Judul Cerpen The Old Man
Kulihat dia sedang duduk di bangku taman itu lagi hari ini. 3… 4? Ya, sudah 4 hari berturut-turut aku melihatnya. Pria tua yang sudah berambut putih itu. Sedang apa dia disana? Sedang melihat apa dia dengan bunga yang sudah mati berada pada pangkuannya? Hem, kota yang aneh.
Aku memang seseorang yang termasuk ‘baru’ terhadap kota ini. Maklum, aku baru saja pindah seminggu yang lalu ke kota yang termasuk kecil. Orangtuaku berkata “bukankah lebih enak mencari tempat tinggal sementara di kota besar? Yang dekat dengan universitasmu? Mengapa kamu ingin sekali tinggal di Abertown? Kota itu kecil dan membosankan.” Kecil, ya. Membosankan, ya. Tapi justru karena itulah aku memilih kota ini. Kota yang tenteram dan damai.
Pada dasarnya aku memang lebih suka sendiri. Karena itu aku sangatlah senang ketika akhirnya berpisah dengan keluargaku. Bukan karena aku membenci keluargaku, tidak. Melainkan karena pada tempat tinggal asalku, keluargaku merupakan keluarga yang memiliki nama tua, sehingga selalu terjadi kebisingan dalam rumahku. Dan yang lebih parahnya, aku selalu dipaksa untuk berpartisipasi dalam kegaduhan tersebut.
Meski begitu, aku mengetahui kepentingan seorang teman. Todd namanya. Dia merupakan seorang ‘Abertowner’ dari lahir. Seorang anak lelaki yang benar-benar cocok dengan deskripsi ‘bocah kota kecil’. Rambutnya yang sedikit keriting tanpa adanya kilauan pomade, aksen yang tidak dapat ditemukan di tempat lain, dan bahasa yang sangat sopan. Dialah yang mengenalkan isi kota ini kepadaku, dan yang pertama kalinya menunjukkanku sosok kakek tua yang sedang duduk di bangku taman.
Seminggu sudah berlalu semenjak aku melihatnya pertama kali. Dan dia masih saja duduk di bangku itu. Bahkan ketika kutanya mengapa kepada Todd, ia hanya menggelengkan kepalanya sambil menaikkan bahu.
Sebenarnya, aku tidak harus melewati taman ini untuk pulang dari universitas. Tetapi setiap hari, aku memaksakan diriku untuk mengambil jalan yang lebih jauh hanya untuk melihatnya. Entah mengapa, aku merasa tertarik olehnya. Meski ia hanya duduk, pikiranku tak bisa mengeluarkan gambaran akan dia. Mengapa? Mengapa dia melakukan hal yang sama dan membosankan setiap hari, selama berjam-jam?
2 minggu. Gila. Bahkan aku saja tidak kuat duduk diam di bangku kelas selama lebih dari 7 jam. Dan itu saja ada Todd. Bagaimana dia bisa terus duduk disana, sendirian? Taman tersebut juga bukanlah taman yang sering dikunjungi. Hal ini disebabkan karena tumbuhan pada taman tersebut bukanlah tumbuhan yang bisa dibilang ‘hijau’. Taman itu sudah tua, sudah mati, tidak indah.
4 minggu. Sudah kuputuskan, aku akan berbicara padanya. Mungkin memang akan sedikit canggung dan aneh, tetapi besarnya rasa ingin tahuku sudah mengalahkan rasa maluku. Percaya atau tidak Todd sendiri ternyata pernah mengajaknya bicara. Tetapi respon yang terdengar hanyalah “Aku sedang menunggu istriku.” Karena itu, Todd mengatakan bahwa aku sebaiknya meninggalkannya sendirian.
Aku tidak mendengarkan.
Yes. Seperti biasa, dia disana. Sedang duduk menatapi ketiadaan. Huuuh, oke aku siap.
“Maaf apakah tempat ini diduduki orang?” tanyaku sambil menunjuk ke arah ujung bangku yang tidak didudukinya.
Dia melihat ke arahku dan terus menatapiku. Mulutnya diam. Wajahnya terlihat seperti sedang memproses pertanyaanku barusan, seperti layaknya seorang yang sudah berumur. Atau mungkin, dia hanya sedikit kaget ada yang berbicara kepadanya setelah sekian lama. Dia pun hanya menggelengkan kepalanya sedikit.
Matanya masih tertuju padaku bahkan ketika aku sudah duduk. Aku yang tidak bisa dibilang sebagai ekstrovert merasakan keringat berjalan menelurusi tulang punggungku akibat tak bisanya berkata-kata. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk langsung berbicara apa yang terlintas di pikiranku.
“Maaf, jika anda tidak keberatan saya bertanya, apa yang anda lakukan di sini setiap hari?” Tanyaku dengan sangat sopan
“… Saya sedang menunggu istri saya.” Jawabnya. Kali ini matanya kembali kosong, terarah pada rumput taman. Lalu ia membalikkan kepalanya.
