Judul Cerpen Detik Pertemuan Terakhir Bersama Bapak
Aku melihat wajah Bapak sedang gundah gulana. Saat pandangan dan pikiranku terpusat untuk Bapak, tiba-tiba saja aku mendengar suara teriakkan yang memekikkan telinga, Suara teriakkan itu kian menjadi-jadi, dan lebih terkejutnya aku mendengar ada yang berteriak “maling… maling.. keluar kau!”
Bapak langsung ke luar dan aku mengikutinya di belakang. Aku melihat segerombolan warga berdiri sambil memaki-maki bapak, aku tak sanggup mendengarnya. Kata mereka
“Sondang, Bapakmu itu maling, mencuri singkong di ladang tuanmu sendiri.”
“Hai maling, pergi saja kau dari sini, Warga sekalian, usir dia, usir!!”
Dan berbagai buruk yang mereka katakan
Betapa aku tak percaya ini. Aku tak tega bapak dihakimi. Mereka memandang bapak begitu hina. Saat sedang riuh-riuhnya, bapak Ketua adat datang menengahi. Beliau mencoba meredam amukan warga dan memutuskan mengadakan temu adat besok malam, sehabis shalat isya di rumahnya.
Hari yang mencekam telah tiba. aktivitas memang berjalan seperti biasa, namun bukan berarti untuk malam ini. Bapak pergi ke pelabuhan untuk membantu mengangkut ikan. Selain iu bapak juga bekerja sebagai buruh tani serabutan, ini semua beliau lakukan agar kami bisa bertahan hidup. Sedangkan aku dan tien berangkat ke sekolah. Sekolah kami memang gratis karena kami mendapat bantuan pendidikan dari pemerintah. Ketika di sekolah perasaanku tidak tenang, perasaan was-was terus saja menyambangi hatiku begitu seterusnya hingga malam menjelang.
Malam ini adalah malam yang menakutkan bagi keluarga kami. Aku melihat ada seseorang yang mengetuk pintu rumah dan membawa bapak pergi ke rumah kepala adat.
Aku menunggu kepulangan bapak, sedangkan Tien sudah tertidur. Sesampainya di rumah, beliau merebahkan tubuhnya di kursi. Bapak memandangiku dengan mata berkaca-kaca. Perlahan bapak mulai berbicara bahwa “Maafkan Bapak telah terpaksa mencuri untuk membayar obat Tien, karena uang tabungan telah digunakan untuk membayar hutang, jika tidak begitu, rumah satu-satunya ini akan disita. Warga telah memutuskan bahwa bapak harus pergi dari kampung. Mereka memutuskan ini karena mereka yakin hukuman penjara tak cukup memberi efek jera, lagipula mereka tak ingin kampung yang menjunjung tinggi adat ini ternodai begitu saja. Besok kamu dan Tien bisa mengantarkan bapak ke makam ibu, setelah itu ke Dermaga untuk menghantarkan bapak ke kota.” Aku hanya termangut-mangut saja, aku menyesal tidak bisa berbuat banyak.
Keesokkan hari, aku bersama Bapak dan Tien pergi menuju makam ibu. Kebetulan juga ini hari minggu, tak ada aktivitas untuk bersekolah. Setelah berziarah di makam ibu, kami melanjutkan perjalanan menuju Dermaga. Sesampainya di Dermaga. Bapak dihampiri oleh Omundeng, temannya yang merupakan awak kapal yang akan beliau tumpangi. Bapak memeluk aku dan tien erat-erat.
“Tien, putriku. Tenang, Jangan menangis nak. Bapak akan bekerja di kota untuk sementara waktu, kamu jangan nakal. Patuh sama kakakmu ya.” kata bapak
Pelukan hangat kami dan lambaian tangan mengiringi kepergian bapak. lalu kami memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku menyadarkan tubuhku di sebuah sofa yang lapuk. Tien masih saja menangis, seperti tidak ikhlas melepas kepergian bapak ke kota. aku berusaha menenangkannya
Waktu terus berganti. Sebulan sekali Pak Pos selalu datang ke rumah kami, beliau menyerahkan surat. dalam surat tersebut juga terdapat uang untuk bekal kami bertahan hidup. Setiap kami membaca isi surat, intinya selalu sama. Bapak mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, dan meyatakan sebenarnya ia sangat rindu dengan putra-putrinya, namun belum cukup bekal untuk kepulangannya. Bapak sesungguhnya kami sangat rindu dengan bapak, kapan bapak menjemput kami, membawa kami pergi bersama bapak.
