Malaikat Tak Bersayap

Baca Juga :
    Judul Cerpen Malaikat Tak Bersayap

    Ketika kau datang dengan membawa beribu warna, dan pergi meninggalkanku dengan jutaan luka.

    Sore itu, langit sudah mulai gelap. Tapi, seorang gadis berambut hitam legam tersebut masih duduk dengan santainya tanpa peduli dengan hembusan angin yang menusuk tulang, seakan tak peduli dengan kondisi yang berada di sekitarnya.
    “Hidup ini gak adil.” gumam gadis itu.
    Seketika ada seorang pria berperawakan tinggi hadir dan langsung duduk di sebelah gadis itu dan langsung bertanya
    “Mengapa ada seorang gadis yang berkeliaran disaat langit sudah mulai gelap seperti ini?.” Gadis tersebut tidak mengubris karena masih larut dengan kepedihannya.
    “Hei!! Aku berbicara dengan manusia kan?” ujar Pria itu.
    “…”
    “Kau kenapa?
    “Aku baik-baik saja..”
    “Kau yakin? Kau berkata bahwa kau baik-baik saja, tapi keadaanmu tidak terlihat baik-baik saja kawan.”
    Gadis itu langsung pergi tanpa mengubris pertanyaaan pria bertubuh jangkung tersebut. Seketika hujan turun begitu derasnya, bersamaan dengan air mata yang berlinang dari peluk mata gadis tersebut. Tanpa disadari pria bertubuh jangkung itu mengikutinya, seakan penasaran dengan apa yang terjadi dengan gadis bertubuh mungil itu.

    “Kenapa hidup ini gak adil? Kenapa apa yang aku mau selalu gak pernah berjalan sesuai rencana? Kenapa orang lain bisa selalu terpenuhi, sedangkan aku tidak.”
    “Tidak semua yang kamu rencanakan selalu berjalan sesuai dengan kehendakmu. Terkadang kita membutuhkan rencana cadangan untuk selalu siap menerima estimasi terburuk dalam hidup. Dan berlarut-larut dalam kesedihan bukanlah pilihan yang bijaksana yang dapat kau ambil. Perkenalkan aku Danendra, kau bisa memanggilku Dean.”
    Gadis mungil berambut hitam legam itu menoleh, sambil tersenyum hambar berkata
    “Kamu bisa memanggilku Clara. Mengapa kau mengikuti aku, Dean?”
    “Hmm… penasaran saja denganmu, karena kamu tak menggubris pertanyaanku saat kau duduk tadi, bahkan langsung pergi meninggalkanku.”
    Kembali dengan senyum hambarnya, gadis itu menjawab “Maaf, aku bukan bermaksud tidak sopan.. Tapi aku sungguh tidak ada niat untuk tidak menjawab pertanyaanmu, aku masih terlarut dalam kesedihanku.”
    “Apa kamu membutuhkan orang yang mendengarkanmu?” ucap Dean
    Masih di tengah derasnya hujan, dua insan ini berbicara, meski suara mereka hanya terdengar samar-samar gadis tersebut masih berceritakan apa yang dirasakannya, seakan tak peduli dengan dinginnya air hujan yang mengguyur tubuhnya.
    “Apa kau sudah selesai bercerita? Hari sudah larut malam, kau harus pulang. Aku akan meminta nomor teleponmu untuk mengajakmu bertemu lagi dan membantumu menyelesaikan masalahmu.”
    “Baiklah.. 08xxxxxxx”
    “Okay, terima kasih. Akan kuhubungi lagi nanti, sampai jumpa.”
    “Sampai jumpa.”

    Sejak saat itu, dua insan ini sering bertemu untuk saling memberikan motivasi atau mendengarkan masalah satu sama lain. Seakan mereka sudah bersahabat puluhan tahun lamanya. Menceritakan segala masalah yang terjadi dalam hari-hari mereka. Tanpa merasa takut masalah satu sama lain dibocorkan. Tetapi, salah satu dari mereka saat itu memiliki masalah yang ditutup-tutupi. karena merasa masalah yang dihadapinya begitu ringan dan dapat ditangani oleh dirinya sendiri. Tapi tanpa dia sadar, masalah yang dianggapnya sepele ini yang akan menciptakaan jutaan luka pada dirinya sendiri dan orang lain.

    Sejak menutup-nutupi satu masalah itu, Dean tidak pernah lagi muncul di kehidupan Clara. Dean seakan hilang ditelan bumi. Teleponnya tidak pernah aktif, batang hidungnya pun tidak pernah terlihat di tempat biasa mereka bertemu. Berhari-hari berlalu, Dean kembali muncul dengan senyum indahnya, membuat Clara berlari kencang ke arah Dean memeluknya erat, seakan Dean telah pergi puluhan tahun lamanya.
    “Kau kemana saja, Dean? Aku merindukanmu.”
    “Aku hanya memiliki urusan mendadak beberapa hari di luar kota, Handphoneku rusak akibat terkena air, maafkan aku tidak mengabarimu sampai membuatmu khawatir.”
    “Okayy.. Kumaafkan dengan satu syarat.”
    “Apa syaratnya?”
    “Kamu harus memberitahuku mengapa wajahmu begitu pucat sekarang?”
    “Wajahku? Pucat? Sungguh?”
    Dean menutupi keadaan sebenarnya dengan pura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi. Memang, Dean hanya sakit Demam, tapi dia tidak ingin Clara khawatir dengan keadaannya yang hilang tanpa kabar, tetapi datang dengan keadaan tidak baik.
    Tapi tanpa Dean sadar, bahwa demam yang dia rasakan bukanlah demam biasa yang biasa dirasakan orang pada umumnya.

