Showing posts with label Cerpen Penyesalan. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Penyesalan. Show all posts
Korban PHP

Korban PHP

Judul Cerpen Korban PHP

“Kringg.. kringg.. kringg”
“Ah berisik! gak tau apa orang lagi mimpiin doi nembak, sialan lo jam beker” keluhku.

Yaps. namaku Mega safitri, biasa dipanggil mega. masih 14 tahun sih tapi kebanyakan pada manggil kakak. Kan kamvret!
singkat cerita. Hari ini gue ada les di sekolah, males banget. padahal kan ini hari minggu.

“Megaaa.. nggak liat jam atau gimana? cepet bangun! Ada temen nungguin noh di depan” Teriak emak gue. “Siapa mak? tumben ada yang jemput?” ucapku langsung bangkit dari kamar. “Mandi aja dulu. baru nanya! udah cepet!”
“Ah emak, baru bangun udah diomelin. Segini anaknya cantik juga masih aja diomelin” gerutuku dalam hati.

Deg! Kaget banget anjay. ternyata yang nungguin gue mantan gue sendiri.
“Loh Reno?”
“Eh iya meg, udah siap?” tanyanya
“Ssi.. siap? siap ke mana?” bales gue gugup. yaiyalah tumben banget dia ke sini.
“Ke sekolah lah. Ya sengaja gue ke sini mau bareng aja gitu berangkat sekolahnya bareng lo” simple. kaya nggak ada salah!
“Oh ya udah ayo berangkat”

Di perjalanan..
“Ren”
“Iya kenapa meg?”
“Kok lo tumben jemput gue? kan gue bisa berangkat sendiri”
“Emang kenapa? nggak boleh? sebenernya gue juga pengen ngomong sesuatu ke elo sih”
“Ngomong apaan?”
Batin gue deg degan ya ampun. kira kira dia mau ngomong apaan yah? masa iya dia ngajak balikan, tapi kalo dia ngajak balikan gue terima gak ya. haha

“Jadi gini..” ucap dia sambil markirin sepeda motornya.
“Gimana?”
“Sebenernya aku masih sayang sama kamu meg. cuma aku malu aja ngomongnya. kan aku yang sia siain kamu selama ini.” jelas dia
“Oh hehe. Gimana ya Ren. Ya sebenernya gue juga masih sayang sama lo” plak! kok bisa gue ngomong gitu
“Beneran? jadi lo mau ngulang semua dari awal?”
“Tapi maaf ya Ren, gue juga udah terlanjur cinta sama sahabat lo”
“Riyan?”
“Iya, oh ya. gue duluan yah. nanti gue telat. gue naik angkot aja deh. bye ren” pamitku. Mampus mampus mampus! lo gimana sih meg? kok nolak dia. kan riyan belum tentu nerima lo

Di kelas
“Meg. kantin yok” ajak shinta temen sebangku gue yang kebetulan dia tetangga Riyan. Gebetan gue.
“Nggak ah males”
“Oh ya udah”

“Eh shin. lu tau nggak kabar Riyan gimana?”
“Riyan tetangga gue?”
“Iya, dia ke mana? kok jarang sms gue yah”
“Riyan mah udah punya pacar kali”
“Hah serius lo? demi apa?” deg! hati gue serasa tersambar petir
“Yaelah. dia jadian sama anak IPA kelas sebelah udah 1 tahun kali” terangnya
“Oh ya udah shin makasih infonya”

Riyan kok tega ya? kenapa dia deketin gue kalo akhirnya dia cuma jadiin gue obat kesepian dia?

Di perpustakaan nggak sengaja ngelihat Riyan sama si Mawar anak IPA sebelah. Terpaksa gue samperin demi tau kebenaran
“Riyan?”
“Loh Mega? Hei apa kabar?” sapa dia. senyumnya ya allah manis. Manis banget.
“Baik. oh ya BTW dia siapa?” tanya gue pura pura nggak tau
“Ini Mawar, dia pacar gue meg”
“Hah pacar? kok lo nggak pernah cerita ke gue?”
“Gimana mau cerita? kan kamu selalu baper. mau cerita juga jatuhnya malah nggak tega. maaf yah meg” Ia pun berlalu.

Jujur ini sakit! sudah kesekian kalinya gue jadi korban php. harusnya tadi gue nerima si RENO. Ah ternyata penyesalan memang ada di akhir

Cerpen Karangan: Mega Safitri
Blog / Facebook: Mega Safitrii
A Little Note For You

A Little Note For You

Judul Cerpen A Little Note For You

Senja, waktu yang selalu aku nanti, sekaligus membuat aku ketakutan. Semburat awan di langit terlihat indah. Kutatap dengan kagum pada ciptaan Tuhan itu. Tetapi, mentari terbenam membuat rasa kagumku berubah menjadi rasa takut. Senyuman tipis yang tadinya ada menghilang entah kemana. Aku begitu ketakutan. Takut jika malam tiba, dan esoknya aku tidak bisa melihat keindahan senja lagi. Bahkan sepanjang hari aku selalu merasa takut. Takut akan malaikat yang bisa menjemputku kapan saja. Entah bagaimana rupanya aku tidak tahu. Tapi ketakutan itu muncul setiap saat. Takut kalau masih ada orang merasa tersakiti karenaku, sengaja ataupun tidak. Takut aku pergi saat belum bisa membahagiakan orang-orang kesayanganku. Takut aku akan sendirian nantinya. Lewat catatan kecil ini aku mengabadikan hari-hariku. Jadi aku bisa mengingatnya kapanpun aku mau sampai batas akhir nanti.

Satu hari telah aku lewati, entah berapa hari lagi yang tersisa. Aku sudah menghabiskan 22 tahun hidup di dunia. Entah kapan aku akan pergi.

Ayah, Ibu, kalian apa kabar? Baik-baik sajakah di sana?
Kupandangi langit yang mulai berwarna jingga. Deburan ombak masih terdengar di pendengaranku. Angin laut mulai berhembus kencang. Kupeluk diriku sendir dan mengeratkan syal di leherku. Tubuhku sedikit menghangat.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh dan tersenyum tipis ke arahnya.
“Masih mau di sini?” tanyanya.

Kupandangi pemuda berusia 25 tahun itu lekat. Orang yang sangat aku sayangi. Orang yang berarti dalam hidupku.
Ia sodorkan tangannya dan aku meraihnya. Kututup catatan kecilku dan kumasukkan ke dalam tas selempang kecil milikku.
“Ayo pulang” ujarku padanya.