Sesuai apa yang Todd katakan. Aku merasa ingin bertanya lebih lanjut kepadanya. Meski ia telah menjawab satu pertanyaanku, ia telah membangkitkan pertanyaan-pertanyaan baru. Tapi aku merasa bahwa aku akan menganggunya jika aku memanggilnya sekali lagi. Hari itu, kuputuskan cukup.
Semenjak hari itu, aku terus duduk di sampingnya sehabis pulang sekolah. Memang disana kita hanya akan duduk diam. Aku dengan pertanyaanku yang sama, dan dia dengan jawaban yang sama.
Terkadang aku akan membawa makanan untuknya. Aku berpikir bahwa apapun yang ia lakukan disana, pasti membuatnya selalu lupa makan. Tangannya kurus, hampir lebih kurus daripada aku yang sering dibilang ‘kering’.
Todd merasa apa yang kulakukan tidaklah penting dan hanya membuang-buang waktu. Ia merasa bahwa aku seharusnya menggunakan waktu itu untuk mengerjakan tugas sekolah bukannya untuk duduk diam bersama seorang tua. Tetapi ia tidak mengerti apa yang kulihat dalam mata orang tua itu setiap kali ia berkata bahwa ia sedang menunggu istrinya. Kesepian, kerinduan, kepedihan, dan penyesalan.
Setelah 2 minggu aku menemaninya, aku memberanikan diriku untuk bertanya lebih lanjut.
“Apakah dia sudah dekat? Istrimu?”
“… Tunggu saja, dia pasti datang. Dia selalu menjemput anak lelaki kami disini.”
Aku menoleh ke arah taman. Dan benar saja, tidak ada seorang pun disana, apalagi seorang anak kecil.
Aku tidak berkata apa-apa lagi. Ada sedikit rasa takut pada tubuhku. Jantungku berdegup serasa merombak seluruh organku.
Semenjak itu, aku menganggapnya tidak lebih sebagai orang tua yang sudah kehilangan akal sehatnya. Sehingga aku memperlakukannya sebagai itu. Aku tetap menemaninya, membawanya makan. Tetapi sekarang, aku tidak bisa menemukan kegunaannya untuk bertanya. Ia akan menjawabnya dengan delusionalnya sendiri. “Tidak ada yang akan datang untuk menjemput seseorang yang tidak ada.” Pikirku. Sehingga hari-hari setelah itu kita habiskan hanya mendengarkan suara daun kering yang terbawa angin.
“Orang tua di taman? Gila? Tidak, tidak ia bukanlah orang gila.” Ujar ayah Todd dengan aksen yang lebih berat daripada Todd sendiri.
“Aku kenal dengannya. Atau, pernah kenal lebih tepatnya. Mungkin sebelum kejadian di taman itu ya?” Tanyanya kepada istrinya yang hanya mengangguk.
“Tidak. Malah, ia merupakan orang terbijak yang pernah kukenal. Sebelum itu ia merupakan orang yang dicintai. Mungkin tidak oleh banyak orang, karena memang dari dulu ia merupakan seseorang yang tertutup, tapi dicintai. Sekarang, kupikir tidak ada yang masih berhubungan dengannya. Rasanya ia menutup diri sepenuhnya terhadap semua orang. Yahh memang apa yang bisa diharapkan, satu-satunya orang yang benar-benar bisa membuka dirinya sepenuhnya hanyalah istrinya.”
“Istri? Jadi benar dia memiliki istri?” Tanyaku.
“Oh iya. Kurasa kita ada foto mereka ketika mereka pertama kali pindah kesini.”
Setelah itu dia pergi mengambilkanku sebuah foto album. Dibaliknya halaman per halaman sampai ia menemukan sebuah foto pasangan dengan seorang bayi dalam gendongan sang ibu. Itu dia, kakek tua itu. Ia terlihat sangat… senang.
“Ya… inilah dia bersama istrinya. Lihatlah betapa bahagianya dia. Aku tidak merasa bahwa dia gila. Hanya kehilangan.”
“Kalau boleh tau, anda masih ingat namanya?”
“Oh ya tentu, namanya merupakan nama yang paling unik yang pernah kutemui, Edvare Wyolee. Dan istrinya Juny Kole-Wyolee.”
“Jadi.. dimana istrinya sekarang?” Tanyaku penuh harapan untuk sebuah jawaban.
Ayah Todd mengernyitkan alisnya seolah tidak percaya atas pertanyaan yang baru saja kulontarkan.
“… ia sudah meninggal kan? Oh iya kamu baru di kota ini ya. Itu sekitar 14 tahun yang lalu. Aku sendiri juga tidak mengetahui apa yang terjadi secara tepat, kami sedang pergi berlibur waktu itu. Sebuah bom meledak tepat di taman itu, dan sayangnya, Juny terkena ledakannya bersama anaknya. Kurasa semenjak itu barulah Ed datang ke taman itu.”
