Jam Soulmate

Baca Juga :
    Judul Cerpen Jam Soulmate

    Namaku salya sagita, aku duduk di kelas X SMA. aku punya sahabat namanya rania, dia itu sahabatku dari TK sampai sekarang kami selalu satu sekolah. aku dan rania akrab banget udah kaya sodara aja bahkan bukan hanya kami yang akrab, keluarga kami udah juga saling kenal tapi dampaknya mamaku sama mamanya rania jadi sering buat interogasi kami, apalagi pas kami pulang sekolah telat. yah seharusnya mereka tu ngerti lah kami ini udah SMA jadi udah banyak kegiatan. kami selalu usaha buat akur ya walaupun sering berantem sih. kami tu selalu berdua sampai dikatain orang kembar! Tapi kepribadian kami jauh berbeda dan terkadang itulah yang menyebabkan kami sering berantem.

    Hari ini aku dan rania pergi ke suatu mall untuk membeli beberapa peralatan untuk ikut pramuka nanti selepas pulang sekolah. setibanya kami di depan mall Rania langsung menarik tanganku buat masuk ke mall itu
    “aduh rania, jangan tarik-tarik dong nanti aku jatuh!”
    “iya-iya, kalau begitu kita masuk ya”
    “iya, ayo”
    “yuk”

    Kami berdua masuk ke Mall itu dan Rania memekik di sebelah telingaku sehingga membuat aku memicingkan mata dan refleksnya aku jadi mencubit Rania. hehehe
    “waw, waw, waw, dan waw”
    “kenapa sih ran?”
    “itu loh, sepatunya keren banget”
    “lho, bukannya pas kita ke mall kemarin kamu udah beli ya? aku juga belum liat kau pakenya?”
    “tapi sepatu ini jauh lebih keren dibanding sepatuku di rumah”
    “ah terserah kamu sajalah”
    “kamu mau beli tidak, biar aku yang beliin”
    “enggak ah”
    Begitulah Rania, selalu menginginkan barang-barang yang ‘branded’ dan keluaran baru. dia selalu dapat apa yang dia inginkan, maklumlah papanya Rania kerja sama sama papaku dalam sebuah perusahaan.
    Tapi aku berbeda dengan Rania, meski papaku mampu memberiku semuanya namun aku tidak mau menghamburkan uang untuk barang-barang yang tidak begitu penting, aku lebih senang memberikan sebagian uangku dari papa untuk panti asuhan di belakang kompleks.

    Ketika aku menemani Rania memilih-milih sepatu aku melihat jam tangan dari kejauhan dan aku tertarik untuk melihatnya dari dekat. ketika aku memegang jam tangan dan bertanya-tanya pada penjual jam tangan itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang memanggilku dan meminta tolong untuk mengambilkan jam tangan yang ada di dekatku.
    “maaf, boleh minta tolong enggak”
    “iya. boleh”
    “tolong ambilkan jam tangan itu!”
    “yang ini?”
    “bukan-bukan. yang itu yang warna silver”
    “oh.. yang ini?”
    “iya, terima kasih ya”
    “iya”
    “bagaimana menurutmu? apakah ini cocok untukku”
    “cocok sih”
    Ketika kami sedang asyik bicara layaknya dua orang yang sudah saling kenal, (padahal sih belum) dan penjual tokohnya ikut bicara.
    “cocok kok kalau sama mas, mbaknya juga ada kalau mau warna itu”
    “ah mbak masa saya pakai jam tangan laki-laki”
    “enggak mbak, ada kok buat yang cewek. jadi kalau mbak ya mau jadi kayak soulmate gitu”
    “enggak lah mbak”
    “mbak aku mau yang itu yah”
    Aku suka sama jam tangan ini dan aku berinisiatif buat membelinya dan laki-laki tadi ikutan milih jam yang sama kayak aku, tapi dia milih yang buat cowok.
    “mbak, aku mau yang kayak cewek itu donk”
    “tapi mas kalau mau beli yang ini harus beli dua sama yang ceweknya”
    “hah, kok gitu sih mbak. kalau aku beli buat yang ceweknya buat siapa”
    “lho, pacarnya mas kan ada”
    “saya ini enggak punya pacar mbak”
    “atau enggak kasih mbak ini aja” sambil melihat ke arahku
    “bener juga ya”