Aku pun melangkah di sampingnya. Di samping lelaki hebat yang selalu menjagaku. Ialah, Nanda. Kakakku yang sangat aku sayang. Ia satu-satunya yang aku miliki. Seseorang yang berharga. Seseorang yang selalu menjagaku.

“Mau es krim?” tanyanya.
Aku mengangguk pelan seraya memeluk lengannya.
Ia selalu tahu kesukaanku.

—

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah… piipp”
Aku kesal seraya membuang ponselku di ranjang. Sudah kesekian kalinya suara operator yang menjawab. Aku pun keluar ke balkon dan memandangi panorama pantai di depanku. Aku meminta kakakku untuk tinggal di dekat pantai, karena itu kesukaanku. Sekaligus tempatku menenangkan diri.

Aku mendengus kesal sekaligus kecewa. Sudah 2 minggu ia susah dihubungi. Ya, Dani, kekasihku. Aku tidak tahu apa kesibukannya sampai-sampai mematikan ponsel. Padahal aku hanya ingin ia selalu ada di sisiku. Menemaniku saat aku ketakutan.
Kini ia menjadi berubah. Entah karena apa. Selalu bilang tidak ada waktu dan selalu sibuk. Terkadang aku khawatir. Pada keadaannya juga keadaan di sana.
Benarkah ia sibuk? Sibuk dengan apa? Sibuk dengan siapa?
Siapa? Apakah ada orang lain di sana sampai-sampai mengabaikanku?
Oh tidak. Aku tidak boleh memikirkan hal yang aneh. Aku percaya dengannya. Aku percaya ia tidak akan macam-macam. Ia sudah memintaku untuk menunggunya. Menunggunya yang akan memintaku pada keluargaku. Memintaku untuk menjadi pendamping hidupnya. Aku harus lebih sabar. Mungkin ia benar-benar sibuk.

“Kau sedang apa?”
Aku berbalik dan memandangi kakakku membawa nampan berisi makanan juga susu.
“Makanlah dulu, kau belum sarapan kan?” Ia letakkan nampan itu di atas meja di dekatku.
Aku tersenyum ke arahnya dan melaksanakan perintahnya.
Tak lama aku habiskan makanan dan susu yang disediakan kakakku itu.

“Dani masih belum bisa dihubungi?” tanyanya.
Aku menggeleng lemas dan menghela nafas panjang.
“Ia sedang sibuk, tidak apa-apa. Yang penting kakak ada di sisiku.” ucapku lembut. Aku tidak mau membuat kakakku melihat kegelisahanku.

“Hari ini mau ke mana tuan putri?” ujarnya seraya mencubit pipi chubbyku.
Aku berfikir sejenak dan tersenyum ke arahnya.
“Kita ke tempatnya Dani aja kak, yaa..” pintaku memohon.
Sudah lama aku tidak bertemu dengan Dani karena kesibukannya. Aku ingin membuat kejutan untuk Dani. Sekaligus melepas rinduku padanya.
“Baiklah tuan putri.” balas kakakku.

Kuamati dalam rumah kontrakan Dani. Meski hanya sebatas menyewa, aku bangga padanya, bisa bertahan hidup meski tanpa bantuan orangtuanya.
Aku masuki pekarangan kontrakan Dani. Terlihat seorang nenek menghampiriku.
“Nak Aila, ayo masuk” ajaknya.
Aku tersenyum dan mengikutinya. Sementara kakakku mengekor dari belakang.

“Sudah lama tidak ke sini, ayo duduk dulu, Dani sepertinya belum pulang.” ucap nenek itu.
Aku sudah lama mengenalnya. Ia pemilik kontrakan Dani dan kita cukup dekat.
“Apa Dani menitipkan kunci nek? Aku ingin memasak untuknya.” ucapku lembut.
Dani memang sering menitipkan kunci kontrakannya karena ia sering menghilangkannya.

Tak lama nenek itu keluar dengan membawa sebuah kunci, aku menerimanya dan bangkit.
“Kau di sini saja ya kak.” pintaku.
Kakakku itu hanya mengangguk.

Kubuka pintu kontrakkan Dani dan memasukinya. Terlihat sedikit berantakan dan aku merapikannya.
Aku pun memasuki dapur sederhananya dan mencari bahan yang bisa dimasak.
Isi kulkasnya pun masih penuh. Aku ambil sedikit daging, telur, sayuran dan buah.
“Dani, aku buatkan nasi goreng kesukaanmu ya.” aku berucap sendiri.
Aku ambil sedikit beras dan menanaknya sebentar. Tidak sulit untukku membuat makanan kesukaan Dani, karena kita juga sering membuatnya bersama.

35 menit selesai dan aku sediakan di meja makan. Seraya meletakkan buah-buahan untuk pencuci mulut.
Baru mau aku meletakkan celemek yang aku pakai, pintu depan terbuka. Terlihat sosok Dani berdiri mematung memandangiku. Sosok yang 2 tahun terakhir menemaniku. Sosok yang aku rindukan kehadirannya.
Aku tersenyum dan menghampirinya.
“Kau sudah pulang? Aku sudah memasak makanan kesukaanmu.” ujarku seraya meraih tasnya.
Ia tetap pada posisinya sementara aku menggantungkan tas kerjanya.
“Apa kau masih ingin di sana saja dan membuat nasi gorengnya dingin Dani.” ujarku seraya menarikkan kursi untuknya.

Ia berjalan pelan ke arahku tanpa kata apapun. Ia pun menduduki kursi yang sudah kusediakan.
“Kau pasti lelah dan lapar.” ujarku seraya menuangkan air minum.
Tingkahku sudah seperti seorang istri yang menyambut kedatangan suaminya bukan? Aku terkekeh pelan. Hitung-hitung latihan. Aku selalu berpikir masa depan kita nanti. Tentunya indah bukan? Tapi aku juga tidak berharap banyak.

“Cukup Aila!” ujarnya agak kasar.
Aku terpaku menatapnya. Seolah bukan Dani yang kukenal.
“Ma.. maaf, apa aku ada salah?” tanyaku tak mengerti.
“Aku lelah Aila. Aku mau istirahat. Kau sebaiknya pulang saja.” ucapnya seraya meninggalkanku.
Aku tertunduk lemas. Apa salahku? Sampai ia begitu? Sikapnya berubah. Biasanya ia akan sangat senang aku perlakukan seperti ini. Tapi kenapa sekarang berbeda?