Bom? Apakah karena itu taman itu mati? Lalu apa yang ia tunggu di bangku itu? Ia tahu keluarganya sudah tidak ada, mengapa ia terus duduk disana? Setelah selesai mengerjakan tugas bersama Todd dan mengucapkan terimakasih kepada orangtuanya, aku segera bergegas ke rumah. Hari itu aku tidak menemani Ed. Tetapi kuhabiskan untuk mencari tahu apa yang terjadi pada taman itu 14 tahun yang lalu.
Keesokannya, aku kembali duduk di bangku itu. Ketika duduk, aku membuka mulutku untuk pertama kalinya semenjak terakhir kita berbicara.
“Mr. Wyolee?” Ucapku. Dan ia menoleh ke arahku dengan tatapan yang lebih berisi dari biasa. Meski begitu, ia tidak menjawab. Mungkin ia kaget bahwa ada yang menyebut namanya setelah sekian lama.
“Saya turut berduka cita atas kehilangan anda. Ini harinya bukan?”
Sekali lagi ia hanya menjawabku dengan sebuah tatapan. Tetapi kali ini, tatapan yang ia berikan berbeda dari biasanya. Tatapan yang biasanya merupakan tatapan kosong, sudah berubah menjadi tatapan paling sendu yang pernah kulihat.
“Saya tahu, dan saya benar-benar bisa memahami apa yang anda rasakan. Tapi anda tidak bisa terus melakukan ini. Anda sudah duduk diam di bangku ini selama berapa tahun? 14 tahun? Tidakkah kau merasa bahwa ini sudah waktunya anda untuk bangkit meninggalkan bangku ini? Untuk kembali berjalan ke depan? Istrimu pasti akan menginginkan hal itu, bukan?”
Bahkan setelah aku berbicara seperti itu, ia masih tidak menjawabku. Aku menyerah, mungkin memang ia tidak ingin membicarakan hal ini sama sekali. Yahhh, aku juga tidak bisa meyalahkannya. Memang aku berkata bahwa aku memahaminya, tapi bahkan aku saja tahu bahwa itu hanyalah suatu kebohongan belaka. Aku tidak bisa menempatkan diriku di sepatunya, dan jujur saja, aku tidak mau.
Aku berpikir bahwa ia tidak perlu membuka dirinya kepadaku. Siapa aku? Aku hanyalah seorang anak muda yang baru saja pindah. Jika benar kata ayah Todd bahwa ia hanya membuka diri kepada istrinya, maka aku tahu ia tidak akan membuka diri kepadaku. Yang ia perlukan hanyalah seseorang untuk menemaninya, dan itulah peranku. Aku mengeluarkan makanan yang telah kubawa untuknya, dan hendak memberikannya.
Biasanya, ketika ia melihat tanganku yang sedang menyodorkan makanan, ia akan langsung mengambilnya. Tetapi, kali ini tidak, ia hanya menatapi tanganku. Makanan itu pun hanya kutaruh di sebelah pangkuannya.
‘Apakah aku salah untuk membahas suatu topik yang kutahu merupakan topik yang menyakitkan baginya?’ Itulah yang terus kupikirkan dalam kesunyian yang ia berikan.
—
“… Itu seharusnya aku. Kamu tahu? Itu seharusnya aku…”
Ucapnya memecah kesunyian secara tiba-tiba. Aku menoleh, dan yang kulihat hanyalah seorang tua yang telah kehilangan segalanya. Matanya yang berair serasa merupakan teriakannya terhadap dunia.
“… Dia sedang sakit hari itu kamu tahu? Maag. Sabtu, ya hari sabtu. Aku ingat bagaimana cerahnya pagi sabtu itu.
‘Ayah! Nanti jemput aku dong di taman!’ itulah yang ia katakan. Hal yang terakhir kudengar keluar dari mulutnya. ‘Jemput aku.’ ‘Jemput aku.
‘Ya, nanti ayah jemput yaa. Hati-hati main bolanya, cetak skor yang banyak yaa.’ Lalu kulihat punggungnya yang masih mungil itu lari ke luar rumah, membawa bola kuning kesayangannya. ‘Nanti ayah jemput.’ Jika saja kutepati janjiku. Jika saja.
‘Kamu sudah sembuh belum?’ Kubangunkan istriku yang malam sebelumnya mengeluh kesakitan. Ia hanya membuka matanya sedikit, dan kulihat bibirnya bergerak membentuk sebuah kurva positif. Dan ia menggelengkan kepalanya. Matanya kembali tertutup, kepada mimpi ia kembali.
Teleponku berdering. Tidak lama kemudian aku menemukan diriku dalam sebuah setelan pada hari libur. Aku harus masuk hari itu, ada sebuah client penting yang memaksa untuk bertemu denganku secara langsung. Mobil segera kunyalakan dan pergilah aku dengan tergesa-gesa. Berharap bahwa aku akan cepat pulang untuk menjemput Nick.
Rapat yang seharusnya hanya berjalan 1,5 jam, berubah menjadi 2,5. Ternyata ada sebuah komplikasi dengan client.
