Judul Cerpen Hilang Dan Kembali (Part 1)
Aku merindukan masa kanak-kanakku. Masa dimana aku hanya mengenal permen, balon dan mainan. Masa dimana lutut yang sakit karena terjatuh bukan hati. Simple sekali masa kanak-kanak. Perkenalkan namaku ‘Imelda Safitri’. Orang-orang di sekitarku mengenalku sebagai sosok gadis pendiem. Benar saja, hari-hariku hanya dikelilingi lukisan. Yaaah, aku hobby melukis. Melukis menjadi salah satu cara untukku menuangkan segala rasa yang kualami tanpa perlu susah payah bercerita kesana kemari. Ayahlah yang pertama kali mengenalkan dunia melukis. Hari-hariku banyak dihabiskan di depan kanvas, mungkin karena inilah aku tak mempunyai teman. Usia ku sekarang sudah 23 tahun. Biasanya di usia segitu orang-orang lebih cenderung sibuk dengan kisah asmaranya, tapi tidak dengan aku. Aku bahkan belum menemukan seorang pangeran pujaan hati.
Hari ini moodku lagi kacau, sepertinya aku butuh refreshing untuk sekedar mencari mood yang berantakan. Tugas kuliah lagi banyak-banyaknya. Aku memutuskan untuk ke pantai sekedar memandang senja, laut dan ombak. Untuk beberapa saat aku terdiam memandang ombak. Kadang aku berpikir kenapa selalu hanya suara ombak yang membuatku nyaman. Dari kejauhan aku melihat sesosok pria tergeletak di atas pasir pantai. Bergegas aku menghampirinya.
“Mas, bangun..” Ucapku
Napasnya masih ada, begitu juga dengan denyut nadinya. Mungkin dia hanya pingsan. Aku bingung harus berbuat apa, kalo dilihat dari wajah dan perawakan badannya, bisa jadi pria ini berumur 25 tahun. Tubuhnya tinggi, berkulit putih, rambut belah samping rapi. Tiba-tiba aku ingat tentang metode napas buatan, tapi aku ragu untuk melakukannya. Dia orang yang bahkan sama sekali tidak aku kenal, tapi kalau tidak segera ditolong bisa jadi kondisinya akan semakin parah. Akhirnya aku memberanikan diri memberikan napas buatan untuknya. Entahlah caranya benar atau salah. 5 menit kemudia pria itu batuk dan tersadar. Terlihat sangat lemas sekali.
“Hey mas kamu sudah sadar?” Ucapku setengah senang karena pertolonganku ternyata berhasil.
“Iya, terima kasih sudah menolongku. Maaf merepotkan”.
“Santai saja, kebetulan saya tadi lagi duduk disana dan melihatmu pingsan”.
“Perkenalkan namaku reyhan, dan siapa namamu?” Reyhan menjulurkan tangannya.
“Aku imel, oh yaaa aku pamit pulang yah. Kamu sudah tidak kenapa-kenapa kan mas?”
“Iya sudah sehat kok. Terima kasih”
Aku hanya membalas dengan senyum manis ke arahnya, lalu bergegas pergi..
Akhir-akhir ini ada aku selalu mendapatkan kiriman buket bunga dari seseorang. Tiap sore aku selalu menemukan buket itu di depan pintu rumah. Aku berpikir mungkin ini kerjaan seno. Dari dulu dia memang terobsesi sekali ingin menjadi kekasihku.
“Dapet buket bunga lagi yah non?” Tanya bi inah.
“Iya nih bii, kalo dapet bunga begini tiap hari bisa-bisa rumah ini jadi kebun bunga bi hehe..”
Seno memang baik, dia teman SMA ku dulu. Ayahnya pengusaha keramik. Sejak lulus SMA seno ikut sibuk mengurusi usaha ayahnya. Beberapa kali juga dia sering main ke rumah ini. Tapi akhir-akhir ini dia jarang main. Mungkin lagi sibuk, memang kebiasaannya dia kalau main pasti bawa buket bunga. Entahlah maksudnya apa aku tidak tau.
Hari ini aku dapet job melukis di taman deket rumah. Kami janjian pukul 16.00 WIB di dekat danau. Dia tidak menyebutkan namanya, tapi ya sudahlah menurutku itu bukan masalah yang besar.
