! mana hadiahku? katanya mau beriku hadiah istimewa? mana bu mana!!!!” aku membentak! kenapa sih aku harus hidup miskin? aku benci kemiskinan!!
“Aku harus kabur dari rumah, aku muak tinggal di rumah miskin itu!” aku bergumam terus di jalan karena ibu.

Tiba tiba..
BRUK!!! tubuuhku terpental jauh dan darah tercecer ke mana mana, satu persatu orang datang mengerumuniku dan memotretku! apa yang terjadi? apa aku sudah mati? kenapa semua gelap?

Tut.. tut.. tut..
Bunyi detak jantungku di alat pendetak jatung, aku masih hidup!! tapi.. kenapa aku sendiri? mana ibu? ah sudahlah! palingan ibu ke sini dan menangis.. dasar cengeng!!

Tiba tiba suster datang ke kamarku memberiku sepucuk surat “ini surat dari ibu anda” tukasnya, ahh lebay banget sih pake surat segala! dihari ulang tahunku belum cukup dengan hadiah sekecil ini! aku sebenarnya males banget mau membacanya, dengan terpaksa aku membaca.

Tiktes… tiktes.
Air mata ku tiba tiba menetes dengan sendirinya “ibu..” ucapku “AKU MAU BERTEMU IBU!!!” teriakku dan langsung melompat keluar dari kamar itu.. berlari tak karuan di koridor rumah sakit itu, semua orng menatapku! “dokter!! mana ibuku dokter!!” tanyaku dengan dokter “sabar dek sarah, sabar..” ucap dokter itu menenangkan “ibumu ada di kamar no 12 a” ucapnya lagi, tanpa berterima kasih ku langsung pergi untuk menemui ibu..

Aku berlari lari dengan mukaku yang basah terkena air mataku, tak terasa ternyata aku telah sampai di kamar 12 a, aku langsung membuka pintu dan… aku melihat suster sedang menutup tubuh seseorang dengan selimut berwarna putih, ini bukan ibu kan? bukan!! dokter itu bohong!! “suster, ini siapa suster? siap ini!!!” teriakku kepada suster. Pikiranku tak karuan setelah membaca surat itu “ini ibu wati, ibunya anak yang bernama sarah!” ucap suster tersebut “IBUU!!!” teriakku sembari membuka selimut itu, ibu jangan pergi ibu! aku sayang ibu!! aku gak akan meminta hadiah lagi untuk ibu! aku hanya ingin ibu bangun!! “Suster! kenapa ibu saya suster?!” teriakku “ibu kamu sudah mendonorkan kamu darah, sewaktu operasi.. ibumu gagal untuk menjalankan operasi, sebelum itu dia berpesan untuk memberikan darahnya kepadamu” tukas suster, Ibu? kenapa ibu meberikan hadiah ini bu? Di hari ulang tahun sarah, ibu malah membuat Sarah menangis! bukannya senang!

Di pemakaman.
“ibu, sarah sayang ibu.. sarah benar benar sayang ibu, sarah menyesal membuat ibu seperti ini!” ucapku menangis histeris
IBU.. SARAH SAYANG IBU

Isi surat
Sarah.. ibu harap kamu suka dengan hadiah yang ibu berikan, walaupun tak seberapa.. tapi ini bisa menyelamatkan nyawamu, akhirnya ibu bisa membuatmu bahagia, jaga baik baik ya sayang.. jangan sampai terbuang.

Ibu

Cerpen Karangan: Dira Ariella Neysa
Blog / Facebook: Dira Neysa
Joki Jeruji Besi

Joki Jeruji Besi

Judul Cerpen Joki Jeruji Besi

Lambat laun ruangan ini makin pengap tak ada hembus angin yang mau menjamanya. Bau keringat dan t*i yang tertimbun bertahun-tahun mematikan hidung hingga tak dapat lagi kugunakan untuk mencium bau sesuatu. Tak ada bedanya malam atau pun siang yang ada hanya gelap, sinar mentari tak mampu menembus pekatnya dinding besi yang terlapisi dosa ini jadi aku tak tahu berapa usiaku sekarang dan sudah berapa lama aku di sini.

Sebenarnya hidup di sini bukanlah keinginanku aku di sini hanya untuk menggantikan seseorang yang bahkan tidak kukenal. Saat aku sedang berjalan memunguti rimbunan sampah yang menutupi kota, aku melihat seorang gadis kecil yang sedang duduk sambil menangis, kudekati ia kemudian bertanya “Kenapa menangis dek?” gadis kecil itu tak segera menjawab, ia masih meneruskan tangisannya yang tersedu-sedu sambil menundukkan kepala. “Bukankah lebih baik masalah itu diceritakan, meski kepada seseorang yang belum anda kenal sepertiku, siapa tahu saya bisa membantu mencarikan solusinya” kataku. Gadis itu mencoba menghentikan isakkan tangisnya perlahan-lahan.

“Besok, saya akan dimasukkan dalam penjara”’ Kata gadis kecil itu. mendengar ucapannya aku menjadi bertanya-tanya, memangnya kejahatan macam apa yang bisa dilakukan gadis kecil ini di usianya, penasaran dengan hal itu, aku langsung bertanya “memangnya apa yang sudah kau lakukan?” tanyaku.
“Aku hanya membela diriku” Jawab gadis itu.
“Kalau hanya membela diri, kenapa bisa itu menjadi kejahatan?” tanyaku lagi. Gadis kecil itu menghela napas. Menyiapkan dirinya seolah ia akan menceritakan sesuatu yang sangat luar biasa rahasia kepadaku.

