Judul Cerpen My Brother (Part 2)
“Uhuk, uhuk!”
Suara batuk Raffa yang membuatku terbangun dari tidurku lagi dan lagi terdengar. Sudah tiga hari ini ia batuk-batuk. Setelah pulang dari penjara seminggu yang lalu, ia terlihat banyak mengalami perubahan. Bukan hanya tubuhnya yang mengurus, tapi kepribadiannya kini menjadi tertutup, lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamarnya. Padahal, sebenarnya ia bukan seseorang yang seperti itu.
Dulu, Raffa adalah adikku yang mempunyai sifat terbuka. Dia selalu mencurahkan isi hatinya kepadaku setiap kali ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya yang membuatnya tidak nyaman atau ada sesuatu yang sudah membuat hatinya bahagia. Seperti halnya ketika ia baru merasakan jatuh cinta. Dia selalu datang ke kamarku untuk menceritakannya padaku ketika ku sedang belajar di malam hari.
“Kak, tadi pagi Raffa nyapa dia, terus dia nyapa balik ke Raffa sambil tersenyum. Senyumannya manis banget, bikin jantung Raffa deg-degan. Raffa senang banget Kak. Kira-kira dia suka Raffa gak ya Kak?” Begitulah kata-katanya yang menceritakan tentang perempuan yang ia sukai untuk kesekian kalinya. Yang membuatku bosan mendengarnya, yang juga membuatku cemburu karena ada orang lain yang mampu meluluhkan hatinya.
Aneh memang, masa harus cemburu dengan adikku sendiri. Tapi jujur, aku benar-benar cemburu. Aku takut rasa sayangnya kepadaku terbagi dengan orang lain yang ia suka. Aku tidak mau hal itu terjadi. Raffa hanya milikku dan milik ibu, tidak boleh ada orang lain yang memilikinya, begitu juga dengan rasa sayangnya.
Aku jadi rindu saat-saat itu, saat Raffa masih mau bercerita padaku tentang orang yang disukainya. Meski cemburu, aku tetap mendengarkannya dan tetap memberikan solusi untuknya. Tapi sekarang, ia menjadi pribadi yang tertutup, yang sudah tidak mau lagi mencurahkan isi hatinya padaku.
Aku juga jadi rindu saat-saat masih bersekolah bersamanya dulu. Saat dia selalu mengikutiku ketika beristirahat di kantin, saat dia selalu memanggil-manggilku ketika aku sedang berlatih sebagai pasukan pengibar bendera untuk upacara bendera di setiap hari senin, dan saat apa pun itu yang membuatku kini merindukan sikapnya. Meski malu dan suka kesal dia seperti itu padaku, tapi aku memakluminya. Karena dia baru memasuki dunia SMP, wajar bila sikap kekanak-kanakannya masih ditunjukkan olehnya.
“Raf, kamu kenapa?” Aku berkata sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Kali ini aku bertanya tentang batuknya itu, setelah sebelumnya aku tidak terlalu mengkhawatirkannya.
“Raffa gak apa-apa Kak.” Jawabnya dari dalam.
“Kamu batuk-batuk terus, benar kamu gak apa-apa?” Aku kembali bertanya.
“Iya Kak, Raffa gak apa-apa Kok. Raffa cuma batuk biasa aja. Kakak gak usah khawatir ya!” Jawabnya.
“Ya udah, kakak mau kekamar lagi. Kamu istirahat ya!”
“Iya Kak!”
Aku berlalu meninggalkan kamarnya dan kembali menuju kamarku untuk melanjutkan tidurku sampai akhirnya aku kembali terbangun ketika matahari pagi sudah bersinar. Aku langsung mandi dan merapikan diriku untuk sarapan bersama ibu dan Raffa seperti biasanya.
“Pagi Bu!” Aku menyapa ibu yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
“Pagi sayang!” Ibu balik menyapaku.
“Raffa belum bangun Bu?” Tanyaku ketika tidak melihat dirinya ada di meja makan.
“Kayanya belum deh? Coba kamu lihat di kamarnya!” Jawab ibu.
Aku berjalan menuju kamar Raffa untuk melihat dirinya sudah bangun atau belum. Tidak biasanya dia belum terlihat di meja makan. Biasanya dia yang lebih dulu ada disana sebelum aku. Setelah sampai di depan kamarnya, aku langsung mengutuk pintunya.
Tok, tok, tok..
“Raf, kamu udah bangun belum?”