Sudah hampir setengah tahun, namun bapak belum juga pulang. Di sisi lain kondisi kesehatan Tien semakin menurun. Waktu terus berlalu, namun kondisi Tien belum menunjukan perubahan yang signifikan. Hingga pada suatu pagi aku melihat badan Tien begitu panas, terbaring begitu lemas. Aku sangat khawatir dan langsung membawanya ke rumah sakit, mungkin inilah jalan agar Tien bisa sembuh.
Aku menunggu di kursi depan kamar rawat Tien, aku hanya bisa berdoa agar Tien sembuh. Lalu seorang Bapak Dokter keluar dari ruang rawat Tien. Aku bertanya bagaimana kondisi Tien.. Bapak Dokter mengatakan Tien mengalami gejala Leukimia dan perlu dirawat, beliau menanyaiku dimana anggota keluarga yang lain. Aku menjawab jujur bahwa bapak sedang merantau dan ibu telah tiada, aku juga berkata aku tak punya uang untuk membayar perawatan Tien. Dengan kebijaksanaanya Bapak Dokter mengatakan bahwa beliaulah yang akan menanggung semua biaya perawatan Tien, dan beliau meminta agar aku menjemput bapak. Aku mengucapkan terimakasih kepadanya.
Keesokan harinya aku pergi ke dermaga mencari Ommundeng. Ommundeng setuju untuk menamaniku mencari bapak, bahkan beliau rela membayar biaya transportasi kapal menuju kota ditempat bapak berada.
Sesampainya di kota, aku dan Ommundeng melakukan pencarian bapak. lewat alamat yang tertera pada surat yang dikirimkan bapak, dengan diiringi doa, sembari bertanya pada penduduk kota, akhirnya kami sampai pada rumah yang tertera pada alamat.
Malam Menjelang, aku dan Ommundeng duduk di depan rumah, dari kejauhan nampak seorang laki-laki meenuju rumah ini. Aku yakin itu pasti bapak. ternyata dugaanku benar. Bapak takjub sambil tersenyum melihat aku dan Ommundeng. Bapak langsung memelukku kami. Perasaan kami sungguh bahagia. Setelah itu, bapak meminta kami untuk masuk. Di dalam rumah, aku mengatakan alasanku mengapa aku nekat menemui bapak, kalau tak lain karena kondisi kritis Tien. Malam semakin larut kemudian kami memutuskan untuk beristirahat.
Keesokan harinya bapak pergi menemui Bapak Bos tempat beliau bekerja. Bapak meminta ijin untuk menengok Tien. Syukurlah Bapak Bos, mau memberikan ijin. Kami pun menuju pelabuhan untuk pulang. Sesampainya di kampung halaman, Bapak memutuskan untuk langsung ke rumah sakit menjenguk Tien. Ketika sampai di kamar Tien dirawat, Bapak tak kuasa menitikkan airmata, sambil memegang tangan Tien. Tiba-tiba mukjizat Sang Illahi menimpa Tien, tangan Tien mulai bergerak, matanya pun membuka secara perlahan.
“Aku rindu Bapak” ucap Tien. Hanya sepatah kata itu yang keluar dari mulut Tien, setelah itu dia kembali terpejam. Bapak menangis sambil memeluk erat Tien. Pelukan bapak menghantarkan kepergian Tien ke surga. Aku pun tak dapat membendung airmata, Bapak dokter dan Ommundeng berusaha menenangkan kami.
Aku merangkul Bapak, dan berkata “Bapak, selama aku dan Tien berada disini, kami menemukan sosok pahlawan berhati mulia seperti Bapak Dokter yang rela membayar biaya rumah sakit dan Ommundeng yang menemaniku mencari bapak, dan membayar biaya transport kapal.”
Sambil berurai airmata bapak mengucapkan terimaksih pada Pak Dokter dan Ommundeng, dan mengatakan bahwa “Sondang, setelah mengurus pemakaman Tien, dan sekolahmu, Bapak akan membawamu tinggal di kota.”