Aku segera menelepon Juny. Aku tidak bisa menjemput Nick.
Kita mengalami sebuah debat kecil. Memang, ia sedang sakit ketika itu, tapi aku menganggapnya sebagai hal yang sepele. Pada akhirnya Juny yang akan menjemput Nick di taman, dan aku terus melanjutkan rapatku.
Sebuah telepon masuk ke ponselku dengan nomor yang tidak kukenal. Tentu dalam rapat seperti itu aku tidak bisa mengangkat sebuah nomor yang tidak kukenal. Tidak lama ponselku berdering lagi, sehingga aku terpaksa mematikan ponselku selama rapat itu.
Aku melihat sebuah toko bunga dan aku membelikan Juny sebagai permintaan maaf atas kelakuanku. Tetapi ketika aku sampai di rumah, tidak ada orang disana. Aku berpikir bahwa mereka masih berada di taman sehingga aku bermaksud untuk memberi mereka kejutan.
Betapa bingungnya aku ketika aku melihat banyak kerumunan orang di luar taman ini yang menutupi pandanganku terhadap taman. Aku mendorong diriku melewati kerumunan orang itu, dan kulihat apa yang mereka lihat. Sebuah taman yang sudah hangus. Sebuah taman yang dihiasi dengan jenazah-jenazah hitam.”
Lalu terdengar isakannya yang sudah pasti merupakan tangisan deras yang ditahan. Tetapi pada akhirnya, air matanya mulai bercucuran. Aku disini hanya bisa melihat percikan air matanya ketika bertabrakan dengan tanah. Air mata yang serasa bisa memecah permukaan Bumi.
“Maaf. Maaf. Maaf June. Maaf Nick. Maaf. Maaf.” Kudengar setiap perkataan yang keluar bersamaan dengan tiap tetes air mata. Perkataan dengan volume yang dimaksudkan untuk diri sendiri.
Untuk beberapa waktu, hanya itu yang bisa kudengar. Permintaan maafnya yang sudah tidak memiliki arti. Aku duduk disana, hanya duduk disana. Hanya itu yang bisa kulakukan. Aku tahu apa yang seharusnya kukatakan, tentang bagaimana itu bukan salahnya, bagaimana keluarganya tidak membencinya. Tapi semua itu kurasakan hampa.
“Kamu tahu? Ketika aku akhirnya menyalakan ponselku sekali lagi, aku menelepon kembali nomor itu. Dan ternyata itu adalah dari polisi ketika mereka sudah berhasil mengidentifikasikan 2 buah jenazah.” Ucapnya memecah suara tangis setelah sekian waktu.
“Dan yang terus kupikirkan selama itu adalah tentang bagaimana seharusnya akulah yang menjadi bagian dari jenazah tersebut. Atau apakah aku bahkan bisa menyelamatkan anakku? Apakah ada kemungkinan bahwa kita bertiga berhasil kabur dari tragedi itu bersama?”
Aku tidak bisa berkata-kata. Bagaimana aku bisa menjawabnya? Semua jawaban terasa salah.
“… Tapi itu semua sudah tidak penting. Aku sudah menunggu istriku selama 14 tahun. Dan ia sudah dekat.”
Aku tidak mengerti apa yang ia maksud, tetapi sebelum aku sempat menanyakannya, ia berkata sekali lagi kepadaku.
“Terimakasih telah menemaniku selama ini. Mulai besok, kamu tidak perlu lagi. Aku akan sudah bersama dengan keluargaku sekali lagi.”
Aku merasa bahwa aku harus berbicara sesuatu. Atau setidaknya bertanya mengapa. Tetapi dari semua pikiranku, tidak ada yang kukeluarkan. Karena pada akhirnya, ada beberapa perkataan yang lebih baik ditinggalkan dalam pikiran.
Keesokan harinya, aku datang kepada taman itu sekali lagi. Dan dari jauh, aku sudah melihat, bahwa bangku itu sudah menjadi bangku kosong. Dan ketika aku mendekatinya, aku melihat makananku yang masih penuh dari kemarin. Aku berpikir, bahwa ia meninggalkan ini sebagai pesan untukku, bahwa peranku sudah selesai.
Dan sekarang, aku tetap melewati taman itu ketika pulang. Hanya untuk melihat bangku itu. Bangku yang seharusnya membuatku merasakan suatu kelegaan, tetapi malah membawaku kesepian. Sebuah bangku biasa. Bangku kosong.
14 tahun. 14 tahun menunggu untuk sebuah payung datang menjemputnya. Dan di bawah payung tersebut, istrinya. Sebuah buket bunga layu yang lebih indah dari seluruh bunga harum di dunia, untuk orang yang paling hidup baginya. Sebuah permintaan maaf yang tidak diperlukan, untuk pertemuan kembali yang tidak bisa dicegah. Sebuah kesendirian pada dunia yang ditinggalkan, untuk kebersamaan di dunia lain.
