Judul Cerpen Bejo Sang Juara Balap Karung
Pukul 16.00 Sore, terlihat sekumpulan orang dari yang dewasa hingga anak-anak sedang menyaksikan perlombaan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Di dalam gerombolan tersebut terdapat enam anak yang sedang mengikuti lomba balap karung yang diselenggarakan oleh Kecamatan Kras. Anak tersebut terdiri dari Tomi, Agus, Bejo, Lindya, Sani, dan Bagas. Mereka berjuang sekuat tenaga demi mendapatkan gelar juara dan hadiah berupa uang Rp. 200.000,00 beserta alat-alat tulis sekolah. Seluruh penonton mengitari lokasi perlombaan hingga mereka berenam tidak terlihat dari kejahuan.
“Ayo Bejo! kau pasti bisa jadi juaranya.” Teriak seorang bocah di dalam kerumunan banyak orang. Dan orang tersebut adalah Sony, teman sekelas Bejo yang sekaligus teman sebangkunya. Mereka sudah lama berteman sejak duduk di bangku TK hingga sekarang mereka duduk di bangku SD kelas 6. Kemana pun hendak pergi, Bejo dan Sony selalu pergi bersama-sama. Sampai banyak warga sekitar yang menyebutnya sebagai anak kembar. Bu Darsih contohnya, beberapa minggu lalu beliau bilang “Dasar ‘Kembar Dempet’ kemana pun selalu bersama-sama perginya seperti tidak ada teman lain saja!”. Walaupun sejatinya mereka tidaklah kembar seperti apa yang Bu Darsih katakan, Karena jelas-jelas mereka ini berbeda orangtua. Hanya saja terlalu sering bersama-sama jadi dijuluki ‘Kembar Dempet’ deh, mereka juga memiliki latar belakang yang berbeda, Bejo hanyalah anak seorang sopir taksi yang berbeda jauh dengan Sony yang anaknya orang kaya CEO FJM ENT. Meskipun begitu, mereka tetap bersahabat sejak kecil tanpa memandang apa yang mereka miliki, karena sejatinya harta adalah milik Tuhan Yang Maha Kuasa.
Awalnya orangtua Sony tidak setuju jika anaknya bersahabat dengan Bejo, karena Bejo berasal dari keluarga yang kurang mampu. Mereka takut kalau Sony anaknya hanya dimanfaatkan oleh Bejo. Tapi semua pikiran buruk tersebut kini perlahan telah sirna karena mereka tahu bahwa Bejo ini adalah anak yang baik dan cukup berprestasi di sekolah khususnya dalam bidang olahraga terutama Bulu Tangkis. Berbeda halnya dengan Sony yang berprestasi dalam bidang akademik khususnya Sains, namanya pun juga sering keluar masuk daftar siswa yang ikut Olimpiade Sains. Harapannya ya, Bejo dan Sony ini bisa saling melengkapi kekurangan satu sama lain.
Hari sudah mendekati waktu Maghrib, Keenam anak tersebut masih semangat untuk memperebutkan gelar juara lomba balap karung beserta hadiahnya. “Aku pasti yang menang!” Ucap Bagas yakin. “Hei, tentu saja aku pemenangnya!” Sahut Lindya tak terima. “Bicara apa kalian berdua ini, tentu akulah pemenangnya!” Sahut Tomi yang lebih tak terima. “Buk Buk Gedebuk buk…” itulah suara dari lompatan kaki balap karung tersebut. Mereka terus adu kecepatan pantang menyerah. Untuk saat ini memang Bagas lah yang lebih unggul daripada dari yang lain. Tapi hal itu semakin memacu yang lain untuk menyusulnya. Aksi saling salip menyalip pun terjadi, hingga Agus yang tidak sengaja menyenggol Sani. “Aduh…” Sani pun terjatuh. “Aduh… sakit… Ibu… tolong aku…” rintih Sani kesakitan. Petugas kesehatan pun segera mengambil langkah dan segera mengangkut Sani lalu membawanya ke ruangan medis untuk menerima pengobatan. Agus pun acuh tak acuh sama sekali tidak mempedulikan apa yang telah terjadi dan apa yang telah ia lakukan kepada Sani, menoleh saja tidak apalagi meminta maaf. Agus melompat dengan sombongnya, penonton pun bersorak “Huuuu… apa-apaan kau ini, laki-laki macam apa kau ini sombongnya… kecilnya aja sudah kayak gini apalagi gedenya ya!” Teriak dari salah satu penonton yang kemudian disusul penonton lain “Memangnya orangtuanya ngedidiknya kayak gimana sih, sampai anaknya gak punya hati nurani seperti itu.” kata-kata penonton tersebut semakin membuat hati Agus teriris mengingat 2 tahun lalu ayah dan ibunya resmi bercerai dan menitipkan ia kepada neneknya yang seakan-akan kedua orangtuanya lupa padanya dan tidak pernah menjenguknya. Ia kemudian merasa bersalah dan kemudian berhenti sebelum mencapai finish yang selanjutnya ia melepas karung yang ia kenakan lalu berlari menuju kemana Sani dilarikan oleh petugas kesehatan. “Hei, mau kemana anak itu?” Teriak penonton terkejut. “Ah sudahlah.. lebih baik kita lihat yang lainnya kan yang lain pun juga peserta.” Jawab penonton lain. Penonton pun dibuat ternganga melihat kejadian tersebut.
