Judul Cerpen Nafa dan Zulfikar
Sendiri…
Sekarang aku hanya ingin menyendiri di tempat berkapuk ini. Tak peduli aku berdiri, aku duduk, atau aku berbaring. Aku hanya ingin membiasakan diri bercengkraman dengan dinginnya dinding dan hangatnya selimut, lalu aku bisa tersenyum karena terhibur oleh selalu rapinya kamarku. Sengaja aku menyendiri demi malam-malam selanjutnya yang akan tak kusukai seperti ini. Tidak, aku tidak sedang patah hati. Hanya sedang meratapi “Ternyata beginilah resiko mempunyai kekasih calon kapten kapal yang akan mengemban tugas negara.”
Zulfikar kekasihku, dia akan menetap di negeri seberang selama tiga tahun untuk mengikuti pendidikan militer. Hampir aku terlarut dalam bayangan kesepian yang menakutkan. Tapi tiba-tiba ibu mengetuk pintu kamarku.
“Nafa, ada Zulfikar!”
Aku sangat terkejut mendengar bisikan ibu di balik pintu itu. Mengesankan, Zulfikar memberikan kejutan dengan mendatangi rumahku sebelum dia hendak berlayar esok hari. Satu yang dia titipkan. Tapi sungguh, itu bagaikan satu cahaya yang menghempaskan gelapnya bayangan sepi yang menghantuiku.
Zulfikar memberiku cincin, lalu dipasangkannya di jari manisku dengan menuturkan kalimat termanis yang pernah aku dengar darinya.
“Aku harap, aku bisa melihat cincin ini di pelaminan kita nanti. Utuh, tak pernah tersentuh lelaki lain. Jika kau mencintaiku dan mau menjadi istriku, pakailah cincin ini!”
“Aku akan menjaganya.” Jawabku
Lebih dari apa yang disampaikannya, aku sudah dibuat terpukau atas keberaniannya mendatangi rumahku dan menemui keluargaku. Sungguh akhlak Zulfikar menenangkanku.
Seiring berjalannya waktu, kenyamanan ini terusik. Dengan alasan sibuk, jadwal pelatihan yang begitu padat, Zulfikar tak mengabariku setiap hari seperti biasanya. Sebagai sosok yang lemah, wajar rasanya jika seorang wanita mempermasalahkan situasi seperti ini. Tapi karena tak kuasa untuk menghubunginya, aku hanya bisa mengutarakan isi hatiku melalui pesan singkat.
“Terkadang aku ingin menjadi matamu. Supaya aku bisa mengetahui apa yang ingin kau lihat dan apa yang tak ingin kau lihat.” Pesan dariku. Lebih dari satu jam aku baru mendapat balasan dari Zulfikar.
“Terkadang aku pun ingin menjadi matamu supaya bisa menahan air mata kerinduanmu. Karena tak perlu kau khawatirkan, aku disini sedang berjuang untukmu.”
Pesan dari Zulfikar begitu menguatkanku kembali. Tutur katanya bagai menuntunku ke suatu tempat yang bertelakan permadani. Nyaman, keyakinanku terjaga untuk menantinya.
“Semoga Nafa baik-baik saja disana. Karena aku akan baik-baik saja disini seperti cincin yang kau jaga.”
Setelah membaca pesan berikutnya dari Zulfikar itu, aku hanya bisa mewakilkan tiga kata dari berjuta perasaan yang aku rasakan.
“Nafa sayang Zulfikar.”
Pesan yang menutup sebuah percakapan paling berkesan. Sebelum aku pun menutup mata dan menerbangkan asaku untuk bisa bersamanya, lelaki terbaikku. Satu harapan terbesarku sekarang, berharap Zulfikar kekasihku membawaku ke singgasana cinta yang sejati. Mengijabkan ikrar suci yang dikabulkan para saksi dan semua keluarga, di hadapan-Nya.
