Judul Cerpen Mukena Dari Ibu
Intan tahu Ibu sedang kesulitan. Beberapa hari lalu, dagangan Ibu tidak laku. Itu membuat Intan sedih.
Malamnya, saat Intan belajar, terdengar suara batuk Ibu dari ruang tidur. Intan yang mendengar itu segera membawakan segelas air hangat.
“Ibu, sudah, ya, Ibu jangan berdagang lagi. Kalau Ibu sudah sembuh baru Ibu berdagang lagi,” saran Intan. “Tidak, Nak. Ibu masih kuat,” kata Ibu tersenyum.
Keesokan harinya, Intan tidak masuk sekolah. Ia membantu Ibunya membanting tulang. Ia keliling menjual gorengan. “Gorengan! Gorengan masih hangat!” Teriak Intan sambil mengelap setiap butir keringat yang keluar.
Sudah siang hari. Dagangan Intan masih tak laku. Ia pulang dengan perasaan sedih.
“Ibu, maaf,” kata Intan terisak. Ibu tersenyum. “Tak apa, Intan.” Ibu beranjak dari ranjangnya dengan tertatih-tatih. Ia menyodorkan mukena biru yang sudah jelek. Namun masih layak digunakan.
“Maaf, Nak. Ini mukena untukmu. Maaf, ya, Nak, mukena ini jelek,” kata Ibu. Mata Intan berbinar. “Oh, Ibu! Ini adalah hadiah terbaik tahun ini! Aku menyukai mukena ini! Terima kasih, Ibu!”
Intan memeluk Ibunya dengan penuh kasih sayang.
Cerpen Karangan: Delia Seftiani Zubir
Facebook: Delia Septiani Zubir
Intan tahu Ibu sedang kesulitan. Beberapa hari lalu, dagangan Ibu tidak laku. Itu membuat Intan sedih.
Malamnya, saat Intan belajar, terdengar suara batuk Ibu dari ruang tidur. Intan yang mendengar itu segera membawakan segelas air hangat.
“Ibu, sudah, ya, Ibu jangan berdagang lagi. Kalau Ibu sudah sembuh baru Ibu berdagang lagi,” saran Intan. “Tidak, Nak. Ibu masih kuat,” kata Ibu tersenyum.
Keesokan harinya, Intan tidak masuk sekolah. Ia membantu Ibunya membanting tulang. Ia keliling menjual gorengan. “Gorengan! Gorengan masih hangat!” Teriak Intan sambil mengelap setiap butir keringat yang keluar.
Sudah siang hari. Dagangan Intan masih tak laku. Ia pulang dengan perasaan sedih.
“Ibu, maaf,” kata Intan terisak. Ibu tersenyum. “Tak apa, Intan.” Ibu beranjak dari ranjangnya dengan tertatih-tatih. Ia menyodorkan mukena biru yang sudah jelek. Namun masih layak digunakan.
“Maaf, Nak. Ini mukena untukmu. Maaf, ya, Nak, mukena ini jelek,” kata Ibu. Mata Intan berbinar. “Oh, Ibu! Ini adalah hadiah terbaik tahun ini! Aku menyukai mukena ini! Terima kasih, Ibu!”
Intan memeluk Ibunya dengan penuh kasih sayang.
Cerpen Karangan: Delia Seftiani Zubir
Facebook: Delia Septiani Zubir
Mukena Dari Ibu
4/
5
Oleh
Unknown