    “maaf ya dari tadi kita belum kenalan, namaku Anggi, siapa namamu?”
    “namaku salya”
    “oh ya, apa kamu mau jam tangan ini?”
    “ah tidak”
    “tapi aku amat ingin jam ini, kalau bukan kamu siapa lagi yang mau ambil jam ceweknya?”
    “tapi…”
    “kalau kamu tidak suka, setidaknya kamu ambil dan kamu berikan sama orang”
    “tapi jam itu mahal banget”
    “ya-iya, mahal”
    “apa kau enggak dimarahin sama orangtuamu?”
    “aku jarang beli barang, tapi kalau aku beli barang aku mau yang bagus biar tahan lama”
    “tapi aku gak enak kalau harus dibeliin jam sama cowok yang baru aku kenal!”
    “alah kamu ini banyak banget alasan! nanti juga bisa kamu ganti kan uangku!”
    “iya deh, tapi enggak hari ini yah?”
    “iya. mau kapan-kapan juga boleh mau enggak dibayar juga boleh kok. hehehe”
    “enak aja kamu bilang, bukannya aku gak punya uang tapi uangku sudah habis karena tadi sebelum ke sini aku nyumbang uang ke panti asuhan dulu!”
    “oh… maaf ya”
    “iya, aku juga minta maaf udah marah-marah sama kamu”
    “iya, mau gak jamnya?”
    “mau-mau, sini!!”
    “nih” sambil memberikan jam itu padaku
    “ya udah yah, aku mau pulang dulu, dah!”
    “dah”
    Kami pun berpisah sampai disini, padahal aku berharap banget buat ketemu dia lagi suatu saat nanti, dan kenapa dia gak minta nomor HPku tadi?” Ya sudah lah ah, aku mau cari rania dulu.

    “salya” teriak rania
    “ih rania, kebiasaan deh suka teriak-teriak di depan orang banyak, malu tau!!”
    “ih kamunya yang kemana, aku repot nih bawa belajaan, tolongin nih!!” rania memberikan kantong belanjaannya padaku
    “astaga, kamu belanja sebanyak ini?”
    “iya, kenapa?” eh mana belanjaan kamu?”
    “ini” sambil menunjukkan jam tangan yang telah kupakai
    “ih kok jelek sih, tukar aja deh! sini biar aku yang nukernya!”
    “ih gak mau! selera kan selera aku, selera kamu tuh gak cocok sama selera aku”
    “ih kamu nih, dikasih tau malah nyolot”
    “aku gak mau.. yah gak mau.. lagian ini panjang ceritanya”
    “alah udah lah, mending temenin aku milih jamnya yuk”
    “yuk”

    Aku gak habis pikir kenapa rania seneng banget buat buang-buang duit, buat yang gak penting lagi. aku sih males banget yah. aku gak bisa bayangin gimana penuhnya kamar rania oleh barang-barang karena aku pun juga belum pernah masuk ke kamarnya rania, kalau rania sih bukan sering lagi tapi kamarku udah kayak kamarnya sendiri dan gak jarang juga ada barang-barangku yang sengaja dia ambil. katanya selera aku tinggi terus pilihan aku unik.

    “ran besok sekolah jemput aku yah!!”
    “iya sal”
    “udah yuk, pulang. capek nih”
    “ayuk lah, aku juga udah capek nih”

    Keesokan harinya
    Hari ini aku melihat ada sosok yang gak falimiar kulihat di depan ruang administrasi. kayaknya sih murid baru yang bakal pindah ke sekolahku ini. kebetulan saat itu aku dan rania lewat di depan ruang administrasi. mulut cerewet rania langsung memecahkan pandangan pada seseorang itu.
    “sal siapa itu?”
    “gak tau lah, emang aku kenal? tapi kayaknya mukanya tuh gak familiar lagi deh bagi aku”
    “alah, paling suma perasaan kamu aja”
    “keren ya sal”
    “kenapa kamu mau sama dia?”
    “iya”
    “hahaha? rania-rania, gak bisa liat yang cakep dikit sih?
    “hahaha?, iya lah. namanya rania”
    “alah udah yuk kita masuk kelas”