“Iya Kak, Raffa udah bangun.” Jawabnya dari dalam.
“Kok belum keluar buat sarapan? Kakak sama ibu nunggu kamu buat sarapan.” Tanyaku.
“Iya Kak, iya nanti Raffa nyusul!” Jawabnya.
“Yaudah, kakak tunggu ya!”
“Iya Kak!”
Aku berlalu meninggalkan kamarnya dan kembali ke meja makan. Tidak lama kemudian Raffa pun datang ke meja makan. Aku terkejut melihatnya pagi ini. Wajahnya terlihat pucat dengan langkah jalannya yang lemah. Apa dia sakit? Atau, apa karena batuknya selama ini yang membuatnya begitu? Aku pun langsung bertanya padanya.
“Raf, kamu sakit?”
“Nggak kok Kak, Raffa cuma sedikit gak enak badan aja.” Ia menjawab dengan lemah.
“Benar kamu cuma gak enak badan aja?” Ibu berkata dengan khawatir.
“Iya Bu, Raffa cuma gak enak badan aja kok.” Ia kembali menjawab dengan lemah.
“Ya udah, sekarang kamu sarapan yang ya, biar badan kamu kembali enak.” Ibu menyendokkan nasi goreng yang menjadi menu sarapan pagi ini ke piring Raffa. Lalu, kami pun memulai sarapannya.
Baru beberapa sendok nasi goreng yang masuk ke dalam mulut kami, tiba-tiba Raffa merasakan mual. Sesekali tangannya menutup mulutnya yang ingin mengeluarkan kembali makanan yang baru ia makan yang masuk ke dalam perutnya.
Karena sudah tidak bisa menahan rasa mual yang sedang dirasakan, Raffa pun berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan makanan yang ada di dalam perutnya yang sedari tadi ia coba tahan. Aku dan ibu yang khawatir juga berlari menuju kamar mandi untuk melihat keadaannya.
“Raf, kamu kenapa?” Tanyaku.
“Iya Raffa, kamu kenapa sayang?” Ibu juga ikut bertanya padanya karena khawatir akan keadaannya.
“Raffa gak apa-apa kok. Kayanya Raffa cuma butuh istirahat aja deh. Kakak sama ibu gak usah khawatir ya!” Ia menjawab sambil berjalan perlahan mengeluari kamar mandi.
“Beneran Raf, kamu gak apa-apa?” Aku kembali bertanya.
“Iya sayang, kita ke dokter ya!” Tambah ibu.
“Gak usah Bu. Raffa cuma butuh istirahat aja, nanti juga sembuh. Kakak sama ibu gak usah khawatir, Raffa baik-baik aja kok. Raffa ke kamar ya mau istirahat.” Ia berkata sambil berjalan perlahan menuju kamarnya.
Tubuhnya yang lemah membuatnya hampir saja terjatuh karena tidak bisa menyeimbangi dirinya berjalan. Tapi, aku siap siaga untuk membantunya.
“Kakak antar sampai kamar ya!”
Raffa menggangguk sebagai tanda mau ku antar ke kamarnya untuk beristirahat. Perlahan-lahan aku menyeimbangi jalannya langkah demi langkah, sampai akhirnya kami tiba di kamarnya. Aku kembali membantunya merebahkan tubuhnya ke kasurnya, dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Kemudian, aku keluar dari kamarnya untuk membiarkannya beristirahat.
Kalau seperti ini jadinya aku tidak bisa datang menghadiri acara reuni SMA ku yang akan dilaksanakan nanti malam. Sehari yang lalu, temanku memberitahukan padaku bahwa yang lain sepakat akan mengadakan reunian SMA kami setelah sekian lama tidak bertemu. Aku ingin sekali datang, aku rindu dengan mereka semua.
Tapi, siapa yang akan menjaga Raffa kalau aku pergi? Sementara, ibu juga akan pergi ke rumah saudara kami yang akan mengadakan acara di Bandung. Aku bimbang. Aku ingin sekali datang ke acara reuni SMA ku nanti malam, tapi bagaimana dengan Raffa? Aku tidak mungkin menyuruh ibu untuk membatalkan acaranya itu untuk menjaga Raffa agar aku bisa datang ke acara reuni SMA ku.
