Jangan Pergi

Baca Juga :
    Judul Cerpen Jangan Pergi

    “Udahin aja sampe disini.” Demi Tuhan. Yang aku katakan sama sekali menyimpang dengan apa yang hatiku inginkan.
    “Tapi aku sayang kamu.” Aku masih ragu dengan apa yang Aziz katakan barusan. Pasalnya, aku masih ingat betul saat Aziz tega berduduk diam berdua dengan perempuan lain. Tidak ada kabar, tidak ada ucapan ucapan perhatian. Tepat 3 bulan yang lalu, satu minggu setelah Anniversary yang ke 9 bulan. Sakit sekali rasanya mengingatnya. Rasanya ingin sekali aku meminum racun tikus di sampingku waktu itu.

    “Ziz, udah saatnya aku tinggalin kamu. Biarin kamu bebas. Dan cari perempuan yang baik segala-galanya.”. “Aku sayang kamu.” hanya kata kata itu yang selalu kudengar dari bibir Aziz.
    “Aku nggak tau harus ngomong apa lagi dan harus bikin cara kaya gimana lagi supaya kamu berhenti buat nyakitin aku. Aku benci…”. Aziz memelukku dengan sangat kencang seakan benar benar tak ingin aku pergi. Bibirku terdiam dan air mataku mengalir deras.
    “Aku sayang kamu, Nis. Jangan tinggalin aku. Please. Just you has make me feel all about. I need you.” Bibirku benar benar terkunci. Aku tak bisa menjawab apa apa. Ingin rasanya aku pergi dari semua drama ini sementara hatiku masih ingin dia yang tinggal.
    “Lepasin aku! Lepasin sekarang juga!” Aziz melepasku setengah menahanku.
    Plakkk! Aku menampar wajah Aziz sambil menangis. Aku tak mengira bahwa aku akan setega itu. Tapi secepat mungkin Aziz memelukku kembali dengan lembut. Aku benar benar hanyut. Perasaan benci dan cinta beradu. Aku tak tau harus bagaimana. Lantas aku melepaskan diri dan berlari menuju sepeda motorku dan pulang.

    “Aku benci kamu! Pergi sana dari hidupku! Aku nggak mau kenal kamu lagi!”. Hanya kalimat itu yang berulang ulang aku kirimkan sebagai pesan SMS kepada Aziz.
    Semua sosial media kuhapus kontak dengan Aziz dengan motif agar aku cepat move on darinya. Dengan berat hati dan tidak lupa menangis, aku mulai mencoba mengiklaskan segalanya. Tapi aku tidak bisa.

    Sabtu dan Mingguku hanya meratapi hubunganku dengan Aziz yang cukup lama, 11 bulan. Hari Senin, sangat benci dengan hari Senin. Ditambah masalah dari hubunganku dengan Aziz yang terus saja terngiang ngiang di benakku. Pulang? Pukul 16.00 dengan kecepatan tinggi, aku mengegas sepeda motor Vario biruku pulang. Sambil ngalamuni Aziz, aku tiba tiba saja jatuh dari sepeda motorku. Entah mengapa yang pertama kali kuhubungi adalah Aziz. Aziz Aziz Aziz. Entah iblis jahat macam apa yang menggerumuti isi otakku ini.

    Aziz datang menolongku. Mengantarku ke rumah dan mampir dudu di sampingku tanpa ekspresi. Dingin. Seperti tidak peduli, tapi peduli. Mungkin dia marah? Ahh masa bodoh.
    Aku mencoba berdiri dan masuk ke dalam rumah seketika Aziz menghentikan langkahku.
    “Jangan Pergi.” Aziz menarikku, menatapku sambil menitikkan air mata.
    “Aku sayang kamu.” Aziz memelukku.
    “Jangan tinggalin aku.” Aku menangis. Aku masih sangat menyayangi Aziz. Dan? Apa salahnya memberinya kesempatan untuk yang ke sekian kali?

    Cerpen Karangan: Annisa Adria Marlita
    Facebook: Annisa Adria M
    IG: anissa_arma

    Artikel Terkait

    Jangan Pergi
    4/ 5
    Oleh

    Berlangganan

    Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email