Tepat pukul 16.00 WIB aku sudah berada di dekat danau, aku belum melihat seseorang disini. Mungkin dia belum datang. Beberapa menit kemudian tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.
“Hey..”
Aku segera menoleh,
“Lhoh kamu…” Aku kaget ternyata dia reyhan. Pria yang waktu itu aku tolong di pantai.
“Hehe, iya aku yang memesan minta dilukis”.
“Darimana kamu tau aku pelukis?”
“Dari bordiran di tasmu itu, ‘Imelda_art’. Aku pikir itu nama IG mu, saat aku iseng buka ternyatanya benar itu IG mu. Dari situ aku tau alamat serta hobbymu”.
Aku melirik sudut tasku, iya memang benar ada tulisan itu. Aku memang sengaja memberi bordiran itu di sudut tasku. Karena aku tipe orang pelupa, siapa tau saja tas ini jatuh jadi si penemu bisa menghubungi via IG.
“Oh gitu yah hehee, jadi kamu mau minta dilukisin apa mas?”
“Lukisin wajahku yah, berapa jam nih?”
“Hmm.. sekitar 2 jam”
“Oke ayo”
Dia mengambil posisi duduk di hadapanku. Dan aku sudah anteng bersiap-siap dengan kuas dan kanvasku. Kuas mulai menyapu kanvas putih itu. Sedikit demi sedikit membentuk sebuah bentuk wajah. Tepat pukul 17.25 WIB lampu taman dekat reyhan duduk mulai menyala, itu cukup membantuku untuk lebih jelas melihat wajah pria itu.
“Sudah selesai mas”
“Ahh akhirnya selesai juga, punggungku sudah terasa mati rasa sekali gara-gara tidak boleh gerak selama 2 jam”
“Hehe, ya memang begitu peraturannya mas. Ini lukisannya mas”.
“Waaah ternyata kamu memang berbakat. Oh yaa, ini untukmu.” Reyhan menyodorkan uang ke tangan imel.
“Ehh tidak usah mas, anggap saja itu sebagai tanda pertemanan kita.”
“Sudahlah ambil saja, terima kasih yah aku pulang.”
Sebenarnya imel melukis memang untuk mencari tambahan uang operasi untuk ayahnya. Sejak 3 tahun ini ayahnya buta. Beliau hanya berharap mendapatkan donor kornea. Memang jarang jaman sekarang ada orang yang mau mendonorkan kornea. Tapi imel yakin suatu saat ayahnya pasti bisa kembali melihat dan melukis.
Satu bulan kemudian kabar gembira datang. Pihak bank mata memberi kabar bawa sang ayah mendapatkan donor kornea. Dan malam ini operasi itu akan dilakukan. Betapa senangnya aku mendengar hal itu. Aku sudah tidak sabar melihat ayah bisa melihat lagi, rasanya sudah sangat lama sekali.
“Do’ain ayah yah nak”. Ucap ayah sebelum masuk ke ruang operasi.
“Pasti yah, pasti imel do’ain. Imel bakal nunggu ayah sampai selesai operasi, ayah tenang aja.” Imel mencium kening ayahnya sebelum akhirnya para suster membawanya masuk ke dalam ruang operasi. Operasi ini memakan waktu sekitar 3 jam.
Imel sangat penasaran siapa yang memberikan donor kornea untuk ayahnya. Siapa orang yang berbaik hati bak malaikat penolong itu. Karena penasaran akhirnya dia mencari tau ke pihak bank mata.
Awalnya mereka tidak mau bilang, tapi tiba-tiba ada seorang ibu menepuk pundaknya. Imel langsung menoleh. Ibu itu bercucuran air mata, matanya sangat sembab sekali. Imel bahkan tidak mengenal siapa ibu itu.
“Maaf ibu siapa?” Tanyanya pada ibu itu.
“Apakah kamu anak dari orang yang dapet donor kornea itu?”
“Iyaah, saya anak dari bapak suhadi bu. Memang ada apa bu? Ibu siapa? Kenapa ibu menangis?” Ibu itu langsung memeluk erat tubuhku. Aku bingung, ini kenapa.
Saat si ibu sudah tenang, dia akhirnya cerita. Sebelumnya dia menyodorkan beberapa bingkisan kepadaku.
“Ini apa bu?”
“Ini untukmu?”
