Judul Cerpen Inikah Patah Hati
Di saat aku berpikir semua akan terasa indah, tetapi ternyata justru sebaliknya. Ku tak pernah berpikir semua ini akan terjadi. Aku baru menyadari bahwa sakit hati angat pedih. Tak pernah terpikir olehku akan begitu menyakitkan. Pertama kali aku melihatnya rasanya semua terasa nyaman dan indah. Awal mula ku mengenalnya ketika waktu itu Dia memanggilku dengan suaranya yang lemah lembut “jam berapa sekarang?” Dia bertanya padaku. “Jam 2 lebih 10” jawabku. “Yah kita telat pasti di hukum”. Ia Mengeluh. “Iya pasti lah” aku tersenyum kepadanya
“Ya udah kita ke sana yuk!”. dia mengajaku
“Ayo”.
Akhirnya kita datang ke pramuka bersama, setelah masuk ke pramuka kita berdua dihukum 2 seri oleh DAS karena telat 10 menit. Setelah kegiatan pramuka selesai, aku beranjak untuk pulang. Tetapi di jalan aku melihatnya dan dia melihatku. Dia tersenyum kepadaku dan aku menghampirinya. Di perjalanan aku ngobrol ngobrol dengannya.
“Kalo boleh tau Rumah kamu dimana?”
“Di narimbang”
“Oh, deket dong.”
“Iya”
Di perjalanan aku bersamanya ketawa dan ketiwi di sepanjang perjalanan. Sampai pada akhirnya ada sebuah angakot yang sudah menungguku. Kemudian aku berpamitan kepadanya “duluan ya..” Ucapku. “Iya”. Angakot yang kunaiki berjalan melewatinya, selama angkot yang kunaiki berjalan di belakang, dia tersenyum lebar kepadaku.
Keesokan harinya aku kembali bertemu dengannya di sebuah organisai yaitu “ikrama”. Di organisasi itu kita dikumpulkan semuanya karena ada acara 2 hari lagi. Di situ aku melihatnya yang sedang mendengarkan ucapan dari pengurus. Ketika aku melihatnya sungguh luar biasanya anugerah tuhan YME. Lama kelamaan aku melihatnya aku begitu merasa nyaman. Kemudian dia tak sengaja melihatku dan tersenyum kepadaku, saat itulah aku tersadar bahwa inilah cinta.
Hari demi hari pun ku lalui bersamanya, tak jarang kutemui dia di perpustakan sekolah, tetapi aku tidak tahu siapa namanya, makanya aku coba cari tahu namanya, untungnya aku pernah melihat dia bersama temannya dan temannya tersebut adalah temanku di smp, dia bernama Cucu nurainun, si cucu adalah temanku, kami pernah sekelas di kelas 8B.
“Cucu…”
“Apa, marwan?”
“Yang tadi ngobrol sama cucu siapa?”
“Ehmm…”
“Kenapa cu?”
“Tadi namanya si awal.”
“Kayak mirip siapa gitu ya..?”
“Mirip si Endang ya…”
Aku Tersenyum
“Hemmm”
“Apa sih cu, Ya udah deh makasih cu”
“Iya, sama-sama”.
Sering kali aku mengajak si awal untuk ngobrol dan tak jarang pula ku melihat dia tertawa di depanku. Canda tawa, senyuman dan kebahagiaan mewarnai keHidupan kami. Karena jam istirahat yang sama kami juga sering bertemu di kantin sekolah, di kantin aku hanya bisa meliriknya dari kejauhan karena dia selalu bersama teman-temanya begitupun diriku, kami juga sering bertemu di istirahat ke-2 yaitu tepatnya jam 12 siang, karena di jam tersebut anak pramuka sering disuruh berkumpul. Hari dan hari sering kulalui bersamanya. Aku menjadi yakin kalau dialah cintaku. Aku selalu mencoba untuk mengungakapkan perasaanku kepadanya tapi aku menunggu waktu yang tepat, aku berencana untuk mengungakapkan perasaanku tepatnya hari jum’at 25 september 2015. Tetapi aku gak jadi, aku berpikir itu terlalu terburu-buru jadi aku memutuskan untuk mengungakapkannya di hari sabtu 26 september 2015. Aku coba mengajaknya Ke sebuah tempat yang sepi yaitu di belakang 12 ap 2.