“Dan, apa aku mengganggumu, maafkan aku.” ucapku seraya mengetuk pintu kamarnya.
Tak ada jawaban apapun.
“Ya sudah, aku pulang, kau istirahatlah. Jaga kesehatan ya.”
Aku pun segera pergi dan menahan air mata yang sebenarnya ingin keluar. Aku tidak ingin kakakku itu nanti khawatir.

‘Dan, kau marah padaku’
‘Dani, kau kenapa sih?’
‘Kau sibuk ya, maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu kemarin’
‘Dani, ayo jawab’

Tak lama ponselku berbunyi. Tanda pesan masuk.
Dani:
Maaf, aku sibuk

Aku pun lemas seketika. Sebegitu sibuknya kah sampai tak ada waktu denganku. Padahal ia dulu sering sekali ke rumah, sekarang sama sekali tidak. Bahkan ia selalu mencari alasan saat aku meminta bertemu.

Aku pun merebahkan tubuhku di ranjang. Aku terlalu lemas untuk sekedar duduk. Mataku memanas. Cairan bening pun perlahan turun.
Pandanganku tiba-tiba suram. Nafasku mulai tak beraturan. Ku pegangi dadaku yang mulai terasa sakit. Mungkinkah serangan itu datang lagi?

“Kak… Nanda…” lirihku
Nafasku perlahan terasa sesak. Aku mencoba bangkit, namun nihil. Aku terjatuh dari ranjang dan tak pandanganku mulai gelap.

—

“Keadaannya sudah stabil, kita lihat perkembangannya nanti”
“Terimakasih dok”
Samar-samar kudengar percakapan itu. Mataku perlahan membuka dan melihat lelaki kesayanganku di sampingku.
“Kak..” lirihku.
Ia mendekat dan tersenyum padaku.
“Tidak apa-apa. Kau sudah stabil sekarang. Maafkan aku Aila, tidak bisa menjagamu.” ujar kakakku.
Aku tersenyum ke arahnya. Sementara kurasakan ada selang oksigen di hidungku dan selang infus di tangan kananku.
“Aku dirawat lagi ya kak?” tanyaku.
Ia mendekat dan menggenggam erat sebelah tanganku.
“Aku akan selalu menjagamu sayang.” ujar kak Nanda.
“Aku baik-baik saja kok kak. Aku tidak sakit apa-apa, kenapa harus dirawat?” tanyaku.
“Lebih baik kau menurut saja ya. Jangan berpikiran yang lain. Kau pasti bisa sembuh.” ucapnya.
Aku hanya menggangguk pelan seraya menahan rasa nyeri yang perlahan terasa kembali didadaku. Aku tidak mau membuat kak Nanda khawatir.
Kakakku benar, aku harus bisa sembuh.

Seminggu setelah aku dirawat dan kini aku bisa merasakan udara bebas. Tetap saja Wajahku terlihat lesu. Aku kecewa dengan Dani. Selama aku sakit, ia sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya atau hanya sekedar menanyakan keadaanku. Itu pun ia masih sulit untuk dihubungi.

“Tidak apa-apa, masih ada aku kan?” ucap kak Nanda menenangkanku. Sepertinya ia tahu kegelisahanku.
Aku hanya tersenyum tipis.
“Terimakasih kak, maaf sudah merepotkanmu selama ini.”
“Kau bicara apa sih, sudah tugasku menjada adik yang sangat aku sayangi. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Hanya kau yang aku punya Aila. Aku tidak ingin sendirian.” balas kak Nanda.
Rasanya aku ingin menangis.
“Aku juga tidak ingin kakak sendirian.” batinku.
“Kalau begitu, carikan aku kakak ipar, biar ada yang bisa membantu kakak.” kata itu yang bisa terucap.
Kak Nanda hanya terkekeh pelan.

Aku duduk di samping kakakku yang sedang menyetir. Pandanganku kosong. Kembali aku terpikir dengan Dani.
Ke mana saja ia selama aku sakit? Apa ia sudah tidak peduli padaku? Apa memang aku tidak penting untuknya?
Perlahan air mataku menetes. Aku tak habis pikir dengan Dani, kenapa ia berubah. Aku salah apa?

Tak ku kira kak Nanda membawaku ke tempat kerja Dani. Aku terkejut menyadari yang terjadi.
“Kau merindukannya bukan? Aku tahu itu” ujarnya.
Aku terharu kakakku sangat mengerti aku. Ia bakan tahu hal yang tidak aku ucapkan sekalipun.
Aku pun turun dan menunggu Dani diparkiran. Jam 14. 00 biasanya jam pulang Dani.

Tak lama mataku melihatnya.
“Dani..” teriakku dan tersenyum ke arahnya.
Tapi wajahnya terlihat tak suka melihatku. Aku pun berjalan pelan menghampirinya.
“Aku merindukanmu.” ucapku seraya memeluknya.
“Sangat… sangat merindukanmu. Meski kau berubah sekalipun saat ini.” batinku
Tak lama ia melepas paksa pelukanku. Ia bahkan mendorongku menjauh. Aku tak percaya Dani melakukan hal itu padaku.

“Dani… kenapa..” lirihku.
Mataku memanas. Cairan bening mengalir pelan. Aku terisak melihat perlakuannya barusan.
Ia hanya diam mematung ke arahku. Tatapannya seolah membenciku.

Tiba-tiba nafasku memburu cepat. Dadaku kembali terasa sakit. Bukan sakit karena perlakuan Dani. Tapi lebih sakit dari itu. Terasa panas dan nyeri. Sangat nyeri. Kepalaku terasa berputar.
Apakah waktunya tiba? Haruskah sekarang? Dani, aku menyayangimu. Maafkan jika sikapku selama ini menyebalkan. Terimakasih banyak. Terimakasih untuk mimpinya yang indah, meski kini hanya akan jadi kenangan.
Aku terjatuh dan pandanganku menjadi gelap seketika.

Kedua pemuda itu menatap pusara yang masih baru. Air mata keduanya masih membekas.
“Ini salahku.” lirih Dani
“Kalau saja aku bisa mengerti.” Sesalnya.
“Ini bukan salahmu. Sudah menjadi takdirnya. Aila harus pergi seperti ini.” ucap Nanda.
Dani memandang lekat kakak kekasihnya itu.
“Apa kau tidak membenciku?” tanyanya.
Nanda menghela nafasnya.
“Aku membencimu. Bahkan sangat membencimu. Kau berlaku seperti itu dengan adikku disaat-saat terakhir. Kalau bisa aku akan memukulmu. Sampai kau mati sekalipun aku tidak peduli.” ujar Nanda tenang.
Dani merasakan penyesalan atas perlakuannya pada Aila. Ia sendiri tidak tahu keadaan Aila sampai-sampai mengabaikannya.