Cerpen Karangan: Sylvester Leon Davin
Blog: writtennights.blogspot.com
Kulihat dia sedang duduk di bangku taman itu lagi hari ini. 3… 4? Ya, sudah 4 hari berturut-turut aku melihatnya. Pria tua yang sudah berambut putih itu. Sedang apa dia disana? Sedang melihat apa dia dengan bunga yang sudah mati berada pada pangkuannya? Hem, kota yang aneh.
Aku memang seseorang yang termasuk ‘baru’ terhadap kota ini. Maklum, aku baru saja pindah seminggu yang lalu ke kota yang termasuk kecil. Orangtuaku berkata “bukankah lebih enak mencari tempat tinggal sementara di kota besar? Yang dekat dengan universitasmu? Mengapa kamu ingin sekali tinggal di Abertown? Kota itu kecil dan membosankan.” Kecil, ya. Membosankan, ya. Tapi justru karena itulah aku memilih kota ini. Kota yang tenteram dan damai.
Pada dasarnya aku memang lebih suka sendiri. Karena itu aku sangatlah senang ketika akhirnya berpisah dengan keluargaku. Bukan karena aku membenci keluargaku, tidak. Melainkan karena pada tempat tinggal asalku, keluargaku merupakan keluarga yang memiliki nama tua, sehingga selalu terjadi kebisingan dalam rumahku. Dan yang lebih parahnya, aku selalu dipaksa untuk berpartisipasi dalam kegaduhan tersebut.
Meski begitu, aku mengetahui kepentingan seorang teman. Todd namanya. Dia merupakan seorang ‘Abertowner’ dari lahir. Seorang anak lelaki yang benar-benar cocok dengan deskripsi ‘bocah kota kecil’. Rambutnya yang sedikit keriting tanpa adanya kilauan pomade, aksen yang tidak dapat ditemukan di tempat lain, dan bahasa yang sangat sopan. Dialah yang mengenalkan isi kota ini kepadaku, dan yang pertama kalinya menunjukkanku sosok kakek tua yang sedang duduk di bangku taman.
Seminggu sudah berlalu semenjak aku melihatnya pertama kali. Dan dia masih saja duduk di bangku itu. Bahkan ketika kutanya mengapa kepada Todd, ia hanya menggelengkan kepalanya sambil menaikkan bahu.
Sebenarnya, aku tidak harus melewati taman ini untuk pulang dari universitas. Tetapi setiap hari, aku memaksakan diriku untuk mengambil jalan yang lebih jauh hanya untuk melihatnya. Entah mengapa, aku merasa tertarik olehnya. Meski ia hanya duduk, pikiranku tak bisa mengeluarkan gambaran akan dia. Mengapa? Mengapa dia melakukan hal yang sama dan membosankan setiap hari, selama berjam-jam?
2 minggu. Gila. Bahkan aku saja tidak kuat duduk diam di bangku kelas selama lebih dari 7 jam. Dan itu saja ada Todd. Bagaimana dia bisa terus duduk disana, sendirian? Taman tersebut juga bukanlah taman yang sering dikunjungi. Hal ini disebabkan karena tumbuhan pada taman tersebut bukanlah tumbuhan yang bisa dibilang ‘hijau’. Taman itu sudah tua, sudah mati, tidak indah.
4 minggu. Sudah kuputuskan, aku akan berbicara padanya. Mungkin memang akan sedikit canggung dan aneh, tetapi besarnya rasa ingin tahuku sudah mengalahkan rasa maluku. Percaya atau tidak Todd sendiri ternyata pernah mengajaknya bicara. Tetapi respon yang terdengar hanyalah “Aku sedang menunggu istriku.” Karena itu, Todd mengatakan bahwa aku sebaiknya meninggalkannya sendirian.
Aku tidak mendengarkan.
Yes. Seperti biasa, dia disana. Sedang duduk menatapi ketiadaan. Huuuh, oke aku siap.
“Maaf apakah tempat ini diduduki orang?” tanyaku sambil menunjuk ke arah ujung bangku yang tidak didudukinya.
Dia melihat ke arahku dan terus menatapiku. Mulutnya diam. Wajahnya terlihat seperti sedang memproses pertanyaanku barusan, seperti layaknya seorang yang sudah berumur. Atau mungkin, dia hanya sedikit kaget ada yang berbicara kepadanya setelah sekian lama. Dia pun hanya menggelengkan kepalanya sedikit.
Matanya masih tertuju padaku bahkan ketika aku sudah duduk. Aku yang tidak bisa dibilang sebagai ekstrovert merasakan keringat berjalan menelurusi tulang punggungku akibat tak bisanya berkata-kata. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk langsung berbicara apa yang terlintas di pikiranku.
“Maaf, jika anda tidak keberatan saya bertanya, apa yang anda lakukan di sini setiap hari?” Tanyaku dengan sangat sopan
“… Saya sedang menunggu istri saya.” Jawabnya. Kali ini matanya kembali kosong, terarah pada rumput taman. Lalu ia membalikkan kepalanya.