“Untukku? Dari siapa?”
“Buka saja nanti kamu akan tau..”
Akhirnya aku membuka salah satu bingkisan paling besar. Dan betapa terkejutnya aku..
“Loh, ini kan lukisan wajahnya mas reyhan bu. Maksudnya apa ini bu? Ibu siapa?”
“Iyah itu lukisan wajah reyhan yang katanya hasil dari lukisanmu. Saya ibu angkatnya reyhan..” Ibu itu kembali menangis.
“Ibu angkatnya mas reyhan? Terus apa hubunganya dengan saya bu?”
“Reyhan dulu pernah cerita sama ibu, kalo waktu kecil dia mempunyai sabahat perempuan. Dia cantik, cengeng, dan pendiam. Hobbynya melukis, suatu hari reyhan pernah menjaili gadis itu sampai menangis. karena reyhan tidak sengaja merusakan kotak musik miliknya. Reyhan tidak tau kalo ternyata kotak musik itu hadiah ulangtahun dari ayah gadis itu. Sejak saat itu reyhan dihantui rasa bersalah. Dengan berbagai usaha reyhan mendatangi seseorang yang dianggapnya bisa memperbaiki kotak musik itu. Dia berhasil memperbaiki kotak musik itu. Tapi sayangnya saat dia ingin mengembalikannya pada gadis sahabat kecilnya itu, dia sudah tidak lagi tinggal disana. Menurut kabar yang beredar dia pindah ke jakarta. Dan reyhan cerita kalo dia kemarin habis ketemu gadis itu. Dia terlihat tambah cantik katanya..”
“Tunggu bu, aku seperti kenal kisah ini. Ini seperti kisahku 18 tahun yang lalu. Apa jangan-jangan mas reyhan ituuu..”
“Iyaaah reyhan itu sahabat masa kecilmu. Dia yang merusakan kotak musik hadiah dari ayahmu itu..”
“Yaaa Tuhaaan, mas reyhan. Aku juga sebenarnya mencari-cari dia bu. Terus dimana dia bu..” Ucapku semangat.
Cerpen Karangan: N Aprilia F
Facebook: N Aprilia Fitriani
Aku merindukan masa kanak-kanakku. Masa dimana aku hanya mengenal permen, balon dan mainan. Masa dimana lutut yang sakit karena terjatuh bukan hati. Simple sekali masa kanak-kanak. Perkenalkan namaku ‘Imelda Safitri’. Orang-orang di sekitarku mengenalku sebagai sosok gadis pendiem. Benar saja, hari-hariku hanya dikelilingi lukisan. Yaaah, aku hobby melukis. Melukis menjadi salah satu cara untukku menuangkan segala rasa yang kualami tanpa perlu susah payah bercerita kesana kemari. Ayahlah yang pertama kali mengenalkan dunia melukis. Hari-hariku banyak dihabiskan di depan kanvas, mungkin karena inilah aku tak mempunyai teman. Usia ku sekarang sudah 23 tahun. Biasanya di usia segitu orang-orang lebih cenderung sibuk dengan kisah asmaranya, tapi tidak dengan aku. Aku bahkan belum menemukan seorang pangeran pujaan hati.
Hari ini moodku lagi kacau, sepertinya aku butuh refreshing untuk sekedar mencari mood yang berantakan. Tugas kuliah lagi banyak-banyaknya. Aku memutuskan untuk ke pantai sekedar memandang senja, laut dan ombak. Untuk beberapa saat aku terdiam memandang ombak. Kadang aku berpikir kenapa selalu hanya suara ombak yang membuatku nyaman. Dari kejauhan aku melihat sesosok pria tergeletak di atas pasir pantai. Bergegas aku menghampirinya.
“Mas, bangun..” Ucapku
Napasnya masih ada, begitu juga dengan denyut nadinya. Mungkin dia hanya pingsan. Aku bingung harus berbuat apa, kalo dilihat dari wajah dan perawakan badannya, bisa jadi pria ini berumur 25 tahun. Tubuhnya tinggi, berkulit putih, rambut belah samping rapi. Tiba-tiba aku ingat tentang metode napas buatan, tapi aku ragu untuk melakukannya. Dia orang yang bahkan sama sekali tidak aku kenal, tapi kalau tidak segera ditolong bisa jadi kondisinya akan semakin parah. Akhirnya aku memberanikan diri memberikan napas buatan untuknya. Entahlah caranya benar atau salah. 5 menit kemudia pria itu batuk dan tersadar. Terlihat sangat lemas sekali.
