Gadis Kecilmu

Baca Juga :
    Judul Cerpen Gadis Kecilmu

    Mama aku rindu. Perasaan itu aku rasakan seumur hidup aku, allah lebih sayang mama sehingga beliau dipanggil begitu cepat, meninggalkan aku dan ayahku. Sejak aku berumur 5 bulan mama dipanggil oleh allah. Hal itu sangat membuat ayahku terpukul dan sulit menerima kenyataan itu, sejak saat itu aku diasuh oleh seseorang yang alhamdulillah beliau sangat menyayangiku, ya walaupun semuanya tidaklah cuma-cuma, Ayahku membayarnya setiap bulan.

    Sampai aku berumur 3 tahun aku diasuh oleh nenekku di luar kota, nenek begitu sangat menyayangiku. Beliau tidak pernah rela ada yang menyakitiku, masa kecilku tidak kurang kasih sayang karena aku mempunyai bibi yang begitu sangat memanjakanku, ya bibiku single dan tidak mempuyai anak oleh karena itu beliau sangat menyayangiku seperti anak sendiri, apapun keinginanku pasti dituruti.

    Masa kecilku begitu sangat membahagiakan aku termasuk anak yang super aktif tidak jarang pukulan nenek selalu melayang di pahaku karena kenakalanku. Hehehe itulah cara nenek mendidikku, Tetapi selain nenek tidak boleh ada yang menyakitiku karena nenek akan sangat marah. Masih teringat jelas bagaimana paniknya nenek saat aku sedang sakit, nenek selalu di sampingku, dan semua keinginanku dituruti, banyak hal yang tidak dapat aku lupakan masih teringat juga kenakalanku saat dikasih uang saku aku membuang uangnya karena kurang. Dan itu hanya sebagian kecil dari kenakalanku yang lain, ya allah banyak sekali dosa yang aku lakukan terhadap nenek yang begitu sangat menyayangiku.

    Nenek menitipkanku di musollah yang jaraknyanya lumayan jauh dari tempat tinggal nenek, padahal saat itu aku masih begitu kecil tapi nenekku memaksaku untuk belajar mengaji bersama teman-teman yang usianya lebih dari aku, setiap hari nenek menjemputku dari musollah yang jaranknya lumayan jauh. Nenek menanamkan nilai-nilai agama dalam diri aku sejak aku masih kecil semua masih sangat jelas di ingatanku ketika nenek mengajarkan aku puasa, bahagia rasanya saat itu karena nenek begitu semangat mengajarkan aku berpuasa terlebih kalau puasaku full nenek membelikan takjil semua yang aku mau walaupun terkadang aku membatalkan puasaku dengan minum sembunyi-sembunyi hehehe maklum masih tahap belajar.

    Saat aku kelas 4 SD nenek mulai memasukanku ke pesantren dekat rumah nenek, setiap hari nenek mengantar kan aku makanan karena jaraknya yang begitu dekat jadi aku tidak diperbolehkan masak sendiri di pondok. Dari sinilah kehidupanku yang sesungguhnya dimulai, aku lebih sering mendapat pelajaran tentang agama, bahkan bukan hanya itu pelajaran hidup juga aku dapatkan di pondok dan aku mulai mempunyai banyak teman. Awalnya aku tidak betah dengan suasana dan peraturan yang ada di pondok tetapi dengan berjalannya waktu aku mulai menerima dan betah tinggal di pondok. Ya, di pondok aku mulai belajar dewasa, dan mulai berpikir tentang hidupku sendiri, mulai ada niat untuk dapat membanggakan nenekku yang begitu sangat aku sayangi, aku selalu ingat pesannya yang menyuruhku belajar dengan sungguh-sungguh dari situ aku mulai belajar dengan sangat sungguh-sungguh dan alhamdulillah usaha dan doaku dikabulkan oleh allah.

    Saat aku kelas 1 smp aku dapat ranking 1 ya aku sangat bersyukur karena semua diluar kemampuanku semua hanya atas seizin allah. Aku sangat sadar aku tidak lah begitu pandai akan tetapi aku tidak pernah berhenti berdoa agar allah memudahkan segala hal yang sulit dalam hidupku. Aku bahagia akhirnya aku bisa melihat senyum kebanggaan di wajah nenekku tersayang. Ya, sejak aku di pondok semua aku pasrahkan kepada allah siang dan malam aku tidak pernah lupa memanjatkan doa untuk orangtua yang belum pernah aku temui selama 10 tahun terakhir, mama yang sudah kembali kepada allah sejak aku masih kecil dan ayahku yang menitipkanku kepada nenek saat usiaku 3 tahun dan saat itu juga ayahku kembali ke tempat kelahiranku di TIMIKA PAPUA dan hampir tidak pernah memberi kabar atau sekedar menanykan kabarku. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan kehidupan dunia dan akhiratku, karena aku sangat percaya allah selalu mendengar doa hamba-hambanya.