Kini tinggal 4 peserta yang bertanding karena 2 peserta telah resmi didiskualifikasi. Bejo pun mulai mendekati Bagas dan perlahan mulai menyalipnya. Bagas yang berbadan besar membuat Bejo khawatir kalau Bagas tidak terima lalu menyenggolnya hingga terjatuh seperti kejadian Sani dan Agus. Namun ternyata pikiran negatif itu tidaklah benar karena Bagas nyatanya diam saja saat Bejo menyalipnya. Mungkin Bagas merasa lelah dan pasrah karena badannya besar tentu saja berat baginya untuk melompat karena mungkin saja tenaganya habis xixixi. Bejo semakin mendekati finish… dan pada akhirnya… “SPLAASSHH…” suara petasan beserta pita telah berbunyi menandakan Bejo telah sampai di garis finish dan menjadi pemenangnya.
Penyerahkan hadiah oleh panitia kepada pemenang pun dilaksanakan. Semua orang mengucapkan selamat kepada pemenangnya yang bukan lain adalah Bejo. Salah satu yang mengucapkan pertama kali adalah Sony sahabat dekatnya “Selamat Bejo, aku bangga sekali kepadamu.” Ucap Sony sambil menjabat tangannya dengan Bejo. “Terima kasih Sony, kamu memang sahabat terbaikku.” Ucap Bejo tersenyum. Raut bahagia pun meliputi akhir acara dan seakan akan lumpur yang menempel di pipi Bejo juga ikut bahagia menerima gelar Juara 1 yang kini diterimanya. Tepuk tangan dan siulan penonton begitu meriah diakhir acara tersebut. Tidak ketinggalan Jeyup pun juga ikut bersalaman dengan Bejo mengucapkan kata selamat. “Selamat ataz keberhasilanmu Bejo!” Ucap Jeyup sambil mengulurkan tanggannya kepada Bejo. “Iya Jeyup, terima kasih. Dan selamat juga atas kemenanganmu meraih Juara 3 Lomba Tenis kemarin hari Rabu.” Balas Bejo sambil menahan tawa. “Hey, kau ini Bejo! kau sebenarnya mengucapkan selamat atau mengejekku? untung kau ini polos ya, jadi aku memaafkanmu” Ucap Jeyup yang kemudian cemberut. “Ha ha ha… Iya kamu benar Bejo, Jeyup Juara 3.” Teriak Bagas terengah-engah. “Tepatnya Juara 3 dari 3 peserta.” Sahut Lindya tiba-tiba. “Aish.. kalian ini, hentikan heh..” Ucap Jeyup tak terima. “Itu sama saja kau kalah Jeyup haha.” Ucap Tomi sambil berteriak keras kepada Jeyup. “Stop! Hentikan!” Jeyup tak terima. Tawa pun menggelegar dari seluruh penjuru.