“Tapi itu percuma. Kau mati sekalipun, takkan mengembalikan Aila-ku” ujar Nanda memandang Dani. Ia menyodorkan sebuah buku kecil pada Danu.
“Kau harus tahu perasaan Aila. Aku ingin kau menyesal telah memperlakukan adikku seperti itu. Dan saat kau menyadarinya, penyesalanmu tak ada gunanya lagi. Hanya itu satu-satunya karma untukmu.” ucap Nanda seraya berlalu dan menepuk pundak Dani.

Ia buka buku kecil milik Aila.
‘Daily note, Fitriani Aila Hermawan, 9 October 1994’

Terpampang jelas tulisan itu disampul bergambar Princess Aurora.
Ia buka lembar demi lembar tulisan tangan Aila

9 Oktober 2016,
Sudah genap 22 tahun aku hidup. Aku bahagia ada kak Nanda juga Dani disisiku. Mereka selalu mendukungku, melindungiku dan menyayangiku. Ayah, Ibu, putri kecilmu kini sudah beranjak dewasa. Aku merindukan kalian. Kalian apa kabar di sana? Ini tahun kelima tanpa kalian. Tapi aku tidak sedih. Kalau aku sedih, kalian di sana pasti akan sedih juga. Aku berjanji akan selalu bahagia. Love You All.

20 Oktober 2016,
Entah kenapa hari ini mulai terasa berbeda. Dadaku akhir-akhir ini sering terasa sakit, panas, entah mengapa. Tapi hari ini sangat terasa sakit. Aku pergi ke Rumah Sakit. Dokter memvonis aku mengidap penyakit jantung. Dokter mengatakan jantungku terlihat bermasalah sejak lama. Saat ini sudah semakin parah. Aku menangis. Aku tidak tahu harus bagaimana. Bukankah itu berarti hidupku tak lama lagi. Aku tidak mau orang lain tahu. Aku tidak mau menyusahkan kak Nanda. Apalagi Dani, aku tidak mau mengecewakannya.

15 Desember 2016,
Rasa sakit ini kembali menyiksa. Berkali-kali aku masuk Rumah Sakit karena terkena serangan lagi. Kak Nanda akhirnya tahu. Dani, maaf aku sering mengecewakanmu. Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Maaf aku sering pergi tanpa kabar. Aku sekarang menjalani pengobatan. Aku tidak berharap apa-apa. Aku hanya berhatap kita sempat bahagia sebelum aku benar-benar pergi nantinya.

5 Januari 2017
Happy anniversary 2th Dani, semoga kau selalu bahagia. Kita selalu bahagia bersama. Meski kau sekarang berubah, aku tetap mencintaimu. Aku tahu kau sibuk. Kau sedang berjuang. Semoga berhasil ya sayangku. Aku percaya padamu. Semoga aku bisa menemanimu sampai akhir. Aku akan tetap di sisimu meski kau berubah sekalipun. Aku tahu kau selalu lelah. Tidak apa-apa aku yang mengalah. Aku merindukanmu yang dulu. Aku sangat merindukanmu. Bahagia dan sukses selalu ya sayang. I Love You.

6 Februari 2017,
Lagi-lagi aku harus dirawat. Sakitnya terasa lagi. Lebih sakit lagi aku tidak melihat Dani. Apa ia tidak peduli padaku? Apa ia benar-benar sudah melupakanku. Aku hanya ingin menghabiskan waktu terakhirku bersamamu. Maaf aku tidak jujur tentang keadaanku. Aku sayang padamu. Aku akan berjuang untuk tetap hidup. Mendampingimu mencapai impianmu.

Dani tertunduk lesu. Ia sangat menyesal dengan perbuatannya. Ia memang disibukkan dengan pekerjaannya. Ia bahkan selalu mengabaikan Aila. Ia berencana membalas perlakuan Aila tanpa tahu alasan saat Aila menghindarinya.
Tetapi ia sungguh mencintai Aila lebih dari dari dirinya sendiri. Ia hanya ingin Aila merasakan apa yang pernah ia rasakan. Ia salah, caranya salah. Harusnya ia mencari tahu alasan Aila selama ini.

Nanda benar, penyesalannya takkan berarti. Ia tatap pusara Aila. Tangisnya tak terbendung. Maafnya pun takkan berarti. Seharusnya ia lebih bisa mengerti Aila. Apalagi keadaan Aila yang seperti itu. Ia bodoh, sangat bodoh. Mengabaikan Aila tanpa tahu keadaannya seperti itu.

‘A Little Note For You’
for DS

Cerpen Karangan: Lola
Facebook: Lola
Aku Menysal Memutuskan Tali Persahabatan Kita

Aku Menysal Memutuskan Tali Persahabatan Kita

Judul Cerpen Aku Menysal Memutuskan Tali Persahabatan Kita

“Ya udah deh, Luna! nih aku kasih uang” ucapku sambil menyodorkan uang Rp. 1000,00.
“Thanks ya Div, aku saaayang kamu” rengek Luna.
“Hm” aku hanya menjawab seperti itu karena Luna sedari tadi meminta-minta uang kepadaku, alasannya, uangnya habis.
“Yaaa, tapi besok harus ganti loh!!” ucapku sambil menunjukkan telunjukku.
“Siap bos!!” ujarnya dengan hormat.

Lalu bel tanda pulang berbunyi, semua siwa berhamburan ke luar kelas, diikuti Diva dan Luna
“Div, pulang bareng yuk!” pintanya.
“Yuk!” jawabku dengan wajah datar, karena rumah kami bersebelahan
‘dasar ni anak sukanya minta aja’ gumamku dalam hati.

Karena kami saling diam akhirnya kami pun sampai juga.
“Daaaaa, besok ketemu lagi ya Div!” ucapnya sambil melambaikan tangan.
“Daaada, juga” ucapku dengan wajah datar.

Keesokan harinya…
“Luna, Taluna, sekarang mana uangnya?” tanyaku sambil menyodorkan tangan.
“Nggak ada! uang apa sih?” tanya Luna seakan tidak mengerti.
“Uang yang kemarin itu lo!” jawabku semakin kesal.
“Ooooo, belum ada!” jawabnya seperti biasa, seakan tak punya kesalahan kepadaku.
“DASAR KAMU YA!!! oke, prtemanan ini, yang sangat berarti buat kamu, sudah berakhir” Ucapku dengan nada semakin kesal, tentunya dengan berlalu pergi.
“Jaaangaaaan, diiiva tooloong maaafin aaaku, hiks… Hiks… Hiks. Aaaaaaaa”
BRAAKK..