    Dengan bertambahnya usiaku aku mulai sangat merindukan sosok ayahku dan juga mama. Rasa iri rasa tidak percaya diri mulai aku rasakan. Ya, saat aku melihat teman-temanku yang lain yang begitu sangat diperhatikan oleh orangtua, aku hanya bisa menahan air mataku menahan kerinduan yang sangat dalam terhadap orangtuaku, terlebih jika ustadku berbicara tentang kajian islam tentang orangtua. Aku mulai menyembunyikan tetesan air mataku dari teman-temanku. Dadaku rasanya sesak setiap kali berbicara tentang orangtua. Sangat sering aku menangis di toilet untuk meluapkan rasa rinduku kepada orangtuaku. Lagi lagi hanya doa yang menguatkan aku, tidak pernah bosan dan lelah aku berdoa agar pintu hati ayahku sedikit terbuka untukku, untuk menyayangiku.

    Masih begitu jelas di benakku, saat itu ada teman 1 kamarku yang sedang sakit, dan mamanya datang menemani bahkan memanjakannya kebetulan saat itu aku juga sedang sakit dan demam tinggi dan aku sendirian karena nenek belum dikabarin kalau aku sedang sakit di pondok. Sedangkan teman teman yang lain lagi mengikuti pengkajian kitab. Air mataku terus mengalir ingin rasanya aku juga merasakan bagaimana rasanya kasih sayang orangtua yang melahirkan kita. Ingin merasakan ketulusan itu, lagi lagi toilet tempat aku meluapkan semua kerinduan itu. Dan doolah yang sedikit meringankan kerinduanku.

    Pagi itu seperti biasa nenek mengantarkanku makanan, tiba-tiba nenek mengatakan bahwa ayahku akan pulang besok pagi, setelah 10 tahun meninggalkan aku bersama nenek, jantungku berdebar sangat kencang aku merasa semua seperti mimpi, sejenak aku merasa sangat bahagia sebelum nenek mengatakan bahwa ayahku datang untuk menjemputku untuk dibawa ke tempat kelahiranku setelah 10 tahun aku bersama nenek yang sangat menyayangiku, dilema mulai aku rasakan aku sangat bingung, selama ini aku sangat memimpikan untuk dapat bertemu orangtuaku, tetapi tidak pernah sedikipun di benakku terlintas kalau aku harus berpisah sama nenek.

    Malam itu aku tidak tidur karena aku belum bisa membayangkan bagaimana bisa aku jauh dari nenek. Teman-temanku mulai menenangkanku dan mereka juga sangat tidak setuju kalau aku harus ikut bapakku bertambah kesedihanku karena juga harus meninggalkan sahabat-sahabat terbaikku. Malam itu rasanya berlalu sangat cepat. Tepatnya jam 7 pagi nenekku datang ke pondok menjemputku entah apa yang aku rasakan aku tidak mengerti bahagia tapi juga sangat sedih. Saat aku tiba di rumah aku bertemu ayahku untuk pertama kalinya setelah 10 tahun hilang dalam hidupku. Aku mulai menenangkan diri karena aku tidaklah terlalu banyak bicara terlebih sama orang yang baru aku temui. Sampai akhirnya bapak mulai bicara dan mengatakan maksud kedatangan bapak, bapak menginginkan aku untuk ikut bersamanya ke tempat kelahiranku agar aku melanjutkan sekolahku di sana, Mendengar semua itu aku hanya bisa diam. Setelah aku berfikir aku meminta untuk pondah ke pondok yang lebih elit agar sekolahku bisa dilanjutkan sampai jenjang tinggi. Tetapi ayahku menolak dengan sangat tegas, bahkan ayahku bilang kalau aku tidak mau ikut bersamanya, ayah tidak akan pernah pulang kampung lagi selamanya sekalipun aku menikah, mendengar hal itu sedih rasanya. Dan akhirnya aku pasrah apapun yang akan terjadi aku sangat percaya ini jalan hidup yang allah gariskan dalam hidupku.