“Awal”
“Iya, apa?”
“Aku mau ngomong”
“Mau ngomong apa?”
“gak jadi deh”
“Kok gak jadi?”
“Aku gak yakin”
“Atuh gak papa”
“Awal!”
“Iyaaa apaa”
“Sebenarnya aku em em em. suka sama kamu. kamuuu mau gak eh… jadi pacar aku?”
“Hmm, maaf ya aku udah punya pacar, namanya prass permana, maaf banget” tangannya menyentuhku “ya udah aku ke kelas dulu.”
Sekarang aku baru menyadari begitu sakitnya cinta ditolak, setelah penolakan itu aku berjalan ke sebuah masjid untuk curhat kepada tuhan. “Ya ALLAH ternyata sakit rasanya ketika kita berharap kepada sesuatu dan harapan tersebut tidak pernah terwujud bahkan hanya sebatas harapan palsu. Itu yang selalu aku ucapkan. Saat itu juga aku sholat duha untuk meminta petunjuk dariNya. Di setiap sujudku selalu terbayang-bayang wajahnya, mungkin aku benar-benar mencintainya sampai-sampai dirinya masih terus terbayang di benakku. Aku mencoba melupakannya dengan mengisi waktuku dengan hal yang positif seperti sholat tahajud di malam hari, mengaji di waktu subuh, mentadabur al-Qur’an di pagi hari, kemudian sholat dhuha, belajar di kelas bersama siswa dan guru, membaca buku-buku islami di jam istirahat, dan melanjutkan sholat dzuhur, belajar kembali di kelas, sholat ashar, bermain futsal bersama teman, sholat magrib setelah itu mengaji, belajar dan tidur. Itu yang selalu kulakukan setiap hari.
Sedikit demi sedikit rasa ini mulai hilang, tetapi karena kami sering bertemu aku menjadi sangat sulit untuk melupakannya. Selain itu dia juga memasang nama si pras di bbmnya, yang membuatku semakin jealous saja. Aku mencoba kembali bersama “Endang Ayu Sulistiawati”, aku coba mengingat kembali semua kenangan yang indah bersamanya sewaktu smp. Mulai dari menyimpan foto-fotonya, inboxan dengannya, smsan denganya, sampai mengajaknya ketemuan. Meski begitu di hatiku masih tersimpan rasa sayangaku kepada siti nurawal bulqiah. Suatu hari aku melihat si prass berfoto dengan cewek, dia bernama Mimih Bohai (nama samaran di facebook). Karena kepo aku coba tanya-tanya ke si prass
“Woi, prass…”
“Apa kak marwan”
“Lo udah putus sama si awal?”
“Udah kak”
“Owugh”
Aku coba untuk pdktan lagi sama si awal meski hanya lewat facebook, tapi setiap kami Pdktan dia selalu ngomong-ngomong tentang si prass. Aku coba untuk tersenyum meski hati sakit, gak papa lah meski sakit yang penting bisa bersamanya.
Waktupun berlalu aku akan coba kembali ngungakapin perasaanku tetapi lewat black berry massanger (bbm). Gak ada salahnya Untuk mencoba.
“Wal aku mau ngomong”
“Ngomong aja gak ada yang ngelarang kan?”
“Iya sih, aku sayang sama kamu.”
“Aku gak ngelarang siapa aja untuk sayang sama aku”
“Kamu sayang gak sama aku?”
“Sayang, tapi hanya sebatas teman.”
“Kok cuma teman?”
“Maunya”
“Aku pengen lebih dari teman”
“Maaf ya aku gak bisa balas cinta kamu.”
“Kenapa? lo masih suka sama si prass, lo gak bisa lupain dia kan?”
“gak gitu..”
“gak gitu gimana? ngaku aja deh lo, emang dasar lo gak punya hati”
“Coba lo bayangin gua pacaran dengan orang yang gak gua cinta, ditambah lo bilang sayang sama gua”
“gua cuma pengen lo terima cinta gua, itu doang”.