Cerpen Karangan: Fenty Mustikasari
Facebook: Fenty Mustikasari
Twitter : @Hellotety
Ig: Fenty Mustikasari (Fenty_tety)
Aku melihat wajah Bapak sedang gundah gulana. Saat pandangan dan pikiranku terpusat untuk Bapak, tiba-tiba saja aku mendengar suara teriakkan yang memekikkan telinga, Suara teriakkan itu kian menjadi-jadi, dan lebih terkejutnya aku mendengar ada yang berteriak “maling… maling.. keluar kau!”
Bapak langsung ke luar dan aku mengikutinya di belakang. Aku melihat segerombolan warga berdiri sambil memaki-maki bapak, aku tak sanggup mendengarnya. Kata mereka
“Sondang, Bapakmu itu maling, mencuri singkong di ladang tuanmu sendiri.”
“Hai maling, pergi saja kau dari sini, Warga sekalian, usir dia, usir!!”
Dan berbagai buruk yang mereka katakan
Betapa aku tak percaya ini. Aku tak tega bapak dihakimi. Mereka memandang bapak begitu hina. Saat sedang riuh-riuhnya, bapak Ketua adat datang menengahi. Beliau mencoba meredam amukan warga dan memutuskan mengadakan temu adat besok malam, sehabis shalat isya di rumahnya.
Hari yang mencekam telah tiba. aktivitas memang berjalan seperti biasa, namun bukan berarti untuk malam ini. Bapak pergi ke pelabuhan untuk membantu mengangkut ikan. Selain iu bapak juga bekerja sebagai buruh tani serabutan, ini semua beliau lakukan agar kami bisa bertahan hidup. Sedangkan aku dan tien berangkat ke sekolah. Sekolah kami memang gratis karena kami mendapat bantuan pendidikan dari pemerintah. Ketika di sekolah perasaanku tidak tenang, perasaan was-was terus saja menyambangi hatiku begitu seterusnya hingga malam menjelang.
Malam ini adalah malam yang menakutkan bagi keluarga kami. Aku melihat ada seseorang yang mengetuk pintu rumah dan membawa bapak pergi ke rumah kepala adat.
Aku menunggu kepulangan bapak, sedangkan Tien sudah tertidur. Sesampainya di rumah, beliau merebahkan tubuhnya di kursi. Bapak memandangiku dengan mata berkaca-kaca. Perlahan bapak mulai berbicara bahwa “Maafkan Bapak telah terpaksa mencuri untuk membayar obat Tien, karena uang tabungan telah digunakan untuk membayar hutang, jika tidak begitu, rumah satu-satunya ini akan disita. Warga telah memutuskan bahwa bapak harus pergi dari kampung. Mereka memutuskan ini karena mereka yakin hukuman penjara tak cukup memberi efek jera, lagipula mereka tak ingin kampung yang menjunjung tinggi adat ini ternodai begitu saja. Besok kamu dan Tien bisa mengantarkan bapak ke makam ibu, setelah itu ke Dermaga untuk menghantarkan bapak ke kota.” Aku hanya termangut-mangut saja, aku menyesal tidak bisa berbuat banyak.
Keesokkan hari, aku bersama Bapak dan Tien pergi menuju makam ibu. Kebetulan juga ini hari minggu, tak ada aktivitas untuk bersekolah. Setelah berziarah di makam ibu, kami melanjutkan perjalanan menuju Dermaga. Sesampainya di Dermaga. Bapak dihampiri oleh Omundeng, temannya yang merupakan awak kapal yang akan beliau tumpangi. Bapak memeluk aku dan tien erat-erat.
“Tien, putriku. Tenang, Jangan menangis nak. Bapak akan bekerja di kota untuk sementara waktu, kamu jangan nakal. Patuh sama kakakmu ya.” kata bapak
Pelukan hangat kami dan lambaian tangan mengiringi kepergian bapak. lalu kami memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, aku menyadarkan tubuhku di sebuah sofa yang lapuk. Tien masih saja menangis, seperti tidak ikhlas melepas kepergian bapak ke kota. aku berusaha menenangkannya
Waktu terus berganti. Sebulan sekali Pak Pos selalu datang ke rumah kami, beliau menyerahkan surat. dalam surat tersebut juga terdapat uang untuk bekal kami bertahan hidup. Setiap kami membaca isi surat, intinya selalu sama. Bapak mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, dan meyatakan sebenarnya ia sangat rindu dengan putra-putrinya, namun belum cukup bekal untuk kepulangannya. Bapak sesungguhnya kami sangat rindu dengan bapak, kapan bapak menjemput kami, membawa kami pergi bersama bapak.