    Pas banget bel berbunyi saat kami melangkah masuk kelas, jadi kami gak bisa cerita sama yang lainnya deh. pagi ini gurunya cepet banget masuk kelas kami. aku teringat kami ada tugas dan aku belum selesai.
    “ehh ran, lihat tugas kita yang kemarin donk”
    “aku aja belum”
    “aduh gimana ini?”
    “udah yuk kita kerjain”
    “tapi aku gak bisa”
    “alah, ini bukunya sandy, kita liat aja punya dia”
    “hahaha, cerdas kamu ran”
    “iya lah, rania gitu loh”

    Aku dan rania sibuk menulis walaupun sudah ada gurunya di dalam kelas, kami gak peduli. yang penting aku dan rania gak dapet hukuman deh pagi-pagi. aku gak tau gurunya njelasin apa, aku udah gak denger karena sibuk menyalin tugas punya sandy. rania mungkin sudah selasai karena dia gak nulis lagi, tapi apa iya sih rania sudah selesai, perasaan duluan aku yang nulis dari pada rania tapi duluan selesai rania dari pada aku. aku tetap menulis, tiba-tiba mataku teralih oleh tangan dengan jam yang melingkar, aku tampak gak falimiar pada jam itu. aku ingat jam itu adalah jam yang sama dengan yang aku pakai sekarang. “mungkinkah dia?” terka aku dalam hati. dengan cepat aku langsung menegakkan kepalaku untuk melihat siapakah orang itu. dan ketika aku melihatnya, aku sungguh tak percaya. ternyata laki-laki di depan ruang administrasi itu tadi adalah dia.

    “anggi” kataku pelan
    “hah, apa sal?” jawab rania, ternyata dia mendengar
    “hah? gak pa-pa kok” kataku mencoba mengalihkan pembicaraan
    “oh yah udah deh kalau gitu. sal itu kan yang kita bicarain tadi pagi” kata rania
    “iya ran, itu anggi” kata aku
    “kamu udah kenal” tanya rania
    “hah? enggak kok, aku cuman tebak-tebak aja” kataku mencoba berkelit

    “anak-anak dengarkan sebentar, kita kedatangan murid baru. nak perkenalkan dirimu” kata bu guru dengan logat bataknya
    “perkenalkan nama saya anggi, sebelumnya saya bersekolah di luar kota, saya harap saya bisa berteman dengan kalian semua” jelas anggi -si murid baru-
    “oke terima kasih anggi” kata bu guru
    “kamu boleh pilih mau duduk dimana” kata bu guru lagi
    “saya mau duduk di samping salya saja bu” kata anggi
    “kamu udah kenal sama salya?” tanya bu guru
    “iya bu” kata anggi
    Jujur aja aku terkejut ketika anggi menyebut namaku, anak-anak di kelasku juga menoleh ke arahku termasuk rania.

    “boleh aku duduk disini?” tanya anggi mengejutkanku
    “boleh kok” kata aku, kebetulan aku gak duduk sama rania
    “makasih yah salya” kata anggi
    “ih si salya nih bikin cemburu aja deh, anggi kamu duduk deket aku aja ya” kata rania sembari menebar wajah yang agak sedikit kesal
    “hahahaha. rania-rania aku gak bakal ambil anggi kok, kita Cuma duduk deketan aja” kataku sambil tertawa menatap rania
    “hahahaha, kamu tau aja deh sal” kata rania tersenyum malu
    “iya lah, salya gitu loh” kata aku.
    “eh salya kok jam kalian sama?” tanya rania. ternyata rania mengamatinya juga.
    “oh ini…” belum selesai anggi bicara langsung aja aku potong
    “oh iya ya. mungkin kebetulan aja” jelas aku. jujur aja aku takut banget kalau rania tau kalau jam itu dari anggi.
    Hari itu aku merasa itu adalah hari keberuntunganku, karena baru saja semalam aku berharap dan ternyata pagi ini langsung dikabulin sama tuhan. oh tuhan engkau memang sungguh agung. kayaknya ini memang sudah diatur sebelumnya deh.