“Maaf gua gak bisa”
“Percuma gua ngomong sama orang yang gak punya hati”
“Trus aja ngomong”
“Emang dasar lo gak punya hati. Bodo ah gua mau tidur, percuma aja ngomong ama orang yang gak punya hati”
Akhirnya aku tak lagi menghubunginya, tapi setelah dipikir-pikir aku keterlaluan karena sudah ngatain dia gak punya hati pasti dia sakit hati padaku, maka dari itu aku ingin meminta maaf kepadanya. Akhirnya aku coba ngeBBMnya dan meminta maaf kepadanya.
“Awal, aku minta maaf ya sama kamu soal yang kemarin, kemarin aku emosi.”
“Makanya jangan asal ngomong aja”.
“Iya aku minta maaf. Maafin aku ya.”
“Ya udah aku maafin”
“Bagus deh kalo gitumah”.
Tapi rasanya belum afdol kalo belum minta maaf langsung ke orangnya, takutnya di bbm gak tulus. Kebetulan si awal lagi baca novel di perpustakaan.
“Awal, lagi ngapain?”
“Lagi baca novel”
“Oh… soal yang kemarin aku minta maaf ya..”
“gak”
“Ih… Kok gitu, maafin aku wal aku emosi waktu itu.”
Awal terdiam dan meninggalkanku
Aku pun mengejarnya, kupegang pundaknya dan berkata “Awal aku minta maaf.”
“huush jauh-jauh bukan mukhrim”
“iya, tau”
“Wal tunggu dulu geh, aku minta maaf.”
Aku mengikuti si awal sampai ke masjid
“ya udah aku maafin.”
“makasih”
“iya, sana ini tempat sholat akhwat, ikhwan dilarang masuk”
“ya udah geh”
Setelah kami berdua saling memaafkan, aku memutuskan untuk berteman saja meskipun aku menginginkan dia sebagai pacarku. Tak apa walau hanya sebagai teman setidaknya bisa melihatnya tersenyum dan bahagia meski aku tau masih ada kebencian di matamu “SITI NURAWAL BULQIAH”.
Cerpen Karangan: Marwan Santosa
Facebook: Marwan Santosa
Di saat aku berpikir semua akan terasa indah, tetapi ternyata justru sebaliknya. Ku tak pernah berpikir semua ini akan terjadi. Aku baru menyadari bahwa sakit hati angat pedih. Tak pernah terpikir olehku akan begitu menyakitkan. Pertama kali aku melihatnya rasanya semua terasa nyaman dan indah. Awal mula ku mengenalnya ketika waktu itu Dia memanggilku dengan suaranya yang lemah lembut “jam berapa sekarang?” Dia bertanya padaku. “Jam 2 lebih 10” jawabku. “Yah kita telat pasti di hukum”. Ia Mengeluh. “Iya pasti lah” aku tersenyum kepadanya
“Ya udah kita ke sana yuk!”. dia mengajaku
“Ayo”.
Akhirnya kita datang ke pramuka bersama, setelah masuk ke pramuka kita berdua dihukum 2 seri oleh DAS karena telat 10 menit. Setelah kegiatan pramuka selesai, aku beranjak untuk pulang. Tetapi di jalan aku melihatnya dan dia melihatku. Dia tersenyum kepadaku dan aku menghampirinya. Di perjalanan aku ngobrol ngobrol dengannya.
“Kalo boleh tau Rumah kamu dimana?”
“Di narimbang”
“Oh, deket dong.”
“Iya”
Di perjalanan aku bersamanya ketawa dan ketiwi di sepanjang perjalanan. Sampai pada akhirnya ada sebuah angakot yang sudah menungguku. Kemudian aku berpamitan kepadanya “duluan ya..” Ucapku. “Iya”. Angakot yang kunaiki berjalan melewatinya, selama angkot yang kunaiki berjalan di belakang, dia tersenyum lebar kepadaku.
Keesokan harinya aku kembali bertemu dengannya di sebuah organisai yaitu “ikrama”. Di organisasi itu kita dikumpulkan semuanya karena ada acara 2 hari lagi. Di situ aku melihatnya yang sedang mendengarkan ucapan dari pengurus. Ketika aku melihatnya sungguh luar biasanya anugerah tuhan YME. Lama kelamaan aku melihatnya aku begitu merasa nyaman. Kemudian dia tak sengaja melihatku dan tersenyum kepadaku, saat itulah aku tersadar bahwa inilah cinta.
