Judul Cerpen Yang Lebih Baik
Namaku Zahira, aku adalah seorang anak yang terkena Leukimia.
“Zahira, sudah waktunya minum obatmu nak!” kata ibu sembari membawa obat-obatan untukku.
“Untuk apa bu aku minum obat? percuma saja kan kalau aku minum obat!” balasku.
“Tetapi setidaknya untuk mengurangi nyerimu kan!” kata ibu lagi.
Segera kuminum obat itu, setelahnya nampak ayah yang baru datang ke rumah sakit.
“Selamat pagi nak!” sapa ayah ramah.
“Selamat pagi juga ayah, lihatlah putri kita ini sudah marah pagi-pagi” balas ibu.
“Nak, kenapa kau marah? apa yang membuatmu kesal?” tanya ayah.
“Aku ini anak yang paling tidak beruntung di dunia ini kan? buktinya aku sakit dan tak kunjung sembuh, lagipula umurku sudah tinggal beberapa hari lagi!” kataku.
“Kau tidak boleh berkata seperti itu! jangan kau merasa lelah tentang penyakitmu, jangan mengeluh di setiap kata-katamu!” balas ayah.
“Kenapa?” tanyaku.
Ayah menggendongku dan meletakkanku di kursi roda, ia membawaku ke sebuah rumah.
“Ini rumah siapa?” tanyaku.
“Apa kau melihat kekurangan rumah ini?” tanya ayah.
“Rumah yang bagus, rapi dan bersih!” balasku.
“Kau sama seperti rumah ini, rumah ini bagus tapi apa kau tahu bahwa di dalam rumah ini begitu hitam kuat tapi seiring berjalan waktu catnya mulai pudar memucat karena terkena air hujan, sama sepertimu, kau terlihat seorang anak kuat dan murah senyum padahal kau selalu mengeluh dan akhirnya kanker dengan mudah menggerogoti tubuhmu” jelas ayah.
“Sekarang aku mengerti, mulai hari ini aku akan menjadi anak yang lebih kuat dan lebih baik!” balasku.
Cerpen Karangan: Arachelly Sucipto
Facebook: Arachelly Dwi Ayuni
Namaku Zahira, aku adalah seorang anak yang terkena Leukimia.
“Zahira, sudah waktunya minum obatmu nak!” kata ibu sembari membawa obat-obatan untukku.
“Untuk apa bu aku minum obat? percuma saja kan kalau aku minum obat!” balasku.
“Tetapi setidaknya untuk mengurangi nyerimu kan!” kata ibu lagi.
Segera kuminum obat itu, setelahnya nampak ayah yang baru datang ke rumah sakit.
“Selamat pagi nak!” sapa ayah ramah.
“Selamat pagi juga ayah, lihatlah putri kita ini sudah marah pagi-pagi” balas ibu.
“Nak, kenapa kau marah? apa yang membuatmu kesal?” tanya ayah.
“Aku ini anak yang paling tidak beruntung di dunia ini kan? buktinya aku sakit dan tak kunjung sembuh, lagipula umurku sudah tinggal beberapa hari lagi!” kataku.
“Kau tidak boleh berkata seperti itu! jangan kau merasa lelah tentang penyakitmu, jangan mengeluh di setiap kata-katamu!” balas ayah.
“Kenapa?” tanyaku.
Ayah menggendongku dan meletakkanku di kursi roda, ia membawaku ke sebuah rumah.
“Ini rumah siapa?” tanyaku.
“Apa kau melihat kekurangan rumah ini?” tanya ayah.
“Rumah yang bagus, rapi dan bersih!” balasku.
“Kau sama seperti rumah ini, rumah ini bagus tapi apa kau tahu bahwa di dalam rumah ini begitu hitam kuat tapi seiring berjalan waktu catnya mulai pudar memucat karena terkena air hujan, sama sepertimu, kau terlihat seorang anak kuat dan murah senyum padahal kau selalu mengeluh dan akhirnya kanker dengan mudah menggerogoti tubuhmu” jelas ayah.
“Sekarang aku mengerti, mulai hari ini aku akan menjadi anak yang lebih kuat dan lebih baik!” balasku.
Cerpen Karangan: Arachelly Sucipto
Facebook: Arachelly Dwi Ayuni
Yang Lebih Baik
4/
5
Oleh
Unknown