Lalu, bagaimana dengan kue-kue yang sudah ibu buat banyak untuk dibawa ke acaranya itu? Sayang, jika ibu tidak datang kesana. Siapa yang akan memakan kue sebanyak itu? Mubazir jika harus menghambur-hamburkan makanan. Tanpa harus berfikir panjang lagi, aku memutuskan untuk membatalkan menghadiri acat reuni SMA ku dan membiarkan ibu yang pergi ke acaranya itu.
Aku tidak boleh egois, masih ada banyak waktu untuk bisa bertemu dengan teman-teman SMA ku, bukan hanya nanti malam. Sebelum pergi, ibu berpesan padaku untuk menjaga Raffa, walau sebenarnya aku sudah tahu akan hal itu. Siapa lagi yang akan menjaganya kalau bukan aku?
Pagi berganti siang, siang berganti malam. Sekarang, aku duduk di bangku yang berada di kamar Raffa untuk menjaganya yang sedang tertidur. Keinginan untuk datang ke acara reuni SMA ku malam ini kembali kurasakan. Teleponku terus bergetar karena ada banyak pesan singkat yang masuk dari teman-temanku untuk mengingatkan akan acara malam ini. Tanpa sadar, Raffa terbangun dari tidurnya karena mendengar suara getaran teleponku.
“Kakak kenapa? Kok gelisah gitu?” Tanyanya.
“Kakak gak apa-apa kok Raf.” jawabku sambil mencoba menutupi kegelisahanku yang sedari tadi sedang aku rasakan, karena tidak bisa datang ke acara reuni SMA ku malam ini.
“Jangan bohong Kak, Raffa kenal kakak. Raffa tahu kakak pasti bohong kan? Ada apa Kak?” Ia kembali bertanya.
“Seharusnya malam ini kakak datang ke acara reuni SMA kakak, tapi karena kamu lagi sakit dan gak ada yang menjaga, kakak gak jadi pergi.” Aku menjawab sejujurnya.
“Kakak pergi aja, Raffa gak apa-apa kok sendiri. Pasti kakak kangen kan sama teman-teman kakak?”
“Tapi kakak khawatir sama kamu Raf. Nanti siapa yang membantu kamu kalau kamu mau sesuatu?”
“Raffa udah besar Kak, Raffa bukan anak kecil lagi yang masih dibantu kalau mau sesuatu. Kakak pergi aja, Raffa gak apa-apa kok sendiri. Kakak gak usah khawatirin Raffa. Lagi pula acaranya cuma malam ini kan?”
Raffa terus menyuruhku untuk datang ke acara reuni SMA ku, dan ia terus meyakinkanku bahwa ia akan baik-baik saja disaat aku pergi ke sana. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk datang ke acara reuni SMA ku dan meninggalkannya sendiri di rumah. Benar kata Raffa, lagi pula acaranya hanya malam ini, jadi aku aku tidak terlalu lama meninggalkannya sendiri di rumah.
“Kalau terjadi sesuatu sama kamu kabari kakak ya Raf!” Aku berpesan padanya sebelum aku berangkat.
“Iya Kak, hati-hati ya!” Raffa menjawab sambil tersenyum. Meski senyumannya terlihat lemah, tapi ketampanannya tetap terpancar.
Aku membalas senyumannya sebelum pergi meninggalkan kamarnya. Walau masih khawatir meninggalkannya sendiri di rumah, tapi rasa itu hilang karena ia selalu meyakinkanku bahwa ia akan baik-baik saja, jadi aku bisa lebih tenang meninggalkannya.
Lalu, aku keluar rumah dan menunggu temanku yang datang untuk menjemputku agar bisa sampai ke tempat reuninya. Tidak lama kemudian ia datang. Kami pun berangkat ke sana.
“Fa, gimana, kamu udah bisa mengendarai motor sendiri?” Tanyanya ketika di perjalanan.
“Belum Nay, aku masih belum bisa buat mengendarai motor sendiri.” Jawabku.
“Bukannya kamu udah belajar sama adik kamu ya?”
“Iya, emang udah. Tapi waktu itu aku jatuh, sampai sekarang aku gak mau lagi buat belajar mengendarai motor. Aku takut.”
“Ah.. kamu payah nih. Hahaha..” Naya tertawa mendengar aku berkata begitu. Aku juga ikut tertawa menertawai diriku sendiri yang masih kalah darinya dalam hal berkendara sepedah motor.