“Begini ceritanya, aku dan ibuku bekerja sebagai pembantu rumah tanggah, kami tidak memiliki rumah, sebab itu kami tinggal di rumah majikan kami, suatu hari saat rumah sedang sepi dan hanya tinggal aku dengan tuan pemilik rumah, entah setan apa yang merasukinya hingga ia tiba-tiba mendekatiku dan memperlakukanku seolah aku adalah istrinya lalu mengatakan keinginan yang katanya ia ingin membawaku pada kesenangan. Aku yang merasa tidak nyaman segera berlari ke dapur dengan beralasan ingin memasak untuk makan siang, tak selang berapa saat ia mengikutikku ke dapur, ia mendekatiku jauh lebih agresif dari yang pertama, ia mencoba memelukku, tapi aku bisa menghindar, ia mencoba menciumku, aku terus menghindarinya, tapi ia semakin bernafsu untuk mendapatkanku, hingga saat mendapatkan tanganku ia mencengkramnya begitu kuat hingga aku tak dapat melepaskan diri, aku meronta dan berteriak, tapi ia menutup mulutku dengan tangan yang satunya ia mencoba menciumku aku yang berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, hingga tanpa sadar tangan sebelah kiriku mencoba untuk meraih pisau yang tergeletak di atas meja, saat pisau itu sudah ada di gengamanku, tanganku bergerak sendiri menebas leher pemilik rumah itu dan seketika itu pula ia menghembuskan napas terakhirnya”

Aku memahami betul kisahnya, memanng bukan ia yang salah yang bersalah sudah mendapatkan balasannya yang bersalah sudah mati jadi dia tidak bisa dihukum, sementara harus ada yang dihukum dan dimasukan penjara untuk semua kejahatan meski ia bukan penjahatnya, itu sudah menjadi peraturan di kota ini dan tidak bisa diubah. Selesai ia menceritakan kisah tragisnya itu, ia kembali meneruskan tangisannya, aku yang tak tega melihat perempuan menangis berusaha untuk membantunya.

“Bagaimana kalau aku membantumu?” kataku pada gadis itu.
“Membantuku, memangnya bagaimana caranya?” tanya gadis itu.
“Aku akan mengantikanmu untuk di penjara” jawabku.
“Tapi, kau kan tak mengenalku, dan lagi kenapa kau ingin membantuku sampai seperti itu?” tanyanya.
“Aku hanya ingin membantu, lagi pula kau masih terlalu kecil untuk dipenjara, kau tidak akan kuat hidup di dalam ruangan pengap dengan bau kotoran yang menyengat tiap waktu itu. masa depanmu masih panjang jadi kau tidak layak hidup di dalam penjara” jelasku padanya.
“Benarkah, benarkah kau mau melakukan itu?” katanya meragukan ucapanku.
“Iya kenapa aku harus bercanda, lagi pula aku sudah hidup cukup lama dan bagiku hidup di luar seperti ini dan di kota ini, tidaklah berbeda dengan hidup di dalam penjara, sama-sama bau busuk sampah, hanya saja limbah sampahnya yang berbeda”. Jelasku lagi. Mendengar ucapanku gadis itu tersenyum lebar. Memandangku seolah aku adalah malaikat yang mengembalikan hidupnya, ia mengengam tanganku dan tak henti-hentinya mengucapkan kata “terima kasih”.

Sebab itulah aku sekarang berada di dalam ruangan pengap ini, di dalam sini terkadang aku merindukan suasana yang biasa terjadi di luar sana, seperti ketika seseorang saling adu jotos hanya untuk berebut tempat duduk, atau ketika orang-orang besar itu melakukan pembunuhan masal pada orang-orang yang tak punya identitas, aku merindukan pemandangan itu, tapi dibalik itu aku juga bersyukur berada di dalam sini sebab aku tak harus mengais sampah lagi untuk sesuap nasi sebab di sini sudah disediakan.

Cerpen Karangan: Andre W
Facebook: Moh andre wahzudi
Kuliah Atau Mencari Jodoh

Kuliah Atau Mencari Jodoh

Judul Cerpen Kuliah Atau Mencari Jodoh

Kuliah dan Mencari Jodoh sama-sama diinginkan oleh setiap laki-laki maupun perempuan, dahulu mungkin mencari jodoh adalah hal Yang biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki, tetapi seiring berkembangnya jaman, wanita seolah takut untuk tidak memiliki pasangan, mengingat populasi kaum lelaki sudah mulai sedikit ketimbang perempuan, hal ini membuat sebuah Fenomena yang saya sebut sebagai “Fenomena Kuliah atau Cari Jodoh”. Kuliah Juga merupakan sarana yang dapat menentukan karir seseorang menuju masa depannya, Masa depan mendapatkan pekerjaan dan masa depan membina keluarga, loh…! Kok bisa, kuliah dijadikan ajang perjodohan sih? Iya memang begitulah nyatanya hidup, beda DULU beda SEKARANG, kalau dulu orang berkeinginan kuliah hanya untuk mencari sebuah pekerjaan, sekarang Kuliah dijadikan ajang mencari jodoh, Jodoh itu memang sudah digariskan oleh Allah dan merupakan iktikad baik seseorang demi menjalankan sunnah Rasulullah.

Seperti kisah yang diceritakan oleh salah seorang wanita bernama Nita, setelah tamat SMA Tahun 2010 lalu, banyak pria yang bermaksud meminangnya saat itu, tetapi karena alasan belum cukup umur dan masih ingin Kuliah Nita menolak beberapa pria yang melamarnya. Nita ingin sekali membuat keluarganya bahagia, lalu ia pun Kuliah Mengambil Jurusan Kesehatan di Medan, Nita merupakan anak perempuan satu-satunya dalam keluarga jadi ia berharap ketika selesai kuliah nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang diimpikannya, sampai pada suatu ketika dalam kondisi masih kuliah ia dilanda beberapa masalah, ayah Nita kecelakaan ketika mau mengirimkan uang kuliahnya, dalam hati Nita bercampur perasaan yang tak karuan “apakah aku tetap melanjutkan kuliah ya, sedangkan ayahku kecelakaan”. Ungkap dalam hati Nita.
Nita pun bingung, memikirkan akan hal itu, sebentar lagi sudah harus bayar uang kuliah ditambah lagi ayah yang selama ini mencari kan nafkah untuk membayar uang kuliahnya, tak dapat lagi bekerja.

Nita sering menangis sendiri di kamar, namun orangtuanya tetap memberikan semangat untuk Nita lewat telepon, untuk tidak berlarut dalam kesedihan. Di sisi lain ia ingin keluarganya bahagia “kalau aku berhenti kuliah, itu sama saja dengan menyakiti hati mereka yang telah berjuang demi menguliahkan aku”. Cetus Nita.
Sebentar lagi uang kuliah sudah harus dibayar, namun semenjak ayahnya kecelakaan ia jarang sekali menerima kiriman “uang”. Nita termenung sendiri di sudut ruang belajar di kampusnya.