    Beberapa hari berlalu, Demam yang dirasakan Dean belum berkunjung membaik, hingga akhirnya keadaannya memburuk hingga harus dibawa ke Rumah Sakit. Akibat kelalaian Dean yang meremehkan demam yang dideritanya, Dean langsung dimasukkan ke Ruang ICU akibat rendahnya Trombosit yang ditimbulkan oleh Demam Berdarah (DBD). Tetapi, Clara tidak tahu sama sekali, dan kembali bingung akibat hilangannya Dean.
    Setelah dua hari berada di Ruang ICU, Dean meninggal dunia akibat rendahnya Trombosit.

    Berbulan-bulan Clara menanti kabar dari Dean, tapi tak kunjung berkabar. Akhirnya Clara memutuskan untuk datang ke rumah Dean dan menanyakan kabarnya.
    Sesampainya Clara di Rumah Dean, Clara seakan tersambar petir akibat mengetahui kepergian Dean yang begitu mendadak tanpa adanya kata perpisahan, bahkan melihat tubuhnya yang berbaring kaku pun Clara tidak sempat. Dean hanya menitipkan sepucuk surat yang dibuatnya khusus untuk Clara. Surat itu berisi tentang:

    Hai Clara,
    Apa kabarmu sekarang? Aku harap kau baik-baik saja di sana tanpa kehadiranku.
    Pertama kali berjumpa denganmu, aku jatuh cinta.
    Maafkan aku karena belum sempat menyatakannya padamu.
    Aku tau kau wanita terkuat yang pernah aku liat sepanjang hidupku, aku bahagia karena bisa berjumpa dengan wanita sehebat kamu sebelum aku meninggalkan dunia ini.
    Kau bukan hanya setegar batu karang, tapi kau seperti ombak yang lebih kuat dari batu karang, karena ombak bisa mengikis batu karang itu sedikit demi sedikit tapi pasti.
    Kau harus percaya bahwa pedih yang kau rasakan perlahan-lahan akan memudar, tergantikan oleh sesuatu yang baru, karena pedih yang kau rasakan ada untuk dilepaskan, bukan untuk disimpan. karena akan selalu ada kebahagiaan yang dapat menggantinya. Kau harus membiarkan pedih itu lama-lama memudar.
    Kau tau, aku punya lagu khusus untukmu. Judulnya Malaikat Juga Tahu yang dipopulerkan oleh Glenn Fledly. Semoga kau suka dengan lagunya, karena lagu itulah yang mencerminkan perasaanku padamu.
    Jangan pernah untuk tidak tersenyum, karena bagian favoritku adalah melihat senyum manismu yang terukir indah di wajahmu.
    Selamat Tinggal Clara, Sampai Jumpa di Keabadian.

    Danendra.

    Clara yang membaca surat itu langsung pergi ke tempat peristirahatan terakhir Dean, sambil mendengarkan lagu yang disarankan oleh Dean. Ia menangis akibat lirik yang disampaikan oleh sang penyanyi “Lelahmu jadi lelahku juga, bahagiamu bahagiaku pasti. karena kau tak lihat terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan. Namun kasih ini silahkan kau adu, malaikat juga tahu, Aku yang jadi juaranya.“

    Sesampainya di Peristirahatan terakhir Dean, Clara menyanyikan lagu untuk Dean dengan lirik

    Diam Ku hanya sanggup terdiam
    Disaat kau menghilang menyimpan seribu kenangan
    Terisak isak suara tangisku melawan kenyataan
    Habis upayaku
    Senyuman terakhir itu pecahkan saraf sadarku
    Aku harus bagaimana berjalan tanpa kamu apa dayaku beri aku kesempatan untuk memelukmu lagi pelukmu lagi

    Ditengah isakannya berkatalah Clara kepada Dean “Terima kasih karena kau datang dengan membawa beribu warna, dan pergi meninggalkanku dengan jutaan luka. Tetapi mengajarkanku bahwa yang perlu kulakukan sekarang adalah Percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kebahagiaan tidak pernah terlalu jauh dari jangkauan. Kalau kita percaya, ia akan datang dengan sendirinya. Mulai sekarang aku akan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan aku akan memulai lembaran baru lagi tanpa ada kamu di halaman berikutnya. Terima kasih karena sudah pernah mengisi lembaran-lembaran buku kehidupanku sebelumnya, kau membuatnya seakan lebih indah dari yang kukira. Selamat Tinggal kau yang datang dari pada-Nya, dan kini kembali lagi kepada-Nya, Sampai Jumpa di Keabadian Malaikatku yang tak bersayap.”

    Cerpen Karangan: Catherine Lawinata
    Facebook: Catherine Lawinata

    Artikel Terkait

    Malaikat Tak Bersayap
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email