    Entah mengapa semakin hari aku dan anggi semakin akrab saja. kami jadi sering belajar bareng, ke kantin bareng dan anggi gak keberatan buat nganterin aku pulang. tapi jujur aja aku jadi gak enak sama rania, karena anggi gak begitu ‘respect’ sama rania padahal rania udah konyol banget di depan anggi supaya di perhatiin sama anggi bahkan dia pernah pura-pura jatuh, pura-pura pingsan, ninggalin sampul tangan, jam tangan di bangkunya anggi dengan harapan anggi akan mengembalikannya pada rania. tapi angginya gak care sama rania malahan anggi care sama aku.

    Istirahat sudah waktunya, tapi aku tak menjumpai rania dari tadi, padahal aku udah lapar banget pengen makan tapi rania gak nongol-nongol juga, aku udah tanya tapi gak ada yang tau rania kemana, tadi pas di kelas rania juga diam banget, apa dia lagi sakit? mungkin udah di kantin. aku ke kantin aja deh.
    Ketika tiba di kantin, aku juga tidak melihat rania.
    “ih tuh anak kemana sih, ilang kayak ditelan bumi” gerutuku.

    Akhirnya aku duduk sendiri sambil memesan bakso. tiba-tiba…
    “hay sal” sapa anggi
    “eh anggi” jawab aku
    “boleh aku duduk disini”
    “e.. e… ee boleh kok” balas aku
    “eh sal, tumben kamu gak sama rania? apa kalian lagi ada masalah?” tanya anggi
    “gak tau tuh anak, ngilang aja. kamu liat rania gak?” tanya aku balik
    “enggak sih” jawab anggi
    “eh kamu mau apa. bakso, pempek, siomay, apa mau jus? jus melon, anggur, mangga, jeruk apa jambu?” tanya anggi
    “hahaha? kamu udah kayak ibu kantin aja deh. aku udah pesen bakso” balas aku sambil tertawa.
    “yah! udah disebutin semua, ternyata udah mesen. nyesek tau!!” keluh anggi
    “yeah! Siapa suruh kamu nawarin aku. iya deh aku pesen jus jeruk 1. tapi karena aku kasian sama kamu yah!!!” balas aku.

    Kami tengah asik mengobrol tiba-tiba suara yang sudah tak familiar lagi bagiku mengejutkanku. dia berdeham. ternyata itu rania.
    “hm” sapa rania
    “eh rania, sini yuk gabung kita” kata aku
    “gak usah deh” balas rania
    “udah terlanjur duduk disini. lagian aku gak mau ganggu kalian” tambah rania
    “ya ampun, gak papa kali ran” kata aku lagi. aku bangkit meninggalkan anggi menuju meja yang diduduki oleh rania.
    “engapain lo ke sini sal?” tanya rania
    “memangnya kenapa?” tanya aku balik
    “bu baksonya di titip dulu yah, aku mau ambil buku di kelas” kata rania pada ibu kantin.
    Rania berjalan meninggalkan aku, tapi aku gak tinggal diam. ku kejar langka rania yang begitu cepat untuk menjauh dari aku.
    “rania!! tunggu” teriakku
    “ala, ngapain sih lo?” tanya rania, rania berhenti dan berbalik ke arahku
    “eh sejak kapan kamu manggil aku ‘lo’ biasanya ‘kamu’?” tanya aku
    “suka-suka gue dong. lo aja suka-suka lo” jawab rania
    “hah?” tanyaku tak mengerti
    “iya!! Lo udah bohong sama gue, lo bilang gak kenal sama anggi waktu dia pindah ke sekolah ini pertama kali tapi buktinya lo udah kenal kan, dan jam tangan itu dari anggi kan?” jelas rania memojokkan aku
    “enggak gitu ran, kamu denger dulu..” kataku yang belum selesai dan langsung dipotong rania
    “ala udah deh sal!! Kalau memang ini cara lo berteman, oke gue terima sal” kata rania
    “rania? apa kamu cemburu sama aku?” tanya aku
    “pura-pura gak tau lo. gue udah suka sama anggi dari pertama kali dia pindah ke sekolah kita!” jelas rania
    “maaf ran, kalau selama ini aku gak cerita sama kamu” kata aku
    “alah udah deh sal, angginya juga gak ‘respect’ sama gue, walaupun gue udah konyol di depan dia, tapi kayaknya anggi lebih suka sama lo dibanding gue” jelas rania membuat aku terdiam.
    Rania meinggalkan aku yang terdiam berusaha mencerna kata-kata rania tadi.