Tiba-tiba seorang lelaki datang menghampiri Nita namanya Zenudin (bukan nama sebenarnya), teman seruangan Nita dan bertanya tentang hal apa yang menimpanya dan Nita mulai menceritakan tentang permasalahan yang sedang dialaminya, Zen yang juga termasuk orang berada di kampusnya itu menawarkan diri untuk meminjamkan uangnya, Nita pun masih bingung dan tak tau harus menerima tawaran tersebut atau tidak, Kemudian Nita memberanikan diri untuk menerima tawaran tersebut dan Nita berjanji kelak akan melunasi pinjaman uang yang diberikan oleh Zen.
“Bang Zen, uang bang Zen Nita lunasi kalau sudah ada uang Nita ya?” Ungkap Nita.
“Iya dek Nita, pake aja dulu abang belum perlu amat kok”. Jawab Zen.
Nita masih biasa saja dengan sikap Zen itu, dan setiap butuh uang Nita tak malu meminta pada Zen, akhirnya Nita pun menyelesaikan kuliahnya, dan kini Nita harus memikirkan bagaimana cara melunasi uang pinjamannya pada Zen.

Keesokan harinya Nita menemui Zen dan bercerita kalau dia belum bisa melunasi uangnya.
“Bang maaf ya, aku belum bisa melunasi uang abang”. Ungkap Nita dengan nada cemas. Nita takut kalau Zen akan marah besar padanya.
“Jadi gimana dek, adek sebentar lagi kan udah pulang?” Jawab Zen.
Dalam cemas Nita bingung harus menjawab apa,
“Abang Zen udah rela berkorban demi aku, terus apa yang harus aku kasih buat dia”. ungkap Nita dalam hati.
“dek gimana kalau abang nikahi adek dan uang abang anggap lunas?” Tambah Zen.
Nita menjadi semakin bingung tak karuan, pikirannya mulai bercabang dan tak tau lagi harus berbuat apa karena di sisi lain Nita tidak menaruh cinta sedikitpun pada Zen,
“Bang, bolehkah Nita diberi waktu dalam beberapa hari ini untuk menjawabnya”. Ungkap Nita, akhirnya Zen menyanggupi.

Nita pun pulang ke kos-kosannya dengan perasaan tak menentu, sesampainya di kost Nita memikirkan tentang hal yang baru saja dialaminya.
Nita berpikir keras dari berbagai segi ia perhitungkan jika tak menerima bang Zen maka sama saja ia menyusahkan kedua orangtuanya karena harus membayar uang yang cukup besar, sedangkan kondisi orangtua Nita masih kekurangan, tetapi jika Nita menerima Zen ia tak mencintainya, 2 pilihan ini begitu terasa sulit bagi Nita tetapi ia harus memilih 1 dari 2 pilihan itu.
Nita tak egois dengan keputusan yang diambilnya, kini Nita sudah mendapatkan jawabannya.

Besoknya Nita pun segera menemui Zen dan mengungkapkan akan penawaran Zen beberapa waktu lalu bahwa dia bersedia menikah dengan Zen, walau terasa berat dan merasa malu jika di kampung nanti menjadi pembicaraan orang, tetap saja ini adalah sebuah pilihan hidupnya dan dia yang lebih tau kondisi yang sebenarnya, dan sekarang Nita sudah sah menjadi milik Zen sepenuhnya. Walau bathin menangis menanggung semua ini dengan terpaksa…

Dari keterpaksaan itulah ternyata Allah memiliki rencana yang baik untuk mereka. Jangan menyalahkan waktu, dan menyesali jodoh anda saat ini karena Allah-lah yang Maha Membolak-balikan hati manusia.

Cerita di atas merupakan salah satu cara Allah mempertemukan jodoh seseorang, jika terjadi kesamaan tempat, nama merupakan kebetulan semata..

Cerpen Karangan: Fika Nuril Anwar
Blog: trijagrafika.blogspot.co.id
Cinta Lama Datang Kembali (Part 2)

Cinta Lama Datang Kembali (Part 2)

Judul Cerpen Cinta Lama Datang Kembali (Part 2)

Langit senja mulai menorehkan guratan jingga bercampur tinta emas yang diselimuti udara yang hangat. Kemacetan sore hari seakan semakin membuktikan bahwa Jakarta memang kota yang sibuk. Bahkan sampai malam-pun selalu ada aktivitas di jalan-jalan protokol. Jakarta tidak pernah tidur, menurutuku.

Reno sepertinya memang sudah mulai mencoba untuk mencintai Jakarta dengan kemacetannya. Ia nekat menjemputku meski ia tahu kemacetan di Jakarta sedang menggila di sore hari. Aku suka usahanya itu. Demi mengajakku ngobrol di kedai kopi, ia selalu bergulat dengan kemacetan Jakarta.

Aku dan Reno seakan menemukan kembali serpihan cinta kami yang sempat hilang dulu. Semuanya tak ada yang berbeda selain ego yang menurun dan kedewasaan yang semakin meningkat. Aku semakin nyaman jika berada bersamanya. Waktu pun seakan berdetak cepat jika aku lalui dengannya. Aku dan Reno seakan melebur menjadi satu dan saling mengikatkan hati di bawah langit kota Jakarta.Reno mencoba mencintai Jakarta dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Sama seperti aku yang mencoba kembali membuka hati untuknya.

Sudah hampir tiga bulan dia di Jakarta. Sudah hampir tiga bulan juga kami bersama. Aku dan Reno kini adalah sepasang mantan kekasih yang kembali saling mencintai, namun tak berani untuk mengenyam status baru.
“Tiana, ada yang ingin aku katakan.”
“Oh ya? Aku juga ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Ladies first ya?” pintaku. Reno kemudian menganggukan kepala tanda setuju.
“Dua hari lagi sahabatku akan datang menemui tunangannya di Jakarta. Dan dia memintaku untuk bertemu bersama.”
“Lalu?”
“Aku bilang, aku sudah punya pacar. Karena kalau tidak, dia akan menjodohkanku dengan sepupunya yang freak. Aku minta tolong sama kamu untuk berpura-pura jadi pacar aku.”
“Kenapa harus bohong sih, Tian?”
“Ya karena kalau tidak, aku akan dijodohkan dengan sepupunya. He’s not my type!”
“Bukan. Maksudku kenapa aku harus berbohong menjadi pacarmu, jika memang aku benar-benar menginginkanmu?”
Aku menaikkan sebelah alisku dan menatapnya dengan tatapan heran. “Apa yang kamu bicarakan, Reno?”
Reno menyondongkan badannya yang masih duduk di hadapanku. Mengambil tanganku yang berada di atas meja kedai kopi. “Kenapa harus berpura-pura jika perasaan yang kita miliki ini sungguhan? Kita bukan hanya akan membohongi sahabatmu, tapi juga diri kita. Aku tahu, kita saling mencintai.”
“Reno, aku tahu kita saling mencintai. Tapi, aku belum siap untuk menjalani suatu hubungan lagi. Lagipula, untuk saling mencintai yang kita butuhkan bukan hanya statuskan? Lalu apa yang ingin kau katakan tadi?”
Reno hanya terdiam sambil tersenyum ke arahku. Ia seakan menyerah mendengar pernyataanku. Namun, aku tahu Reno pasti mencoba memahami diriku. “Tidak. Lain kali saja.”