Hari demi hari pun ku lalui bersamanya, tak jarang kutemui dia di perpustakan sekolah, tetapi aku tidak tahu siapa namanya, makanya aku coba cari tahu namanya, untungnya aku pernah melihat dia bersama temannya dan temannya tersebut adalah temanku di smp, dia bernama Cucu nurainun, si cucu adalah temanku, kami pernah sekelas di kelas 8B.
“Cucu…”
“Apa, marwan?”
“Yang tadi ngobrol sama cucu siapa?”
“Ehmm…”
“Kenapa cu?”
“Tadi namanya si awal.”
“Kayak mirip siapa gitu ya..?”
“Mirip si Endang ya…”
Aku Tersenyum
“Hemmm”
“Apa sih cu, Ya udah deh makasih cu”
“Iya, sama-sama”.
Sering kali aku mengajak si awal untuk ngobrol dan tak jarang pula ku melihat dia tertawa di depanku. Canda tawa, senyuman dan kebahagiaan mewarnai keHidupan kami. Karena jam istirahat yang sama kami juga sering bertemu di kantin sekolah, di kantin aku hanya bisa meliriknya dari kejauhan karena dia selalu bersama teman-temanya begitupun diriku, kami juga sering bertemu di istirahat ke-2 yaitu tepatnya jam 12 siang, karena di jam tersebut anak pramuka sering disuruh berkumpul. Hari dan hari sering kulalui bersamanya. Aku menjadi yakin kalau dialah cintaku. Aku selalu mencoba untuk mengungakapkan perasaanku kepadanya tapi aku menunggu waktu yang tepat, aku berencana untuk mengungakapkan perasaanku tepatnya hari jum’at 25 september 2015. Tetapi aku gak jadi, aku berpikir itu terlalu terburu-buru jadi aku memutuskan untuk mengungakapkannya di hari sabtu 26 september 2015. Aku coba mengajaknya Ke sebuah tempat yang sepi yaitu di belakang 12 ap 2.
“Awal”
“Iya, apa?”
“Aku mau ngomong”
“Mau ngomong apa?”
“gak jadi deh”
“Kok gak jadi?”
“Aku gak yakin”
“Atuh gak papa”
“Awal!”
“Iyaaa apaa”
“Sebenarnya aku em em em. suka sama kamu. kamuuu mau gak eh… jadi pacar aku?”
“Hmm, maaf ya aku udah punya pacar, namanya prass permana, maaf banget” tangannya menyentuhku “ya udah aku ke kelas dulu.”
Sekarang aku baru menyadari begitu sakitnya cinta ditolak, setelah penolakan itu aku berjalan ke sebuah masjid untuk curhat kepada tuhan. “Ya ALLAH ternyata sakit rasanya ketika kita berharap kepada sesuatu dan harapan tersebut tidak pernah terwujud bahkan hanya sebatas harapan palsu. Itu yang selalu aku ucapkan. Saat itu juga aku sholat duha untuk meminta petunjuk dariNya. Di setiap sujudku selalu terbayang-bayang wajahnya, mungkin aku benar-benar mencintainya sampai-sampai dirinya masih terus terbayang di benakku. Aku mencoba melupakannya dengan mengisi waktuku dengan hal yang positif seperti sholat tahajud di malam hari, mengaji di waktu subuh, mentadabur al-Qur’an di pagi hari, kemudian sholat dhuha, belajar di kelas bersama siswa dan guru, membaca buku-buku islami di jam istirahat, dan melanjutkan sholat dzuhur, belajar kembali di kelas, sholat ashar, bermain futsal bersama teman, sholat magrib setelah itu mengaji, belajar dan tidur. Itu yang selalu kulakukan setiap hari.