Nayalah orang yang membuatku iri dan ingin belajar mengendarai sepedah motor. Ia sudah bisa mengendarai motor sejak kelas satu SMA tanpa ada yang mengajarinya. Awalnya, aku tidak percaya padanya. Tapi, setelah aku melihatnya datang ke sekolah dengan menggunakan motornya itu sendiri, aku jadi percaya. Bahkan, aku terheran-heran melihatnya sudah lihai mengendarainya meski dia perempuan.
Saking asyiknya mengobrol, tanpa sadar kami sudah tiba di tempat acara reuni dilaksanakan.
“Reffa, Naya!”
Terdengar sebuah teriakan seseorang ketika aku dan Naya tiba. Ia langsung menghambur memeluk kami, lalu mencium pipi kanan dan kiri kami. Begitu juga dengan yang lainnya. Rasanya senang sekali bisa bertemu dengan mereka semua setelah sekian lama tidak bertemu sejak lulus SMA. Sejak itu, kami tidak bertemu lagi karena kami melanjutkan pendidikan di kampung halaman masing-masing.
Sekarang, kami semua bercengkerama melepas rindu yang sudah lama tidak bertemu, sampai-sampai kami lupa waktu hingga larut malam.
“Udah malam banget, kapan acaranya selesai? Aku mau pulang!” Aku berkata pada semuanya. Aku jadi kembali khawatir dengan Raffa karena meninggalkannya yang sedang sakit sendiri di rumah.
“Minggu depan acaranya baru selesai.” Jawab salah satu diantara semuanya.
“Minggu depan!” Ucapku terkejut.
“Iya, emangnya kenapa?” Tanya Naya.
“Adikku sedang sakit dan sendirian di rumah, kalau aku pulang minggu depan siapa yang menjaganya? Ibuku sedang pergi.” Jawabku.
“Adik kamu Raffa? Dia kan udah besar, dia bukan anak kecil lagi yang masih harus dijaga.” Ucap salah satu di antara semuanya kembali.
“Tapi aku khawatir sama dia. Nanti siapa yang membantunya minum obat?”
“Reffa, dia udah besar. Bukan anak kecil lagi yang masih diminumin obat disaat mau meminumnya.”
“Iya Fa, udah lah jangan terlalu khawatir. Kita gunakan waktu pertemuan kita yang sekarang.”
“Benar tuh! Kapan lagi kita bisa kumpul bareng kalau bukan hari ini?”
Semuanya terus mendorongku untuk tetap mengikuti acara reuninya sampai minggu depan. Sebenarnya mau, tapi aku khawatir dengan Raffa di rumah. Tapi juga, aku tidak mau melewatkan kesempatan untuk berkumpul dengan yang lain.
Benar kata mereka, kapan lagi kita bisa kumpul bersama seperti sekarang kalau bukan hari ini? Aku pun memutuskan untuk mengikuti acara reuni ini sampai akhir. Lagi pula Raffa selalu mengatakan padaku bahwa ia akan baik-baik saja di rumah sendiri, jadi aku tidak terlalu mengkhawatirkan keadaannya itu.
Selama reuni berlangsung, aku lupa segalanya. Lupa dengan rumah, ibu, dan juga Raffa. Aku terlalu kesenangan karena bisa berkumpul dengan yang lain, itulah yang membuatku lupa akan segalanya. Saking lupanya, aku bahkan menonaktifkan teleponku. Padahal, sebelum pergi ke acara reuni ini, aku sudah mengatakan pada Raffa untuk menghubungiku jika terjadi sesuatu padanya. Kalau seperti ini jadinya, bagaimana Raffa bisa menghubungiku kalau teleponku saja tidak aktif?
Satu, dua, tiga, sampai akhirnya satu minggu berlalu. Acara reuni pun selesai. Kami kembali pulang ke rumah masing-masing. Sebelum kami kembali ke rumah, kami berpelukan sebagai tanda perpisahan kami. Kami juga berjanji akan mengadakan reuni lagi di suatu hari nanti. Aku pulang ke rumah dengan di antar oleh Naya.
Setelah sampai di rumah, keadaan rumah sepi. Pintu tidak terkunci, ibu dan Raffa pun tidak terlihat sama sekali. Mereka kemana? Apa ada sesuatu hal buruk yang terjadi pada mereka? Terjadi pada Raffa, atau pada ibu? Oh, tidak. Jika itu terjadi, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Karena keinginan untuk datang ke acara reuni SMA ku, aku sampai melupakan adik dan ibuku sendiri. Sehingga, aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka selama aku gak di rumah.
Bersambung.
Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam
“Uhuk, uhuk!”
Suara batuk Raffa yang membuatku terbangun dari tidurku lagi dan lagi terdengar. Sudah tiga hari ini ia batuk-batuk. Setelah pulang dari penjara seminggu yang lalu, ia terlihat banyak mengalami perubahan. Bukan hanya tubuhnya yang mengurus, tapi kepribadiannya kini menjadi tertutup, lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamarnya. Padahal, sebenarnya ia bukan seseorang yang seperti itu.
Dulu, Raffa adalah adikku yang mempunyai sifat terbuka. Dia selalu mencurahkan isi hatinya kepadaku setiap kali ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya yang membuatnya tidak nyaman atau ada sesuatu yang sudah membuat hatinya bahagia. Seperti halnya ketika ia baru merasakan jatuh cinta. Dia selalu datang ke kamarku untuk menceritakannya padaku ketika ku sedang belajar di malam hari.
“Kak, tadi pagi Raffa nyapa dia, terus dia nyapa balik ke Raffa sambil tersenyum. Senyumannya manis banget, bikin jantung Raffa deg-degan. Raffa senang banget Kak. Kira-kira dia suka Raffa gak ya Kak?” Begitulah kata-katanya yang menceritakan tentang perempuan yang ia sukai untuk kesekian kalinya. Yang membuatku bosan mendengarnya, yang juga membuatku cemburu karena ada orang lain yang mampu meluluhkan hatinya.
Aneh memang, masa harus cemburu dengan adikku sendiri. Tapi jujur, aku benar-benar cemburu. Aku takut rasa sayangnya kepadaku terbagi dengan orang lain yang ia suka. Aku tidak mau hal itu terjadi. Raffa hanya milikku dan milik ibu, tidak boleh ada orang lain yang memilikinya, begitu juga dengan rasa sayangnya.
Aku jadi rindu saat-saat itu, saat Raffa masih mau bercerita padaku tentang orang yang disukainya. Meski cemburu, aku tetap mendengarkannya dan tetap memberikan solusi untuknya. Tapi sekarang, ia menjadi pribadi yang tertutup, yang sudah tidak mau lagi mencurahkan isi hatinya padaku.
Aku juga jadi rindu saat-saat masih bersekolah bersamanya dulu. Saat dia selalu mengikutiku ketika beristirahat di kantin, saat dia selalu memanggil-manggilku ketika aku sedang berlatih sebagai pasukan pengibar bendera untuk upacara bendera di setiap hari senin, dan saat apa pun itu yang membuatku kini merindukan sikapnya. Meski malu dan suka kesal dia seperti itu padaku, tapi aku memakluminya. Karena dia baru memasuki dunia SMP, wajar bila sikap kekanak-kanakannya masih ditunjukkan olehnya.
“Raf, kamu kenapa?” Aku berkata sambil mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Kali ini aku bertanya tentang batuknya itu, setelah sebelumnya aku tidak terlalu mengkhawatirkannya.
“Raffa gak apa-apa Kak.” Jawabnya dari dalam.
“Kamu batuk-batuk terus, benar kamu gak apa-apa?” Aku kembali bertanya.
“Iya Kak, Raffa gak apa-apa Kok. Raffa cuma batuk biasa aja. Kakak gak usah khawatir ya!” Jawabnya.
“Ya udah, kakak mau kekamar lagi. Kamu istirahat ya!”
“Iya Kak!”
Aku berlalu meninggalkan kamarnya dan kembali menuju kamarku untuk melanjutkan tidurku sampai akhirnya aku kembali terbangun ketika matahari pagi sudah bersinar. Aku langsung mandi dan merapikan diriku untuk sarapan bersama ibu dan Raffa seperti biasanya.
“Pagi Bu!” Aku menyapa ibu yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
“Pagi sayang!” Ibu balik menyapaku.
“Raffa belum bangun Bu?” Tanyaku ketika tidak melihat dirinya ada di meja makan.
“Kayanya belum deh? Coba kamu lihat di kamarnya!” Jawab ibu.
Aku berjalan menuju kamar Raffa untuk melihat dirinya sudah bangun atau belum. Tidak biasanya dia belum terlihat di meja makan. Biasanya dia yang lebih dulu ada disana sebelum aku. Setelah sampai di depan kamarnya, aku langsung mengutuk pintunya.
Tok, tok, tok..
“Raf, kamu udah bangun belum?”