    Aku merasa aku bukan teman yang baik untuk rania dan kenapa cuma gara-gara satu cowok persahabatan yang kami bangun sejak duduk di bangku TK bisa kayak gini. akhirnya aku kembali lagi ke kantin.
    “kenapa sal?” tanya anggi
    Aku Cuma diam tak bersuara, aku berpikir apakah aku sebegitu jahatnya pada rania? tapi aku gak bisa nyembunyiin perasaan aku sama anggi. berulang-ulang anggi bertanya padaku namun tak satupun kujawab.
    “sal kok kamu diem kayak gitu sih? jawab donk sal! masa aku dikacangin kayak gini” kata anggi
    Aku masih diam namun kali ini aku udah bener-bener gak sanggup buat mendengar pertanyaan anggi untuk sekian kalinya.
    “udah deh anggi, kamu itu kepo banget. ini tu urusan aku! dan satu lagi kamu gak usah deket-deket sama aku!” jelasku lalu dengan berlari aku meninggalkannya.

    Setibanya di kelas aku aku melihat rania sedang menatapku dengan tajam seolah rania benar-benar membenciku. aku sadar kok kalau rania sudah sangat benci sama aku, akhirnya aku pindah tempat duduk supaya gak deket anggi dan gak bikin rania makin panas.
    “eh sal kamu mau kemana” tanya anggi
    “pindah meja” jawabku ketus
    “kamu kenapa sih sal, kok kamu kayak gini sama aku?” tanya anggi lagi
    “anggap aja kalau aku sama kamu gak pernah kenalaan dan gak pernah ketemu. ini jam tangan kamu aku balikin dan uangnya aku ganti, aku rasa aku gak pantas buat pakai jam itu karena jam itu udah bikin masalah di hidup aku.” jelasku sambil menyodorkan jam tangan itu pada anggi.
    Anggi Cuma diam tanpa berkata-kata padaku padahal aku sangat berharap jika anggi akan memaksa aku untuk memakai jam itu lagi, tapi mungkin anggi udah terlalu kecewa sama sikap aku yang berubah 180 derajat sama dia.

    Sudah hampir seminggu rania tak menyapaku. semenjak kejadian hari itu kami sudah tak seakrab dulu, kami sudah gak pulang bareng. gak pernah ‘hankout’ bareng dan gak pernah curhat bareng. di kelas kami diam-diam aja, rania juga gak pernah menoleh ke arahku mungkin rania belum pernah melihat wajahku semenjak kejadian hari itu.
    Hari-hariku sepi banget, karena anggi gak berani buat nyapa aku lagi karena dia mungkin sudah terlanjur marah sama aku. tapi bagus deh kalau anggi benci sama aku setidaknya anggi bisa membuka hati untuk rania.

    Aku berjalan seorang diri menuju kantin, aku selalu tersenyum mengingat kelakukan konyol rania saat kami menuju kantin, tapi itu tinggal kenangan doang! apa mungkin bisa terulang lagi? mungkin aku terlalu takut buat kehilangan rania hingga aku selalu membayangkan pekikan rania yang begitu nyaringnya di sampingku. lamunanku pecah seakan ada ledakan bom di depanku saat aku melihat anggi dan rania berjalan bersama. baru kali ini aku melihat mereka berdua berjalan bersama walaupun tampaknya anggi tak senang karena berjalan bersama rania tapi aku bisa melihat kebahagian di wajah rania yang berusaha mendapatkan simpati dari anggi. aku berpikir apakah selama ini aku egois karena mengingat aku selalu berjalan dengan anggi ke kantin dan anggi mencoba untuk menarik simpatiku. pemandangan hari ini membuat mata hatiku tebuka lebar. aku kembali kelas dan menulis sebuah surat untuk seseorang.