Sesuai apa yang Todd katakan. Aku merasa ingin bertanya lebih lanjut kepadanya. Meski ia telah menjawab satu pertanyaanku, ia telah membangkitkan pertanyaan-pertanyaan baru. Tapi aku merasa bahwa aku akan menganggunya jika aku memanggilnya sekali lagi. Hari itu, kuputuskan cukup.
Semenjak hari itu, aku terus duduk di sampingnya sehabis pulang sekolah. Memang disana kita hanya akan duduk diam. Aku dengan pertanyaanku yang sama, dan dia dengan jawaban yang sama.
Terkadang aku akan membawa makanan untuknya. Aku berpikir bahwa apapun yang ia lakukan disana, pasti membuatnya selalu lupa makan. Tangannya kurus, hampir lebih kurus daripada aku yang sering dibilang ‘kering’.
Todd merasa apa yang kulakukan tidaklah penting dan hanya membuang-buang waktu. Ia merasa bahwa aku seharusnya menggunakan waktu itu untuk mengerjakan tugas sekolah bukannya untuk duduk diam bersama seorang tua. Tetapi ia tidak mengerti apa yang kulihat dalam mata orang tua itu setiap kali ia berkata bahwa ia sedang menunggu istrinya. Kesepian, kerinduan, kepedihan, dan penyesalan.
Setelah 2 minggu aku menemaninya, aku memberanikan diriku untuk bertanya lebih lanjut.
“Apakah dia sudah dekat? Istrimu?”
“… Tunggu saja, dia pasti datang. Dia selalu menjemput anak lelaki kami disini.”
Aku menoleh ke arah taman. Dan benar saja, tidak ada seorang pun disana, apalagi seorang anak kecil.
Aku tidak berkata apa-apa lagi. Ada sedikit rasa takut pada tubuhku. Jantungku berdegup serasa merombak seluruh organku.
Semenjak itu, aku menganggapnya tidak lebih sebagai orang tua yang sudah kehilangan akal sehatnya. Sehingga aku memperlakukannya sebagai itu. Aku tetap menemaninya, membawanya makan. Tetapi sekarang, aku tidak bisa menemukan kegunaannya untuk bertanya. Ia akan menjawabnya dengan delusionalnya sendiri. “Tidak ada yang akan datang untuk menjemput seseorang yang tidak ada.” Pikirku. Sehingga hari-hari setelah itu kita habiskan hanya mendengarkan suara daun kering yang terbawa angin.
“Orang tua di taman? Gila? Tidak, tidak ia bukanlah orang gila.” Ujar ayah Todd dengan aksen yang lebih berat daripada Todd sendiri.
“Aku kenal dengannya. Atau, pernah kenal lebih tepatnya. Mungkin sebelum kejadian di taman itu ya?” Tanyanya kepada istrinya yang hanya mengangguk.
“Tidak. Malah, ia merupakan orang terbijak yang pernah kukenal. Sebelum itu ia merupakan orang yang dicintai. Mungkin tidak oleh banyak orang, karena memang dari dulu ia merupakan seseorang yang tertutup, tapi dicintai. Sekarang, kupikir tidak ada yang masih berhubungan dengannya. Rasanya ia menutup diri sepenuhnya terhadap semua orang. Yahh memang apa yang bisa diharapkan, satu-satunya orang yang benar-benar bisa membuka dirinya sepenuhnya hanyalah istrinya.”
“Istri? Jadi benar dia memiliki istri?” Tanyaku.
“Oh iya. Kurasa kita ada foto mereka ketika mereka pertama kali pindah kesini.”
Setelah itu dia pergi mengambilkanku sebuah foto album. Dibaliknya halaman per halaman sampai ia menemukan sebuah foto pasangan dengan seorang bayi dalam gendongan sang ibu. Itu dia, kakek tua itu. Ia terlihat sangat… senang.
“Ya… inilah dia bersama istrinya. Lihatlah betapa bahagianya dia. Aku tidak merasa bahwa dia gila. Hanya kehilangan.”
“Kalau boleh tau, anda masih ingat namanya?”
“Oh ya tentu, namanya merupakan nama yang paling unik yang pernah kutemui, Edvare Wyolee. Dan istrinya Juny Kole-Wyolee.”
“Jadi.. dimana istrinya sekarang?” Tanyaku penuh harapan untuk sebuah jawaban.
Ayah Todd mengernyitkan alisnya seolah tidak percaya atas pertanyaan yang baru saja kulontarkan.
“… ia sudah meninggal kan? Oh iya kamu baru di kota ini ya. Itu sekitar 14 tahun yang lalu. Aku sendiri juga tidak mengetahui apa yang terjadi secara tepat, kami sedang pergi berlibur waktu itu. Sebuah bom meledak tepat di taman itu, dan sayangnya, Juny terkena ledakannya bersama anaknya. Kurasa semenjak itu barulah Ed datang ke taman itu.”