“Iya Kak, Raffa udah bangun.” Jawabnya dari dalam.
“Kok belum keluar buat sarapan? Kakak sama ibu nunggu kamu buat sarapan.” Tanyaku.
“Iya Kak, iya nanti Raffa nyusul!” Jawabnya.
“Yaudah, kakak tunggu ya!”
“Iya Kak!”
Aku berlalu meninggalkan kamarnya dan kembali ke meja makan. Tidak lama kemudian Raffa pun datang ke meja makan. Aku terkejut melihatnya pagi ini. Wajahnya terlihat pucat dengan langkah jalannya yang lemah. Apa dia sakit? Atau, apa karena batuknya selama ini yang membuatnya begitu? Aku pun langsung bertanya padanya.
“Raf, kamu sakit?”
“Nggak kok Kak, Raffa cuma sedikit gak enak badan aja.” Ia menjawab dengan lemah.
“Benar kamu cuma gak enak badan aja?” Ibu berkata dengan khawatir.
“Iya Bu, Raffa cuma gak enak badan aja kok.” Ia kembali menjawab dengan lemah.
“Ya udah, sekarang kamu sarapan yang ya, biar badan kamu kembali enak.” Ibu menyendokkan nasi goreng yang menjadi menu sarapan pagi ini ke piring Raffa. Lalu, kami pun memulai sarapannya.
Baru beberapa sendok nasi goreng yang masuk ke dalam mulut kami, tiba-tiba Raffa merasakan mual. Sesekali tangannya menutup mulutnya yang ingin mengeluarkan kembali makanan yang baru ia makan yang masuk ke dalam perutnya.
Karena sudah tidak bisa menahan rasa mual yang sedang dirasakan, Raffa pun berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan makanan yang ada di dalam perutnya yang sedari tadi ia coba tahan. Aku dan ibu yang khawatir juga berlari menuju kamar mandi untuk melihat keadaannya.
“Raf, kamu kenapa?” Tanyaku.
“Iya Raffa, kamu kenapa sayang?” Ibu juga ikut bertanya padanya karena khawatir akan keadaannya.
“Raffa gak apa-apa kok. Kayanya Raffa cuma butuh istirahat aja deh. Kakak sama ibu gak usah khawatir ya!” Ia menjawab sambil berjalan perlahan mengeluari kamar mandi.
“Beneran Raf, kamu gak apa-apa?” Aku kembali bertanya.
“Iya sayang, kita ke dokter ya!” Tambah ibu.
“Gak usah Bu. Raffa cuma butuh istirahat aja, nanti juga sembuh. Kakak sama ibu gak usah khawatir, Raffa baik-baik aja kok. Raffa ke kamar ya mau istirahat.” Ia berkata sambil berjalan perlahan menuju kamarnya.
Tubuhnya yang lemah membuatnya hampir saja terjatuh karena tidak bisa menyeimbangi dirinya berjalan. Tapi, aku siap siaga untuk membantunya.
“Kakak antar sampai kamar ya!”
Raffa menggangguk sebagai tanda mau ku antar ke kamarnya untuk beristirahat. Perlahan-lahan aku menyeimbangi jalannya langkah demi langkah, sampai akhirnya kami tiba di kamarnya. Aku kembali membantunya merebahkan tubuhnya ke kasurnya, dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Kemudian, aku keluar dari kamarnya untuk membiarkannya beristirahat.
Kalau seperti ini jadinya aku tidak bisa datang menghadiri acara reuni SMA ku yang akan dilaksanakan nanti malam. Sehari yang lalu, temanku memberitahukan padaku bahwa yang lain sepakat akan mengadakan reunian SMA kami setelah sekian lama tidak bertemu. Aku ingin sekali datang, aku rindu dengan mereka semua.
Tapi, siapa yang akan menjaga Raffa kalau aku pergi? Sementara, ibu juga akan pergi ke rumah saudara kami yang akan mengadakan acara di Bandung. Aku bimbang. Aku ingin sekali datang ke acara reuni SMA ku nanti malam, tapi bagaimana dengan Raffa? Aku tidak mungkin menyuruh ibu untuk membatalkan acaranya itu untuk menjaga Raffa agar aku bisa datang ke acara reuni SMA ku.
Lalu, bagaimana dengan kue-kue yang sudah ibu buat banyak untuk dibawa ke acaranya itu? Sayang, jika ibu tidak datang kesana. Siapa yang akan memakan kue sebanyak itu? Mubazir jika harus menghambur-hamburkan makanan. Tanpa harus berfikir panjang lagi, aku memutuskan untuk membatalkan menghadiri acat reuni SMA ku dan membiarkan ibu yang pergi ke acaranya itu.
