Judul Cerpen Arti Sebuah Keluarga
Hembusan angin malam kini tengah menusuk tubuhku. Kutarik koper berwarna merah muda dengan berjalan. Kala itu jalanan sepi dan tidak terlalu banyak kendaraan. Kakiku melangkah ke arah zebra cross. Tiba-tiba mobil berwarna silver nyaris menabrakku. Dengan langkah tegangnya sang sopir keluar dari mobil tersebut, ia meminta maaf kepadaku.
“Maafkan aku, aku tidak sengaja” ucapnya. “Tidak apa, itu tidak masalah bagiku” balasku. “Terima kasih, namamu siapa? Mengapa kamu berjalan sambil membawa koper di larut malam begini?” Tanyanya. “Namaku Putri, aku lahir di sebuah keluarga broken home. Aku kini sedang pergi dari rumah. Aku tak tahu harus tinggal dimana. Rumahku saja bagaikan neraka yang panas” kataku. “Ooh, Putri. Kenalkan, aku Nadia. Kamu bisa tinggal di rumahku, karena aku anak tunggal, aku tidak punya adik ataupun kakak. Jadi, apakah kamu bersedia untuk tinggal di rumahku?” Tanyanya. Kujawab dengan sebuah anggukan yang berarti kuberikan jawaban ‘ya’.
Kumasuki mobil mewahnya yang bermerk Avanza. Gadis bernama Nadia itu tampak menyetir mobilnya dengan penuh konsenterasi, mungkin dia tidak ingin kejadian yang nyaris menabrakku tadi terulang lagi. Mataku yang lelah ini mengajakku untuk tidur. Kuturiti permintaan mataku ini. Akhirnya aku pun tertidur.
Tiba-tiba “Putri… Putri… Kita sudah sampai di rumahku” dengan mengucek mataku, aku segera ke luar dari mobil silver tersebut. Yang ada di depan mataku sekarang adalah sebuah rumah mewah yang kusebut kastil. Rumah seperti ini juga sama seperti rumahku. Mungkin dalam rumahnya yang berbeda, kalau rumahku penuh kericuhan dan pertengkaran, mungkin rumah ini penuh ketenangan dan keharmonisan.
Aku dan Nadia melangkahkan kaki ke dalam rumah tersebut. Nadia menyuruhku untuk menjatuhkan badanku ke sofa yang empuk. Tak lama kemudian, muncul wanita dan pria paruh baya. Mungkin mereka Papa dan Mama Nadia. Setelah diskusi cukup lama, akhirnya aku diizinkan tinggal disini, di rumah ini, di rumah baruku. Aku sangat berterima kasih.
Dengan tubuh berbaring di kasur yang empuk, kupikirkan keluarga kandungku sekarang. Bagaimana mereka? Apa mereka mencariku? Mengkhawatirkanku? Mencemaskanku? Atau bahkan tidak mempedulikanku? Aku saja bahkan sudah tidak memikirkan mereka lagi. Kalau bahasa gaul MOVE ON. Aku lebih menyayangi keluarga Nadia dibanding keluarga kandungku sendiri yang hanya bisa bertengkar, sibuk bekerja, bahkan mereka tak pernah mengajakku liburan, ke luar rumah, apalagi mengajariku untuk mengerjakan tugas sekolah. Di rumah dan keluarga Nadia, aku bisa mengerti apa arti sebuah keluarga…
Cerpen Karangan: Nisrina Kamiliya
Facebook: Nisrina Kamiliya Riswanto
Hembusan angin malam kini tengah menusuk tubuhku. Kutarik koper berwarna merah muda dengan berjalan. Kala itu jalanan sepi dan tidak terlalu banyak kendaraan. Kakiku melangkah ke arah zebra cross. Tiba-tiba mobil berwarna silver nyaris menabrakku. Dengan langkah tegangnya sang sopir keluar dari mobil tersebut, ia meminta maaf kepadaku.
“Maafkan aku, aku tidak sengaja” ucapnya. “Tidak apa, itu tidak masalah bagiku” balasku. “Terima kasih, namamu siapa? Mengapa kamu berjalan sambil membawa koper di larut malam begini?” Tanyanya. “Namaku Putri, aku lahir di sebuah keluarga broken home. Aku kini sedang pergi dari rumah. Aku tak tahu harus tinggal dimana. Rumahku saja bagaikan neraka yang panas” kataku. “Ooh, Putri. Kenalkan, aku Nadia. Kamu bisa tinggal di rumahku, karena aku anak tunggal, aku tidak punya adik ataupun kakak. Jadi, apakah kamu bersedia untuk tinggal di rumahku?” Tanyanya. Kujawab dengan sebuah anggukan yang berarti kuberikan jawaban ‘ya’.
Kumasuki mobil mewahnya yang bermerk Avanza. Gadis bernama Nadia itu tampak menyetir mobilnya dengan penuh konsenterasi, mungkin dia tidak ingin kejadian yang nyaris menabrakku tadi terulang lagi. Mataku yang lelah ini mengajakku untuk tidur. Kuturiti permintaan mataku ini. Akhirnya aku pun tertidur.
Tiba-tiba “Putri… Putri… Kita sudah sampai di rumahku” dengan mengucek mataku, aku segera ke luar dari mobil silver tersebut. Yang ada di depan mataku sekarang adalah sebuah rumah mewah yang kusebut kastil. Rumah seperti ini juga sama seperti rumahku. Mungkin dalam rumahnya yang berbeda, kalau rumahku penuh kericuhan dan pertengkaran, mungkin rumah ini penuh ketenangan dan keharmonisan.
Aku dan Nadia melangkahkan kaki ke dalam rumah tersebut. Nadia menyuruhku untuk menjatuhkan badanku ke sofa yang empuk. Tak lama kemudian, muncul wanita dan pria paruh baya. Mungkin mereka Papa dan Mama Nadia. Setelah diskusi cukup lama, akhirnya aku diizinkan tinggal disini, di rumah ini, di rumah baruku. Aku sangat berterima kasih.
Dengan tubuh berbaring di kasur yang empuk, kupikirkan keluarga kandungku sekarang. Bagaimana mereka? Apa mereka mencariku? Mengkhawatirkanku? Mencemaskanku? Atau bahkan tidak mempedulikanku? Aku saja bahkan sudah tidak memikirkan mereka lagi. Kalau bahasa gaul MOVE ON. Aku lebih menyayangi keluarga Nadia dibanding keluarga kandungku sendiri yang hanya bisa bertengkar, sibuk bekerja, bahkan mereka tak pernah mengajakku liburan, ke luar rumah, apalagi mengajariku untuk mengerjakan tugas sekolah. Di rumah dan keluarga Nadia, aku bisa mengerti apa arti sebuah keluarga…
Cerpen Karangan: Nisrina Kamiliya
Facebook: Nisrina Kamiliya Riswanto
Arti Sebuah Keluarga
4/
5
Oleh
Unknown
