Jangan Menangis Lagi

Baca Juga :
    Judul Cerpen Jangan Menangis Lagi

    Namaku usamah aku biasa dipanggil dengan amam oleh ayah dan ibuku. Kini aku baru berusia 7 tahun. Aku tinggal di Dusun yang jauh dari keramaian Dusun Sepi itulah namanya sangat persis seperti namanya karena memang sepi sekali. Penduduknya pun hanya terdiri dari tujuh belas kepala keluarga. Ayah ibuku adalah seorang petani tapi lebih tepatnya buruh tani. Biasanya ayah mengambil upah dari menanam padi dan panen padi. Sedangkan ibuku cuma ibu rumah tangga biasa yang kadang kala sebagai jasa tukang cuci baju tetangga. Walaupun begitu tidak membuat aku malu sedikitpun, aku yakin Allah Maha Adil dan aku yakin suatu saat nanti dia akan memberikanku yang terbaik. Amin. Keadaan ekonomi tak membuatku surut tuk berprestasi dan bergerak maju. Aku memang selalu juara dan Alhamdulillah berkat usahaku akhirnya aku masuk ke sekolah favorit di kotaku.

    Setiap pagi sebelum sang fajar terseyum padaku, aku lebih dulu menanti seyumanya itu di perjalanan menuju sekolah karena sekolah tempat aku menimba ilmu lumayan jauh. Yah itung-itung olahraga pagi, Allah memang memberikan kita tubuh yang sempurna namun kalau kita tidak menjaganya agar tetap sehat kita pasti yang akan rugi karena itu aku takkan menyia-nyiakan waktuku.

    Aku berangkat selesai membantu ibu sambil mencium kedua tangan orangtuaku tercinta segera kulangkahkan kaki menuju sekolah. Satu hal yang selalu membuatku sedih ketika berangkat sekolah, ibuku, Ya ibuku selalu saja menangis aku tak tau kenapa… tapi semua itu tak membuatku menyerah karena itu sebagai motivasiku untuk terus maju. “aku ingin melihat kalian terseyum” gumamku pada diri sendiri sambil menitikan air mata. Baiklah aku akan belajar dengan rajin agar aku bisa membuat kalian terseyum lagi tekadku sudah bulat batinku. Akhirnya aku siap berangkat dengan pakaian rapi, dengan semangat yang semakin menyala di hati kecilku, semangat yang akan selalu kupertahankan walau apapun yang terjadi.

    Di sekolah seperti biasa pendiam tapi tidak ketika pelajaran berlangsung selalu ramai karena ulahku, aku tergolong siswa yang cerdas dan aktif. Semua guru dan bahkan siswa selain teman kelas mengenalku, guruku adalah tauladanku di sekolah tentunya aku menghormati mereka karena sudah seharusnya aku membangun semua itu, tidak hanya di sekolah saja dimanapun aku berada semoga aku tetap istiqomah ya Tuhan kata hatiku. Tentunya tauladan yang paling utama dalam hidupku adalah Nabiku tercinta Nabi Muhammad SAW, beliau adalah panutan setiap muslim di dunia ini.

    Pulang sekolah membantu ibu mencucikan baju-baju tetanggaa.
    “amam istirahat saja, biar ibu yang cuci nak” kata ibu ketika melihatku sudah duduk di dekatnya.
    “tidak bu, ibu istirahat saja. Amam saja yang selsaikan bu” kataku tak mau melihat ibu kecapean.
    “baiklah pangeran ibu yang tampan, amam dan ibu ya biar cepat selesainya”.
    “baiklah” kataku lagi.

    Ibu selalu mengajarkanku kesabaran dan ketabahan tentang hidup ini. Ayah adalah sosok pemimpin yang bertanggung jawab dan bijaksana tidak pernah kulihat dia membentak ibu. Ibu selalu diperlakukan sebagai ratunya dan ayah adalah rajanya. Mereka begitu tegar. Mereka yakin pada Sang Maha Kuasa selalu mencintai mereka, segala macam ujian cobaan yang mereka hadapi adalah bukti kecintaan penciptaNYA.

    Selang beberapa tahun kemudian aku usamah sekarang menjadi seorang Gubernur di kotaku. Dusun sepi kini berganti nama dengan nama Dusun damai yang ramai penduduknya dan makmur. Raja dan ratuku begitu bahagia mereka menangis sambil mengucap syukur ke hadirat Allah Yang Maha Esa. Aku memeluk tubuh kurus kedua orangtuaku beserta kedua anak dan istriku tercinta. “amam pangeran ibu dan ayah yang dulu sekarang sukses bu ayah, ibu dan ayah tak usah khawatir dan menangis lagi aku tak ingin kalian bersedih lagi. Aku selalu ingin kalian terseyum” kataku pelan, tangis ibu semakin syahdu, tangis bahagia yang belum pernah aku dengar.

    Cerpen Karangan: Syekar
    Facebook: Bulan Purnama

    Artikel Terkait

    Jangan Menangis Lagi
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email