Aku tidak boleh egois, masih ada banyak waktu untuk bisa bertemu dengan teman-teman SMA ku, bukan hanya nanti malam. Sebelum pergi, ibu berpesan padaku untuk menjaga Raffa, walau sebenarnya aku sudah tahu akan hal itu. Siapa lagi yang akan menjaganya kalau bukan aku?
Pagi berganti siang, siang berganti malam. Sekarang, aku duduk di bangku yang berada di kamar Raffa untuk menjaganya yang sedang tertidur. Keinginan untuk datang ke acara reuni SMA ku malam ini kembali kurasakan. Teleponku terus bergetar karena ada banyak pesan singkat yang masuk dari teman-temanku untuk mengingatkan akan acara malam ini. Tanpa sadar, Raffa terbangun dari tidurnya karena mendengar suara getaran teleponku.
“Kakak kenapa? Kok gelisah gitu?” Tanyanya.
“Kakak gak apa-apa kok Raf.” jawabku sambil mencoba menutupi kegelisahanku yang sedari tadi sedang aku rasakan, karena tidak bisa datang ke acara reuni SMA ku malam ini.
“Jangan bohong Kak, Raffa kenal kakak. Raffa tahu kakak pasti bohong kan? Ada apa Kak?” Ia kembali bertanya.
“Seharusnya malam ini kakak datang ke acara reuni SMA kakak, tapi karena kamu lagi sakit dan gak ada yang menjaga, kakak gak jadi pergi.” Aku menjawab sejujurnya.
“Kakak pergi aja, Raffa gak apa-apa kok sendiri. Pasti kakak kangen kan sama teman-teman kakak?”
“Tapi kakak khawatir sama kamu Raf. Nanti siapa yang membantu kamu kalau kamu mau sesuatu?”
“Raffa udah besar Kak, Raffa bukan anak kecil lagi yang masih dibantu kalau mau sesuatu. Kakak pergi aja, Raffa gak apa-apa kok sendiri. Kakak gak usah khawatirin Raffa. Lagi pula acaranya cuma malam ini kan?”
Raffa terus menyuruhku untuk datang ke acara reuni SMA ku, dan ia terus meyakinkanku bahwa ia akan baik-baik saja disaat aku pergi ke sana. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk datang ke acara reuni SMA ku dan meninggalkannya sendiri di rumah. Benar kata Raffa, lagi pula acaranya hanya malam ini, jadi aku aku tidak terlalu lama meninggalkannya sendiri di rumah.
“Kalau terjadi sesuatu sama kamu kabari kakak ya Raf!” Aku berpesan padanya sebelum aku berangkat.
“Iya Kak, hati-hati ya!” Raffa menjawab sambil tersenyum. Meski senyumannya terlihat lemah, tapi ketampanannya tetap terpancar.
Aku membalas senyumannya sebelum pergi meninggalkan kamarnya. Walau masih khawatir meninggalkannya sendiri di rumah, tapi rasa itu hilang karena ia selalu meyakinkanku bahwa ia akan baik-baik saja, jadi aku bisa lebih tenang meninggalkannya.
Lalu, aku keluar rumah dan menunggu temanku yang datang untuk menjemputku agar bisa sampai ke tempat reuninya. Tidak lama kemudian ia datang. Kami pun berangkat ke sana.
“Fa, gimana, kamu udah bisa mengendarai motor sendiri?” Tanyanya ketika di perjalanan.
“Belum Nay, aku masih belum bisa buat mengendarai motor sendiri.” Jawabku.
“Bukannya kamu udah belajar sama adik kamu ya?”
“Iya, emang udah. Tapi waktu itu aku jatuh, sampai sekarang aku gak mau lagi buat belajar mengendarai motor. Aku takut.”
“Ah.. kamu payah nih. Hahaha..” Naya tertawa mendengar aku berkata begitu. Aku juga ikut tertawa menertawai diriku sendiri yang masih kalah darinya dalam hal berkendara sepedah motor.
Nayalah orang yang membuatku iri dan ingin belajar mengendarai sepedah motor. Ia sudah bisa mengendarai motor sejak kelas satu SMA tanpa ada yang mengajarinya. Awalnya, aku tidak percaya padanya. Tapi, setelah aku melihatnya datang ke sekolah dengan menggunakan motornya itu sendiri, aku jadi percaya. Bahkan, aku terheran-heran melihatnya sudah lihai mengendarainya meski dia perempuan.