Sudah hampir setengah tahun, namun bapak belum juga pulang. Di sisi lain kondisi kesehatan Tien semakin menurun. Waktu terus berlalu, namun kondisi Tien belum menunjukan perubahan yang signifikan. Hingga pada suatu pagi aku melihat badan Tien begitu panas, terbaring begitu lemas. Aku sangat khawatir dan langsung membawanya ke rumah sakit, mungkin inilah jalan agar Tien bisa sembuh.
Aku menunggu di kursi depan kamar rawat Tien, aku hanya bisa berdoa agar Tien sembuh. Lalu seorang Bapak Dokter keluar dari ruang rawat Tien. Aku bertanya bagaimana kondisi Tien.. Bapak Dokter mengatakan Tien mengalami gejala Leukimia dan perlu dirawat, beliau menanyaiku dimana anggota keluarga yang lain. Aku menjawab jujur bahwa bapak sedang merantau dan ibu telah tiada, aku juga berkata aku tak punya uang untuk membayar perawatan Tien. Dengan kebijaksanaanya Bapak Dokter mengatakan bahwa beliaulah yang akan menanggung semua biaya perawatan Tien, dan beliau meminta agar aku menjemput bapak. Aku mengucapkan terimakasih kepadanya.
Keesokan harinya aku pergi ke dermaga mencari Ommundeng. Ommundeng setuju untuk menamaniku mencari bapak, bahkan beliau rela membayar biaya transportasi kapal menuju kota ditempat bapak berada.
Sesampainya di kota, aku dan Ommundeng melakukan pencarian bapak. lewat alamat yang tertera pada surat yang dikirimkan bapak, dengan diiringi doa, sembari bertanya pada penduduk kota, akhirnya kami sampai pada rumah yang tertera pada alamat.
Malam Menjelang, aku dan Ommundeng duduk di depan rumah, dari kejauhan nampak seorang laki-laki meenuju rumah ini. Aku yakin itu pasti bapak. ternyata dugaanku benar. Bapak takjub sambil tersenyum melihat aku dan Ommundeng. Bapak langsung memelukku kami. Perasaan kami sungguh bahagia. Setelah itu, bapak meminta kami untuk masuk. Di dalam rumah, aku mengatakan alasanku mengapa aku nekat menemui bapak, kalau tak lain karena kondisi kritis Tien. Malam semakin larut kemudian kami memutuskan untuk beristirahat.
Keesokan harinya bapak pergi menemui Bapak Bos tempat beliau bekerja. Bapak meminta ijin untuk menengok Tien. Syukurlah Bapak Bos, mau memberikan ijin. Kami pun menuju pelabuhan untuk pulang. Sesampainya di kampung halaman, Bapak memutuskan untuk langsung ke rumah sakit menjenguk Tien. Ketika sampai di kamar Tien dirawat, Bapak tak kuasa menitikkan airmata, sambil memegang tangan Tien. Tiba-tiba mukjizat Sang Illahi menimpa Tien, tangan Tien mulai bergerak, matanya pun membuka secara perlahan.
“Aku rindu Bapak” ucap Tien. Hanya sepatah kata itu yang keluar dari mulut Tien, setelah itu dia kembali terpejam. Bapak menangis sambil memeluk erat Tien. Pelukan bapak menghantarkan kepergian Tien ke surga. Aku pun tak dapat membendung airmata, Bapak dokter dan Ommundeng berusaha menenangkan kami.
Aku merangkul Bapak, dan berkata “Bapak, selama aku dan Tien berada disini, kami menemukan sosok pahlawan berhati mulia seperti Bapak Dokter yang rela membayar biaya rumah sakit dan Ommundeng yang menemaniku mencari bapak, dan membayar biaya transport kapal.”
Sambil berurai airmata bapak mengucapkan terimaksih pada Pak Dokter dan Ommundeng, dan mengatakan bahwa “Sondang, setelah mengurus pemakaman Tien, dan sekolahmu, Bapak akan membawamu tinggal di kota.”
Cerpen Karangan: Fenty Mustikasari
Facebook: Fenty Mustikasari
Twitter : @Hellotety
Ig: Fenty Mustikasari (Fenty_tety)
Detik Pertemuan Terakhir Bersama Bapak
4/
5
Oleh
Unknown