“Aku menyesal telah memutuskan tali persahabatan kita, Hiks… Hiks…”
“Kenapa.. kenapa kejadiannya harus seprti ini, AAAAAAAA” ucapku sambil menangis.
“Ka.. kamu.. ya.. yang.. sa.. sabar.. y.. ya, i.. ini.. su.. sudah.. tak.. takdir.. hh” Luna menghembuskan nafas terakhirnya, untuk pertama kalinya aku mnangis di bawah derasnya hujan “AAAAAAAAAA, Hiks.. Hiks..”
“Maafkan aku lunaaaa, maafkan akuuu.”

THE END

Cerpen Karangan: Sabila Salma Putri Wahyuhadi
Cinta Datang Terlambat

Cinta Datang Terlambat

Judul Cerpen Cinta Datang Terlambat

Di sepanjang perjalanan pulang sekolah, aku hanya terdiam, mulutku terkunci. Telingaku tuli, tak kuhiraukan deru-deru kendaraan yang berseliweran di sampingku. Sengatan matahari yang begitu panas tak kuhiaraukan. Otakku terus perputar-putar. Semakin lama semakin kencang berputar. Untung saja nggak keluar dari kepalaku.

Sampainya di rumah, aku melangkahkan kakiku yang udah mau putus menuju kamar dan kuhempaskan begitu saja tubuhku yang kecil ini di kasurku yang empuk seperti donat kentang itu. Hehe
Fiuhh.. aku mendesah. Aku mencoba memejamkan mata. Tapi kenapa kejadian di sekolah tadi seolah-olah membuntuti fikiranku.

“rara, aku boleh nggak ngomong sesuatu ke kamu?”
“ya boleh lah ndu, ngomong apa sih? cepetan keburu kiamat nih. Hehe”
“hmmm… sebenarnya aku… a…kuu. aku sayang kamu ra. A.. aku…”
Tanpa pikir panjang aku langsung menampar muka si pandu. Pandu seakan bersalah. Kemudian aku lari meninggalkannya.
Itulah bencana besar dalam hidupku. Kenapa sahabatku yang telah sangat lama aku kenal itu tiba-tiba mengatakan hal seperti itu. Seorang pandu mengatakan cinta pada rara. Oh my god! Aku nggak bisa bayangin itu.

Tiba-tiba aku terhenyak dari ranjangku.
“eh..eh tunggu dulu. Tadi kan pandu cuma ngomong kalo dia.. dia sayang sama aku. Tapi kan sayang seperti apa aku belum jelas. Aduh! Dasar oonnya si rara.” Aku membatin. Aku sangat menyesali perbuatanku tadi pada si pandu. Gimana ini? Tuhan bantu aku. Kepalaku udah mulai retak ini.

Setelah semalaman fikiranku berkutat memikirkan si pandu. Pagi ini aku ingin menanyakan dan menjelaskan pada si pandu. Apa maunya dan apa maksudku.
“pagi jelek. Kenapa manyun.” Tiba-tiba mas rayhan muncul di hadapanku dan mengacak-acak rambutku.
“hiih apaan sih mas. Mau tau aja. Sana-sana.” Aku mengusir masku yang super kepo.
“huuh.. dasar anak kecil. Kayak kecebong.”
“biarin. Dasar serigala bermata empat.” Memang bermata empat, soalnya masku itu berkacamata. Sok cakep. Padahal sih.. enggak.

Selesai sarapan aku langsung melesat terbang.. terbang dan terbang. Hingga “bruukk”
“aduuh..” aku meronta. Kakiku tiba-tiba lunglai. Kira-kira apa yang aku tabrak. Masa iya pasukan semut merah yang menyerangku. Aku mencoba bangun. Aku melihat ulurun tangan di depan mataku. Langsung saja aku sambar. Ketika nyawaku udah nyatu semua. Tiba-tiba…
“kamu nggak papa ra?”
Oh my god! Pandu?. kok ada dia.
“ra…” setengah berteriak pandu memanggilku.
“oh.. ha. iya nggak papa kok. Thanks ya udah nolongin tadi.” Kataku bingung.
“iya. Lain kali hati-hati dong. Masa ada tiang sebesar ini kamu terjang. Apa mau aku belikan kacamata kuda. Biar jalannya nggak tengak-tengok.”
“iya deh bapak pandu.”

Aku berjalan beriringan dengannya dan sedikit-sedikit kita pun tertawa.
“ra.. nanti istirahat kita makan bareng yuk.” Ajak pandu.
“oke. Baiklah kamu yang traktir ya.”
“hmmm… baiklah. Uangku ini cukuplah untuk memberi nutrisi pada cacing perutmu, lagian tubuh sekecil kamu mana muat makan banyak-banyak. Hehe.”
“dasar lu.. ya udah aku masuk kelas dulu ya. Sampai nanti.” Aku langsung masuk kelas XI IPA.
“ya udah. Selamat belajar ya cantik.” Tak kuhiraukan omongan si pandu.

Bla.. bla .. bla.. pelajaran matematika dimulai dan bla.. bla.. bla matematika pun usai. Pelajaran selanjutnya geografi. Syukurlah! Gurunya nggak ada. Jadi bisa ngerumpi sama temen-teman. Hehehe!

Tett.. tett.. teett
Yee.. istirahat pun tiba. Perutku yang dari tadi bernyanyi-nyanyi, udah nggak sabar untuk diisi. “sabar ya cacing sayang.” Batinku.
“mau kemana ra?” tanya si ayu, teman sebangku.
“laper. Mau ke kantin lah. Masa ke toilet.” Selorohku.
“nitip minuman ya. Yang seger pokoknya.”
“siipp… ntar aku bawain. Di toilet juga masih banyak kok. Santai aja.”
Aku langsung dilempar buku sama ayu, secepat kilat pun aku ngilang. Hahaha.. kasihan deh lu nggak kena. Pandu! Ya. Mana si pandu. Katanya mau nraktir tuh anak.
“heeh!”. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Sontak saja aku kaget.
“aduh pandu. Kebiasaan banget sih datang tiba-tiba. Ntar ngilang pun tiba-tiba.”
“kayak apaan dong kalo gitu?”
“tau ah.. ayo makan. Udah nyanyi dari tadi nih.”
“siapa yang nyanyi ra?”
“ya cacing perutku lah. Cepetan.”
“ya udah kamu pesen apa?”
Bla.. bla.. bla aku menyebutkan makanan dan minuman untuk aku dan pandu.