Bom? Apakah karena itu taman itu mati? Lalu apa yang ia tunggu di bangku itu? Ia tahu keluarganya sudah tidak ada, mengapa ia terus duduk disana? Setelah selesai mengerjakan tugas bersama Todd dan mengucapkan terimakasih kepada orangtuanya, aku segera bergegas ke rumah. Hari itu aku tidak menemani Ed. Tetapi kuhabiskan untuk mencari tahu apa yang terjadi pada taman itu 14 tahun yang lalu.
Keesokannya, aku kembali duduk di bangku itu. Ketika duduk, aku membuka mulutku untuk pertama kalinya semenjak terakhir kita berbicara.
“Mr. Wyolee?” Ucapku. Dan ia menoleh ke arahku dengan tatapan yang lebih berisi dari biasa. Meski begitu, ia tidak menjawab. Mungkin ia kaget bahwa ada yang menyebut namanya setelah sekian lama.
“Saya turut berduka cita atas kehilangan anda. Ini harinya bukan?”
Sekali lagi ia hanya menjawabku dengan sebuah tatapan. Tetapi kali ini, tatapan yang ia berikan berbeda dari biasanya. Tatapan yang biasanya merupakan tatapan kosong, sudah berubah menjadi tatapan paling sendu yang pernah kulihat.
“Saya tahu, dan saya benar-benar bisa memahami apa yang anda rasakan. Tapi anda tidak bisa terus melakukan ini. Anda sudah duduk diam di bangku ini selama berapa tahun? 14 tahun? Tidakkah kau merasa bahwa ini sudah waktunya anda untuk bangkit meninggalkan bangku ini? Untuk kembali berjalan ke depan? Istrimu pasti akan menginginkan hal itu, bukan?”
Bahkan setelah aku berbicara seperti itu, ia masih tidak menjawabku. Aku menyerah, mungkin memang ia tidak ingin membicarakan hal ini sama sekali. Yahhh, aku juga tidak bisa meyalahkannya. Memang aku berkata bahwa aku memahaminya, tapi bahkan aku saja tahu bahwa itu hanyalah suatu kebohongan belaka. Aku tidak bisa menempatkan diriku di sepatunya, dan jujur saja, aku tidak mau.
Aku berpikir bahwa ia tidak perlu membuka dirinya kepadaku. Siapa aku? Aku hanyalah seorang anak muda yang baru saja pindah. Jika benar kata ayah Todd bahwa ia hanya membuka diri kepada istrinya, maka aku tahu ia tidak akan membuka diri kepadaku. Yang ia perlukan hanyalah seseorang untuk menemaninya, dan itulah peranku. Aku mengeluarkan makanan yang telah kubawa untuknya, dan hendak memberikannya.
Biasanya, ketika ia melihat tanganku yang sedang menyodorkan makanan, ia akan langsung mengambilnya. Tetapi, kali ini tidak, ia hanya menatapi tanganku. Makanan itu pun hanya kutaruh di sebelah pangkuannya.
‘Apakah aku salah untuk membahas suatu topik yang kutahu merupakan topik yang menyakitkan baginya?’ Itulah yang terus kupikirkan dalam kesunyian yang ia berikan.
—
“… Itu seharusnya aku. Kamu tahu? Itu seharusnya aku…”
Ucapnya memecah kesunyian secara tiba-tiba. Aku menoleh, dan yang kulihat hanyalah seorang tua yang telah kehilangan segalanya. Matanya yang berair serasa merupakan teriakannya terhadap dunia.
“… Dia sedang sakit hari itu kamu tahu? Maag. Sabtu, ya hari sabtu. Aku ingat bagaimana cerahnya pagi sabtu itu.
‘Ayah! Nanti jemput aku dong di taman!’ itulah yang ia katakan. Hal yang terakhir kudengar keluar dari mulutnya. ‘Jemput aku.’ ‘Jemput aku.
‘Ya, nanti ayah jemput yaa. Hati-hati main bolanya, cetak skor yang banyak yaa.’ Lalu kulihat punggungnya yang masih mungil itu lari ke luar rumah, membawa bola kuning kesayangannya. ‘Nanti ayah jemput.’ Jika saja kutepati janjiku. Jika saja.
‘Kamu sudah sembuh belum?’ Kubangunkan istriku yang malam sebelumnya mengeluh kesakitan. Ia hanya membuka matanya sedikit, dan kulihat bibirnya bergerak membentuk sebuah kurva positif. Dan ia menggelengkan kepalanya. Matanya kembali tertutup, kepada mimpi ia kembali.
Teleponku berdering. Tidak lama kemudian aku menemukan diriku dalam sebuah setelan pada hari libur. Aku harus masuk hari itu, ada sebuah client penting yang memaksa untuk bertemu denganku secara langsung. Mobil segera kunyalakan dan pergilah aku dengan tergesa-gesa. Berharap bahwa aku akan cepat pulang untuk menjemput Nick.
Rapat yang seharusnya hanya berjalan 1,5 jam, berubah menjadi 2,5. Ternyata ada sebuah komplikasi dengan client.
Aku segera menelepon Juny. Aku tidak bisa menjemput Nick.