    Hari demi hari aku mulai mengenal sosok ayahku, tidak jarang beliau mendekatiku hanya untuk sekedar menghiburku dengan candaannya. Aku sangat yakin dalam hati kecil nenekku sangat tidak rela untuk melepaskan aku, tetapi bapak sangat pandai meyakinkan nenek kalau aku akan baik-baik saja dan akan disekolahkan sampai perguruan tinggi, ya nenek hanya ingin melihat aku bahagia kelak. Oleh karena itu nenek mulai mengikhlaskan aku untuk ikut beraama bapak.

    Setelah 1 bulan berlalu tibalah pemberangkatanku meninggalkan nenek yang 10 tahun menjagaku, menyayangiku, mengajariku untuk menjadi anak yang soleha, memberikan pendidikan yang terbaik buat aku. Aku begitu sangat merasakan bagaimana sedihnya nenek saat aku meninggalkannya, sebelum aku berangkat nenek selalu berpesan untuk sering memberikan kabar kepadanya. Dan juga tidak henti-hentinya berdoa yang terbaik buat aku. Bahkan aku masih ingat nenek mencuci bajuku dan berkata “kapan lagi saya bisa cuci baju kamu” mendengar itu rasanya sesak dadaku. Aku hanya bisa menahan air mataku agar terlihat baik-baik saja di depan nenek. Dan nenek juga memasak makanan kesukaanku.

    Tepatnya jam 8 malam aku mulai siap berangkat bersama ayahku, meninggalkan nenek, aku tidak kuasa menatap wajahnya yang enah kapan aku akan bisa melihatnya lagi, aku anak kecil yang selalu nakal dan selalu membuatnya marah sampai tumbuh menjadi seorang gadis yang dia harapkan menjadi pribadi yang baik dan taat kepada allah. Malam itu aku hanya bisa memeluknya erat-erat aku tidak bisa berkata apa-apa hanya air mata yang terus mengalir di pipiku. Sepanjang jalan aku diam dan terus menangis, ayahku mencoba menenangkanku. Dalam hati kecilku aku hanya berdoa semoga allah memberiku kesempatan untuk membalas semua pengorbanan, kasih sayangnya walaupun semua itu tidaklah bisa dibalas setidaknya aku punya kesempatan untuk melihat senyum nenek yang bangga sama aku. Aku berjanji insaallah aku akan menjadi wanita yang nenek harapkan, wanita yang bersungguh-sungguh mencari ilmu dan taat kepada allah amin.

    Saat aku tiba di rumah ayahku, aku disambut oleh ibu dan adek tiriku. Ya, ayahku menikah lagi dan mempunyai 2 orang anak laki-laki dan perempuan. Ibu tiriku tidak membeda-bedakan aku dengan adek tiriku. Dia baik bahkan sangat baik karena dia mengurus semua berkas sekolahku untuk masuk ke sekolah baru. Saat aku pindah aku kelas 1 smp naik kelas 2. Tetapi di tempat baruku ini ternyata aku harus mengulang dari kelas 1 smp dikarenakan aku tidak membawa surat pindah dan juga kurikulum yang berbada. Walaupun aku tinggal dengan ibu tiri tidak pernah terlintas di benakku seperti apa ibu tiri itu, waktu terus berjalan hari-hari berasa cukup menyenangkan ayahku juga sangat menyayangiku.

    Dan aku mulai dikenalkan dengan keluarga almarhum mamaku, wak itulah nama panggilan bibiku, karena mamaku termasuk keturunan sunda, dan wak ku mempunyai 3 orang anak perempuan yang umurnya tidak terpaut jauh dari umurku. Saat pertama kali bertemu dengan bibiku, beliau menangis sejadi-jadinya karena mengingat alm mama yang parasnya tidaklah jauh beda sama aku.

    Hari demi hari aku sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baruku, aku dipercaya mengajar ngaji anak kecil di mesjid terdekat rumahku untuk mengisi waktu kosongku, alhamdulillah aku bisa mengamalkan sedikit ilmu yang aku dapat dan itu berkat nenek yang luar biasa dalam hidup aku. Aku tidak begitu mengingat kapan pertama hal itu aku rasakan akan tetapi aku mulai merasakan hal yang sulit aku jelaskan, ya mama tiriku mulai sedikit mempermasalahkan keberadaanku di rumah ayah, semakin hari semakin sangat nampak ketidak sukaannya sama aku, Alasannya karena ayahku sangat memprioritaskanku. Aku akui ayah begitu sangat memanjakanku bahkan aku berangkat sekolah diantar pulang pun selalu dijemput padahal teman-teman yang lain tidak pernah diantar ataupun dijemput orangtuanya. Ayah mendidikku sanagat keras aku tidak bisa bergaul dengan sembarangan orang, bahkan aku dilarang berteman dengan laki-laki. Aku mencoba mengikuti semua kemauan ayah, walaupun pernah aku melanggar aturannya dekat dengan seorang cowok.