Sedikit demi sedikit rasa ini mulai hilang, tetapi karena kami sering bertemu aku menjadi sangat sulit untuk melupakannya. Selain itu dia juga memasang nama si pras di bbmnya, yang membuatku semakin jealous saja. Aku mencoba kembali bersama “Endang Ayu Sulistiawati”, aku coba mengingat kembali semua kenangan yang indah bersamanya sewaktu smp. Mulai dari menyimpan foto-fotonya, inboxan dengannya, smsan denganya, sampai mengajaknya ketemuan. Meski begitu di hatiku masih tersimpan rasa sayangaku kepada siti nurawal bulqiah. Suatu hari aku melihat si prass berfoto dengan cewek, dia bernama Mimih Bohai (nama samaran di facebook). Karena kepo aku coba tanya-tanya ke si prass
“Woi, prass…”
“Apa kak marwan”
“Lo udah putus sama si awal?”
“Udah kak”
“Owugh”
Aku coba untuk pdktan lagi sama si awal meski hanya lewat facebook, tapi setiap kami Pdktan dia selalu ngomong-ngomong tentang si prass. Aku coba untuk tersenyum meski hati sakit, gak papa lah meski sakit yang penting bisa bersamanya.
Waktupun berlalu aku akan coba kembali ngungakapin perasaanku tetapi lewat black berry massanger (bbm). Gak ada salahnya Untuk mencoba.
“Wal aku mau ngomong”
“Ngomong aja gak ada yang ngelarang kan?”
“Iya sih, aku sayang sama kamu.”
“Aku gak ngelarang siapa aja untuk sayang sama aku”
“Kamu sayang gak sama aku?”
“Sayang, tapi hanya sebatas teman.”
“Kok cuma teman?”
“Maunya”
“Aku pengen lebih dari teman”
“Maaf ya aku gak bisa balas cinta kamu.”
“Kenapa? lo masih suka sama si prass, lo gak bisa lupain dia kan?”
“gak gitu..”
“gak gitu gimana? ngaku aja deh lo, emang dasar lo gak punya hati”
“Coba lo bayangin gua pacaran dengan orang yang gak gua cinta, ditambah lo bilang sayang sama gua”
“gua cuma pengen lo terima cinta gua, itu doang”.
“Maaf gua gak bisa”
“Percuma gua ngomong sama orang yang gak punya hati”
“Trus aja ngomong”
“Emang dasar lo gak punya hati. Bodo ah gua mau tidur, percuma aja ngomong ama orang yang gak punya hati”
Akhirnya aku tak lagi menghubunginya, tapi setelah dipikir-pikir aku keterlaluan karena sudah ngatain dia gak punya hati pasti dia sakit hati padaku, maka dari itu aku ingin meminta maaf kepadanya. Akhirnya aku coba ngeBBMnya dan meminta maaf kepadanya.
“Awal, aku minta maaf ya sama kamu soal yang kemarin, kemarin aku emosi.”
“Makanya jangan asal ngomong aja”.
“Iya aku minta maaf. Maafin aku ya.”
“Ya udah aku maafin”
“Bagus deh kalo gitumah”.
Tapi rasanya belum afdol kalo belum minta maaf langsung ke orangnya, takutnya di bbm gak tulus. Kebetulan si awal lagi baca novel di perpustakaan.
“Awal, lagi ngapain?”
“Lagi baca novel”
“Oh… soal yang kemarin aku minta maaf ya..”
“gak”
“Ih… Kok gitu, maafin aku wal aku emosi waktu itu.”
Awal terdiam dan meninggalkanku
Aku pun mengejarnya, kupegang pundaknya dan berkata “Awal aku minta maaf.”
“huush jauh-jauh bukan mukhrim”
“iya, tau”
“Wal tunggu dulu geh, aku minta maaf.”
Aku mengikuti si awal sampai ke masjid
“ya udah aku maafin.”
“makasih”
“iya, sana ini tempat sholat akhwat, ikhwan dilarang masuk”
“ya udah geh”
Setelah kami berdua saling memaafkan, aku memutuskan untuk berteman saja meskipun aku menginginkan dia sebagai pacarku. Tak apa walau hanya sebagai teman setidaknya bisa melihatnya tersenyum dan bahagia meski aku tau masih ada kebencian di matamu “SITI NURAWAL BULQIAH”.
Cerpen Karangan: Marwan Santosa
Facebook: Marwan Santosa
Inikah Patah Hati
4/
5
Oleh
Unknown