Kita mengalami sebuah debat kecil. Memang, ia sedang sakit ketika itu, tapi aku menganggapnya sebagai hal yang sepele. Pada akhirnya Juny yang akan menjemput Nick di taman, dan aku terus melanjutkan rapatku.
Sebuah telepon masuk ke ponselku dengan nomor yang tidak kukenal. Tentu dalam rapat seperti itu aku tidak bisa mengangkat sebuah nomor yang tidak kukenal. Tidak lama ponselku berdering lagi, sehingga aku terpaksa mematikan ponselku selama rapat itu.
Aku melihat sebuah toko bunga dan aku membelikan Juny sebagai permintaan maaf atas kelakuanku. Tetapi ketika aku sampai di rumah, tidak ada orang disana. Aku berpikir bahwa mereka masih berada di taman sehingga aku bermaksud untuk memberi mereka kejutan.
Betapa bingungnya aku ketika aku melihat banyak kerumunan orang di luar taman ini yang menutupi pandanganku terhadap taman. Aku mendorong diriku melewati kerumunan orang itu, dan kulihat apa yang mereka lihat. Sebuah taman yang sudah hangus. Sebuah taman yang dihiasi dengan jenazah-jenazah hitam.”
Lalu terdengar isakannya yang sudah pasti merupakan tangisan deras yang ditahan. Tetapi pada akhirnya, air matanya mulai bercucuran. Aku disini hanya bisa melihat percikan air matanya ketika bertabrakan dengan tanah. Air mata yang serasa bisa memecah permukaan Bumi.
“Maaf. Maaf. Maaf June. Maaf Nick. Maaf. Maaf.” Kudengar setiap perkataan yang keluar bersamaan dengan tiap tetes air mata. Perkataan dengan volume yang dimaksudkan untuk diri sendiri.
Untuk beberapa waktu, hanya itu yang bisa kudengar. Permintaan maafnya yang sudah tidak memiliki arti. Aku duduk disana, hanya duduk disana. Hanya itu yang bisa kulakukan. Aku tahu apa yang seharusnya kukatakan, tentang bagaimana itu bukan salahnya, bagaimana keluarganya tidak membencinya. Tapi semua itu kurasakan hampa.
“Kamu tahu? Ketika aku akhirnya menyalakan ponselku sekali lagi, aku menelepon kembali nomor itu. Dan ternyata itu adalah dari polisi ketika mereka sudah berhasil mengidentifikasikan 2 buah jenazah.” Ucapnya memecah suara tangis setelah sekian waktu.
“Dan yang terus kupikirkan selama itu adalah tentang bagaimana seharusnya akulah yang menjadi bagian dari jenazah tersebut. Atau apakah aku bahkan bisa menyelamatkan anakku? Apakah ada kemungkinan bahwa kita bertiga berhasil kabur dari tragedi itu bersama?”
Aku tidak bisa berkata-kata. Bagaimana aku bisa menjawabnya? Semua jawaban terasa salah.
“… Tapi itu semua sudah tidak penting. Aku sudah menunggu istriku selama 14 tahun. Dan ia sudah dekat.”
Aku tidak mengerti apa yang ia maksud, tetapi sebelum aku sempat menanyakannya, ia berkata sekali lagi kepadaku.
“Terimakasih telah menemaniku selama ini. Mulai besok, kamu tidak perlu lagi. Aku akan sudah bersama dengan keluargaku sekali lagi.”
Aku merasa bahwa aku harus berbicara sesuatu. Atau setidaknya bertanya mengapa. Tetapi dari semua pikiranku, tidak ada yang kukeluarkan. Karena pada akhirnya, ada beberapa perkataan yang lebih baik ditinggalkan dalam pikiran.
Keesokan harinya, aku datang kepada taman itu sekali lagi. Dan dari jauh, aku sudah melihat, bahwa bangku itu sudah menjadi bangku kosong. Dan ketika aku mendekatinya, aku melihat makananku yang masih penuh dari kemarin. Aku berpikir, bahwa ia meninggalkan ini sebagai pesan untukku, bahwa peranku sudah selesai.
Dan sekarang, aku tetap melewati taman itu ketika pulang. Hanya untuk melihat bangku itu. Bangku yang seharusnya membuatku merasakan suatu kelegaan, tetapi malah membawaku kesepian. Sebuah bangku biasa. Bangku kosong.
14 tahun. 14 tahun menunggu untuk sebuah payung datang menjemputnya. Dan di bawah payung tersebut, istrinya. Sebuah buket bunga layu yang lebih indah dari seluruh bunga harum di dunia, untuk orang yang paling hidup baginya. Sebuah permintaan maaf yang tidak diperlukan, untuk pertemuan kembali yang tidak bisa dicegah. Sebuah kesendirian pada dunia yang ditinggalkan, untuk kebersamaan di dunia lain.
Cerpen Karangan: Sylvester Leon Davin
Blog: writtennights.blogspot.com
The Old Man
4/
5
Oleh
Unknown