Aku dan Reno sudah duduk di sebuah restoran Italia menunggu kedatangan sahabatku, Mayli. Aku menghadap ke arah jendela sementara Reno duduk membelakangi pintu masuk.
Hampir tiga puluh menit Mayli tidak muncul. Aku dan Reno memutuskan untuk memesan menu terlebih dahulu. Tidak lama kemudian ponselku berbunyi. Ternyata itu pesan dari Mayli.
“Sayang sekali tunangannya tidak bisa hadir. Sepertinya tunangannya itu orang yang super sibuk. Tapi katanya, dia akan tetap ke tempat ini. Sebentar lagi dia akan tiba.” Aku tersenyum ketika mengatakan hal itu pada Reno. Rasanya sudah lama aku tidak bertemu Mayli. Aku sudah sangat merindukan sahabatku itu.
Reno hanya mengganggukan kepala sambil memandang menu-menu yang mulai dihidangkan pramusaji di meja kami. Aku memandang lurus ke luar jendela, memperhatikan setiap orang yang akan memasuki restoran tersebut dan berharap Mayli segera tiba. Sementara, Reno sibuk melahap menu-menu yang telah tersaji.

Wanita tinggi bertubuh langsing dengan kulit sawo matang dan wajah manis menghampiri restoran dengan langkah cepat. Mayli! Ya itu mayli. Dia melambaikan tangannya dan dengan setengah berlari segera menuju mejaku.
“Maaf aku telat. Habisnya tunanganku tiba-tiba membatalkan janji karena dia harus menemui sahabatnya yang dirawat di RS. Kalian sudah lama ya di sini?” Suara merdu bercampur serak seakan menjadi ciri khas yang dimiliki Mayli selain wajah manisnya.
“Tidak.. tidak terlalu lama kok.” Jawabku dengan cepat sambil berdiri dan memeluk Mayli dengan erat. Aku sungguh merindukan salah satu sahabat terbaikku. “May, aku kan sudah berjanji akan mengenalkanmu dengan pacar baruku. Ini dia orangnya.” Ucapku sambil menunjuk ke arah Reno yang masih duduk diam di kursinya.
“No, kenalkan ini Mayli, sahabatku.”
Reno tidak beranjak dari kursinya. “Reno!” aku memanggilnya kembali berusaha untuk membuatnya mengenalkan diri kepada Mayli. Namun Reno tetap duduk terdiam tegak mematung dan tak bersuara sepatah kata pun.
Mayli berjalan memutar ke hadapan Reno. “Reno? Kamu di sini?”
“Loh? Kalian sudah saling mengenal? Baguslah. Ini Reno, pacar baruku.” Ucapku sambil tersenyum ke arah Mayli.
Namun ucapanku tak digubris oleh dua orang tersebut. Keduanya hanya terdiam hingga menciptakan keheningan. “Sebenarnya apa yang terjadi? Adakah sesuatu yang tidak aku ketahui?”
“Ini tunanganku yang katanya ingin menemui sahabatnya di Rumah sakit!”
“Tunangan?”
“Iya. Dan sebenarnya kami sedang merencanakan pernikahan. Tapi, entahlah. Kini aku tahu mengapa semenjak menetap di Jakarta dia menjadi sangat dingin. Ternyata alasannya dirimu.” Ucap Mayli setengah menahan tangis kepadaku.
“Ta.. Tapi May. Aku dan Reno sebenarnya gak ada..”
Belum sempat aku menjelaskan yang aku maksud, Mayli segera pergi dan tidak bisa aku kejar. Sementara Reno hanya diam saat aku meminta penjelasan darinya. Aku pergi meninggalkan Reno yang masih duduk menunduk di dalam restoran.

Setelah kejadian di restoran Italia tersebut, aku sulit menghubungi Mayli. Aku yakin dia sangat marah dan bahkan membenciku. Berulang kali Reno mencoba menghubungiku namun aku tidak pernah menjawab panggilannya. Aku hanya tidak ingin memperkeruh suasana. Yang ada di otakku saat ini, aku hanya ingin menemui Mayli dan menjelaskan semuanya.
Akhirnya aku behasil membujuk Mayli untuk bertemu dan menjelaskan semuanya. “Aku adalah mantan kekasih Reno. Aku bertemu kembali saat ia datang ke Jakarta. Aku tahu dia tidak suka berada di sini. Aku berusaha untuk membuatnya senyaman mungkin sampai aku lupa bahwa aku larut dalam kisah lama kami yang seakan inginku bangun kembali. Ini bukan salah Reno, May. Ini salahku yang tak pernah bertanya tentang statusnya.” Ucapku. Sementara Mayli hanya terdiam sambil serius mendengarkan penjelasanku.
Kemudian aku berusaha melanjutkan ceritaku. “Aku memang mencintainya. Sama seperti dulu saat kami masih menjadi satu. Tidak ada yang berubah. Namun, Reno hanya mencintaimu. Aku memintanya berpura-pura menjadi pacarku agar kamu tidak menjodohkanku dengan sepupumu. Maafkan aku, May. Maaf.”
Mayli terdiam menunduk sambil menahan tangis dan tiba-tiba memelukku. “Aku juga meminta maaf karena terus memaksamu untuk menjalin hubungan dengan sepupuku. Aku akan memperbaiki hubunganku dengan Reno.”