Acara telah selesai, semua orang perlahan-lahan meninggalkan lokasi tempat perlombaan berlangsung. “Sony, aku pulang dulu ya.. aku tidak sabar untuk menunjukkannya kepada Ibuku.” Ucap Bejo kepada Sony. “Hmm, baiklah Bejo berhati-hatilah dadah.. sampai besok ya.. jangan lupa traktirannya aku tunggu.” Ucap Sony sambil melambaikan tangannya. “Oke sip!” Bejo pun juga membalas lambaian tangan tersebut. Mereka berdua pun akhirnya berpisah. Bejo pulang dengan senang.
Sesampainya di rumah, “Mah, Bejo pul..” Bejo pun terkejut meliah Ibunya. Seorang perempuan berseragam sopir taksi, potongan rambut menyerupai seorang laki-laki itu pun tersenyum kepada anaknya itu dengan wajah dipenuhi luka lebam babak belur. 2 Tahun lalu sepeninggal Almarhum Ayah Bejo, Ibu Bejo pun mulai mencari pekerjaan agar bisa menyekolahkan dan menghidupi Bejo. Dia memilih menjadi sopir taksi karena ia rasa itu lebih nyaman untuknya. Ia kemudian memotong rambutnya menyerupai seorang laki-laki. Pada suatu ketika Ibu bejo dalam perjalanan mengantar seorang pria paruh baya, namun nasib sial sedang melandanya. Laki-laki tersebut ternyata adalah orang jahat dan ia merampas semua uang milik Ibu Bejo. Namun Ibu Bejo tidak membiarkannya begitu saja dan mulai melawannya. Akan tetapi memang bukan rezeki, uang itu raib di tangan laki-laki jahat tersebut. Rencananya uang itu digunakan untuk membayar sekolah Bejo ke SMP nanti, namun kini telah raib di tangan orang jahat. “Mah, Mamah kenapa?” Tanya Bejo khawatir. “Tidak apa-apa Nak, Ibu hanya terjatuh.” Ucapnya sambil memeluk erat Bejo yang kemudian air matanya perlahan menetes.
Cerpen Karangan: Yulia Surya Dewi
Facebook: Yulia Surya
Pukul 16.00 Sore, terlihat sekumpulan orang dari yang dewasa hingga anak-anak sedang menyaksikan perlombaan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Di dalam gerombolan tersebut terdapat enam anak yang sedang mengikuti lomba balap karung yang diselenggarakan oleh Kecamatan Kras. Anak tersebut terdiri dari Tomi, Agus, Bejo, Lindya, Sani, dan Bagas. Mereka berjuang sekuat tenaga demi mendapatkan gelar juara dan hadiah berupa uang Rp. 200.000,00 beserta alat-alat tulis sekolah. Seluruh penonton mengitari lokasi perlombaan hingga mereka berenam tidak terlihat dari kejahuan.
“Ayo Bejo! kau pasti bisa jadi juaranya.” Teriak seorang bocah di dalam kerumunan banyak orang. Dan orang tersebut adalah Sony, teman sekelas Bejo yang sekaligus teman sebangkunya. Mereka sudah lama berteman sejak duduk di bangku TK hingga sekarang mereka duduk di bangku SD kelas 6. Kemana pun hendak pergi, Bejo dan Sony selalu pergi bersama-sama. Sampai banyak warga sekitar yang menyebutnya sebagai anak kembar. Bu Darsih contohnya, beberapa minggu lalu beliau bilang “Dasar ‘Kembar Dempet’ kemana pun selalu bersama-sama perginya seperti tidak ada teman lain saja!”. Walaupun sejatinya mereka tidaklah kembar seperti apa yang Bu Darsih katakan, Karena jelas-jelas mereka ini berbeda orangtua. Hanya saja terlalu sering bersama-sama jadi dijuluki ‘Kembar Dempet’ deh, mereka juga memiliki latar belakang yang berbeda, Bejo hanyalah anak seorang sopir taksi yang berbeda jauh dengan Sony yang anaknya orang kaya CEO FJM ENT. Meskipun begitu, mereka tetap bersahabat sejak kecil tanpa memandang apa yang mereka miliki, karena sejatinya harta adalah milik Tuhan Yang Maha Kuasa.