Selang beberapa menit, 2 mangkok bakso dan 2 es jeruk telah siap di depan mata. Saatnya perang dengan mereka. Setelah makan, aku pun bertanya pada pandu tentang kemarin.
“ndu. Kamu kemarin ngomong apa? Maaf ya aku nampar kamu?” raut mukaku langsung berubah begitu pula dengan pandu.
“iya gak papa ra. Aku ngerti. Sebenarnya udah lama aku menyimpan semua rasaku ini. Kita bersahabat udah lama kan ra. Tapi entah kenapa aku merasa aneh dengan hatiku ini. Maafin aku ya ra. Aku nggak bermaksud gitu ke kamu.”
Jantungku berdetak begitu kencang. Air mataku menganak sungai. Badanku dingin. Ingin rasanya aku pingsan disini.
“Ra kamu nggak papa kan?”
“udah deh ndu, mulai sekarang jangan cari-cari aku lagi. Kamu cari cewek lain saja. Aku benci kamu. Maafin aku. Aku pergi.”
“tapi ra… tunggu ra.”
Aku terus berlari, pandu terus mengejarku. Aku masuk ke toilet cewek dan otomatis pandu nggak akan berani ngikutin aku.

Sejak kejadian makan di kantin itu, nggak ada lagi celotehan dari pandu yang mengisi telingaku. Tak ada lagi cerita-cerita konyol, tak ada lagi pesan, tak ada lagi perhatian dan tentunya tak ada lagi traktiran. Makan siang itu seakan menjadi makan terakhir aku sama pandu. Aku sedih. Kenapa? Ya jelas aku sedih, sahabatku itu kini udah benar-benar menjauh, jauh, jauh sangat jauh dariku. Tapi ini semua juga salahku. Aku yang udah nyuruh dia pergi. Aku yang udah ngusir dia. Bodohnya kamu rara!

Aku kembali melihat album fotoku bersama pandu. Aku mengingat semua. Detik-detik yang pernah kulalui bersamanya. Kini semua hanya tinggal kenangan.
“pandu kamu kemana sih, aku butuh kamu.” Pintaku dalam hati.
“ndu, aku kangen kamu ndu. Maafin aku. Aku udah jahat ndu.”
Tak kuhiraukan bulir-bulir bening yang berjatuhan. Tanpa kusadari tangisku semakin kencang. Dan itu mengundang Si Serigala datang menghampiriku.
“lho si jelek kenapa, kok nangis gitu. Tambah jelek tuh.” Ledek mas Rayhan
“apaan sih mas.. aku lagi sedih banget nih..”
“ada apa sih emangnya? Cerita dong sama masnya yang ganteng ini.”
“mas. Gimana kalo ada seorang yang suka sama kita. Tapi kita menolaknya dan menyuruhnya ngilang gitu aja. Dan orang itu memang benar-benar ngilang..”
“menurut mas, itu sih berlebihan. Kalo seumpama kamu nggak suka ya harusnya sikapmu nggak boleh seperti itu. Kamu juga harus tetap menjaga tali persahabatan dengannya bukannya malah nyuruh dia ngilang.”
“tapi mas. Gimana kalo yang ngomong itu si pandu?”
“haa? Pandu sahabat kamu itu?”
“he em mas. Udah 2 bulan ini aku nggak hubungan sama dia. Aku bingung mas?”
“oh begitu. Banyak-banyak berdo’a aja kalo gitu. Selamat malam jelek.”
Mas rayhan pergi sambil menarik hidungku yang pesek ini.
“dasar serigala.” teriakku.

Hari-hari kulewati tanpa pandu. Aku galau. Dan kini aku selalu memikirkannya. Sebenarnya apa yang saat ini kurasakan. Mungkinkah aku ini juga jatuh cinta padanya. Aku sangat menikmati setiap detik dengannya. Aku selalu merasa nyaman di dekatnya. Namun kini, dia udah hilang.

Di suatu pagi di sekolah, ayu menghampiriku.
“ra.. ada surat nih.” Ayu menyerahkan sepucuk surat padaku.
“dari siapa yu?”
“udah liat aja sendiri.”
Perlahan-lahan aku membuka dan membacanya. Aku terhenyak.

“pan.. pandu. Pandu! Nggak mungkin. Ini nggak mungkin kan yu?” ayu hanya diam.
“pandu. Maafin aku ndu. Aku nyesel ndu. Aku sayang kamu ndu. Kenapa kamu tinggalin aku ndu.”
“sabar ra. Kamu harus bisa relain pandu untuk selama-lamanya ra.” Ayu memelukku.
“tapi yu. Kenapa pandu nggak cerita sama aku. Aku sahabatnya yu.”
Ternyata selama ini pandu sakit. Dia. Dia nggak pernah cerita ke aku. Jika paru-parunya terdapat flek yang cukup parah. Aku semakin tak percaya. Ini mimpi!

Pulang sekolah, keadaanku semakin kacau. Panas menyerang. Aku masih mengenggam surat terakhir dari pandu. Pantas saja aku nggak pernah lihat dia di sekolah, dan bodohnya lagi aku nggak ngecek ke rumahnya. Aku bodoh! Sangat bodoh!
“pandu, jika waktu ini dapat diputar aku ingin tetap bersamamu. Kini baru kusadari aku sangat menyayangimu ndu. Panduu… kembalilah. Aku menunggumu ndu.”
“kenapa cinta ini datang terlambat ya tuhan.”

Fikiranku masih kacau. Aku udah sampai di gerbang rumah. Tiba-tiba tubuhku lemas, kaki dan tanganku lunglai. Mataku berat. Kepalaku seakan mau pecah. Hingga tiba-tiba. Bruuukk!
Gelap. Semua gelap. Aku tak bisa melihat apa-apa. Mataku buta. Mulutku bungkam dan telingaku tuli. Hingga sosok pandu datang menghampiriku. Dia memelukku mengatakan bahwa dia masih sayang padaku. Aku harap ini bukan mimpi. Sekejap pandu menghilang. Keadaan kembali gelap. Hingga aku bisa mendengar suara mas rayhan yang memanggilku dan menangis. Aku terbangun. Dan berteriak “aku sayang kamu pandu. Jangan tinggalin aku!”