Malam harinya, aku menemui Reno di kedai kopi tempat biasa kami bertemu. Reno datang dengan senyum dan wajah yang penuh rasa bersalah. “Maaf untuk semua ini.” Ucapknya ketika baru tiba.
“Aku sudah menjelaskan semua kepada Mayli.”
“Semua? Semua yang mana?”
“Iya. Semua. Semuanya tentang kepura-puraan kita menjadi sepasang kekasih, aku bilang aku mencintaimu tapi kamu tidak mencintaiku. Kamu hanya mencintai Mayli. Mayli percaya dengan penjelasanku, jadi kamu jangan mengacaukan semua yang telah aku jelaskan.”
“Kenapa harus membohonginya lagi sih? Aku dan kamu memang hanya berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Namun cinta di antara kita itu nyata, Tian! Bukan cinta layaknya dua sahabat. Aku akan menjelaskan yang sebenarnya aku rasa kepada Mayli.”
“Jangan! Aku tidak ingin dia terluka.”
“Lalu kamu biarkan dirimu terluka?” tanya Reno dengan nada yang sedikit membentak.
“Aku mengenal diriku lebih dari kamu mengenal diriku. Dan aku lebih mengenalmu dibandingkan kamu mengenal dirimu sendiri. Aku tahu siapa yang sebenarnya kamu cinta. Jadi, jangan lakukan hal bodoh itu.” Ucapku sambil meletakkan sebuah surat di atas meja.
Kemudian aku pergi ke luar kedai kopi sambil menutup mulutku yang mengeluarkan isakkan yang pelan. Reno mencoba mengejarku namun aku segera menaikki taksi yang melintas di depanku.

Untuk Areno Prayoga.
Reno, kenalilah dirimu sendiri. Sadarilah siapa yang sebenarnya engkau ingini. Bukankah kau hanya singgah sementara di Jakarta? Kehidupanmu yang sebenarnya adalah Jogja. Walau kau berusaha mencintai Jakarta, rasa cintamu takkan setulus untuk Jogja. Seperti aku dan Mayli. Aku adalah Jakartamu dan Mayli adalah Jogjamu. Aku hanya menjadi persinggahan sementaramu untuk menemukan kehidupan indahmu bersama Mayli, di Jogja. Cahaya Jakarta memang menyilaukan dan memaksamuu untuk mencoba mencintainya, namun cahaya Jogjalah yang dapat menghangatkanmu tanpa memaksamu untuk mencintainya.
-Tiana

Ketika cinta lama datang kembali menemuiku yang masih bergelut dengan kesendirian. Namun, tanpa kusadari ia hadir dengan kebahagiaannya yang baru dan membuat harapan usangku terhempas ke lautan yang terdalam. Ketika cinta lama datang kembali, ia hadir menemuiku seakan menyadarkanku bahwa kini saatnya aku kembali membuka hati untuk yang lain.

The End…

Cerpen Karangan: Ziah Nur Aisyah
Blog: ziah22.blogspot.com
Ketulusan Cinta Putra

Ketulusan Cinta Putra

Judul Cerpen Ketulusan Cinta Putra

Irenia dan saPutra adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, mereka bersahabat sejak kecil sampai usia dewasa.

Kini saPutra yang sudah berusia 20 tahun sedangkan Irenia berusia 18 tahun. Meskipun masih muda namun cinta mereka tak terpisahkan, tapi sayang hubungan mereka tak begitu disukai kedua orangtua Irenia.

Pada suatu hari sebelum berangkat sekolah tiba-tiba Iren dipanggil kedua orangtuanya, setelah terlibat perbincangan yang cukup lama dan serius Iren akhirnya berangkat ke sekolah dengan wajah cemberut.

Sesampainya di depan sekolah ia dicegat oleh Putra “Hai manisku! Kenapa cemberut, nanti cepat keriput lho” goda pemuda tampan itu. Masih dengan wajah tanpa ekspresi Iren meninggalkan Putra yang bengong dan tidak tau apa-apa.

Siang itu pulang kuliah Putra menunggu Iren di luar pagar sekolah pujaan hatinya itu, maklum kampusnya Putra dan gedung sekolahnya Iren hanya dipisahkan oleh jalan raya saja.

Setelah cukup lama menunggu akhirnya lonceng tanda pulang pun terdengar, dicari carinya kekasihnya itu tiba tiba senyumnya pun merekah saat dilihatnya wajah yang sudah dikenal itu menghampirinya.
“Seharusnya kak Putra duluan aja, gak usah nunggu Iren” katanya ketus. “Maaf ren, sebenarnya ada apa sih kok kamu kayak gak suka kalau ketemu saya?” tanya Putra kemudian. Tiba tiba Iren menangis dan berlari ke arah jalan dan dengan sekejap sebuah truk kontainer menyambar tubuhnya hingga terpental jauh, Putra yang berada tidak jauh dari tempat kejadian segera berlari memeluk tubuh yang lunglai tak berdaya itu.

Sebulan kemudian Iren terbangun dari komanya, ia terbangun dengan keadaan yang lebih baik, menurut perawat yang menjaganya saat dibawa ke rumah sakit keadaannya begitu mengenaskan, matanya tertusuk potongan kayu dan membutuhkan donor mata, untung ada seseorang yang mau mendonorkan matanya.

7 tahun kemudian
Irenia maharani seorang penulis yang baru saja pulang dari negara paman sam setelah menerima penghargaan karena terpilih menjadi mahasiswa berprestasi dan penulis buku-buku yang begitu menarik dan disukai seluruh dunia akhirnya pulang ke indonesia dan kembali menghirup udara setelah 7 tahun merantau dan meninggalkan kenangan di negaranya.

Saat berjalan-jalan di sekitar taman kota ia terkenang masa-masa yang pernah ia lalui bersama seseorang yang sangat tidak ingin diingat lagi.
Saat tengah berjalan tiba-tiba matanya terpaku pada serentetan lukisan yang tengah diobral ditengah-tengah taman itu, ia pun beranjak ke tempat itu.

Ia terkesan dengan lukisan-lukisan itu, di setiap lukisan mengandung makna ketika ia menanyakan apa makna lukisan itu remaja 17 tahun yang menjaga stand itu menjelaskan artinya
“Ada sepasang muda-mudi saling jatuh cinta, tak direstui orangtua mengalami musibah tak diizinkan menemui sang kekasih, mengorbankan indranya demi cinta sejatinya, itulah artinya. Ketika melukis ini semuanya tentang kehidupannya, apa yang ia alami dan rasakan”.
Entah kenapa Iren merasakan perasaan yang aneh tentang lukisan itu, ia pun minta diantar ke pelukisnya.

Begitu sampai ke tenpat pelukis itu, ternyata dia adalah saPutra dan yang lebih mengejutkan lagi dia buta karena matanya ia donorkan untuk Iren. Iren begitu kecewa pada kedua orangtuanya, akhirnya ia memutuskan tinggal bersama Putra, mereka menikah dan dikaruniai 2 orang anak dan otangtua akhirnya merestui hubungan mereka.