Awalnya orangtua Sony tidak setuju jika anaknya bersahabat dengan Bejo, karena Bejo berasal dari keluarga yang kurang mampu. Mereka takut kalau Sony anaknya hanya dimanfaatkan oleh Bejo. Tapi semua pikiran buruk tersebut kini perlahan telah sirna karena mereka tahu bahwa Bejo ini adalah anak yang baik dan cukup berprestasi di sekolah khususnya dalam bidang olahraga terutama Bulu Tangkis. Berbeda halnya dengan Sony yang berprestasi dalam bidang akademik khususnya Sains, namanya pun juga sering keluar masuk daftar siswa yang ikut Olimpiade Sains. Harapannya ya, Bejo dan Sony ini bisa saling melengkapi kekurangan satu sama lain.
Hari sudah mendekati waktu Maghrib, Keenam anak tersebut masih semangat untuk memperebutkan gelar juara lomba balap karung beserta hadiahnya. “Aku pasti yang menang!” Ucap Bagas yakin. “Hei, tentu saja aku pemenangnya!” Sahut Lindya tak terima. “Bicara apa kalian berdua ini, tentu akulah pemenangnya!” Sahut Tomi yang lebih tak terima. “Buk Buk Gedebuk buk…” itulah suara dari lompatan kaki balap karung tersebut. Mereka terus adu kecepatan pantang menyerah. Untuk saat ini memang Bagas lah yang lebih unggul daripada dari yang lain. Tapi hal itu semakin memacu yang lain untuk menyusulnya. Aksi saling salip menyalip pun terjadi, hingga Agus yang tidak sengaja menyenggol Sani. “Aduh…” Sani pun terjatuh. “Aduh… sakit… Ibu… tolong aku…” rintih Sani kesakitan. Petugas kesehatan pun segera mengambil langkah dan segera mengangkut Sani lalu membawanya ke ruangan medis untuk menerima pengobatan. Agus pun acuh tak acuh sama sekali tidak mempedulikan apa yang telah terjadi dan apa yang telah ia lakukan kepada Sani, menoleh saja tidak apalagi meminta maaf. Agus melompat dengan sombongnya, penonton pun bersorak “Huuuu… apa-apaan kau ini, laki-laki macam apa kau ini sombongnya… kecilnya aja sudah kayak gini apalagi gedenya ya!” Teriak dari salah satu penonton yang kemudian disusul penonton lain “Memangnya orangtuanya ngedidiknya kayak gimana sih, sampai anaknya gak punya hati nurani seperti itu.” kata-kata penonton tersebut semakin membuat hati Agus teriris mengingat 2 tahun lalu ayah dan ibunya resmi bercerai dan menitipkan ia kepada neneknya yang seakan-akan kedua orangtuanya lupa padanya dan tidak pernah menjenguknya. Ia kemudian merasa bersalah dan kemudian berhenti sebelum mencapai finish yang selanjutnya ia melepas karung yang ia kenakan lalu berlari menuju kemana Sani dilarikan oleh petugas kesehatan. “Hei, mau kemana anak itu?” Teriak penonton terkejut. “Ah sudahlah.. lebih baik kita lihat yang lainnya kan yang lain pun juga peserta.” Jawab penonton lain. Penonton pun dibuat ternganga melihat kejadian tersebut.
Kini tinggal 4 peserta yang bertanding karena 2 peserta telah resmi didiskualifikasi. Bejo pun mulai mendekati Bagas dan perlahan mulai menyalipnya. Bagas yang berbadan besar membuat Bejo khawatir kalau Bagas tidak terima lalu menyenggolnya hingga terjatuh seperti kejadian Sani dan Agus. Namun ternyata pikiran negatif itu tidaklah benar karena Bagas nyatanya diam saja saat Bejo menyalipnya. Mungkin Bagas merasa lelah dan pasrah karena badannya besar tentu saja berat baginya untuk melompat karena mungkin saja tenaganya habis xixixi. Bejo semakin mendekati finish… dan pada akhirnya… “SPLAASSHH…” suara petasan beserta pita telah berbunyi menandakan Bejo telah sampai di garis finish dan menjadi pemenangnya.