    Sangat sering aku meminta untuk dipulangkan ke rumah nenek tetapi ayah selalu menguatkan aku, ayah tetap pada pendiriannya untuk menyekolahkan aku sampai perguruan tinggi. Aku hanya bisa nangis dan memendam rindu yang dalam terhadap nenek. Kasih sayang yang mama tiriku berikan saat pertama kali aku datang sudah hilang dan berubah terbalik. Aku mencoba sabar demi ayahku, sampai aku lulus SMP. Saat aku masuk ke SMA aku mengurus sekolahku ditemani ayah dan aku sempat berjanji aku akan menjadi anak ayah yang terbaik, saat sekolah aku benar-benar belajar dengan sangat tekun walaupun aku tidaklah terlalu pandai tetapi aku berusaha dengan maksimal, alhamdulillah aku dapat ranking 2 saat kenaikan kelas berturut-turut aku dapat ranking senang rasanya bisa melihat senyum ayah.

    Ayah tidak henti-hentinya mensupport aku agar tetap bertahan walaupun mama tiriku tidak menyukaiku bahkan ingin aku pergi dalam kehidupan ayah. Aku diperlakukan sangat berbeda oleh ibu tiriku bahkan aku difitnah di tetangga-tetangga agar semua membenciku, gadis seusiaku harus menghadapi semua itu. Ayah dan mama tiriku sengat sering bertengkar karena ayah lebih sayang sama aku, aku jadi semakin merasa bersalah dan tidak betah. Aku selalu merindukan sosok nenek yang sangat menyayangiku. Aku masih sangat ingat saat ayahku kerja jauh dan pulangnya 2 minggu sekali. Aku merasa tinggal sendirian. Kebetulan tempat ayahku kerja tidak ada sinyal jadi untuk mengabarinya sangat sulit. Mama tiriku tidak pernah mengajakku ngobrol bahkan makan pun dia tidak pernah menawari, Aku berasa tinggal sendirian jauh dari semua orang yang aku sayang. Yang menguatkan hati aku hanya allah, ya aku hanya yakin dibalik semua kepahitan hidup yang aku rasakan allah mempunyai rencana yanag indah untuk kehidupanku. Dengan adanya mama tiri dalam hidupku ada banyak pelajaran yang dapat saya ambil diantaranya aku belajar bagaimana aku harus jadi pribadi yang baik walaupun aku didzolimi. Sampai saat ini aku masih berusaha sabar menghadapi mama tiri yang sangat membenciku.

    Alhamdulillah saat ini aku semester 5 aku ambil jurusan bidan di salah satu perguruan di TIMIKA PAPUA. Perlu perjuangan banget untuk mencapai itu, dukungan ayahlah yang buat aku semangat dan doa nenek yang buat aku tegar. Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk ayah, aku berusaha keras belajar dengan sungguh-ungguh ingin membanggakan ayahku. Saat semester 3 aku mendapatkan nilai IP yang lumayan memuaskan 4,0. Aku bahagia dan sangat bersyukur, sesungguhnya semua diluar kemampuanku teman-temanku yang lain banyak yang lebih pintar dari aku. Saat ini aku hanya berusaha menjadi yang terbaik untuk ayahku dan berdoa kepada allah agar aku selalu sabar, dan mempu melewati segala kesulitan hidupku.

    Aku hanya ingin menjadi gadis nenek yang membanggakan buat nenek. Insaallah 2 tahun lagi aku akan kembali ke nenek setelah hampir 10 tahun aku tinggalkan. Biarlah saat ini aku menahan semua masalah hidup ini aku percaya allah memberiku ujian karena allah sayang sama aku. Allah mengambil mamaku lebih cepat bahkan aku belum sempat merasakan kasih sayangnya. Tetapi allah memberikan aku seorang bibi, yang sangat baik, ayah yang sanagat menyayangiku dan sangat berjuang untuk kebahagiaanku satu lagi nenek yang sangat luar biasa beliau segalanya dalam hidupku. Nenek pelita hidupku doa-doanya meringankan setiap langkahku. Love you nenek cucumu akan selalu jadi gadis kebanggaanmu.

    Lailatul Qomariah

    Cerpen Karangan: Lailatul Qomariah
    Facebook: Qurro’tu aini

    Artikel Terkait

    Gadis Kecilmu
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email