Tamat

Cerpen Karangan: Jumi Novica
Facebook: Jumi Ayuna
Yudha untuk Sahabatku

Yudha untuk Sahabatku

Judul Cerpen Yudha untuk Sahabatku

Kring… kring… kringggg…
Bunyi alarmku membangunkanku. Aku pun segera bergegas untuk mandi. Setelah sudah siap aku pun bergegas berangkat ke sekolah.
“ma, aku berangkat dulu yaa.” Pamitku pada mamaku.
“nggak sarapan dulu sayang?” tanya mamaku.
“Nggak deh ma, udah siang nih ma, takut telat. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Hati-hati yaa.”

Setiba di sekolah, aku bertemu sahabatku, namanya Luna. Dia teman sebangkuku. Kami menjadi akrab seperti ini sejak kami menjalani Masa Orientasi Siswa di SMA ini. Dan keakraban kami berlanjut ketika kami sekelas di kelas X ini. Iya, aku memang baru duduk di kelas X. Tepatnya SMA Negeri Harapan Bangsa 1. Luna ini parasnya sangat cantik. Tapi dia lumayan cerewet dan suka gosip.

“Eh Nayla, sini Nay aku mau cerita nih.” Panggil Luna sambil melambaikan tangannya ke arahku.
Tuh kan, pasti dia mau nggosip lagi deh. Masih pagi juga. Memang sahabatku yang satu ini suka banget nggosip.
“apa?” Jawabku sambil berjalan ke arahnya.
“Eh Nay, ternyata Lifya teman kita itu suka sama Yudha.”
Hah? Lifya suka sama cowok yang selama ini deket sama aku? Gumamku dalam hati. Yudha adalah cowok sekelasku. Dia cowok yang keren. Banyak cewek yang mengidamkannya. Namun, ia sangat cuek ke mereka. Dan saat ini dia mendekatiku. Teman-temanku tak ada yang tahu kalau aku dekat dengan Yudha. Memang aku tidak mau semua orang mengetahui kedekatanku dengannya. Apalagi saat ini aku masih belum jadian sama dia. Begitu terkejutnya aku ketika aku mendengar kalau Lifya yang merupakan sahabatku menyukai Yudha. Aku harus gimana? Padahal aku juga mulai suka dengan Yudha karena dia sering memberikan perhatian dan sering main ke rumahku.

“Nay, kok kamu malah bengong sih?” gertak Luna.
“Ehmm, iya Lun.” Jawabku
“Gimana Nay menurutmu? Mereka cocok kan ya. Yudha keren, Lifya juga cantik. Mereka berdua juga sama-sama suka bahasa. Inggris, best couple deh.” Celetuk Luna.
“Ehm iya Lun. Mereka sangat cocok.” Jawabku lemas dan berusaha untuk tersenyum. Rasanya hati ini ingin sekali menjerit ketika mendengar perkataan Luna. Ingin sekali aku berkata jujur bahwa aku sangat menyayangi Yudha dan berterus terang kalau saat ini kami sudah sangat dekat. Namun rasanya aku tidak bisa mengatakannya. Aku harus memikirkan perasaan Lifya juga yang merupakan sahabat terbaikku. Aku harus mengatakan tentang perasaan Lifya kepada Yudha.

Tet… Tet… bel masuk pun berbunyi. Aku dan Luna segera masuk ke kelas. Waktu itu pelajaran Ekonomi. Pak Didik, guru ekonomi menjelaskan tentang perekonomian pasar Indonesia. Pelajaran berlangsung dengan khidmat. Semua siswa memperhatikan beliau. Pak Didik ini memang terkenal guru killer.

Tet… bel istirahat berbunyi.
Aku harus bergegas untuk menemui Yudha.
“Eh Lun, aku pergi dulu ya. Ada urusan penting nih.” Pamitku pada Luna.
“Iya deh Nay.” Jawabnya.
Aku pergi meninggalkan Luna yang saat itu masih membereskan bukunya. Pasti saat ini Yudha ada di lapangan basket. Kalau jam segini dia memang sering main basket. Basket merupakan olahraga yang digemarinya.

Sesampai di lapangan basket…
“Nay, ada apa? Tummben kamu ke sini.” Terdengar suara Yudha yang sudah ada di hadapanku.
“aku pengen ngomong sesuatu Yudha.” Jawabku
“Emang kamu mau apa? Kebetulan aku juga mau ngomong sesuatu ke kamu, dan ini penting.”
“Oh, kalau gitu kamu ngomong aja dulu Yud.”
“Ehmm… sebenarnya aku mau ngomong kalau aku… aku… aku suka sama kamu Nay, rasa suka itu bukan hanya suka biasa. Tapi lebih, aku sayang sama kamu dan bukan sebagai teman atau sahabat. Tapi… ehmmmm… Nay, kamu mau nggak jadi pacar aku?”
OMG… Yudha nembak aku? Aku harus gimana? Yudha, sebenarnya aku juga sayang sama kamu. Tapi aku nggak mau nyakitin Lifya. Sahabatku itu juga suka sama kamu.
“Yud, sebenernya…” perkataanku terhenti ketika tiba-tiba ada seseorang memanggilku.
“Nayla, ternyata kamu di sini? Lagi ngomongin apa sih kok serius amat.” Ternyata itu Lifya. Yudha pun ingin menjawab pertanyaan Lifya.
“ehm itu Lif, aku mau…”
“Yudha mau minta ajarin aku buat ngerjain PR matematika kemarin Lif. Iya kan Yudha?” aku menjawab pertanyaan Lifya agar Yudha tidak memberi tahu yang sebenarnya.
“Lif, aku pergi dulu yaa. Perutku sakit nih.” Pamitku untuk meninggalkan meeka berdua. Semoga aja Yudha bisa suka sama Lifya.

“Yud, emang bener kamu mau belajar bareng sama Nayla?” tanya Yudha pada Lifya.
“nggak, sebenernya tadi aku nembak Nayla. Tapi pas dia mau jawab, kamu dateng. Jadi belum dijawab sama dia. Mungkin dia malu ngomongnya ke kamu pas kamu nanya tadi. Mangkanya dia bilang kalau aku minta ajarin dia buat ngerjain matematika.” Jawab Yudha.
“Oh, jadi kamu suka sama Nayla? Ehm, ya udah Yud aku pergi dulu.” Lifya meninggalkan Yudha sambil meneteskan airmata.