“Hey mas kamu sudah sadar?” Ucapku setengah senang karena pertolonganku ternyata berhasil.
“Iya, terima kasih sudah menolongku. Maaf merepotkan”.
“Santai saja, kebetulan saya tadi lagi duduk disana dan melihatmu pingsan”.
“Perkenalkan namaku reyhan, dan siapa namamu?” Reyhan menjulurkan tangannya.
“Aku imel, oh yaaa aku pamit pulang yah. Kamu sudah tidak kenapa-kenapa kan mas?”
“Iya sudah sehat kok. Terima kasih”
Aku hanya membalas dengan senyum manis ke arahnya, lalu bergegas pergi..
Akhir-akhir ini ada aku selalu mendapatkan kiriman buket bunga dari seseorang. Tiap sore aku selalu menemukan buket itu di depan pintu rumah. Aku berpikir mungkin ini kerjaan seno. Dari dulu dia memang terobsesi sekali ingin menjadi kekasihku.
“Dapet buket bunga lagi yah non?” Tanya bi inah.
“Iya nih bii, kalo dapet bunga begini tiap hari bisa-bisa rumah ini jadi kebun bunga bi hehe..”
Seno memang baik, dia teman SMA ku dulu. Ayahnya pengusaha keramik. Sejak lulus SMA seno ikut sibuk mengurusi usaha ayahnya. Beberapa kali juga dia sering main ke rumah ini. Tapi akhir-akhir ini dia jarang main. Mungkin lagi sibuk, memang kebiasaannya dia kalau main pasti bawa buket bunga. Entahlah maksudnya apa aku tidak tau.
Hari ini aku dapet job melukis di taman deket rumah. Kami janjian pukul 16.00 WIB di dekat danau. Dia tidak menyebutkan namanya, tapi ya sudahlah menurutku itu bukan masalah yang besar.
Tepat pukul 16.00 WIB aku sudah berada di dekat danau, aku belum melihat seseorang disini. Mungkin dia belum datang. Beberapa menit kemudian tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.
“Hey..”
Aku segera menoleh,
“Lhoh kamu…” Aku kaget ternyata dia reyhan. Pria yang waktu itu aku tolong di pantai.
“Hehe, iya aku yang memesan minta dilukis”.
“Darimana kamu tau aku pelukis?”
“Dari bordiran di tasmu itu, ‘Imelda_art’. Aku pikir itu nama IG mu, saat aku iseng buka ternyatanya benar itu IG mu. Dari situ aku tau alamat serta hobbymu”.
Aku melirik sudut tasku, iya memang benar ada tulisan itu. Aku memang sengaja memberi bordiran itu di sudut tasku. Karena aku tipe orang pelupa, siapa tau saja tas ini jatuh jadi si penemu bisa menghubungi via IG.
“Oh gitu yah hehee, jadi kamu mau minta dilukisin apa mas?”
“Lukisin wajahku yah, berapa jam nih?”
“Hmm.. sekitar 2 jam”
“Oke ayo”
Dia mengambil posisi duduk di hadapanku. Dan aku sudah anteng bersiap-siap dengan kuas dan kanvasku. Kuas mulai menyapu kanvas putih itu. Sedikit demi sedikit membentuk sebuah bentuk wajah. Tepat pukul 17.25 WIB lampu taman dekat reyhan duduk mulai menyala, itu cukup membantuku untuk lebih jelas melihat wajah pria itu.
“Sudah selesai mas”
“Ahh akhirnya selesai juga, punggungku sudah terasa mati rasa sekali gara-gara tidak boleh gerak selama 2 jam”
“Hehe, ya memang begitu peraturannya mas. Ini lukisannya mas”.
“Waaah ternyata kamu memang berbakat. Oh yaa, ini untukmu.” Reyhan menyodorkan uang ke tangan imel.
“Ehh tidak usah mas, anggap saja itu sebagai tanda pertemanan kita.”
“Sudahlah ambil saja, terima kasih yah aku pulang.”