THE END

Cerpen Karangan: Enno Febri
Facebook: Enno Febrianty
Untuk Navisya (Sesal Tak Berujung)

Untuk Navisya (Sesal Tak Berujung)

Judul Cerpen Untuk Navisya (Sesal Tak Berujung)

Pagi, Saat itu aku baru saja menyelesaikan masalahku dengan dia, sampai akhirnya aku hanya dapat kesedihan, yah kata “putus” itu selalu menghantui setiap hubungan bukan? dia berkata aku hanya pengganggu dalam hidupnya, aku bisa terima itu dan kita putus. sebulan lebih aku terpuruk akibat momen itu, rasa dendam selalu ada dalam hati, tapi aku rasa itu semua sudah cukup aku berpikir aku harus bisa melangkah, tak diam di satu titik karena masalah konyol tersebut. aku pun berniat untuk melupakan dia yang sudah jadi cerita di masa lalu.

Hingga tiba suatu hari disaat malam aku mempromosikan pin bbku di beberapa medsos ig, FB, dan twitter, yah ada sih beberapa yang invite pin bb ku terlebih lagi ada satu temen fb ku yang sangat aku sukai, ia Bernama “Ferina Auliya Navisya”, kurasa ini jawaban tuhan untukku dia mengirimkan sosok navisya untuk melewati hariku yah… meski hanya melewati, Akhirnya kita pun akrab, aku tau dia sudah punya kekasih tapi dia dan kekasihnnya mempunyai hubungan yang rumit, rumit sekali, hingga akhirnya dia pun putus dan dia pun jadian denganku. rasanya bahagia sekali aku memiliki dia, ibaratnya seperti “saat aku berada di lubang sumur, dia datang untuk membantuku keluar”. jujur pada saat aku belum akrab masih masa masa PDKT sama navisya aku seringkali mengingat moment manis dengan dia (sang mantan),
awalnya aku bersyukur dengan adanya navisya walau kita LDR’an tangerang-sukabumi, kita menjalani hubungan yang rumit tapi harmonis karena aku dan dia mempunyai satu kesukaan yang sama yaitu “MUSIK METAL” band kesenangan kita saat itu The Amity Affliction, Woe is me, Pierce The Veil, Sleeping with sirens, WBTBWB, mungkin pembaca ada yang tau? Hehehe.

Bahkan aku sangat berambisi kalau suatu saat nanti kita dipertemukan di pelaminan walaupun hanya angan, Tapi di hubunganku yang sudah jalan 6 bulan, Hatiku ragu untuk bersamanya lagi, aku merasa ada sesuatu yang kurang dalam cinta kita pada saat itu, disitu aku merasa iri terkadang melihat teman teman di sekolahku yang sering menggandeng pacarnya, nonton bioskop bareng, mereka yang punya kekasih nyata sedangkan aku? LDR, aku tau LDR adalah salah satu cinta yang selalu menguji pesertanya lewat batas, ruang dan waktu. tadinya aku tak pernah iri dengan banyaknya temanku yang pacaran di sekelilingku, tapi apalah daya aku hanya manusia, manusia adalah makhluk yang tidak sempurna terlebih lagi aku hilangkan rasa bersyukur ku… “ya allah, maafkan hamba”

Kian hari hubunganku semakin rumit kali ini tanpa keharmonisan, kami sering bertengkar pada saat itu,
Hingga suatu malam aku meneleponnya… dan berakhir dengan air mata, dia menangis, aku pun menangis, meskipun aku seorang pria tapi aku adalah sosok yang rapuh apalagi jika patah hati.

Setelah momen “putus” terulang kembali dalam hidupku aku merasa untuk tidak mencari seorang pacar dulu untuk sementara waktu, dan fokus pada duniaku, di awal tahun 2016 ini lagi maraknya dunia stand up comedy dan aku pun salah satu penyukanya, sekaligus seorang comica juga di sekolahku, bahkan dijadiin ketua komunitas Stand up comedy juga di sekolah. Banyak wanita yang terkagum karena aku dan kawan selalu openmic di sekolah, terutama mereka selalu menungguku saat aku tampil, tapi dari sekian banyaknya wanita yang terkagum di satu sisi aku merasakan rindu mendalam, pada navisya, aku pun berniat menghubunginnya lagi setelah 3 bulan lamanya lost contact sama dia, ternyata nomor ponselnya masih aktif dan masih yang dulu, kita pun menjalani hubungan lagi, kalau kata orang “kita kalau udah putus terus balikan lagi pasti rasanya beda” Tapi menurutku itu salah, tergantung sifat dan emosional seseorang walau 85% nya mungkin.

Navisya gak banyak berubah masih seperti dulu pemanja, lucu, serta manis tutur katanya, tapi bodohnya aku, aku mengkhianatinya lagi. Pada saat itu aku bilang aku akan kembali karena sekolahku ingin mengadakan perpisahan ke bali. tapi setelah aku kembali dari bali aku tak mengabarinya, karena sebelum ke Bali aku bilang padanya kalau hape aku tuh rusak dan aku ke bali memakai hape yang gak berstandar Android, mungkin disini letak penyesalanku, aku berbohong. aku pun menghilang lagi dari benaknya kurang lebih sebulan, karena setelah pulang dari bali hasrat ingin memiliki kekasih di dunia nyata pun masih ada di hatiku.

Setelah pulang dari bali pun aku jadian dengan adik kelasku yang aku suka bernama fira, hingga navisya pun mengetahuinya karena saat itu aku post foto aku dengan fira di medsos instagram.
Dan dia pun menangis setelah lama dia menunggu kedatanganku nyatanya aku sudah punya kekasih baru, sungguh aku sangat bodoh, bodoh, bodoh. Tapi waktu terus berjalan dia pun bisa merelakanku bahagia justru sebaliknya terkadang tiap malam aku selalu mengingatnya dalam mimpi.

Kabar baiknya dia sekarang sudah punya yang baru alhamdulillah, dia pun tak sungkan memberi kabar itu, bahkan aku disini juga alhamdulillah masih sama fira dan bahagia, sekarang kita mengukir cinta kita masing masing meski navisya pernah berkata “Tapi belum tentu yang sekarang aku miliki adalah jodohku, dan belum tentu juga yang kamu miliki adalah jodohmu…”, kata katanya masih menggantung sih tapi terselip makna, “siapa tau kita berdua bener bener jodoh”,

Ketahuilah nav aku disini selalu mendoaakanmu yang terbaik, dan selalu dalam lindungan allah S.W.T aamiin

Cerpen Karangan: Rizky Gusti
Facebook: Rizky Segara
Jangan Biarkan Indonesia Pecah

Jangan Biarkan Indonesia Pecah

Judul Cerpen Jangan Biarkan Indonesia Pecah

“Lihat deh teman-teman aku baru saja membeli tas. Langsung dari London lo.” Pamer Sisylia.
Yup, dia paling senang pamer segala barang-barangnya. Mulai dari pensil lah, buku lah, penghapus lah, sampai sendal pun dia pameri kepada kami. Kami memang sudah terbiasa dengan sikap Sisylia seperti itu. Tidak banyak yang menyukai Sisylia. Dia memang sangat suka pamer dan sombong, hanya gengnya saja yang suka dengan dia nama gengnya adalah Girl’s Beatiful.