Di kantin…
“Nay, kamu kenapa sih nggak terus terang aja?” Tanya Lifya padaku.
“maksud kamu apa Lif? Aku nggak ngerti.” Tanyaku balik
“kamu suka kan sama Yudha? Kamu tadi ditembak kan sama dia?”
Aku kaget sekali mendengar perkataan Lifya. Pasti Yudha sudah menceritakan semuanya pada Lifya.
“nggak Lif, aku nggak suka sama Yudha. Aku tahu kamu suka sama Yudha. Dan aku nggak ditembak kok sama Yudha. Yudha sayang banget sama kamu Lif, dia ngomong kek gitu karena dia Cuma pengen buat kamu cemburu aja. Percaya sama aku. Aku akan panggil Yudha buat kamu.”

Setelah berkata seperti itu, aku segera berlari untuk memanggil Yudha. Aku nggak mau sahabatku nangis terus. Aku memang sayang sama Yudha, tapi persahabatan lebih penting dari segalanya. Apalagi ketika melihat tangisan Lifya, aku yakin kalau dia memang sangat menyayangi Yudha dan pantas mendapatkannya. Luna juga berkata kalau dia emang cocok sama Yudha dan akan menjadi best couple.

“Yud, aku minta kamu jadian ya sama Lifya.” Pintaku pada Yudha yang saat itu sudah berada di depanku.
“maksud kamu apa sih Nay? Aku Cuma sayang ke kamu. Aku nggak suka sama Lifya.” Tolak Yudha.
“Aku tahu Yud, kamu emang sayang sama aku. Begitupun aku. Tapi aku nggak mau nyakitin sahabatku, rasa sayang yang dimilikinya jauh lebih besa daripada aku. Dia baik banget ke aku. Selama ini dia selalu nolong aku pas aku lagi kesusahan. Aku mohon Yud, kamu mau ya bales perasaan dia ke kamu.”
“Tapi Nay…”
“Yud, demi aku. Pliss kamu mau yaa.” Pintaku
“ya udah, tapi ini aku lakuin demi kamu. Dan kamu harus pacaran juga sama cowok lain.” Jawab Yudha dengan terpaksa.
“makasih Yud, sekarang aku mau kamu nembak Lifya. Kita temui dia di kantin yaa.” Ajakku pada Yudha.
“Lif, Yudha mau ngomong nih.” Kataku pada Lifya.
Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum pada Yudha untuk menjelaskan kalau dia harus memenuhi permintaanku dan memastikan padanya kalau perasaanku tidak sedih.

“eh… iya Lif, aku mau ngomong. Kamu mau jadi pacarku?” tanya Yudha pada Lifya.
“iya yud, aku mau. Aku seneng banget.” Jawab Lifya sambil memeluk Yudha. Melihat mereka berdua, tiba-tiba airmataku menetes. Entah ini perasaan cemburu atau apa. Tapi aku bahagia ketika melihat sahabatku bahagia. Dalam hati aku bergumam “Sayangi Yudha yaa Lif, aku tahu kamu sangat menyayanginya. Itu sebabnya aku merelakan dia. Dan kamu adalah sahabat terbaikku.

Cerpen Karangan: Emy Lia Sari Wdyawati
Facebook: Emylia Sari
Diary Elza

Diary Elza

Judul Cerpen Diary Elza

Lembar demi lembar buku diary milik Elza sudah terisi deretan tulisan Elza yang begitu rapi. Entah apa jadinya jika lembar demi lembar itu sudah penuh oleh kata-kata ungkapan dari hati Elza. karena hanya buku diary itulah yang menjadi suatu pusat curahan kepedihan hidup Elza.

‘Sejak saat itu, aku semakin takut. Aku takut kehilangan dia. Aku tau ia tidak pernah menyukai kehadiranku. Tapi kumohon tuhan, aku masih ingin dia tetap di dunia ini.’

Elza menutup buku diarynya lantas menuju meja makan untuk sarapan. Sudah seperti biasa orang yang ia sayangi tak ada disitu. Untuk kesekian kalinya ia menghela napas panjang untuk meluapkan kepedihan yang ada di dalam hatinya.

“Kak Adit udah berangkat ya ma” ucap Elza. Meskipun sebenarnya ia tahu bahwa memang seseorang yang ia tanyakan itu sudah ke sekolah.
“Iya. Oh ya, buku kakak ada yang ketinggalan, nanti kamu antar ke kelasnya ya” ucap sang mama.
“Oke ma”

Sesampai di sekolah, Elza mengantar buku milik Adit. Dia menuju kelas Adit yang kebetulan masih satu sekolah dengannya. Elza mengetuk pintu kelas yang terbuka.
“Kak Adit ada?” tanya Elza pada seorang teman sekelas Adit yang saat ini di hadapannya.
“Ada. Bentar ya…”
“Nggak usah kak. Ini aja kakak kasih ke kak Adit. Makasih ya kak” sembari memberikan buku milik Adit.
“Oke deh”

‘Dear diary, andai saja kak Adit tidak sebenci itu padaku. Aku tau aku hanyalah adik yang tidak berguna baginya. Tapi aku juga tidak tega melihat mama yang tak pernah dianggap oleh kak Adit. Dan di sisi lain aku tak ingin kak Adit merasa tersakiti’

“Elza, makan dulu yuk” ucap seseorang yang baru saja membuka pintu kamarnya.
“Iya ma” jawabnya.

—

“Kak Adit, ini tadi uang saku kakak ketinggalan” ucap Elza pada Adit saat bertemu di sekolah.
“Udah gue bilang, jangan pernah panggil gue kakak. Sekarang lo pergi dan nggak usah sok perhatian sama gue lagi. Pergi!!!” Tiba tiba Adit pingsan. Dan dia pun segera dibawa ke rumah sakit. Ternyata ginjalnya rusak. Padahal 6 bulan yang lalu satu ginjalnya baru saja diangkat.

“Ini semua salah lo. Coba lo nggak datang ke hidup gue. Gue pasti nggak akan kaya gini. Pergi lo! pergi!!…” Adit memaki keras adik tirinya. Elza hanya bisa tertunduk dan menangis. Dan sejak saat itu mereka tidak pernah berinteraksi sosial lagi. Dan keadaan ginjal Adit kian memburuk, membuat rasa takut untuk kehilangan menghantui Elza hingga detik ini.