    “anggi. aku minta maaf untuk segala kesalahanku selama kamu duduk Sebangku denganku. dan aku minta maaf karena aku mengembalikan jam tangan punyamu. bukannya aku gak mau terima tapi aku gak mau nyakitin perasaannya rania. rania itu udah kayak sodara aku sendiri jadi aku mohon sama kamu tolong jangan kecewain dia!. anggi.. sebenarnya aku suka sama kamu tapi aku cuma mau jadi sahabat kamu aja, gak lebih kok! mungkin ini surat terakhir aku buat kamu karena aku bakal pergi supaya rania bisa milikin kamu sepenuhnya tanpa punya saingan. kamu jangan cari aku yah! aku percaya suatu saat nanti kita pasti ketemu lagi. tapi mungkin waktu yang akan mengubah semuanya. dan ingat yah anggi… jangan nakal sama jangan genit-genit nanti rania marah lho!!”
    Salam temanmu yang bawel
    Salya sagita

    Pagi ini mentari bersinar seperti biasa, dan aku mengambil semua pakaianku di lemari lalu kumasukan ke dalam koper, aku juga membereskan buku-buku pejalaranku ke dalam tas, hingga kenangan itu terulang lagi ketika aku membuka album fotoku dan rania dan aku tak menyangka aku melihat jam tangan silver di dalam saku tasku dan selembar kertas bertulisan, aku Cuma bisa tersenyum melihatnya dan aku membacanya.

    “hay temanku yang bawel.. kamu mau kemana sih kok kayak orang mau pindah aja. sebenarnya aku suka sama kamu sal, dari kita ketemu di Mall waktu itu dan kamu tau gak alasan aku pindah ke sekolah itu adalah kamu. karena sepulang dari Mall itu aku cari semua MEDSOS punya kamu, dari fb, email, twiter, instagram, WA, dan akhirnya aku dapat alamat sekolah kamu.
    Sal.. jangan pergi yah!! semua masalah sekarang bisa diperbaiki kok. dan aku harap kalau kamu masih teguh sama tekad kamu tolong jangan lupain aku yah, dan tetap pake jam tangan itu!”
    Salam temanku yang ganteng
    Anggi Satya putra

    Mataku menatap lekat-lekat setiap bangunan itu, rasanya aku gak mau pergi tapi aku harus. sekarang aku Cuma bisa mengingat tentang dulu dan kuukirkan pada sebuah dairy pink yang masih kosong pemberian dari rania sebagai kado ulang tahunku saat itu. aku berharap supaya rania bisa memaafkanku setelah membaca surat dariku yang ku titipkan pada diana, teman sekelasku.

    “ran.. maaf yah. saat kamu baca surat ini aku mungkin udah gak di kota ini lagi karena aku akan tinggal sama kakek-nenekku di kota lain dan aku bakal sekolah disana. ran sekarang kamu udah gak punya saingan lagi buat PDKT sama anggi dong. aku memang sengaja pindah ke luar kota karenaaku merasa aku udah terlalu egois karena merampas hak kamu. aku malu Ran sama kamu, kamu tenang aja ran nanti kita pasti ketemu lagi kok san kamu main yah ke rumah karena mama-papa aku udah nganggap kamu udah kayak anak sendiri. titip yah mama-papa aku dan titip juga anggi yah. Aku titipin surat sama jam ini lewat diana. jam tangan silver sama kayak anggi, kamu pake yah supaya suolmate sama anggi. kamu tenang aja aku udah minta izin sama anggi kok. ingat ran!! kamu jangan genit-genit sama cowok lain dan jangan Keganjenan yah!! Nanti angginya ngambek lagi lho… longlas yah sama anggi dan jangan lupa aku bakal tanggi ‘PJ’nya waktu aku balik lagi ke kota ini. MISS YOU RANIA RIKKAPUTRI”
    Salam sayang dari sabahatmu Salya sagita

    Cerpen Karangan: Lisa Damaiyanti
    Facebook: Lisa Damaiyanti

    Artikel Terkait

    Jam Soulmate
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email