“Eh, Sisy sudah deh kamu pamer barang-barangmu. Kalau mau pamer sana pamer saja pameran. Sesuka hatimu mau pamer apa. Asal yang penting jangan di sini ini itu sekolah bukan tempat pamer barang,” Nelly angkat bicara.
“Kenapa? Kamu iri ya aku bisa kesana kemari tidak sepertimu hanya berkeliling di kebun binatang saja. Tidak sepertiku yang bisa ke luar negeri. Sudah kalau kamu iri sana kembali ke kursimu tidak usah mengurusiku!” Marah Sisy kepada Nelly. “Sudahlah yang penting aku sudah menasehatimu.” Ujar Nelly.
“Aku tidak perlu nasehatmu mengerti!” Bentak Sisy.
“Dasar anak sombong,” Gumam Nelly. Untungnya Sisy tidak mendengar sampai dia mendengar wah gawat dia bisa-bisa marah.

Teng, Teng, Teng, Bel masuk berbunyi nyaring memekakkan telinga.
“Selamat pagi anak-anak,” Sapa Miss Gloria ceria dan semangat.
“Selamat pagi juga Miss Gloria,” Sahut semua anak-anak.
“Baiklah kita mulai pelajaran PPKN kita bla bla bla.

Akhirnya, bel istirahat pun berbunyi anak-anak berebut ke luar kelas. Terutama Sisy dia memaksa untuk ke luar ruangan. Sisy menuju ke perpustakaan dia tertarik untuk membaca buku sejarah Indonesia.
Sisy mengambil buku itu. Sisy menitikkan air mata ketika membaca halaman pertama. Nelly melihat kejadian itu.
“Sisy kamu kenapa?” Tanya Nelly lembut. Sisy terkejut ketika Nelly menepuk pundaknya.
“Ah itu, aku terharu ketika membaca buku Sejarah Indonesia ini. Aku baru tahu pahlawan Indonesia berjuang melawan penjajah. Maafkan aku selalu mengejek Indonesia maafkan aku ya Nelly tadi aku membentak kamu di kelas. Maafkan aku sungguh aku menyesal,” Tangis Sisy semakin keras. Sampai mengundang perhatian anak-anak.
“Iya tidak apa-apa kok. Sekarang kita sahabatan oke,” Kata Nelly.
“Hidup Indonesia!” Seru Nelly dan Sisy.

Tamat

Cerpen Karangan: Elsa Puspita Ronald
Blog: kampungmarindu.KM.blgspot.com
Penyesalanku

Penyesalanku

Judul Cerpen Penyesalanku

Namaku Febi. Aku dari keluarga yang kaya namun ayahku adalah orang yang tidak bertanggung jawab, ia selalu marah dan memukuli ibuku sampai ia terluka. keluargaku tidaklah harmonis, setiap hari aku selalu melihat kedua orangtuaku berkelahi. Hingga sampai saat itu aku sangat membenci seorang lelaki.

Pada suatu hari ada seorang laki-laki yang mencintaiku namanya Galang namun aku berpikir seorang lelaki hanya bisa mempermainkan hati seorang wanita saja, aku pun menjauh darinya, namun galang selalu berusaha untuk membuatku yakin jika tak semua lelaki hanya bisa membuat wanita bersedih, Ia berhasil, berhasil membuat hatiku takluk olehnya aku pun mencintainya.

Semakin hari rasa cintaku semakin besar ia selalu menjadikanku wanita istimewa hingga pada saat itu aku dan galang meresmikan status kita. 2 tahun aku lalui hariku dengannya, semakin lama aku merasa bosan hingga sampai hati ini mencintai pria lain, ia bernama Eza. Seperti hari biasanya aku sering pergi dengan Galang namun hari ini aku menolak ajakan galang, aku pun pergi dengan Eza, saat aku sedang bersama Eza tanpa kusadari galang berada di tempat yang sama namun galang pergi dan seperti tidak melihatku, disana hatiku pun terasa lega.

Paginya aku berangkat sekolah namun hari ini aku tidak melihat galang dan kata temannya galang pindah sekolah, ia hanya menitipkan selembar kertas yang tertuliskan:

Dear Febi
Aku selalu mencintaimu setulus hatiku apa salahku sampai kau acuh padaku? Kabar dariku tak kau hiraukan, aku tak mengerti apa yang terjadi denganmu? Apakah ada yang lain di hatimu? percayalah, walau apapun terjadi pada kita aku akan selalu mencintaimu. Semoga kau bahagia dengan lelaki pilihanmu, terimakasih atas warna yang kau lukis untukku.
Mungkin dengan kepergianku kau bisa bahagia dengan lelaki pilihanmu tapi ingatlah cintaku takkan pernah pudar sampai kapanpun, umurku selama yang kau mau dan kedatanganku serta kepergianku selama yang kau inginkan.

Betapa sabarnya galang, betapa setianya dia kepadaku, mengapa aku mengecewakannya, mengapa aku tak bisa bersyukur atas apa yang telah tuhan kasih dan berikan kepadaku. Hingga aku sadar bahwa aku telah melukai hatinya, aku berjanji akan menunggunya dan menanti sampai ia kembali.

3 tahun berlalu galang tak kunjung kembali hingga aku bertekad untuk pergi ke rumahnya, ternyata benar aku bertemu dengan orangtuanya namun betapa terkejutnya aku setelah aku dengar dari kedua orangtuanya kalau selama 3 tahun ini ia bukanlah bersekolah namun ia terbaring lemas di rumah sakit, namun aku terlambat, ia sudah tiada satu minggu yang lalu karena kanker otak yang dideritanya selama 3 tahun ini, ia selalu berharap kedatanganku namun bodohnya aku yang tidak mengetahui ini semua, aku menyesal aku tak bisa membuatnya bahagia di akhir hidupnya aku hanya membuatnya kecewa maaf pun sudah terlambat.

Cerpen Karangan: Isti
Facebook: Istikharoh