“Dit, kamu harus akur sama Elza. Kasihan dia” ucap sang papa pada anak sulungnya itu.
“Papa nggak pernah ngertiin perasaan Adit. Apa papa tau. Sejak Elza datang, semuanya berubah. Papa jadi nggak peduli lagi sama Adit”
“Nggak kok kak. Papa peduli sama kakak. Kalau kakak benci sama aku. Nggak apa apa. Tapi jangan bicara gitu lagi sama papa. Papa nggak salah” ucap Elza yang baru saja datang.
“Udah gue bilang jangan panggil gue kakak. Emang bukan sepenuhnya ini semua salah papa. Tapi salah lo juga!!! Ngapain masih disini? pergi!”
Elza berlari ke luar rumah, dia menangis dan sakit hati. Sampai kapan sikap kakaknya akan terus seperti itu. Mamanya pun mengajaknya pulang.

‘Dear diary, kali ini aku bener benar sudah lelah. Lelah dengan hidupku. karena kutahu sampai kapanpun tak akan pernah menyukakiku. Tapi kumohon tuhan, berikan kak Adit kesempatan untuk hidup. Dan berbicara padaku walau hanya sepatah kata untuk yang terakhir kalinya’.

“Adit, kamu udah sadar” ucap sang papa.
“Baguslah, kalau begitu, dokter akan segera memeriksa keadaanmu”
Dokter pun datang dan segera memeriksa keadaan Adit.
“Besok Adit sudah diperbolehkan untuk pulang” ucap dokter.
“Terimakasih dok”
“Saya permisi dulu” Adit tersenyum tipis.

Kini Adit sudah menjalani rutinitasnya seperti biasa dulu. Meskipun ia merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Namun, ia tak pernah menghiraukan hal itu.

“Dit, gue turut berduka cita” ucap salah seorang teman Adit.
“Emang kenapa?”
“Kan ad…” kalimat temannya terpotong oleh temannya yang lain.
“M..m..maksudnya kita seneng soalnya kamu udah sembuh”
“Oke, makasih. Aku ke kantin dulu ya…” Adit pun beranjak menuju kantin.

“Lo gimana sih?”
“Sori keceplosan”
“Dasar!!!”

Saat di kantin, Adit bertemu dengan Dina, teman dekat Elza. Dina tersenyum yang dibalas senyuman oleh Adit.
‘Aneh, udah 1 minggu gue nggak lihat Elza. Ihh… gue mikir apaan sih. Bukannya seharusnya gue seneng’ gumam Adit dalam hati.
Tiba-tiba Adit melihat Elza sedang duduk di salah satu bangku kantin bersama Dina, dan Elza tersenyum padanya. Entah mengapa ia langsung membalas senyuman Elza. Setelah kesembuhannya, ia menjadi berubah, kini ia tak membenci Elza lagi.

Sepulang sekolah, nampak raut kesenangan tergambar di wajah Adit. Ia menuju kelas Elza dan berniat untuk mengajaknya pulang bersama, sekaligus untuk meminta maaf atas sikapnya selama ini pada Elza. Namun, setelah sampai di kelas Elza, kelasnya sudah kosong. Mungkin Elza sudah pulang duluan pikirnya. Entah mengapa ia sangat rindu pada Elza. Ia benar benar ingin meminta maaf atas sikapnya yang sebelumnya yang selalu kasar pada Elza. Adit memilih untuk pulang berjalan kaki. Saat di perjalanan, ia melihat Elza berlari di depannya. Ia pun mengejar Elza dan ia melihat Elza menjatuhkan sesuatu. Saat ia mengambilnya, ternyata sebuah buku diary. Ketika ia akan mengejar Elza lagi, ia sudah tak melihat Elza.

Krietttt, Adit membuka pintu kamar Elza tanpa mengetuknya terlebih dahulu, ia tak sabar ingin bertemu dan meminta maaf kepada Elza. Namun ia tak melihat Elza di kamarnya.
“Elza dimana sih…? Emmm, mending aku baca dulu aja deh” ucap Adit dengan nada jahil. Ia pun membaca lembar demi lembar buku diary milik Elza.

“Ah, cie… si Elza suka sama si Veri. Tapi nggak apa apa lah, Veri kan juga lumayan ganteng” ucap Adit geli.
“Hmmm, kok kebanyakan nyangkut aku ya. Maafin aku ya Elza” sejak tadi ia bebicara sendiri. Dan kini pun ia sampai pada lembar terakhir. Tulisannya begitu banyak, namun Adit tetap membacanya karena ia pikir ini mungkin yang terpenting.

‘Dear diary. Aku senang kak Adit sembuh. Aku sangat senang dan bersyukur kak Adit masih tetap ada di dunia ini sesuai harapanku. Meski aku menyesal tak sempat mengucapkan kalimat terakhir untuknya. Terima kasih tuhan, aku masih tetap bisa melihatnya dari tempat yang indah ini. Meski ragaku tak dapat menyentuhnya lagi. Namun jiwaku selalu menemaninya. Mungkin dengan cara ini aku akan dikenang. karena keinginan terbesarku hanyalah, dapat melihat kak Adit bahagia. Dan aku lebih bahagia lagi disini melihat senyumannya yang selalu aku rindukan. Aku bahagia melihat ia tak merasa kesakitan lagi. Dan aku akan bangga pada diriku sendiri. Kak Adit, aku titipkan kedua ginjalku ini padamu, kuharap kau senantiasa menjaganya untukku. Aku tau kakak akan menolak jika aku berbicara langsung padamu kak Adit. Maka dari itu, aku berusaha untuk menyembunyikannya. Sampai suatu saat, waktu akan memberitahukan semuanya pada kakak. Selamat tinggal kak Adit.’

Adit menangis tanpa suara, namun isak tangisnya terdengar sangat jelas. Ia tak percaya akan apa yang berusan ia baca. Ia berlari menuju kamarnya dan menemukan sesuatu di meja belajarnya. ‘I MISS YOU MY BROTHER’ setelah ia menanyakan pada kedua orangtuanya, ternyata semuanya benar. Elza telah mendonorkan kedua ginjalnya pada Adit.
“Sudahlah, mama yakin Elza akan bahagia disana. Mama tau papa sama mama salah telah menyembunyikannya darimu. Namun ini semua adalah permintaan terakhir Elza. Kita semua kehilangan Elza. Ikhlaskan dia demi ketenangannya disana” jelas mama menenangkan Adit yang masih terus menangis sambil mengusap usap batu nisan makam Elza.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Reyska Wurry Khoiriyah
Facebook: Reyska Wurry