Cerpen Karangan: Budi
Blog: Budihikmah.mywapblog.com
Facebook: Budi Hikmah
Instagram: Synbudi
Sendiri…
Sekarang aku hanya ingin menyendiri di tempat berkapuk ini. Tak peduli aku berdiri, aku duduk, atau aku berbaring. Aku hanya ingin membiasakan diri bercengkraman dengan dinginnya dinding dan hangatnya selimut, lalu aku bisa tersenyum karena terhibur oleh selalu rapinya kamarku. Sengaja aku menyendiri demi malam-malam selanjutnya yang akan tak kusukai seperti ini. Tidak, aku tidak sedang patah hati. Hanya sedang meratapi “Ternyata beginilah resiko mempunyai kekasih calon kapten kapal yang akan mengemban tugas negara.”
Zulfikar kekasihku, dia akan menetap di negeri seberang selama tiga tahun untuk mengikuti pendidikan militer. Hampir aku terlarut dalam bayangan kesepian yang menakutkan. Tapi tiba-tiba ibu mengetuk pintu kamarku.
“Nafa, ada Zulfikar!”
Aku sangat terkejut mendengar bisikan ibu di balik pintu itu. Mengesankan, Zulfikar memberikan kejutan dengan mendatangi rumahku sebelum dia hendak berlayar esok hari. Satu yang dia titipkan. Tapi sungguh, itu bagaikan satu cahaya yang menghempaskan gelapnya bayangan sepi yang menghantuiku.
Zulfikar memberiku cincin, lalu dipasangkannya di jari manisku dengan menuturkan kalimat termanis yang pernah aku dengar darinya.
“Aku harap, aku bisa melihat cincin ini di pelaminan kita nanti. Utuh, tak pernah tersentuh lelaki lain. Jika kau mencintaiku dan mau menjadi istriku, pakailah cincin ini!”
“Aku akan menjaganya.” Jawabku
Lebih dari apa yang disampaikannya, aku sudah dibuat terpukau atas keberaniannya mendatangi rumahku dan menemui keluargaku. Sungguh akhlak Zulfikar menenangkanku.
Seiring berjalannya waktu, kenyamanan ini terusik. Dengan alasan sibuk, jadwal pelatihan yang begitu padat, Zulfikar tak mengabariku setiap hari seperti biasanya. Sebagai sosok yang lemah, wajar rasanya jika seorang wanita mempermasalahkan situasi seperti ini. Tapi karena tak kuasa untuk menghubunginya, aku hanya bisa mengutarakan isi hatiku melalui pesan singkat.
“Terkadang aku ingin menjadi matamu. Supaya aku bisa mengetahui apa yang ingin kau lihat dan apa yang tak ingin kau lihat.” Pesan dariku. Lebih dari satu jam aku baru mendapat balasan dari Zulfikar.
“Terkadang aku pun ingin menjadi matamu supaya bisa menahan air mata kerinduanmu. Karena tak perlu kau khawatirkan, aku disini sedang berjuang untukmu.”
Pesan dari Zulfikar begitu menguatkanku kembali. Tutur katanya bagai menuntunku ke suatu tempat yang bertelakan permadani. Nyaman, keyakinanku terjaga untuk menantinya.
“Semoga Nafa baik-baik saja disana. Karena aku akan baik-baik saja disini seperti cincin yang kau jaga.”
Setelah membaca pesan berikutnya dari Zulfikar itu, aku hanya bisa mewakilkan tiga kata dari berjuta perasaan yang aku rasakan.
“Nafa sayang Zulfikar.”
Pesan yang menutup sebuah percakapan paling berkesan. Sebelum aku pun menutup mata dan menerbangkan asaku untuk bisa bersamanya, lelaki terbaikku. Satu harapan terbesarku sekarang, berharap Zulfikar kekasihku membawaku ke singgasana cinta yang sejati. Mengijabkan ikrar suci yang dikabulkan para saksi dan semua keluarga, di hadapan-Nya.
Cerpen Karangan: Budi
Blog: Budihikmah.mywapblog.com
Facebook: Budi Hikmah
Instagram: Synbudi
Nafa dan Zulfikar
4/
5
Oleh
Unknown