Sebenarnya imel melukis memang untuk mencari tambahan uang operasi untuk ayahnya. Sejak 3 tahun ini ayahnya buta. Beliau hanya berharap mendapatkan donor kornea. Memang jarang jaman sekarang ada orang yang mau mendonorkan kornea. Tapi imel yakin suatu saat ayahnya pasti bisa kembali melihat dan melukis.
Satu bulan kemudian kabar gembira datang. Pihak bank mata memberi kabar bawa sang ayah mendapatkan donor kornea. Dan malam ini operasi itu akan dilakukan. Betapa senangnya aku mendengar hal itu. Aku sudah tidak sabar melihat ayah bisa melihat lagi, rasanya sudah sangat lama sekali.
“Do’ain ayah yah nak”. Ucap ayah sebelum masuk ke ruang operasi.
“Pasti yah, pasti imel do’ain. Imel bakal nunggu ayah sampai selesai operasi, ayah tenang aja.” Imel mencium kening ayahnya sebelum akhirnya para suster membawanya masuk ke dalam ruang operasi. Operasi ini memakan waktu sekitar 3 jam.
Imel sangat penasaran siapa yang memberikan donor kornea untuk ayahnya. Siapa orang yang berbaik hati bak malaikat penolong itu. Karena penasaran akhirnya dia mencari tau ke pihak bank mata.
Awalnya mereka tidak mau bilang, tapi tiba-tiba ada seorang ibu menepuk pundaknya. Imel langsung menoleh. Ibu itu bercucuran air mata, matanya sangat sembab sekali. Imel bahkan tidak mengenal siapa ibu itu.
“Maaf ibu siapa?” Tanyanya pada ibu itu.
“Apakah kamu anak dari orang yang dapet donor kornea itu?”
“Iyaah, saya anak dari bapak suhadi bu. Memang ada apa bu? Ibu siapa? Kenapa ibu menangis?” Ibu itu langsung memeluk erat tubuhku. Aku bingung, ini kenapa.
Saat si ibu sudah tenang, dia akhirnya cerita. Sebelumnya dia menyodorkan beberapa bingkisan kepadaku.
“Ini apa bu?”
“Ini untukmu?”
“Untukku? Dari siapa?”
“Buka saja nanti kamu akan tau..”
Akhirnya aku membuka salah satu bingkisan paling besar. Dan betapa terkejutnya aku..
“Loh, ini kan lukisan wajahnya mas reyhan bu. Maksudnya apa ini bu? Ibu siapa?”
“Iyah itu lukisan wajah reyhan yang katanya hasil dari lukisanmu. Saya ibu angkatnya reyhan..” Ibu itu kembali menangis.
“Ibu angkatnya mas reyhan? Terus apa hubunganya dengan saya bu?”
“Reyhan dulu pernah cerita sama ibu, kalo waktu kecil dia mempunyai sabahat perempuan. Dia cantik, cengeng, dan pendiam. Hobbynya melukis, suatu hari reyhan pernah menjaili gadis itu sampai menangis. karena reyhan tidak sengaja merusakan kotak musik miliknya. Reyhan tidak tau kalo ternyata kotak musik itu hadiah ulangtahun dari ayah gadis itu. Sejak saat itu reyhan dihantui rasa bersalah. Dengan berbagai usaha reyhan mendatangi seseorang yang dianggapnya bisa memperbaiki kotak musik itu. Dia berhasil memperbaiki kotak musik itu. Tapi sayangnya saat dia ingin mengembalikannya pada gadis sahabat kecilnya itu, dia sudah tidak lagi tinggal disana. Menurut kabar yang beredar dia pindah ke jakarta. Dan reyhan cerita kalo dia kemarin habis ketemu gadis itu. Dia terlihat tambah cantik katanya..”
“Tunggu bu, aku seperti kenal kisah ini. Ini seperti kisahku 18 tahun yang lalu. Apa jangan-jangan mas reyhan ituuu..”
“Iyaaah reyhan itu sahabat masa kecilmu. Dia yang merusakan kotak musik hadiah dari ayahmu itu..”
“Yaaa Tuhaaan, mas reyhan. Aku juga sebenarnya mencari-cari dia bu. Terus dimana dia bu..” Ucapku semangat.
Cerpen Karangan: N Aprilia F
Facebook: N Aprilia Fitriani
Hilang Dan Kembali (Part 1)
4/
5
Oleh
Unknown
