Judul Cerpen Dunia Lain
Saat itu, disaat mataku terbuka, aku merasakan sesuatu yang janggal di rumahku. Saat diriku bangun dari ranjang tidurku terdengar jeritan-jeritan yang menakutkan bersamaan dengan suara raungan serigala, seketika aku pun langsung pergi ke kamar adiku dan mencari asal suara tersebut, kupikir adikku yang sedang nonton film, ternyata saat aku sampai di kamarnya aku pun terkejut dan merasakan bahwa gravitasi bertambah berat berkali-kali lipat dari biasanya. Diriku melihat bahwa kamar adikku telah berantakan dan berceceran begitu banyak darah, selain itu aku melihat kepala adikku yang berceceran darah dan goresan tanpa tubuh. Dirikupun terjatuh, bergemetar dan merasakan bahwa ini adalah akhir dari dunia. Setelah terjatuh aku pun mendengar suara raungan serigala lagi. Secara spontan aku pergi ke dapur untuk mengambil golok dan sebuah cangkul. Saat aku menemukan keduanya aku pun melihat jejak kaki monster yang berwarna merah. Saat itu aku pun merasa beruntung dan berlari mengikuti jejak kaki tersebut.
Setelah beberapa saat aku melihat seekor serigala bertubuh besar. Saat itu aku pun memperhatikan monster tersebut dan tidak lama monster tersebut membawa sebuah tubuh ke ruang tamu. Tak kusangka bahwa tubuh tersebut adalah ibuku. Setelah melihat hal tersebut, dengan penuh kebencian, ketakutan, dan penuh akan rasa ingin balas dendam aku pun berlari secepat mungkin dan memotong tangan monster itu, tak kusangka bahwa lenganku tidak cukup kuat untuk memotong tangan monster itu.
Kemudian dengan kekuatan penuh aku memotong kakinya menggunakan canggkul yang telah kubawa, dan untuk kedua kalinya. Diriku terlau lemah untuk berurusan dengan monster itu. Saat aku tidak berpikiran untuk menelepon polisi. Namun setelah mencoba membunuh monster tersebut aku pun berpikiran untuk mencoba membakar sebuah gas lpg bersama dengan sang monster (bom bunuh diri).
Namun tidak disangka saat aku berlari monster itu juga berlari mengejarku dan sampai akhirnya aku tertangkap, dan dia menunjukan cakar penuh darahnya ke hadapan mataku. Seketika aku ingin berteriak ketakutan namun aku tak dapat mengeluarkan suara sedikitpun, aku hanya mematung sambil berkucuran keringat.
Kemudian monster berbulu lebat itu menarik kepalaku dan mencengkram tubuhku. Aku pun mencoba untuk melepaskan diri dan menjauh sejauh mungkin dari si bajingan manusia serigala. Alhasil aku pun tidak dapat melepaskan bahkan tak dapat bergerak sama sekali. Dan aku pun tertawa gila dan seketika banyak sekali polisi dengan senjata api yang siap menembak manusia serigala itu, dan pada akhirnya setelah pasukan berkumpul, mereka pun menembak monster itu dan aku pun terkena tembakan. Saat monster itu tumbang aku sekatika tersadar dan langsung berteriak “Aaaaaa tubuhku hancur” dan saat dilihat ternyata tubuhku baik-baik saja dan aku pun tertawa dan yakin bahwa diriku ternyata bermimpi. Setelah itu aku meminum segelas air putih di dekatku dan datanglah adikku sambil berkata “dasar gila, tidur lagi sana malam-malam teriak, kayak habis ketemu setan aja”.
Aku pun berbaring sambil tersenyum bahagia bahwa itu hanyalah sebuah mimpi.
Tamat
Cerpen Karangan: Rofiq Surya
Facebook: Rofiq Surya
Saat itu, disaat mataku terbuka, aku merasakan sesuatu yang janggal di rumahku. Saat diriku bangun dari ranjang tidurku terdengar jeritan-jeritan yang menakutkan bersamaan dengan suara raungan serigala, seketika aku pun langsung pergi ke kamar adiku dan mencari asal suara tersebut, kupikir adikku yang sedang nonton film, ternyata saat aku sampai di kamarnya aku pun terkejut dan merasakan bahwa gravitasi bertambah berat berkali-kali lipat dari biasanya. Diriku melihat bahwa kamar adikku telah berantakan dan berceceran begitu banyak darah, selain itu aku melihat kepala adikku yang berceceran darah dan goresan tanpa tubuh. Dirikupun terjatuh, bergemetar dan merasakan bahwa ini adalah akhir dari dunia. Setelah terjatuh aku pun mendengar suara raungan serigala lagi. Secara spontan aku pergi ke dapur untuk mengambil golok dan sebuah cangkul. Saat aku menemukan keduanya aku pun melihat jejak kaki monster yang berwarna merah. Saat itu aku pun merasa beruntung dan berlari mengikuti jejak kaki tersebut.
Setelah beberapa saat aku melihat seekor serigala bertubuh besar. Saat itu aku pun memperhatikan monster tersebut dan tidak lama monster tersebut membawa sebuah tubuh ke ruang tamu. Tak kusangka bahwa tubuh tersebut adalah ibuku. Setelah melihat hal tersebut, dengan penuh kebencian, ketakutan, dan penuh akan rasa ingin balas dendam aku pun berlari secepat mungkin dan memotong tangan monster itu, tak kusangka bahwa lenganku tidak cukup kuat untuk memotong tangan monster itu.
Kemudian dengan kekuatan penuh aku memotong kakinya menggunakan canggkul yang telah kubawa, dan untuk kedua kalinya. Diriku terlau lemah untuk berurusan dengan monster itu. Saat aku tidak berpikiran untuk menelepon polisi. Namun setelah mencoba membunuh monster tersebut aku pun berpikiran untuk mencoba membakar sebuah gas lpg bersama dengan sang monster (bom bunuh diri).
Namun tidak disangka saat aku berlari monster itu juga berlari mengejarku dan sampai akhirnya aku tertangkap, dan dia menunjukan cakar penuh darahnya ke hadapan mataku. Seketika aku ingin berteriak ketakutan namun aku tak dapat mengeluarkan suara sedikitpun, aku hanya mematung sambil berkucuran keringat.
Kemudian monster berbulu lebat itu menarik kepalaku dan mencengkram tubuhku. Aku pun mencoba untuk melepaskan diri dan menjauh sejauh mungkin dari si bajingan manusia serigala. Alhasil aku pun tidak dapat melepaskan bahkan tak dapat bergerak sama sekali. Dan aku pun tertawa gila dan seketika banyak sekali polisi dengan senjata api yang siap menembak manusia serigala itu, dan pada akhirnya setelah pasukan berkumpul, mereka pun menembak monster itu dan aku pun terkena tembakan. Saat monster itu tumbang aku sekatika tersadar dan langsung berteriak “Aaaaaa tubuhku hancur” dan saat dilihat ternyata tubuhku baik-baik saja dan aku pun tertawa dan yakin bahwa diriku ternyata bermimpi. Setelah itu aku meminum segelas air putih di dekatku dan datanglah adikku sambil berkata “dasar gila, tidur lagi sana malam-malam teriak, kayak habis ketemu setan aja”.
Aku pun berbaring sambil tersenyum bahagia bahwa itu hanyalah sebuah mimpi.
Tamat
Cerpen Karangan: Rofiq Surya
Facebook: Rofiq Surya
Dunia Lain
4/
5
Oleh
Unknown