Penyerahkan hadiah oleh panitia kepada pemenang pun dilaksanakan. Semua orang mengucapkan selamat kepada pemenangnya yang bukan lain adalah Bejo. Salah satu yang mengucapkan pertama kali adalah Sony sahabat dekatnya “Selamat Bejo, aku bangga sekali kepadamu.” Ucap Sony sambil menjabat tangannya dengan Bejo. “Terima kasih Sony, kamu memang sahabat terbaikku.” Ucap Bejo tersenyum. Raut bahagia pun meliputi akhir acara dan seakan akan lumpur yang menempel di pipi Bejo juga ikut bahagia menerima gelar Juara 1 yang kini diterimanya. Tepuk tangan dan siulan penonton begitu meriah diakhir acara tersebut. Tidak ketinggalan Jeyup pun juga ikut bersalaman dengan Bejo mengucapkan kata selamat. “Selamat ataz keberhasilanmu Bejo!” Ucap Jeyup sambil mengulurkan tanggannya kepada Bejo. “Iya Jeyup, terima kasih. Dan selamat juga atas kemenanganmu meraih Juara 3 Lomba Tenis kemarin hari Rabu.” Balas Bejo sambil menahan tawa. “Hey, kau ini Bejo! kau sebenarnya mengucapkan selamat atau mengejekku? untung kau ini polos ya, jadi aku memaafkanmu” Ucap Jeyup yang kemudian cemberut. “Ha ha ha… Iya kamu benar Bejo, Jeyup Juara 3.” Teriak Bagas terengah-engah. “Tepatnya Juara 3 dari 3 peserta.” Sahut Lindya tiba-tiba. “Aish.. kalian ini, hentikan heh..” Ucap Jeyup tak terima. “Itu sama saja kau kalah Jeyup haha.” Ucap Tomi sambil berteriak keras kepada Jeyup. “Stop! Hentikan!” Jeyup tak terima. Tawa pun menggelegar dari seluruh penjuru.
Acara telah selesai, semua orang perlahan-lahan meninggalkan lokasi tempat perlombaan berlangsung. “Sony, aku pulang dulu ya.. aku tidak sabar untuk menunjukkannya kepada Ibuku.” Ucap Bejo kepada Sony. “Hmm, baiklah Bejo berhati-hatilah dadah.. sampai besok ya.. jangan lupa traktirannya aku tunggu.” Ucap Sony sambil melambaikan tangannya. “Oke sip!” Bejo pun juga membalas lambaian tangan tersebut. Mereka berdua pun akhirnya berpisah. Bejo pulang dengan senang.
Sesampainya di rumah, “Mah, Bejo pul..” Bejo pun terkejut meliah Ibunya. Seorang perempuan berseragam sopir taksi, potongan rambut menyerupai seorang laki-laki itu pun tersenyum kepada anaknya itu dengan wajah dipenuhi luka lebam babak belur. 2 Tahun lalu sepeninggal Almarhum Ayah Bejo, Ibu Bejo pun mulai mencari pekerjaan agar bisa menyekolahkan dan menghidupi Bejo. Dia memilih menjadi sopir taksi karena ia rasa itu lebih nyaman untuknya. Ia kemudian memotong rambutnya menyerupai seorang laki-laki. Pada suatu ketika Ibu bejo dalam perjalanan mengantar seorang pria paruh baya, namun nasib sial sedang melandanya. Laki-laki tersebut ternyata adalah orang jahat dan ia merampas semua uang milik Ibu Bejo. Namun Ibu Bejo tidak membiarkannya begitu saja dan mulai melawannya. Akan tetapi memang bukan rezeki, uang itu raib di tangan laki-laki jahat tersebut. Rencananya uang itu digunakan untuk membayar sekolah Bejo ke SMP nanti, namun kini telah raib di tangan orang jahat. “Mah, Mamah kenapa?” Tanya Bejo khawatir. “Tidak apa-apa Nak, Ibu hanya terjatuh.” Ucapnya sambil memeluk erat Bejo yang kemudian air matanya perlahan menetes.
Cerpen Karangan: Yulia Surya Dewi
Facebook: Yulia Surya
Bejo Sang Juara Balap Karung
4/
5
Oleh
Unknown