Saking asyiknya mengobrol, tanpa sadar kami sudah tiba di tempat acara reuni dilaksanakan.
“Reffa, Naya!”
Terdengar sebuah teriakan seseorang ketika aku dan Naya tiba. Ia langsung menghambur memeluk kami, lalu mencium pipi kanan dan kiri kami. Begitu juga dengan yang lainnya. Rasanya senang sekali bisa bertemu dengan mereka semua setelah sekian lama tidak bertemu sejak lulus SMA. Sejak itu, kami tidak bertemu lagi karena kami melanjutkan pendidikan di kampung halaman masing-masing.
Sekarang, kami semua bercengkerama melepas rindu yang sudah lama tidak bertemu, sampai-sampai kami lupa waktu hingga larut malam.
“Udah malam banget, kapan acaranya selesai? Aku mau pulang!” Aku berkata pada semuanya. Aku jadi kembali khawatir dengan Raffa karena meninggalkannya yang sedang sakit sendiri di rumah.
“Minggu depan acaranya baru selesai.” Jawab salah satu diantara semuanya.
“Minggu depan!” Ucapku terkejut.
“Iya, emangnya kenapa?” Tanya Naya.
“Adikku sedang sakit dan sendirian di rumah, kalau aku pulang minggu depan siapa yang menjaganya? Ibuku sedang pergi.” Jawabku.
“Adik kamu Raffa? Dia kan udah besar, dia bukan anak kecil lagi yang masih harus dijaga.” Ucap salah satu di antara semuanya kembali.
“Tapi aku khawatir sama dia. Nanti siapa yang membantunya minum obat?”
“Reffa, dia udah besar. Bukan anak kecil lagi yang masih diminumin obat disaat mau meminumnya.”
“Iya Fa, udah lah jangan terlalu khawatir. Kita gunakan waktu pertemuan kita yang sekarang.”
“Benar tuh! Kapan lagi kita bisa kumpul bareng kalau bukan hari ini?”
Semuanya terus mendorongku untuk tetap mengikuti acara reuninya sampai minggu depan. Sebenarnya mau, tapi aku khawatir dengan Raffa di rumah. Tapi juga, aku tidak mau melewatkan kesempatan untuk berkumpul dengan yang lain.
Benar kata mereka, kapan lagi kita bisa kumpul bersama seperti sekarang kalau bukan hari ini? Aku pun memutuskan untuk mengikuti acara reuni ini sampai akhir. Lagi pula Raffa selalu mengatakan padaku bahwa ia akan baik-baik saja di rumah sendiri, jadi aku tidak terlalu mengkhawatirkan keadaannya itu.
Selama reuni berlangsung, aku lupa segalanya. Lupa dengan rumah, ibu, dan juga Raffa. Aku terlalu kesenangan karena bisa berkumpul dengan yang lain, itulah yang membuatku lupa akan segalanya. Saking lupanya, aku bahkan menonaktifkan teleponku. Padahal, sebelum pergi ke acara reuni ini, aku sudah mengatakan pada Raffa untuk menghubungiku jika terjadi sesuatu padanya. Kalau seperti ini jadinya, bagaimana Raffa bisa menghubungiku kalau teleponku saja tidak aktif?
Satu, dua, tiga, sampai akhirnya satu minggu berlalu. Acara reuni pun selesai. Kami kembali pulang ke rumah masing-masing. Sebelum kami kembali ke rumah, kami berpelukan sebagai tanda perpisahan kami. Kami juga berjanji akan mengadakan reuni lagi di suatu hari nanti. Aku pulang ke rumah dengan di antar oleh Naya.
Setelah sampai di rumah, keadaan rumah sepi. Pintu tidak terkunci, ibu dan Raffa pun tidak terlihat sama sekali. Mereka kemana? Apa ada sesuatu hal buruk yang terjadi pada mereka? Terjadi pada Raffa, atau pada ibu? Oh, tidak. Jika itu terjadi, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Karena keinginan untuk datang ke acara reuni SMA ku, aku sampai melupakan adik dan ibuku sendiri. Sehingga, aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka selama aku gak di rumah.
Bersambung.
Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam
My Brother (Part 2)
4/
5
Oleh
Unknown
