Jodoh Pasti Bertemu

Baca Juga :
    Judul Cerpen Jodoh Pasti Bertemu

    Aku terdiam seribu bahasa menyaksikan drama nyata yang begitu memilukan. Bahkan sekedar berkomentar satu huruf pun aku tak kuasa. Kubiarkan hati ini beku, kubiarkan pikiran ini kacau tak keruan, kubiarkan deru air mata ini membanjiri pipiku.

    “Mengapa kau setega ini padaku? Apa salahku?” pertanyaan perdana yang kukeluarkan dari mulutku. Mencoba mengobati rasa penasaran ini. Kau diam tak bergeming sama sekali. Apa aku seburuk itu sehingga kau membatalkan pernikahan ini. Aku mulai menggerutu keadaan.
    “adakah aibku yang membuatmu mundur?” kembali aku lontarkan pertanyaan sederhana namun bermakna dalam. Kau juga masih tak mau angkat bicara. Kuperhatikan wajahmu, wajah yang menyimpan mata yang mulai menyipit dan mulai berkaca-kaca.
    “Hmmmm” kau menghela nafas. Tiba-tiba kau mengeluarkan sepucuk surat yang dibalut dengan amplop berwarna merah muda. Kuterima surat itu dan buru-buru kubaca. Kukira itu surat undangan pernikahanmu dengan wanita lain, tapi ternyata surat itu berisi pernyataanmu bahwa kau akan melanjutkan S2 mu ke luar negeri. Lagi-lagi aku tak mampu berkomentar. Hanya senyum getir dari bibirku yang mewakili segala isi hati.

    Kemudian kau menatapku lekat. Seolah ingin menyampaikan sesuatu, dan aku menunggu itu.
    “Hanya kau gadis yang ingin aku nikahi. Ayah memintaku untuk melanjutkan study ke luar negeri, sementara hati ini ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan denganmu. Aku tak pandai memilih pilihan. Adinda, seandainya kita menikah dan setelah menikah aku pergi ke luar negeri untuk mengabulkan permintaan ayahku bagaimana? Ayah dan kau adalah 2 insan yang sangat kucinta. Ku tak mungkin hanya mengabulkan salah satu diantaranya saja” jelasmu sedetail mungkin.

    Aku tahu, kau sangat mencintai ayahmu dan juga aku. Penjelasanmu itu sungguh telah membuat aku bimbang. Sebab, Ayahku ingin agar aku segera menikah denganmu. Kalaulah aku menikah denganmu dan setelah itu kau pergi demi studymu, pasti ayahku tidak ridho. Sebab ayahku ingin segera menikahkanku agar ada sosok yang dapat menemani dan menjagaku.

    Sejenak kita saling diam, saling menyapa lewat sorot mata. Kulihat matamu mulai basah bergantian dengan hatiku yang sudah gundah gulana. Sesekali kau melempar batu kecil-kecil ke dalam kolam yang berada di depan kita.

    “Cinta kita tengah diuji. Namun jika kau ingin melanjutkan studymu, kupersilahkan. Namun jika kau kembali dan melihatku telah bersama yang lain, jangan salahkan aku atau jangan salahkan siapapun” jawabku tegas.
    “Maksudmu?” jawabmu begitu polos.
    “Kau ingin menikah dengan yang lain?” tanyamu dengan tatapan tajam padaku. Seketika aku menyesal dengan jawabanku tadi. Sejujurnya aku hanya sedekar menggertak dan menggurutu.
    Sampai akhirnya senja datang menghampiri. Aku dan kau pun lekas pulang.

    Di tengah perjalananku dengar sayup-sayup suara adzan. Kuputuskan untuk singgah ke masjid terdekat untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba.
    “Ya Rabb, Engkau sebaik-baiknya pengatur skenario. Kuserahkan semua padamu ya Kariim. Sungguh, aku hanya hamba-Mu yang lemah, tak punya daya dan upaya sedikitpun untuk menjengkali takdir-Mu” doaku kepada Allah.

    Sebulan tak ada kabar darimu, aku merasa cemas. Tapi, ahh.. Ya sudah lah. Mungkin kau sudah terbang ke negara yang kau tuju untuk melanjutkan studymu. Huuuu.. Aku menghela nafas untuk kemudian mulai merebahkan tubuh ke atas renjang.
    Tiba-tiba ponselku berdering tanda ada pesan masuk. Kuraih ponselku dan kulihat itu pesan darimu. Ah mungkin isinya hanya pemberitahuan bahwa kau akan berangkat. Pikirku begitu singkat, hingga aku pun tak membaca pesan itu dan meletakkan kembali ponselku ke atas meja. Kemudian aku kembali merebahkan tubuh untuk sejenak menenangkan hati dan pikiran. Namun tiba-tiba kudengar suara lelaki memanggilku dari luar pintu kamar.
    “Dinda.. Din.. Kau sudah tidur, nak?”
    Aku tahu itu pasti ayah. Aku pun segera bangkit dari ranjang dan bergegas ke luar kamar untuk menemui ayah. Ayah mengajakku untuk ngobrol di ruang tamu.
    “Nak, bagaimana rencana pernikahanmu dengan dia?” tanya ayah padaku.
    Pertanyaan yang membuatku terperanjat. Jantungku berdegup tak keruan. Aku bingung harus memberi jawaban apa.
    “Ayah, kok pertanyaannya kayak gitu sih. Ini kan udah malam, Yah. Lebih baik kita tidur aja ya Yah” kataku membujuk ayah agar ayah tidak membahas soal pernikahan ini. Akhirnya ayah menyuruhku untuk tidur. Aku langsung bergegas menuju kamar.

    Ketika aku sudah memasuki kamar, kulihat ponselku kembali berdering pertanda ada pesan masuk. Kulihat lagi-lagi pesan itu dari kau. Aku menghela nafas, dan kali ini aku buka ternyata pesan itu berisi membatalkan studymu demi menikah denganku dan keputusan itu atas persejutuan ayahmu. Aku sangat senang sekali.

    Tiga hari kemudian kau dan keluargamu datang untuk mengkhitbahku. Akhirnya kau dan aku menikah juga.

    Cerpen Karangan: Indri Wahyuniati
    Facebook: Indri Wahyuniati Mps

    Artikel Terkait

    Jodoh Pasti Bertemu
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email